7. The Gold Rush

Tags

, , , , , ,

Charlie Chaplin

1925

Comedy

“Gold! Gold! In the Klondike!”

Pada tahun 1867, Rusia menjual Alaska pada Amerika Serikat senilai 7,2 juta dolar AS. Benar, saya sedang bicara tentang sebuah jual beli daratan seluas 1,7 kilometer persegi, atau dua setengah kali Pulau Kalimantan. Sebelum kita bertanya-tanya apakah ada sistem garansi untuk pembelian semacam ini, fakta menariknya adalah bahwa Amerika Serikat mendapatkan untung seratus kali lipat dibandingkan harga pembeliannya hanya dalam waktu 50 tahun sejak kepemilikan wilayah itu. Menang banyak, cuy!

Tatkala para pejabat Rusia dan Amerika Serikat tengah saling tawar menawar harga, opini masyarakat dari kedua negara itu malah menentang proses jual-beli ini. “Bagaimana kami menyerahkan tanah yang dikembangkan dengan penuh pengorbanan tenaga dan waktu, tanah yang dilewati oleh telegram dan banyak ditemukan tambang emas?” tulis koran-koran Rusia. Sementara itu, pers Amerika Serikat banyak menganggap ini sebagai pembelian bodoh, “Untuk apa ‘peti es’ dan 50 ribu orang Eskimo liar yang minum lemak ikan sebagai sarapan itu bagi Amerika?”. Meski banyak warga Amerika Serikat yang mempertanyakan faedah Alaska pada waktu itu, perlahan tanah raksasa itu menunjukkan kekayaannya. Pada akhir abad ke-19, munculah peristiwa yang disebut “Demam Emas Klondike” atau kadang-kadang disebut “Demam Emas Yukon” dan “Demam Emas Alaska”, yakni ramainya orang berdatangan karena tahu prospek emas di sepanjang sungai Klondike, dekat Dawson City, Yukon atau perbatasan Alaska-Kanada.

Saya kenal nama Klondike sejak kecil, karena kerap disebut di cerita-cerita komik Gober Bebek. Dikisahkan bahwa awal kekayaan Paman Gober adalah saat ia berpetualang mencari emas di Klondike, dan menemukan sebongkah emas sebesar telur angsa. Faktanya, memang banyak “Paman Gober” – “Paman Gober” di dunia nyata lahir dari Klondike.

Mulanya, emas ditemukan para penambang-penambang lokal Klindike pada 1896. Namun karena lokasinya yang terpencil dan keadaan cuaca yang ganas, kabar ini baru sampai ke dunia luar setahun kemudian. Ketika berita itu menyebar sampai Seattle dan San Fransisco, ratusan ribu orang datang untuk berlomba-lomba mencari emas. Warga Amerika Serikat saat itu memang sedang dilanda depresi ekonomi besar-besaran. Sehingga lumrah bagi mereka mempertaruhkan nasib mencari peruntungan dari emas. Saking niat dan pedenya, para pencari emas ini bahkan menjual tanah pertanian, usaha atau toko mereka, dan mangkat menumpang kapal ke utara.

Perjalanan para pengadu untung ini pun jauh lebih penuh aral melintang daripada antri job fair karena harus melalui medan pegunungan dan sungai-sungai beku serta badai salju yang datang secara rutin. Rutenya sangat panjang. Pemerintah Kanada jadi ikut repot dan sampai menyediakan persediaan makanan dalam jumlah besar untuk menghindari kelaparan massal. Rata-rata butuh waktu setahun bagi para pencari emas untuk mencapai ladang Klondike, sebagian bahkan tidak pernah sampai. Dari seratus ribu orang yang mencoba mencapai Klondike, hanya 40 persen yang sampai pada tahun pertama. Sebagian menyerah karena kesulitan yang mereka alami, sedangkan sebagian lagi tidak beruntung dan tewas di tengah perjalanan.

Mereka yang sampai di Klondike pun masih harus menghadapi fakta bahwa emas tidak semudah itu diperoleh atau diekstrak. Sebagian sukses dan menjadi OKB (Orang Kaya Baru), namun sebagian lainnya cuma luntang-luntung dalam keputusasaan. Pada pertengahan 1898, tinggal tersisa 18 ribu orang di Kota Dawson, basis para pencari emas, dan hanya sepertiganya yang masih melakukan penggalian. Sebulan kemudian banyak pencari emas telah meninggalkan Klondike, sebagian besar karena sudah kehabisan uang untuk terus mencari. Salah satu tantangan lain adalah sikap kompetitif dari para penambang dan adanya permafrost, tanah yang berada di titik beku pada suhu 0° C. Sejumlah penambang yang merasa gagal malah akhirnya memilih menjual tanah-tanah yang bisa jadi cuma mereka klaim seenaknya di sana, lalu membiarkan penambang lain mengerjakannya. Sebuah gajak “kapitalisme tidak mau rugi”.

Dari 30-40 ribu orang yang berhasil mencapai Klondike, diperkirakan hanya ada 4 ribu orang yang berhasil menemukan emas di sana. Peristiwa ini meninggalkan jejak sejarah di kota-kota sepanjang Sungai Klondike yang berkembang pesat selama demam emas ini terjadi. Di Yukon, bahkan warganya merayakan hari libur bernama Discovery Day. Citra Alaska pun berubah dari wilayah luas yang membosankan menjadi tanah harta karun pengubah nasib banyak orang.

Perburuan emas Klondike sudah menjadi lekat, bahkan termitoskan dalam kultur Amerika Utara, masuk dalam sajak, karya fotografi, dan berbagai produk budaya populer lainnya. Salah satu karya tersohornya adalah foto-foto dari Eric Hegg. Foto paling ikoniknya diambil di Chikoot Pass saat para penambang melakukan pendakian tangga es dengan berbondong-bondong memanjang ke atas.

Foto ini yang menginspirasi Charlie Chaplin membuat The Gold Rush.

Apa yang dilakukan Chaplin sebenarnya bisa dibilang sesederhana memasukan tokoh The Tramp dalam peristiwa Demam Emas Klondike. Bukankah memang sangat mungkin seorang pengangguran menggelandang seperti dia menyeruak di antara puluhan ribu orang yang memburu rejeki nomplok di sana? Perjuangan mencari kemakmuran dan jerih payah mengubah penghidupan adalah menu andalan di film-film Chaplin, dan The Gold Rush memberinya ruang eksplorasi dalam tingkat paling eksesifnya.

Terjebak di tengah badai salju merupakan salah satu fakta perjuangan yang ditampilkan. Kelaparan yang mendera, ditambah kompetisi nyawa dengan penambang lain. Uniknya, Chaplin menggunakan sentuhan teror—selain komedi tentunya–untuk menyetir adegan-adegan ini menjauh dari zona-zona melankolia dan sembiluan.

Awalnya, saya kira plot The Gold Rush yang berulang kali mampir ke adegan-adegan pesta dansa itu janggal sekali. Tapi ternyata bar memang menjadi fenomena jamak di perburuan emas Klondike. Bar menjadi tempat tujuan para penambang yang kaya raya, menghabiskan waktunya untuk minum-minum, dan berjudi. Bahkan prostitusi merebak dan menjadi perhatian hukum kala itu. Kegilaan pesta-pesta di sana masih menjadi mitos sampai sekarang. Keputusan menjadikan pesta dansa sebagai konteks bertemunya tokoh Tramp dengan gebetannya (Georgia Hale) adalah hasil rajutan yang masuk di nalar.

Lalu ada adegan “roll’s dance” yang akan selalu diingat itu. Kemampuan menciptakan adegan-adegan mahsyur seperti ini yang tidak tertandingi oleh Harold Lloyd atau Buster Keaton—termasuk adegan ekstrem tertimpa rumah roboh di Steamboat Bill Jr (1928).

Kelemahan The Gold Rush mungkin adalah sisi emosinya yang kurang tergali dibanding film-filmnya yang lain, bahkan dibanding The Circus (1928). Namun, ini adalah film pertamanya yang sangat cakap mengolaborasikan lebih jauh konteks sosial yang ada. Bahkan bukan cuma satu. Tak cuma Demam Emas Klondike yang diadaptasinya ke dalam The Gold Rush, melainkan juga kisah nyata Donner Party.

Donner Party adalah nama sekelompok orang di abad 19 yang melakukan perjalanan ke California dengan kereta kuda pada 1846. Rombongan ini dipimpin oleh Jacob dan George Donner, serta seorang imigran asal Irlandia bernama James Reed. Perjalanan mereka ke California yang dijanjikan sebagai “tanah susu dan madu” mendapatkan banyak tantangan, termasuk kecelakaan dan terpaan musim dingin 1846-47 yang datang lebih cepat dari perkiraan di Sierra Nevada. Tak bisa pergi karena salju tebal berkedalaman 20 sampai 25 kaki, beberapa orang terpaksa mengambil jalan menjadi kanibal untuk bisa bertahan hidup. Kisah ini merupakan tragedi yang spektakuler bagi para sejarahwan.

Beberapa orang yang akhirnya selamat menyangkal adanya kanibalisme. Sementara sejumlah koresponden percaya itu benar-benar terjadi. Diakui bahwa ada keluarga dalam rombongan itu yang menyiapkan daging manusia khusus untuk anaknya, lalu ada juga yang memasak tangan rekan timnya sendiri demi menghidupi keluarganya. Sebuah keluarga bahkan mulai memakan anggota keluarga lainnya. Ini menciptakan wacana dilema moralisme baru yang luar biasa. Seluruh anggota dipaksa mengambil pilihan sulit. Terlalu sulit untuk menilai segala yang terjadi dalam situasi itu sebagai keputusan keji atau penyimpangan psikologi.

Michael Wallis, jurnalis dan penulis The Best Land Under Heaven: The Donner Party in the Age of Manifest Destiny pada 2017 kemarin menulis bahwa kisah Donner Party sudah terlalu diolah secara sensasional oleh media massa. Fokusnya terlalu lengket pada unsur kengerian kanibalisme itu sendiri.

Terdapat tiga jenis kanibalisme: ritualistik, sacrificial, dan survival cannibalism. Yang terakhir ini, “memakan daging manusia demi bertahan hidup dalam situasi tertentu” selalu ada sampai sekarang, dan bisa dilakukan oleh siapapun. Salah satu ciri survival cannibalism—yang juga ada di kisah Donner Party—adalah mereka memakan apapun sebelum akhirnya memakan daging manusia. Mereka memakan kuda, lembu, bahkan semua tikus yang ditemukan di tenda dan kabin. Mereka juga sampai di titik frustasi ketika membunuh semua anjing-anjing kesayangannya. Memamah apapun yang bisa mereka temukan.

Di perhentian terakhir, mereka akhirnya mulai memakan daging mayat teman, dan rekan yang sudah mati duluan karena kelaparan dan hipotermia. Itu pun masih banyak pertimbangan dan batasan, misalnya mereka mencoba untuk tidak memakan daging keluarga sendiri. Kadang bukan ronta perut sendiri yang memaksa, namun justru rengekan anak-anak mereka yang menciptakan keberanian melakukan hal itu.

Dibanding mitos yang terukir oleh kabar angin yang tidak jelas, The Gold Rush justru memberikan pemahaman konteks. Adegan memakan sepatu atau bagaimana karakter Big Jim (Mack Swain) saking laparnya berilusi melihat Tramp berubah menjadi seekor ayam semok harusnya bisa menjelaskan situasi-situasi seperti apa yang memantik tindakan survival cannibalism. Tidak semua kanibal itu karena doyan. Tidak semua kanibal itu Sumanto.

Dan jika ada yang sangat patut disalahkan, para cendekiawan memilih menyalahkan pemerintah kala itu. Amerika Serikat memang di rentang waktu sedang membangga-banggakan apa yang disebut sebagai Manifest Destiny. Ini merupakan sebuah kepercayaan dalam sejarah sistem politik Amerika, bahwa negara mereka telah ditakdirkan oleh tuhan sebagai negara adidaya dan pemimpin dunia. Manifest Destiny lalu diaplikasikan sebagai landasan tindakan masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sombong sih boleh saja. Menjadi bencana ketika konsep Manifest Destiny membuat Amerika Serikat merasa dirinya benar untuk melakukan ekspansi, khususnya di daerah Amerika Utara yang bertujuan untuk mengembangkan kebebasan dan pemerintahan federasi. Manifest Destiny menjadi rasionalisasi bagi masyarakat Amerika Serikat untuk melakukan perluasan wilayah. Penaklukan wilayah dianggap sebagai suatu misi suci meski melibatkan cara-cara represif atau penjajahan.

Manifest Destiny juga tak lepas dari dukungan dua partai besar Amerika, yakni Partai Republik dan Partai Demokrat, dengan mengatasnamakan kemiskinan rakyat untuk mendapatkan legitimasi atas pencaplokan wilayah lain. Selain ekspansi teritotial, ideologi, dan politik, Manifest Destiny juga menjadi alat justifikasi penindasan rasial. Atas nama Manifest Destiny inilah bentuk imperialisme Amerika terhadap liyan dianggap “legal”. Penaklukan Amerika Latin dan Indian oleh kekuasaan The North Amerika Republic yang didominasi ras Anglo-Saxon merupakan salah satu implikasi dari Manifest Destiny.

Lantaran terlalu memaksakan kepentingannya atas nama Manifest Destiny, seiring waktu banyak rakyat Amerika yang menentang konsep ini, memandangnya sebatas saluran ambisi dan agresifitas Amerika. Tindakan ekspansionisme ini juga telah memakan banyak korban jiwa. Pada pemerintahan Presiden Roosevelt di abad ke-20, Manifest Destiny dihapus dan tidak digunakan lagi untuk dasar kebijakan ekspansi. Yah, walau pada kenyataannya, hingga hari ini Amerika masih melakukan intervensi terhadap bangsa lain demi mempertahankan gelarnya sebagai negara adikuasa, seperti Irak, Afganistan, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Watak memang sulit diubah.

Apa hubungannya dengan Donner Party? Michael Wallis percaya bahwa peristiwa nahas sekaligus kontroversial itu adalah buntut dari takaburnya Manifest Destiny. Perjalanan ke California untuk mencari tanah-tanah penghidupan baru adalah bagian dari kultur yang dibangun oleh pemerintah Amerika Serikat. Dalam kasus Donner Party, keangkuhan itu dihantam buyarkan oleh alam lewat terjangan badai salju. Besar kemungkinan banyak ekspedisi-ekspedisi lain dari orang Amerika yang “karam” karena tidak bisa beradaptasi dengan kondisi wilayah yang tidak mereka kenal sebelumnya.  Bahkan kanibalisme ini bisa jadi metafora bagi laku kekuasaan yang rakus doyan memakan daerah-daerah lain, sebagaimana Manifest Destiny itu sendiri.

Adalah ironi mengerikan bahwa harapan akan kemakmuran dan kehidupan baru yang lebih baik justru harus berjudi terlalu jauh, terkadang melalui penderitaan, kelaparan dan kematian. The Gold Rush mampu menerjemahkan ironi tersebut. Karya pertama Chaplin yang sukses meneguhkan personanya sebagai sineas yang jeli dan berdedikasi dalam membawakan satire sosial yang atraktif. Sesuatu yang membuat ia lebih berwarna dan bernilai, baik secara karya maupun persona dibanding jutaan pelaku film lainnya.

Dan saya tutup dengan trivia-nya yang paling populer: Chaplin ingin kita mengingatnya dengan film ini. Praktis, mengingatnya dengan ironi tersebut.

Best Lines:

Big Jim Mc Kay: “I’ve found it! I’ve found it! A Mountain of Gold.”

After Watch, I Listen:

Bob Dylan – Mr Tambourine Man

Advertisements

8. The Circus

Tags

, , ,

Charlie Chaplin

1928

Comedy

Celana baggy, mantel sempit, topi bowler kecil, mengenakan sepatu kebesaran dan menggeggam tongkat. Posturnya pendek, pakaiannya membuat bentuknya terlihat membesar di bagian bawah, dan berjalan agak mengangkang seperti orang habis sunat. Inilah ikon terbesar dunia perfilman. Tramp, nama tokoh yang diperankan Charlie Chaplin, memang mirip seperti badut, lalu bagaimana jika ia benar-benar bermain di sirkus? Mungkin itu yang ada di pikiran orang-orang kala itu yang kemudian direspons oleh Chaplin menjadi ide The Circus.

Memang bukan salah satu karya yang dianggap maha dari Chaplin. Mungkin karena substansi sosial politiknya tidak seekspresif yang lain, serta praktik slapstick yang sangat banyak. Chaplin sendiri seperti berat hati membicarakan film ini lagi. Saya bahkan jarang sekali menemukan nama film ini tertulis di buku My Autobiography dari Chaplin. Ia memilih melangkahi film ini, dari era kekaryaan Gold Rush (1925) langsung skip ke City Light (1931).

Jika The Kid (1921) lahir ketika Chaplin mulai mengenal baik ranah berkaryanya yang baru, Gold Rush tercipta saat ia sedang dalam masa puncak kreativitas, sementara Modern Times (1936) digarap dalam fasenya menemukan kegelisahan sosial politik yang kemudian meledak di Great Dictator (1940), maka The Circus dikerjakan di saat semuanya tidak kondusif: ibunya meninggal, studionya terbakar, dan ia bercerai dengan istri keduanya. Bayangkan, masih hebat ia mampu menyelesaikannya.

Bahkan, menurut saya The Circus justru adalah salah satu karya paling representatif untuk mengidentifikasi karakter kekaryaan Chaplin. Yang paling sederhana, kemahirannya melakukan aksi pantonim paling ditempa di film ini.

Dibanding The Kid dan Gold Rush, plotnya juga paling rapi dan mudah diikuti alurnya. Dari Tramp yang datang ke sirkus, jatuh cinta, dan melakukan pengorbanan. Semua berlangsung padu dengan komedinya yang diberikan banyak porsi. Dan The Circus adalah salah satu filmnya yang paling lucu, meski harus diakui bahwa adegan “gladi resik” Chaplin dengan dua badut lain di sirkus itu garingnya mengalahkan kulit ayam KFC.

Gaya komedi Chaplin terkategorisasi di wilayah slapstick, sesuatu yang kini diasosiasikan sebagai elemen komedi murahan. Dalam My Autobiography, dijelaskan bahwa Chaplin mempelajari bentuk komedi ini di bawah asuhan Fred Karno, komedian Inggris yang mengembangkan komedi sketsa tanpa dialog. Di sana pula Chaplin mendapatkan kepekaan untuk menggabungkan melankolia serta absurditas dengan ketololan, meski ini kemudian dikembangkannya sendiri jauh dari pakem-pakem yang ada di aliran Karno. “..Meski saya membenci sketsa, namun saya selalu mencoba untuk memberikan yang terbaik,” ujar Chaplin.

Yang lain dari pendekatan slapstick ala Chaplin adalah ia tidak meminta tokoh-tokohnya membabi buta saling pukul dan jatuh berulang-ulang dalam shot-shot cepat, melainkan tetap melibatkan ketenangan dan pendalaman naskah. Estetika itu diasah, mulai dari segi kreativitas dalam membuat adegan, misalnya adegan kandang singa dalam The Circus yang jelas tidak main-main. Ada tuntutan kecermatan dan eksperimentasi yang berkali lipat dibanding produksi era sekarang. Begitu juga adegan Tramp melakoni aksi akrobat berjalan di atas tali di antara gangguan monyet.

Selain itu, yang lebih berpengaruh adalah bagaimana Chaplin meletakkan kejenakaan komedinya tidak terpasrah seutuhnya pada interaksi fisik antar tokoh, melainkan tingkah laku psikologis yang melatari interaksi-interaksi fisik itu.

Kita tahu bagaimana tokoh Tramp sering menciptakan (atau mendapatkan) masalah dari kebetulan-kebetulan yang tak disengaja atau tak disadarinya. Film-film Chaplin mengajak penontonnya untuk menertawakan situasi-situasi tragis. Konteks menjadi penting dan sangat diperhatikan sebelum Chaplin menghajar urat geli penonton dengan adegan-adegan slapstick.

Konteks itu sudah dibangun sejak latar belakang Tramp sendiri. Tokoh Tramp punya karkater yang teramat kuat. Ia tinggal di kemiskinan harian, diperlakukan buruk, namun punya jiwa sosial dan terkadang sentimental, meski kadang berakhir melakukan kelicikan-kelicikan lucu. Ia adalah gambaran karakter ideal dari rakyat kecil. Meski terkesan unik dan satu-satunya, namun motif-motif psikologis dari keputusan Tramp sebelum berbuat tindakan-tindakan dongok itu bisa terhubung dengan penontonnya.

Karakter Tramp dibentuk sebagai gelandangan yang tidak punya rumah, namun berlagak layaknya bangsawan. Padahal jelas pakaiannya lusuh dan compang camping. Ia mencari pekerjaan dan mencari celah apapun untuk bertahan hidup, termasuk harus kejar-kejaran dengan aparat di banyak adegan. Chaplin sendiri mendefinisikan watak Tramp sebagai, ”tak peduli bagaimana terpuruknya dia, ia tetap seseorang yang punya martabat dan harga diri”.

Dalam The Circus, Tramp menemukan kesialan-kesialan yang berawal dari urgensinya untuk mencari uang hingga bergeser menjadi niatnya untuk mendapatkan hati anak tiri pemilik sirkus (Merna Kennedy). Semakin kita bisa memahami niat dan motif psikologinya, semakin kita dipaksa tergelak ketika menemui fakta bahwa ia harus gagal. Berulang kali ia juga diperdaya oleh pemilik sirkus (Al Ernest Gracia). Adegan ketika Tramp sok jual mahal tapi salah hitung saat menuntut kenaikan upah sangat lucu dan faktual untuk saya.

Terakhir, apresiasi terhadap muatan realisme di The Circus juga cenderung di bawah seharusnya. Sebelum mulai tertarik dengan wilayah-wilayah sosial politik yang lebih terstruktur seperti gajak kapitalisme industri (Modern Times) atau Hitler (The Great Dictator), observasi Chaplin sering berkutat di wilayah lingkungan yang lebih personal di sekitar dirinya.

Kendati tidak menghebat, namun komentar sosial di The Circus juga dihadirkan dengan relevan, pun lewat cara yang menurut saya tetap otentik dalam lingkup sebaran film populer di era 1920-an. Karya Chaplin kebanyakan memang selalu menekankan pada pekerjaan dan profesi orang-orang tersisih. Dalam The Circus, ia tidak cuma bicara tentang pemain sirkus, melainkan industri hiburan secara lebih luas.

Pada akhirnya industri hiburan adalah sirkus. Setidaknya sirkus yang diilustrasikan oleh Chaplin dalam The Circus. Eksploitasi di mana-mana, tercerminkan ketika Chaplin dipekerjakan sebagai bahan tertawaan dengan bayaran murah. Bahkan, kerja komodifikasi berlangsung ketika ia dimanfaatkan tanpa sadar sebagai bintang untuk menarik pengunjung. Praktik seperti ini hampir sama ketika acara-acara semacam YKS atau Dahsyat juga sering memasukan pekerja di balik layarnya sebagai konten.

Manipulasi-manipulasi terjadi, baik untuk Tramp maupun penonton sirkusnya. Bahkan, dalam sebuah adegan klimaks, sang pemilik sirkus sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan pekerjanya, yang utama adalah mendapatkan respons dan uang dari penonton.

Di satu sisi, The Circus seperti menggambarkan keadaan karier Chaplin sendiri. Orang-orang selalu tertawa melihat sosoknya, menganggapnya ladang humor. Ia merasa kaget menjadi bintang. Sebagai catatan, Chaplin adalah salah satu bintang film pertama—yang bisa disematkan istilah “bintang”—di sejarah sinema. Orang menonton film-filmnya karena tahu akan menemukan dirinya di layar.

Dan dinamika akan kiprahnya ini kian termanifestasikan dalam adegan ending ketika Tramp berjalan sebatang kara menuju matahari tenggelam.

Jeffrey Vance, sejarawan film yang sudah menulis empat buku tentang aktor penting di era film bisu: Douglas Fairbanks, Charlie Chaplin, Buster Keaton, dan Harold Lloyd, menyebutkan bahwa The Circus adalah perumpamaan dari kondisi karier Chaplin di eranya. Adegan akhir ketika kereta yang membawa rombongan sirkus itu meninggalkannya sendiri di lingkaran kosong menggambarkan bagaimana sinema terus bergerak, dan siap meninggalkan Chaplin dan rekan-rekan aktor segenerasinya. Adegan itu diambilnya empat hari setelah rilisnya The Jazz Singer (1927), selaku film pertama yang sukses memperkenalkan teknologi talkie. Diiringi musibah-musibah lainnya, bisa kita bayangkan perasaan pesimis Chaplin ketika mengambil gambar untuk adegan ini.

Separuh benar, ketakutan itu terjadi pada tiga aktor penting lain yang pernah ditulis oleh Vance: Douglas Fairbanks, Harold Lloyd, dan Buster Keaton. Tidak untuk Chaplin. The Circus justru awal dari lahirnya adikarya-adikarya lainnya di dekade berikutnya.Dalam penggambaran yang saya dapatkan ketika membaca My Autobiography, Chaplin tampaknya memang sudah berada pada posisi yang terkesan sudah menggapai puncaknya sebagai sineas pada era 1920-an. Ia sudah meraih segalanya yang belum pernah diraih sineas lain sebelumnya. Namun, ternyata matahari terbenam masih terlalu ujung baginya.

Best Lines:

A Circus Rider: You’ll get killed

Tramp: Oh, no. I have a charmed life.

After Watch, I Listen:

The Beatles – Blackbird

9. Intolerance

Tags

, , , , ,

D.W Griffith

1916

Drama, History

D.W Griffith adalah sutradara di balik sebuah film yang menjadi tonggak sejarah sinema berjudul Birth of Nation (1915). Ini adalah film pertama yang menerapkan banyak teknik sinematografi yang tergolong revolusioner di eranya, termasuk memperkenalkan format bentuk penceritaan sinema yang rapi dan baik. Hampir seluruh unsur drama dalam film-film setelahnya (yang artinya hampir semua film yang pernah anda tonton) dipengaruhi oleh film ini.

Namun, film yang dianggap sebagian kritikus sebagai film terbaik di dunia tersebut adalah salah satu film terburuk yang pernah ada di mata saya.

Ketika imbuhan superlatif “ter” dan “buruk” sampai keluar, artinya ya film yang sebaik-baiknya adalah tidak pernah diciptakan. Mentok jeleknya.

Tidak perlu dianalisis jauh-jauh seperti Roger Ebert atau Richard Brody yang disuap justifikasi estetika. Coba diakui saja secara jujur dan jernih, film ini rasis. Sederhana. Apalagi teruntuk penonton awam dengan kepekaan kritis terhadap produk sinema yang seadanya.

Kisahnya tentang perang sipil di Amerika Serikat yang mempromosikan stigma-stigma buruk kulit hitam dan glorifikasi terhadap organisasi Ku Klux Klan. Kebesaran Birth of Nation salah satunya juga karena akhirnya dijadikan perangkat advokasi politik para kaum supremasi kulit putih dan konservatif di zamannya untuk menyingkirkan imigran dan minoritas. David Duke, seorang pemuka supremasi kulit putih bahkan menggunakan film ini untuk merekrut anggota Ku Klux Klan.

Dan sebagus apapun karyamu, jika ia merayakan hal-hal yang berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka layak dikubur hidup-hidup—termasuk kamunya sekalian.

Entah sadar telah khilaf atau tiba-tiba diceramahi ulama, Griffith seakan kemudian ganti haluan secara radikal. Film-film berikutnya mengampanyekan nilai-nilai toleransi, salah satunya adalah Intolerance (1916).

Kalau kata orang beragama, pintu tobat selalu terbuka sebelum maut menjemput.

Griffith sendiri yang sudah merasa hina, sepertinya tidak mau mengakui bahwa film Intolerance adalah karya apologi terhadap beban moral dari Birth of Nation. Tapi toh Intolerance juga dianggap sama legendarisnya.

Dengan durasi 3 jam lebih, Intolerance terdiri dari empat jalan cerita yang paralel dan ditampilkan secara bergantian sepotong-sepotong. Keempatnya terpisahkan oleh latar periode waktu yang beda jauh:

  1. Invasi kerajaan Persia ke kerajaan Babilonia di 539 SM
  2. Penyaliban Yesus
  3. Hari pembantaian Saint Bartholomew di tahun 1532
  4. Kisah melodrama modern di Amerika Serikat

Bayangkan, harga yang keluar untuk tata produksinya karena harus menyuguhkan empat set konteks ruang-waktu berbeda. Seakan menggarap empat film sekaligus.

Setiap perpindahan kisah punya transisi berupa adegan seorang perempuan yang menggoyang-goyangkan sebuah buaian. Perempuan ini diperankan oleh Lilian Gish, salah satu aktris terbesar di era film bisu awal sekaligus favorit saya. Selain dilabeli sebagai The First Lady of American Cinema, All Movie Guide juga menyebutnya “sosok yang memperkenalkan perbedaan signifikan antara berakting di atas panggung teater dan berakting di layar lebar.” Ia sering berperan sebagai sosok murung yang tertindas dan merana, seperti gadis belia yang sehari-hari jadi objek kekerasan dari ayahnya di Broken Blossoms (1919) dan gadis desa yang dinikahi secara abal-abal oleh pria kota hidung belang dalam Way Down East (1920). Dengan peran-peran sejenis itu, Gish selalu berhasil membuat saya iba dan ingin memeluknya erat sambil bilang “it’s okay honey, i will try to fix you”.

Namun, ternyata yang paling bikin saya jatuh hati adalah penampilan iritnya di Intolerance. Perannya tergolong minor, tapi ekspresi polosnya sambil duduk termangu itu menyuratkan sisi magis yang teramat. Jika bumi itu datar dan Tuhan melihat dari atas seperti Gish memandangi buaiannya, bisa jadi ekspresi beliau (!!!) akan sama. Tuhan pun akan kupeluk sambil bilang “it’s okay God, i will try to fix you”.

Keempat kisah di Intolerance berisi peristiwa konflik akibat tindak intoleransi. “Setiap kisah menunjukan bagaimana kebencian dan intoleransi, melalui seluruh zaman, telah bertarung melawan cinta dan kebaikan hati“, bunyi naratornya.

Mari bedah keempat jalan cerita ini.

  1. Kejatuhan kerajaan Babylon. Kala itu, Babylon adalah satu-satunya kekuatan besar di Asia Barat yang belum ditundukkan oleh Cyrus yang Agung. Menariknya, salah satu faktor mudahnya Babylon dilumat habis adalah karena kerajaan itu sendiri sedang mengalami problem geopolitik, termasuk perpecahan akibat ada sebagian pejabat kerajaan yang tidak senang dengan penyembahan Tuhan Ishtar oleh rajanya yang bernama Belshazzar. Sebagian pejabat Babylon itu lalu diam-diam bersekongkol dengan Cyrus untuk memudahkan jalan perang Persia. Dan pengkhianatan ini lebih dari sukses.
  2. Penyaliban Yesus. Ini sudah ngerti sih ya, daripada saya salah dan jadi penistaan agama. Intinya Yesus disalib karena banyak melakukan “aktivisme” yang tak lazim di eranya dan berhasil menggalang pengikut dengan pengakuannya sebagai Anak Tuhan.
  3. Hari Pembantaian Saint Bartholomew. Di tahun 1572, Raja Perancis bernama Charles IX–atas hasutan ibunya, Catherine de Medici–melempar perintah ke para pembunuh bayaran dan prajurit untuk membantai Huguenots, kelompok Protestan Calvinist yang tengah berkumpul di istana. Aksi pembantaian ini menyebar sampai ke penjuru-penjuru kota Paris, dan memakan korban sejumlah 10 ribu sampai 70 ribu kepala. Salah satu peristiwa terburuk yang mencitrakan Katolik sebagai agama berdarah di sepanjang Zaman Kegelapan.
  4. Kisah Drama Modern Amerika. Ini satu-satunya kisah di Intolerance yang sepenuhnya fiksi. Pemilik sebuah pabrik memotong gaji para pekerjanya sebesar 10 persen. Demonstrasi dan protes berujung kekacauan terjadi. Karenanya seorang laki-laki dan perempuan pindah ke kota lain dan menikah di sana. Namun, mereka harus hidup dalam kemiskinan hingga sang suami perlu melakukan aksi-aksi kriminal. Sayangnya, ketika sudah tobat pun sang suami malah dijebak oleh mantan bosnya hingga masuk penjara. Kehidupan makin menghimpit sulit bagi keduanya untuk bertahan hidup dari represi lingkungan sosialnya.

Secara konsep, penggunaan empat kisah yang dijalankan tanpa pertemuan plot ini memang antik. Namun, yang mengagumkan adalah bahwa konsep ini bukan sekadar eksplorasi gaya cerita, melainkan cara mengomunikasikan makna yang lebih besar.

Identifikasi awal dari keempat kisah berbeda itu adalah bahwa intoleransi agama menjadi perkara untuk tiga kisah yang pertama, sementara kisah yang terakhir adalah perihal intoleransi kelas sosial. Yah, ini tak bisa jadi patokan untuk menentukan karakter intoleransi tiap zaman begitu saja, lantaran toh konflik penguasaan tanah (monarki atau feodal) sebenarnya juga terjadi sejak zaman kerajaan. Sementara konflik horizontal antar umat beragama juga masih terjadi di era sekarang.

film-intolerance-1916

Beberapa film yang pernah saya tonton pernah mencoba “mengatakan” bahwa intoleransi bisa dilakukan oleh siapa saja. Oke, sisi universalisme ini juga disampaikan oleh Intolerance, misalnya dengan tidak memberi nama pada karakter-karakternya–selain tokoh sejarah seperti Cyrus yang Agung atau Yesus. Griffith naga-naganya sengaja menggunakan nama-nama berupa predikat seperti Mountain Girl, The Dear One, The Boy guna menegaskan bahwa tragedi intoleransi biasanya akan melibatkan sembarang korban secara acak. Seringkali tidak pilih-pilih alamat.

Nah, keistimewaan dari penggunaan empat kisah berlingkup rentang 2500 tahun dalam Intolerance adalah menunjukan bahwa intoleransi bukan saja bisa terjadi pada siapa saja, namun juga terjadi kapan saja. Intoleransi tak terikat oleh konteks waktu dan kurun. Jarak satu masa ke masa lain yang ekstrem menjadi bukti jika sejarah manusia adalah sejarah intoleransi. Perubahan sosial dan pergerakan zaman acap dimotori oleh konflik intoleransi.

Ambil kasus empat kisah dalam Intolerance. Kisah pertama menandai momentum krusial Yahudi dan Yerusalem selaku dua saksi berderet-deret peristiwa intoleransi bersejarah. Kisah kedua menandai kelahiran Nasrani, agama terbesar di dunia sekaligus poros kelahiran zaman kegelapan. Kisah ketiga menimbulkan eskalasi konflik internasional di Eropa antara Katolik dan Protestan, hingga mendorong lahirnya pertanyaan-pertanyaan intelektual terkait dampak buruk ajaran beragama. Sementara kisah keempat, meskipun fiksi, namun konfliknya berakar pada semangat yang sama akan pembentukan kesadaran kelas dan gelombang pemberontakan kelas pekerja di dunia.

Theodore Huff, salah satu kritikus film populer di paruh pertama abad ke-20 mengatakan bahwa Intolerance adalah ”satu-satunya karya layar lebar yang bisa bersanding dengan ‘Symphony No 5’ dari Beethoven, atau lukisan langit-langit Sistine Chapel dari Michaelangelo terkait kontribusi artistiknya yang begitu sentral.” Jelas lebay, tapi Intolerance memang menunjukan bahwa intoleransi punya sejarah integral di bumi manusia itu sendiri. Seluruh ilmu pengetahuan sosial membaktikan dirinya untuk menjawab tantangan sepanjang zaman ini.

Akan tetapi, mentang-mentang terkesan naluriah, jangan lantas perlakukan persoalan sosialini dalam pemakluman-pemakluman. Jangan pernah bertoleransi dengan intoleransi. Misalnya, jangan bilang Birth of Nation adalah film bagus.

Ecrasez i’lnfame

Best Lines:

Catherine de Medici: Such a fine man, Admiral Coligny. If only he thought as we do.

Admiral Coligny: Such a wonderful king. If only he thought as we do.

After Watch, I Listen:

Radiohead Burn the Witch

10. Pandora Box

Tags

, , ,

Georg Wilhelm Pabst

1929

Drama

Tatkala menelusuri film-film legendaris di bawah 1930-an, saya melihat ada kecenderungan dekadensi kualitas di tahun-tahun ekornya, yakni 1928-1929. Teknologi dan kreativitas yang mestinya berkembang justru direspons tema-tema yang tidak substansial dan eksekusi yang formulaik, terutama untuk film-film drama Hollywood.

Kebanyakan film-film di tahun itu memasukan banyak unsur seksual, penggunaan narkoba, prostitusi, aborsi, dan kekerasan, ditambah karakter perempuan yang determinan. Terlalu serupa hingga terkesan kodian.

Untungnya, Pandora Box (1929) berhasil menjadi lain meski membawakan tema sekata.

Pandora Box adalah film Jerman yang diadaptasi dari naskah drama Earth Crisis (1895) dan Pandora Box (1904) milik Frank Wedekind, penulis drama yang kerap mengkritisi kehidupan borjuis, termasuk lewat topik-topik seksual. Kedua naskah itu bercerita soal perempuan centil bernama Lulu yang menggunakan kecantikan dan daya tarik seksualnya untuk menggoda dan bergaul dengan para elit, namun akhirnya menjadi bencana bagi orang-orang di sekelilingnya.

Wedekind juga menghadirkan tokoh (nyata?) Jack the Ripper yang konon melakukan pembunuhan berantai pada sederet pelacur di London. Semua aspek ini terasa riil, karena Wedekind memang dekat dengan kehidupan jalanan dan wanita tunasusila. Ia dikenal punya kelakuan seksual yang liar, sembarangan malah. Tidak selektif dalam memilih partner senggama, termasuk kaum homoseksual dan penganut sadisme. Ia juga pernah menggauli anak-anak. Ini mendekatkannya pada kegilaan, bahkan ia disebut-sebut “mati karena seks”. Lantaran ultra-posesif pada istrinya, Wedekind selalu berusaha mati-matian untuk sekreatif dan setrengginas mungkin di ranjang demi mendapatkan kesetiaan sang istri. Ambisi uniknya ini berujung pada hernia dan penyakit-penyakit lainnya. Semua sisi gelap tersebut terangkum oleh buku Diary of an Erotic Life yang diterbitkan oleh anak perempuannya sendiri.

Kendati bertendensi mencemooh laku bergaul para borjuis, Pandora Box punya plot melodrama yang tak jauh beda dari film drama umumnya. Namun, ada sejumlah hal yang membuat Pandora Box perlu dibicarakan lebih jauh.

Yang pasti bikin jatuh cinta pertama adalah Louise Brooks, pemeran Lulu. Bukan cuma tokoh-tokoh dalam film yang diserang dengan alai-belainya, kita sebagai penonton juga pasti ikut terpikat. Selain cantik bukan main, ia tampil seperti bukan aktris di zamannya. Asli, tidak kelihatan seperti aktris jadul. Ada sensasi kejut melihatnya dilatari sinematografi yang sama dengan Lilian Gish, Janet Gaynor, atau Mary Pickford. Ia seakan cocok ada di Kill Bill atau bertandem dengan Leonardo Di Caprio.

Saya pikir bukan semata aktingnya–walau ekspresi genitnya memang langsung bikin pengen selingkuh. Yang harus disadari adalah penokohannya sendiri sangat kuat. Ia digambarkan sebagai flapper, yakni generasi wanita muda di dekade 1920-an yang berambut bob, mengenakan rok pendek, mendengarkan musik jazz sambil merokok dan minum-minum, serta menganggap seks sebagai sesuatu yang kasual.

Lewat tokoh Lulu dan lingkungan yang mengitarinya, Pandora Box berhasil merepresentasikan semangat roaring twenties dan seluk beluk kehidupan flapper.

Flapper memang salah satu ikon roaring twenties, yakni era munculnya budaya baru yang kuat di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Kala itu ada ombang ambing sosial politik atas pertukaran budaya yang terjadi secara global setelah Perang Dunia 1, termasuk ekspor Jazz Amerika ke Eropa. Musik jazz menjadi musik paling digandrungi anak muda. Inilah eranya anak-anak gigs bisa nonton konser Louis Amstrong atau Duke Ellington.

Di Jerman, periode budaya ini disebut sebagai golden twenties. Jerman sedang mengalami kemakmuran singkat—sebelum krisis mendadak dan akhirnya diambil alih oleh Hitler. Golden twenties ditandai juga dengan unsur-unsur modernitas yang mulai menjegal kultur tradisional masyarakat, baik via teknologi maupun tatanan moral-sosial. Di dekade ini pula revolusi seksual terjadi, kontrasepsi dan seks pranikah perlahan luntur tabunya.

Satu pencirian paling eksplisit dari Lulu sebagai flapper adalah gaya rambut bobnya, atau gaya potong pendek segaris lurus di bawah telinga dan di atas bahu. Ini gaya rambut yang sempat mulai muncul jarang-jarang sebelum Perang Dunia 1 namun baru benar-benar marak di akhir dekade 1920-an. Bahkan, tempat potong rambut yang mampu menciptakan gaya rambut bob biasa kebanjiran pelanggan sampai mengantri hingga jalanan. Sempat mati di dekade 1930-an, tren rambut bob tumbuh lagi di dekade 1960-an dan 2000-an. Melihat susunan dekade itu, layak saya curiga ada hubungan antara gaya rambut bob dengan ketiga gelombang feminisme yang kita kenal. Periode kemunculannya sama. Toh selain menjadi simbol modernisme bagi perempuan, rambut bob pada flapper punya ekspresi pengaburan batasan gender dengan tampilan yang kelelaki-lakian di eranya.

Di antara penyebab para perempuan muda mengubah perilakunya setelah Perang Dunia 1 adalah kematian banyak pemuda saat perang dan epidemi flu Spanyol yang membunuh puluhan juta orang di 1918. Ini membuat mereka sadar bahwa mati bisa datang kapan saja. Maka mereka mulai beriman pada slogan rokok ”enjoy aja” dibanding hanya di rumah menanti pinangan laki-laki tak jelas.

Begitu pun dengan perang abadi teologi dan ilmu pengetahuan yang sempat jadi kontroversi di Amerika sejak kasus persidangan Scopes Monkey Trial. Kasus ini adalah tentang John t. Scopes yang dituntut karena mengajarkan evolusi manusia di sekolah-sekolah negeri. Scopes memang akhirnya kalah, tapi kasus ini sukses memancing pertanyaan lebih luas bagi para insan soal agama dan moral.

Puncak gelombang feminisme pertama yang membuat perempuan Amerika mendapatkan hak pilihnya pada 1920 juga membuat kaum hawa makin percaya diri untuk menantang batasan gender, termasuk hak seksual dan pemakluman moral. Mapannya industri mobil pun memfasilitasi para perempuan untuk bisa pergi ke manapun mereka mau. Ini sejalan dengan bagaimana bar-bar retro (speakeasies) makin ramai didatangi perempuan.

Mereka bahkan secara terbuka mulai luwes menggoda laki-laki. Ruth Gillettes, penyanyi 1920-an, sempat membuat lagu berjudul “Oh Say! Can I See You Tonight”. Sebelumnya, sangat tabu bagi perempuan berinisiatif duluan memanggil laki-laki untuk mengajak kencan. Namun, sejaknya, mulai banyak perempuan memainkan peran utama dalam hubungan, seperti mengajak laki-laki keluar atau ngapel duluan.

Flapper menjadi gambaran perempuan muda dan modern yang mendefinisikan ulang peran perempuan di masyarakat tradisional abad ke-20. Rok pendek dan rambut bob menjadi simbol emansipasi. Perempuan mulai bekerja ke luar rumah, berkompetisi dengan laki-laki di dunia bisnis, dan punya kemandirian finansial. Sebuah tantangan serius bagi peran gender tradisional Ratu Victoria yang setia pada religiositas dan keseharian yang membosankan.

Lalu apakah Pandora Box adalah film feminis? Tidak terlalu. Lulu dalam Pandora Box tidak sepenuhnya punya sisi politis semacam itu. Ia hanya ingin bersenang-senang. Karena itu diperdebatkan apakah Lulu menjadi femme fatale atau malah korban. Ini yang kemudian menjadi bahasan selanjutnya, karena representasi tokoh Lulu memang kompleks sebagai flapper. Sekompleks flapper itu sendiri.

Bersama progresivitasnya sebagai generasi perempuan modern, flapper di sisi lain harus berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksinya.

Meski banyak perempuan muda yang melihat flapper sebagai simbol masa depan yang lebih baik, sebagian lagi mempertanyakan telatah ekstrem mereka. Sejumlah perempuan mengaku kesal karena standar kelakuan flapper seringkali malah menyulitkan lebih banyak perempuan. Contohnya, banyak flapper yang selingkuh dengan pria lain yang terikat pernikahan. Pelakor, guys. Jangan-jangan Mbak Nyla Nylala yang sekarang mungkin sudah kaya raya karena duit yang disebar-sebar Bu Dendy itu adalah seorang flapper?

Ada juga persepsi bahwa sebagian besar flapper punya intelegensi yang rendah dan mudah terjerembab dalam masalah-masalah besar. Semua ini menciptakan stereotip anyar bagi flapper itu sendiri. Sejumlah bank di Amerika Serikat menolak semua perempuan pelamar yang berdandan seperti flapper. Mereka menetapkan regulasi pakaian: tak boleh punya corak, harus dibeli di toko tertentu, berwarna antara hitam, coklat, atau biru, lengan tak boleh lebih pendek dari siku, dll.

Masyarakat belum mudah menerima tatanan moral baru yang dibawa flapper. Tokoh Dr. Ludwig Schön (Fritz Kortner), penerbit yang menjadikan Lulu sebagai simpanan, beberapa kali menasihati putranya: One doesn’t marry such a woman! It would be suicide!”

Sebagian flapper memang berhasil merayakan semangat independensi dengan tetap menerima privilese laki-laki, namun sebagian lagi cuma bablas hanyut pada euforia keruntuhan bangunan moral. Lulu lebih pada yang kedua.

Gaya hidup flapper akhinya mulai ditinggalkan lagi ketika Depresi Besar dan Wall Street Crash melanda. Hedonisme dan optimisme sulit diterima saat kesulitan ekonomi sedang menjadi masalah bersama. Ditambah lagi makin banyak perusahaan yang melarang atribut-atribut flapper bagi pekerjanya. Kampanye “Make Do and Mend” menghalangi konsumsi berlebih di masyarakat, terutama di sektor busana. Gerakan perempuan modern akhirnya bergeser dengan bagaimana mereka menggantikan pekerjaan laki-laki yang terjun ke Perang Dunia 2.

Bisa jadi itu alasan kenapa saya merasa Lulu sangat kontemporer dan seperti familiar di era sekarang. Karakternya mewakili generasi perempuan yang berusaha menyelamatkan diri dari gempuran konservatisme dan masyarakat tradisional selama berdekade. Ia potret revolusioner perempuan di eranya yang baru menemukan latar sosial yang bisa menerimanya di masa kini.

Terkait kemunculan karakter lesbian yang bernama Augusta Geschwitz (Alice Robert)–disebut sebagai tokoh lesbian pertama di sejarah film—di Pandora Box, perlu diketahui bahwa homoseksual juga menjadi ciri kembang budaya yang menonjol di roaring twenties. Jerman, secara lebih spesifik, bahkan mempromosikan emansipasi homoseksual karena dirasa memberikan “comradeship” yang ideal. Tak sedikit gay di Jerman mengaku ikut militer untuk melegitimasi pertemanan dan menyelamatkan hak-hak sipil mereka.  Wissenschaftlich-humanitäres Komitee menyatakan bahwa homoseksual adalah seks ketiga karena ditentukan secara biologis. Sementara Gemeinschaft der Eigenen (Community of the Self-Owned) sebagai radikal nasionalis mengklaim homoseksual sebagai warisan kejantanan Jerman.

Di industri perfilman sendiri, mulai berani para aktor mengungkapkan identitas gay-nya. Contohnya William Haines, Jimmie Shields, Alla Nazimova, Ramon Novarro, dan lain-lain. Salah satu lagu nyentrik Amerika, “Masculine Women, Feminine Men,” dirilis pada 1926 dengan liriknya:

Masculine women, Feminine men

Which is the rooster, which is the hen?

It’s hard to tell ’em apart today! And, say!

Sister is busy learning to shave,

Brother just loves his permanent wave,

It’s hard to tell ’em apart today! Hey, hey!

Girls were girls and boys were boys when I was a tot,

Now we don’t know who is who, or even what’s what!

Knickers and trousers, baggy and wide,

Nobody knows who’s walking inside,

Those masculine women and feminine men![95]

Namun, sama seperti flapper, suburnya nuansa konservatisme di dekade 1930-an membuat kaum homoseksual harus bergerak mundur lagi. Artis-artis homoseksual kembali harus menahan diri mengungkapkan orientasi seksual mereka di publik.

Karenanya, Pandora Box berhasil menutup dekade 1920-an dengan tepat karena segalanya gegas berubah di tahun-tahun berikutnya. Film ini berhasil menangkap gairah dan kontradiksi roaring twenties dan golden twenties lewat analogi mitos kotak pandora. Petaka dan karunia punya hubungan negasi, tapi keduanya selalu bergandengan.

Best Lines:

Dr. Ludwig Schön: I’m getting married!

Lulu: You won’t kiss me just because you’re getting married?

 

After Watch, I Listen:

Amy Winehouse – Back to Black

 

Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital – Ross Tapsell

Tags

, , , , , , , ,

 

Sebuah buku yang berpijak pada teori luhur anak komunikasi, “medium adalah pesan” dari Marshall McLuhan. Perkembangan ekosistem media digital di Indonesia akhirnya juga turut membentuk masyarakat kita, terutama lanskap politik kontemporer Indonesia yang cenderung oligarkis. Terlebih, karena kuasa media di negara ini terlalu mesra dengan pemegang kepentingan politik praktis.

Temuan konklusi dari buku ini sebenarnya tidak terlalu menarik. Di satu sisi,  digitalisasi memungkinkan media besar menjadi semakin besar. Konglomerasi dan konsentrasi media yang berbasis di Jakarta semakin menentukan arah pemberitaan nasional. Apalagi perusahaan media digital ini juga mencakup bisnis digital lain, seperti transportasi, penyelenggaraan acara, niaga, perumahan, dan lain sebagainya. Digitalisasi akhirnya mencegah potensi semakin banyak keberagaman yang dimungkinkan oleh internet. Diawali dari Aburizal Bakrie dan Surya Paloh, nama-nama raja media yang muncul belakangan seperti Dahlan Iskan, Hary Tanoe, dan Chairul Tanjung memanfaatkan aset mereka ini sebagai agensi politiknya.

Namun, di sisi lain, angan-angan bahwa internet bisa membawa demokrasi yang lebih luas bagi masyarakat masih bisa diperjuangkan. Digitalisasi membuka akses bagi kita semua untuk menggunakan platform media baru sebagai senjata menantang konten-konten industri media dan mendorong politik ke arah yang lain dari yang diinginkan oleh elit. Henry jenkins sempat mengatakan, “apakah publik siap untuk mendorong partisipasi yang lebih besar atau ingin melanjutkan hubungan lama dengan media massa?”. Warga kelas menengah urban, atau yang bisa disebut sebagai “minoritas berdaya” melihat media digital sebagai jalan untuk memengaruhi perubahan dalam bentuk gerakan “kontra-oligarki”.

Kedua belah pihak punya peluangnya masing-masing. Ya, begitulah.

Temuan yang menarik justru adalah sedikit bahasan tentang gaya politik Jokowi. Istilah “blusukan” menjadi populer sejak sosok Jokowi mulai mondar-mandir di media massa, bahkan saat ia masih menjadi walikota Surakarta. Entah apakah aktivitas “blusukan” memang inisiatif alamiah dari Jokowi atau tidak, tapi yang jelas itu adalah langkah yang ternyata impaknya sangat strategis. Bukan hanya untuk menarik simpati orang kecil dan mengejar citra “pemimpin merakyat”, melainkan juga merampas atensi dari media massa.

Yang namanya wartawan biasa ditagih banyak jatah berita per harinya. Lalu apa yang bisa diberitakan dari seorang pemimpin yang kerjaannya hanya nongkrong di kantornya? Makanya, dengan aktif turun ke pasar atau ruang-ruang publik, para wartawan dengan sendirinya akan membuntuti dan memberitakannya. “Blusukan” adalah sesuatu yang seksi dan memudahkan pekerjaan wartawan. Blusukan Jokowi hampir selalu dilakukan setiap pagi karena media mencari berita untuk tayang tengah hari dan memungkinkan mereka menyediakan pemberitaan yang begrulir sepanjang hari untuk stasiun televisi 24 jam dan media daring. Ada mutualisme di situ.

Tak heran, kini hampir seluruh calon-calon pemimpin menjadi rajin melakukan “blusukan”. Tujuannya serupa, mengejar atensi media. Apalagi kewajiban produksi konten yang besar-besaran di berbagai media mendorong tindakan-tindakan kurang penting dari tokoh politik pun bisa menjadi berita.

Saking diapresiasinya metode blusukan ini, SBY–yang mungkin merasa popularitasnya tersaingi–dalam bukunya yang bertajuk Selalu Ada Pilihan lantas sempat menulis bahwa ia sebenarnya juga sering melakukan blusukan, “tapi dalam hati”….

((dalam hati))

Alih Wahana – Sapardi Djoko Damono

Tags

, , , , , , ,

Beberapa istilah yang biasanya dikenal dalam alih wahana adalah:

  1. Ekranisasi (sastra ke film)
  2. Musikalisasi (puisi ke musik)
  3. Dramatisasi (sastra ke drama)
  4. Novelisasi (film ke novel)

Pak Sapardi berpendapat bahwa sulit untuk membanding-bandingkan satu wahana dengan wahana lainnya. Bagi sebuah karya adaptasi, tanggung jawab kesetiaan terhadap wahana aslinya adalah sesuatu yang akan mengungkung, karena perbedaan medium menuntut cara penyampaian yang jauh berbeda.

Jangankan beda wahana, penerjemahan bahasa dalam sastra saja bisa signifikan. Menurut Pak Sapardi, penerjemahan karya sastra tidak usah dianggap sebagai usaha mati-matian untuk menjadi karya yang sama dengan aslinya. Bahasa itu peka budaya. Cara pengungkapan dalam suatu bahasa didikte oleh sekalian segi budaya yang telah menghasilkan bahasa itu, sebab memang bahasa diciptakan untuk keperluan komunikasi di lingkungan kebudayaan tertentu. Artinya ada pengubahan kode agar sesuai dengan yang ada dalam kebudayaan sasaran. Sangat mungkin ada terjemahan yang lebih bagus dari aslinya: hubungan antarunsurnya lebih kokoh, wawasannya lebih dalam, dan kemungkinan penghayatannya lebih luas.  Karya terjemahan bukan sekadar reproduksi melainkan karya yang sejajar dengan aslinya. 

Maka ketika kita bicara alih karya sastra atau novel ke film, titik pertemuan terakhirnya adalah di skenario. Selebihnya, sudah merdeka. Film memiliki rangkaian aturan dan kaidah artistik tersendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja dnegan semua jenis kesenian yang lain. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkannya berbeda. Pertama, asal-usulnya. Kedua, benda itu sendiri. Ketiga, khalayak yang dihadapinya. Asal usul sastra adalah sastrawan, yang biasanya bekerja sendiri, sementara asal usul film adalah sekelompok orang yang bekerja bersama-sama membuatnya. Novel adalah seni verbal sedangkan film adalah seni verbal dan gambar bergerak yang bisa ditunjang suara dan warna. Khalayak sastra adalah pembaca yang umumnya membaca sendiran saja, sedangkan khalayak film adalah orang ramai-ramai.

Keduanya berbeda sebab memang merupakan dua benda budaya yang berbeda hakikatnya. Film tidak akan mampu mengungkapkan dengan baik semua unsur kebahasaan yang menjadi penyangga utama karya sastra. Sebaliknya gambar yang menjadi landasan utama film juga tidak bisa sepenuhnya ditampung dalam bahasa verbal. Dalam sastra kita mendapatkan segala hal yang hanya bisa didekati dengan bahsa verbal: impian, kenangan, renungan, dan kesadaran pkiran. Bluestone (1957) dengan tegas mengatakan bahwa studi bandingan yang tujuan awalnya adalah mencari persamaan antara novel dan film akan sampai pada kesimpulan bahwa keduanya berbeda sama sekali.

Jejak Langkah – Pramoedya Ananta Toer

Tags

, ,

Dari Sarekat Islam, Medan Prijaji, hingga Budi Utomo. Pramoedya Ananta Toer membawa Minke sampai pada konteks tumbuhnya kesadaran rakyat Indonesia untuk membangun ekosistem organisasi dalam menyemai perlawanan terhadap kolonial.

Dibanding Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, sepertinya Jejak Langkah terlampau jarang dibicarakan. Bisa-bisanya, padahal detail pertautan sejarah di novel ini menurut saya lebih penting diketahui dibanding dua novel sebelumnya.

Tuhan Tidak Perlu Dibela – Abdurrahman Wahid

Tags

, , , , ,

“Tuhan tidak perlu dibela” adalah ungkapan yang menyimpan kekuatan gagasan yang sangat besar untuk dihadapkan pada persoalan Tanah Air. Mengingat Gus Dur merupakan salah satu tokoh negara dan islam yang paling dihormati, begitu penting sebenarnya untuk memperkenalkan pemikirannya. Apalagi kita bisa menemukan bahwa objek dan isu yang diulasnya di buku ini adalah problem-problem berulang dalam wacana masyarakat Islam.

Sejak lama misalnya, Gus Dur mempertanyakan wewenang MUI. Lembaga seperti MUI, yang memang dibuat sekadar sebagai penghubung antara pemerintah dan umat pemeluk agama Islam hanyalah sebuah pusat informasi, yang memberikan keterangan tentang umat kepada pemerintah, tidak lebih. “Oleh karena itu, mengapakah tidak kita mulai saja mengusulkan batasan yang jelas tentang wilayah kajian yang baik dipegang oleh MUI? Mengapa bukan masalah-masalah dasar yang dihadapi bangsa saja:” Bagaimana merumuskan kemiskinan dari sudut pandang agama, bagaimana meletakkan kedudukan upaya penanganan kemiskinan oleh berbagai lembaga di bawah? Bagaimana pula kaum muslimjn seyogianya bersikap pada ketidakadilan, terhadap kebodohan? Jawabannya tentulah harus terperinci dan konkret, jangan cuma sitiran satu dua hadits tentang kewajiban belajar hingga ke liang kubur saja.

Yang paling signifikan dari bahasan di buku Tuhan Tidak Perlu Dibela adalah “Islam Punyakah Konsep Kenegaraan!”. Gus Dur mengacu pada buku Islam and The Bases of Power dari Ali Abdel Raziq dari Mesir. Dalam buku ini, Abdel Raziq menyangkal adanya kerangka kenegaraan dalam Islam. Al-Quran tidak pernah menyebut-nyebut sebuah negara Islam. Hanya menyebut negara ‘yang baik, penuh pengampunan Tuhan.’

Raziq lalu mendapat reaksi keras dari para ulama Al-Azhar. Pasalnya, gagasannya menunjukan bahwa ia menerima gagasan sekularisasi: agama tidak memiliki sangkut-paut dengan masalah kenegaraan. Sebuah pandangan yang bertentangan dengan pandangan umat. Padahal Raziq sebenarnya telah mengajukan argumentasi cukup kuat dan masuk akal. Pertama, katanya, dalam Al-Quran tidak pernah ada doktrin. Kedua, perilaku Nabi Muhammad sendiri tidak memperlihatkan watak politis, tetapi moral. Ketiga, Nabi Muhammad juga tidak pernah merumuskan secara definitif mekanisme penggantian jabatannya.

Kalau memang Nabi Muhammad menghendaki berdirinya sebuah negara islam, mustahil masalah suksesi kepemimpinan dan peralihan kekuasaan tidak dirumuskan secara formal. Nabi cuma memerintahkan, ‘bermusyawarahlah kalian dengan persoalan.” Masalah sepenting itu bukannya dilembagakan secara konkret, melainkan dicukupkan denagn sebuah diktum saja, yaitu “masalah mereka dimusyawarahkan antara mereka’. Mana ada bentuk negara seperti itu.

Lagipula, pemerintahan yang tidak mendasarkan diri pada ajaran formal agama secara tuntas bukan berarti harus ditolak. Selama ada kemungkinan melaksanakan dan memperjuangkan agama di dalamnya maka negara seperti itu masih harus diterima. “Kalau tidak, kaum muslimin di Uni Soviet sudah tentu harus memberontak”. tidak berontak berarti mengabaikan perintah Allah, dan tidak boelh disantuni oleh muslim yang lain. Padahal jika mereka berontak, maka mereka pasti habis. oleh karena itu, mereka lalu melaksanakan penerimaan atas bentuk negara yang ada, dan memegang teguh hak mengikuti ajaran agama dalam kehidupan masing-masing. Jika  negara komunis yang secara resmi melegalisasi atheisme saja orang beragama tidak diharuskan melakukan pilihan, terlebih lagi dalam kasus negara yang masih menjunjung tinggi kebenaran agama.

Gus Dur pun lalu mengkritisi dakwah. Masih harus diteliti kembali korelasi antara banyaknya orang ke masjid dan kesadaran beragama yang memilki kedalaman iman serta keterlibatan yang lebih bermakna. Buktinya adalah tidak bertautnya sama sekali antara moralitas kemasyarakatan kita dan ajaran agama. Agama mengajarkan kesetiakawanan, padahal hidup masyarakat kita menunjukan laju individualisasi. Kesenjangan yang semakin besar antara si kaya dan si miskin adalah bukti yang paling konkret.

Sekarang terasa sekali, dakwah masih berwatak penciptaan solidaritas di permukaan. sekadar melecut manusia agar berakhlak pribadi yang terpuji, mengikuti kerangka ritus, dan menjanjikan hadiah surga dan neraka. ditambah “acara tetap”: ketakutan pada serangan kebudayaan modern dan sejumlah bahaya lain yang dianggap akan menghancurkan keyakinan agama. Sedikitnya warga masyarakat yang menyatakan hidup bertujuan amal dan pengabdian menunjukan betapa salahnya agenda dakwah itu sendiri.