Tags

Hasil gambar untuk tangerine poster

Sean Baker

Comedy, Drama

Ada banyak film yang mengusung elemen LGBT di tahun 2015, tapi Tangerine yang tampak kesat di antara kawanannya yang berlomba-lomba menjadi anggun (The Duke of Burgundy, Carol, The Danish Girl, Cloud of Sils Maria) adalah yang paling memikat saya.

Olah tangan Sean Baker ini seperti anak haram Martin Scorsese dengan Quentin Tarantino (Dibuka dengan percakapan kafe yang berangasan, mengingatkan pada Pulp Fiction). Terminologi film indie juga kian lekat dengan fakta bahwa Tangerine adalah film pertama yang digarap secara prima dengan kamera telepon genggam, iPhone 5s (Nah, dari sini berarti kalian harus nonton juga film Steve Jobs #selinganpromo). Lebih dari prima malahan. Warna palet oranye jeruk mandarin (tangerine) yang menghantui sepanjang film menimbulkan kesan ada sunset di mana-mana. Scoring berupa sampling-sampling yang agresif juga memperkuat karakter kasar sekalian glamor dari film ini.

Yang membedakan juga, tokoh LGBT di Tangerine bukan lagi sosok wanita kalem malu-malu yang tiba-tiba di tengah film menunjukan geliat lesbian seperti di film-film LGBT kebanyakan. Melainkan adalah waria. Orang Indonesia lebih suka menyebutnya “banci”, terutama yang mencari pundi-pundi dari jalanan.

Kitana Kiki Rodriguez dan Mya Taylor sebagai duet pemeran di sini benar-benar berlatar belakang waria yang pernah bekerja sebagai penjaja seks. Saya acungkan jempol untuk akting dari Rodriguez (jika ia memang perlu sungguh berakting). Bila saja setidaknya ada lima Rodriguez di tahun 2015, mungkin Oscar mulai benar-benar perlu mempertimbangkan untuk membuka kategori Pemeran Transgender Terbaik.

Syahdan, Tangerine cukup bisa menjadi semacam selingan FYI untuk ditawarkan ke masyarakat kita yang tengah diterpa tsunami isu LGBT tanpa juntrungan seperti sekarang. Kita sibuk dengan fenomena selebriti-selebriti—yang entah kenapa bisa-bisanya masih ada yang kaget, padahal dari dulu juga udah pada kelihatan banget bencongnya—sementara mengabaikan sorotan pada kaum waria sebagai profesi. Saya pikir mayoritas kita hanya mengenal banci sebagai “penampakan” yang suka muncul di warung-warung penyetan atau nasi goreng, yang selalu coba kita usir lewat uang recehan dengan gestur cool padahal kalang kabut dalam hati.

Saya berkawan akrab dengan beberapa gay, tapi tidak punya nyali untuk sekedar menyapa waria. Tangerine menjadi media bagi saya untuk beranjak mengenal kultur dan laku sosial mereka. Dan Tangerine layak jadi pelajaran untuk film realis nasional yang suka terlunta-lunta dalam bercerita.

Saya bandingkan dengan film realis Indonesia paling berprestasi di tahun 2015, Siti. Keduanya sama-sama mengisahkan lingkungan profesi yang tidak banyak tersoroti: Siti dengan pedagang peyek jingking di pesisir Parangtritis dan Tangerine dengan waria jalanan. Namun, ada perbedaan penyuguhan yang kentara di mata saya.

Pada Siti, beberapa unsur realitas yang coba disampaikan terkait profesi tokoh Siti adalah: a) bergantung pada laut, b) merangkap sebagai pemandu karaoke, c) berselisih dengan kepolisian, d) akrab dengan minuman keras, e) rentan pada godaan pria hidung belang.

Plot utama yang dibangun untuk melahap semua realitas itu lantas terlalu kaku dan terkunci, yakni seorang wanita pedagang peyek jingking yang suaminya baru saja mengalami cacat akibat kecelakaan kala melaut mencari ikan. Lumpuhnya mesin ekonomi keluarga itu lantas mendorongnya menyambi sebagai pemandu karaoke. Segera saja kita tahu apa saja unsur-unsur cerita yang akan mengiringi. Terlalu direk. Paralelisasi yang ala kadarnya.

Sementara pada Tangerine, plot utamanya begitu terbuka. Pasca keluar dari penjara, seorang waria mendapati gosip bahwa pacar lelakinya berselingkuh dengan wanita tulen. Ia pun panas hati dan segera turun ke jalan mencari kebenaran akan gosip itu. Narasi ini membuat kita tidak tahu akan dituntun ke mana saja. Lantas, secara mengalir tapi tetap menyentak, silih berganti kita disodori unsur-unsur realitas seputar waria seperti: a) bekerja sebagai bagian dari prostitusi, b) berantem dengan pelanggan, c) mengamuk lantaran asmara d) konsumsi narkoba e) menerima pelecehan masyarakat. Beda dengan Siti, unsur-unsur ini dijahit dengan cerdas. Storytelling yang lebih mumpuni.

Satu lagi alasan saya untuk vakum sejenak menonton film Indonesia. Tapi kalian jangan. Tetaplah mendukung film Indonesia. Biarlah beban dosa ini saya tanggung sendiri.

Love you all

 

Best Line:

Alexandra : The world can be a cruel place.

Sin-Dee: Yes, it is cruel. God gave me a penis

After Watch, I Listen: Grimes – Scream (ft Aristophanes)

Advertisements