Tags

, ,

Hasil gambar untuk bridge of spies poster

Steven Spielberg

Drama, History

“Kita terlibat akan perang. Bukan sebuah perang dengan pasukan, tapi perang akan informasi”

Di era perang dingin, rasa aman tak pernah jadi alas. Rasa curiga adalah dasar kesadaran masyarakat. Ketegangan menjadi-jadi. Bahkan anak di bawah umur sudah diteror dengan materi pelajaran anti bom atom di sekolah. Bagi Amerika Serikat, Uni Soviet adalah harimau yang siap menerkam kapanpun sang rusa lengah. Dan begitu pula sebaliknya.

Dalam dunia yang penuh wasangka itu, pengacara asal Amerika Serikat bernama James Donovan (Tom Hanks) malah memutuskan untuk sepenuh hati menjadi pembela seorang mata-mata dari Uni Soviet yang tertangkap (Mark Rylance). Mata-mata yang di dalam imajinasi horor masyarakat Amerika adalah utusan iblis untuk menyukseskan rencana pembunuhan besar-besaran di daratan Paman Sam.

Kontan, Donovan resmi menjadi orang paling dibenci oleh negaranya sendiri—setelah sang mata-mata. Penghianat negara. Padahal, perspektifnya sederhana. Haruskah seseorang terhukum mati hanya karena menjalankan tugas dari negaranya? Tidakkah warga Amerika Serikat sadar bahwa negaranya juga memilki mata-mata di Uni Soviet? Sebenarnya ini logika enteng, tapi kadang begitu sulit untuk melihat sesuatu dari cara pandang orang lain.

Dan Donovan tak berkenan disebut melawan negaranya. Ia justru seorang patriot, tapi dengan kacamata yang lebih jernih. Atau jangan-jangan itu hanya ambisi profesionalismenya dalam membela klien—siapa pun itu?

Yang pasti, perkiraannya benar. Beberapa lama kemudian, tragedi 1960 U-2 Incident terjadi. Pesawat mata-mata Amerika Serikat ditembak jatuh, dan pilotnya ditahan oleh Uni Soviet. Tiba-tiba banyak orang harus berterimakasih dengan upaya Donovan untuk memperjuangkan sang mata-mata agar tetap hidup. Ia menjadi alat tukar untuk mengambil kembali sang pilot, sekaligus sementara meredakan ketegangan. (Buat yang belum nonton, ini baru spoiler kecil-kecilan).

Jika Anda merasa sinopsis rombeng yang saya buat di atas itu menarik, saya doakan semoga Tuhan yang selama ini Anda sembah benar-benar ada. Namun, saya sendiri justru ngeri membayangkan diberi ide cerita semacam itu untuk bagaimana caranya bisa menyulapnya menjadi sebuah film boxoffice dengan durasi dua setengah jam. Tidak ada perang, pembunuhan (selain sekilas adegan penembakan di tembok Berlin), dan percintaan. Isinya hanya negosiasi, persidangan, dan proses diplomatik. Rasanya film tentang perang dingin jauh lebih susah digarap daripada perang dunia. Akan tetapi, film ini berhasil.

Bridge of Spies menghadirkan pendekatan drama sejarah yang hampir sama dengan Schindler’s List. Heroisme tokoh bersahaja dalam sebuah tekanan kondisi zaman sosio-politis. Dan yang seperti ini biasanya memang tak mudah dicerna publik. Konon, tak sedikit penonton yang terkantuk-kantuk atau ngacir menyelamatkan diri dari ruang bioskop. Mungkin orang-orang ini justru berharap jika ada bom atom dan nuklir yang meledak di film, berakhir bersambung ke film Mad Max.

Best Line:

Donovan: I know this man. If the charge is true, he serves a foreign power — but he serves it faithfully. If he is a soldier in the opposing army — he is a good soldier. He has not fled the battle to save himself; he has refused to serve his captor, he refused to betray his cause, he has refused to take the coward’s way out. The coward must abandon his dignity before he abandons the field of battle. That, Rudolf Abel will never do. Shouldn’t we, by giving him the full benefit of the rights that define our system of governance, show this man who we are? Who we are: is that not the greatest weapon we have in this Cold War? Will we stand by our cause less resolutely than he stands by his?

After Watch, I Listen: Tori Amos – Weatherman

 

 

 

 

Advertisements