Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk steve jobsposter

Danny Boyle

Biography, Drama

Kendati direkognisi secara positif oleh kritikus, film ini tersungkur dalam penjualan. Saya punya beberapa asumsi tanpa riset. Pertama, sudah ada sebuah film biografi Steve Jobs berskala box office yang dirilis sebelumnya, Jobs (2013), dan berakhir pas-pasan. Film ini kemudian rilis hanya berjarak dua tahun setelahnya, di bulan yang sama dengan sebuah film dokumenter bertajuk Steve Jobs: The Man in the Machine yang juga tidak lebih mengesankan dari kumpulan dokumentasi Steve Jobs sebelumnya. Publik pun lelah.

Mungkin itu bukan masalah andai objek filmnya adalah Maradona, Kurt Cobain atau Tere Liye Adolf Hitler. Besarnya popularitas dan pengaruh seorang Steve Jobs tidak menempatkannya sebagai sosok dengan mitos yang awet dikulik. Apakah seorang gadget geek atau makelar iPhone di Jogjatronik akan penasaran dengan laku psikologis atau probabilitas Steve Jobs menjadi seorang Ayah kandung di tahun 1979? Saya sendiri yang selama ini gaptek dan sama sekali tidak punya produk buatan Apple ternyata justru yang menggilai film ini.

Steve Jobs mengusung narasi yang terpisah menjadi tiga fragmen. Masing-masing berupa situasi menit-menit akhir menuju acara peluncuran produk yang menandai latar masanya: Apple Machintosh (1984), NeXT Computer (1988), iMac G3 (1998). Tiap adegan dihidupkan menyerupai drama teater. Kita mengikuti Steve Jobs (Michael Fassbender) hilir mudik ke sana ke mari bercengkerama dengan elit Apple yang lain, menegur anak buahnya, atau beradu emosi dengan ambang realitas barunya berupa keluarga. Lewat teknik walk and talk, penyajian eksposisi di film ini diorganisir via konversasi yang bertubi-tubi, sekaligus mengonstruksi Jobs sebagai individu tersibuk di dunia. Dan teknik itu berjalan mempesona karena dibesut pakarnya langsung, Aaron Sorkin.

Dibanding Danny Boyle, justru Sorkin—selaku penulis naskah favorit saya—yang lebih mewarnai film ini. Bukan berarti Boyle menjadi boneka, namun tak dapat disangkal bahwa Steve Jobs menyerupai versi turunan dari Social Network (2010) yang merupakan buah karya Sorkin dan David Fincher. Dialog cerdas dan impresif adalah konfigurasi kekuatan Steve Jobs, walau banyak pihak yang kemudian mengatakan bahwa canggihnya naskah Sorkin akhirnya kebablasan membawa karakter Jobs ke luar orbit personalitas Steve Jobs sesungguhnya.

Pun demikian performa Fassbender. Sebagai pusat tata surya film ini, ia pantas mendapat predikat super. Entah apakah Jobs yang ia tampilkan mirip atau tidak dengan Jobs yang sebenarnya, tapi semuanya terasa nyaman. Ada kontrol yang luar biasa dalam memerankan seorang karakter jenius yang ambisius dan tak ramah sosial. Eddie Redmayne atau Leonardo DiCaprio tahun ini memang melakoni peran yang menggairahkan dan menuntut totalitas. Namun, peran yang dimainkan Fassbender justru jauh lebih membutuhkan penguasaan emosi yang subtil dan harmonis, atau rentan berakhir menjadi sebuah performa yang medioker. Dan dia menuntaskannya jauh lebih dari ekspetasi.

Terlebih, Steve Jobs tidak sungguh sekedar one man show bagi Fassbender. Akting Kate Winslet sebagai manajer eksekutif dan orang kepercayaan Jobs, Joanna Hoffman juga dahsyat. Aktris yang justru semakin sedap dipandang seiring laju usianya ini sanggup mengimbangi performa Fassbender, sama seperti bagaimana tuntutan bagi Hoffman untuk mengimbangi tekanan lingkungan terhadap watak Jobs.

Hoffman: Did you know back at Bandley, the Mac team gave an award every year to the person who could stand up to you?

Jobs: No.

Hoffman: I won three years in a row.

Jobs: Cool

Hampir segalanya memukau. Tapi saya sanggup memaklumi—dengan sedikit sumpah serapah—ihwal Steve Jobs yang bahkan tidak tergabung sebagai nominee kategori Best Picture di Oscar 2016. Untuk meraih gelar terbaik dalam sebuah ajang akbar yang dilegitimasi dunia, sebuah karya tidak cukup sekedar menjadi yang terbaik. Perlu ada unsur kebaruan yang signifikan, sehingga layak untuk disinggasanakan sebagai landmark di tahunnya. Ini akan terekam sebagai progres dalam kultur atau industri yang bersangkutan secara kronologis dan historis. Unsur kebaruan itu ada di Spotlight, Mad Max: Fury Road, The Revenant, dan The Big Short, tapi tidak di Steve Jobs yang lebih semacam penyempurnaan dan pemuliaan dari film-film sejenis.

Tapi atas legitimasi saya, tak ada yang menghalangi Steve Jobs menjadi yang terbaik. Ohohoo..

 

 

Best Lines:

Steve Wozniak: What do you do? You’re not an engineer. You’re not a designer. You can’t put a hammer to a nail. I built the circuit board! The graphical interface was stolen! So how come ten times in a day I read Steve Jobs is a genius? What do you do?

Steve Jobs: Musicians play their instruments. I play the orchestra.

After Watch, I Listen: Radiohead – Karma Police

Advertisements