Lokananta – Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi & Syaura Qotrunadha

Tags

, , , ,

Buku-Lokananta-600×600

Pic: Warning Magazine

* Tulisan ini dimuat di warningmagz.com

Ada beberapa kiriman surat yang meyakinkan bahwa media yang sedang Anda baca ini tidak kuper-kuper amat. Misalnya, surat teguran dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) pada terbitan edisi cetak keenam WARN!NGyang mengulas perdebatan musik haram di agama islam. Cukup dibalas dengan senyuman, ormas itu pun bubar. Kapok.

Ada juga surat dari Library of Congress, perpustakaan kelas dunia yang hendak mengarsipkan majalah dan buku terbitan WARN!NG. Kali ini WARN!NG membalas dengan senyuman yang tidak ofensif. Kapan lagi ada institusi serius yang berinisiatif mengabadikan kiprah media yang tak pernah bayar pajak? Menunggu perpustakaan nasional atau kementerian yang melakukannya? Keburu imsak.

Kerja pengarsipan adalah pekerjaan rumah negara ini sejak dahulu kala, terutama di wilayah kebudayaan. Itu kenapa kita jadi bangsa yang pelupa. Lupa sejarah, lupa budaya, kadang juga lupa diri. Andai kita punya sistem kearsipan yang baik, mungkin kita tidak perlu mengenal falsafah rakyat “lali rupane eling rasane”. Kita terbiasa cuma doyan mengonsumsi “rasa” sebagai kenikmatan abstrak yang sesaat, lalu mengabaikan “rupa” yang berwujud dan bisa diabadikan. One Night Standminded. Bajingan.

Itulah salah satu alasan buku Lokananta ini penting. Sebuah prakarsa emas dari kolektif bernama Lokananta Project. Pertama, buku ini menjadi contoh upaya pendokumentasian komponen kebudayaan nasional via literatur. Kesadaran bahwa kerja pengarsipan adalah bagian penting dari industri layak mulai ditanamkan. Kedua, Lokananta sebagai objek ulasannya sendiri adalah salah satu pusat penyimpanan karya-karya musik lawas Indonesia. Memang sedikit aneh karena Lokananta sesungguhnya bukan lembaga pengarsipan, melainkan studio rekaman dan pabrik, namun begitulah yang terjadi.

Seperti ditulis di dalam buku Lokananta ini sendiri, satu-satunya rujukan tertulis perihal arsip Lokananta hanyalah disertasi peneliti luar negeri bertajuk Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957 -1985. Maka saya mafhum akan kebutuhan putar otak bagi ketiga penulis: Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi, dan Syaura Qotrunada untuk mencari data. Tapi pada akhirnya mereka berhasil. Tiga bab yang ditulis oleh Fakhri Zakaria memuat komentar orang-orang di belakang Lokananta, baik teknisi maupun petingginya, dikombinasikan dengan pendapat penggiat media massa, musisi, hingga para pejuang arsip di ranah seni musik. Sementara itu Syaura Qotrunada mengulas perkembangan visual kemasan pada rilisan fisik yang terarsip di Lokananta. Lalu Dzulfikri Putra Malawi melengkapi dengan ulasan Gerakan Malang Bernyanyi, lika-liku rekaman Daur Baur oleh Pandai Besi, dan upaya-upaya konkret penggerak Lokananta untuk bertahan hidup ke tahun-tahun mendatang.

Ragam sisi kupasan ini yang membuat isi buku Lokananta tidak hanya mandek pada sejarah atau nostalgia melainkan juga perihal urgensi eksistensi Lokananta hari ini. Saya pikir mengkaji belantika lewat objek spesifik seperti ini lebih apik dan terbukti mendalam dibanding merilis buku-buku sejarah musik Indonesia yang serakah ingin menulis segalanya namun cuma berakhir menjadi kumpulan profil band.

Apalagi menelaah Lokananta pada akhirnya juga bukan sekadar soal industri. Lokananta adalah saksi dinamika belantika yang tidak lepas dari pengaruh sosial politik. Ini termasuk bagaimana Lokananta didirikan oleh Sukarno sebagai salah satu perangkat penyebaran budaya lokal untuk membentengi Bumi Pertiwi dari imperialisme budaya asing di era orde lama. Terpuruknya Lokananta di era 80-an juga bisa menjadi poin kasus dari analisa keputusan politik Indonesia untuk keluar dari Konvensi Berne. Hal-hal ini bisa Anda dapatkan inspirasinya dari buku Lokananta.

Akhirnya saya perlu memberikan batasan sejauh mana kapasitas amatan saya terhadap buku ini. Informasi tentang Lokananta sebelum rilisnya Lokananta memang sangat minim, sehingga saya mengaku tidak cukup punya modal pemahaman untuk memperdebatkan isi buku ini. Saya hanya sanggup urun pendapat tentang pengemasan dan penyuguhan laporan-laporan menarik itu. Alhasil, komplain-komplain saya berikutnya semata berdasar pada modal pengalaman pria dewasa yang suka membaca buku dan kebetulan ganteng.

Saya mulai dengan harapan alur bacaan yang lebih membuat nyaman. Mengintroduksikan insan-insan yang cari makan di balik jatuh bangunnya Lokananta adalah ide yang cemerlang, tapi menurut saya kurang asyik disajikan di bab terdepan setelah Pengantar. Pun banyak informasi berulang di tiap-tiap bab, sehingga naga-naganya bakal terlihat lebih matang jika konsep buku ini mengintegrasikan tiap ulasan babnya menjadi lebih pampat dan terpadu. Bukan tampak seperti artikel-artikel yang terpisah, melainkan utuh sealur dari Pengantar hingga akhir.

Selain itu kerja penyuntingan teks juga tidak memuaskan. Mulai dari perkara pisah sambungnya imbuhan di-, hingga ada yang membingungkan dari visi sang editor (jika punya) dalam memutuskan mana kata yang perlu dimiringkan dan mana yang tidak. Kata baku seperti respons, takhayul, transfer, atau digital pun dihajar miring. Sementara itu tiap kata yang dimaksudkan sebagai kata asing tiba-tiba tegak berdiri dalam bagian kalimat kutipan langsung yang seluruhnya miring. Bukan kesalahan substansial tapi sungguh bukan pemandangan indah.

Bidang layout juga punya level keluhan yang sama. Berikut adalah rincian analisa dari sobat layouter andalan saya: “Penggunaan white space-nya tidak bijak. Font terlalu besar dan jarak antar kata terlampau renggang. Selain itu ditemukan beberapa kali kekeliruan tipografi yang dikenal di jagat layout dengan istilah ‘sungai’ dan ‘widow’”. Entah apa maksud istilah-istilah itu, sobat saya ini memang sok-sokan. Dikibuli pun saya tidak akan mengerti. Tapi saya sepakat bahwa ada yang tidak enak dari tata letak teks buku ini.

Terakhir adalah soal harga. Ada kerisauan terkait kenapa buku Lokananta mesti dirilis dengan model ‘premium’, yakni dibungkus hard cover dan cetakan berwarna dengan bandrol senilai tarif kos sebulan di Jogja? Kenapa tidak dirilis dengan kemasan ekonomis dan harga yang terjangkau untuk musisi kampus yang bandnya masih bisa bubar hanya karena ada satu personel suka menunggak patungan bayar studio latihan?

Jika segmennya memang hanya untuk kolektor atau institusi, tebersit kekhawatiran akan peneguhan eksotisme Lokananta dari reputasinya sebagai studio legendaris dan bersejarah yang membangun citra ‘mahal’. Jika terlalu kuat, label-label itu bisa menjadi bumerang, termasuk menghambat Lokananta bergeliat sebagai unit budaya populer dan terjebak pada kecenderungan budaya tinggi. Mungkin cukup penting untuk membuat Lokananta terlihat lebih populis sehingga band-band muda tak perlu banyak bermimpi untuk bisa rekaman di sana. Jangan sampai Lokananta hanya selalu menjadi objek studi tur sekolah dan mahasiswa-mahasiswa yang tidak bergairah.

Terbitnya buku Lokananta sebenarnya langkah strategis untuk itu. Karena persoalan sebenarnya hanya pada kemasan dan penyajian—jika tidak merepotkan—mungkin rilis ulang bisa dipertimbangkan.

Dan jarang-jarang ‘kan ulasan buku begitu rempong soal harga? Mudah-mudahan ini bukan pandangan egois saya  karena sedang miskin.

Pergulatan Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru – Idha Saraswati dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk studi kasus lima media komunitas buku

Pic: Kombinasi.net

Masih dari kisah kasih media komunitas, buku ini adalah salah satu hasil belanjaan di Combine Research Institution. Tentu juga nangkring di daftar pustaka makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini saya yang mengangkat topik media komunitas. Tapi lebih beruntung dari buku Kolaborasi Untuk Advokasi yang sudah tersia-siakan dari ingatan saya, muatan buku ini masih kecantol di kepala. Iya dong, lha saya banyak main salin-tempel (copas) isinya ke makalah itu. Bodo amat, tidak lebih dari coret-coretan yang terbujur di meja dosen kok, tak akan sampai ke mana-mana. Sebuah hak untuk curang, ketahuan dan dihukum cambuk adalah risiko.

Selangkah lebih maju, buku ini tak lagi sekadar introduksi media komunitas. Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru mengkaji laju kembang media komunitas yang berhadapan dengan perkembangan teknologi media baru. Perihal bagaimana para penggiatnya beradaptasi dengan perkembangan media baru, baik dari proses produksi maupun pengelolaan lembaganya.

Buku ini adalah hasil riset dari Idha Sarasvati, Ferdhi Fachrudin Putra, Mario Antonius Wibowo, dan Ranggabumi Nuswantoro selaku tim peneliti. Metodologi yang dipakai adalah studi kasus terhadap lima media komunitas di Indonesia, yakni Radio Komunitas Best FM, Radio Komunitas Wijaya FM, Radio Komunitas Suandri FM, Radio Komunitas Primadona FM, dan Media Komunitas Speaker Kampung. Yang terakhir ini adalah favorit saya. Bermarkas di sebuah desa di Lombok Timur, mereka sudah punya kanal video di Youtube bernama SpeakerTV. Hipwee saja kalah. Bajinguk.

Teori yang dipakai adalah Teori Difusi Inovasi besutan Everett M. Rogers. Teori ini juga acap disebut sebagai Teori Persebaran Informasi karena memang biasa digunakan untuk menganalisis bagaimana sebuah ide atau teknologi tersebar dalam suatu masyarakat. Jadi Rogers meyakini bahwa ada pola yang bisa diprediksi dari bagaimana sebuah inovasi  terdifusi ke dalam masyarakat. Selain berfungsi untuk analisa pemasaran, teori ini bisa menjelaskan tentang kenapa misalnya sebuah teknologi sudah menjadi tren di sebuah daerah tapi masih asing di daerah lain. Selisih dan gerak persebaran itu bisa ditelaah. Artinya, teori ini seharusnya bisa juga menjawab kenapa ada manusia modern yang masih percaya bisa masuk surga hanya karena ikut menyebarkan pesan berantai di BBM. Mendingan dulu nabi-nabi jualan pulsa daripada ceramah.

Saya cukup familiar dengan teori ini. Sangat berfaedah soalnya. Penerapannya mudah. Tapi bukan untuk keperluan penelitian, melainkan untuk merendahkan teman-teman saya yang berasal dari kampung. Inilah tujuan saya disekolahkan tinggi-tinggi. Menambah perbendaharaan dan kompetensi untuk merisak orang lain.  

Rogers mengidentifikasi lima unsur yang menjelaskan seberapa jauh potensi sebuah inovasi akan diterima oleh masyarakat, yakni:

a) relative advantage: seberapa besar keuntungan yang bisa didapat dari inovasi itu dibanding inovasi terdahulu

b) compatibility: seberapa cocok dan kompatibel inovasi itu dengan calon penggunanya

c) complexity: seberapa mudah inovasi itu diadopsi atau dipelajari

d) triability: seberapa mungkin inovasi itu dicoba atau dites dahulu sebelum benar-benar digunakan secara menyeluruh

e) observability: seberapa jelas kelebihan inovasi ini akan dirasakan atau terlihat

Nah, identifikasi itu kemudian digunakan untuk membaca adopsi media baru dari kelima media komunitas yang menjadi objek studi kasus Mbak Idha dan kawan-kawan. Hasilnya, unsur-unsur itu memang memengaruhi penerimaan masing-masing media. Misalnya, adopsi media baru di Radio Wijaya FM tergolong lancar karena ke lima unsur inovasinya dominan. Berbeda dari penggunaan media baru di Suandri FM yang tak terlalu optimal karena terkendala di unsur complexity-nya. Para pengelolanya merasa media baru masih sulit dijangkau dan warga belum terbiasa. Akhirnya unsur relative advantage pun tercederai karena keuntungan dari perkembangan media baru di sana tidak signifikan dibanding perkembangan sebelumnya.

Karakter unsur relative advantage yang menarik muncul di pengelolaan Primadona FM dan Speaker Kampung. Media baru memberikan keuntungan berupa eskalasi status sosial bagi para penggiatnya. Keuntungan prestise ini membuat orang-orang di balik kedua media komunitas itu menjadi populer dan murah respek dari masyarakatnya. Jago mengoperasikan internet dan gadget di tengah masyarakat gagap teknologi bisa membuat seseorang dielu-elukan. Faktanya ini menjadi faktor penting juga.

Nah, sebenarnya bukan cuma lima unsur di atas saja isi temuan teori Difusi Inovasi ini. Kendati tak digunakan untuk menganalisa media komunitas di buku Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru, ada juga lima kategori pengguna inovasi yang dicetuskan oleh Roger. Yang ini saya salin mentah-mentah dari wikipedia saja ya, lelah sudah kedua tangan ini. Nanti malam mau fingering soalnya.

  1. Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baruHubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
  2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovatorKategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
  3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
  4. Mayoritas akhir: Kelompok zang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
  5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

Kesimpulannya, jika Anda punya kawan yang mengira GoPro itu merek motor matic, sebut saja dia laggard. Sungguh aplikatif sekali teori ini. 

 

Kolaborasi Untuk Advokasi: Pengalaman Media Komunitas Memperjuangkan Hak Warga – Aris Haryanto, dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk buku kolaborasi untuk advokasi

Media komunitas adalah salah satu bahan perbincangan yang paling banyak menarik perhatian saya dalam setidaknya satu semester belakangan. Utamanya sejak ini menjadi pilihan topik saya untuk presentasi dan tugas makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini. Saya kebetulan mendapat jatah tema besar Jurnalisme Warga, dan saya memutuskan mengambil media komunitas sebagai fokus analisisnya.

Saking niatnya berprestasi di kelas biar siapa tahu diizinkan nyokap buat sesekali bersanggama sama pacar di kamar makan, saya sampai bayar SPP dua kali lipat jauh-jauh ke Jalan Parangtritis (10 kilometer untuk orang Jogja itu terkategorikan ‘jauh’, sungguh perlu dipamerkan) ke kantor Combine Resource Institution untuk mewawancarai teman saya yang menjabat sebagai editor suarakomunitas.net, sebuah portal online yang mewadahi tulisan-tulisan dari media komunitas. Selain itu saya juga membeli beberapa buku terbitan LSM yang turut aktif mendorong munculnya media komunitas di berbagai wilayah di Indonesia sejak awal tahun 2000-an itu. Untung buku-bukunya juga murah, termasuk buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Tempat dagang buku mana di zaman sekarang di mana selembar seratus ribu bisa menebus tiga buku baru plus bonus satu buku tipis?

Nah, makalah saya sendiri berangkat dari pertanyaan besar:

Apakah Jurnalisme Warga sanggup memenuhi kebutuhan demokratisasi informasi jika masih terbelenggu oleh kepentingan bisnis media?

Dalam penelitiannya yang bertajuk Memetakan Kebijakan Media di Indonesia (2012), Yanuar Nugroho menyebutkan sebuah benteng terakhir untuk menciptakan demokratisasi ruang publik di Indonesia, yakni media komunitas. Opini Yanuar Nugroho ini sejalan dengan pertanyaan besar ihwal apakah jurnalisme warga akan tetap bisa menjalankan fungsi vitalnya andai beroperasi dalam ruang-ruang bisnis media? Segala rubrik dengan retorika “suara milik warga dan pembaca” itu tetap bersandar pada kontrol pemilik media besar yang tentu punya kuasa untuk menyaring konten yang akan dirilis. Belenggu ini yang sejauh ini belum merambah pada media komunitas.

“Menurut saya, media komunitas mempunyai peran yang sangat penting. Tetapi ini tidak dilihat oleh pengambil keputusan dan bahkan juga tidak dilihat oleh media-media besar. Media besar itu punya kecenderungan untuk merendahkan keberadaan media komunitas. Padahal sebetulnya kalo mau yang genuine, yang genuine itu adalah media komunitas” – Bimo Nugraha mantan komisioner KPI

Seperti dipaparkan oleh Jurgen Habermas, konsep media dalam perjuangan demokratisasi adalah sebagai ruang di mana publik dapat melakukan diskusi hingga pengawasan terhadap pemerintah. Semua diharapkan muncul dalam praktik media komunitas yang memfasilitasi para warga untuk bertemu di ruang publik dan mendiskusikan permasalahan kepentingan bersama tanpa paksaan, kekerasan, dan interupsi kepentingan ekonomi. Media komunitas memberikan ruang bagi peran serta warga dalam pengelolaan informasi. Keterlibatan warga dalam dunia jurnalistik membuktikan adanya hubungan dinamis antara pelaku media dan pembacanya. Selain itu, media komunitas mampu memberikan ruang bagi warga untuk menegakkan hak-hak informasinya, termasuk yang berpihak kepada warga.

Secara umum, media komunitas didefinisikan sebagai media yang menyediakan akses dan partisipasi. Istilah komunitas bisa merujuk pada sekelompok orang yang tinggal dalam suatu teritori, atau bisa juga merujuk pada sekelompok orang yang berkumpul dengan minat dan tujuan yang sama. Media komunitas beroperasi secara nonprofit dan menyediakan ruang yang terbuka bagi para anggota komunitas untuk berpartisipasi. Media komunitas berpotensi mengisi kesenjangan dalam sistem media yang ada saat ini lantaran kerap menyajikan berita atau informasi yang selama ini tidak tersentuh, bahkan tidak terpikirkan oleh media arus utama.

Lalu apa saja tantangan media komunitas?

Banyak. Mulai dari akses internet untuk media komunitas di lokasi-lokasi terpelosok, kekurangan perangkat teknologi, biaya, sampai keterampilan jurnalistik pada pewarta warga yang masih haus pelatihan-pelatihan.

Namun, jika permasalahan teknis praktik kerja dapat diupayakan secara mandiri, maka permasalahan lainnya memang masih sangat bergantung pada peran negara, yakni regulasi. UU ITE misalnya, tidak relevan karena mengandung undang-undang pencemaran nama baik disertai banyak definisi yang samar. Ini memang batu sandungan yang juga dihadapi oleh jurnalis media komersial sekalipun, namun risiko lebih besar berada di depan para jurnalis warga yang memiliki perlindungan yuridis yang lebih minim.

Apalagi kebijakan sertifikasi media telah ditetapkan oleh Dewan Pers di awal tahun 2017. Langkah ini dilakukan guna menertibkan media daring abal-abal yang tidak terdaftar,melanggar kaidah jurnalistik, dan memerangi hoax yang tersebar. Media yang lolos verifikasi akan mendapat logo khusus. Verifikasi itu berwujud barcode yang akan ditempelkan pada media yang terverifikasi dan dapat dipindai dengan telepon pintar yang akan terhubung dengan data Dewan Pers.

Kebijakan sertifikasi Dewan Pers tersebut sejauh ini dianggap ancaman oleh penggiat media komunitas . Kebijakan ini bisa menjadi langkah legitimasi bagi media-media arus utama yang lebih mudah mendapat sertifikasi kendati sebenarnya sama-sama berpeluang melakukan pelanggaran jurnalistik. Sementara itu media komunitas kemungkinan akan terkendala untuk memenuhi syarat sertifikasi tersebut. Salah satu syarat yang ditetapkan Dewan Pers misalnya adalah perusahaan pers harus memiliki modal dasar sekurang-kurangnya sebesar 50 juta rupiah atau ditentukan oleh Peraturan Dewan Pers. Syarat lain, perusahaan pers wajib memberi upah kepada wartawan dan karyawannya sekurang-kurangnya sesuai dengan upah minimum provinsi minimal 13 kali setahun. Jika merujuk pada syarat-syarat penertiban media dari Dewan Pers, sebagian besar media komunitas tidak akan mampu memenuhinya, khususnya terkait syarat berbadan hukum, modal, dan kemampuan menggaji wartawan. Media komunitas tidak menjalankan kegiatannya dengan logika industri sehingga pemahaman bahwa media yang benar adalah media yang mampu menggaji karyawannya dan harus berbentuk badan hukum tidak mungkin diterapkan oleh media komunitas. Jika wartawan dibayar, statusnya akan tertukar dengan jurnalis profesional. Standar verifikasi media yang bekerja untuk perusahaan dan komunitas seharusnya disesuaikan. Perlu juga adanya pembahasan antara asosiasi media komunitas Dewan Pers untuk mengakui keberadaan pemain-pemain di luar media arus utama.

Oke, saya malah membahas isi makalah saya. Lha jujur saja saya lupa isi buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Pokoknya tiba-tiba saja ada di daftar pustaka makalah tadi. Berarti kemungkinan besar itu buku bagus, soalnya saya orangnya pemilih.

Sekian~

Budaya Populer Sebagai Komunikasi – Idi Subandi Ibrahim

Tags

, , , , , , ,

Image result for budaya popule rkomunikasi buku

Isi buku ini lebih berakar pada ranah keilmuan kajian budaya (cultural studies), bukan ilmu komunikasi, walau kemudian jelas keduanya bagaikan saya dan rukun islam: tak terpisahkan. Tentu saja takdir budaya populer memang senantiasa bergantung pada aktivitas media dan penyebaran informasi. Produk budaya apapun mustahil menjadi populer jika tak dikomunikasikan. Terkait batasan pemaknaan budaya populer yang selalu bernegosiasi antara otoritas khalayak dan produsen, Idy sepertinya mengambil posisi yang lebih pesimis. Artinya, budaya populer di matanya cenderung adalah konstruksi atau kesengajaan dari pihak industri, terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang menurutnya belum kritis dan masih merem media. Sudut pandang ini cukup terbaca dari orientasi pemikiran tiap bab di buku ini.

Saya gagal menyelesaikan buku ini. Selain gaya layout terbitan Jalasutra yang sepertinya butuh diruwat, penyajian isi di dalamnya terasa kurang apik. Idy Sundari memang lincah memasukan kutipan-kutipan teorikus kajian budaya yang berkompeten dibalut dengan opini-opininya sendiri, tapi sayangnya itu tidak dijahit menjadi narasi yang rapi terorganisir. Hampir selalu terlalu banyak gagasan dalam satu bab hingga kerja intelektualitas kita harus berkelok-kelok mengikutinya. Misal singgung-singgungan pornografi mendadak bertemu topik migrasi simbolik yang menyeret contoh masalah tren seleb pakai jilbab di saat lebaran tiba. Bukannya tidak nyambung, tapi kurang santai perpindahan ulasannya. Entah Idy ini kebanyakan ilmu atau apa. Ramainya buah pikir yang tidak dikemas baik akhirnya malah berujung pada konklusi-konklusi kritis yang umum dan tidak lagi baru. Misalnya perihal bias pemberitaan gender dari editorial media massa, musik subkultur sebagai resistensi musik indutri arus utama, tirani kebudayaan oleh TV, bahaya konsumerisme, komodifikasi agama, hingga konstruksi standar kecantikan di televisi yang bahkan sudah dihafalkan luar kepala oleh seantero penggemar Seringai.

Agaknya buku ini cocok untuk mengoleksi detail-detail pemahaman isu-isu terkait yang didukung contoh-contoh empiris, termasuk kasus-kasus di Indonesia. Namun, Budaya Populer Sebagai Komunikasi tidak memperkenalkan gagasan besar yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Jangan sampai buku ini justru menyiratkan kemandekan laju keilmuan kajian budaya. Kasihan, sarjananya sudah terlanjur banyak.

Pias – Aris Setyawan

Tags

, , , , , ,

Hasil gambar untuk pias aris setyawan

Pic: Bukuakik 

Rasa-rasanya kok ingin mengundang rombongan ibu-ibu majelis taklim ke rumah untuk menggelar pengajian dan bersama-sama menugasi mereka mendoakan buku ini. Terbitan kedua Warning Books ini punya masalah besar dengan peruntungannya. Ketiban sial. Benar-benar ketiban. Saking keras jatuhnya, sampai sering ada suaranya, “Jancuk! Kok iso ngene to?” Begitu.

Lantaran penerbitnya sudah seperti keluarga sendiri, saya jelas mengikuti kiprah buku ini. Cukup kaget tatkala menemui beberapa resensi serius terhadap Pias cukup sadis dalam melempar kritikan:

“Kalau boleh jujur, esai-esai Aris justru lebih banyak kelirunya daripada benarnya” – Erie Setyawan (Ruang)

“Buku ini lebih mirip curhat seorang mahasiswa dalam melihat situasi zaman, terutama dalam konteks seni (musik) dan kebudayaan di negeri ini. Beberapa pandangan di dalamnya masih perlu dikaji ulang” – Aris Setiawan (Kedaulatan Rakyat)

Kesimpulan paling ilmiah: Aris Setyawan kurang shalat.

Kesimpulan paling rasional: Ada konspirasi antara Erie Setyawan dan Aris Setiawan untuk menjatuhkan nama Aris Setyawan. Selain punya nama yang cuma selisih satu-dua abjad, ketiganya pun sama-sama berkutat di bidang etnomusikolog. Ini menjadi motif sangat kuat bagi mereka untuk bersaing dan saling menjatuhkan. Begitu.

Kritik dalam karya memang biasa dan bahkan diperlukan, tapi dampak terhadap sepak terjang atau penjualan pastinya tidak bisa diabaikan. Celakanya, bahkan buku ini sudah apes sejak dalam dirinya sendiri. Kata Pengantar dari Erie Setyawan (Iya, beliau lagi. Namanya juga persaingan) dan Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca) di dalamnya tak kalah tebal hati dalam mengkritisi. Dibunuh dari dalam, bahkan sebelum halaman satu.

Cholil mengeluhkan pemetaan tema dalam artikel-artikel Aris yang menurutnya seharusnya bisa dipadatkan menjadi satu-dua topik yang sama agar pembahasan lebih bisa mendalam. Sebenarnya saya agak bingung dengan saran Cholil karena Pias pada dasarnya memang kumpulan tulisan yang tidak tematik. Selain itu sang vokalis  sesungguhnya juga luput tatkala memilih istilah “dualitas” dalam komentarnya untuk merujuk pada kecenderungan Aris dalam melihat segala sesuatunya dengan dikotomi hitam dan putih. Yang benar adalah “dualisme” jika maksudnya memang ingin bicara ihwal dua hal yang bertentangan.

….begitu hebatnya (atau konyolnya?) saya malah mengkritisi Kata Pengantar.

Di sisi lain, Erie Setyawan dalam Kata Pengantar desertir itu juga sampai hati menulis bahwa Pias akan bisa menemui kegagalan karena menggunakan logika yang tak tersusun untuk membaca persoalan atau “melalaikan fakta empiris etnografis”. Ia mengaku belum bisa menemukan benang merah penghubung pengalaman empirisnya dengan peristiwa yang disampaikan dalam Pias.

Tentu saja saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memahami isi kritik-kritik mereka jika wilayah perdebatannya sudah pada tataran ilmu etnomusikologi. Awam dari etnomusikologi membuat saya sejujur-jujurnya tidak engah dengan hal-hal yang diperkelirukan oleh Erie Setiawan dan Aris Setiawan (jangan tertukar, fokus please ah!). Sebelumnya saya biasanya ya cuma manggut-manggut membaca tulisan Aris. Halah, apalagi kamu yang literasi wacana seni musiknya sebatas situs kord gitar. 

Sesama doyan menulis artikel tentang musik, Aris Setyawan akrab dengan kacamata kajian budaya dan etnomusikologi, sementara saya sekadar menulis musik dengan pendekatan gaib jurnalisme hiburan yang lebih pop. Maka setidaknya beberapa gagasan menarik pada Pias, seperti isi artikel “Makna Musik Mana yang Kita Bela” tetap terdengar baru untuk saya. Ia menulis tentang masa di mana penikmat musik sering menilai konser musik berdasarkan seberapa mirip performa panggungnya dengan hasil rekaman materi rilisannya. Ini menarik karena bagi saya justru yang lebih sejati adalah musik live. Rekaman seharusnya justru semata upaya imitasi dari konser live

Sambatan saya tentang buku ini kemudian memang lebih pada konsep penyajiannya. Kumpulan tulisan ini tidak punya benang merah sama sekali selain bahwasanya ini tulisan Aris dan garis besar topiknya adalah seni dan budaya. Yup, seni dan budaya!!! Sungguh tidak membantu.

Maka 38 artikel di dalamnya seakan berhamburan begitu saja tanpa kategorisasi lebih jauh. Urutannya pun justru terbalik, yakni dari artikel paling terkini dirilis menuju artikel paling lawas dirilis. Padahal jika iktikadnya ingin menjelaskan proses kembang intelektualitas Aris, sebaiknya disusun sebaliknya.

Selain itu, saya juga mengambil hikmah bahwa terlalu berisiko untuk menerbitkan kumpulan tulisan jika Anda tidak lebih terkenal daripada Felix Siauw. Buku semacam Pias ini seharusnya memang menjual sosok penulisnya. Tentu sulit bagi Aris yang belum pernah kedapatan masuk berita Line TODAY. Apalagi kover buku dengan ilustrasi memesona ini hanya menampilkan tulisan “PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya”. Hampir tidak ada alasan orang tertarik membelinya kecuali sudah kenal lebih dulu dengan Aris (yang sialnya juga, nama beliau ini kok ya sungguh pasaran). 

Itulah kenapa saya cuma selalu senyum basa-basi saja ketika beberapa orang meminta saya menerbitkan kumpulan tulisan. Pertama, saya belum punya fans clubKedua, teman saya lebih banyak yang penjual buku daripada pembaca buku. 

Pada dasarnya saya juga mulai merindukan buku-buku yang konsepnya bukan kumpulan tulisan. Bukan hal buruk, tapi saya lebih menyukai buku yang memang isinya tumpah ruah gagasan yang fokus terhadap objek spesifik secara utuh dan terpadu. Karena kedalaman yang berasal dari ruang kuantitas kata tak terbatas dari format buku inilah sebenarnya faktor utama yang membedakannya dengan artikel-artikel daring.

Sebagai rekan penulis satu penerbit, selamat Aris, saya tetap sering pakai Pias untuk bahan tugas kuliah. Untung dosen saya bukan etnomusikolog dan namanya tidak menyerempet aris atau setyawan.

Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer – Dominic Strinati

Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk buku budaya populer

 

Buku ini saya baca utuh hanya demi menyiapkan diri untuk melakoni presentasi mata kuliah Kajian Budaya Media di kampus. Mata kuliah yang diampu oleh yang terhormat Mas Budi Irawanto ini adalah favorit, kendati bikin puyeng sekelas. Bukan rahasia jika keilmuan Kajian Budaya (Culture Studies) lebih muskil dari semesta ilmu sosial lainnya. Sejauh-jauhnya dari eksak, saingan beratnya filsafat. Mempelajari Kajian Budaya seperti menyimak orang bertengkar. Si ilmuwan A bilang A, dibantah si B, disangkal si C, dibalas lagi oleh si D, ditikung si E, ditusuk dari belakang sama si F, dan seterusnya sampai kiamat kubra. Tidak ada yang dianggap sebagai kebenaran bersama. Jangan berharap Kajian Budaya memberikanmu kepastian.

Lebih-lebih, begitu sudah mulai mantap dengan salah satu perspektif, eh akhirnya bingung juga mau diterapkan untuk apa. Jangan-jangan fungsi teori-teorinya memang hanya untuk jadi modal para ilmuwan itu berantem tadi. Visi-misi pengabdian keilmuan mereka cuma satu: tidak kalah debat.

Dan ilmu yang di luar sana biasa dipelajari di satu jurusan tersendiri ini kemudian harus saya pahami hanya dalam satu mata kuliah: 14 kali pertemuan… dan saya bolos setengahnya.

Saya pun kebagian jatah presentasi topik “Politik Budaya Popular: Antara Populisme dan Resistensi” yang kebetulan memang relevan dengan isi bukunya Dominic Strinati ini. Di bawah ini saya cuma merangkum isi presentasi saya kemarin. Lanturan panjang lebar yang semata untuk menjawab pertanyaan sederhana: apa itu budaya populer? (kalau memang nggak ingin tahu, mending enyah saja dari sini. Panjang soalnya)

Jadi begini….

Budaya populer awalnya hanya diidentifikasikan menjadi dua pengertian, yakni jenis karya inferior atau karya yang sengaja dibuat untuk disukai orang. Sementara dalam versi definisi yang lebih mutakhir, budaya populer dimaknai sebagai kebudayaan yang dibuat oleh orang-orang untuk kepentingan mereka sendiri. Namun, di antara dua rentang pemikiran itu terdapat banyak pergelutan mahzab yang satu sama lain bisa kita pinjam untuk menganalisa entitas-entitas dalam wilayah budaya populer.

Kesadaran akan budaya sebagai sebuah produk dirumuskan pada awalnya di era pasca-revolusi industri lewat Teori Budaya Massa yang merupakan konsekuensi dari urbanisasi dan industrialisasi. Lewat konsep ‘diatomisasi’, sebuah masyarakat massa dilihat sebagai orang-orang yang kurang punya hubungan satu sama lain yang bermakna dan koheren secara moral. Hubungan-hubungan mereka bersifat kontrak, berjarak, sporadis, dan tidak komunal. Inti proses atomisasi adalah runtuhnya organisasi-organisasi sosial perantara. Teori masyarakat massa menunjukan potensi terbuka bagi adanya propaganda massa, atau bagaimana peluang kaum elit memanfaatkan media massa untuk membujuk, mengeksploitasi atau memanipulasi masyarakat secara sistematis. Ini adalah konsekuensi dari masyarakat yang mengalami diatomisasi sehinga terbuka dalam menerima kekuatan persuasi atau manipulatif.

Budaya massa berasal dari atas ke bawah, khalayaknya adalah para konsumen pasif yang perannya hanya membeli atau tidak membeli.  Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan dari khalayak konsumen. Budaya massa diproduksi untuk pasar massal. Pertumbuhan budaya ini memperkecil ruang bagi budaya yang tidak menghasilkan uang dan diproduksi secara massal, misalnya kesenian tinggi atau budaya rakyat. Karena penentu budaya massa adalah keuntungan, budaya massa tidak akan diproduksi jika tidak menguntungkan. Lantas, teknik produksi massal dan keharusan mencari keuntungan komersial dipandang memiliki pengaruh yang merusak dan menurunkan martabat budaya.  Budaya massa adalah budaya standar, formulaik, berulang, dan bersifat permukaan. Budaya massa tidak memiliki tantangan dan rangsangan intelektual.

Para pemikir dari Mahzab Frankfurt lantas mengembangkan logika arus vertikal dari budaya massa menjadi teori yang lebih jauh menguliti kuasa kaum elit dalam otoritas kebudayaan. Beberapa perbedaannya dengan Teori Budaya Massa misalnya bahwa kebutuhan-kebutuhan sejati tidak dapat direalisasikan di dalam kapitalisme modern karena adanya kebutuhan-kebutuhan palsu yang harus dilahirkan oleh sistem ini untuk tetap bisa bertahan. Kebutuhan palsu menindas kebutuhan sejati sebagai pengorbanan untuk memenuhi konsumerisme. Hal ini terjadi karena orang tidak menyadari bahwa kebutuhan sejati mereka belum terpenuhi. Mahzab Frankfurt memandang industri budaya menjamin penciptaan dan pemenuhan kebutuhan palsu. Menurut Mahzab Frankfurt, industri budaya mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi asas pertukaran, dan meningkatnya kapitalisme monopoli negara.

Menolak tendensi melihat konsumen sebagai pihak pasif dalam pertarungan budaya seperti yang dianut dalam dua teori sebelumnya, John Fiske dengan sederhana memberikan definisi tentang populer sebagai sesuatu yang diproduksi ’demi rakyat kebanyakan’. Artinya sebuah produk atau karya apapun yang diciptakan untuk kalangan kebanyakan akan sangat tergantung sepenuhnya kepada pemaknaan yang diberikan oleh mereka sehingga tidak semua produk masif industri bisa menjadi bagian dari budaya populer. Lebih lanjut Fiske menjelaskan:

“Budaya populer secara tipikal terikat pada produk dan teknologi budaya massa, tetapi kreativitasnya berada dalam cara-cara menggunakan produk dan teknologi tersebut, bukan dalam proses produksinya. .Budaya massa industrial bukanlah budaya populer meskipun ia menyediakan sumber kultural bagi lahirnya budaya populer. Budaya populer secara khusus melibatkan seni membuat dari apa yang tersedia”.

Sejumlah teori awal kerap memandang khalayak sebagai korban penipuan pasif tanpa berpikir, terbuka bagi manipulasi pengendalian ideologis oleh media massa. Sementara itu populisme memandang khalayak sebagai orang yang sadar dan aktif mengonsumsi media demi kepentingan mereka serta menginterpretasikan kembali pesan-pesan yang disebarluaskan oleh para produser budaya. Jika elitisme telah menganggap khalayak begitu pasif dan rentan, maka populisme memposisikan khalayak sebagai pihak aktif yang memiliki kepekaan subversif.

Graham Murdoch dan Peter Golding pada gilirannya mengemukakan perspektif ekonomi politik dalam analisis media massa dan budaya populer. Ini berangkat dari anggapan bahwa sosiologi kelas gagal dalam usahanya mengatasi peranan media massa. Meski mereka sadar dalam ketidaksadaran kelas, tapi tidak menyadari seberapa penting media massa dalam melegitimasi ketidaksadaran kemakmuran, kekuatan, dan hak istimewa. Media membuat ketidaksetaraan menjadi tampak alami dan tak terelakan. Murdoch dan Golding menganggap Mahzab Frankfurt melebih-lebihkan sifat otonom bentuk-bentuk budaya. Sikap itu dianggap mengabaikan pengaruh mendasar dari produksi material budaya populer, maupun relasi ekonomi di dalamnya. Misalnya Adorno pernah mengatakan bahwa industri musik pop di Amerika hanya diteliti hasil-hasilnya, tanpa memerhatikan bagaimana sebenarnya industri kapitalis memproduksi musik.

Kritik yang diberikan oleh kelompok politik ekonomi telah menimbulkan krisis paradigma yang berasal dari ‘pertentangan-pertentangan’ sehingga sempat menimbulkan kekhawatiran arah pemikiran dalam Kajian Budaya. Angela McRobbie menyebut peristiwa tersebut sebagai ‘krisis paradigma’ yang terjadi pada dekade 90-an. Untuk menengahinya, McRobbie mengusulkan agar para pengkaji budaya populer dalam perspektif Kajian Budaya kembali menilik pemikiran Antonio Gramsci perihal hegemoni sebagaimana yang pernah dipopulerkan oleh Stuart Hall.

Pemikiran neo-Gramscian ini lalu juga berupaya menengahi perdebatan antara perspektif yang melihat audiens sebagai pihak yang aktif atau pasif dalam kerja budaya populer. Titik tekan dari perspektif neo-Gramscian adalah bahwa ada dialektika antara proses produksi yang bisa jadi dipengaruhi kekuatan modal, ideologi dan politik tertentu dengan proses konsumsi. Di satu sisi ada kepentingan-kepentingan tertentu yang akan disampaikan produsen lewat produk budaya yang diharapkan menjadi budaya populer. Di sisi lain, konsumen juga melakukan proses pemaknaan terhadap apa-apa yang ada dalam produk budaya tersebut. Dalam perspektif hegemoni neo-Gramscian, budaya populer merupakan sebuah medan pertarungan dan negosiasi berbagai kepentingan, baik kepentingan kelompok dominan, subordinat ataupun oposisi. Kelompok pemerintah, misalnya, tentu ingin tetap mempertahankan kuasa dan kepentingan hegemoniknya sehingga mereka terlibat kontestasi dalam budaya populer.

Balik ke pertanyaan awal: apa itu budaya populer? Pada akhirnya kita memang tidak dapat menimbang budaya populer lewat alur historis sederhana. Dalam pandangan yang beraneka ragam, salah satu cara terbaik adalah menggambarkan berbagai macam aspek dari pendekatan yang berbeda-beda untuk menghasilkan suatu perspektif yang lebih memadai tentang budaya populer.

Nah, setelah mengikuti anggar mulut dari masing-masing perspektif di atas, saya mengambil posisi untuk meyakini bahwa budaya populer melibatkan dua unsur, yakni produksi dan praktik. Jadi budaya populer adalah produk budaya yang direspons balik oleh khalayak. Sesuatu yang diproduksi massal kalau hanya dikonsumsi secara pasif atau malah diabaikan begitu saja berarti tidak termasuk dalam budaya populer.

Tapi itu menurut saya lho—yang cuma tujuh kali ikut mata kuliah ini, dan setengahnya datang telat.

Karena sekali lagi, jangan berharap Kajian Budaya memberimu kepastian.

Dodolit Dodolit Dodolibret – Cerpen Pilihan Kompas 2010

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk dodolit dodolit dodolibret

Mahbub Djunaedi, mantan ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sempat mengatakan bahwa jurnalistik memerlukan sastra sebagai penunjang. Ia menemukan keleluasaan kerja kreatif penulisan sastra untuk mewadahi ekspresi jurnalistik.

Saya setuju. Saya tak pernah bermimpi barang semalam pun untuk jadi sastrawan. Namun, tetap saja membaca buku sastra adalah kebutuhan menjaga kualitas penulisan, meski yang saya tulis misalnya cuma artikel berita pendek Chelsea Islan diduga jadian dengan acar pempek.

Dan lagi-lagi libur membaca karya sastra dalam waktu setahun lebih membuat tulisan saya menjadi kaku—kayak bapaknya doi. Apalagi waktu selang itu dihabiskan dengan membaca buku-buku kuliah dan jurnal yang jelas memakai ragam bahasa ilmiah dan diksi preskiptif ala strukturasi, komodifikasi, pluralisasi, teorisasi, barmetunjerokoktelatsesasi dan -asi -asi yang lain. Ini makin terasa ketika kemarin menggarap proyek puisi bersama kawan-kawan seniman yang akan dibukukan nantinya. Jangankan sastrawi. Niat menulis kalimat sajak, keluarnya kalimat syahadat.

Syahdan, akhirnya saya mencoba memulihkan sisi humanis tulisan saya dengan membaca Cerpen Pilihan Kompas. Pada seri tahun 2010 ini, redaksi mengembalikan otoritas kurasi ke tangan para editor dan redaksi Kompas sendiri. Selama lima tahun sebelumnya, mereka memang mencoba mendelegasikan kurasi pada para pakar sastra luar sehingga mengubah judul Cerpen Pilihan Kompas menjadi Cerpen Kompas Pilihan. Sekembalinya format lama ini lalu membuat Kompas lebih bebas mengusung prinsip non-fanatik terhadap satu kecenderungan tulisan, sehingga 18 cerpen yang termaktub dalam antologi ini bernar-benar menjadi beragam warnanya.

Lagi-lagi Seno Gumira Ajidarma. Setelah “Mayat Yang Mengambang Di Danau” pada Cerpen Pilihan Kompas di tahun 2012 dan “Aku Pembunuh Munir” di setahun berikutnya menjadi cerpen yang meninggalkan kesan lebih bagi saya, kali ini cerpen bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” memenangkan selera saya dan Kompas sekaligus. Bukan cuma ketenaran, tapi mungkin pendekatan realisme sosialnya memang pas di hati. Nama Seno Gumira Ajidarma selalu jadi unggulan di antara barisan nama lain pengisi cerpen Kompas.

Karya Seno bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” ini adalah cerpen dengan kekayaan interpretasi paling berlapis yang pernah saya baca. Isinya berkisah tentang seorang bijak spiritual bernama Kiplik yang menyambangi satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan tata cara doa yang benar pada manusia. Baginya, seseorang memang harus membaca doa dengan benar:”Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?,” ujarnya.

Pada pertengahan narasi, Kiplik sampai pada sebuah kaum terpencil yang melakukan praktik doa jauh dari kebenaran versinya. Ia merasa ini adalah akibat dari keterkucilan geografis atau ketertinggalan budaya dari kaum tersebut. Kiplik pun resah, merasa kasihan, sampai akhirnya ia justru menemukan kenyataan yang mengejutkan.

Mudah untuk kita bisa menebak ke mana arah konflik cerpen ini bisa disinggungkan dengan isu sosial di kehidupan nyata, yakni soal pluralisme agama. Cara pandang paling ekstremnya adalah tesis sekular bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Namun, bisa juga kita membacanya mirip dengan artikel “Warisan” milik Afi yang belakangan kontroversial, yakni kebutuhan toleransi dalam menyikapi argumen kebenaran dari tiap kepercayaan.  Penggunaan kata “benar” yang  diulang berkali-kali di cerpen ini menunjukan penegasan sifat dogmatis dalam masing-masing agama. “Dodolit Dodolit Dodolibret” sangat menggelitik dan relevan untuk hari ini, di mana militansi masyarakat terhadap agama masing-masing mulai mempersulit titik temu kebenaran religi yang universal.

Kadang kita juga gemar menginterpretasikan mitos atau dongeng sebagai perlambang sesuatu yang sebenarnya logis. Misalnya kisah Malin Kundang sebagai pengingat bakti kepada seorang ibu atau kisah-kisah dramatis rasul sebegai penyedia nilai moral bagi para umat. Di awal pergulatan pemikirannya, Kiplik juga beranggapan hal yang sama, sampai akhirnya ia menjadi saksi langsung kebenaran konkret dari mitos-mitos yang didengarnya.

Akhirnya cerpen ini juga merupakan sindiran bagi saya yang menunjukan penolakan terhadap hal-hal gaib. Ya mau bagaimana lagi, bukannya sombong, tapi yang begituan memang omong kosong kok. Semua.. kecuali  paranormal Ulfa yang sampai saat ini masih berusaha membuat Jupe hidup lagi. Ya ampun, kalau ia berhasil ‘kan kita bisa sekalian minta menghidupkan Sukarno, Munir, Gus Dur, Kasino, atau saksi-saksi korban 1965.

Selain “Dodolit Dodolit Dodolibret” yang memang jelas bagus secara konsensus, puisi pilihan saya lainnya adalah “Sirajatunda” garapan Nukila Amal. Sesuai tajuknya, cerpen ini mengambil tokoh utama seorang penulis yang gemar menunda-nunda aktivitas, salah satunya ketika hendak menulis. Dan ia selalu menyalahkan faktor-faktor di luar dirinya sendiri, mulai dari istrinya, nyamuk, jus nanas di kulkas, notifikasi email, dan sebagainya: “Kupikir semua mereka lahir ke dunia untuk bersekongkol memberantas karya artistik manusia”.

“Sirajatunda” menampilkan premis yang sederhana namun sangat bertalian dengan kehidupan kita. Jangankan gangguan dari pihak luar. Semisal saya sengaja menyewa penjara agar khusyuk menulis saja belum tentu aman dari tertunda-tunda kalau masih ada jaringan internet tersambung. Saya pun menduga Nukila Amal mendapatkan ide cerpen ini usai kelimpungan dengan godaan berselancar di Google, cek status gebetan di Facebook, atau mengunduh unggahan terbaru di Krucil.net. Tak apa, saya sangat paham betul.

Buktinya, tulisan ini juga baru saja kelar. Padahal tidak ada isinya. 

 

1. La La Land

Tags

, , , , , , ,

Image result for la la land poster

Damien Chazelle

Musikal, Drama

Berkat kekuatan buah bibir dan resensi media massa yang mendegam-degam, La La Land menjadi film pertama yang sanggup membuat saya deg-degan sebelum menonton. Ekspektasi meluap-luap, bagaimana kalau ternyata film ini jelek? Bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa sebahagia orang lain ketika menonton film ini? Dengan harapan yang sudah setinggi tarif pajak STNK dan BPKB hari ini, saya tidak siap dikecewakan.

Keluar dari bioskop, saya merasa benar-benar “keluar dari bioskop”. Saya tidak ingat kapan pertama kali saya menonton langsung layar lebar, tapi baru kali ini saya merasakan pengalaman menonton sinema yang sebegitu otentik meski tanpa popcorn dan ciuman—bibir sibuk menggerutu karena ada orang brengsek di sebelah saya yang dengan bawelnya sok ikut melafalkan dialog La La Land yang sudah dihafalnya. Rasanya semua unsur visual di film ini berasas kesadaran dinikmati orang yang bayar tiket. Meski koreografi, humor, bahkan iringan musiknya bagi saya masih jauh dari Singin In the Rain, namun segala atraksi pengambilan gambar di dalam La La Land mengagungkan lagi film sebagai sinonim dari ‘gambar hidup’. Sebagai sesuatu yang ditonton, film ini juara. Sebagai sebuah karya artistik, film ini adiluhung. Saya tidak dikecewakan di pengalaman pertama.

Lalu di pengalaman kedua menontonnya kembali, dan kali ini di layar sempit sehingga indra penglihatan tidak terlalu dimanjakan, sial, saya juga tidak dikecewakan. Ternyata film ini juga punya naskah yang bagus.

Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) bertemu di momen yang tidak berpihak pada asmara yang bermasa depan, yakni di kala keduanya masih dalam tahap memperjuangkan cita-cita masing-masing. Satu sama lain harus berbagi hasrat dengan pihak ketiga, yaitu mimpi. Yang satu dengan seni musik, yang satu lagi dengan seni peran. Yang satu berkonflik dengan idealisme, yang satu lagi masih sibuk mengejar capaian karir. Mulanya keduanya saling mendukung satu sama lain, di mana ambisi itu justru menyatukan mereka. Namun, perlahan ambisi itu justru putar balik membuat mereka bergerak ke kutub berbeda. Ikatan hubungan menjelma kebutuhan-kebutuhan kompromi yang memborgol, termasuk perkara waktu, jarak, prioritas, ego, dan proyeksi-proyeksi realistis. Seni memang perlu banyak mengorbankan sesuatu, atau justru “segalanya”—jika menurut Bastian. Alhasil, Sebastian dan Mia dipisahkan oleh apa yang mempertemukan mereka: mimpi.

Dalam kasus La La Land, cita dan cinta bukan satu paket yang bisa dimiliki oleh dua sejoli. Rumusnya jelas, seseorang harus mengalah. Ini tidak bisa digeneralisir, tapi jelas terjadi di banyak orang. Ihwal ending yang menawan itu, apakah keduanya kecewa dengan pilihan akhir masing-masing? Yang pasti ini relevan dengan tesis saya dan kawan-kawan sedari dulu bahwa salah satu trik paling curang tapi umum dilakukan jika Anda ingin lebih sukses sebagai seniman adalah menikah dengan non-seniman yang kaya raya.

Related image

Tak diragukan juga jika duet akting Gosling dan Stone amat memesona, sampai saya sempat lupa jikalau keduanya memang aktor dan aktris, bukan pianis jazz dan bakal aktris. Dan lagi-lagi Gosling, memandanginya diam selama tiga detik saja sudah pasti membuat saya terpingkal, apalagi setiap adegan ekspresi melempar senyum kecut sambil mengangkat sebelah alisnya. Karakter musisi yang sibuk bernegosiasi dengan idealismenya demi mencari sesuap nasi yang ia perankan begitu menarik hati. Simak mimik berserahnya dalam kejemuan memainkan tut-tut yang tidak eksploratif, baik saat di kafe maupun kala memainkan “Take On Me” dan “ I Ran” di bandnya, sungguh lebih jenaka dibanding raut wajah kerumunan korban salah penyebutan pemenang kategori Best Picture di panggung Oscar. Ini juga menjelaskan bahwa para musisi arus utama yang memainkan musik bermutu rendah di luar sana itu belum tentu punya masalah dengan selera. Mereka sebenarnya bisa membedakan antara produk yang layak dikonsumsi dan ‘sampah’, namun apa daya adanya alasan urgensi ekonomi hingga demi mencari pengakuan keluarga atau mertua.

Dan tuduhan white saviour pada film ini juga masih perlu dipertimbangkan lagi, karena Sebastian tidak terlalu digambarkan heroik terkait upaya mengamankan musik jazz. John Legend sebagai pemeran Keith mengatakan,”Saya tidak berpikir bahwa Sebastian terlihat sebagai ‘the savior people’ seperti yang dikatakan. Ia adalah karakter yang sedikit gelap dan keras kepala, namun ia juga pria yang menyenangkan. Sebagian dari kisah ini adalah kisah cinta, dan alasan kenapa ia menjadi begitu keras kepala mungkin ia dapatkan dari perjalanannya jatuh cinta.” Memang justru sisi lugu dan kekanak-kanakan Sebastian dan Mia ini yang membuat kisah La La Land amat manis. Oh, saya justru salah satu yang curiga jika kemenangan Moonlight di Best Picture adalah tendensi sebenarnya, sebuah upaya penyelamatan wajah Oscar yang coreng moreng di hadapan khalayak kulit hitam? Apakah insiden Faye Dunway- Warren Beatty itu juga berdasar narasi perebutan trofi Oscar dari kulit putih? Kurang drama apalagi hidup kalian?

Lagipula apa benar jazz perlu diselamatkan segera? Ia justru sedang meruah-ruah di jalur sinema beberapa tahun terakhir. Selain Whiplash yang marak dua tahun sebelumnya, saya juga belum lama menonton beberapa film yang mengangkat kisah legenda jazz seperti Miles Davis (Miles Ahead) dan Chet Baker (Born To Be Blue). Siapa tahu masa depan musik jazz memang berada di rengkuhan layar lebar?

Keith: “How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future”.

Jazz mungkin memang sedang sekarat, tapi saya percaya tidak akan mati. Dalam perspektif postmodernisme, tren budaya akan selalu berputar. Produk seni terus didaur ulang sembari menanti momentumnya. Dan di antara sirkulasi itu, sesekali muncul karya anyar yang menciptakan kekaguman sentimental dan mengingatkan pada karakter yang dianggap otentik. Misalnya, munculnya album Is This It dari The Strokes yang menghidupkan musik garage rock 70-an di dekade 2000-an.

Riff simpel + sound kasar + lirik metropolitan + jaket kulit + kacamata hitam : ROCK & ROLL

Contoh lain lagi?

La La Land

Aktris dan musisi yang saling jatuh cinta + jazz + dansa di antara bintang-bintang + mimpi Hollywood + ekspresi Ryan Gosling: SINEMA

Best Lines :

Sebastian: Alright, I remember you. And I’ll admit I was a little curt that night.

Mia: “Curt?”

Sebastian: Okay, I was an asshole. I can admit that. But requesting “I Ran” from a serious musician, it’s just, it’s too far.

 

After Watch, I Listen: Norah Jones – Tragedy

2. Arrival

Tags

, , , , ,

Image result for arrival poster

Denis Villeneuve

Sains Fiksi

Arrival mungkin adalah film dengan naskah paling dahsyat sekaligus paling realis yang pernah melibatkan kemunculan fisik sosok alien di dalamnya. Saya sampai mengalami post-effect (ini istilah saya sendiri, tak perlu dicari di Google), di mana saya menyadari betapa bagusnya film ini baru setelah hari berganti. Bahkan, saya masih memikirkan isi film ini berhari-hari setelahnya. Dimensi substansinya berlapis-lapis. Ada banyak sekali yang bisa ditulis dan diperbincangkan, dan akhirnya saya sempat memuntahkan sebagian di sebuah artikel Hipwee. Sebagian lainnya biarkan tetap di kepala karena tidak ada kesenggangan waktu yang mengizinkan saya untuk memproduksi tulisan baru. Maaf yang pertama karena akhirnya hanya tulisan saya di Hipwee yang dipublikasikan lagi di sini, dan maaf kedua karena gaya bahasa di dalamnya kemayu. Tukang galon saja bisa jadi banci kalau malam, masa saya tidak boleh menulis ala blogger inspirasi kecantikan untuk cari makan. Silahkan disimak, tautan aslinya ada di sini.

Judulnya: 6 Alasan Kenapa Tak Cuma Anak Sains dan Bahasa, Tapi Anak Komunikasi Juga Wajib Nonton ‘Arrival’


Bukannya Arrival adalah film sains-fiksi? Bahkan, menurut desas-desus, ini adalah film tentang alien? Tepat! Tapi jika kamu mengira film ini berisi adu tembak antara pria-wanita berbaju astronot, pesawat jet mondar-mandir, atau pria bertopeng dengan pedang bersinar ala tongkat parkir, maka hati-hati tertukar dengan Star Wars. Disutradarai oleh Denis Villeneuve, Arrival berhasil mencuri perhatian dengan pendekatan film alien yang menutup absennya adegan-adegan laga dengan kompleksitas drama.

Bicara film sebagai medium informasi dan representasi realitas, film ini tidak cuma cocok untuk kamu yang berkutat di jurusan astronomi, fisika, atau teknik bercinta mesin. Mahasiswa linguistik, komunikasi, atau siapapun yang berminat di bidang sosial dan bahasa juga harusnya bergairah menonton Arrival karena terdapat banyak rujukan penting untuk keilmuan mereka. Nah, tapi lewat artikel ini, Hipwee bakal mengajak ngobrol anak komunikasi dulu. Siapa tahu bisa jadi contoh kasus untuk tugas atau skripsimu yang nggak kelar-kelar itu.

1. Habis nonton film ini, anak komunikasi bisa bilang “Kalau kelak kita diserang alien, kalian semua bakal minta tolong ke siapa? Anak komunikasi!”

Jikalau kamu ingin tahu sekelumit Arrival itu bercerita tentang apa, begini sinopsisnya:

Ada 12 kapal alien datang ke bumi. Anehnya, mereka nggak berbuat apa-apa. Cuma diam aja kayak supir ojek online yang lagi mangkal. Tapi ‘kan rasanya nggak mungkin kalau mereka ke bumi cuma buat nongkrong? Mereka pasti punya maksud. Jadi kita harus bertanya “mau apa lo?” ke mereka. Masalahnya, jangankan bahasa anak gaul Jakarta, mereka juga nggak paham bahasa universal umat manusia . Kita juga nggak paham dengan bahasa mereka. Nah, jadi film ini sesungguhnya cuma tentang upaya manusia untuk bisa ngobrol asyik dengan mereka.

Alhasil, kita bisa bilang kalau film ini punya konflik yang muncul gara-gara masalah komunikasi, dan kemudian diselesaikan juga dengan solusi komunikasi. Menurut karakter utama film ini yang bernama Prof Louise Banks (Amy Adams), “Bahasa adalah senjata pertama yang dikeluarkan saat terjadi konflik.” Memang sih yang maju menghadapi alien-alien itu kemudian adalah pakar bahasa jebolan pendidikan linguistik atau bahasa. Namun, ilmuwan komunikasi jelas tetap ambil peran penting dalam mengambil kebijakan serta menghadapi fenomena semacam ini.

Jadi jika kamu adalah (1) anak komunikasi, (2) tidak punya rencana hidup ke depan yang jelas (3) dan berakhir punya cita-cita mulia mengusir alien dari muka bumi secara halus, maka selamat! Kamu tidak salah jurusan

2. Ada banyak teori komunikasi yang bisa kita pelajari untuk mengkaji film ini. Misalnya, pernah mendengar teori Pengurangan Ketidakpastian?

Adalah Charles Berger yang menyatakan bahwa manusia senantiasa menghindari ketidakpastian. Kita selalu ingin mendapat kepastian tentang orang lain. Pasalnya, ketika berkomunikasi, kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada informasi yang kita miliki tentang orang tersebut. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan cemas. Tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi akan menciptakan jarak, tapi ketidakpastian yang dikurangi cenderung membuat kita nyaman dengan orang lain. Inilah penjelasan logis kenapa kamu suka banget kepo orang lain. Bukan kelainan kok.

Makanya, teori ini penting dalam melihat bagaimana seseorang menjalin hubungan dengan orang asing. Karena tidak kenal dan sulit berkomunikasi, kaum manusia dalam film Arrival digambarkan diliputi kekhawatiran atas kedatangan alien tersebut. Akhirnya, mereka menggunakan apa yang disebut “strategi interaktif” untuk mengurangi ketidakpastian itu dengan mengirim penerjemah agar bisa mendapatkan informasi tentang para alien. Strategi interaktif mencakup interogasi dan pengungkapan diri. Itulah kenapa dalam menginterogasi para alien, Prof Banks juga harus memperkenalkan dirinya. Kita mengenalkan diri kita agar lawan bicara juga makin mudah untuk memperkenalkan dirinya.

3. Ada juga teori komunikasi bernama Linguistik Determinan. Kamu bisa baca teorinya biar terbantu memahami apa hubungannya waktu dan bahasa yang jadi salah satu unsur cerita penting di film ini

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mengutarakan buah pikirnya bahwasanya bahasa sebuah budaya menentukan perilaku dan kebiasaan berpikir orang-orang dalam budaya tersebut. Cara kita memandang dunia dibentuk oleh susunan tata bahasa yang kita pakai. Misalnya, secara umum manusia mempelajari bahasa dan memandang waktu sebagai sesuatu yang linear atau berjalan maju. Bagaimana kita selalu menulis kalimat dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri menunjukan itu.

Ini berbeda dengan bahasa atau aksara para alien yang berbentuk melingkar. Tulisan mereka berbentuk simbol dengan makna yang lebih luas per-simbolnya. Konsep ini juga selaras dengan cara pandang alien itu terhadap waktu. Bagi mereka, waktu tidak linear melainkan berputar. Tidak ada awal tidak ada akhir. Berkat itulah alien bisa menguasai waktu. Mereka bisa mengatur waktu untuk maju atau mundur. Nah, supaya bisa memahami pola pikir dan menguasai waktu juga, manusia pun kemudian harus menguasai bahasa mereka dulu.

4. Adegan-adegan Prof Banks mengajarkan bahasa manusia ke para alien juga sangat menarik untuk diobrolkan bareng teman-teman sekelas

Apakah mungkin memahami bahasa dari komunikan yang tidak kita ketahui sebelumnya memiliki konsep-konsep kehidupan yang sama? Teori Pengartian Semantik dari Charles Osgood menyebutkan bahwa penafsiran adalah cara untuk memahami pengalaman kita. Teori ini berhubungan dengan cara-cara mempelajari makna dan bagaimana makna tersebut berhubungan dengan pemikiran dan perilaku. Makna memang tidak harus dipelajari dari pengalaman langsung, tetapi rasanya harus dipelajari dengan asosiasi antara satu tanda dengan tanda lain. Misalnya, sebelum Louise bisa memahami simbolisasi “makan” dalam bahasa alien, bagaimana cara ia bisa tahu bahwa alien juga menganut konsep “makan” yang sama dengan manusia? Atau bahkan, apakah alien itu sendiri juga melakukan aktivitas makan?

5. Dasar peradaban itu bahasa atau sains? Jangan-jangan justru komunikasi?

Sempat terdapat adegan di mana Prof Banks sedikit adu mulut dengan seorang ilmuwan fisika bernama Ian Donnelly. Prof Banks mengatakan bahwa dasar peradaban manusia adalah bahasa. Di sisi lain, Donnelly membantahnya dengan menyebut sains merupakan dasar peradaban manusia sebenarnya. Mana yang menurutmu benar?

Mungkin kita bisa bilang dasar peradaban manusia memang bahasa, atau lebih spesifik lagi ialah aksara. Peradaban pertama yang kita kenal (mesopotomia) pun konon sama dengan aksara pertama yang kita temukan. Kita bisa kenal kehidupan beribu-ribu tahun lalu karena ada susunan aksara yang membentuk pesan-pesan yang ditinggalkan mereka. Namun, bagaimana ketika kita kini masuk ke era komunikasi visual? Kita mengabadikan pesan tidak lagi di prasasti atau buku, melainkan lewat foto, video, dan lain-lain. Apalagi jika suatu waktu nanti kemajuan teknologi (atau kedatangan alien) membuat kita memiliki kemampuan menerka masa depan, dengan kata lain membaurkan batasan waktu dan ruang? Semua jadi bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan-jangan benar juga tuh kalau dasar peradaban itu adalah sains. Tapi kalau mau lebih spesifik lagi, sains yang dimaksud itu mungkin sebatas teknologi komunikasi saja. Tapi…. tapi… tapi.. puyeng ‘kan?

6. Bukan cuma komunikasi dengan alien, Arrival juga menghadirkan konflik komunikasi antar negara

Nah, yang ini lebih menyinggung komunikasi politik dan wilayah studi Hubungan Internasional nih. Arrival menghadirkan juga permasalahan politik luar negeri. Pasalnya, 12 kapal alien itu dikisahkan turun tersebar di negara-negara berbeda. Problem menyeruak lantaran tiap negara punya kebijakan berbeda untuk merespons kedatangan alien itu. Pertanyaan buat kamu, kira-kira seperti apa bentuk komunikasi terbaik untuk mengatasi permasalahan itu jika peristiwa ini benar-benar terjadi?

Ada hal lain yang menarik terkait kebijakan politik luar negeri. Film ini menunjukan seakan Amerika Serikat adalah negara paling bijak dan humanis dalam menghadapi permasalahan, sementara negara lain seperti Cina digambarkan temperamen, haus peperangan, dan penuh tipu muslihat. Sebenarnya pencitraan semacam ini sudah sering dilakukan Amerika Serikat lewat film-film Hollywood. Tapi kali ini lebih bikin gregetan, soalnya kalau mengingat reputasi dan watak presiden mereka yang baru, bukan tidak mungkin Amerika bakal langsung kirim nuklir sembarangan tanpa banyak pertimbangan jika mereka benar-benar kedatangan alien. Sesama manusia aja diserang, apalah arti alien.


https://i0.wp.com/image-serve.hipwee.com/wp-content/uploads/2017/01/hipwee-arrival-movie-4-e1471529984165-750x394.png

Sekian artikel Hipwee tersebut. Nah, ada hal menarik terkait poin ketiga di sana. Saya memasukan teori Linguistik Determinan hanya karena analisis kecil-kecilan yang berbasis perbendaharaan teori ilmu komunikasi yang tentu masih terbatas. Sebulan setelah menulisnya, saya mendapat tugas presentasi di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dengan salah satu materinya adalah…..  teori Linguistik Determinan! Ups, ini kebetulan pertama.

Usai kemudian iseng berselancar di Google untuk mempelajari materi presentasi itu, saya menemukan sebuah artikel wawancara dengan seorang pakar linguistik mengenai film Arrival. Dijabarkanlah bahwa sebagian besar kisah Arrival ternyata memang benar-benar mengadaptasi….. teori Linguistik Determinan! Waw, mendadak saya merasa sudah pantas dipanggil tentara Amerika Serikat untuk kopi darat bersama alien.

Best Lines: 

“Language is the foundation of civilization. It is the glue that holds a people together. It is the first weapon drawn in a conflict.”

After Watch, I Listen: Radiohead – Daydreaming

3. Zootopia

Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk zootopia poster

Animasi, Komedi

Byron Howard & Rich Moore

Di tahun 2016, kita juga punya Finding Dory, Moana, dan Kubo and The Two Strings untuk mengajak keponakan berusia “bimbingan orangtua” ke bioskop. Namun, Zootopia adalah satu-satunya yang bahkan bisa membuat pemuda atau paruh baya sibuk memperbincangkannya lagi seperti kumpulan anak SD yang baru saja menonton satu episode Kamen Rider. Sangat bernas.

Padahal, di kala film animasi terkini harus berkompetisi bersenjatakan pengembangan teknologi visual, adaptasi kisah dongeng klasik, atau tema besar yang sangat unik, Zootopia menawarkan sesuatu yang standar dan tertangkap dari posternya yang tidak menarik sama sekali: fabel. Bandingkan dengan begitu inovatifnya Inside Out mengambil personifikasi atas kategorisasi emosi manusia misalnya, pilihan antropomorfisme (memasukan karakteristik manusia ke benda non manusia) dari Zootopia adalah objek hewan yang digiring untuk menggambarkan kehidupan urban manusia. Sungguh tampak usang dari luar kalau saja tidak didukung deretan trailer kreatifnya.

Namun, jangan tanyakan eksekusinya. Sebagaimana namanya, Zootopia yang hampir pasti gandengan kata zoo dan utopia adalah sebuah kota di mana relasi primitif mangsa memangsa antara kaum mamalia dan predator telah punah karena masyarakatnya digambarkan sudah modern dan berpikiran maju. Seluruh hewan hidup harmonis, namun ternyata hanya di permukaan sosial. Kendati bebas dari konflik fisik, masih ada ketimpangan secara struktural. Perbedaan tiap spesies masih meninggalkan stereotip yang berdasarkan pola standarnya berakhir menuju segregasi rasial dan marginalisasi peran serta akses sosial. Slogan “In Zootopia, anyone can be anything” adalah mitos. Tidak ada yang bisa memerdekakan identitas sosial masing-masing spesies. Babi adalah lemah, harimau pasti galak, dan serigala selalu berbulu domba. Film ini memulainya dengan bagaimana Judy Hoops, seekor kelinci ambisius, harus berjibaku menghadapi tindak diskriminasi dalam profesinya di institusi kepolisian dibanding rekan-rekannya seperti banteng, badak, harimau, gajah, yang notabene merupakan spesies yang dipandang lebih unggul dalam hirarki yang laten…. dan sampai di sini, saya bingung sedang menulis sinopsis film animasi atau membuat ikhtisar teori strukturasi Anthony Giddens….

Hasil gambar untuk zootopia

Sama seperti Animal Farm dari George Orwell, Zootopia menggunakan fabel untuk membongkar kebobrokan sosial. Zootopia berhasil memaksimalkan elemen-elemen eksklusif yang hanya dimiliki film animasi untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi, relasi kuasa kaum mayoritas, dan konflik struktur sosial. Bobot narasi ini menyatukan urgensinya terhadap segala usia. Menjahit pesan moral tentang “apa yang salah dan harusnya dilakukan” kepada penonton kanak-kanak sekaligus menunjukan realitas tentang “apa yang kenyataannya sudah terjadi” kepada khalayak dewasa.

Apa yang dialami oleh para predator di bagian konflik film ini melukiskan apa yang terjadi pada misalnya, para kaum Tionghoa atau keluarga partisan PKI di Indonesia. Stereotip dan stigmatisasi adalah peluru pertama untuk menciptakan hegemoni yang melumpuhkan posisi mereka di struktur sosial. Namun, mungkin yang paling dekat dengan situasi hari ini adalah apa yang dialami oleh orang Timur, khususnya warga Papua yang tengah merantau di Jawa. Watak mereka yang keras dikembangkan sedemikian rupa dari mulut ke mulut dan kanal ke kanal untuk membentuk prasangka subjektif bahwa mereka adalah barbarian, senggol bacok, karakter GTA (Grand Theft Auto) hingga penyakit masyarakat. Salah satu tujuannya adalah melunturkan simpati masyarakat pada warga Papua, sehingga ada keraguan dalam menyikapi perjuangan hak asasi manusia dan perebutan kembali hak kekayaan sumber daya alam di Freeport. Korban terdekat, kakak sepupu saya pernah berkata, ”Kayaknya memang sulit juga buat TNI untuk tidak melakukan kekerasan pada orang Papua di sana (Freeport), mereka memang ngawur orangnya”, seakan sumber masalah adalah sifat dasar etnisnya. Ya iyalah, kalau rumahmu dirampok, orang Jawa yang katanya alon-alon kelakon juga bisa menjelma jadi ora wedi getih, tak gajul tugel ndasmu! Ini faktor eksternal, Bung, eh Mas.

Selain narasinya, elemen paling menawan dari Zootopia adalah semesta yang dibangun di dalamnya. Representasi brilian dari problematika kehidupan urban. Bayangkan ada gajah menjual es krim tidak sesuai dengan standar kebersihan makanan, musang yang membuka lapak CD bajakan, dan cheetah yang hobi narsis di ponsel karena bekerja di departemen kepolisian yang menjemukan (ingat dengan ulah Briptu Norman?). Adegan Sloth yang pecah itu juga rasanya menggambarkan lambatnya kerja birokrasi.

Zootopia adalah bentuk karya realisme sosial dalam animasi. Takjub mengetahui bahwasanya justru adalah film animasi yang paling membantu kita memahami realitas di dunia ini, tapi sekejap saya teringat bahwa kelakuan kita akhir-akhir ini memang lebih mirip hewan daripada manusia.

 

Best Lines:

Mr Big : I trusted you Nicky. I welcomed you into my home.we broke beard together. Gram-mama made you cannoli.  And how did you repay my generiosity? With a rug made from the butt of the skunk. A skunk-butt rug. You disrespect me. You disrespect my gram-mama who i buried in that skunk Butt rug.

 

After Watch, I Listen: Animal Collective – FloriDada