Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia – Kuntowijoyo, Ashadi Siregar, Danarto, dkk.

Tags

, , , , , , , , ,

Terang sudah bahwasanya yang paling membuat buku kompilasi tulisan kajian budaya ini menjual adalah deretan nama-nama penulisnya yang menyilaukan. Andai ini tim bola, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan Los Galacticos. Dan andai ini sepatu, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan north star  all star: Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Ashadi Siregar, Danarto, Umar Kayam, Khrisna Sen, Ariel Heryanto dan sebagainya.

Tapi setelah dibaca, ternyata b aja. Tulisan-tulisan nama-nama terkemuka itu tidak banyak yang merangsang cakrawala pengetahuan budaya kita. Justru yang kemudian paling menarik dari pembacaan saya terhadap isi buku ini adalah waktu terbitnya.

Buku ini rilis pertamakali di tahun 1997. Berarti tulisan-tulisan di dalamnya ditulis di beberapa tahun sebelumnya. Alhasil, kita bisa bilang Lifestyle Ecstasy adalah kumpulan amatan kebudayaan di zaman Orde Baru, era internet masih menunggu di depan pintu, generasi millenial belum menampakan pengaruhnya, Sheila On 7 dan Padi belum rilis album, Sherina dan AADC belum mengawali era baru perfilman nasional, dan saya sendiri masih belum tahu budaya pop selain Dragon Ball.

Duh, dunia macam apa ya itu? Laiya….

Mengingat adalah Kuntowijoyo sendiri yang pernah berkata–di buku lain–bahwa kebudayaan adalah tentang sesuatu yang gelisah dan mengalami perubahan terus menerus, buku ini seakan membahas dunia yang sudah berbeda dengan yang kita tinggali sekarang.

Bisa jadi justru ini daya tarik sebenarnya dari Lifestyle Ecstasy. Perbedaan periode yang signifikan ini ada plus-minusnya. Pertama, sisi plusnya adalah kita jadi paham beragam gejolak budaya di masa itu yang bisa kita refleksikan dengan keadaan sekarang.Sementara sisi minusnya adalah bagaimana cukup banyak analisa yang menurut saya tidak cukup relevan lagi dengan kondisi hari ini. Bahkan, beberapa prediksi argumentatif mereka nyatanya kedapatan sudah keliru.

Misalnya, artikel Marwah Daud Ibrahim bertajuk “Citra Perempuan dalam Media: Seksploitasi dan Sensasi Sadistik” yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab bagaimana seks menjadi komoditi gila-gilaan di pemberitaan media massa adalah karena kurangnya minat publik pada berita-berita politik tentu sangat perlu dikaji ulang di era sekarang. Berita Ahok atau kampanye-kampanye gelap pemilu terbukti bisa bersaing keras dengan reportase harian-harian ranjang manapun. Saya pikir variabel yang bermain di dalamnya kini jauh lebih kompleks. 

Beberapa artikel laln juga menurutkan perspektif moral. Sehingga membacanya justru terasa seperti mendengar budayawan tua yang tengah ceramah perihal kepanikannya terhadap generasi setelahnya.

Artikel Sarlito Wirawan Sarwono dengan judul “Gaya Hidup Kawula Muda Masa Kini” isinya seperti guru sekolah yang curhat di Kompasiana atau omelan orangtua yang bisa dirangkum menjadi ungkapan “dasar anak muda zaman sekarang”. Ia mengkritisi gaya hidup enak anak muda yang terlalu instan, suka hura-hura, dan mengalami dekadensi etos belajar. Saya tidak tahu urgensi artikel ini di eranya, tapi jika dibaca sekarang hanya menunjukan sosok Sarlito sebagai budayawan yang terkesiap dengan perubahan budaya yang kencang. Yang cukup menggelitik adalah keluhannya tentang anak muda (di masanya) yang mulai enggan menjadi pegawai negeri. Jika dulu orang-orang berlomba-lomba meraih status sosial lebih tinggi dengan memakai seragam pegawai negeri, kini yang dicari adalah pekerjaan yang berpendapatan besar sehingga mereka nantinya bisa memeroleh status itu belakangan dengan uang tersebut. Hmmm.. jadi begitu.. Tapi bagus ‘kan? Setidaknya lebih mendingan orang Indonesia banyak yang songong tapi kaya daripada cuma tinggi status sosialnya di kalangan masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya cukup mafhum jika para budayawan merasa gelagapan dengan progres peradaban. Jalaluddin Rahmat mengajukan skema pemikiran tentang laju teknologi komunikasi yang akselerasinya makin cepat. Ibaratnya, jika sejarah waktu dimulai dari awal hingga kini yang berabad-abad itu diubah skalanya menjadi 24 jam, maka nenek moyang kita baru mulai menemukan gua di pukul 8 pagi (berarti butuh 8 jam atau 22 ribu SM). Lantas 12 Jam kemudian atau 18 ribu tahun kemudian, baru orang Sumeria menemukan tulisan. Untuk 1-2 jam berikutnya, perlahan berkembanglah bahasa tulis. Sepuluh abad kemudian atau menjelang tengah malam, akhirnya ditemukan mesin cetak Gutenberg. Di sinilah kecepatan penemuan teknologi informasi makin tinggi. Telegraf, telepon, ditemukan hampir pada menit yang sama. Kemudian dalam tiga menit berikutnya ditemukan film, radio, komputer, dan lain-lain. Lalu pada 2 menit terakhir menjeang tengah malam, ditemukan banyak yang lebih canggih, yakni satelit, kamera portabel, laptop, dan sebagainya. Lewat skala itu, ketahuan bahwa kita sedang melaju dengan akselerasi tercepat.

Perkara perbedaan periode ini pun termasuk meliputi soal perkembangan keilmuan. Beberapa ulasan terlalu mentah dan ketinggalan dari laju keilmuan kita yang sekarang. Entah apakah asumsi saya benar, tapi saya pikir wacana terkait budaya massa dan budaya tinggi di artikel pertama milik Sapardi Djoko Darmono harusnya sudah tuntas di semester pertama mereka yang belajar Culture Studies. Konsep global village juga begitu sering disinggung, seakan memang sedang hangat-hangatnya sebagaimana konsep “Eta Terangkanlah” di masa tulisan saya ini sedang dibuat.

Lalu ketika mereka bicara postmodernisme, analisa-analisa bernada panik masih menyelimuti. Memerlihatkan perbedaan selang waktu dengan respons umum keilmuan era sekarang yang sudah legawa menerimanya. Contoh kentaranya adalah Yasraf Amir Piliang dalam artikel “Visual Art dan Public Art” yang sempat sinis tatkala mengulas paradoks pluralisme dalam posmodenisme yang menolak dimensi moral bak-buruk dan sebagainya.

“…dengan tidak adanya batas-batas moral yang mengikat kebebasan ekspresi tersebut, ungkapan-ungkapan artistik cenderung menjadi dangkal, permukaan, dan miskin makna”.

“Pluralisme berarti kita tidak dapat lagi berpegang pada tradisi, mitos, dan kebiasaan-kebiasaan kultural yang dapat memberi kita nilai-nilai. Kita mungkin akan menjadi buta nilai”

Awal dekade 90-an memang masa populernya postmodernisme dengan segenap perang mulut antar ilmuwan. Yah, mungkin Yasraf kala itu belum membaca buku-buku Angela McRobbie. Wuaduh, ampun Pak, saya memang kawula muda masa kini.

 

Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012 – Ariel Uki Lukman Reza David

Tags

, , , ,

 

Pertengahan bulan lalu. saya mengajak “calon terkuat menjadi ibu dari anak-anak saya” ke Solo untuk menonton konser Noah di halaman Stadion Manahan. Beberapa kawan menunjukan respons kaget, “Demi Noah?”

Saya selalu cuma menjawab, “mumpung Noah masih terkenal”.

Semenjak album kedua, Second Chance (2014) yang diproduseri Steve Lillywhite tapi 75 persen isinya cuma lagu daur ulang, sudah terlihat gejala sekarat kreativitas. Benar saja, album berikutnya yang bertajuk Sings Legend (2016) malah isinya sepenuhnya lagu-lagu kover musisi Indonesia lawas. Habis sudah…. Serumah dengan Sophia Latjuba memang bikin hilang fokus berkarya. 

Kendati cenderung lebih sulit untuk mencari teman yang mau diminta menemani, saya selalu doyan menyambangi konser band-band arus utama seperti Slank, Sheila On 7, Gigi, Nidji, The Changcuters, J-Rocks dan lain-lain. Agak lain dari teman-teman dekat di kancah musik sekitar, saya justru lebih semangat untuk menonton band-band berpasar luas sejenis itu di stadion dibanding konser band-band arus pinggir, meski toh nantinya sama-sama bisa menikmati.

Alasannya? Sensasi dan atmosfernya jelas lain karena kita benar-benar menonton pertunjukan di tengah kerumunan orang biasa yang memperlakukan musik dengan biasa-biasa saja. Kebanyakan dari mereka datang bukan karena tugas liputan atau keperluan kerjaan, kebutuhan komunitas, jaringan perkawanan dan fansclub, pencitraan atau pun pemenuhan passion. Mereka datang sekedar karena butuh hiburan. Mereka bisa hafal dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan sang artis karena memang lagu-lagu itu yang mereka dengar setiap hari di kantor, pasar, pabrik, warnet, atau angkutan umum. Sesuatu yang tidak didapatkan ketika menonton konser Melancholic Bitch hingga Efek Rumah Kaca sekalipun.

Dan Noah adalah salah satu band Indonesia yang paling bisa melayani keinginan saya itu. Salah satu band paling dikenal dan didengar di Tanah Air (sebalnya harus selalu pakai keterangan “salah satu”, karena kita tidak punya catatan valid tentang data penjualan dan hal-hal lain yang terukur). Ariel sebagai vokalis yang sudah di level objek mistisisme ini juga punya magnet yang tidak dimiliki siapapun. Makanya band seperti ini harus lekas dinikmati terus sebelum kekuatan-kekuatan mereka ini kian surut, mumpung masih terkenal. Belum tentu kita bakal punya yang seperti mereka lagi.

Meski hampir baku hantam dengan seorang pengendara mobil sok jagoan bergaya hip hop dengan plat K (entah ini plat Klaten, Kuala Lumpur atau Kentucky) di perjalanan menuju Solo, namun akhirnya semua lumayan terbayarkan. Apalagi konser Noah malam itu gratis. Puluhan ribu orang yang bukan Kamties atau Outsider ini berkumpul segala usia dengan busana yang nir-konsep. Di sebelah saya ada ibu-ibu dengan pakaian yang mungkin biasa dipakainya ketika menyuapi anaknya sore-sore di kompleks, begitu juga mas-mas setia dengan helmnya di depan saya yang mungkin habis kelar konser bakal langsung cabut trek-trekan.

Di momen-momen seperti ini pula saya biasa menemukan pemandangan indah yang bikin adem: pasangan pacaran bermesraan yang cowoknya tidak ganteng, dan ceweknya tidak cantik…. Adilnya semesta.

Noah akhirnya cuma unjuk sepuluh lagu dan lagu favorit saya yang dibawakan hanya “Topeng” dan “Walau Habis Terang”, tapi audiens seakan diterjang nostalgia kolektif tatkala duel riff di intro lagu “Ada Apa Denganmu” menggema. Anjenx, nomor lokal terbesar di tahun 2004 ini terasa lawas banget disertai memori yang terlempar ke video musiknya yang berkonsep backward dan hujan kuyup. Bahkan, lagu ini terdengar lebih tua dibanding “Topeng” yang sebenarnya rilis di satu album lebih dulu……

Yak, malah jadi reportase konser.

Saya memang jadi tertarik baca buku Kisah Lainnya ini sekelar menonton konser itu. Buku ini ditulis di era setelah kemunculan logo Noah bikinan Herry Sutresna, namun nama Noah sendiri belum diresmikan. Periode 2010-2012 ini adalah periode terkelam bagi band ini. Diawali dari syok awal tersebarnya video seks Ariel Universe yang menyeretnya kemudian ke balik jeruji besi, pergaulannya di sana, masuknya David menjadi personel baru grup yang kala itu tak punya nama, dan juga proses penggarapan “album instrumental yang nggak instrumental-instrumental amat karena ada dua lagu dengan vokal” bertajuk Kisah Lainnya.

Secara umum, yang bisa dipastikan setelah membaca Kisah Lainnya adalah bahwa para personel Noah memang selama ini tidak salah menempuh jalan hidup. Maksudnya……… mereka memang lebih berbakat menjadi musisi dibanding penulis.

Tulisan kelima orang ini tidak buruk, tapi juga tidak terlalu menarik untuk dibaca. Kecuali punya rasa sayang atau pemujaan yang kuat dengan sosok Ariel, mungkin kisahnya menjadi tahanan Bareskrim di bab pertama tidak terlalu membuat emosi termainkan. Saya malah jauh lebih tersentuh saat mendengarkan “Tak Ada yang Abadi” atau “Walau Habis Terang” sembari berimajinasi sendiri dengan situasi-situasi dan kondisi psikologis yang harus dihadapi Ariel kala itu.

Transisi bagian cerita antara satu personel dengan personel lainnya juga kadang kala membingungkan. Personalitas masing-masing pun tidak tersampaikan. Padahal akan menarik jika kelima personel ini menampilkan gaya bahasa atau gaya tutur yang berbeda-beda…..  atau jangan-jangan sebenarnya ini ditulis oleh orang yang sama? Suuzan adalah panglima.

Ada banyak unsur kisah yang juga terdengar pretensius. Dalam kondisi budaya Indonesia yang bertopeng moralis dan posisi Noah sebagai figur publik yang sedang terguncang di tengahnya, memang sulit untuk percaya dan larut begitu saja atas apa yang diceritakan dalam buku ini meski isinya dikemas seolah curhat dan personal. 

Karena itu paparan yang kemudian saya amini dengan hati terbuka lebih pada kisah-kisah bebas nilai. Seperti sejarah berdirinya Peterpan atau proses teknis penggarapan lagu-lagu mereka. Misalnya, kita jadi tahu kalau Ariel adalah bagian dari jutaan anak muda generasinya yang mengidolai Kurt Cobain. Ini kemudian bisa kita kaitkan dengan beberapa kali pilihan kostum manggungnya dan karakter vokal pada sejumlah lagu, termasuk nomor berirama Latin-Melayu “Menghapus Jejakmu” yang ia akui menyisipkan teknik vokal ala Kurt Cobain meski sebenarnya secara umum manuver isian Ariel lebih sering terdengar seperti Liam Gallagher. Perpaduan Oasis dan Nirvana menjadi corak album pertama Taman Langit yang masih bernuansa rock 90-an hingga belakangan mulai belok kemudi ke arah britpop semacam Coldplay dan U2. 

Memilih periode gelap dengan rupa-rupa kisah tidak enak di dalamnya untuk dibukukan sebenarnya sebuah keberanian, tapi sayangnya disajikan dengan kurang luwes. Atau saya curiga rilisnya buku ini adalah keterpaksaan dan bagian dari kompromi-kompromi kontrak Noah dengan label rekaman Musica karena kevakuman force majeur di selang waktu itu, tapi ya entahlah… Astaga, uripku kok isinya curiga melulu 😦

Lokananta – Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi & Syaura Qotrunadha

Tags

, , , ,

Buku-Lokananta-600×600

Pic: Warning Magazine

* Tulisan ini dimuat di warningmagz.com

Ada beberapa kiriman surat yang meyakinkan bahwa media yang sedang Anda baca ini tidak kuper-kuper amat. Misalnya, surat teguran dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) pada terbitan edisi cetak keenam WARN!NGyang mengulas perdebatan musik haram di agama islam. Cukup dibalas dengan senyuman, ormas itu pun bubar. Kapok.

Ada juga surat dari Library of Congress, perpustakaan kelas dunia yang hendak mengarsipkan majalah dan buku terbitan WARN!NG. Kali ini WARN!NG membalas dengan senyuman yang tidak ofensif. Kapan lagi ada institusi serius yang berinisiatif mengabadikan kiprah media yang tak pernah bayar pajak? Menunggu perpustakaan nasional atau kementerian yang melakukannya? Keburu imsak.

Kerja pengarsipan adalah pekerjaan rumah negara ini sejak dahulu kala, terutama di wilayah kebudayaan. Itu kenapa kita jadi bangsa yang pelupa. Lupa sejarah, lupa budaya, kadang juga lupa diri. Andai kita punya sistem kearsipan yang baik, mungkin kita tidak perlu mengenal falsafah rakyat “lali rupane eling rasane”. Kita terbiasa cuma doyan mengonsumsi “rasa” sebagai kenikmatan abstrak yang sesaat, lalu mengabaikan “rupa” yang berwujud dan bisa diabadikan. One Night Standminded. Bajingan.

Itulah salah satu alasan buku Lokananta ini penting. Sebuah prakarsa emas dari kolektif bernama Lokananta Project. Pertama, buku ini menjadi contoh upaya pendokumentasian komponen kebudayaan nasional via literatur. Kesadaran bahwa kerja pengarsipan adalah bagian penting dari industri layak mulai ditanamkan. Kedua, Lokananta sebagai objek ulasannya sendiri adalah salah satu pusat penyimpanan karya-karya musik lawas Indonesia. Memang sedikit aneh karena Lokananta sesungguhnya bukan lembaga pengarsipan, melainkan studio rekaman dan pabrik, namun begitulah yang terjadi.

Seperti ditulis di dalam buku Lokananta ini sendiri, satu-satunya rujukan tertulis perihal arsip Lokananta hanyalah disertasi peneliti luar negeri bertajuk Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957 -1985. Maka saya mafhum akan kebutuhan putar otak bagi ketiga penulis: Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi, dan Syaura Qotrunada untuk mencari data. Tapi pada akhirnya mereka berhasil. Tiga bab yang ditulis oleh Fakhri Zakaria memuat komentar orang-orang di belakang Lokananta, baik teknisi maupun petingginya, dikombinasikan dengan pendapat penggiat media massa, musisi, hingga para pejuang arsip di ranah seni musik. Sementara itu Syaura Qotrunada mengulas perkembangan visual kemasan pada rilisan fisik yang terarsip di Lokananta. Lalu Dzulfikri Putra Malawi melengkapi dengan ulasan Gerakan Malang Bernyanyi, lika-liku rekaman Daur Baur oleh Pandai Besi, dan upaya-upaya konkret penggerak Lokananta untuk bertahan hidup ke tahun-tahun mendatang.

Ragam sisi kupasan ini yang membuat isi buku Lokananta tidak hanya mandek pada sejarah atau nostalgia melainkan juga perihal urgensi eksistensi Lokananta hari ini. Saya pikir mengkaji belantika lewat objek spesifik seperti ini lebih apik dan terbukti mendalam dibanding merilis buku-buku sejarah musik Indonesia yang serakah ingin menulis segalanya namun cuma berakhir menjadi kumpulan profil band.

Apalagi menelaah Lokananta pada akhirnya juga bukan sekadar soal industri. Lokananta adalah saksi dinamika belantika yang tidak lepas dari pengaruh sosial politik. Ini termasuk bagaimana Lokananta didirikan oleh Sukarno sebagai salah satu perangkat penyebaran budaya lokal untuk membentengi Bumi Pertiwi dari imperialisme budaya asing di era orde lama. Terpuruknya Lokananta di era 80-an juga bisa menjadi poin kasus dari analisa keputusan politik Indonesia untuk keluar dari Konvensi Berne. Hal-hal ini bisa Anda dapatkan inspirasinya dari buku Lokananta.

Akhirnya saya perlu memberikan batasan sejauh mana kapasitas amatan saya terhadap buku ini. Informasi tentang Lokananta sebelum rilisnya Lokananta memang sangat minim, sehingga saya mengaku tidak cukup punya modal pemahaman untuk memperdebatkan isi buku ini. Saya hanya sanggup urun pendapat tentang pengemasan dan penyuguhan laporan-laporan menarik itu. Alhasil, komplain-komplain saya berikutnya semata berdasar pada modal pengalaman pria dewasa yang suka membaca buku dan kebetulan ganteng.

Saya mulai dengan harapan alur bacaan yang lebih membuat nyaman. Mengintroduksikan insan-insan yang cari makan di balik jatuh bangunnya Lokananta adalah ide yang cemerlang, tapi menurut saya kurang asyik disajikan di bab terdepan setelah Pengantar. Pun banyak informasi berulang di tiap-tiap bab, sehingga naga-naganya bakal terlihat lebih matang jika konsep buku ini mengintegrasikan tiap ulasan babnya menjadi lebih pampat dan terpadu. Bukan tampak seperti artikel-artikel yang terpisah, melainkan utuh sealur dari Pengantar hingga akhir.

Selain itu kerja penyuntingan teks juga tidak memuaskan. Mulai dari perkara pisah sambungnya imbuhan di-, hingga ada yang membingungkan dari visi sang editor (jika punya) dalam memutuskan mana kata yang perlu dimiringkan dan mana yang tidak. Kata baku seperti respons, takhayul, transfer, atau digital pun dihajar miring. Sementara itu tiap kata yang dimaksudkan sebagai kata asing tiba-tiba tegak berdiri dalam bagian kalimat kutipan langsung yang seluruhnya miring. Bukan kesalahan substansial tapi sungguh bukan pemandangan indah.

Bidang layout juga punya level keluhan yang sama. Berikut adalah rincian analisa dari sobat layouter andalan saya: “Penggunaan white space-nya tidak bijak. Font terlalu besar dan jarak antar kata terlampau renggang. Selain itu ditemukan beberapa kali kekeliruan tipografi yang dikenal di jagat layout dengan istilah ‘sungai’ dan ‘widow’”. Entah apa maksud istilah-istilah itu, sobat saya ini memang sok-sokan. Dikibuli pun saya tidak akan mengerti. Tapi saya sepakat bahwa ada yang tidak enak dari tata letak teks buku ini.

Terakhir adalah soal harga. Ada kerisauan terkait kenapa buku Lokananta mesti dirilis dengan model ‘premium’, yakni dibungkus hard cover dan cetakan berwarna dengan bandrol senilai tarif kos sebulan di Jogja? Kenapa tidak dirilis dengan kemasan ekonomis dan harga yang terjangkau untuk musisi kampus yang bandnya masih bisa bubar hanya karena ada satu personel suka menunggak patungan bayar studio latihan?

Jika segmennya memang hanya untuk kolektor atau institusi, tebersit kekhawatiran akan peneguhan eksotisme Lokananta dari reputasinya sebagai studio legendaris dan bersejarah yang membangun citra ‘mahal’. Jika terlalu kuat, label-label itu bisa menjadi bumerang, termasuk menghambat Lokananta bergeliat sebagai unit budaya populer dan terjebak pada kecenderungan budaya tinggi. Mungkin cukup penting untuk membuat Lokananta terlihat lebih populis sehingga band-band muda tak perlu banyak bermimpi untuk bisa rekaman di sana. Jangan sampai Lokananta hanya selalu menjadi objek studi tur sekolah dan mahasiswa-mahasiswa yang tidak bergairah.

Terbitnya buku Lokananta sebenarnya langkah strategis untuk itu. Karena persoalan sebenarnya hanya pada kemasan dan penyajian—jika tidak merepotkan—mungkin rilis ulang bisa dipertimbangkan.

Dan jarang-jarang ‘kan ulasan buku begitu rempong soal harga? Mudah-mudahan ini bukan pandangan egois saya  karena sedang miskin.

Pergulatan Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru – Idha Saraswati dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk studi kasus lima media komunitas buku

Pic: Kombinasi.net

Masih dari kisah kasih media komunitas, buku ini adalah salah satu hasil belanjaan di Combine Research Institution. Tentu juga nangkring di daftar pustaka makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini saya yang mengangkat topik media komunitas. Tapi lebih beruntung dari buku Kolaborasi Untuk Advokasi yang sudah tersia-siakan dari ingatan saya, muatan buku ini masih kecantol di kepala. Iya dong, lha saya banyak main salin-tempel (copas) isinya ke makalah itu. Bodo amat, tidak lebih dari coret-coretan yang terbujur di meja dosen kok, tak akan sampai ke mana-mana. Sebuah hak untuk curang, ketahuan dan dihukum cambuk adalah risiko.

Selangkah lebih maju, buku ini tak lagi sekadar introduksi media komunitas. Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru mengkaji laju kembang media komunitas yang berhadapan dengan perkembangan teknologi media baru. Perihal bagaimana para penggiatnya beradaptasi dengan perkembangan media baru, baik dari proses produksi maupun pengelolaan lembaganya.

Buku ini adalah hasil riset dari Idha Sarasvati, Ferdhi Fachrudin Putra, Mario Antonius Wibowo, dan Ranggabumi Nuswantoro selaku tim peneliti. Metodologi yang dipakai adalah studi kasus terhadap lima media komunitas di Indonesia, yakni Radio Komunitas Best FM, Radio Komunitas Wijaya FM, Radio Komunitas Suandri FM, Radio Komunitas Primadona FM, dan Media Komunitas Speaker Kampung. Yang terakhir ini adalah favorit saya. Bermarkas di sebuah desa di Lombok Timur, mereka sudah punya kanal video di Youtube bernama SpeakerTV. Hipwee saja kalah. Bajinguk.

Teori yang dipakai adalah Teori Difusi Inovasi besutan Everett M. Rogers. Teori ini juga acap disebut sebagai Teori Persebaran Informasi karena memang biasa digunakan untuk menganalisis bagaimana sebuah ide atau teknologi tersebar dalam suatu masyarakat. Jadi Rogers meyakini bahwa ada pola yang bisa diprediksi dari bagaimana sebuah inovasi  terdifusi ke dalam masyarakat. Selain berfungsi untuk analisa pemasaran, teori ini bisa menjelaskan tentang kenapa misalnya sebuah teknologi sudah menjadi tren di sebuah daerah tapi masih asing di daerah lain. Selisih dan gerak persebaran itu bisa ditelaah. Artinya, teori ini seharusnya bisa juga menjawab kenapa ada manusia modern yang masih percaya bisa masuk surga hanya karena ikut menyebarkan pesan berantai di BBM. Mendingan dulu nabi-nabi jualan pulsa daripada ceramah.

Saya cukup familiar dengan teori ini. Sangat berfaedah soalnya. Penerapannya mudah. Tapi bukan untuk keperluan penelitian, melainkan untuk merendahkan teman-teman saya yang berasal dari kampung. Inilah tujuan saya disekolahkan tinggi-tinggi. Menambah perbendaharaan dan kompetensi untuk merisak orang lain.  

Rogers mengidentifikasi lima unsur yang menjelaskan seberapa jauh potensi sebuah inovasi akan diterima oleh masyarakat, yakni:

a) relative advantage: seberapa besar keuntungan yang bisa didapat dari inovasi itu dibanding inovasi terdahulu

b) compatibility: seberapa cocok dan kompatibel inovasi itu dengan calon penggunanya

c) complexity: seberapa mudah inovasi itu diadopsi atau dipelajari

d) triability: seberapa mungkin inovasi itu dicoba atau dites dahulu sebelum benar-benar digunakan secara menyeluruh

e) observability: seberapa jelas kelebihan inovasi ini akan dirasakan atau terlihat

Nah, identifikasi itu kemudian digunakan untuk membaca adopsi media baru dari kelima media komunitas yang menjadi objek studi kasus Mbak Idha dan kawan-kawan. Hasilnya, unsur-unsur itu memang memengaruhi penerimaan masing-masing media. Misalnya, adopsi media baru di Radio Wijaya FM tergolong lancar karena ke lima unsur inovasinya dominan. Berbeda dari penggunaan media baru di Suandri FM yang tak terlalu optimal karena terkendala di unsur complexity-nya. Para pengelolanya merasa media baru masih sulit dijangkau dan warga belum terbiasa. Akhirnya unsur relative advantage pun tercederai karena keuntungan dari perkembangan media baru di sana tidak signifikan dibanding perkembangan sebelumnya.

Karakter unsur relative advantage yang menarik muncul di pengelolaan Primadona FM dan Speaker Kampung. Media baru memberikan keuntungan berupa eskalasi status sosial bagi para penggiatnya. Keuntungan prestise ini membuat orang-orang di balik kedua media komunitas itu menjadi populer dan murah respek dari masyarakatnya. Jago mengoperasikan internet dan gadget di tengah masyarakat gagap teknologi bisa membuat seseorang dielu-elukan. Faktanya ini menjadi faktor penting juga.

Nah, sebenarnya bukan cuma lima unsur di atas saja isi temuan teori Difusi Inovasi ini. Kendati tak digunakan untuk menganalisa media komunitas di buku Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru, ada juga lima kategori pengguna inovasi yang dicetuskan oleh Roger. Yang ini saya salin mentah-mentah dari wikipedia saja ya, lelah sudah kedua tangan ini. Nanti malam mau fingering soalnya.

  1. Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baruHubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
  2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovatorKategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
  3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
  4. Mayoritas akhir: Kelompok zang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
  5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

Kesimpulannya, jika Anda punya kawan yang mengira GoPro itu merek motor matic, sebut saja dia laggard. Sungguh aplikatif sekali teori ini. 

 

Kolaborasi Untuk Advokasi: Pengalaman Media Komunitas Memperjuangkan Hak Warga – Aris Haryanto, dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk buku kolaborasi untuk advokasi

Media komunitas adalah salah satu bahan perbincangan yang paling banyak menarik perhatian saya dalam setidaknya satu semester belakangan. Utamanya sejak ini menjadi pilihan topik saya untuk presentasi dan tugas makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini. Saya kebetulan mendapat jatah tema besar Jurnalisme Warga, dan saya memutuskan mengambil media komunitas sebagai fokus analisisnya.

Saking niatnya berprestasi di kelas biar siapa tahu diizinkan nyokap buat sesekali bersanggama sama pacar di kamar makan, saya sampai bayar SPP dua kali lipat jauh-jauh ke Jalan Parangtritis (10 kilometer untuk orang Jogja itu terkategorikan ‘jauh’, sungguh perlu dipamerkan) ke kantor Combine Resource Institution untuk mewawancarai teman saya yang menjabat sebagai editor suarakomunitas.net, sebuah portal online yang mewadahi tulisan-tulisan dari media komunitas. Selain itu saya juga membeli beberapa buku terbitan LSM yang turut aktif mendorong munculnya media komunitas di berbagai wilayah di Indonesia sejak awal tahun 2000-an itu. Untung buku-bukunya juga murah, termasuk buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Tempat dagang buku mana di zaman sekarang di mana selembar seratus ribu bisa menebus tiga buku baru plus bonus satu buku tipis?

Nah, makalah saya sendiri berangkat dari pertanyaan besar:

Apakah Jurnalisme Warga sanggup memenuhi kebutuhan demokratisasi informasi jika masih terbelenggu oleh kepentingan bisnis media?

Dalam penelitiannya yang bertajuk Memetakan Kebijakan Media di Indonesia (2012), Yanuar Nugroho menyebutkan sebuah benteng terakhir untuk menciptakan demokratisasi ruang publik di Indonesia, yakni media komunitas. Opini Yanuar Nugroho ini sejalan dengan pertanyaan besar ihwal apakah jurnalisme warga akan tetap bisa menjalankan fungsi vitalnya andai beroperasi dalam ruang-ruang bisnis media? Segala rubrik dengan retorika “suara milik warga dan pembaca” itu tetap bersandar pada kontrol pemilik media besar yang tentu punya kuasa untuk menyaring konten yang akan dirilis. Belenggu ini yang sejauh ini belum merambah pada media komunitas.

“Menurut saya, media komunitas mempunyai peran yang sangat penting. Tetapi ini tidak dilihat oleh pengambil keputusan dan bahkan juga tidak dilihat oleh media-media besar. Media besar itu punya kecenderungan untuk merendahkan keberadaan media komunitas. Padahal sebetulnya kalo mau yang genuine, yang genuine itu adalah media komunitas” – Bimo Nugraha mantan komisioner KPI

Seperti dipaparkan oleh Jurgen Habermas, konsep media dalam perjuangan demokratisasi adalah sebagai ruang di mana publik dapat melakukan diskusi hingga pengawasan terhadap pemerintah. Semua diharapkan muncul dalam praktik media komunitas yang memfasilitasi para warga untuk bertemu di ruang publik dan mendiskusikan permasalahan kepentingan bersama tanpa paksaan, kekerasan, dan interupsi kepentingan ekonomi. Media komunitas memberikan ruang bagi peran serta warga dalam pengelolaan informasi. Keterlibatan warga dalam dunia jurnalistik membuktikan adanya hubungan dinamis antara pelaku media dan pembacanya. Selain itu, media komunitas mampu memberikan ruang bagi warga untuk menegakkan hak-hak informasinya, termasuk yang berpihak kepada warga.

Secara umum, media komunitas didefinisikan sebagai media yang menyediakan akses dan partisipasi. Istilah komunitas bisa merujuk pada sekelompok orang yang tinggal dalam suatu teritori, atau bisa juga merujuk pada sekelompok orang yang berkumpul dengan minat dan tujuan yang sama. Media komunitas beroperasi secara nonprofit dan menyediakan ruang yang terbuka bagi para anggota komunitas untuk berpartisipasi. Media komunitas berpotensi mengisi kesenjangan dalam sistem media yang ada saat ini lantaran kerap menyajikan berita atau informasi yang selama ini tidak tersentuh, bahkan tidak terpikirkan oleh media arus utama.

Lalu apa saja tantangan media komunitas?

Banyak. Mulai dari akses internet untuk media komunitas di lokasi-lokasi terpelosok, kekurangan perangkat teknologi, biaya, sampai keterampilan jurnalistik pada pewarta warga yang masih haus pelatihan-pelatihan.

Namun, jika permasalahan teknis praktik kerja dapat diupayakan secara mandiri, maka permasalahan lainnya memang masih sangat bergantung pada peran negara, yakni regulasi. UU ITE misalnya, tidak relevan karena mengandung undang-undang pencemaran nama baik disertai banyak definisi yang samar. Ini memang batu sandungan yang juga dihadapi oleh jurnalis media komersial sekalipun, namun risiko lebih besar berada di depan para jurnalis warga yang memiliki perlindungan yuridis yang lebih minim.

Apalagi kebijakan sertifikasi media telah ditetapkan oleh Dewan Pers di awal tahun 2017. Langkah ini dilakukan guna menertibkan media daring abal-abal yang tidak terdaftar,melanggar kaidah jurnalistik, dan memerangi hoax yang tersebar. Media yang lolos verifikasi akan mendapat logo khusus. Verifikasi itu berwujud barcode yang akan ditempelkan pada media yang terverifikasi dan dapat dipindai dengan telepon pintar yang akan terhubung dengan data Dewan Pers.

Kebijakan sertifikasi Dewan Pers tersebut sejauh ini dianggap ancaman oleh penggiat media komunitas . Kebijakan ini bisa menjadi langkah legitimasi bagi media-media arus utama yang lebih mudah mendapat sertifikasi kendati sebenarnya sama-sama berpeluang melakukan pelanggaran jurnalistik. Sementara itu media komunitas kemungkinan akan terkendala untuk memenuhi syarat sertifikasi tersebut. Salah satu syarat yang ditetapkan Dewan Pers misalnya adalah perusahaan pers harus memiliki modal dasar sekurang-kurangnya sebesar 50 juta rupiah atau ditentukan oleh Peraturan Dewan Pers. Syarat lain, perusahaan pers wajib memberi upah kepada wartawan dan karyawannya sekurang-kurangnya sesuai dengan upah minimum provinsi minimal 13 kali setahun. Jika merujuk pada syarat-syarat penertiban media dari Dewan Pers, sebagian besar media komunitas tidak akan mampu memenuhinya, khususnya terkait syarat berbadan hukum, modal, dan kemampuan menggaji wartawan. Media komunitas tidak menjalankan kegiatannya dengan logika industri sehingga pemahaman bahwa media yang benar adalah media yang mampu menggaji karyawannya dan harus berbentuk badan hukum tidak mungkin diterapkan oleh media komunitas. Jika wartawan dibayar, statusnya akan tertukar dengan jurnalis profesional. Standar verifikasi media yang bekerja untuk perusahaan dan komunitas seharusnya disesuaikan. Perlu juga adanya pembahasan antara asosiasi media komunitas Dewan Pers untuk mengakui keberadaan pemain-pemain di luar media arus utama.

Oke, saya malah membahas isi makalah saya. Lha jujur saja saya lupa isi buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Pokoknya tiba-tiba saja ada di daftar pustaka makalah tadi. Berarti kemungkinan besar itu buku bagus, soalnya saya orangnya pemilih.

Sekian~

Budaya Populer Sebagai Komunikasi – Idi Subandi Ibrahim

Tags

, , , , , , ,

Image result for budaya popule rkomunikasi buku

Isi buku ini lebih berakar pada ranah keilmuan kajian budaya (cultural studies), bukan ilmu komunikasi, walau kemudian jelas keduanya bagaikan saya dan rukun islam: tak terpisahkan. Tentu saja takdir budaya populer memang senantiasa bergantung pada aktivitas media dan penyebaran informasi. Produk budaya apapun mustahil menjadi populer jika tak dikomunikasikan. Terkait batasan pemaknaan budaya populer yang selalu bernegosiasi antara otoritas khalayak dan produsen, Idy sepertinya mengambil posisi yang lebih pesimis. Artinya, budaya populer di matanya cenderung adalah konstruksi atau kesengajaan dari pihak industri, terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang menurutnya belum kritis dan masih merem media. Sudut pandang ini cukup terbaca dari orientasi pemikiran tiap bab di buku ini.

Saya gagal menyelesaikan buku ini. Selain gaya layout terbitan Jalasutra yang sepertinya butuh diruwat, penyajian isi di dalamnya terasa kurang apik. Idy Sundari memang lincah memasukan kutipan-kutipan teorikus kajian budaya yang berkompeten dibalut dengan opini-opininya sendiri, tapi sayangnya itu tidak dijahit menjadi narasi yang rapi terorganisir. Hampir selalu terlalu banyak gagasan dalam satu bab hingga kerja intelektualitas kita harus berkelok-kelok mengikutinya. Misal singgung-singgungan pornografi mendadak bertemu topik migrasi simbolik yang menyeret contoh masalah tren seleb pakai jilbab di saat lebaran tiba. Bukannya tidak nyambung, tapi kurang santai perpindahan ulasannya. Entah Idy ini kebanyakan ilmu atau apa. Ramainya buah pikir yang tidak dikemas baik akhirnya malah berujung pada konklusi-konklusi kritis yang umum dan tidak lagi baru. Misalnya perihal bias pemberitaan gender dari editorial media massa, musik subkultur sebagai resistensi musik indutri arus utama, tirani kebudayaan oleh TV, bahaya konsumerisme, komodifikasi agama, hingga konstruksi standar kecantikan di televisi yang bahkan sudah dihafalkan luar kepala oleh seantero penggemar Seringai.

Agaknya buku ini cocok untuk mengoleksi detail-detail pemahaman isu-isu terkait yang didukung contoh-contoh empiris, termasuk kasus-kasus di Indonesia. Namun, Budaya Populer Sebagai Komunikasi tidak memperkenalkan gagasan besar yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Jangan sampai buku ini justru menyiratkan kemandekan laju keilmuan kajian budaya. Kasihan, sarjananya sudah terlanjur banyak.

Pias – Aris Setyawan

Tags

, , , , , ,

Hasil gambar untuk pias aris setyawan

Pic: Bukuakik 

Rasa-rasanya kok ingin mengundang rombongan ibu-ibu majelis taklim ke rumah untuk menggelar pengajian dan bersama-sama menugasi mereka mendoakan buku ini. Terbitan kedua Warning Books ini punya masalah besar dengan peruntungannya. Ketiban sial. Benar-benar ketiban. Saking keras jatuhnya, sampai sering ada suaranya, “Jancuk! Kok iso ngene to?” Begitu.

Lantaran penerbitnya sudah seperti keluarga sendiri, saya jelas mengikuti kiprah buku ini. Cukup kaget tatkala menemui beberapa resensi serius terhadap Pias cukup sadis dalam melempar kritikan:

“Kalau boleh jujur, esai-esai Aris justru lebih banyak kelirunya daripada benarnya” – Erie Setyawan (Ruang)

“Buku ini lebih mirip curhat seorang mahasiswa dalam melihat situasi zaman, terutama dalam konteks seni (musik) dan kebudayaan di negeri ini. Beberapa pandangan di dalamnya masih perlu dikaji ulang” – Aris Setiawan (Kedaulatan Rakyat)

Kesimpulan paling ilmiah: Aris Setyawan kurang shalat.

Kesimpulan paling rasional: Ada konspirasi antara Erie Setyawan dan Aris Setiawan untuk menjatuhkan nama Aris Setyawan. Selain punya nama yang cuma selisih satu-dua abjad, ketiganya pun sama-sama berkutat di bidang etnomusikolog. Ini menjadi motif sangat kuat bagi mereka untuk bersaing dan saling menjatuhkan. Begitu.

Kritik dalam karya memang biasa dan bahkan diperlukan, tapi dampak terhadap sepak terjang atau penjualan pastinya tidak bisa diabaikan. Celakanya, bahkan buku ini sudah apes sejak dalam dirinya sendiri. Kata Pengantar dari Erie Setyawan (Iya, beliau lagi. Namanya juga persaingan) dan Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca) di dalamnya tak kalah tebal hati dalam mengkritisi. Dibunuh dari dalam, bahkan sebelum halaman satu.

Cholil mengeluhkan pemetaan tema dalam artikel-artikel Aris yang menurutnya seharusnya bisa dipadatkan menjadi satu-dua topik yang sama agar pembahasan lebih bisa mendalam. Sebenarnya saya agak bingung dengan saran Cholil karena Pias pada dasarnya memang kumpulan tulisan yang tidak tematik. Selain itu sang vokalis  sesungguhnya juga luput tatkala memilih istilah “dualitas” dalam komentarnya untuk merujuk pada kecenderungan Aris dalam melihat segala sesuatunya dengan dikotomi hitam dan putih. Yang benar adalah “dualisme” jika maksudnya memang ingin bicara ihwal dua hal yang bertentangan.

….begitu hebatnya (atau konyolnya?) saya malah mengkritisi Kata Pengantar.

Di sisi lain, Erie Setyawan dalam Kata Pengantar desertir itu juga sampai hati menulis bahwa Pias akan bisa menemui kegagalan karena menggunakan logika yang tak tersusun untuk membaca persoalan atau “melalaikan fakta empiris etnografis”. Ia mengaku belum bisa menemukan benang merah penghubung pengalaman empirisnya dengan peristiwa yang disampaikan dalam Pias.

Tentu saja saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memahami isi kritik-kritik mereka jika wilayah perdebatannya sudah pada tataran ilmu etnomusikologi. Awam dari etnomusikologi membuat saya sejujur-jujurnya tidak engah dengan hal-hal yang diperkelirukan oleh Erie Setiawan dan Aris Setiawan (jangan tertukar, fokus please ah!). Sebelumnya saya biasanya ya cuma manggut-manggut membaca tulisan Aris. Halah, apalagi kamu yang literasi wacana seni musiknya sebatas situs kord gitar. 

Sesama doyan menulis artikel tentang musik, Aris Setyawan akrab dengan kacamata kajian budaya dan etnomusikologi, sementara saya sekadar menulis musik dengan pendekatan gaib jurnalisme hiburan yang lebih pop. Maka setidaknya beberapa gagasan menarik pada Pias, seperti isi artikel “Makna Musik Mana yang Kita Bela” tetap terdengar baru untuk saya. Ia menulis tentang masa di mana penikmat musik sering menilai konser musik berdasarkan seberapa mirip performa panggungnya dengan hasil rekaman materi rilisannya. Ini menarik karena bagi saya justru yang lebih sejati adalah musik live. Rekaman seharusnya justru semata upaya imitasi dari konser live

Sambatan saya tentang buku ini kemudian memang lebih pada konsep penyajiannya. Kumpulan tulisan ini tidak punya benang merah sama sekali selain bahwasanya ini tulisan Aris dan garis besar topiknya adalah seni dan budaya. Yup, seni dan budaya!!! Sungguh tidak membantu.

Maka 38 artikel di dalamnya seakan berhamburan begitu saja tanpa kategorisasi lebih jauh. Urutannya pun justru terbalik, yakni dari artikel paling terkini dirilis menuju artikel paling lawas dirilis. Padahal jika iktikadnya ingin menjelaskan proses kembang intelektualitas Aris, sebaiknya disusun sebaliknya.

Selain itu, saya juga mengambil hikmah bahwa terlalu berisiko untuk menerbitkan kumpulan tulisan jika Anda tidak lebih terkenal daripada Felix Siauw. Buku semacam Pias ini seharusnya memang menjual sosok penulisnya. Tentu sulit bagi Aris yang belum pernah kedapatan masuk berita Line TODAY. Apalagi kover buku dengan ilustrasi memesona ini hanya menampilkan tulisan “PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya”. Hampir tidak ada alasan orang tertarik membelinya kecuali sudah kenal lebih dulu dengan Aris (yang sialnya juga, nama beliau ini kok ya sungguh pasaran). 

Itulah kenapa saya cuma selalu senyum basa-basi saja ketika beberapa orang meminta saya menerbitkan kumpulan tulisan. Pertama, saya belum punya fans clubKedua, teman saya lebih banyak yang penjual buku daripada pembaca buku. 

Pada dasarnya saya juga mulai merindukan buku-buku yang konsepnya bukan kumpulan tulisan. Bukan hal buruk, tapi saya lebih menyukai buku yang memang isinya tumpah ruah gagasan yang fokus terhadap objek spesifik secara utuh dan terpadu. Karena kedalaman yang berasal dari ruang kuantitas kata tak terbatas dari format buku inilah sebenarnya faktor utama yang membedakannya dengan artikel-artikel daring.

Sebagai rekan penulis satu penerbit, selamat Aris, saya tetap sering pakai Pias untuk bahan tugas kuliah. Untung dosen saya bukan etnomusikolog dan namanya tidak menyerempet aris atau setyawan.

Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer – Dominic Strinati

Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk buku budaya populer

 

Buku ini saya baca utuh hanya demi menyiapkan diri untuk melakoni presentasi mata kuliah Kajian Budaya Media di kampus. Mata kuliah yang diampu oleh yang terhormat Mas Budi Irawanto ini adalah favorit, kendati bikin puyeng sekelas. Bukan rahasia jika keilmuan Kajian Budaya (Culture Studies) lebih muskil dari semesta ilmu sosial lainnya. Sejauh-jauhnya dari eksak, saingan beratnya filsafat. Mempelajari Kajian Budaya seperti menyimak orang bertengkar. Si ilmuwan A bilang A, dibantah si B, disangkal si C, dibalas lagi oleh si D, ditikung si E, ditusuk dari belakang sama si F, dan seterusnya sampai kiamat kubra. Tidak ada yang dianggap sebagai kebenaran bersama. Jangan berharap Kajian Budaya memberikanmu kepastian.

Lebih-lebih, begitu sudah mulai mantap dengan salah satu perspektif, eh akhirnya bingung juga mau diterapkan untuk apa. Jangan-jangan fungsi teori-teorinya memang hanya untuk jadi modal para ilmuwan itu berantem tadi. Visi-misi pengabdian keilmuan mereka cuma satu: tidak kalah debat.

Dan ilmu yang di luar sana biasa dipelajari di satu jurusan tersendiri ini kemudian harus saya pahami hanya dalam satu mata kuliah: 14 kali pertemuan… dan saya bolos setengahnya.

Saya pun kebagian jatah presentasi topik “Politik Budaya Popular: Antara Populisme dan Resistensi” yang kebetulan memang relevan dengan isi bukunya Dominic Strinati ini. Di bawah ini saya cuma merangkum isi presentasi saya kemarin. Lanturan panjang lebar yang semata untuk menjawab pertanyaan sederhana: apa itu budaya populer? (kalau memang nggak ingin tahu, mending enyah saja dari sini. Panjang soalnya)

Jadi begini….

Budaya populer awalnya hanya diidentifikasikan menjadi dua pengertian, yakni jenis karya inferior atau karya yang sengaja dibuat untuk disukai orang. Sementara dalam versi definisi yang lebih mutakhir, budaya populer dimaknai sebagai kebudayaan yang dibuat oleh orang-orang untuk kepentingan mereka sendiri. Namun, di antara dua rentang pemikiran itu terdapat banyak pergelutan mahzab yang satu sama lain bisa kita pinjam untuk menganalisa entitas-entitas dalam wilayah budaya populer.

Kesadaran akan budaya sebagai sebuah produk dirumuskan pada awalnya di era pasca-revolusi industri lewat Teori Budaya Massa yang merupakan konsekuensi dari urbanisasi dan industrialisasi. Lewat konsep ‘diatomisasi’, sebuah masyarakat massa dilihat sebagai orang-orang yang kurang punya hubungan satu sama lain yang bermakna dan koheren secara moral. Hubungan-hubungan mereka bersifat kontrak, berjarak, sporadis, dan tidak komunal. Inti proses atomisasi adalah runtuhnya organisasi-organisasi sosial perantara. Teori masyarakat massa menunjukan potensi terbuka bagi adanya propaganda massa, atau bagaimana peluang kaum elit memanfaatkan media massa untuk membujuk, mengeksploitasi atau memanipulasi masyarakat secara sistematis. Ini adalah konsekuensi dari masyarakat yang mengalami diatomisasi sehinga terbuka dalam menerima kekuatan persuasi atau manipulatif.

Budaya massa berasal dari atas ke bawah, khalayaknya adalah para konsumen pasif yang perannya hanya membeli atau tidak membeli.  Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan dari khalayak konsumen. Budaya massa diproduksi untuk pasar massal. Pertumbuhan budaya ini memperkecil ruang bagi budaya yang tidak menghasilkan uang dan diproduksi secara massal, misalnya kesenian tinggi atau budaya rakyat. Karena penentu budaya massa adalah keuntungan, budaya massa tidak akan diproduksi jika tidak menguntungkan. Lantas, teknik produksi massal dan keharusan mencari keuntungan komersial dipandang memiliki pengaruh yang merusak dan menurunkan martabat budaya.  Budaya massa adalah budaya standar, formulaik, berulang, dan bersifat permukaan. Budaya massa tidak memiliki tantangan dan rangsangan intelektual.

Para pemikir dari Mahzab Frankfurt lantas mengembangkan logika arus vertikal dari budaya massa menjadi teori yang lebih jauh menguliti kuasa kaum elit dalam otoritas kebudayaan. Beberapa perbedaannya dengan Teori Budaya Massa misalnya bahwa kebutuhan-kebutuhan sejati tidak dapat direalisasikan di dalam kapitalisme modern karena adanya kebutuhan-kebutuhan palsu yang harus dilahirkan oleh sistem ini untuk tetap bisa bertahan. Kebutuhan palsu menindas kebutuhan sejati sebagai pengorbanan untuk memenuhi konsumerisme. Hal ini terjadi karena orang tidak menyadari bahwa kebutuhan sejati mereka belum terpenuhi. Mahzab Frankfurt memandang industri budaya menjamin penciptaan dan pemenuhan kebutuhan palsu. Menurut Mahzab Frankfurt, industri budaya mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi asas pertukaran, dan meningkatnya kapitalisme monopoli negara.

Menolak tendensi melihat konsumen sebagai pihak pasif dalam pertarungan budaya seperti yang dianut dalam dua teori sebelumnya, John Fiske dengan sederhana memberikan definisi tentang populer sebagai sesuatu yang diproduksi ’demi rakyat kebanyakan’. Artinya sebuah produk atau karya apapun yang diciptakan untuk kalangan kebanyakan akan sangat tergantung sepenuhnya kepada pemaknaan yang diberikan oleh mereka sehingga tidak semua produk masif industri bisa menjadi bagian dari budaya populer. Lebih lanjut Fiske menjelaskan:

“Budaya populer secara tipikal terikat pada produk dan teknologi budaya massa, tetapi kreativitasnya berada dalam cara-cara menggunakan produk dan teknologi tersebut, bukan dalam proses produksinya. .Budaya massa industrial bukanlah budaya populer meskipun ia menyediakan sumber kultural bagi lahirnya budaya populer. Budaya populer secara khusus melibatkan seni membuat dari apa yang tersedia”.

Sejumlah teori awal kerap memandang khalayak sebagai korban penipuan pasif tanpa berpikir, terbuka bagi manipulasi pengendalian ideologis oleh media massa. Sementara itu populisme memandang khalayak sebagai orang yang sadar dan aktif mengonsumsi media demi kepentingan mereka serta menginterpretasikan kembali pesan-pesan yang disebarluaskan oleh para produser budaya. Jika elitisme telah menganggap khalayak begitu pasif dan rentan, maka populisme memposisikan khalayak sebagai pihak aktif yang memiliki kepekaan subversif.

Graham Murdoch dan Peter Golding pada gilirannya mengemukakan perspektif ekonomi politik dalam analisis media massa dan budaya populer. Ini berangkat dari anggapan bahwa sosiologi kelas gagal dalam usahanya mengatasi peranan media massa. Meski mereka sadar dalam ketidaksadaran kelas, tapi tidak menyadari seberapa penting media massa dalam melegitimasi ketidaksadaran kemakmuran, kekuatan, dan hak istimewa. Media membuat ketidaksetaraan menjadi tampak alami dan tak terelakan. Murdoch dan Golding menganggap Mahzab Frankfurt melebih-lebihkan sifat otonom bentuk-bentuk budaya. Sikap itu dianggap mengabaikan pengaruh mendasar dari produksi material budaya populer, maupun relasi ekonomi di dalamnya. Misalnya Adorno pernah mengatakan bahwa industri musik pop di Amerika hanya diteliti hasil-hasilnya, tanpa memerhatikan bagaimana sebenarnya industri kapitalis memproduksi musik.

Kritik yang diberikan oleh kelompok politik ekonomi telah menimbulkan krisis paradigma yang berasal dari ‘pertentangan-pertentangan’ sehingga sempat menimbulkan kekhawatiran arah pemikiran dalam Kajian Budaya. Angela McRobbie menyebut peristiwa tersebut sebagai ‘krisis paradigma’ yang terjadi pada dekade 90-an. Untuk menengahinya, McRobbie mengusulkan agar para pengkaji budaya populer dalam perspektif Kajian Budaya kembali menilik pemikiran Antonio Gramsci perihal hegemoni sebagaimana yang pernah dipopulerkan oleh Stuart Hall.

Pemikiran neo-Gramscian ini lalu juga berupaya menengahi perdebatan antara perspektif yang melihat audiens sebagai pihak yang aktif atau pasif dalam kerja budaya populer. Titik tekan dari perspektif neo-Gramscian adalah bahwa ada dialektika antara proses produksi yang bisa jadi dipengaruhi kekuatan modal, ideologi dan politik tertentu dengan proses konsumsi. Di satu sisi ada kepentingan-kepentingan tertentu yang akan disampaikan produsen lewat produk budaya yang diharapkan menjadi budaya populer. Di sisi lain, konsumen juga melakukan proses pemaknaan terhadap apa-apa yang ada dalam produk budaya tersebut. Dalam perspektif hegemoni neo-Gramscian, budaya populer merupakan sebuah medan pertarungan dan negosiasi berbagai kepentingan, baik kepentingan kelompok dominan, subordinat ataupun oposisi. Kelompok pemerintah, misalnya, tentu ingin tetap mempertahankan kuasa dan kepentingan hegemoniknya sehingga mereka terlibat kontestasi dalam budaya populer.

Balik ke pertanyaan awal: apa itu budaya populer? Pada akhirnya kita memang tidak dapat menimbang budaya populer lewat alur historis sederhana. Dalam pandangan yang beraneka ragam, salah satu cara terbaik adalah menggambarkan berbagai macam aspek dari pendekatan yang berbeda-beda untuk menghasilkan suatu perspektif yang lebih memadai tentang budaya populer.

Nah, setelah mengikuti anggar mulut dari masing-masing perspektif di atas, saya mengambil posisi untuk meyakini bahwa budaya populer melibatkan dua unsur, yakni produksi dan praktik. Jadi budaya populer adalah produk budaya yang direspons balik oleh khalayak. Sesuatu yang diproduksi massal kalau hanya dikonsumsi secara pasif atau malah diabaikan begitu saja berarti tidak termasuk dalam budaya populer.

Tapi itu menurut saya lho—yang cuma tujuh kali ikut mata kuliah ini, dan setengahnya datang telat.

Karena sekali lagi, jangan berharap Kajian Budaya memberimu kepastian.

Dodolit Dodolit Dodolibret – Cerpen Pilihan Kompas 2010

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk dodolit dodolit dodolibret

Mahbub Djunaedi, mantan ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sempat mengatakan bahwa jurnalistik memerlukan sastra sebagai penunjang. Ia menemukan keleluasaan kerja kreatif penulisan sastra untuk mewadahi ekspresi jurnalistik.

Saya setuju. Saya tak pernah bermimpi barang semalam pun untuk jadi sastrawan. Namun, tetap saja membaca buku sastra adalah kebutuhan menjaga kualitas penulisan, meski yang saya tulis misalnya cuma artikel berita pendek Chelsea Islan diduga jadian dengan acar pempek.

Dan lagi-lagi libur membaca karya sastra dalam waktu setahun lebih membuat tulisan saya menjadi kaku—kayak bapaknya doi. Apalagi waktu selang itu dihabiskan dengan membaca buku-buku kuliah dan jurnal yang jelas memakai ragam bahasa ilmiah dan diksi preskiptif ala strukturasi, komodifikasi, pluralisasi, teorisasi, barmetunjerokoktelatsesasi dan -asi -asi yang lain. Ini makin terasa ketika kemarin menggarap proyek puisi bersama kawan-kawan seniman yang akan dibukukan nantinya. Jangankan sastrawi. Niat menulis kalimat sajak, keluarnya kalimat syahadat.

Syahdan, akhirnya saya mencoba memulihkan sisi humanis tulisan saya dengan membaca Cerpen Pilihan Kompas. Pada seri tahun 2010 ini, redaksi mengembalikan otoritas kurasi ke tangan para editor dan redaksi Kompas sendiri. Selama lima tahun sebelumnya, mereka memang mencoba mendelegasikan kurasi pada para pakar sastra luar sehingga mengubah judul Cerpen Pilihan Kompas menjadi Cerpen Kompas Pilihan. Sekembalinya format lama ini lalu membuat Kompas lebih bebas mengusung prinsip non-fanatik terhadap satu kecenderungan tulisan, sehingga 18 cerpen yang termaktub dalam antologi ini bernar-benar menjadi beragam warnanya.

Lagi-lagi Seno Gumira Ajidarma. Setelah “Mayat Yang Mengambang Di Danau” pada Cerpen Pilihan Kompas di tahun 2012 dan “Aku Pembunuh Munir” di setahun berikutnya menjadi cerpen yang meninggalkan kesan lebih bagi saya, kali ini cerpen bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” memenangkan selera saya dan Kompas sekaligus. Bukan cuma ketenaran, tapi mungkin pendekatan realisme sosialnya memang pas di hati. Nama Seno Gumira Ajidarma selalu jadi unggulan di antara barisan nama lain pengisi cerpen Kompas.

Karya Seno bertajuk “Dodolit Dodolit Dodolibret” ini adalah cerpen dengan kekayaan interpretasi paling berlapis yang pernah saya baca. Isinya berkisah tentang seorang bijak spiritual bernama Kiplik yang menyambangi satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan tata cara doa yang benar pada manusia. Baginya, seseorang memang harus membaca doa dengan benar:”Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?,” ujarnya.

Pada pertengahan narasi, Kiplik sampai pada sebuah kaum terpencil yang melakukan praktik doa jauh dari kebenaran versinya. Ia merasa ini adalah akibat dari keterkucilan geografis atau ketertinggalan budaya dari kaum tersebut. Kiplik pun resah, merasa kasihan, sampai akhirnya ia justru menemukan kenyataan yang mengejutkan.

Mudah untuk kita bisa menebak ke mana arah konflik cerpen ini bisa disinggungkan dengan isu sosial di kehidupan nyata, yakni soal pluralisme agama. Cara pandang paling ekstremnya adalah tesis sekular bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Namun, bisa juga kita membacanya mirip dengan artikel “Warisan” milik Afi yang belakangan kontroversial, yakni kebutuhan toleransi dalam menyikapi argumen kebenaran dari tiap kepercayaan.  Penggunaan kata “benar” yang  diulang berkali-kali di cerpen ini menunjukan penegasan sifat dogmatis dalam masing-masing agama. “Dodolit Dodolit Dodolibret” sangat menggelitik dan relevan untuk hari ini, di mana militansi masyarakat terhadap agama masing-masing mulai mempersulit titik temu kebenaran religi yang universal.

Kadang kita juga gemar menginterpretasikan mitos atau dongeng sebagai perlambang sesuatu yang sebenarnya logis. Misalnya kisah Malin Kundang sebagai pengingat bakti kepada seorang ibu atau kisah-kisah dramatis rasul sebegai penyedia nilai moral bagi para umat. Di awal pergulatan pemikirannya, Kiplik juga beranggapan hal yang sama, sampai akhirnya ia menjadi saksi langsung kebenaran konkret dari mitos-mitos yang didengarnya.

Akhirnya cerpen ini juga merupakan sindiran bagi saya yang menunjukan penolakan terhadap hal-hal gaib. Ya mau bagaimana lagi, bukannya sombong, tapi yang begituan memang omong kosong kok. Semua.. kecuali  paranormal Ulfa yang sampai saat ini masih berusaha membuat Jupe hidup lagi. Ya ampun, kalau ia berhasil ‘kan kita bisa sekalian minta menghidupkan Sukarno, Munir, Gus Dur, Kasino, atau saksi-saksi korban 1965.

Selain “Dodolit Dodolit Dodolibret” yang memang jelas bagus secara konsensus, puisi pilihan saya lainnya adalah “Sirajatunda” garapan Nukila Amal. Sesuai tajuknya, cerpen ini mengambil tokoh utama seorang penulis yang gemar menunda-nunda aktivitas, salah satunya ketika hendak menulis. Dan ia selalu menyalahkan faktor-faktor di luar dirinya sendiri, mulai dari istrinya, nyamuk, jus nanas di kulkas, notifikasi email, dan sebagainya: “Kupikir semua mereka lahir ke dunia untuk bersekongkol memberantas karya artistik manusia”.

“Sirajatunda” menampilkan premis yang sederhana namun sangat bertalian dengan kehidupan kita. Jangankan gangguan dari pihak luar. Semisal saya sengaja menyewa penjara agar khusyuk menulis saja belum tentu aman dari tertunda-tunda kalau masih ada jaringan internet tersambung. Saya pun menduga Nukila Amal mendapatkan ide cerpen ini usai kelimpungan dengan godaan berselancar di Google, cek status gebetan di Facebook, atau mengunduh unggahan terbaru di Krucil.net. Tak apa, saya sangat paham betul.

Buktinya, tulisan ini juga baru saja kelar. Padahal tidak ada isinya. 

 

1. La La Land

Tags

, , , , , , ,

Image result for la la land poster

Damien Chazelle

Musikal, Drama

Berkat kekuatan buah bibir dan resensi media massa yang mendegam-degam, La La Land menjadi film pertama yang sanggup membuat saya deg-degan sebelum menonton. Ekspektasi meluap-luap, bagaimana kalau ternyata film ini jelek? Bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa sebahagia orang lain ketika menonton film ini? Dengan harapan yang sudah setinggi tarif pajak STNK dan BPKB hari ini, saya tidak siap dikecewakan.

Keluar dari bioskop, saya merasa benar-benar “keluar dari bioskop”. Saya tidak ingat kapan pertama kali saya menonton langsung layar lebar, tapi baru kali ini saya merasakan pengalaman menonton sinema yang sebegitu otentik meski tanpa popcorn dan ciuman—bibir sibuk menggerutu karena ada orang brengsek di sebelah saya yang dengan bawelnya sok ikut melafalkan dialog La La Land yang sudah dihafalnya. Rasanya semua unsur visual di film ini berasas kesadaran dinikmati orang yang bayar tiket. Meski koreografi, humor, bahkan iringan musiknya bagi saya masih jauh dari Singin In the Rain, namun segala atraksi pengambilan gambar di dalam La La Land mengagungkan lagi film sebagai sinonim dari ‘gambar hidup’. Sebagai sesuatu yang ditonton, film ini juara. Sebagai sebuah karya artistik, film ini adiluhung. Saya tidak dikecewakan di pengalaman pertama.

Lalu di pengalaman kedua menontonnya kembali, dan kali ini di layar sempit sehingga indra penglihatan tidak terlalu dimanjakan, sial, saya juga tidak dikecewakan. Ternyata film ini juga punya naskah yang bagus.

Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) bertemu di momen yang tidak berpihak pada asmara yang bermasa depan, yakni di kala keduanya masih dalam tahap memperjuangkan cita-cita masing-masing. Satu sama lain harus berbagi hasrat dengan pihak ketiga, yaitu mimpi. Yang satu dengan seni musik, yang satu lagi dengan seni peran. Yang satu berkonflik dengan idealisme, yang satu lagi masih sibuk mengejar capaian karir. Mulanya keduanya saling mendukung satu sama lain, di mana ambisi itu justru menyatukan mereka. Namun, perlahan ambisi itu justru putar balik membuat mereka bergerak ke kutub berbeda. Ikatan hubungan menjelma kebutuhan-kebutuhan kompromi yang memborgol, termasuk perkara waktu, jarak, prioritas, ego, dan proyeksi-proyeksi realistis. Seni memang perlu banyak mengorbankan sesuatu, atau justru “segalanya”—jika menurut Bastian. Alhasil, Sebastian dan Mia dipisahkan oleh apa yang mempertemukan mereka: mimpi.

Dalam kasus La La Land, cita dan cinta bukan satu paket yang bisa dimiliki oleh dua sejoli. Rumusnya jelas, seseorang harus mengalah. Ini tidak bisa digeneralisir, tapi jelas terjadi di banyak orang. Ihwal ending yang menawan itu, apakah keduanya kecewa dengan pilihan akhir masing-masing? Yang pasti ini relevan dengan tesis saya dan kawan-kawan sedari dulu bahwa salah satu trik paling curang tapi umum dilakukan jika Anda ingin lebih sukses sebagai seniman adalah menikah dengan non-seniman yang kaya raya.

Related image

Tak diragukan juga jika duet akting Gosling dan Stone amat memesona, sampai saya sempat lupa jikalau keduanya memang aktor dan aktris, bukan pianis jazz dan bakal aktris. Dan lagi-lagi Gosling, memandanginya diam selama tiga detik saja sudah pasti membuat saya terpingkal, apalagi setiap adegan ekspresi melempar senyum kecut sambil mengangkat sebelah alisnya. Karakter musisi yang sibuk bernegosiasi dengan idealismenya demi mencari sesuap nasi yang ia perankan begitu menarik hati. Simak mimik berserahnya dalam kejemuan memainkan tut-tut yang tidak eksploratif, baik saat di kafe maupun kala memainkan “Take On Me” dan “ I Ran” di bandnya, sungguh lebih jenaka dibanding raut wajah kerumunan korban salah penyebutan pemenang kategori Best Picture di panggung Oscar. Ini juga menjelaskan bahwa para musisi arus utama yang memainkan musik bermutu rendah di luar sana itu belum tentu punya masalah dengan selera. Mereka sebenarnya bisa membedakan antara produk yang layak dikonsumsi dan ‘sampah’, namun apa daya adanya alasan urgensi ekonomi hingga demi mencari pengakuan keluarga atau mertua.

Dan tuduhan white saviour pada film ini juga masih perlu dipertimbangkan lagi, karena Sebastian tidak terlalu digambarkan heroik terkait upaya mengamankan musik jazz. John Legend sebagai pemeran Keith mengatakan,”Saya tidak berpikir bahwa Sebastian terlihat sebagai ‘the savior people’ seperti yang dikatakan. Ia adalah karakter yang sedikit gelap dan keras kepala, namun ia juga pria yang menyenangkan. Sebagian dari kisah ini adalah kisah cinta, dan alasan kenapa ia menjadi begitu keras kepala mungkin ia dapatkan dari perjalanannya jatuh cinta.” Memang justru sisi lugu dan kekanak-kanakan Sebastian dan Mia ini yang membuat kisah La La Land amat manis. Oh, saya justru salah satu yang curiga jika kemenangan Moonlight di Best Picture adalah tendensi sebenarnya, sebuah upaya penyelamatan wajah Oscar yang coreng moreng di hadapan khalayak kulit hitam? Apakah insiden Faye Dunway- Warren Beatty itu juga berdasar narasi perebutan trofi Oscar dari kulit putih? Kurang drama apalagi hidup kalian?

Lagipula apa benar jazz perlu diselamatkan segera? Ia justru sedang meruah-ruah di jalur sinema beberapa tahun terakhir. Selain Whiplash yang marak dua tahun sebelumnya, saya juga belum lama menonton beberapa film yang mengangkat kisah legenda jazz seperti Miles Davis (Miles Ahead) dan Chet Baker (Born To Be Blue). Siapa tahu masa depan musik jazz memang berada di rengkuhan layar lebar?

Keith: “How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future”.

Jazz mungkin memang sedang sekarat, tapi saya percaya tidak akan mati. Dalam perspektif postmodernisme, tren budaya akan selalu berputar. Produk seni terus didaur ulang sembari menanti momentumnya. Dan di antara sirkulasi itu, sesekali muncul karya anyar yang menciptakan kekaguman sentimental dan mengingatkan pada karakter yang dianggap otentik. Misalnya, munculnya album Is This It dari The Strokes yang menghidupkan musik garage rock 70-an di dekade 2000-an.

Riff simpel + sound kasar + lirik metropolitan + jaket kulit + kacamata hitam : ROCK & ROLL

Contoh lain lagi?

La La Land

Aktris dan musisi yang saling jatuh cinta + jazz + dansa di antara bintang-bintang + mimpi Hollywood + ekspresi Ryan Gosling: SINEMA

Best Lines :

Sebastian: Alright, I remember you. And I’ll admit I was a little curt that night.

Mia: “Curt?”

Sebastian: Okay, I was an asshole. I can admit that. But requesting “I Ran” from a serious musician, it’s just, it’s too far.

 

After Watch, I Listen: Norah Jones – Tragedy