Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer – Dominic Strinati

Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk buku budaya populer

 

Buku ini saya baca utuh hanya demi menyiapkan diri untuk melakoni presentasi mata kuliah Kajian Budaya Media di kampus. Mata kuliah yang diampu oleh yang terhormat Mas Budi Irawanto ini adalah favorit, kendati bikin puyeng sekelas. Bukan rahasia jika keilmuan Kajian Budaya (Culture Studies) lebih muskil dari semesta ilmu sosial lainnya. Sejauh-jauhnya dari eksak, saingan beratnya filsafat. Mempelajari Kajian Budaya seperti menyimak orang bertengkar. Si ilmuwan A bilang A, dibantah si B, disangkal si C, dibalas lagi oleh si D, ditikung si E, ditusuk dari belakang sama si F, dan seterusnya sampai kiamat kubra. Tidak ada yang dianggap sebagai kebenaran bersama. Jangan berharap Kajian Budaya memberikanmu kepastian.

Lebih-lebih, begitu sudah mulai mantap dengan salah satu perspektif, eh akhirnya bingung juga mau diterapkan untuk apa. Jangan-jangan fungsi teori-teorinya memang hanya untuk jadi modal para ilmuwan itu berantem tadi. Visi-misi pengabdian keilmuan mereka cuma satu: tidak kalah debat.

Dan ilmu yang di luar sana biasa dipelajari di satu jurusan tersendiri ini kemudian harus saya pahami hanya dalam satu mata kuliah: 14 kali pertemuan… dan saya bolos setengahnya.

Saya pun kebagian jatah presentasi topik “Politik Budaya Popular: Antara Populisme dan Resistensi” yang kebetulan memang relevan dengan isi bukunya Dominic Strinati ini. Di bawah ini saya cuma merangkum isi presentasi saya kemarin. Lanturan panjang lebar yang semata untuk menjawab pertanyaan sederhana: apa itu budaya populer? (kalau memang nggak ingin tahu, mending enyah saja dari sini. Panjang soalnya)

Jadi begini….

Budaya populer awalnya hanya diidentifikasikan menjadi dua pengertian, yakni jenis karya inferior atau karya yang sengaja dibuat untuk disukai orang. Sementara dalam versi definisi yang lebih mutakhir, budaya populer dimaknai sebagai kebudayaan yang dibuat oleh orang-orang untuk kepentingan mereka sendiri. Namun, di antara dua rentang pemikiran itu terdapat banyak pergelutan mahzab yang satu sama lain bisa kita pinjam untuk menganalisa entitas-entitas dalam wilayah budaya populer.

Kesadaran akan budaya sebagai sebuah produk dirumuskan pada awalnya di era pasca-revolusi industri lewat Teori Budaya Massa yang merupakan konsekuensi dari urbanisasi dan industrialisasi. Lewat konsep ‘diatomisasi’, sebuah masyarakat massa dilihat sebagai orang-orang yang kurang punya hubungan satu sama lain yang bermakna dan koheren secara moral. Hubungan-hubungan mereka bersifat kontrak, berjarak, sporadis, dan tidak komunal. Inti proses atomisasi adalah runtuhnya organisasi-organisasi sosial perantara. Teori masyarakat massa menunjukan potensi terbuka bagi adanya propaganda massa, atau bagaimana peluang kaum elit memanfaatkan media massa untuk membujuk, mengeksploitasi atau memanipulasi masyarakat secara sistematis. Ini adalah konsekuensi dari masyarakat yang mengalami diatomisasi sehinga terbuka dalam menerima kekuatan persuasi atau manipulatif.

Budaya massa berasal dari atas ke bawah, khalayaknya adalah para konsumen pasif yang perannya hanya membeli atau tidak membeli.  Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan dari khalayak konsumen. Budaya massa diproduksi untuk pasar massal. Pertumbuhan budaya ini memperkecil ruang bagi budaya yang tidak menghasilkan uang dan diproduksi secara massal, misalnya kesenian tinggi atau budaya rakyat. Karena penentu budaya massa adalah keuntungan, budaya massa tidak akan diproduksi jika tidak menguntungkan. Lantas, teknik produksi massal dan keharusan mencari keuntungan komersial dipandang memiliki pengaruh yang merusak dan menurunkan martabat budaya.  Budaya massa adalah budaya standar, formulaik, berulang, dan bersifat permukaan. Budaya massa tidak memiliki tantangan dan rangsangan intelektual.

Para pemikir dari Mahzab Frankfurt lantas mengembangkan logika arus vertikal dari budaya massa menjadi teori yang lebih jauh menguliti kuasa kaum elit dalam otoritas kebudayaan. Beberapa perbedaannya dengan Teori Budaya Massa misalnya bahwa kebutuhan-kebutuhan sejati tidak dapat direalisasikan di dalam kapitalisme modern karena adanya kebutuhan-kebutuhan palsu yang harus dilahirkan oleh sistem ini untuk tetap bisa bertahan. Kebutuhan palsu menindas kebutuhan sejati sebagai pengorbanan untuk memenuhi konsumerisme. Hal ini terjadi karena orang tidak menyadari bahwa kebutuhan sejati mereka belum terpenuhi. Mahzab Frankfurt memandang industri budaya menjamin penciptaan dan pemenuhan kebutuhan palsu. Menurut Mahzab Frankfurt, industri budaya mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi asas pertukaran, dan meningkatnya kapitalisme monopoli negara.

Menolak tendensi melihat konsumen sebagai pihak pasif dalam pertarungan budaya seperti yang dianut dalam dua teori sebelumnya, John Fiske dengan sederhana memberikan definisi tentang populer sebagai sesuatu yang diproduksi ’demi rakyat kebanyakan’. Artinya sebuah produk atau karya apapun yang diciptakan untuk kalangan kebanyakan akan sangat tergantung sepenuhnya kepada pemaknaan yang diberikan oleh mereka sehingga tidak semua produk masif industri bisa menjadi bagian dari budaya populer. Lebih lanjut Fiske menjelaskan:

“Budaya populer secara tipikal terikat pada produk dan teknologi budaya massa, tetapi kreativitasnya berada dalam cara-cara menggunakan produk dan teknologi tersebut, bukan dalam proses produksinya. .Budaya massa industrial bukanlah budaya populer meskipun ia menyediakan sumber kultural bagi lahirnya budaya populer. Budaya populer secara khusus melibatkan seni membuat dari apa yang tersedia”.

Sejumlah teori awal kerap memandang khalayak sebagai korban penipuan pasif tanpa berpikir, terbuka bagi manipulasi pengendalian ideologis oleh media massa. Sementara itu populisme memandang khalayak sebagai orang yang sadar dan aktif mengonsumsi media demi kepentingan mereka serta menginterpretasikan kembali pesan-pesan yang disebarluaskan oleh para produser budaya. Jika elitisme telah menganggap khalayak begitu pasif dan rentan, maka populisme memposisikan khalayak sebagai pihak aktif yang memiliki kepekaan subversif.

Graham Murdoch dan Peter Golding pada gilirannya mengemukakan perspektif ekonomi politik dalam analisis media massa dan budaya populer. Ini berangkat dari anggapan bahwa sosiologi kelas gagal dalam usahanya mengatasi peranan media massa. Meski mereka sadar dalam ketidaksadaran kelas, tapi tidak menyadari seberapa penting media massa dalam melegitimasi ketidaksadaran kemakmuran, kekuatan, dan hak istimewa. Media membuat ketidaksetaraan menjadi tampak alami dan tak terelakan. Murdoch dan Golding menganggap Mahzab Frankfurt melebih-lebihkan sifat otonom bentuk-bentuk budaya. Sikap itu dianggap mengabaikan pengaruh mendasar dari produksi material budaya populer, maupun relasi ekonomi di dalamnya. Misalnya Adorno pernah mengatakan bahwa industri musik pop di Amerika hanya diteliti hasil-hasilnya, tanpa memerhatikan bagaimana sebenarnya industri kapitalis memproduksi musik.

Kritik yang diberikan oleh kelompok politik ekonomi telah menimbulkan krisis paradigma yang berasal dari ‘pertentangan-pertentangan’ sehingga sempat menimbulkan kekhawatiran arah pemikiran dalam Kajian Budaya. Angela McRobbie menyebut peristiwa tersebut sebagai ‘krisis paradigma’ yang terjadi pada dekade 90-an. Untuk menengahinya, McRobbie mengusulkan agar para pengkaji budaya populer dalam perspektif Kajian Budaya kembali menilik pemikiran Antonio Gramsci perihal hegemoni sebagaimana yang pernah dipopulerkan oleh Stuart Hall.

Pemikiran neo-Gramscian ini lalu juga berupaya menengahi perdebatan antara perspektif yang melihat audiens sebagai pihak yang aktif atau pasif dalam kerja budaya populer. Titik tekan dari perspektif neo-Gramscian adalah bahwa ada dialektika antara proses produksi yang bisa jadi dipengaruhi kekuatan modal, ideologi dan politik tertentu dengan proses konsumsi. Di satu sisi ada kepentingan-kepentingan tertentu yang akan disampaikan produsen lewat produk budaya yang diharapkan menjadi budaya populer. Di sisi lain, konsumen juga melakukan proses pemaknaan terhadap apa-apa yang ada dalam produk budaya tersebut. Dalam perspektif hegemoni neo-Gramscian, budaya populer merupakan sebuah medan pertarungan dan negosiasi berbagai kepentingan, baik kepentingan kelompok dominan, subordinat ataupun oposisi. Kelompok pemerintah, misalnya, tentu ingin tetap mempertahankan kuasa dan kepentingan hegemoniknya sehingga mereka terlibat kontestasi dalam budaya populer.

Balik ke pertanyaan awal: apa itu budaya populer? Pada akhirnya kita memang tidak dapat menimbang budaya populer lewat alur historis sederhana. Dalam pandangan yang beraneka ragam, salah satu cara terbaik adalah menggambarkan berbagai macam aspek dari pendekatan yang berbeda-beda untuk menghasilkan suatu perspektif yang lebih memadai tentang budaya populer.

Nah, setelah mengikuti anggar mulut dari masing-masing perspektif di atas, saya mengambil posisi untuk meyakini bahwa budaya populer melibatkan dua unsur, yakni produksi dan praktik. Jadi budaya populer adalah produk budaya yang direspons balik oleh khalayak. Sesuatu yang diproduksi massal kalau hanya dikonsumsi secara pasif atau malah diabaikan begitu saja berarti tidak termasuk dalam budaya populer.

Tapi itu menurut saya lho—yang cuma tujuh kali ikut mata kuliah ini, dan setengahnya datang telat.

Karena sekali lagi, jangan berharap Kajian Budaya memberimu kepastian.

Dodolit Dodolit Dodolibret – Cerpen Pilihan Kompas 2010

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk dodolit dodolit dodolibret

Mahbub Djunaedi, mantan ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sempat mengatakan bahwa jurnalistik memerlukan sastra sebagai penunjang. Ia menemukan keleluasaan kerja kreatif penulisan sastra untuk mewadahi ekspresi jurnalistik.

Saya setuju. Saya tak pernah bermimpi barang semalam pun untuk jadi sastrawan. Namun, tetap saja membaca buku sastra adalah kebutuhan menjaga kualitas penulisan, meski yang saya tulis misalnya cuma artikel berita pendek Chelsea Islan diduga jadian dengan acar pempek.

Dan lagi-lagi libur membaca karya sastra dalam waktu setahun lebih membuat tulisan saya menjadi kaku—kayak bapaknya doi. Apalagi waktu selang itu dihabiskan dengan membaca buku-buku kuliah dan jurnal yang jelas memakai ragam bahasa ilmiah dan diksi preskiptif ala strukturasi, komodifikasi, pluralisasi, teorisasi, barmetunjerokoktelatsesasi dan -asi -asi yang lain. Ini makin terasa ketika kemarin menggarap proyek puisi bersama kawan-kawan seniman yang akan dibukukan nantinya. Jangankan sastrawi. Niat menulis kalimat sajak, keluarnya kalimat syahadat.

Syahdan, akhirnya saya mencoba memulihkan sisi humanis tulisan saya dengan membaca Cerpen Pilihan Kompas. Pada seri tahun 2010 ini, redaksi mengembalikan otoritas kurasi ke tangan para editor dan redaksi Kompas sendiri. Selama lima tahun sebelumnya, mereka memang mencoba mendelegasikan kurasi pada para pakar sastra luar sehingga mengubah judul Cerpen Pilihan Kompas menjadi Cerpen Kompas Pilihan. Sekembalinya format lama ini lalu membuat Kompas lebih bebas mengusung prinsip non-fanatik terhadap satu kecenderungan tulisan, sehingga 18 cerpen yang termaktub dalam antologi ini bernar-benar menjadi beragam warnanya.

Lagi-lagi Seno Gumira Ajidarma. Setelah “Mayat Yang Mengambang Di Danau” pada Cerpen Pilihan Kompas di tahun 2012 dan “Aku Pembunuh Munir” di setahun berikutnya menjadi cerpen yang meninggalkan kesan lebih bagi saya, kali ini cerpen bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” memenangkan selera saya dan Kompas sekaligus. Bukan cuma ketenaran, tapi mungkin pendekatan realisme sosialnya memang pas di hati. Nama Seno Gumira Ajidarma selalu jadi unggulan di antara barisan nama lain pengisi cerpen Kompas.

Karya Seno bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” ini adalah cerpen dengan kekayaan interpretasi paling berlapis yang pernah saya baca. Isinya berkisah tentang seorang bijak spiritual bernama Kiplik yang menyambangi satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan tata cara doa yang benar pada manusia. Baginya, seseorang memang harus membaca doa dengan benar:”Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?,” ujarnya.

Pada pertengahan narasi, Kiplik sampai pada sebuah kaum terpencil yang melakukan praktik doa jauh dari kebenaran versinya. Ia merasa ini adalah akibat dari keterkucilan geografis atau ketertinggalan budaya dari kaum tersebut. Kiplik pun resah, merasa kasihan, sampai akhirnya ia justru menemukan kenyataan yang mengejutkan.

Mudah untuk kita bisa menebak ke mana arah konflik cerpen ini bisa disinggungkan dengan isu sosial di kehidupan nyata, yakni soal pluralisme agama. Cara pandang paling ekstremnya adalah tesis sekular bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Namun, bisa juga kita membacanya mirip dengan artikel “Warisan” milik Afi yang belakangan kontroversial, yakni kebutuhan toleransi dalam menyikapi argumen kebenaran dari tiap kepercayaan.  Penggunaan kata “benar” yang  diulang berkali-kali di cerpen ini menunjukan penegasan sifat dogmatis dalam masing-masing agama. “Dodolit Dodolit Dodolibret” sangat menggelitik dan relevan untuk hari ini, di mana militansi masyarakat terhadap agama masing-masing mulai mempersulit titik temu kebenaran religi yang universal.

Kadang kita juga gemar menginterpretasikan mitos atau dongeng sebagai perlambang sesuatu yang sebenarnya logis. Misalnya kisah Malin Kundang sebagai pengingat bakti kepada seorang ibu atau kisah-kisah dramatis rasul sebegai penyedia nilai moral bagi para umat. Di awal pergulatan pemikirannya, Kiplik juga beranggapan hal yang sama, sampai akhirnya ia menjadi saksi langsung kebenaran konkret dari mitos-mitos yang didengarnya.

Akhirnya cerpen ini juga merupakan sindiran bagi saya yang menunjukan penolakan terhadap hal-hal gaib. Ya mau bagaimana lagi, bukannya sombong, tapi yang begituan memang omong kosong kok. Semua.. kecuali  paranormal Ulfa yang sampai saat ini masih berusaha membuat Jupe hidup lagi. Ya ampun, kalau ia berhasil ‘kan kita bisa sekalian minta menghidupkan Sukarno, Munir, Gus Dur, Kasino, atau saksi-saksi korban 1965.

Selain “Dodolit Dodolit Dodolibret” yang memang jelas bagus secara konsensus, puisi pilihan saya lainnya adalah “Sirajatunda” garapan Nukila Amal. Sesuai tajuknya, cerpen ini mengambil tokoh utama seorang penulis yang gemar menunda-nunda aktivitas, salah satunya ketika hendak menulis. Dan ia selalu menyalahkan faktor-faktor di luar dirinya sendiri, mulai dari istrinya, nyamuk, jus nanas di kulkas, notifikasi email, dan sebagainya: “Kupikir semua mereka lahir ke dunia untuk bersekongkol memberantas karya artistik manusia”.

“Sirajatunda” menampilkan premis yang sederhana namun sangat bertalian dengan kehidupan kita. Jangankan gangguan dari pihak luar. Semisal saya sengaja menyewa penjara agar khusyuk menulis saja belum tentu aman dari tertunda-tunda kalau masih ada jaringan internet tersambung. Saya pun menduga Nukila Amal mendapatkan ide cerpen ini usai kelimpungan dengan godaan berselancar di Google, cek status gebetan di Facebook, atau mengunduh unggahan terbaru di Krucil.net. Tak apa, saya sangat paham betul.

Buktinya, tulisan ini juga baru saja kelar. Padahal tidak ada isinya. 

 

1. La La Land

Tags

, , , , , , ,

Image result for la la land poster

Damien Chazelle

Musikal, Drama

Berkat kekuatan buah bibir dan resensi media massa yang mendegam-degam, La La Land menjadi film pertama yang sanggup membuat saya deg-degan sebelum menonton. Ekspektasi meluap-luap, bagaimana kalau ternyata film ini jelek? Bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa sebahagia orang lain ketika menonton film ini? Dengan harapan yang sudah setinggi tarif pajak STNK dan BPKB hari ini, saya tidak siap dikecewakan.

Keluar dari bioskop, saya merasa benar-benar “keluar dari bioskop”. Saya tidak ingat kapan pertama kali saya menonton langsung layar lebar, tapi baru kali ini saya merasakan pengalaman menonton sinema yang sebegitu otentik meski tanpa popcorn dan ciuman—bibir sibuk menggerutu karena ada orang brengsek di sebelah saya yang dengan bawelnya sok ikut melafalkan dialog La La Land yang sudah dihafalnya. Rasanya semua unsur visual di film ini berasas kesadaran dinikmati orang yang bayar tiket. Meski koreografi, humor, bahkan iringan musiknya bagi saya masih jauh dari Singin In the Rain, namun segala atraksi pengambilan gambar di dalam La La Land mengagungkan lagi film sebagai sinonim dari ‘gambar hidup’. Sebagai sesuatu yang ditonton, film ini juara. Sebagai sebuah karya artistik, film ini adiluhung. Saya tidak dikecewakan di pengalaman pertama.

Lalu di pengalaman kedua menontonnya kembali, dan kali ini di layar sempit sehingga indra penglihatan tidak terlalu dimanjakan, sial, saya juga tidak dikecewakan. Ternyata film ini juga punya naskah yang bagus.

Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) bertemu di momen yang tidak berpihak pada asmara yang bermasa depan, yakni di kala keduanya masih dalam tahap memperjuangkan cita-cita masing-masing. Satu sama lain harus berbagi hasrat dengan pihak ketiga, yaitu mimpi. Yang satu dengan seni musik, yang satu lagi dengan seni peran. Yang satu berkonflik dengan idealisme, yang satu lagi masih sibuk mengejar capaian karir. Mulanya keduanya saling mendukung satu sama lain, di mana ambisi itu justru menyatukan mereka. Namun, perlahan ambisi itu justru putar balik membuat mereka bergerak ke kutub berbeda. Ikatan hubungan menjelma kebutuhan-kebutuhan kompromi yang memborgol, termasuk perkara waktu, jarak, prioritas, ego, dan proyeksi-proyeksi realistis. Seni memang perlu banyak mengorbankan sesuatu, atau justru “segalanya”—jika menurut Bastian. Alhasil, Sebastian dan Mia dipisahkan oleh apa yang mempertemukan mereka: mimpi.

Dalam kasus La La Land, cita dan cinta bukan satu paket yang bisa dimiliki oleh dua sejoli. Rumusnya jelas, seseorang harus mengalah. Ini tidak bisa digeneralisir, tapi jelas terjadi di banyak orang. Ihwal ending yang menawan itu, apakah keduanya kecewa dengan pilihan akhir masing-masing? Yang pasti ini relevan dengan tesis saya dan kawan-kawan sedari dulu bahwa salah satu trik paling curang tapi umum dilakukan jika Anda ingin lebih sukses sebagai seniman adalah menikah dengan non-seniman yang kaya raya.

Related image

Tak diragukan juga jika duet akting Gosling dan Stone amat memesona, sampai saya sempat lupa jikalau keduanya memang aktor dan aktris, bukan pianis jazz dan bakal aktris. Dan lagi-lagi Gosling, memandanginya diam selama tiga detik saja sudah pasti membuat saya terpingkal, apalagi setiap adegan ekspresi melempar senyum kecut sambil mengangkat sebelah alisnya. Karakter musisi yang sibuk bernegosiasi dengan idealismenya demi mencari sesuap nasi yang ia perankan begitu menarik hati. Simak mimik berserahnya dalam kejemuan memainkan tut-tut yang tidak eksploratif, baik saat di kafe maupun kala memainkan “Take On Me” dan “ I Ran” di bandnya, sungguh lebih jenaka dibanding raut wajah kerumunan korban salah penyebutan pemenang kategori Best Picture di panggung Oscar. Ini juga menjelaskan bahwa para musisi arus utama yang memainkan musik bermutu rendah di luar sana itu belum tentu punya masalah dengan selera. Mereka sebenarnya bisa membedakan antara produk yang layak dikonsumsi dan ‘sampah’, namun apa daya adanya alasan urgensi ekonomi hingga demi mencari pengakuan keluarga atau mertua.

Dan tuduhan white saviour pada film ini juga masih perlu dipertimbangkan lagi, karena Sebastian tidak terlalu digambarkan heroik terkait upaya mengamankan musik jazz. John Legend sebagai pemeran Keith mengatakan,”Saya tidak berpikir bahwa Sebastian terlihat sebagai ‘the savior people’ seperti yang dikatakan. Ia adalah karakter yang sedikit gelap dan keras kepala, namun ia juga pria yang menyenangkan. Sebagian dari kisah ini adalah kisah cinta, dan alasan kenapa ia menjadi begitu keras kepala mungkin ia dapatkan dari perjalanannya jatuh cinta.” Memang justru sisi lugu dan kekanak-kanakan Sebastian dan Mia ini yang membuat kisah La La Land amat manis. Oh, saya justru salah satu yang curiga jika kemenangan Moonlight di Best Picture adalah tendensi sebenarnya, sebuah upaya penyelamatan wajah Oscar yang coreng moreng di hadapan khalayak kulit hitam? Apakah insiden Faye Dunway- Warren Beatty itu juga berdasar narasi perebutan trofi Oscar dari kulit putih? Kurang drama apalagi hidup kalian?

Lagipula apa benar jazz perlu diselamatkan segera? Ia justru sedang meruah-ruah di jalur sinema beberapa tahun terakhir. Selain Whiplash yang marak dua tahun sebelumnya, saya juga belum lama menonton beberapa film yang mengangkat kisah legenda jazz seperti Miles Davis (Miles Ahead) dan Chet Baker (Born To Be Blue). Siapa tahu masa depan musik jazz memang berada di rengkuhan layar lebar?

Keith: “How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future”.

Jazz mungkin memang sedang sekarat, tapi saya percaya tidak akan mati. Dalam perspektif postmodernisme, tren budaya akan selalu berputar. Produk seni terus didaur ulang sembari menanti momentumnya. Dan di antara sirkulasi itu, sesekali muncul karya anyar yang menciptakan kekaguman sentimental dan mengingatkan pada karakter yang dianggap otentik. Misalnya, munculnya album Is This It dari The Strokes yang menghidupkan musik garage rock 70-an di dekade 2000-an.

Riff simpel + sound kasar + lirik metropolitan + jaket kulit + kacamata hitam : ROCK & ROLL

Contoh lain lagi?

La La Land

Aktris dan musisi yang saling jatuh cinta + jazz + dansa di antara bintang-bintang + mimpi Hollywood + ekspresi Ryan Gosling: SINEMA

Best Lines :

Sebastian: Alright, I remember you. And I’ll admit I was a little curt that night.

Mia: “Curt?”

Sebastian: Okay, I was an asshole. I can admit that. But requesting “I Ran” from a serious musician, it’s just, it’s too far.

 

After Watch, I Listen: Norah Jones – Tragedy

2. Arrival

Tags

, , , , ,

Image result for arrival poster

Denis Villeneuve

Sains Fiksi

Arrival mungkin adalah film dengan naskah paling dahsyat sekaligus paling realis yang pernah melibatkan kemunculan fisik sosok alien di dalamnya. Saya sampai mengalami post-effect (ini istilah saya sendiri, tak perlu dicari di Google), di mana saya menyadari betapa bagusnya film ini baru setelah hari berganti. Bahkan, saya masih memikirkan isi film ini berhari-hari setelahnya. Dimensi substansinya berlapis-lapis. Ada banyak sekali yang bisa ditulis dan diperbincangkan, dan akhirnya saya sempat memuntahkan sebagian di sebuah artikel Hipwee. Sebagian lainnya biarkan tetap di kepala karena tidak ada kesenggangan waktu yang mengizinkan saya untuk memproduksi tulisan baru. Maaf yang pertama karena akhirnya hanya tulisan saya di Hipwee yang dipublikasikan lagi di sini, dan maaf kedua karena gaya bahasa di dalamnya kemayu. Tukang galon saja bisa jadi banci kalau malam, masa saya tidak boleh menulis ala blogger inspirasi kecantikan untuk cari makan. Silahkan disimak, tautan aslinya ada di sini.

Judulnya: 6 Alasan Kenapa Tak Cuma Anak Sains dan Bahasa, Tapi Anak Komunikasi Juga Wajib Nonton ‘Arrival’


Bukannya Arrival adalah film sains-fiksi? Bahkan, menurut desas-desus, ini adalah film tentang alien? Tepat! Tapi jika kamu mengira film ini berisi adu tembak antara pria-wanita berbaju astronot, pesawat jet mondar-mandir, atau pria bertopeng dengan pedang bersinar ala tongkat parkir, maka hati-hati tertukar dengan Star Wars. Disutradarai oleh Denis Villeneuve, Arrival berhasil mencuri perhatian dengan pendekatan film alien yang menutup absennya adegan-adegan laga dengan kompleksitas drama.

Bicara film sebagai medium informasi dan representasi realitas, film ini tidak cuma cocok untuk kamu yang berkutat di jurusan astronomi, fisika, atau teknik bercinta mesin. Mahasiswa linguistik, komunikasi, atau siapapun yang berminat di bidang sosial dan bahasa juga harusnya bergairah menonton Arrival karena terdapat banyak rujukan penting untuk keilmuan mereka. Nah, tapi lewat artikel ini, Hipwee bakal mengajak ngobrol anak komunikasi dulu. Siapa tahu bisa jadi contoh kasus untuk tugas atau skripsimu yang nggak kelar-kelar itu.

1. Habis nonton film ini, anak komunikasi bisa bilang “Kalau kelak kita diserang alien, kalian semua bakal minta tolong ke siapa? Anak komunikasi!”

Jikalau kamu ingin tahu sekelumit Arrival itu bercerita tentang apa, begini sinopsisnya:

Ada 12 kapal alien datang ke bumi. Anehnya, mereka nggak berbuat apa-apa. Cuma diam aja kayak supir ojek online yang lagi mangkal. Tapi ‘kan rasanya nggak mungkin kalau mereka ke bumi cuma buat nongkrong? Mereka pasti punya maksud. Jadi kita harus bertanya “mau apa lo?” ke mereka. Masalahnya, jangankan bahasa anak gaul Jakarta, mereka juga nggak paham bahasa universal umat manusia . Kita juga nggak paham dengan bahasa mereka. Nah, jadi film ini sesungguhnya cuma tentang upaya manusia untuk bisa ngobrol asyik dengan mereka.

Alhasil, kita bisa bilang kalau film ini punya konflik yang muncul gara-gara masalah komunikasi, dan kemudian diselesaikan juga dengan solusi komunikasi. Menurut karakter utama film ini yang bernama Prof Louise Banks (Amy Adams), “Bahasa adalah senjata pertama yang dikeluarkan saat terjadi konflik.” Memang sih yang maju menghadapi alien-alien itu kemudian adalah pakar bahasa jebolan pendidikan linguistik atau bahasa. Namun, ilmuwan komunikasi jelas tetap ambil peran penting dalam mengambil kebijakan serta menghadapi fenomena semacam ini.

Jadi jika kamu adalah (1) anak komunikasi, (2) tidak punya rencana hidup ke depan yang jelas (3) dan berakhir punya cita-cita mulia mengusir alien dari muka bumi secara halus, maka selamat! Kamu tidak salah jurusan

2. Ada banyak teori komunikasi yang bisa kita pelajari untuk mengkaji film ini. Misalnya, pernah mendengar teori Pengurangan Ketidakpastian?

Adalah Charles Berger yang menyatakan bahwa manusia senantiasa menghindari ketidakpastian. Kita selalu ingin mendapat kepastian tentang orang lain. Pasalnya, ketika berkomunikasi, kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada informasi yang kita miliki tentang orang tersebut. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan cemas. Tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi akan menciptakan jarak, tapi ketidakpastian yang dikurangi cenderung membuat kita nyaman dengan orang lain. Inilah penjelasan logis kenapa kamu suka banget kepo orang lain. Bukan kelainan kok.

Makanya, teori ini penting dalam melihat bagaimana seseorang menjalin hubungan dengan orang asing. Karena tidak kenal dan sulit berkomunikasi, kaum manusia dalam film Arrival digambarkan diliputi kekhawatiran atas kedatangan alien tersebut. Akhirnya, mereka menggunakan apa yang disebut “strategi interaktif” untuk mengurangi ketidakpastian itu dengan mengirim penerjemah agar bisa mendapatkan informasi tentang para alien. Strategi interaktif mencakup interogasi dan pengungkapan diri. Itulah kenapa dalam menginterogasi para alien, Prof Banks juga harus memperkenalkan dirinya. Kita mengenalkan diri kita agar lawan bicara juga makin mudah untuk memperkenalkan dirinya.

3. Ada juga teori komunikasi bernama Linguistik Determinan. Kamu bisa baca teorinya biar terbantu memahami apa hubungannya waktu dan bahasa yang jadi salah satu unsur cerita penting di film ini

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mengutarakan buah pikirnya bahwasanya bahasa sebuah budaya menentukan perilaku dan kebiasaan berpikir orang-orang dalam budaya tersebut. Cara kita memandang dunia dibentuk oleh susunan tata bahasa yang kita pakai. Misalnya, secara umum manusia mempelajari bahasa dan memandang waktu sebagai sesuatu yang linear atau berjalan maju. Bagaimana kita selalu menulis kalimat dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri menunjukan itu.

Ini berbeda dengan bahasa atau aksara para alien yang berbentuk melingkar. Tulisan mereka berbentuk simbol dengan makna yang lebih luas per-simbolnya. Konsep ini juga selaras dengan cara pandang alien itu terhadap waktu. Bagi mereka, waktu tidak linear melainkan berputar. Tidak ada awal tidak ada akhir. Berkat itulah alien bisa menguasai waktu. Mereka bisa mengatur waktu untuk maju atau mundur. Nah, supaya bisa memahami pola pikir dan menguasai waktu juga, manusia pun kemudian harus menguasai bahasa mereka dulu.

4. Adegan-adegan Prof Banks mengajarkan bahasa manusia ke para alien juga sangat menarik untuk diobrolkan bareng teman-teman sekelas

Apakah mungkin memahami bahasa dari komunikan yang tidak kita ketahui sebelumnya memiliki konsep-konsep kehidupan yang sama? Teori Pengartian Semantik dari Charles Osgood menyebutkan bahwa penafsiran adalah cara untuk memahami pengalaman kita. Teori ini berhubungan dengan cara-cara mempelajari makna dan bagaimana makna tersebut berhubungan dengan pemikiran dan perilaku. Makna memang tidak harus dipelajari dari pengalaman langsung, tetapi rasanya harus dipelajari dengan asosiasi antara satu tanda dengan tanda lain. Misalnya, sebelum Louise bisa memahami simbolisasi “makan” dalam bahasa alien, bagaimana cara ia bisa tahu bahwa alien juga menganut konsep “makan” yang sama dengan manusia? Atau bahkan, apakah alien itu sendiri juga melakukan aktivitas makan?

5. Dasar peradaban itu bahasa atau sains? Jangan-jangan justru komunikasi?

Sempat terdapat adegan di mana Prof Banks sedikit adu mulut dengan seorang ilmuwan fisika bernama Ian Donnelly. Prof Banks mengatakan bahwa dasar peradaban manusia adalah bahasa. Di sisi lain, Donnelly membantahnya dengan menyebut sains merupakan dasar peradaban manusia sebenarnya. Mana yang menurutmu benar?

Mungkin kita bisa bilang dasar peradaban manusia memang bahasa, atau lebih spesifik lagi ialah aksara. Peradaban pertama yang kita kenal (mesopotomia) pun konon sama dengan aksara pertama yang kita temukan. Kita bisa kenal kehidupan beribu-ribu tahun lalu karena ada susunan aksara yang membentuk pesan-pesan yang ditinggalkan mereka. Namun, bagaimana ketika kita kini masuk ke era komunikasi visual? Kita mengabadikan pesan tidak lagi di prasasti atau buku, melainkan lewat foto, video, dan lain-lain. Apalagi jika suatu waktu nanti kemajuan teknologi (atau kedatangan alien) membuat kita memiliki kemampuan menerka masa depan, dengan kata lain membaurkan batasan waktu dan ruang? Semua jadi bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan-jangan benar juga tuh kalau dasar peradaban itu adalah sains. Tapi kalau mau lebih spesifik lagi, sains yang dimaksud itu mungkin sebatas teknologi komunikasi saja. Tapi…. tapi… tapi.. puyeng ‘kan?

6. Bukan cuma komunikasi dengan alien, Arrival juga menghadirkan konflik komunikasi antar negara

Nah, yang ini lebih menyinggung komunikasi politik dan wilayah studi Hubungan Internasional nih. Arrival menghadirkan juga permasalahan politik luar negeri. Pasalnya, 12 kapal alien itu dikisahkan turun tersebar di negara-negara berbeda. Problem menyeruak lantaran tiap negara punya kebijakan berbeda untuk merespons kedatangan alien itu. Pertanyaan buat kamu, kira-kira seperti apa bentuk komunikasi terbaik untuk mengatasi permasalahan itu jika peristiwa ini benar-benar terjadi?

Ada hal lain yang menarik terkait kebijakan politik luar negeri. Film ini menunjukan seakan Amerika Serikat adalah negara paling bijak dan humanis dalam menghadapi permasalahan, sementara negara lain seperti Cina digambarkan temperamen, haus peperangan, dan penuh tipu muslihat. Sebenarnya pencitraan semacam ini sudah sering dilakukan Amerika Serikat lewat film-film Hollywood. Tapi kali ini lebih bikin gregetan, soalnya kalau mengingat reputasi dan watak presiden mereka yang baru, bukan tidak mungkin Amerika bakal langsung kirim nuklir sembarangan tanpa banyak pertimbangan jika mereka benar-benar kedatangan alien. Sesama manusia aja diserang, apalah arti alien.


https://i0.wp.com/image-serve.hipwee.com/wp-content/uploads/2017/01/hipwee-arrival-movie-4-e1471529984165-750x394.png

Sekian artikel Hipwee tersebut. Nah, ada hal menarik terkait poin ketiga di sana. Saya memasukan teori Linguistik Determinan hanya karena analisis kecil-kecilan yang berbasis perbendaharaan teori ilmu komunikasi yang tentu masih terbatas. Sebulan setelah menulisnya, saya mendapat tugas presentasi di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dengan salah satu materinya adalah…..  teori Linguistik Determinan! Ups, ini kebetulan pertama.

Usai kemudian iseng berselancar di Google untuk mempelajari materi presentasi itu, saya menemukan sebuah artikel wawancara dengan seorang pakar linguistik mengenai film Arrival. Dijabarkanlah bahwa sebagian besar kisah Arrival ternyata memang benar-benar mengadaptasi….. teori Linguistik Determinan! Waw, mendadak saya merasa sudah pantas dipanggil tentara Amerika Serikat untuk kopi darat bersama alien.

Best Lines: 

“Language is the foundation of civilization. It is the glue that holds a people together. It is the first weapon drawn in a conflict.”

After Watch, I Listen: Radiohead – Daydreaming

3. Zootopia

Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk zootopia poster

Animasi, Komedi

Byron Howard & Rich Moore

Di tahun 2016, kita juga punya Finding Dory, Moana, dan Kubo and The Two Strings untuk mengajak keponakan berusia “bimbingan orangtua” ke bioskop. Namun, Zootopia adalah satu-satunya yang bahkan bisa membuat pemuda atau paruh baya sibuk memperbincangkannya lagi seperti kumpulan anak SD yang baru saja menonton satu episode Kamen Rider. Sangat bernas.

Padahal, di kala film animasi terkini harus berkompetisi bersenjatakan pengembangan teknologi visual, adaptasi kisah dongeng klasik, atau tema besar yang sangat unik, Zootopia menawarkan sesuatu yang standar dan tertangkap dari posternya yang tidak menarik sama sekali: fabel. Bandingkan dengan begitu inovatifnya Inside Out mengambil personifikasi atas kategorisasi emosi manusia misalnya, pilihan antropomorfisme (memasukan karakteristik manusia ke benda non manusia) dari Zootopia adalah objek hewan yang digiring untuk menggambarkan kehidupan urban manusia. Sungguh tampak usang dari luar kalau saja tidak didukung deretan trailer kreatifnya.

Namun, jangan tanyakan eksekusinya. Sebagaimana namanya, Zootopia yang hampir pasti gandengan kata zoo dan utopia adalah sebuah kota di mana relasi primitif mangsa memangsa antara kaum mamalia dan predator telah punah karena masyarakatnya digambarkan sudah modern dan berpikiran maju. Seluruh hewan hidup harmonis, namun ternyata hanya di permukaan sosial. Kendati bebas dari konflik fisik, masih ada ketimpangan secara struktural. Perbedaan tiap spesies masih meninggalkan stereotip yang berdasarkan pola standarnya berakhir menuju segregasi rasial dan marginalisasi peran serta akses sosial. Slogan “In Zootopia, anyone can be anything” adalah mitos. Tidak ada yang bisa memerdekakan identitas sosial masing-masing spesies. Babi adalah lemah, harimau pasti galak, dan serigala selalu berbulu domba. Film ini memulainya dengan bagaimana Judy Hoops, seekor kelinci ambisius, harus berjibaku menghadapi tindak diskriminasi dalam profesinya di institusi kepolisian dibanding rekan-rekannya seperti banteng, badak, harimau, gajah, yang notabene merupakan spesies yang dipandang lebih unggul dalam hirarki yang laten…. dan sampai di sini, saya bingung sedang menulis sinopsis film animasi atau membuat ikhtisar teori strukturasi Anthony Giddens….

Hasil gambar untuk zootopia

Sama seperti Animal Farm dari George Orwell, Zootopia menggunakan fabel untuk membongkar kebobrokan sosial. Zootopia berhasil memaksimalkan elemen-elemen eksklusif yang hanya dimiliki film animasi untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi, relasi kuasa kaum mayoritas, dan konflik struktur sosial. Bobot narasi ini menyatukan urgensinya terhadap segala usia. Menjahit pesan moral tentang “apa yang salah dan harusnya dilakukan” kepada penonton kanak-kanak sekaligus menunjukan realitas tentang “apa yang kenyataannya sudah terjadi” kepada khalayak dewasa.

Apa yang dialami oleh para predator di bagian konflik film ini melukiskan apa yang terjadi pada misalnya, para kaum Tionghoa atau keluarga partisan PKI di Indonesia. Stereotip dan stigmatisasi adalah peluru pertama untuk menciptakan hegemoni yang melumpuhkan posisi mereka di struktur sosial. Namun, mungkin yang paling dekat dengan situasi hari ini adalah apa yang dialami oleh orang Timur, khususnya warga Papua yang tengah merantau di Jawa. Watak mereka yang keras dikembangkan sedemikian rupa dari mulut ke mulut dan kanal ke kanal untuk membentuk prasangka subjektif bahwa mereka adalah barbarian, senggol bacok, karakter GTA (Grand Theft Auto) hingga penyakit masyarakat. Salah satu tujuannya adalah melunturkan simpati masyarakat pada warga Papua, sehingga ada keraguan dalam menyikapi perjuangan hak asasi manusia dan perebutan kembali hak kekayaan sumber daya alam di Freeport. Korban terdekat, kakak sepupu saya pernah berkata, ”Kayaknya memang sulit juga buat TNI untuk tidak melakukan kekerasan pada orang Papua di sana (Freeport), mereka memang ngawur orangnya”, seakan sumber masalah adalah sifat dasar etnisnya. Ya iyalah, kalau rumahmu dirampok, orang Jawa yang katanya alon-alon kelakon juga bisa menjelma jadi ora wedi getih, tak gajul tugel ndasmu! Ini faktor eksternal, Bung, eh Mas.

Selain narasinya, elemen paling menawan dari Zootopia adalah semesta yang dibangun di dalamnya. Representasi brilian dari problematika kehidupan urban. Bayangkan ada gajah menjual es krim tidak sesuai dengan standar kebersihan makanan, musang yang membuka lapak CD bajakan, dan cheetah yang hobi narsis di ponsel karena bekerja di departemen kepolisian yang menjemukan (ingat dengan ulah Briptu Norman?). Adegan Sloth yang pecah itu juga rasanya menggambarkan lambatnya kerja birokrasi.

Zootopia adalah bentuk karya realisme sosial dalam animasi. Takjub mengetahui bahwasanya justru adalah film animasi yang paling membantu kita memahami realitas di dunia ini, tapi sekejap saya teringat bahwa kelakuan kita akhir-akhir ini memang lebih mirip hewan daripada manusia.

 

Best Lines:

Mr Big : I trusted you Nicky. I welcomed you into my home.we broke beard together. Gram-mama made you cannoli.  And how did you repay my generiosity? With a rug made from the butt of the skunk. A skunk-butt rug. You disrespect me. You disrespect my gram-mama who i buried in that skunk Butt rug.

 

After Watch, I Listen: Animal Collective – FloriDada

4. The Wailing

Tags

, , , , , ,

Image result for the wailing poster

Mistery, Horror

Na Hong-jin

Saya pernah mendapati sebuah senarai tonton film Korea dengan tajuk “20 Korean Films That Aren’t Oldboy”. Wuaduh, merasa tersindir nih. Soalnya memang cuma Oldboy, satu-satunya sinema Korea yang sudah saya tonton waktu itu. Di pertengahan tahun kemarin, saya akhirnya baru menonton dua film Korea lagi: The Wailing dan The Handmaiden. Dua-duanya keren, tapi kebetulan saya memang selalu kurang nyaman dan sedikit enek dengan pendalaman unsur erotis wanita semacam yang ditampilkan di The Handmaiden, mengingatkan pada film biru legendaris Asia, Sex and Zen. Masyaallah, begini susahnya jika penonton film punya standar akhlak setinggi saya.  

The Wailing sebenarnya pun mengangkat genre yang kurang klop untuk saya. Semenjak hilang kepercayaan dengan hal-hal gaib, saya praktis terhambat untuk menikmati film horor. Film horor bagi saya adalah saudara kembar film fantasi. Elemen-elemen ceritanya sulit direfleksikan pada kehidupan nyata, sebagaimana standar kunci saya dalam merasai dan menghargai sebuah sinema. Selain itu, kendati seseorang tak harus ketakutan untuk bisa diartikan menikmati film horror, tapi kemampuan membujuk bulu roma untuk berdiri seharusnya masih jadi salah satu parameter keberhasilan sebuah film horor. Sepengetahuan saya, membuat orang terhibur lewat medium rasa takut adalah ide dasar reka cipta film horor.

Anehnya, saya merinding menonton The Wailing. Film ini tidak menjual adegan-adegan mengagetkan. Tiada pula membuat saya terus berpikir sesuatu yang tidak masuk akal bakal muncul mendadak ketika saya lewat kuburan tiap pulang dari kantor Warning atau di kantor Hipwee sendiri yang dikenal berhantu oleh para tetangga. Sisi seram yang menerpa saya berasal dari pola sederhana: Siapa antagonis—dalam konteks ini adalah setan—sebenarnya? Ketidakpastian ini yang memproduksi perasaan horor. Nyawa (keluarga) tokoh utama terancam oleh sosok yang belum diketahui, bisa kawan atau lawan. Logika kerja makhluk halus yang selalu dikonstruksi berkekuatan super kian mempertegas ancaman. Ini pola regular film horor, namun misteri bekerja sangat baik di The Wailing.

Image result for the wailing

Setiap film horor supranatural pasti menceritakan omong kosong. Namun, omong kosong di The Wailing sanggup menunjukan betapa ringkih hati manusia, serentan itu dengan tipu daya. Sekali putus asa, manusia adalah makhluk yang begitu mudah terombang-ambing, berganti keberpihakan, dihasut, dan sekonyol-konyolnya adalah beralih ke kuasa klenik. Cerminan masyarakat yang lapuk. Film ini memang mengadaptasi kepercayaan rakyat dan spiritualitas tradisional di Nepal dan Korea, serta sedikit Katolik. Atmosfir wingit masyarakat pedesaan di era modern diwujudkan dengan cemerlang.

Klimaks The Wailing ada pada ending-nya yang enigmatis. Siapa sesungguhnya antagonis-protagonis di film ini belum terjawab memuaskan. Seluruh teman saya yang sudah menonton juga tampak tidak paham dengan apa yang terjadi di film ini. Namun, ambiguitas ini sukses memotivasi saya untuk mengulang-ulangnya kembali. Dan sebagaimana film misteri yang bagus, akan ada banyak orang senggang yang mencoba mendakwahkan penjelasan narasi versi mereka. Nah, ini versi yang paling saya percaya:

INI SPOILER POL, jangan ngeyel:

Korbannya jelas adalah sang karakter utama, Jong-goo dan keluarganya. Sebenarnya, pihak baik di sini adalah si perempuan misterius (Chun Woo-hee). Lalu pihak jahat sebagai sang iblis yang diburu adalah si orang Jepang (Jun Kunimura). Selain terlihat dari wujud fisiknya di bagian akhir, tidak ada juga karakter lain yang kedapatan pernah menyentuh fisiknya secara langsung sejak awal film. Nah, si Syaman (Hwang Jung-min) kemungkinan besar adalah komplotan si orang Jepang. Ada beberapa klu, seperti model busana sejenis ‘popok’ yang dikenakannya ternyata sama dengan yang dikenakan si orang Jepang, dan yang paling jelas adalah adegan terakhir, di mana ia menyimpan banyak foto para korban di desa tersebut. Menurut tafsiran saya, kemungkinan besar si Syaman mulai dikendalikan oleh iblis sejak ritualnya dihentikan paksa oleh Jong-goo. Tapi bisa juga si Syaman memang bekerjasama dengan iblis untuk mencari uang dari pekerjaannya sebagai pengusir iblis itu sendiri. Brengsek.

Best Lines:

Japanese Stranger: You’ll go without doing anything?

Priest: That’s right. I’ll go without doing anything

……

Japanese Stranger: Who says i’m going to let you go?

After Watch, I Listen: Nick Cave & The Bad Seeds – Girl In Amber  

5. The Nice Guys

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk the nice guys poster

Comedy, Crime

Shane Black

The Nice Guys diawali dengan adegan yang patut untuk menjadi video musik lagu-lagu di album Appetite for Destruction milik Guns N’ Roses. Seorang anak kecil berpiyama sendirian mendapati seorang bintang porno telanjang dan terlentang di antara puing-puing kecelakaan mobil yang kemudian berbisik lirih, “How do you like my car, big boy?”. Selanjutnya? Struktur cerita yang janggal dan plot yang seperti ditulis orang yang selesai minum tujuh sloki Johnnie Walker. Saya tidak menonton dan mendengarkan produk budaya pop apapun yang lebih rock & roll dari The Nice Guys sepanjang tahun 2016 kemarin.

Set naskah “buangan” dari rancangan proyek serial TV ini masih seputar wilayah urban Los Angeles 70-an yang berjejal kriminalitas dan intrik dunia hitam. Ryan Gosling berperan sebagai Holland March, seorang detektif yang tidak punya daya penciuman dan ketenangan berpikir. Sementara Russel Crowe bermain sebagai Jack Healy, semacam tukang pukul bayaran yang awal perkenalan dengan Holland adalah dengan memukulinya. Demi mencari seorang gadis ABG bernama Amelie, keduanya diombang-ambing masuk ke skandal film porno–yang ada ceritanya–independen yang ternyata digarap dengan misi menyingkap sebuah skandal yang lebih besar.

Di antara duet keruh itu, ada Holly March (Angourie Rice), putri Holland berusia 13 tahun yang sebenarnya punya posisi tipikal di film-film action: lemah dan diremehkan, tapi kadang menciptakan peluang-peluang penyelesaian masalah yang tak terduga di saat genting. Bedanya, keberadaan Holly tidak membuat kita merasa terganggu seperti karakter-karakter sejenisnya di kebanyakan film lain. Ia berkontribusi di banyak adegan dan dialog kocak, tak mudah membangun tokoh yang seperti ini.

Hasil gambar untuk the nice guys

Alur pengisahan The Nice Guys memang tidak rapi. Merugi jika Anda dipusingkan bangunan jalan ceritanya, nikmati saja dialog-dialog jenaka dan cerdik yang dirias dengan kemasan neonoir yang sedikit komikal. Anggaplah sedang ngobrol sembari mempermainkan seorang teman yang mabuk dan mengoceh tanpa nalar. Sementara sinkronisasi antara tokoh Healy dan Holland adalah keberhasilan terbesar film ini. Keduanya tampil prima untuk melukiskan kekacauan yang muncul dari pertemuan antara detektif yang bertindak sebelum berpikir dengan tukang pukul temperamental.

Elemen caper di film ini berasal dari kasus penuh persekongkolan dan tipu daya yang mesti dihadapi Healy dan Holland. Namun, kebanyakan kejutan sebenarnya bukan dari permasalahan atau trik tokoh antagonisnya, melainkan berasal dari kebodohan tokoh protagonisnya sendiri. Kelanjutan pilihan-pilihan tindakan dari mereka bisa menukik jauh dari perkiraan hingga membuat haluan plot sukar diterka. Belum lagi humor yang menggelantangkan logika. Tentu saja tokoh March paling sering menjadi dalang utama.

Lewat The Nice Guys, saya sudah jatuh cinta pada Gosling tahun ini jauh sebelum La La Land naik layar. Bahkan, semenjak melihat adegan pertamanya di film Big Short (2015), saya sudah yakin orang ini bangsat. Gosling tidak dikenal sebagai aktor film komedi, jejak rekamnya lebih penuh dengan film-film romantis atau drama serius, tapi aura komediknya seakan meluap-luap di tiap gestur dan ekspresinya. Tak bisa dipendam lagi hasrat berandai-andai jika ia kelak bermain untuk Quentin Tarantino atau berduet dengan Samuel Jackson. Atau setidaknya, bagaimana kalau probabilitas adanya sekuel film ini ditindaklanjuti dahulu?

Best Lines:

Holly: You’re the world’s worst detective.

Holland March: I’m the worst?

Holly: Yeah!

Holland March: The “worlds” worst?  

After Watch, I Listen: Red Hot Chilli Peppers – Dark Necessities

6. Lion

Tags

, , , , , , , ,

Hasil gambar untuk lion poster movie

Drama

Garth Davis

Agaknya Lion ialah film internasional dengan tingkat kompleksitas cerita paling ringan yang saya tonton sepanjang tahun 2016 kemarin. Di luar prestasi film ini menyelundupkan enam nominasi Oscar, alasan paling kuat bagi saya mencintai film ini sesungguhnya bukan secara teknis, melainkan asas keterhubungan secara personal dengan kisahnya. Pencarian jawaban perihal riwayat diri yang baru saja saya temukan awal tahun ini. Hanya beberapa hari pasca-jawaban itu datang, saya menjumpai film ini, berempati dengan tokohnya dan sebuah resolusi yang terwakili dalam kalimat dialog berbunyi “i found her but that doesn’t change who you are”.

Sayangnya, saya bukan selebriti sehingga kisah pribadi saya tidak akan menghasilkan uang, jadi tidak ada faedahnya untuk diceritakan di sini. Mending saya memperbincangkan filmnya saja, karena justru lewat itu selama ini ada orang yang mau membayar saya. #ketahuanburuh

Lion mengadaptasi kisah kehidupan nyata yang dibukukan dengan tajuk A Long Way Home (2013) dari Saroo Brierley, seorang pebisnis asal Australia. Saroo sesungguhnya adalah kelahiran India yang terpisah dari keluarganya sejak tersesat seorang diri di sebuah stasiun. Usianya kala itu masih terlalu kecil untuk bisa berpikir dan menanggapi situasi tersasar dengan jernih, sehingga apa yang ia lakukan hanya membawanya terdampar ke sana ke mari, kian jauh dari tempat tinggal keluarganya. Di negara periferal seperti India, teknologi pendataan dan pencarian mungkin belum terlalu canggih pada tahun 1986, ditambah lagi dengan ketidakcakapan Saroo untuk menjelaskan identitas keluarga dan daerah asalnya ke pihak yang ingin membantunya. Ia resmi hilang dan lalu diadopsi oleh sepasang suami-istri di Tasmania, Australia. Selang 25 tahun, tatkala kognisinya dan kemajuan teknologi sama-sama tumbuh dan siap, ia kembali mencari keluarga aslinya.

Separuh jalan film ini dihabiskan untuk menyimak kebingungan Saroo kecil (Sunny Pawar) di lorong-lorong stasiun atau rel pinggiran. Dibalut palet warna kuning dan score melankolis, Davis berhasil menghidangkan sisi panik dan cemas dari Saroo kecil lewat gambar-gambar goyah dan penuh hiruk pikuk. Sementara di paruh akhir film, tepatnya pasca-adegan Saroo dewasa (Dev Patel) kebetulan melihat jalebis—kudapan manis khas India yang mengingatkan pada masa kecilnya, mulailah kita disuguhi babak eksplorasi kebingungan tokoh Saroo dewasa. Ia memutuskan untuk mulai mencari tahu tempat tinggalnya via Google Earth disertai sisa-sisa ingatannya yang lamat-lamat.

Kecewanya, film ini kurang mampu membabarkan metode Saroo mencari posisi rumahnya melalui peranti tersebut dengan detail dan jelas. Saya baru mulai paham tahapan prosesnya memakai Google Earth setelah membuka-buka beberapa artikel tentang kisah asli Saroo. Saya jadi sadar kembali dengan bahayanya kesaktian teknologi ini. Jika orang biasa saja bisa menemukan sebuah wilayah asing yang pasti sudah berpuluh tahun mengalami banyak perubahan, betapa mudah pengontrol utama mesin-mesin itu menguasai segala ruang untuk berbagai kepentingan. Tak ada lagi ruang di atas bumi yang tak terlihat oleh mereka.

Hasil gambar untuk lion movie 

Selain kenangan terhadap jalebis, mungkin momentum hilangnya Manthos (Divian Ladwa) juga mendorong Saroo untuk lebih berusaha keras menemukan keluarga aslinya. Manthos adalah saudara sesama adopsi yang mempunyai sejenis kelainan mental yang membuatnya suka menyakiti diri sendiri. Beda dengan Saroo yang meneruskan hidupnya diiringi kesuksesan di berbagai bidang, Manthos tumbuh dewasa dengan masalah. Tekanan dari Saroo di suatu waktu membuat Manthos ‘ngambek’ dan melarikan diri. Merasa bersalah kepada kedua orangtua adopsinya, Saroo pun mencarinya. Perasaan itu yang bisa jadi mengingatkannya pada kemungkinan rasa bersalah dan nanar yang juga dialami oleh kakak kandungnya di waktu silam ketika kehilangan dirinya di stasiun.

Hampir semua teman saya menyanjung film ini usai menontonnya di bioskop, meski sebelumnya mereka harus dibujuk nonton dengan jawaban dari pertanyaan semacam “Tidak ada joget-jogetnya ‘kan?”. Tolong perhatiannya, Lion bukan film Bollywood. Ini spesies film yang memperlakukan India hanya sebagai set dan konteks. Pun andai menurutkan sesi goyangan lokal tersohor itu, pasti semata disajikan sebagai bumbu dengan kemasan yang tetap lebih dekat dengan atmosfir Hollywood.

Memang paling mudah (atau malas?) untuk membandingkan Lion dengan Slumdog Millionaire, salah satunya karena kehadiran Dev Patel. Selain pertanyaan “Itu yang jadi bocah kampung di Slumdog Millionaire? Kok jadi keren seperti itu?” (Lha memangnya aktor yang pernah berperan jadi bocah kampung hanya punya pilihan tampilan fisik yang kompatibel dengan peran preman kampung atau narapidana ketika dewasa?), pertanyaan lain yang sering harus saya jawab adalah “Kenapa Dev Patel masuk nominasi Best Supporting Actor, bukan Best Actor?” Jawaban pakem tanpa riset dari saya adalah karena ia memang hanya muncul separuh film. Kendati Saroo adalah karakter yang benar-benar sentral di film itu, namun Dev Patel harus berbagi porsi dengan Sunny Pawar—sebagai Saroo kecil—untuk memerankannya. Ini berbeda dengan barisan nominator di Best Actor yang memang muncul dari awal sampai akhir, mengendalikan plot film masing-masing secara utuh. Yah, lagipula saya pikir acting Dev Patel tidak ada apa-apanya dibanding Casey Affleck, Denzel Washington, atau Ryan Gosling. Kansnya justru lebih besar di Best Supporting Actor, walau tidak terhindarkan juga untuk berakhir kandas. Setidaknya ia akan menang jika saja ada kategori Perubahan Wajah Paling Dipergunjingkan di Tahun 2016.

 

Best Lines:

Because we both felt as if… the world has enough people in it. Have a child, couldn’t guarantee it will make anything better. But to take a child that’s suffering like you boys were. Give you a chance in the world.

After Watch, I Listen: Coldplay – Hymn for the Weekend

7. Manchester by the Sea

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk manchester by the sea poster

Kenneth Lonergan

Drama

“If you could take one guy on an island with you and you knew you’d be safe because he was the best man, that he was going to keep you happy, if it was between me and your father who would you take?”­ – Lee

Lee Chandler (Casey Affleck), seorang tukang reparasi segala rupa harus memakan kembali kata-kata di atas yang ia ucapkan dalam nuansa bersenda-senda pada keponakan kecilnya saat tengah asyik memancing bersama. Sepuluh tahun kemudian, kakak Lee meninggal dunia, dan ia dipasrahi tanggung jawab menjadi wali dari keponakannya yang kemudian sudah menginjak usia remaja tersebut. Salah satu konsekuensinya, Lee mesti pindah ke kota bernama Manchester By The Sea. Masalah terbesarnya adalah Lee punya kenangan nahas di sana. Ia menyebabkan kebakaran rumahnya sendiri hingga tiga anaknya meninggal dunia. Istrinya pun akhirnya meminta cerai. Keluarganya hancur lebur di kota itu. Kepribadian Lee pun berubah drastis setelahnya, muram dan labil. Bisa jadi memang wasiat sang kakak untuk menariknya kembali ke kota itu bertujuan agar Lee berani menghadapi masa lalunya. Namun, tentu tak mudah. Lee memutar otak untuk tidak harus pindah ke sana tanpa meninggalkan tanggung jawabnya.

Lee bisa saja mengajak keponakannya yang bernama Patrick (Lucas Hedges) itu untuk pindah ke Boston, kota pelariannya selama ini. Namun, Patrick menolak. Jelas saja, jika Manchester by the Sea adalah kenangan lara untuk Lee, kota itu justru adalah hidup Patrick. Ia membangun jejaring eksistensi dan pergaulan yang sempurna di sana.

“All my friends are here. I’m on the hockey team, I’m on the basketball team. I got to maintain a boat now. I work on George’s boat two days a week, I got two girlfriends and I’m in a band. You’re a janitor in Queensie. What the hell do you care where you live?” – Patrick

Nalar tidak sanggup membuat Lee menjawabnya. Patrick belum cukup dewasa untuk berempati terhadap apa yang ia lewati. Kedewasaan Lee diuji. Sembari menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya, Lee melewati hari-hari bersama Patrick dengan relasi yang menarik.

Image result for manchester by the sea

Hubungan antara om dan keponakan yang kasual digali menjadi harmonisasi yang realistis. Karakter seorang ‘om’ biasanya memang cenderung lebih terbuka dan liberal menurut relasinya dengan seorang keponakan yang berstatus ABG. Terlihat bagaimana Lee lebih memosisikan diri sebagai kakak dibanding orangtua bagi Patrick kendati tetap ada kekakuan dan ketidaknyamanan pada beberapa konteks interaksi di awal yang kemudian menjadi jenaka, misalnya dialog ketika Patrick pertama kalinya meminta izin menginapkan teman wanitanya di rumah. Bahkan, untuk ukuran orang barat yang punya gaya komunikasi individualistik dan low context, masalah ini tetap ada. Kendati sama-sama melibatkan unsur konflik generasi, namun beda dengan 20th Century Woman atau Fences, “mendidik” bukan problem yang menguntai pada sekujur plot di Manchester by the Sea, melainkan upaya Lee memasukan kepentingan Patrick dalam skemanya untuk berdamai dengan masa lalunya.

Kendati sejak awal saya tahu bahwa Manchester by the Sea bukanlah kota Manchester yang kondang di Inggris itu, namun entah kenapa saya tetap merasa ada cita rasa british di film ini. Bisa karena sugesti, lebih mungkin karena atmosfir subtilnya. Salah satunya didukung oleh pembawaan karakter yang dingin sekaligus emosional dari Casey Affleck. Trofi Oscar adalah ganjaran dari kecemerlangannya menampilkan dua personalitas yang jauh berbeda dalam satu tokoh. Tampil sebagai Lee di versi perwatakan sebelum tragedi kebakaran terjadi maupun versi perwatakan pasca-kebakaran, Affleck membuat kita percaya semuanya muncul dari satu tokoh yang sama. Sebuah kinerja luar biasa dari Affleck, meski saya pikir bukan ide buruk juga jika peran sebagai Lee sebelumnya benar-benar disikat oleh Matt Damon.

Manchester By The Sea ialah contoh film yang bisa memberikan efek sentimental dari cara yang tidak bisa dibedah dan dianalisa secara selayang saja. Bukan sekadar dari naskah maupun dramatisasi di adegan-adegan tertentu. Semua aspek produksi begitu korelatif membangun emosi. Padahal, gejala konflik film ini baru menjengul di paruh tengah film berjalan, namun kita bisa terbujur kaku di depan layar sejak awal.

Best Lines:

“Who are you going to shot? You or me?”

After Watch, I Listen : Bon Iver – 33 God 

8. Fences

Tags

, , , ,

 

Image result for fences poster

Drama

Denzel Washington

Bagi saya, menonton Fences ibarat makan Big Mac. Salah satu alasan kenapa saya akan tetap terhalang beban moral-kuliner untuk menjadi Marxis—entah sebanyak apapun buku Tan Malaka yang saya baca—adalah karena saya sangat doyan hamburger di McDonald. Apalagi Big Mac. Favorit. Porsinya lebih dari memenuhi hajat indra pengecap saya, kendati saya sampai harus menguras keringat dan meluangkan banyak waktu untuk melahapnya habis. Kerepotan tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Saya juga sangat doyan dengan film yang memuat dialog-dialog cepat, intens, dan cerdas. Fences benar-benar memenuhi selera itu, sebuah film dengan dialog bertubi-tubi. Favorit. Saking rapatnya, penonton bisa tersesat hanya karena menonton disambi memotong kuku atau makan makanan yang merepotkan seperti makan bubur ayam pakai sumpit yang beda panjangnya. Saya juga sempat kewalahan dengan dialog-dialog yang memberondong di film ini, mengingat ada pertemuan antara kecakapan bahasa Inggris saya yang pas-pasan dan situasi menonton di mana saya tetap dituntut melayani penulis Hipwee yang minta approval ide artikel via whatsapp.  Kerepotan, tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Diadaptasi dari naskah sandiwara pemenang Pulitzer Prize di tahun 1987, kisah Fences berpusat pada Troy (Denzel Washington), seorang kulit hitam yang punya watak sempit hati dan penuh antipati. Ia membenci semua hal yang ada di hidupnya selain istrinya (Viola Davis). Amarahnya terhadap struktur sosial yang menyudutkan kaum kulit hitam di masa mudanya masih terus menyala-nyala kendati orang-orang di sekitarnya meyakinkannya bahwa zaman sudah mulai berubah. Ia selalu skeptis terhadap segala situasi di sekitarnya. Saya pernah bertemu beberapa orang dengan karakter seperti Troy, yang mana keras kepala, bawel, arogan, gemar menggurui–yang kadang berujung membual. Orang sejenis ini kecenderungannya pun tak merasa nyaman jika tidak dominan, terlihat dari bagaimana Troy selalu meminta dukungan dari Bono (Stephen Henderson), sahabatnya untuk melegitimasi celotehannya.

Image result for fences movie

Ada banyak problematika yang lahir dari tabiat Troy ini, tapi yang paling berkesan bagi saya adalah relasi dengan anak-anaknya. Ia punya dua putra. Yang pertama adalah Cory (Jovan Adepo) yang merupakan buah hatinya bersama Rose, serta Lyons yang berasal dari perkawinannya sebelumnya. Sebagaimana 20th Century Woman, terdapat konflik generasi orangtua-anak dalam narasi film Fences. Hanya saja, beda dengan karakter Dorothea (Annette Bening) dalam film itu yang memang berupaya memahami perbedaan konteks zaman, Troy sengaja menutup diri. Kolot garis keras. Ia memaksa Cory untuk memprioritaskan keterampilan perburuhan paruh waktunya daripada bakatnya sebagai pemain American Football. Begitu juga sindiran pedasnya pada Lyons yang kerap mengalami kesulitan finansial karena kukuh mengejar mimpinya sebagai musisi daripada mencari sesuap nasi lewat pekerjaan kasar. Tentu ini adalah tipikal orangtua yang tidak pernah kita suka, tapi bukankah kita cukup dewasa untuk memahami motif mereka? Selaiknya kita mengingat sisi cerewet orangtua kita sendiri yang dulu gemar kita bantah, namun beroncet-roncet kita makin sadar ada benarnya. Apalagi sejak kita mulai bisa memahami cerita-cerita masa kecil mereka, sama seperti bagaimana kita mengenal apa saja yang sudah dilalui Troy dalam kehidupannya.

Basil Bernstein, dalam pendekatan sosiolinguistiknya menyebut pola interaksi keluarga semacam ini tergolong dalam kategori positional relation. Kuasa, tanggung jawab, dan keleluasaan berkomunikasi dari masing-masing anggota keluarga diberikan berdasarkan posisinya di struktur keluarga. Ini ditekankan dari sebuah dialog di mana Troy mengatakan bahwa adalah semata tanggung jawabnya sebagai ayah yang membuatnya berkomitmen untuk banting tulang menghidupi keluarganya, bukan karena alasan romantisme dan lain sebagainya. Setiap posisi memiliki tanggung jawab dan peran. Sangat kaku, tapi ini lazim terjadi di dekade 50-an. Model hirarkis ini biasanya didasari ketakutan atas ragam interaksi yang tak terkendali jika setiap anggota keluarga memiliki kuasa yang sama. Ini seusai dengan pagar (fences) yang dibuat Troy untuk membatasi pekarangan rumahnya sebagai metafora upaya Troy menjaga pengaruh buruk masuk dan menginterupsi kehidupannya.

Hanya ada tujuh karakter yang ditampilkan secara fisik di film ini dan semuanya memiliki penokohan yang kuat, kendati Denzel Washington dan Viola Davis jelas mendapat kredit tersediri. Denzel tampil trengginas membawakan karakter paling cerewet sekaligus dominan yang pernah saya tahu, baik saat nuansa hati Troy sedang baik atau buruk. Sementara Viola Davis tak ada cela memerankan istri yang sederhana dan berdedikasi dalam pekerjaan domestik, serta mampu menjadi penawar alotnya kelakuan Troy. Keduanya sukses mempertanggung jawabkan peran yang sangat signifikan dalam sebuah film yang mengenyangkan dan bergizi.

Best Lines:

Troy: Like you? I go outta here every morning, I bust my butt ’cause I like you? You’re about the biggest fool I ever saw. A man is supposed to take care of his family. You live in my house, feed your belly with my food, put your behind on my bed because you’re my son. It’s my duty to take care of you, I owe a responsibility to you, I ain’t got to like you! Now, I gave everything I got to give you! I gave you your life! Me and your Mama worked out between us and liking your black ass wasn’t part of the bargain! Now don’t you go through life worrying about whether somebody like you or not! You best be makin’ sure that they’re doin’ right by you! You understand what I’m sayin’?

After Watch, I Listen: Kanye West – Ultralight Beam