Parlemen atau Soviet – Tan Malaka

Tags

, , ,

Dari catatan bibliografi yang tersebar luas sih ini buku Tan Malaka yang pertama. Dirilis di tahun 1921, era Pramoedya Ananta Toer saja belum lahir, dan tujuh tahun setelah PKI terbentuk pertama kali. Namun, itulah yang membuat Tan Malaka spesial. Ia sudah menuliskan hal-hal yang modern, tajam, dan realistis jauh sebelum era mekarnya barisan pemikir-pemikir Indonesia.

Pada buku ini, Tan Malaka mengkritik sistem parlemen sebagai unsur pemerintahan. Berpuluh tahun sebelum kita muak dengan kelakuan DPR, ia sudah menulis bahwa parlemen tak lebih dari sekadar warung tempat orang adu kuat berbicara. Dan di akhir, ia membandingkan dengan sistem pemerintahan soviet yang menurutnya lebih ideal dan menghindarkan kekuasaan dari beragam bentuk penyelewengan.

Di Balik Marx: Sosok dan Pemikiran Friedrich Engels – Dede Mulyanto (Editor)

Tags

, , , ,

Satu lagi contoh tokoh intelektual yang jelas-jelas lahir dari latar belakang borjuis. Tepatnya pada 28 November 1820, Friedrich Engels lahir dan tumbuh di tengah bisnis orangtuanya yang berpusat pada produksi tekstil di pusat industri manufaktur berkembang pesat, dan melebar dari Inggris ke Jerman.

Tak ayal, Engels juga tak bisa menampik gaya hidup parlente borjuisme. Di sela-sela kesibukannya sebagai manajer finansial perusahaan Ermen & Engels itu, ia sering minum-minum, berdiskusi soal pergerakan bursa saham, menonton konser musik klasik, baca puisi, bahkan ikut klub berburu.

Kendati begitu, dikisahkan bahwa orangtua Engels mewarisi tradisi etis perusahaan keluarga Caspar Engels und Sohn yang dibangun oleh Johann Caspar. Kakeknya tak pernah emmpekerjakan anak-anak di perusahaan. Ketika perekonomian Eropa hampir runtuh pada 1807 akibat perang Napoleon, Johann  juga medirikan perkumpulan para pengusaha dengan tujuan menjamin penghidupan orang-orang miskin. Lalu pada 1816-1817, saat terjadi kelaparan, Jhann mengorganisasi para pebisnis sepertinya untuk memasok jagung murah buat para pekerja. Ia jga mendirikan sekolah, taman kota, dna balai latihan untuk anak-anak pekerjanya. Tradisi-tradisi seperti inilah yang menjadi salah satu budaya perusahaan eklaurga Engels, yang kemudian membentuk pola pikir dan komitmen sosialnya.

Itu tadi hanya selayang latar belakangnya yang tertulis di buku ini. Tentu fokus buku ini lebih pada sumbangsih pemikirannya yang sering tertutupi oleh nama besar Marx. Sungguh, buku ini perlu dibaca supaya Engels tak hanya terkenal karena membiayai Marx yang jatuh kere di periode penulisan Kapital.

Ambil contoh, Engels adalah pionir yang mencoba mengangkat dimensi kelas, gender, agama, dan kesadaran populer dalam penulisan sejarah rakyat kecil. Makanya Eric Wolf (1987) menjuluki Engels sebagai salahs eorng sejarawan sosial pertama. Lewat Perang Tani di Jerman, Engels menginspirasi banyak intelekula dan aktivis sesudahnya untuk merumuskan perlawanan teoritik dan praksis berbasis kelas terhadap kapitalisme.

Bahkan, ada asumsi bahwa Engels adalah sosok yang paling berpengaruh di kalangan Marxis ketimbang Marx. Paul Thomas (2008) misalnya, menegaskan bahwa Engelslah “bapak materialisme dialektis dan historis, ajaran-ajaran filosofis dan historiografis… yang menjadi landasan filsafat dan sejarah resmi di Uni Soviet dan di sebagian besar negeri-negeri lain yang menyatakan dirinya Marxis.” Dengan kata lain, ampirs eluruh negara yang menjadikan marxisme sebagai ideologi resminya, sesungguhnya mengikuti jalan Engels ketimbang Marx. Lantas ketika negara-negara Marxis itu runtuh, maka yang runtuh sebenarnya adalah Engelsisme dan bukan Marxisme.

Menurut para Marxolog, penafsiran Engels terhadap ajaran Marx yang simplistis, populer, dan reduksionis lebih menarik dan lebih mudah dipahami etimbang pemikiran Marx yang filosofis, abstrak, dan dialektis.  Pada Engels, kaum Marxis mendapatkan petunjuk yang lebih jelas dan pasti, walaupun menyimpang. Di sisi lain, karena yang terpuruk dan bangkrut adalah Engelsisme, maka sebenarnya tidaklah tepat megatakan bahwa Marxisme telah gagal karena ajaran-ajarannya sebenarnya belum pernah diterapkan. Namun, ini juga menunjukan betapa besar pengaruh Engels dalam pemikiran dan aktivitas politik Marxis.

 

Sapi, Babi, Perang,dan Tukang Sihir – Marvin Harris

Tags

,

Sapi

Menurut banyak pakar, pemujaan sapi betina adalah penyebab nomor satu kelaparan dan kemiskinan di India. Beberapa ahli agronomi barat berkata bahwa tabu menyembelih sapi membuat seratus juta hewan mubazir untuk hidup. Pemujaan sapi dianggap menurunkan efisiensi pertanian karena hewan yang mubazir tidak menyumbangkan susu maupun daging padahal ikut berebut lahan dan pangan dengan hewan yang berguna dan manusia yang kelaparan. Belum lagi persaingan dengan muslim yang gemar menyantap daging sapi—padahal mengharamkan daging babi—sempat menciptakan kerusuhan massal berdarah. Bagi para pengamat Barat yang terbiasa dengan teknik industri modern, kecintaan akan sapi tampak tak masuk akal.

Namun, Marvin Harris menemukan laporan menarik dari pemerintah. Dikatakan bahwa India memiliki terlalu banyak sapi betina, tapi pejantannya terlalu sedikit. Bagaimana bisa terjadi kekurangan sapi jantan? Padahal sapi jantan dan kerbau jantan adalah sumber daya utama penarik bajak di persawahan India.

Petani India yang tak sanggup mengganti sapi jantannya yang sakit atau mati berada dalam situasi yang sama dengan petani Amerika yang tidak dapat mengganti dan memperbaiki traktornya yang rusak. Namun, bedanya adalah traktor diciptakan pabrik, sementara sapi diciptakan oleh sapi betina. Seorang petani yang memiliki seekor sapi betina berarti memiliki pabrik untuk membuat sapi. Ini alasan bagus untuk membiarkan sebanyak mungkin sapi betina untuk hidup.

Berbeda dengan Amerika Serikat, petani india tak mampu membeli traktor. Seperti bangsa kurang berkembang lainnya, India tak dapat membangun pabrik-pabrik yang bsia bersaing dengan fasilitas negara –negara industri maju. Beralih dari tenaga hewan dan pupuk kandang ke traktor dan pupuk kimia membutuhkan investasi modal yang luar biasa besar. Belum lagi efeknya adalah mengurangi jumlah orang yang bisa mencari nafkah dengan bertani dan memaksakan peningkatan ukuran rata-rata lahan pertanian. Pertumbuhan agribisnis skala besar di Amerika Serikat terbukti membawa kehancuran pada pertanian keluarga berskala kecil. Bagi India, pengangguran sudah terlalu banyak untuk diperparah dengan masalah skala pertanian ini. Apalagi sapi zebu punya daya adaptasi yang kuat, mampu bertahan hidup hingga periode panjang dengan sedikit air dan pakan. Kita belum mempertimbangkan fungsi ratusan juta ton kotoran ternak di India yang ternyata mampu dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.

Kecintaan akan sapi dengan simbol-simbolnya melindungi petani dari kalkulasi rasional hanya untuk jangka pendek. Bagi ahli Barat, yang terlihat adalah seolah-lah “petani India lebih baik mati kelaparan daripada memakan sapinya. “ Mereka tidak sadar bahwa para petani itu lebih baik memakan sapinya daripada kelaparan, tetapi dia akan kelaparan jika benar-benar memakan sapinya.

Selain itu, karena tingginya tingkat konsumsi daging sapi di Amerika, tiga perempat dari lahan pertanian digunakan untuk memberi makan ternak daripada manusia. Karena asupan kalori per kapita di India sudah di bawah kebutuhan minimum, mengubah lahan pertanian menjadi produksi daging hanya akan membuat harga pangan naik dan standar hidup keluarga miskin makin merosot. Akan ada lebih banyak kalori tersedia per kapita apabila tanaman pangan dimakan langsung oleh manusia daripada digunakan untuk memberi makan hewan.

Salah satu alasan mengapa pemujaan sapi begitu kerap disalahpahami adalah karena implikasinya berbeda bagi orang kaya dan miskin. Bagi petani miskin, sapi adalah pengemis suci yang masuk ke ruang publik dan memakan segalanya, sementara bagi petani kaya, bintang itu pencuri. Sesekali sapi menerabas masuk ke padang rumput atau lahan milik seseorang. Tuan tanah mengeluh, tapi petani miskin membela diri dengan dalih tak tahu dan memanfaatkan kecintaan akan sapi demi memperoleh binatangnya kembali. Jika ada persaingan, itu adalah antara manusia dengan manusia atau kasta dengan kasta, bukan antara manusia dengan binatang.

Sifat boros dan menyia-nyiakan lebih merupakan karakteristik pertanian modern dibanding perekonomian tani tradisional. Misalnya, di bawah sistem baru produksi daging sapi di Amerika Serikat dengan teknik penggemukan sapi otomatis, kotoran ternak bukan hanya tidak dipakai namun dibiarkan mencemari air tanah di area yang luas dan berkontribusi terhadap polusi danau-danau dan sungai-sungai terdekat. Standar hidup lebih tinggi yang dinikmati oleh negara indusri maju bukanah hasil dari makin efisiensinya produksi, melainkan peningkatan besar-besaran jumlah energi yang tersedia per orang. Pada 1970, Amerika Serikat menghabiskan energi setara dengan dua belas ton batubara per penduduk, sementara di India hanya seperlima ton per penduduk.

Babi

Sebelum rennaisans, penjelasan paling populer tentang larangan babi adalah bahwa babi memang hewan yang sangat kotor karena berkubang dalam air kencingnya sendiri dan memakan tinja. Namun, ini adalah ketidakkonsistenan. Sapi yang dipelihara dalam ruang tertutup juga berkecimpung dalam air kencing dan tahinya sendiri. Sapi yang lapar juga memakan tahinya sendiri, begitu juga anjing dan ayam. Jika menggunakan standar kebersihan murni secara estetik, ada ketidakkonsistenan luar biasa saat Alkitab menggolongkan belalang dan belalang sembah sebagai hewan bersih.

Lalu berkat Moses Maimonides (atau Musa bin Maymun), dokter istana Salahudin pada abad 12 di Kairo, Mesir, kita memiliki penjelasan naturalistis pertama tentang mengapa orang Yahudi dan Muslim ogah daging babi. Maimonides berkata bahwa Tuhan melarang daging babi sebagai kebijakan kesehatan masyarakat. Awalnya Maimonides tidak terlalu spesifik menyebutkan alasan medisnya, namun pada abad ke-19, ditemukan penyakit cacing pita timbul akibat makan daging babi yang dimasak kurang matang, dan hal ini menjadi verifikasi atas kearifan Maimonides. Akan tetapi, sebagian kaum Yahudi lalu mencabut larangan atas daging babi karena menganggap bahwa  babi bukan ancaman jika dimasak dengan benar. Penjelasan Maimonisdes kemudian juga memiliki kontradiksi. Babi memang adalah vektor penyakit bagi manusia, tetapi begitu pula daging sapi, domba, atau kambing yang dimasak kurang matang. Apalagi penyakit antraks sudah dikenal sejak zaman kitab suci.

Marvin Harris sendiri akhirnya menyepakati bahwa larangan ilahiah atas babi merupakan strategi ekologis. Bangsa Israel nomaden tidak bisa memelihara babi di habitat mereka yang tandus, sementara babi lebih merupakan ancaman dibanding aset di populasi tani semi-menetap dan di pedesaan. Binatang-binatang domestik yang paling baik beradaptasi dengan zona-zona ini adalah para pemamah biak—domba, sapi, dan kambing. Mereka memiliki kantung depan di dalam perut yang memungkinkannya mencerna rumput, dedaunan, dan makanan lain.  Sementara babi pada dasarnya adalah mahkluk hutan dan tepi sungai yang teduh. Babi tidak dapat bertahan hidup hanya dari rumput, dan tidak ada tempat di manapun di dunia ini yang masyarakatnya sepenuhnya peternak nomaden pernah memelihara babi dalam jumlah besar. Kerugian lain adalah babi tidak bisa menjadi sumber susu yang praktis dan terkenal sukar digembalakan untuk jarak jauh.

Secara termodinamika, babi juga sulit beradaptasi dengan iklim panas dan kering di wilayah-wilayah yang tersebut dalam Alquran dan Alkitab. Babi memiliki sistem yang tidak efisien dalam mengatur suhu tubuhnya. Babi harus melemabkan kulitnya dnegan cairan eksternal. Akhirnya babi suka berguling-guling dalam kubangan segar yang bersih. Namun ia akan melumuri kulinya dnegan air kencing dan tahinya sendiri jika tidak ada cairan lain tersedia. Semakin tinggi suhunya, semakin kotor binatang itu. Jadi teori bahwa kenajisan babi secara agama didasarkan pada kekotoran fisiknya memang benar, namun bukan sifat babi untuk selalu kotor di mana saja, melainkan habitat alam timur tengah yang kering dan panas yang membuat babi bergantung maksimal pada efek menyejukan kotorannya.

Timur Tengah adalah tempat yang salah untuk membudidayakan babi, tetapi daging babi tetaplah lauk yang lezat. Orang-orang selau merasa kesulitan untuk menahan godaan itu sendirian. Maka Yahwe pun dikabarkan berfirman bahwa babi itu najis, tidak hanya sbeagai makanan tapi juga untuk disentuh. Mengembangkan babi dalam jumlah besar di Timur Tengah adalah perilaku maladaptive. Produksi skala kecil hanya menimbulkan godaan. Maka lebih baik melawan konsumsi daging babi sama sekali, dan berkonsentrasi pada ternak kambing, domba, dan sapi.

Tukang Sihir

Diperkirakan 500 ribu orang dituduh sebagai tukang sihir dan dibakar hingga tewas di Eropa antara abad ke-15 dan ke-17. Klaim kejahatan mereka adalah bersekutu dengan setan, menaiki sapu terbang, berkumpul pada sabbat, menyembah setan, dan lain-lain. Ada juga membunuh sapi tetangga, menimbulkan hujan es dan angin ribut, serta mencuri dan memakan bayi.

Terlepas dari adanya sejumlah besar pengakuan, sesungguhnya tak banyak diketahui adanya kasus orang-orang yang mengaku sebagai tukang sihir. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa seluruh himpunan ciri-ciri yang aneh itu adalah ciptaan para pembakar tukang sihir daripada tukang sihir sendiri. Namun, memang ada beberapa tertuduh yang sebelum diadili memang memiliki perasaan sebagai tukang sihir dan dengan berapi percaya bahwa dirinya bisa terbang di udara serta bersetubuh dengan setan. Masalahnya, pengakuan-pengakuan itu didapatkan saat si tertuduh tukang sihir sedang disiksa. Siksaan diberikan secara rutin sampai tukang sihir mengaku membuat perjanjian dengan setan dan terbang menghadiri Sabbath. Dan terus dilanjurkan sampai tukang sihir menyebutkan nama orang-orang lain yang juga hadir di Sabbat. Pilihan mereka hanya dibakar di tiang pancang atau kembali ke ruang siksaan. Tentu saja.

Sebelum 1000 M, tak seorang pun dieksekusi seperti itu. Bahkan gereja Katolik awalnya bersikeras bahwa tukang sihir yang terbang di udara itu tidak ada. Adalah tindakan terlarang untuk memercayai bahwa penerbangan seperti itu benar-benar ada. Setelah tahun 1480, adalah tindakan terlarang untuk memercayai bahwa hal itu tidak terjadi. Gereja secara resmi berpegang bahwa mereka yang mengklaim bahwa penerbangan itu semata ilusi adalah orang-orang yang bersekutu dengan iblis.

Semangat memburu tukang sihir makin tumbuh di kalangan pejabat lokal karena mereka diberi kuasa untuk menyita seluruh tanah milik siapapun yang dituduh sebagai tukang sihir.

Sebenarnya tukang sihir memang mengadakan pertemuan sabbat rahasia—kendati jika mereka tidak pernah pergi ke sana naik sapu terbang—dan mereka merupakan ancaman bagi keamanan Kerajaan Kristen. Temuan-temuan baru tentang landasan praktis penerbangan dengan sapu terbang diperkuat oleh Profesor Michael Harner dari New School for Soocial Research yang memperlihatakna bahwa para tukang sihir eropa secara populer dikaitkan dengan penggunaan salep dan urap gaib. Sebelum terbang di udara degan sapu, mereka meminyaki diri mereka sendiri. Ia mengumpulkan sejumlah laporan percobaan dengan balsam seperti di atas  yang melibatkan para tukang sihir itu sendiri. Semua subjek percobaan jatuh tertidur lelap dan saat dibangunkan bersikeras bahwa mereka telah melakukan perjalanan jauh. Maka rahasia tentang ramuan balsam itu hanya diketahui oleh banyak orang yang hidup pada masa perburuan tukang sihir. Para pemakai ini memimpikan perjalanan gila, tari-tarian liar, dan petualangan lain semacam pesta orgi abad pertengahan. Orang lain yang melakukan eksperimen dengan sekadar menghirupnya mengungkapkan, “sensasi gila, seolah kaki saya menjadi ringan, memanjang, dan lepas dari badan. Pada saat yang sama saya merasakan sensasi terbang yang memabukan.”

Jika penjelasan Harner tepat maka kebanyakan pertemuan sabbat yang asli melibatkan pengalaman menggunakan senyawa halusinogen. Ramuan ini selalu dipakai sebelum para tukang sihir peri ke sabbat, tak pernah setelah mereka sampai di sana. Jadi mungkin saja keputusan Paus untuk menyelenggarakan inkuisisi demi membasmi sihir adalah karena banyak masyarakat menggemari mabuk-mabukan.

Namun, bukanlah kebetulan bahwa sihir mencuat ke permukaan seiring dengan protes mesianis yang keras untuk menentang kesenjangan sosial dan ekonomi. Paus memberi izin penggunaan siksaan terhadap tukang sihir tak lama sebelum Reformasi Protestan dan perburuan gila-gilan terhadap tukang sihir memuncak selama revolusi dan perang-perang abad ke-16 dan abad ke-17 yang mengakhiri kesatuan dunia Kristen.

Satu sudut pandang yang konvensional adalah bahwa sihir itu sendiri merupakan bentuk protes sosial sihir mistisisme, kaum pencambuk, dan bidah populer dimasukan ke dalam kategor penolakan tehadap struktur institusional yang tidak memuaskan. Namun, Marvin Harris mempertanyakan argumen itu. Ia mengkritisi kepercayaan bahwa bersetubuh dengan setan, atau mengguna-gunai sapi tetangga sebagai ancaman terhadap status quo. Sementara tidak ada bukti juga bahwa perkumpulan sabbat dihabiskan dengan mengutuk kemewahan gereja atau menyerukan penghapusan kepemilikan pribadi.

Marvin Harris justru mengajukan asumsi bahwa para pemburu penyihir bukan bermaksud membasmi penyihir, melainkan justru meningkatkan pasokan tukang sihir dan menyebarkan kepercayaan bahwa tukang sihir itu nyata, ada di mana-mana , dan berbahaya. Situasi menunutut pertanyaan mengapa penyidik inkuisisi bukan terobsesi untuk menghancurkan penyihir, melainkan menciptakannya. Dampak tak terelakan dari sistem Inkuissi adlaah membuat sihir menjadi lebih bisa dipercaya dan meningkatkan jumlah tuduhan sihir.

Sistem perburuan penyihir dirancang terlalu rapi, terlalu tahan lama, terlalu suram, dan liar. Tujuannya bukan cuma untuk penyitaan harta benda dan biaya yang dibebankan untuk siksaan dan eksekusi, Hasil utama sistem perburuan penyihir adalah bahwa kaum miskin lantas memercayai bahwa yang menjadikan mereka korban adalah tuakng sihir dan setan, alih-alih pangeran dan paus. Atap bocor, sapi keguguran, gandum layu, dan bayi anda mati? Itu ulah tetangga yang menjadi tukang sihir. Naiknya harga roti, pajak menjulang, dan nilai upah jatuh juga kerjaan penyihir. Kaum agamawan dan bangsawan lalu muncul sebagai pelindung besar umat manusia melawan musuh yang hadir di mana-mana tetapi sulit dilacak.Di sini akhirnya ada landasan untuk membayar dan mematuhi pemungutan pajak.

Penelitain tentang eksekusi 1.258 pnyihir di Jerman barat daya selama periode 1562 sampai 1684 memperlihatkan bahwa 82 persen penyihir adalah perempuan. Perempuan-perempuan tua tak berdaya dan bidan-bidan kelas bawah biasanya yang pertama dituduh saat ada kejadian di tingkat lokal. Dengan dikoreknya nama-nama tambahan dari korban pertama itu, anak-anak dari kedua jenis kelamin, juga laki-laki, mulai tampil lebih banyak. Sementara hanya ada tiga kasus tuduhan sihir terhadap anggota kelas bangsawan, dan tak ada satupun yang dieksekusi. Perburuan ini mendemobilisasi yang miskin dan terampas, menjauhkan jarak sosial di antara mereka, membuat mereka saling curiga, mengadu satu tetangga dengan yang lain, membuat rakyat bergantung pada penguasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Lagu Indonesia Terbaik di Tahun 2019

Tags

, , ,

5. The Adams – Pelantur

Saya tak pernah ‘mengalami’ masa kejayaan The Adams lantaran V2.05 (2006) saja dirilis saat artis indie yang saya kenal masih sebatas Shaggydog dan Endank Soekamti. Namun, kini gelombang kejayaan kedua mereka hadir kembali dengan album Agterplaas yang sebenarnya tak punya cukup kebaruan di segi warna musik, sementara powerpop sejatinya riskan jadi usang hari ini.

Toh, faktanya album itu bisa mengantar empunya—yang biasa berkelakar soal usia di panggung—mengokupasi panggung-panggung besar lagi dan meraup barisan pendengar muda. “Masa-Masa”, “Timur”, dan “Pelantur” jadi favorit anyar di repertoar. Yang disebut belakangan adalah jagoan saya. The Adams belum pernah punya lagu sejenis ini: bertenaga, nyolot, sekaligus dinamis. Memang sifat-sifat itulah yang membuat The Adams seperti Wiranto, tak mati-mati.

 

4. Lair – Nalar

“Nalar” adalah kata yang laris di masa-masa pemilu. Digunakan oleh segala usia untuk menyerang musuh-musuh politik di Twitter dan meja Mata Najwa, atau menggambarkan ketiadaan nalar dalam kontestasi itu sendiri. Kata yang bernuansa riuh ini diangkat dengan riuh juga oleh eksponen musik non-kota besar paling menarik tahun ini.

Lair membawakan lagi musik endemik yang mewabah pada dekade 30-an di bilangan Pantura, Jawa Barat. Seperti mendengarkan lagu-lagu Mama Jana, seniman tarling klasik yang kemudian dibumbui harmoni vokal dan gaya main gitar (dibuat dari tanah liat) yang masih tercium aroma modernnya. Daripada bingung sendiri, mereka pun menyebut aliran musiknya pantura-soul. Jika belum kedengaran cukup sangar, tonton ketika lagu itu mengiringi tari sintren di video musiknya.

 

 

3. Kopibasi – Bapak

Saya berkesempatan mendengar cikal bakal lagu ini setahun silam, dinyanyikan oleh Galih Fajar (vokal) langsung hanya dengan gitar kopong di garasi sebuah kantor. “Dengerin, Mas. Aku punya lagu baru…”. Agaknya dia sudah sepercaya diri itu dengan lagu ini, hingga jadi satu-satunya lagunya yang pernah dipamerkannya kepada saya sebelum benar-benar jadi. Lalu, ia bernyanyi, “Di jantungmu doa berteriak / Separuh hidup hanya namaku / Di jantungku doa belum masak / Sepanjang hidup hanya namamu”. Saya belum terlalu yakin, tapi saya menyanjungnya di dalam hati, sembari khawatir kalau lirik sebagus ini nantinya sia-sia semisal dikawini musik yang salah.

Dulu ketika kita kecil, Bapak adalah sosok yang menakutkan. Asing. Sosok yang tidak terjangkau karena ia tampak selalu harus benar di hadapan kita. Seiring dewasa, baru perlahan kita bisa melihat Bapak dalam dimensi manusiawinya: hasratnya, bebannya, nakalnya, dan kekalahan-kekalahannya. Dibanding Ibu, sosok Bapak yang kaku dan membuat canggung terkadang lebih rumit.

Lagu ini menyibak lapisan-lapisan emosional yang tertahan karenanya.

 “Kau belum puas jadi bapak / Aku belum lunas jadi anak / Hidup sudah habis / Apa mati nanti romantis”

Saya belum tahu apakah seorang Bapak akan pernah puas menjadi Bapak. Namun, saya tahu kita tidak akan pernah lunas menjadi anak.

Saya menulis ini di usia 28. Belum jadi bapak. Dan baru sekali menahan tangis karena lagu.

 

2. Jason Ranti – Lagunya Begini, Nadanya Begitu

Saya bingung mulai dari mana untuk menggambarkan seberapa bagusnya lagu ini. Karena apabila Anda seorang penggemar berat Sapardi Djoko Damono sekalipun, kemungkinan hasrat ekspresi terpendam Anda adalah 1) menulis puisi dengan diksi “hujan” dan “senja”, atau 2) membuat musikalisasi puisi dari puisi “Aku Ingin”. Iya, kan? Iya dong, bukan malah nyanyi, “Aku ingin ngopi dengan sederhana di Bulan Juni dengan murid cantikmu di UI”. Fak yu Jason Ranti.

 

 

1. Hindia – Secukupnya

Tahun 2019 adalah tahun yang buruk untuk Indonesia, harus diakui. Lantas lagu apa yang lebih ‘mengganggu’ dan bisa mewakilinya daripada lagu ini? Mendengar “Secukupnya” seperti membaca buku terlaris beberapa tahun terakhir di Indonesia (selain buku latihan CPNS ~),  The Subtle Art of Not Giving a Fuck dari Mark Manson.

Jadi wahai para anxiety dan depresi, pelaku quarter life crisis, sad boy, Joker, feminis, demonstran RUU KUHP, korban penggusuran agraria, aktivis HAM, cebong, kampret, Anies Baswedan, anti-wordfangs… u know what?

Kita semua gagal.

5 Album Indonesia Terbaik di Tahun 2019

Tags

, , ,

5. Kabar Burung – Pesan

Image result for kabar burung pesan

Selayang dengar, tiada yang istimewa atau mencuri perhatian dari album ini. Musik-musik melankolis dengan harmoni vokal dan riuh instrumen-instrumen selumrahnya: gitar, bas, perkusi, kibor, biola, dan terompet. Sejak Sore merilis Ports of Lima (2008), format ini tak lagi ajaib. Kabar Burung juga membawakan lagu-lagu bertema cinta yang tak eksentrik. Pertama kali saya mendengar chorus di lagu “Telepon”: “Karena telepon sudah dalam genggaman…” saya malah mengira itu jingle iklan Telkomsel (bangsat, wkwk).

Tak sengaja, suatu ketika saya mendengar secara fokus bait lain di lagu yang sama,”udara pagi sungguh bersahaja / ketika celcius masih malu-malu / pada angka yang tak terlalu”. Hmm.. larik yang bagus, batin saya. Atensi itu lantas kian meningkat pada dua-tiga putaran album ini di Spotify. Sebagaimana lirik tadi, tak ada yang “terlalu” dalam Pesan. Semua hidup pada tempatnya, sesuai porsi dan terkelola rapi, mulai dari paduan vokal, instrumentasi, hingga penggunaan ungkapan-ungkapan romantis di lirik. Ada kala mereka puitis, ada kala musiknya yang membuat puitis. “Adinda” adalah contoh terbaiknya, “Coba kau lihat, oh Adinda / Sepasang remaja di sudut sana / Sangat berhati-hati dalam menjalin kasih / Seperti kita saat bertemu pertama kali” Bersahaja luar-dalam. Pesan cocok didengarkan bersama pasangan yang sedang malas drama, namun tetap ingin dibuat tersipu.

 

4. TuantigaBelas – Harimau Soematera

Image result for harimau soematra tuantigabelas

Tahun 2018 adalah keemasan hip hop lokal, banyak opsi rilisan yang bagus, mulai dari karya Pangalo!, Krowbar, hingga kebangkitan Morgue Vanguard. Tahun ini sayangnya tak lagi semeriah itu, namun kita punya Tuantigabelas. Kualitas utama di Harimau Sumatera adalah kekayaan sentuhan musik di materinya. Tiap lagu punya unsur-unsur bunyi yang penuh corak dan terdengar mahal.

Harimau Soematra dibuka dengan “Move” yang amat seru. Tema liriknya tipikal (Ku bikin kau KO karena aku Manny Pacquiao / Kau masih cetak flyer, ku sudah jadi baliho), namun lagu ini mengandung salah satu beat oldschool lokal terkeren yang pernah saya dengar. Pembukaan yang sempurna, menjanjikan banyak hal di album ini. “Last Roar” yang angkat suara soal perlindungan kelestarian harimau sumatera pun berani memasukan instrumen tiup tradisional seperti serunai. Ada juga “Buta” yang catchy didukung musik ala 2Pac. Namun, flow yang paling memikat menurut saya terdapat di “Juragan dan Tuan”.

Setiap berkolaborasi, Tuantigabelas juga mendayagunakan partner-partnernya dengan baik, misal unit dub eksperimental High Theraphy yang benar-benar digaet untuk menghasilkan nomor  hip hop dengan latar psychedelic yang kental. “Faith” yang dibawakan bareng penyanyi bernama Sailor Money juga menampilkan layer-layer sayu yang cantik. Rasanya masih segelintir rapper Tanah Air yang piawai menata detail musiknya seserius dan sematang ini. Ibarat album ini adalah hutan belantara, Tuantigabelas merancang seluruh sektor rerimbunan berbahaya, tak bebas dari taring dan auman.

 

3.Kopibasi – Anak Pertama

Image result for kopibasi anakpertama

Sejujurnya Kopibasi terlambat dua-tiga tahun untuk terdengar baru secara musikal di belantika. Untungnya mereka amat fasih menggunakan folk-nya guna membentuk dinamika dan nuansa. Rapi sekaligus lihai membangun momentum dramatis. Kendati kesan pertama kita pada mereka mungkin adalah ‘rancak’, namun transisi adalah keindahan yang mereka kuasai. Kepekaan mereka terhadap dinamika—kapan harus bergelora, midtempo, atau mendayu malas–mengingatkan pada Sinestesia kepunyaan Efek Rumah Kaca. Peranti melodiusnya–vokal dan biola—menjadi biang. Bahkan, sedari dua menit pertama di lagu “Demi”, si pemain biola bajingan itu tanpa aba-aba yang cukup sudah menyayat-nyayat sudut-sudut paling sensitif di kalbu kita.

Corak musik mereka yang sebenarnya ke-amerika-amerikaan pun berhasil ditutupi oleh padatnya unsur sastrawi dalam liriknya. Dan Kopibasi adalah satu dari segelintir band yang menjadi puitis dengan benar. Liriknya sekuat puisi, tidak asal padu padan rima atau membedaki kata. Keseriusan penggarapannya benar terdengar, membuat mereka lolos dari segala upaya puitis yang norak dan pretensius, bukan seperti Amin yang sok serius #eh. Bahkan, kadarnya sampai pada fungsi emosional, terutama bahwa larik-larik terbaik album ini persembahan untuk romantisme keluarga, teruntuk Ibu dalam “sempat aku dengar Ceritamu pada tetangga; / jalan yang ku tempuh sampai mana?” atau perihal Bapak pada “Kau belum puas jadi bapak / Aku belum lunas jadi anak”. Menangis bukan kemewahan saat mendengar Anak Pertama. Sekalipun bapak Anda belum almarhum, atau Anda bukan anak adopsi #curhat.

 

2. Jason Ranti – Sekilas Info

Image result for jason ranti sekilas info

 

Album ini memang tak lagi memberikan kejutan kultural seperti Akibat Pergaulan Blues (2017), namun menunjukan bahwasanya album perdana itu tadi bukan keajaiban shio atau rejeki anak soleh. Permainan kata Jeje (Jason Ranti) tak tertandingi sampai saat ini, beberapa kreasinya bahkan menunjukan tingkat intelektualitasnya. Dan salah kita semua karena pernah keterlaluan mengapresiasi mulut tak disekolahkan seorang Jeje, karena akhirnya ia malah menjadi-jadi di Sekilas Info.

Doi lebih seenak jidat di sini. Sekilas Info dibuka dengan lagu berjudul ala koran tukang becak, “Seorang Ayah Rela Disodomi Waria Demi Membeli Susu Anak” dengan petikan gitar ultra-gelap, lalu toa meracau seperti aktivis gila yang mungkin kepalanya terlalu banyak dipukul pentungan Polda Metro Jaya. Belum apa-apa sudah sepahit ini, Bung. Meski mengacobelo, ia terkadang terdengar amat jujur seperti pemabuk yang ditanggap,  apalagi di nomor “Dua Ratus Dua Belas, Hadiah”: “Aku deg-degan jadi seniman / Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir”.

Mencermati materi Sekilas Info secara utuh, ada kesan serampangan dan menyepelekan di banyak aspek. Namun, Jason Ranti ya seanjing ini. Ia lebih serius dan cerdas dari kelihatannya, bahkan di lagu-lagu ter-emboh-nya: “Sekilas Info” yang ‘pecah’ atau “Serpihan Lendir Kobra, Blues Kobra” yang mari ramai-ramai kita paksa dia ngaku kalau liriknya mengadaptasi teknik kolase kata lagu Sisir Tanah bertajuk “Konservasi Konflik”.

Entah bercanda atau tidak, (atau sedang mabuk kuah ganja?), Jeje pernah berujar bahwa Sekilas Info terinspirasi oleh Ibu Soed dan Kasino (Warkop). Dua almarhum itu mewakili ke-Indonesiaan dan humor sosial yang tajam. Atas segala kehebatan Sekilas Info dan penantian bumi porak poranda karena ditabrak meteor, apa yang masih berarti untuk dilakukan umat manusia sekarang adalah mengajari Jeje cara mendaftarkan album ini ke Spotify.

 

  1. Isyana Sarasvati – LEXICON

Related image

Isyana Sarasvati ini menarik. Di satu sisi, ia dikenal sebagai musisi cerdas – adik mba-mba aktivis cutting edge—yang konon pandai memainkan musik klasik. Isyana diketahui juga berkuliah di Nanyang Academy of Fine Arts (Singapura) dan Royal College of Music (Inggris) untuk mendalami musik klasik serta opera. Tapi di sisi lain, ia adalah penyanyi pop yang berada di segmen yang sama dengan Raisa. Lagu-lagunya tidak buruk, tapi juga tidak menggambarkan sisi satunya yang digembar-gemborkan.

Baru pada LEXICON, ia memperlihatkan wujud sejatinya. Harusnya kita tak pakai kaget, namun kejutan sebenarnya memang bukan pada langkah yang diambil, namun mutu hasilnya. LEXICON tak sekadar jadi ekspresi idealisme, melainkan tetap bisa dinikmati sebagai karya populer.

“Dengarlah wahai kawan-kawanku / Kini warna yang kelam hangus / Aku tahu kamu ‘kan bertamu / Selamat datang padaku yang baru”, membuka LEXICON. Vokal sopran berkumandang dalam kosmos orkestra. Didukung oleh Tohpati, Gerald Situmorang, dan Kenan Loui sebagai produser, bangunan neo klasikal dalam LEXICON bisa terdengar matang.

Kejutan lebih ada di nomor “LEXICON” yang dilengkapi segmen progressive metal. Beberapa lagu lain lebih ramah, misalnya “Untuk Hati yang Terluka” dan “Lagu Malam Hari”. Namun ‘keramahan’ itu tidak sama sekali terdengar sebagai kompromi.  “Ragu Semesta” apalagi, punya melodi yang amat indah. Gaya penulisan lirik yang puitis dengan makna-makna optimisme mengingatkan pada lagu-lagu legendaris belantika seperti “Badai Pasti Berlalu” dan semacamnya.

Lewat album ini pula kita bisa melacak karakter vokal tulen Isyana. Saya langsung ingat nyanyiannya di single “Tetap Dalam Jiwa” yang melejitkan namanya dulu, dan memang betul, vokalnya tampaknya terbentuk dari musik-musik di album ini. LEXICON laksana rumah bagi Isyana.

Saya tahu album seperti LEXICON tidak akan membuatnya kaya. Mentoknya paling-paling pujian kritikus atau masuk di lis-lis terbaik tahunan semacam ini. Tapi bukankah ini saatnya?

Saya pun memutuskan menjadikan LEXICON sebagai album nomor satu di tahun 2019 sejak saya tak sengaja mendengar “Untuk Hati yang Terluka“ di radio saat berkendara. Lalu saya berkata dalam hati:

“Kita benar-benar butuh lebih banyak”

 

10 Lagu Terbaik di Tahun 2019

Tags

, , ,

10. Tyler The Creator – I THINK

Irama rancak, semburat distorsi bas, lalu sepotong demi sepotong bunyi synthesizer melintas. Ada sedikit nuansa 80-an. “I THINK” adalah salah satu nomor dengan aransemen paling mengkilap di album IGOR. Liriknya bicara perihal peraduan antara akal dan hati terkait keputusan untuk jatuh cinta, “I think I’ve fallen in love (Skate) / This time I think it’s for real (Four, skate)” Tak sereceh itu. Berkolaborasi dengan balutan konsep besar dan musiknya, larik-larik sederhana ini sanggup membuat kita masuk ke semesta psikologi seseorang yang tengah dirundung asmara.

 

9. Slipknot – Unsainted

“Unsainted” memecahkan rekor, menjadi video musik Slipknot dengan penonton terbanyak dalam rentang 24 jam pertama. Selain berkat gimmick topeng baru, potongan chorus “Oh, I’ll never kill myself to save my soul” di antara dentuman meledak-ledak itu terlalu catchy untuk gagal mendulang angka view berulang-ulang. Siap jadi gacoan baru untuk membuat seisi stadium melolong (termasuk di Hammersonic 2020, sampai jumpa, guys!)

 

8. The National – Light Years

Belakangan kian banyak musisi menurutkan lagu terbaik di urutan akhir album, salah satunya “Light Years” di I Am Easy To Find. Permainan piano melatari seluruh lagu dengan tema lirik perihal seseorag yang terpisahkan oleh perasaan: “Oh, the glory of it all was lost on me / ‘Til I saw how hard it’d be to reach you / And I would always be lightyears, lightyears away from you”.

Seperti diakui sendiri oleh Matt Berninger (vokal), terkadang komposisi bikinan Aaron Dessner tampak disiplin pada aturan formal musical. Namun, terkadang ia bisa membuat komposisi yang seratus persen terbangun dari emosi, sebagaimana “Light Years”.

 

7. Lizzo – Truth Hurts

Lagu ini sebenarnya rilis di tahun 2017, namun tak menjadi apapun lebih dari angin lalu. Jika aku mundur dari musik sekarang, tak akan ada yang menyadarinya. Ini adalah lagu terbaikku, dan tak ada yang mempedulikannya. Saya merasa, ‘fuck it, semua sudah berakhir’,” Lizzo berujar. “Truth Hurts” baru mencuat perlahan setelah viral di TikTok dan dipakai di film Netflix Someone Great. Dirilis ulang sebagai single radio, akhirnya lagu itu baru benar-benar sampai di pendengar pada tahun ini, dan jangan ditanya, puncak tangga lagu disikat plus menyabet nominasi Song of The Year di Grammy.

Lizzo di tahun ini pun merilis album yang lumayan, bertajuk Cuz I Lov You. Tetap saja, adalah “Truth Hurts” dengan irama dan melodi mengandung earworm itu yang membuka segala jalannya.

 

6. Lana Del Rey – The Greatest

Saya masih tertawan rasa pukau mendengar Lana Del Rey menyanyikan bagian, “…and I’m wasted” atau pada “..i’m facing the greatest”. Sensasi yang jarang muncul di performa vokal Lana Del Rey sebelumnya, kendati pesonanya satu tingkat dengan laungan panjang di “Pretty When You Cry”.  Di lagu ini pula menumpuk referensi budaya kontemporer, mulai dari siaran Instagram, The Beach Boys, “Life On Mars”-nya David Bowie, sampai kejengkelannya (dan saya) terhadap pilihan politik Kanye West. Ia berupaya mengenang kancah masa mudanya di California, lengkap dengan nikmat kultural dan kehidupan belum merumit. “I’m facing the greatest / The greatest loss of them all / The culture is lit and I had a ball / I guess I’m signing off after all” Bila “Venice Bitch” adalah mahakarya artistik musikal, maka “The Greatest” adalah puncak kelas Lana Del Rey di aspek substansi lirik.

 

5, FKA Twigs – Cellophane

Saat masih berpacaran dengan Robert Pattinson, Tahliah Debrett Barnett (nama asli FKA Twigs) kerap didera komentar rasis dari para penggemar aktor vampir itu. Mereka lebih suka idolanya balikan dengan Kristen Stewart (astaga, netizen banyak maunya!). Lagu ini tentang upaya Barnett menyelamatkan hubungan dalam kondisi semacam itu, apalagi Pattinson terlalu bertekad mempertahankan relasi yang ada. Alah, malah bergosip, toh hal yang pasti membuat ketgaihan lagu ini adalah vokal Barnett. Kontrol falsetto maupun sopranonya sengit. Ia merintih, menahan napas, dan membuat pecah berkeping-keping suaranya tanpa kehilangan momentum-momentum melodius.

 

4. Bon Iver – Hey Ma

Usai reka cipta gila yang dilakukan di tiap album sebelumnya, justru “Hey Ma’ adalah single pertama Bon Iver yang tidak mengejutkan, melainkan terdengar familiar. Album I,I memang tak jauh berbeda dari album 22, A Million (2016) yang brilian itu, selain turut menyuguhkan sentuhan akustik folk baroque kembali dari dua album awal.

Bedanya lagi, 22, A Million tak punya “Hey Ma’, lagu yang enteng dicerna. Pun dari segi lirik juga manis tanpa upaya puitis yang terlalu, mengisahkan memori masa kecil bersama ibu yang memandikan diiringi dongeng. Sungguh bahaya jika Bon Iver sudah mulai tahu formulanya membuat komposisinya terasa seakrab ini.

 

3. Vampire Weekend – Harmony Hall

Petikan country di awal, mendadak menjelma komposisi baroque di detik 43, lantas racikan gospel di bagian chorus. Dinamis sekaligus harmonis. Ketiga elemen itu bukan musik masa kini, tapi pilihan terbaik bagi hipster-hipster milenial, termasuk larik “I don’t wanna live like this, but I don’t wanna die”. Ups, lebih dari itu, lagu ini bicara perihal siklus kuasa dalam berbagai konteks pemerintahan. Bukan hanya kepada kaum subordinat, Ezra Koenig (vokal) dalam beberapa bagian juga mencoba berempati pada penguasa. Ia melihat relasi dialektika antara kedua golongan yang akhirnya membentuk siklus sejarah. Menarik sekali mendengar wacana seserius ini dibawakan dengan musik sumringah.

2. Billie Eilish – Bad Guy

Yah, beginilah “Bad Guy”: ada bas yang lebih dominan dari gitar dan piano, remaja putri yang mengaku bajingan, aliran music nu-goth pop (???), dan kesadaran misandri dalam lirik remaja 17 tahun. Lagu ini terdengar asing bagi generasi sebelumnya (kita?) namun jutaan merayakannya, artinya jutaan lain harus mengaku sudah tua.

Perlu diakui 1) “Bad Guy” adalah lagu terpenting di tahun 2019 dan 2) Synth riff setelah “duh” di chorus lagu itu punya potensi anthemic ala riff gitar “Smell Like Teen Spirit”. Jelas terlalu dini untuk menyetarafkan “Bad Guy” dengan mahakarya Nirvana itu sebagai ikon generasi, namun sejauh ini ciri-cirinya terpenuhi. Tinggal waktu yang membuktikan.

 

  1. Lana Del Rey – Venice Bitch

Salah satu progres terkini di ranah musik Top 40 adalah atensi penyanyi terhadap aransemen lagu-lagunya. Sebagian dari mereka mulai sadar bahwa kesuksesan lagunya tak lagi bersandar kuat pada melodi vokal, notasi, atau suara emas biduannya (kecuali Adele, ya, ia masih berhasil dengan itu). Sejauh ini Lana Del Rey masih yang terbaik, dan agaknya memang yang menaruh komitmen besar di aspek aransemen dan instrumen.

Maka, selain “Bad Guy” dan Joker, dekade ini juga disempurnakan dengan sebuah rilisan lagu pop 9 menit, separuhnya tanpa vokal, melainkan ruang lapang bagi interlude, instrumental, solo synthesizer, distorsi, noise, dll. Bahkan, sejak pertama kali kenal synthesizer dari ngiung-ngiung-nya Pee Wee Gaskins, akhirnya saya menemukan komposisi alat musik keparat itu yang benar-benar bagus (simak menit 3.20). Kiranya tak pernah ada aransemen balada pop sebagus ini sebelumnya. “Venice Bitch” membuka luas kemungkinan artistik baru di wilayah lagu-lagu Top 40, namun saya serela itu andai lagu ini menjadi lagu pop terakhir di dunia.

 

10 Album Terbaik di Tahun 2019

Tags

, , ,

  1. Cage The Elephant – Social Cues

Image result for cage the elephant social cues

Empat album sebelumnya, Cage The Elephant kelihatan mondar mandir mencari jati diri. Blues rock, garage rock, punk rock, psychedelic rock, semua dicoba sampai akhirnya lebih gampang melabeli musik mereka dengan gelar “mirip The Pixies”. Sejenak mereka tampaknya kemudian memutuskan rehat mencari, memilih berdiskusi untuk merumuskan pondasi musik yang paling pas, maka lahirlah Social Cues. Tak heran jika isi album ini sebenarnya justru aliran musik rock paling regular di era senjakala music rock ini, yakni rampaian indie rock dan alternatif rock. Sama sekali tak istimewa secara warna musik, namun Cage The Elephant sudah punya resep terbaiknya.

Album ini seutuhnya enak, catchy di tiap menit. Cage The Elephant tidak sedang berambisi mengejar Vampire Weekend atau Arctic Monkeys yang kian edan eksplorasi-eksplorasinya. Kedengaran mendaifkan bila disebut mereka sekadar meninggali zona nyaman. Karena mereka bisa membangun zona itu menjadi amat nyaman pula untuk kita semua.

 

 

  1. Bring Me The Horizon – Amo

Image result for bring me to the horizon amo

Saya terpikat dengan sepak terjang Bring Me The Horizon. Dekade pertama mereka habis sebagai band pecundang yang dianggap payah memainkan musik deathcore dan metalcore—meski fans-nya tetap membludak dan rajin masuk majalah Hai bareng Avenged Sevenfold, wkwk. Dekade berikutnya, album-album mereka selalu mendapat sanjungan serius karena menjadi band cadas populer pertama yang berhasil mempertemukan musik keras dan EDM dengan apik—lihat bagaimana Linkin Park mencobanya di One More Light, tapi gagal dan bunuh diri (literally, which is).

Dengan formula sudah di tangan, BMTH seakan sudah begitu gampang membuat album yang menarik. “Mantra” adalah nomor yang sekuat-kuatnya menjadi single meski selalu remuk ketika dimainkan live. Namun, “In The Dark”, “Medicine” atau “Nihilist Blues” pun bisa membuat para pendengarnya terngiang-ngiang. “Tanpa mengurangi rasa hormat kepada album terakhir kami, namun ketika kamu menyetel lagu-lagu terbaru (di album Amo) ini, lagu-lagu lama akan ‘terhempas’ jauh,” ujar Oliver Sykes (vokalis).

Sebenarnya Amo memang kian menjauhkan BMTH dari zona musik keras, tapi ternyata itu bukan perjudian tolol. Mereka menyabet nominasi Grammy Awards dan memuncaki peringkat satu tangga album UK.

8. Tool – Fear Inoculum

Image result for tool fear inoculum

Belum genap setahun, saya masih ingat perasaan pada pengalaman pertama menjajal album ini. Sebelum akhirnya harus tersela karena urusan duniawi di momen itu, lima menit pertama yang saya peroleh di nomor pembuka berjudul sama dengan albumnya, “Fear Inoculum” rasanya luar biasa. Suara-suara logam, atmosfer cekam, dan irama drum ketimuran merambat dengan laun seperti mendung. Tiap instrumen masuk dengan lamban, menanti momentum paling tepat, tanpa peduli bahwa ada durasi standar bagi musik industri.

“Fear Inoculum” dengan durasi 10 menit lebih akhirnya menjadi lagu terpanjang yang pernah masuk tangga lagu Billboard, merangsek sekalian ke ajang Grammy Awards. Ternyata album ini memang menolak tergesa. Tool melahap jangka album 13 tahun dengan karya berdurasi 86 menit. Lagu-lagu lainnya pun sama, berdurasi plus plus. Adam Jones (gitar), Justin Chancellor (bas), dan Danny Carey (drum) saling mengisi dengan leluasa, namun tak tampak sekadar jamming. Sementara Maynard James Keenan (vokal) malah terhitung sangat minimal kemunculannya. Ia membiarkan musiknya berkisah jauh lebih banyak daripada peran vokalnya.

Saya kurang sepakat bila album ini disebut “kompleks”, sebagaimana umumnya kerjaan band-band progressive rock yang sok canggih. Orientasi durasi panjang tanpa bebunyian rumit di album ini agaknya malah menyediakan ruang selapangnya bagi pendengar untuk merespons detik per detiknya dengan akal dan rasa. Keenan memberi saran bahwa album ini perlu didengarkan secara berulang dan sabar. Jika tabah menunggu 13 tahun pun sanggup, mengapa tidak?

 

7. James Blake – Assume Form

Image result for assume form james blake

Setelah laku diajak berkolaborasi dengan sederet rapper kondang seperti Kendrick Lamar, Jay Z, dan Vince Staples, James Blake mungkin jadi penasaran sendiri, “apakah vokalku secocok itu dengan musik hip hop?” Maka di Assume Form, ia mencoba mengurangi kadar minimalisnya, dan menggarap beberapa lagu dengan musisi upbeat seperti Travis Scott, Andre 3000, dan Rosalia. Oke, bukan langkah yang buruk. Namun, harus diakui talenta mutlaknya memang di nomor-nomor melankolis. “Can’t Believe The Way We Flow” menjadi lagu romantis yang mampu melumpuhkan belahan jiwa manapun.

Yang khas dari Blake adalah penggunaan variasi bunyi-bunyian unik sebagai pengiring vokal, seperti dentingan piano—yang entah kenapa selalu membuat saya membayangkan gelembung air di akuarium–di nomor pembuka berjudul sama, “Assume Form”. Begitu juga koor lembut di “Don’t Miss It”, single pertama album ini yang sempat disindir Pitchfork sebagai lagu sad boy: “The world has shut me out / If I give everything I’ll lose everything / Everything is about me / I am the most important thing / And you really haven’t thought all those cyclical thoughts for a while?” Blake yang baper lantas menuding balik kritikus media itu sebagai penebar racun maskulinitas. Loh, Didi Kempot saja sebagai penjaja lagu-lagu penguras air mata justru menggunakan label sad boy sebagai merek jualan, dan terbukti laris manis tanjung kimpul.

 

6. Tyler The Creator – Igor

Image result for tyler the creator earfquake

Tidak banyak album hip hop yang benar-benar bernas tahun ini. Bisa dibilang hanya rapper bernama asli Tyler Gregory Okonma ini yang merilis album hip hop dengan standar prima. Nama IGOR diambil dari stereotip nama karakter asisten laboratorium tokoh-tokoh jahat di film-film seperti Frankenstein dan Dracula. Upaya merepresentasikan sisi gelap Okonma dalam menghadapi prahara asmara yang pelik.

Narasi besar album ini sederhana, tentang jatuh cinta (“EARFQUAKE”), patah hati (“GONE, GONE/THANKYOU”), dan usaha mengembalikan situasi normal (“ARE WE STILL FRIEND?”). Kisahnya tidak diuraikan dengan lirik-lirik rumit dan mencoba intelek. Narasi utuh itu dibagi dengan rapi per lagu, menjadi plot yang enteng diikuti dan ditulis secara apa adanya. Jatah kemewahannya ada di bagian produksi music yang amat serius. Variasi instrumen, pitch yang dimanipulasi, dan sentuhan-sentuhan lain untuk mengemas apik album ini. Ambil contoh, bunyi distorsi bas statis yang membuka IGOR di lagu “IGOR’S THEME” menjadi bunyi yang lantas kerap datang menghantui di lagu-lagu selanjutnya.

Okonma sendiri lebih banyak bernyanyi daripada ngerap di album ini, namun suara aslinya tak mudah kita kenali karena utak-atik efek vokal yang cukup intens. Di saat Kanye West sudah dua kali merilis album jelek, Tyler The Creator justru kian bertangan dingin.

 

5. FKA Twigs – Magdalene

Image result for fka twigs magdalene

If I walk out the door, it starts our last goodbye”, bunyi lirik pembuka Magdalene dalam lagu “Thousand Eyes”. Mendengarkan album ini seperti melihat seorang perempuan tertatih-tatih di pinggir jurang. Rapuh bak patung kaca. Tak mungkin lagu-lagu seemosional ini lahir dari seseorang yang tak pernah patah hati dan terkapar karenanya. Agar Anda sedikit punya gambaran, perlu diinformasikan bahwa Tahliah Debret Barnett (nama asli FKA Twigs) sebelumnya pernah menjalin kasih dengan Robert Pattinson, sebelum akhirnya kandas di musim panas 2017 dan jadi landasan kreasi album ini.

Eksperimen atmosfer adalah mainan favorit Barnett, “Saya menyukai suara-suara industrial dan menggabungkan bunyi-bunyi harian seperti alarm mobil”. Namun, dibanding album LP1, Magdalene lebih banyak bersandar pada ruang hampa. Selain demi menyemai efek dramatis, langkah ini juga memberi ruang bagi vokal sopran akrobatiknya untuk lebih bebas berkumandang. Coba dengar “Sad Day”, seketika membuat hari kita temaram, merawat perasaan bersalah sepanjang waktu, dan resah akan apa pun yang bisa berujung buruk. “Sad Day” akan mengingatkanmu pada sayatan-sayatan luka dalam jejak rekam asmara kita. Jika belum cukup mendung, lanjutkan sampai lagu pamungkas, “Cellophane”.

 

4. Vampire Weeekend – Father of Bride

Image result for vampire weekend father of the bride

Vampire Weekend adalah harapan besar dari grup band tersisa di masa ini yang masih dalam kondisi waras dan prima untuk merilis karya bagus. Untungnya mereka masih bisa melunasi doa itu.

Selain punya unsur musikal yang tetap ruah berlimpah dan memuat “Harmony Hall’ selaku salah satu lagu terbaik mereka, Father of Bride membawa kebaruan berupa asupan tinggi music country dan tropikal, musik ala musim semi. Adapula banyak kolaborasi, bahkan tiga di antaranya dengan Danielle Haim, termasuk di nomor pembuka bertajuk “Hold You Now” yang mencomot lagu paduan suara “God Yu Tekem Laef Blong Mi” dari komposisi Hans Zimmer untuk film The Thin Red Line sebagai chorus.

Kendati musik di Father of Bride terdengar riang, namun liriknya tak lantas kehilangan keseriusan dan wacana kritis. Isi kepala Ezra Koenig (vokal) yang kini sudah menjadi ayah dengan polemik-polemik domestik juga signifikan bagi departemen lirik. Senyawa politisnya memang berkurang, tergilas resah-resah asmara dan renungan pendewasaan. Namun, Koenig tetap menyentuh isu politik identitas di beberapa lagu, misalnya “Sympathy”–yang menggunakan pedal drum ganda—bercakap perihal peta politik agama global terkait tendensi islam yang belakangan seakan menjadi wajah terorisme: “Judeo-Christianity, I’d never heard the words / Enemies for centuries, until there was a third / In the ping-pong match of constant desire /I was never gonna get ahead / ‘Cause I was looking in the mirror”.

Ia juga mengulas Deklarasi Balfour—dukungan  untuk pendirian “tanah air bagi orang Yahudi” yang disepakati pasca-Perang Dunia I namun tak kunjung terealisasi—pada “Jerusalem, New York, Berlin”. Hingga dasawarsa depan, naga-naganya Vampire Weekend masih akan relevan.

 

 

3. (Sandy) Alex G – House of Sugar

Image result for sandy alex g house of sugar

Mendengarkan House of Sugar membuat saya riang hati lagi pada kemudahan akses ulik musik hari ini, kendati sebenarnya Alex G bukan sosok yang terasing dari radar media. Masih direkam di rumahnya—seperti album-albumnya sebelumnya—House of Sugar memaksimalkan sound lo-fi dan progresi kord yang kasar hingga menghasilkan semesta dreamy pop yang abstrak, penuh lapisan, serta mengandalkan tekstur dibanding struktur: kadang hanya ada satu chorus, tanpa chorus, atau bahkan entah apakah itu verse, chorus, atau apapun.

Gaya penulisan liriknya pun cukup otentik, misalnya pada “Hope” tentang sahabatnya yang meninggal overdosis, “He was a good friend of mine / He died /Why I write about it now? /Gotta honor him somehowI”. Namun, lagu terbaik di sini adalah “Gretel”. Sama seperti nama albumnya, lagu ini pun buah dari dongeng anak Hansel and Gretel asal Jerman, tentang kakak adik yang disekap oleh penyihir di sebuah rumah yang dibangun dari roti, gula, dan kue. Alex G menggubah kisah itu dalam lirik “Gretel”, membayangkan andai tokoh Gretel menimbang moral dengan cara berbeda, lalu dengan egois meninggalkan saudaranya, Hansel sendirian bersama sang penyihir: “Good people gotta fight to exist, uh huh” dan “Good people got something to lose, uh huh”. Ide brilian dari mana itu? Dalam aspek musik, lagu ini sama seperti lagu lainnya di album, menghadirkan banjo, biola, dan suara anak-anak untuk menyuguhkan nuansa cerita rakyat. Hasilnya pun semestinya, House of Sugar terasa naif, manis, dan surealis. Salah satu karya paling imajinatif di tahun ini.

 

2. Billie Eilish – When We All Fall Asleep, Where Do We Go?

Image result for billie eilish when we all fall asleep

Musik anak zaman sekarang apa sih? Pertanyaan ini pernah membayangi kita, generasi yang mungkin tualang musiknya mandek di Ed Sheeran dan Arctic Monkeys. Setahun lalu saya sempat mengalami “gap referensi musik” tatkala berbincang dengan seorang mahasiswa semester akhir. Satu yang saya ingat, ia banyak menyebut nama Billie Eilish. Dan mulai bulan lalu, saya menggunakan nama itu sebagai rujukan setiap mengisi acara diskusi di hadapan so called generasi Z, dan selalu berhasil membuat saya tampak setengah dekade lebih muda. Maka, selamat datang di era baru kawan-kawan.

Jika dulu kita masih ngotot memperdebatkan tentang bagus-tidaknya Justin Bieber, kini kita sudah sampai di era musisi yang menjadikan Justin Bieber sebagai idolanya. Bagi yang mengikuti Lana Del Rey dan Lorde, sebenarnya musik Eilish jauh dari kata revolusioner. Ia menyerap hampir semua unsur dominan musik kekinian, mulai dari hip hop, indie pop, electronic, industrial, trap, synth-pop, dance-pop, manipulasi vokal, serta preferensi tekstur dan atmosfer daripada notasi dan melodi. Hanya Eilish berhasil mengunyah semuanya untuk dikemas lewat pendekatan penulisan lagu dengan tajuk konversasi gelap masa kini semacam, “All The Good Girls Go To Hell”, “Bury A Friend”, atau “Wish You Were Gay”. Belum lagi “Bad Guy” yang anthemic.

When We All Fall Asleep, Where Do We Go? adalah salah satu album terbesar di Amerika pada tahun ini. Eilish menjadi artis termuda dalam sejarah yang mendapatkan nominasi di empat kategori utama Grammy. Ia adalah orang pertama yang lahir setelah abad 21 yang berhasil membuat album yang menempati ranking satu di Amerika. Keempat belas lagunya di album ini (Artinya semua, kecuali “Goodbye”) masuk peringkat Hot 100, menjadikannya perempuan pertama yang melakukannya. Apa yang ingin saya katakan dari data-data itu adalah jika masih bersikeras tidak mau mendengarkan Eilish, maka bersiaplah menjadi tidak relevan. Berhenti mencari-cari musik baru, dengarkan saja playlist nostalgia sampai mati.

 

  1. Lana Del Rey – Norman Fucking Rockwell!

Image result for norman fucking rockwell

Tanpa Lana Del Rey, dekade terakhir akan sungguh lain. Julukan empunya “hollywood sadcore” mungkin hanya miliknya seorang, namun karakter musikal dengan reverb, guitar fuzz, vokal meratap, dan aransemen yang atmosferik lagi sinematik, tertinggal sebagai jejak yang mengundang duyun-duyun pengikut. Ia menebar pengaruh pada Lorde, Halsey, album terbaru Beyonce, dan terakhir adalah Billie Eilish. Bila model ini masih menjadi koridor penting di industri pop, saya ragu apakah Taylor Swift masih akan didengar di tahun-tahun mendatang.

Mulai dari Born To Die (2012) yang masih sedikit meraba-raba, lalu dimatangkan di Ultraviolence (2014), dua album Lana Del Rey berikutnya adalah karya pengawet status quo. Namun, di ujung dekade ini,  ia mengharapkan sesuatu yang agung, maka Norman Fucking Rockwell! adalah kreasi penghabisan untuk naik kelas. “Goddamn manchild / You fucked me so good that I almost said ‘I love you’, bunyi lirik pahit khasnya menjadi awalan album yang semena-mena. Dua lagu pertama—“Norman Fucking Rockwell!” bersama “Mariners Apartment Complex”–sudah menunjukan taji, lalu diringkus pesona tak terbantahkan “Venice Bitch”.

Lompat ke “Doin’ Time”, Lana Del Rey menggubah lagu rilisan Sublime di tahun 1996. Ini adalah contoh kualitas sentuhan Lana Del Rey tatkala banyak kritikus menganggap pilihan lagu itu amat tepat dan berhasil “disihir” hingga sungguh terdengar seperti tidak mungkin ada di album musisi lain, bahkan kendati kita tahu musik Lana Del Rey terhitung autentik. Album ini lalu ditamatkan secara epik justru dengan sederhana, duet vokal-piano di nomor “Hope Is a Dangerous Thing for a Woman Like Me to Have – but I Have It”. Suara Lana Del Rey sendiri sudah mempersembahkan efek meruang dan dramatis, apalagi dengan lirik aduhai “Hello, it’s the most famous woman you know on the iPad / Calling from beyond the grave, I just wanna say, “Hi, Dad”.

Pada esensi karya Lana Del Rey, kita bisa menemukan estetika, kultur, dan personal. Di Norman Fucking Rockwell!, ia menyelitkan sejumlah referensi budaya pop klasik, termasuk tokoh-tokoh yang membuatnya terhubung, seperti pujangga feminis Sylvia Plath atau Norman Rockwell. Yang disebut terakhir adalah pelukis mahsyur dan prolifik namun jarang dipandang sebagai pelukis serius lantaran karya-karyanya identik dengan produk kitsch dan industry borjuis, seperti Coca-Cola dan Kolonel Sanders. Lana Del Rey agaknya merasa terwakili oleh riwayat Rockwell. Ia belum terlepas dari gelayut perasaan inferior, bahkan kendati ini adalah albumnya yang paling ambisius secara artistik. Lebih banyak instrumen, lebih kental psychedelic rocknya, lebih kaya fantasi visual, lebih indah. Andai dekade ini serupa galeri seni, dan album ini adalah lukisan, maka ia akan terpajang di dinding dan ruangan yang paling semarak.

Bumi yang Tak Dapat Dihuni – David Wallace-Wells

Tags

, , , ,

Pemanasan global dan kiamat lingkungan sudah hampir tak terselamatkan. Kampanyenya sudah bergaung ke mana-mana, namun kenapa kita tak pernah benar-benar peduli? Berbagai data di buku ini–yang mungkin sebenarnya bisa didapat dengan mudah di manapun–menunjukan bahwa manusia menciptakan pengrusakan alam ketika sudah tahu risikonya sama banyaknya dengan ketika belum tahu.

Salah satu jawaban paling receh yang terlintas di kepala saya adalah justru karena permasalahannya terlalu besar sehingga membuat pesimis dan putus asa. Sama seperti ketika membaca buku ini. Sebagaimana buku-buku lain tentang ancaman lingkungan, David Wallace seperti membuka keran berisi fakta-fakta mengerikan tentang prediksi kiamat yang sudah sangat dekat bagi kita semua. Jor-joran menderas. Potensi tenggelam, kelaparan, krisis udara, kebakaran, kekeringan, perang dunia, semuanya, sehingga seakan tak ada lagi celah untuk umat manusia selamat sampai beberapa dasawarsa lagi. Tentu lebih seram daripada buku-buku “Kiamat 2012“.

Memang, fase pesimis agaknya selalu harus dilalui oleh siapapun yang mempelajari perubahan iklim. Bahkan, muncul pula paham “nihilisme iklim” dari sejumlah aktivis Kanada. Namun, David Wallace menekankan bila pengetahuan bahwa pemanasan global adalah perbuatan kita seharusnya menenangkan, bukan sumber keputusasaan.

Membaca buku ini sempat pula membuat saya memikirkan betapa isu lingkungan masih belum mendapat proporsi atau respons yang pantas dalam konten budaya populer, terutama industri perfilman, dibanding isu LGBT dan rasisme misalnya. Banyak film yang mengangkat set distopia bumi luluh lantak (Terminator, Mad Max, dll) namun tak mendorong penonton untuk menyeriusi isunya. Sebagian film hanya menjadikan kiamat sebagai latar mula cerita (yang kadang-kadang justru tampak keren), sementara yang lain lagi meresponsnya dengan narasi yang mengandung delusi bahwa akan ada tokoh yang akan menyelamatkan kita dan membereskan ini semua.

Salah satu tantangan dalam pengembangan cerita mungkin adalah penentuan tokoh antagonisnya. Beda dengan kasus nuklir seperti film-film propaganda Amerika, tanggung jawab moral perubahan iklim jauh lebih rumit. Pemanasan global bukan sesuatu yang bisa terjadi hanya karena beberapa orang membuat perhitungan yang keliru. Pemanasan global sudah terjadi di mana-mana, tanpa pelaku langsung yang menimbulkannya. Kiamat nuklir punya beberapa lusin biang keladi, sementara bencana iklim punya miliaran yang tanggung jawabnya melintasi waktu dan tersebar di seluruh planet. Bukan berarti tanggung jawabnya terbagi merata. Walau perkembangan perubahan iklim akan ditentukan oleh jalur industrialisasi di negara-negara berkembang, sekarang negara-negara kaya dunia adalah yang paling bertanggung jawab–10 persen terkaya menghasilkan separuh emisi di bumi. Penyebaran itu mirip dengan kesenjangan pendapatan global, makanya menjadi alasan kelompok Kiri menuding sistem kapitaisme industrial yang harus disalahkan.

Pada 2018, dipublikasikan satu penelitian yang membandingkan sebanyak apa suatu negara mungkin dibebani dampak ekonomi perubahan iklim dibanding tanggung jawanya untuk mengurangi pemanasan global yang diukur dengan emisi karbon. Nasib India begitu miris, diperkirakan sebagai negara yang terpukul paling keras oleh perubahan iklim. India menanggung dampak dua kali lipat lebih besar dibanding negara lain, dan empat kali lipat tanggung jawabnya sendiri terhadap perubahan iklim. Tiongkok di situasi sebaliknya, tanggung jawabnya empat kali lipat beban yang ditanggung. Menjadi sulit bagi pemerintah Tiongkok untuk tersadarkan dan peduli, padahal mereka adalah salah satu pemegang kartu AS.

Memang jika harus menyalahkan, maka yang paling tepat jadi sasaran adalah fatalisme politik dan keyakinan teknologi. Kembali saya percaya politik adalah panglimanya. Perubahan harus dilakukan dengan skala global. Makan makanan organik atau menggunakan sedotan SJW itu boleh, tapi untuk menyelamatkan dunia cara yang terbaik adalah mengubah kebijakan.

 

Orang-Orang Oetimu – Felix K. Nesi

Tags

, , ,

Image result for orang-orang oetimu

Setnya adalah menjelang akhir 1990-an. Bukan, bukan Jakarta atau gedung DPR, melainkan sebuah wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Namun, kisahnya tak pula lepas dari konteks menjelang krisis moneter dan reformasi, tatkala negara makin giras, gerilyawan juga kian berhasrat untuk bertindak, sementara gereja ya begitu-begitu saja.

Satu kecakapan Felix yang menonjol sekali di Orang-Orang Oetimu adalah sentuhan penokohanannya. Ia tampak menaruh tumpuan bukan pada plot saja — meski alurnya nonkonvensional pula–melainkan kepada tokoh per tokoh yang konflik personalnya masing-masing dikembangkan sedemikian rupa, lalu dijahit dengan rapi. Lihat saja tokoh-tokohnya, mulai dari polisi yang galak namun lemah pada wanita, gadis SMA yang sensual lagi cerdik, pastor yang ‘manusiawi’ dan sebagainya. Semuanya memikat. Latar belakang mereka berhasil digali dengan trengginas untuk menjadi basis pengembangan cerita.

Novel dari Felix juga piawai dalam menyinggung budaya dan sejarah wilayah Oetimu dan Nusa Tenggara Timur. Namun, novel yang memenangkan sayembara dari DKJ pada 2018 ini tak tampak sekadar menjual eksotisme atau khazanah lokalitas, karena perbendaharaan detail modern seperti RX King, menonton Piala Dunia, dan lain sebagainya itu juga muncul, dan sungguh menarik. Novel ini mengisahkan sesuatu yang jauh (setidaknya bagi saya), namun terpercaya. Elemen etnografinya kuat sekali.

Intinya, Orang-Orang Oetimu adalah novel yang paling banyak direkomendasikan ke saya pada tahun ini, dan akhirnya saya merekomendasikannya pada Anda-Anda sekalian pula.