Pekak: Skena Eksperimental Noise di Asia Tenggara dan Jepang – Indra Menus

[ADVERTORIAL] [IKLAN]

Kendati tak jarang menerima kesan penolakan di kanan-kiri, perkara noise berjasa untuk saya lantaran sangat seksi untuk dipinjam sebagai materi paper dan beragam tugas perkuliahan. Merasa berutang budi, saya mencoba menebusnya dengan menjadi editor buku dari Bapak Musik Jogja ini. Menyunting buku ini serasa berpetualang bersama beliau ~

Langsung dari paparan Indra Menus, salah satu sosok lokal paling berkapasitas untuk cuap-cuap tentang noise. Dijual terbatas. Jangan sampai menyesal jika di suatu pagi noise menjadi lebih bising dan penting dibanding sekarang, lalu kita kelabakan mencari buku ini.

Image may contain: 1 person
Advertisements

Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang – Benedict Anderson

Tags

, ,

Nasionalisme adalah salah satu pertanyaan terbesar saya selama ini. Malahan, cenderung alergi. Selalu ada yang rasanya tidak beres dengan hal-hal berbau nasionalisme. Gara-garanya, saya tidak pernah lagi sudi mengangkat tangan untuk memenuhi pose hormat grak pada bendera setiap upacara. Gara-garanya, saya beradu mulut dengan ibu saya yang bisa-bisanya punya rumus berbunyi “anti-nasionalis: komunis”. Bahkan, gara-garanya pula saya akhirnya memutuskan mencoret film Forrest Gump dari daftar personal 50 Film Paling Tercinta Sepanjang Masa.

Gagasan paling simpelnya adalah kenapa kita tidak bisa berbuat baik terhadap semua orang? Kenapa mesti memprioritaskan negara sendiri sampai di tahap merugikan negara lain? Bukankah kebutuhan dan prinsip moral dasar “jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lakukan kepadamu” itu seharusnya berlaku universal? Makin banyak lelucon lahir dari jargon NKRI harga mati yang kerap mengingkari kemanusiaan. Bagi saya, nasionalisme adalah salah satu wujud fanatisme yang terkonyol, bahkan lebih wagu dibanding fanatisme terhadap agama.

Namun, saya sendiri belum selesai dengan pergulatan persepsi ini. Saya masih menyimpan kontradiksi. Saya jengkel dengan nasionalisme, tapi suka sekali dengan bahasa Indonesia. Mungkinkah kita bisa melawan semangat nasionalisme dengan tetap memperjuangkan bahasa negara? Atau saya memang harus mulai menanamkan mental go internasional dalam keseharian dengan selalu berkomunikasi pakai bahasa Inggris? Sulit, bisa-bisa sepekan kemudian saya kehilangan pergaulan.

Lalu terbelilah buku ini. Imagined Communities adalah buku yang hampir selalu dikutip oleh esai penulis lokal yang mengulas perihal nasionalisme. Akan tetapi, kadang saya cuma mendapati permukaan pemikiran buku ini saja yang disisipkan dalam tulisan-tulisan itu. Kutipan yang seolah hanya legitimasi formal belaka. Jangan-jangan penulis-penulis itu tidak sungguh membaca buku ini.

Padahal isi buku ini memang menarik. Agak lain dengan asumsi awal saya yang mengira Imagined Communities adalah ceramah habis-habisan terhadap nasionalisme. Ternyata sentimen (almarhum) Bennedict Anderson tidak serta merta negatif. Faktanya ia hanya menguliti konteks kelahiran dan perkembangan konsep nasionalisme dan kebangsaan secara historis. Kita kemudian bisa menempatkan relevansinya sendiri dalam konteks masa kini guna menjawab “apakah nasionalisme dibutuhkan atau mengalutkan?”.

Ide pokok buku ini adalah bahwasanya nasionalisme bukan politic community melainkan imagined politic community. Benedict Anderson mengatakan bahwa bangsa atau nation adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka atau bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentang mereka. Namun, di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka. Bangsa adalah proyeksi atau proyek.

Bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang pada hakikatnya bersifat terbatas karena bahkan bangsa-bangsa paling besar pun yang anggotanya mungkin menyentuh angka milyaran memiliki garis-garis perbatasan yang pasti meski elastis. Di luar perbatasan itu adalah bangsa-bangsa lain. Tak satu bangsa pun membayangkan dirinya meliputi seluruh umat manusia.

Bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang berdaulat lantaran konsep itu lahir dalam kurun waktu di mana era pencerahan dan revolusi memporak-porandakan keabsahan tanah dinasti berjenjang berkat pentahbisan oleh Tuhan sendiri. Konsep itu beranjak matang di masa para pengikut paling setia dari agama universal pun dihadang kemajemukan agama-agama universal yang masih hidup dan harus menghadapi  masing-masing klaim keimanan ontologis serta bentang kewilayahannya yang terbatas. Maka dari itu, bangsa-bangsa bermimpi tentang kebebasan.

Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas. Sebab tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penghisapan yang mungkin tak terhapuskan, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar-mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia merenggut nyawa orang lain dan juga nyawa sendiri hanya demi pembayangan tentang yang terbatas itu.

Akar Kelahiran Nasionalisme

Menilik jauh sebelum nasionalisme lahir, dua sistem budaya yang relevan di dunia adalah komunitas religius dan ranah dinastik.

Koherensi yang tidak disadari oleh komunitas-komunitas yang dibayangkan secara keagamaan itu sendiri melaju ke kemerosotan sesudah akhir abad-abad pertengahan. Ada dua alasan di antaranya. Pertama, dampak penjelajahan jagat non-Eropa yang secara mendadak memperluas cakrawala budaya dan geografis yang dengan demikian juga memperluas konsep manusia tentang bentuk-bentuk kehidupan manusia yang mungkin ada. Kedua, terjadinya penurunan pangkat bahasa sakral tiap agama secara bertahap. Misalnya, bagaimana kapitalisme cetak membuat banyak buku-buku di Eropa tidak lagi dicetak dalam bahasa Latin pada abad ke-16.

Sementara itu ranah dinastik berarti membicarakan masa di mana sebelumnya kemaharajaan mengorganisasikan segala-galanya dan kekuasaan didapat dari sumber yang gaib. Di era ini, batas-batas wilayah bersifat cair dan tidak tetap, sementara para yang dipertuan tanpa terlacak telah lebur satu sama lain. Namun, keabsahan otomatis monarki sakral mengawali kemerosotannya secara perlahan-lahan di Eropa Barat. Berbagai revolusi dan perang saudara menjadikan sistem monarki luntur.

Namun, selain dua sistem budaya itu, transformasi pemahaman atas waktu juga menjadi penting atas kelahiran-kelahiran komunitas terbayang bangsa-bangsa. Ben memilih mengajukan struktur dasar dua bentuk pembayang yang pertama berkembang di Eropa pada abad ke-18, yakni novel dan suratkabar.  Kedua bentuk ini adalah wahana yang menyediakan cara-cara teknis mewujudkan jenis komunitas terbayang.

Struktur gaya novel lama merupakan piranti presentasi keserempakan dalam waktu homogen dan hampa, atau sebagai komentar atas kata “sementara itu”. Ada narasi yang memungkinkan untuk tokoh A tidak pernah kenal tokoh B, namun mereka memiliki hubungan dan melakukan sesuatu di waktu yang serempak. Ini menunjukan kebaruan dunia bayangan yang dibangun melalui novel. Begitu juga format novelistis di surat kabar yang menjamin ada berita kelaparan di Mali, percobaan kudeta di Irak, atau pembangkangan politik di Soviet yang terjadi serempak. Seorang Amerika misalnya, tidak akan pernah bertemu dengan segenggam di antara sekitar 240 juta sesama orang Amerika. Namun, ia percaya penuh akan kenyataan bahwa mereka semua melakukan kegiatan tertentu secara mantap, anonim, dan serempak setiap waktu.

Keruntuhan ketiganya–komunitas religius, ranah dinastik, dan pemahaman waktu yang lama–terjadi secara perlahan dan tidak merata, pertama-tama di Eropa Barat dan belakangan di tempat-tempat lain di bawah perubahan ekonomi, penemuan ilmiah, dan perkembangan wahana komunikasi yang menyebabkan kosmologi terceraikan dari sejarah.

Namun, barangkali tak ada yang lebih besar perannya ketimbang kapitalisme cetak.

Sebagai salah satu bentuk awal usaha kapitalistis, penerbitan buku benar-benar bernafsu mencari pasar yang tiada hentinya. Para penerbit mendirikan cabang-cabang usaha di seluruh pelosok Eropa. Pangsa pasar pertama yang dihela para penerbit adalah Eropa yang cendekia, wilayah para pembaca tulisan Latin yang tersebar luas namun merupakan strata yang tipis. Fakta tentang bahasa Latin paling menentukan dalam hal ini adalah bahwasanya bahasa Latin merupakan bahasa orang-orang bilingual. Relatif sedikit orang yang dilahirkan ke dunia untuk bicara dalam bahasa Latin. Bahasa Latin biasanya bukan bahasa ibu si pemakai. Para penerbit pun mulai makin riuh mengasongkan buku-buku murah dalam bahasa-bahasa ibu.

Bahasa-bahasa cetak ini membentangkan landasan bagi kesadaran nasional dalam tiga cara yang dapat dibedakan. Pertama, menciptakan ajang pertukaran dan komunikasi terunifikasi di bawah bahasa Latin dan di atas bahasa-bahasa ibu lisan. Dengan bahasa-bahasa cetak, mereka jadi lebih memahami apa kata orang lain. Perlahan mereka mulai menyadari keberadaan ratusan ribu, bahkan jutaan, orang lain dalam batas-batas kancah bahasa tertentu, dan pada saat yang sama mereka juga mulai sadar bahwa hanya ratusan ribu dan jutaan orang itu saja yang mengutarakan diri dalam bahasa yang mereka pakai. Sesama pembaca yang terhubung lantas membentuk janin komunitas yang dibayangkan secara nasional.

Kedua, kapitalisme cetak memberi kepastian baru kepada bahasa yang dalam jangka panjang membantu membangun citra kepurbaan yang begitu penting bagi ide subjektif tentang bangsa. Buku tercetak akan mempertahankan bentuknya secara permanen dan dapat terus direproduksi, Alhasil, bahasa dalam buku-buku itu akan awet dibanding perkembangan bahasa sebelum era kapitalisme cetak. Maka dari itu bahasa sebelum era kapitalisme cetak lebih sulit kita pahami karena masih sangat dinamis.

Ketiga, kapitalisme cetak menciptakan bahasa-kekuasaan yang jenisnya berlainan dengan bahasa-bahasa ibu yang dipakai dalam urusan administrasi sebelumnya. Tak pelak logat-logat tertentu lebih mendekati bahasa cetak tertentu dan akhirnya mendominasi bentuk akhir bahasa cetak itu.

Kreol dan Nasionalisme di Benua Amerika

Selain Eropa, Ben kemudian mengajukan negara-negara baru di Benua Amerika sebagai contoh karena mereka bukan hanya merupakan negara-negara pertama yang muncul di peta dunia, melainkan juga merupakan purwarupa pertama penunjuk seperti apa seharusnya paras negara-bangsa. Negara-negara baru di Benua Amerika yang lahir pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 menghadirkan daya tarik yang tak lumrah karena rasanya mustahil menjelaskan kehadiran mereka dengan berpijak pada dua faktor dari nasionalisme Eropa.

Pertama, semua negara baru di Amerika adalah negara kreol (orang yang mewarisi darah murni Eropa dari para moyangnya namun dilahirkan di luar Eropa), dibentuk dan dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kesamaan bahasa dan kesamaan nenek moyang. Bahasa tidak pernah menjadi persoalan dalam perjuangan pembebasan nasional di sana.

Kedua, Ben menyangsikan tesis yang mengatakan bahwa kedatangan nasionalisme disebabkan gerakan-gerakan populis kelas bawah. Sebaliknya, Ben justru berpendapat bahwa faktor kunci yang menjadi bahan bakar gerakan merebut kemerdekaan dari kekuasaan Madrid dalam aksi-aksi penting seperti pembebasan Venezuela, Meksiko, dan Peru adalah rasa takut akan mobilisasi politis kelas bawah atau rasa takut akan pemberontakan para indian dan budak kulit hitam.

Dua faktor yang paling kerap disebut dalam paparan tentang lahirnya negara-negara itu adalah persebaran ide-ide pencerahan dan cengkeraman Madrid yang sewenang-wenang dan mengobarkan frustasi di kalangan kreol. Namun, menurut Ben, faktor yang lebih kuat adalah karena tiap republik di Amerika Selatan yang baru telah menjadi unit administratif sejak abad ke-16 hingga abad ke-18.  Pembentukan itu sampai taraf tertentu bersifat kebetulan dan semaunya menandai batas penaklukan-penaklukan militer, namun seiring perjalanan waktu, unit-unit itu makin mengembangkan kenyataan yang kukuh di bawah pengaruh geografis, politis, serta ekonomi. Luasnya wilayah dengan beraneka jenis tanah dan iklim, serta kendala komunikasi akhirnya memberi masing-masing unit administrasi itu watak swasembada tertentu.

Tapi pertanyaannya lalu apa yang membuat zona administratif bisa memberikan rasa keterikatan dan mewujudkan imajinasi tanah air? Ben mengajukan tesis bahwa perjalanan-perjalanan ziarah pada pejabat atau fungsionalis kreol yang sengaja dibatasi dan ditolak untuk pulang ke pusat memupuk watak baru. Setelahnya, kapitalisme cetak pun tiba lewat surat kabar. Pada hakikatnya, koran-koran itu menyuguhkan kabar-kabar perdagangan, penunjukan pejabat-pejabat kolonial, pengumuman perkawinaan pejabat, dan sebagainya. Dengan kata lain, yang menjalin semua warta itu menjadi kesatuan adalah struktur administrasi kolonial dan sistem pasarnya sendiri. Surat kabar yang terbit di Caracas secara alamiah menciptakan sebentuk komunitas terbayang di antara khalayak pembaca tertentunya. Untuk siapa kapal ini? Pengantin ini?  Harga ini?  Seorang kreol pun tidak akan terlalu tertarik membaca suratkabar Madrid karena memang tidak memberitakan dunianya.

Pada abad ke-16 pun orang-orang Eropa sudah mengawali kebiasaan aneh untuk menamai tempat-tempat yang jauh sebagai versi baru dari nama kampung halaman mereka. Misalnya, New York, Nieww Amsterdam, Nova Lisboa, dan sebagainya. Sebenarnya ini bukan hal baru karena di Asia Tenggara pun kita juga mengenal Chiangmai (kota besar baru), Pekanbaru, Kota Bahru, dan sebagainya. Namun, imbuhan baru di sini biasanya bermakna penerus atau pewaris dari sesuatu yang sudah tidak ada. Sementara yang menjadi penamaan-penamaan baru di benua Amerika antara abad ke-16 sampai ke-18 adalah bahwa baru dan lama dipahami secara sinkronistis atau mengada bersama. Ini gara-gara adanya sejumlah besar kelompok orang yang berada pada posisi memungkinkan untuk memikirkan diri sendiri sebagai pihak yang hidup secara sejajar dengan kolompok-kelompok orang lainnya yang juga cukup besar. Mungkin orang-orang yang hidup di dataran tinggi Peru, di padang Argentina, atau pelabuhan New England merasa terhubung dengan wilayah-wilayah tertentu yang ribuan mil jauhnya dari situ.

Amerika bisa memenuhi itu di antaranya karena pengaruh aparat-aparat birokratis yang kuat dan perpindahan penduduk berskala raksasa dan cukup serempak dari Eropa. Ini berbeda dengan perpindahan-perpindahan penduduk dari Tiongkok atau Arab ke Asia Tenggara dan Afrika Timur. Pasalnya, migrasi-migrasi ini jarang direncanakan dan lebih langka membuahkan hubungan-hubungan subordinatif yang stabil. Dapat dikatakan misalnya, orang Tionghoa yang pindah ke luar negeri secara apolitis putus hubungan sama sekali dengan Peking, lagipula mereka juga buta aksara dan berbicara dalam berbagai bahasa lokal yang tak dipahami oleh orang Tionghoa di luar lingkungan masing-masing. Mereka akhirnya terserap masuk ke budaya setempat di mana mereka pindah, atau malah tersubordinasi oleh orang-orang Eropa.

Kegandaan benua Ameirka ini membantu menjelaskan mengapa nasionalisme pertama kali muncul di Dunia Baru. Faktor-faktor ini juga menjelaskan sifat unik dari peperangan revolusioner yang menghanguskan Dunia Baru antara tahun 1776 hingga 1825. Di satu sisi, di antara kaum kreol, tak ada yang bermimpi akan melestarikan imperium lama, melainkan mengatur kembali pembagian kekuasaan internalnya dan memindahkan metropolis dari Eropa ke Amerika. Sasaran kaum kreol bukan memiliki New London yang menggulingkan Old London, melainkan menjaga keberlanjutan kesejajaran antara keduanya. Di sisi lain, kaum revolusioner kreol juga tak terlalu terancam oleh pembinasaan ragawi atau pemerosotan martabat menjadi budak saat melakukan perang karena pada dasarnya kreol tetaplah kulit putih, Katolik, dan Spanyol. Perang-perang revousioner ini meski pahit masih merupakan pertumpahan darah antarkerabat sendiri. Ini menjamin bahwa sesudah lewat tenggang waktu peperangan tertentu, ikatan budaya, kadang politis dan ekonomis, dapat dirajut kembali antara para mantan metropolis dengan bangsa-bangsa baru yang merdeka.

Gelombang Nasionalisme Baru

Akhir gerakan-gerakan pembebasan nasional yang telah berhasil mencapai tujuannya di Benua Amerika hampir bersamaan waktunya dengan menyingsingnya fajar zaman nasionalisme di Eropa. Watak nasionalisme-nasionalisme baru ini (antara tahun 1820-1920) telah mengubah paras Dunia Lama. Ada dua tampilan mencolok yang membedakan dari para leluhurnya. Pertama, dalam hampir seluruh nasionalisme jenis ini, bahasa tulis nasional punya makna penting ideologis-politis, sementara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris tak pernah jadi soal dalam nasionalisme-nasionalisme Amerika. Kedua, semuanya bisa bekerja berdasarkan model-model yang disediakan oleh para pendahulu mereka yang jauh, dan sesudah terjadinya Revolusi Perancis, dari para pendahulu yang tak begitu jauh. Bangsa pun menjadi sesuatu yang mampu secara sadar direncanakan semenjak awal dan bukan merupakan bingkai visi yang perlahan-lahan muncul. Bangsa terbukti merupakan temuan yang mustahil dimintakan hak patennya. Bangsa tersedia untuk dibajak siapa saja.

Pada gilirannya, temuan dan penaklukan pun menyebabkan revolusi dalam dunia gagasan Eropa tentang bahasa. Sejak dahulu kala, para pelaut, misionaris, pedagang, dan serdadu Portugis, Belanda, serta Spanyol telah mengumpulkan isian daftar kata dari bahasa-bahasa non-Eropa, dan belakangan ditata menjadi leksikon-leksikon sederhana. Tetapi kajian perbandingan antara bahasa yang tergolong ilmiah baru dilakukan sejak akhir abad ke-18. Bahasa-bahasa sakral kuno –Latin, Yunani, Ibrani—dipaksa berbaur dalam status ontologi yang sederajat dengan gerombolan bahasa udik yang ingar bingar, yakni bahasa-bahasa ibu saingan mereka dalam gerakan yang menyertai penurunan derajat mereka di pasar berkat kapitalisme cetak. Jika semua bahasa sekarang memiliki status membumi yang sama, lantas dalam prinsipnya bahasa mana pun layak dikaji dan dihormati. Oleh siapa? Secara logis karena tak satupun bahasa berasal dari Tuhan, maka jawaban atas pertanyaan di atas tentulah pemiliknya sendiri dan para pembacanya.

Pada abad ke-19, Eropa maupun di tepi-tepi terdekatnya menjadi latar zaman gemilang bagi para penyandi kata (leksikografer), termasuk dari bahasa-bahasa asing ke bahasa-bahasa ibu, juga bagi para ahli tata bahasa, para filolog, dan para literateurs. Kegiatan-kegiatan para intelektual profesional yang menggebu-gebu itu penting sekali artinya dalam membentuk nasionalisme-nasionalisme Eropa di abad ke-19 yang bertolak belakang dengan nasionalisme Benua Amerika antara tahun 1770-1830. Kemajuan sekolah dan universitas juga mencerminkan kemajuan nasionalisme.

Maka sampai titik tertentu, rumusan Nairn yang memukau:”nasionalisme baru kaum intelektual kelas menengah mesti mengundang massa rakyat untuk memasuki sejarah, dan kartu undangan itu harus ditulis dalam bahasa yang mereka pahami” adalah formulasi yang tepat. Namun, ada faktor lain yang membuat undangan itu terasa begitu menarik hati, yakni pembajakan. Gerakan-gerakan kemerdekaan di benua Amerika muncul segera sesudah digelar secara tercetak, menjadi konsep, model, dan bahkan purwarupa. Dari keadaan rusuh Amerika, mengalirlah kenyataan-kenyataan negara, bangsa, lembaga, kewarganegaraan yang sama, kedaulatan rakyat, bendera dan lagu nasional, serta lain-lain.

Pada dasarnya, di dasawarsa kedua dalam abad ke-19, kalau bukan malah sebelumnya, sebuah model negara kebangsaan merdeka sudah siap untuk dibajak. Namun, lantaran pada saat itu negara kebangsaan merdeka sudah menjadi model yang dikenal luas, maka terpampang pula tolok ukur tertentu yang mesti dipenuhi agar mendapat status seperti itu, dan penyimpengan-penyimpangan yang kelewat kentara dari standar-standar tadi tidak diizinkan. Jadi watak kerakyatan nasionalisme –nasionalisme awal Eropa, kendati bila dipimpin secara demagogis oleh kelompok-kelompok sosial yang paling terbelakang, lebih mendalam ketimbang nasionalisme-nasionalisme di benua Amerika: perhambaan harus enyah, perbudakan yang disahkan oleh hukum tak terbayangkan lantaran model konseptualnya sudah mapan dan tak bisa dihapus dari masyarakat.

Lantaran semua penguasa dinastik pada pertengahan abad sudah menggunakan semacam bahasa ibu sebagai bahasa resmi negara, juga karena pesatnya lonjakan gengsi gagasan nasionalis di seluruh kawasan Eropa, muncul kecenderungan yang cukup kentara di kalangan monarki-monarki Eropa-Mediteranian untuk merangkak menuju pengakuan akan jati diri nasional masing-masing. Wangsa Romanov menemukan bahwa mereka adalah bangsa Rusia Raya, wangsa Hanover mengaku bangsa Inggris, wangsa Hohenzollern mengaku orang Jerman, dan sepupu-sepupu mereka menjadi bangsa Rumania, Yunani, dan seterusnya.

Selanjutnya, dilakukanlah naturalisasi dinasti-dinasti penguasa Eropa yang menuntun pada apa yang dinamai “nasionalisme resmi”. Salah satu contoh paling kondang adalah Rusianisasi. Nasionalisme resmi ini paling baik dipahami sebagai cara memadukan naturalisasi dengan penyimpangan sebagian kekuasaan dinastik lama sebagai cara membalut sekujur tubuh kemaharajaan yang berukuran raksasa. Rusianisasi penduduk majemuk yang menjadi rakyat bagi Tsar mewakili suatu pembauran yang dilakukan secara sadar dan dengan kekerasan, antara dua tatanan politis yang berseberangan, yang satu kuno, satu lagi baru.

Kunci pemahaman dan penempatan nasionalisme resmi adalah dengan mengingat bahwa nasionalisme resmi berkembang setelah dan sebagai reaksi terhadap gerakan-gerakan nasional kerakyatan yang marak di Eropa sejak dasawarsa 1820-an. Contoh kasus selain Rusia adalah Inggris dan Jepang. Penting untuk ditekankan bahwa model nasionalisme itu bisa secara sadar dijiplak oleh negara lain asalkan mereka adalah negara-negara di mana kelas penguasa atau pemimpinnya merasa terancam oleh persebaran global komunitas terbayang kebangsaan.

Nasionalisme Melawan Kolonial

Perang Dunia 1 menyeret zaman dinasti ke ajalnya. Pada tahun 1922, wangsa Habsburg, Hohenzollern, Romanov, dan Ottoman telah tiada. Kongres Berlin digantikan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Sejak saat itu, norma internasional yang absah adalah negara kebangsaan. Puncaknya adalah masa berakhirnya Perang Dunia 2.

Negara-negara baru pasca-Perang Dunia 2 punya watak tersendiri yang sejatinya merupakan anak-cucu watak-watak pendahulunya. Gelombang terakhir nasionalisme ini kebanyakan ada di wilayah Asia dan Afrika. Kerapkali kebijakan-kebijakan pembangunan bangsa yang ditelurkan oleh negara-negara baru tadi memuat unsur antusiasme nasionalis kerakyatan yang asli, dengan pemantapan ideologi nasionalis yang sistematis, malahan berwatak Machiavelis lewat media massa, sistem pendidikan, peraturan-peraturan pemerintahan, dan sebagainya. Pada gilirannya, adonan yang terdiri dari nasionalisme kerakyatan dengan nasionalisme resmi ini merupakan hasil berbagai penyimpangan yang diciptakan oleh imperialisme Eropa: bataa-batas daerah jajahan yang ditetapkan sewenang-wenang, serta kaum terpelajar dwibahasa yang menjulang gelisah. Bisa dibilang bahwa gelombang ini lahir sebagai reaksi terhadap imperialisme global yang dimungkinkan oleh pencapaian-pencapaian kapitalisme industrial.

Setelah paruh pertama abad ke-19, dan mengencang pada abad ke-20, perjalanan-perjalanan ziarah para pejabat negara tak hanya dilakukan oleh orang-orang yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, melainkan kian membludak oleh rombongan-rombongan yang beraneka ragam. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi ini. Pertama, kenaikan pesat mobilitas fisik yang dimungkinkan oleh prestasi-prestasi kapitalisme industrial yang mencengangkan, termasuk kemajuan transportasi. Kedua, kebutuhan imperium-imperium Eropa berukuran raksasa akan pegawai yang bisa bicara dua bahasa. Ketiga, persebaran pendidikan gaya modern yang bukan saja oleh pemerintah negara penjajah, melainkan berbagai lembaga keagamaan maupun swasta sekuler.

Umumnya diakui bahwa kaum terpelajar merupakan pemain-pemain inti dalam kebangkitann nasionalisme wilayah-wilayah jajahan. Namun, ada tampilan karakteristik tertentu dalam kebangkitan kaum terpelajar nasionalis di tanah-tanah jajahan pada abad ke-20 dibanding para intelektual di Eropa pada abad ke-19. Biasanya mereka ini berusia sangat muda dan melekatkan makna penting politis tertentu yang rumit pada kemudaan mereka. Di Eropa, muda tak banyak maknanya dalam kontur sosiologis yang bisa dirumuskan. Orang setengah baya pun bisa masuk menjadi anggota pemuda Irlandia, pun orang buta huruf bisa menjadi anggota Pemuda Italia. Alasannya, bahasa nasionalisme-nasionalisme itu merupakan bahasa-ibu yang sudah dipakai anggotanya sejak dari gendongan. Maka tidak terdapat kaitan antara bahasa, umur, kelas, dan status dalam nasionalisme-nasionalisme Eropa. Lain halnya dengan nasionalisme di tanah jajahan. Di atas segalanya, usia muda bermakna generasi pertama yang telah memperoleh pendidikan gaya Eropa, sehingga mereka berbeda dengan generasi bapak-ibu mereka sendiri.

Selain  itu, dalam kasus Indonesia yang memang penduduknya terpencar-pencar jauh, yang paling berperan memupuk rasa keterikatan di antara mereka adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh rezim penjajah di Batavia yang kian banyak jumlahnya. Berlawanan dengan sekolah-sekolah pribumi tradisional yang merupakan usaha lokal dan pribadi, sekolah-sekolah pemerintah sangat terpusat secara ketat dan secara struktural analog dengan birokrasi negara sendiri. Buku-buku ajar dan ijazah yang seragam, guru tersertifkasi, kelompok umur yang ketat, semua menciptakan jagat pengalaman koheren yang swasembada. Dari segi hirarki geografi, pendidikan tinggi hanya ada di ibukota kolonial, yakni Batavia. Praktis, sistem persekolahan kolonial melahirkan peziarahan yang sejajar dengan perjalanan para fungsionaris yang terlebih dahulu mapan. Romanya para peziarah ini adalah Batavia. Para peziarah pun bertemu dengan sesama peziarah dari desa-desa berbeda. Dari asal yang berbeda, mereka akhirnya belajar dan membaca buku-buku yang sama. Pengalaman dan perkawanan bersama itu menghasilkan realitas imajiner yang bentang kewilahayannya diteguhklan oleh keberadaan logat-logat daerah dan ciri-ciri ragawi teman-teman sekelas mereka. Mereka juga diperlakukan secara setara oleh Belanda sebagai inlander (pribumi) – kecuali orang-orang Tionghoa, Arab, atau Jepang yang diberi status legal lebih tinggi. Akhrinya inlander ini mendadak berubah wujud bersamaan menjadi orang Indonesia. Mereka mulai bisa memandang diri sebagai orang berkebangsaan tertentu.

Kita tidak dapat mengesampingkan suatu kebetulan bahwa sejak dasawarsa 1920-an bahasa Indonesia telah mengada. Hanya belakangan dan dalam bentang wilayah terbatas  saja Hindia diperintah melalui bahasa Belanda. Sejak masa Belanda mengawali penaklukannya pada awal abad ke-17, pelajaran bahasa Belanda untuk inlander tak pernah benar-benar dilakukan secara serius. Lewat proses yang lamban, malah berkembang sebuah bahasa negara yang tumbuh di atas landasan bahasa niaga antarpulau. Dinamakan “bahasa melayu-pegawai” atau “bahasa melayu-admnistratif, bahasa itu sudah mantap di dalam tata kepegawaian negara. Setelah kapitalisme cetak hadir, bahasa tadi tertuang dalam pasar dan media. Pada tahun 1928, setelah dipoles selama dua generasi, bahasa itu siap diadopsi sebagai bahasa Indonesia, yakni bahasa nasional.

Seperti bangsa-bangsa dalam gelombang baru yang perjuangannya mengikuti model-model kebangsaan di negara-negara perintis, pemimpin nasionalis Indonesia juga sudah berada pada posisi untuk secara sadar merancang sistem-sistem pendidikan sipil maupun militer didasar model pendidikan nasionalisme resmi, pemilihan umum, organisasi-organisasi kepartaian, dan perayaan-perayaan budaya mengikuti model nasionalisme-nasionalisme kerakyatan di Eropa pada abad ke-19, serta gagasan warga negara-republikan yang dilahirkan oleh orang-orang Amerika.

Ben juga menguraikan cara negara kolonial di abad ke-19 membuahkan gejala nasionalisme yang akhirnya justru berbalik melawan mereka, yakni melalui cacah jiwa, peta, dan museum.

Dari sensus-sensus yang dilakukan di Pemukiman Selat dan Semenanjung Melayu pada akhir abad ke-19 hingga paruh kedua abad ke-20, tampak adanya rentetan perubahan bukan main cepatnya, seolah-olah serampangan, di mana kategori-kategori terus menerus dimampatkan dan dipecah-pecah, lalu dipadukan kembali dan dicampurbaurkan. Ada dua kesimpulan pokok. Pertama, sesuai proses penjajahan, kategori-kategori cacah jiwa menjadi makin kentara dan makin eksklusif bersifat rasial. Misalnya, sementara Kesultanan Cirebon menggolong-golongkan orang menurut pangkat dan statusnya, VOC memakai klasifikasi ras seperti “chinese” dan sebagainya. Kedua, secara keseluruhan, kategori-kategori rasial yang besar masih dilestarikan malah tambah dipusatkan sesudah kemerdekaan, hanya saja kini disusun ulang serta diubah peringkat-peringkatnya menjadi “kebangsaan Malaysia”, “Tionghoa”, “India” dan “lain-lain”. Yang pasti, watak fiksi sensus adalah bahwa semua orang tercakup, dan bahwa setiap orang hanya punya satu tempat tertentu yang amat sangat jelas.

Peta marcorian yang dibawa masuk oleh aparat kolonial Eropa pun mulai membentuk pembayangan baru untuk orang-orang di Asia Tenggara. Sama seperti cacah jiwa, peta-peta gaya Eropa berfungsi berdasarkan penggolongan yang sifatnya mentotalkan serta mengantar para produsen dan konsumen birokratis menuju kebijakan-kebijakan yang membawa dampak-dampak revolusioner. Sebuah peta yang secara akal sehat harusnya menjadi abstraksi ilmah dari kenyataan justru menjadi peranti untuk menkonkretkan proyeksi-proyeksi administratif maupun militer. Lewat potongan-potongan yang ditata secara kronologis dalam peta, semacam narasi politis-biografis ranah yang bersangkutan pun lahir. Negara-negara imperial juga gemar mewarnai koloni-koloni mereka di atas peta dengan warna-warni imperium masing-masing. Peta dalam warna-warna yang menunjukan posisi taklukan-taklukan itu lalu memasuki rangkaian reproduksi tak terhingga, tersedia di poster-poster, cap-cap resmi, kop-kop surat, sampul majalah dan buku, taplak meja, serta dinding-dinding hotel. Peta merasuk ke dalam imajinasi khalayak, membentuk emblem yang kuat bagi nasionalisme antikolonial. Tuturan ini lalu diadopsi dan diadaptasi oleh negara-negara kebangsaan yang menjadi ahliwaris negara kolonial di abad ke-20. Contoh menarik adalah bagaimana Guinea Baru yang termasuk dalam bayangan ke-Indonesia-an karena peta jajahan belanda yang beredar cepat sepanjang koloninya begitu dipertahankan oleh Sukarno ketika memerdekakan Indonesia. Padahal ia sendiri baru benar-benar datang ke wilayah yang terus menerus diucapkannya di pidatonya itu saat usianya sudah 62 tahun. Orang Indonesia memandang penduduk wilayah itu sebagai saudara kandung, sementara penduduk Guinea Baru sendiri beranggapan berbeda.

Terakhir, menjamurnya museum-museum di sepanjang wilayah Asia Tenggara sekarang menyiratkan adanya proses umum pewarisan politis yang tengah berlangsung. Usaha-usaha arkeologis memang giat untuk merestorasi monumen-monumen di tanah jajahan. Dan itu direproduksi dengan cetak-mencetak dan fotografi dalam bentuk laporan arkeologis, buku-buku, hingga perangko. Negara pasca-kemerdekaan yang memperagakan kesinambungan kentara dengan pendulu mereka yang kolonial lalu juga mewarisi bentuk pemuseuman politis ini pula. Lihat bagaimana rangkaian lukisan babak-babak sejarah nasional dibuat atas perintah Kementerian Pendidikan Indonesia pada 1950-an untuk disebarluaskan ke seluruh sistem sekolah dasar. Setelah jawatan-jawatan arkeologis negara kolonial telah memungkinkan secara teknis untuk memetakan golongan-golongan di dalam jajahannya, negara sendiri akhirnya menganggap pemetaan itu sebagai album kenangan para leluhurnya sendiri.

Watak Nasionalisme

Ben lalu mengajukan pertanyaan “mengapa orang siap mati demi bangsanya yang sebenarnya hanya temuan imajinasinya sendiri?” Sudah biasa terlontar kesimpulan bahwa nasionalisme berwatak seperti penyakit. Bangsa-bangsa mengilhamkan rasa cinta yang tak jarang meluap-luap dan melahirkan kerelaan mengorbankan diri. Produk budaya nasionalisme seperti sajak, musik, seni rupa, dan sebagainya memperagakan rasa cinta ini dengan gamblangnya. Di sisi lain, alangkah langkanya produk-produk nasionalis yang menjadi wahana pengungkapan rasa takut  serta kemuakan terhadap imperialis mereka.

Dari cara bahasa menuturkan objek pada syair atau lagu-lagu nasionalis, entah dalam khazanah kata yang merujuk kekerabatan (ibu pertiwi) atau yang mengacu pada rumah (tanah air), keduanya mencandrakan sesuatu pada apa seseorang terikat secara alamiah. Sesuatu yang kodrati. Dengan begitu, kebangsaan dilebur dengan warna kulit, jenis kelamin, keturunan, alias segala hal yang di luar kendali seseorang.

Selama dua dasawarsa terakhir, gagasan tentang keluarga sebagai struktur kekuasaan terartikulasi sudah sering ditulis orang, namun konsepsi semacam itu jelas asing bagi sebagian besar manusia di bumi. Yang lebih umum dijumpai adalah konsepsi tentang keluarga secara tradisional sebagai ranah cinta kasih tanpa pamrih. Bagi kebanyakan orang awam, sosok bangsa menjadi bangsa justru karena ia tanpa kepentingan. Karena itu, bangsa boleh menuntut pengorbanan.

Perang dunia meninggalkan kenangan dahsyat bukan hanya karena cakupan wilayah yang terlibat di mana orang punya izin mencabut nyawa orang lain, melainkan juga banyaknya orang yang terbujuk berserah nyawa. Sudah pasti jumlah orang yang dibunuh amat jauh melebihi jumlah orang yang membunuh. Mati demi tanah air yang bukan pilihan kita sendiri dianggap memiliki keagungan moral yang tak dapat ditandingi oleh “mati demi partai”” atau “mati demi organisasi”.

Sejak awal bangsa sudah dipahami dalam bahasa, bukan darah (asal-usul, keturunan) karena seseorang bisa diundang masuk ke dalam sebuah komunitas terbayang itu. Karena itulah bangsa-bangsa menerima kaidah naturalistik walau sulit ditempuh. Bangsa menampilkan diri sebagai sosok yang terbuka sekaligus tertutup.

Para imperialis Amerika dan Perancis telah membunuhi orang-orang Vietnam bertahun-tahun. Tetapi, bahasa Vietnam tetap tegar. Kegeraman ini akhirnya melahirkan sebutan-sebutan seperti ‘’gooks’, ‘ratons’, dan lain-lain. Julukan-julukan itu jelas berwatak rasis, dan pengorekan bentuk ini berguna untuk memperlihatkan kekeliruan untuk mengajukan argumen bahwa rasisme dan antisemitisme berpangkal dari nasionalisme. Ketika seseorang melemparkan sebutan “si sipit”, ini justru menghapus rujukan jati diri kebangsaan. Julukan itu menggantikan sebutan “orang Vietnam” atau “orang Aljazair”. Julukan tadi membuat orang Vietnam bercampur dengan orang Korea, orang Tionghoa, dan seterusnya. Sebab bangsa yang bermata sipit ada banyak sekali. Hakikat persoalan ini adalah nasionalisme berpikir dalam kerangka kodrat kesejarahan, sementara rasisme melakukan pencemaran darah yang kekal. Orang negro selamanya menjadi negro, begitu juga orang yahudi, dan sebagainya.

Rasisime sebenarnya berpangkal dari ideologi-ideologi kelas, bukan ideologi kebangsaan. Rasisme juga jarang muncul melintasi batas kewilayahan kebangsaan, melainkan hanya di dalam wilayah kebangsaan tertentu. Maksudnya, rasisme tak terlalu kencang menjadi pembenaran bagi perang-perang melawan kekuatan asing, melainkan lebih menjustifikasi penindasan dan dominasi dalam negeri.

Syahdan, sebuah kebenaran bahwa Revolusi Perancis tidak dibuat atau dipimpin oleh partai atau gerakan dalam makna modern dan sistematis. Namun, berkat kapitalisme cetak, pengalaman Perancis itu memiliki bentuk yang siap dipelajari. Lalu datanglah kaum Bolshevik sebagai pelaksana revolusi terencana pertama yang berhasil. Model revolusioner rancangan kaum Bolshevik merupakan model penentu dalam kancah revolusi abad ke-20, sebab ia membuka peluang untuk membayangkan revolusi serupa dalam masyarakat-masyarakat yang masih lebih terbelakang dari Rusia. Dan sekali sudah ditampilkan, nasionalisme resmi siap dijiplak oleh sistem politik dan sosial yang beragam. Dalam gaya nasionalisme ini ada satu tampilan yang selalu bercokol dalam keadaan apapun, yakni watak resmi (sesuatu yang dilahirkan oleh negara, serta melayani kepentingan negara di atas kepentingan lain).

Maka model nasionalisme resmi menjemput relevansinya pada saat kaum revolusioner berhasil mengambil alih kendali atas negara dan tatkala untuk pertamakalinya mereka berdiri pada posisi yang memungkinkan penggunaan kekuasaan negara demi memburu cita-cita mereka sendiri. Relevansi itu makin membesar lantaran bahkan kaum revolusioner radikal yang paling fanatik pun selalu, sampai derajat tertentu, mewarisi negara dari rezim yang dijerembapkannya. Sebagian warisan ini sifatnya simbolik, tapi bukannya kurang penting. Misalnya ibukota Uni Republik Sosialis Soviet dikembalikan ke ibukota Tsaris lama, yakni Moskow, dan selama lebih dari 65 tahun para pimpinan politbiro membuat kebijakan-kebijakan di Kremlin yang lagi-lagi kota benteng warisan Tsar. Sangat langka adanya kepemimpinan sosialis yang tidak memilih kursi kepemimpinan yang hangat, empuk, dan tua. Kaum revolusioner yang sukses juga mewarisi mesin negara lama, termasuk  pejabat, dokumen, arsip, hukum, catatan keuangan, hasil-hasil cacah jiwa, peta, perjanjian, memo, dan sebagainya. Nasionalisme resmi memasuki era kepemimpinan pasca-revolusioner dengan mengadopsi bangsa sebelumnya dan negara dinastik peninggalannya. Dari penampungan warisan lama dan akomodasi para penguasa lama ini, tak pelak muncul Machiavelisme negara yang menohok dibanding gerakan-gerakan nasionalis revolusioner.

Ben menekankan bahwa adalah kepemimpinan yang berwatak seperti itu, sebab hanya kepemimpinan yang mewarisi tombol-tombol lampu listrik dan istana-istana kuno. Para petani Khmer dan Vietnam tentu tak menginginkan peperangan di antara mereka atau dimintai pendapat oleh para pemimpinnya sebelum memutuskan meletuskan perang. Sesungguhnya perang-perang itu merupakan peeperangan antarketua di mana nasionalisme kerakyatan umumnya digalang sesudah perang diputuskan dan senantiasa dalam bahasa “pertahanan diri”.

Memahami Film – Himawan Pratista

Tags

, , , ,

Secara garis besar, film terdiri dari dua unsur utama, yakni naratif dan sinematik. Akan tetapi keduanya harus hadir berkesinambungan dan tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Tantangan fundamental membuat film adalah tentang mengupayakan aspek sinematik menyampaikan aspek naratifnya.

Secara personal, saya cenderung memandang film sebagai medium pesan, sehingga isi pesan yang disampaikan kadang menjadi lebih penting daripada cara penyampaiannya. Saya tetap mempertimbangkan nilai-nilai politis dalam tiap film yang saya tonton. Itulah kenapa sampai hari ini saya adalah penonton film yang jauh lebih fokus terhadap wacana dan keberesan sisi naratif dalam film dibanding seluk beluk sinematiknya. Karenanya, penting tidak penting, membaca buku Memahami Film membuat saya setidaknya mulai mengerti aspek teknis dasar estetika sinema. Setidaknya saya jadi tahu apa itu mise-en-scene, low key lighting, rack focus, crane shot, dissolve, jump cut, dan terminologi-terminologi lainnya. Dan sepertinya buku ini memang punya maksud dijadikan diktat kajian perfilman, sehingga pemaparannya lugas dan sistematis disertai contoh kasus dan visualisasi.

Segera, klik Bukalapak, cari edisi keduanya!

Pop Kosong Berbunyi Nyaring : 19 Hal yang Tak Perlu Diketahui Tentang Musik – Taufiq Rahman

Tags

, , ,

 

Apa semua penulis Elevation Records Book itu punya masalah dengan inferioritas? Herry Sutresna mengaku dirinya penulis yang buruk. Sementara buku perdana Taufiq Rahman yang bertajuk Lokasi Tidak Ditemukan (2012) menampilkan testimoni-testimoni yang enggan memberi sanjungan. Lantas di buku keduanya ini, Taufiq  memilih judul berbunyi 19 Hal yang Tak Perlu Diketahui Tentang Musik. Bisa jadi ini strategi penjualan, toh larik itu justru mencuri perhatian. Yang pasti, saya mungkin memilih berhenti menulis musik jika kedua nama di atas saja tidak diakui semesta sebagai penulis yang baik.

Akan tetapi, judul itu mungkin tidak salah absolut. Esai-esai di dalamnya jangan-jangan memang tidak butuh-butuh amat dibaca karena mengulas konten-konten dengan popularitas semenjana yang tidak seksi diperbincangkan. Teman saya, seorang penjelajah musik yang lahir di transisi periode generasi Y ke Z saja mengaku tidak tahu menahu banyak dengan topik-topik di buku ini. Saya sendiri cukup mengenal The Replacement, The Walkmen, atau Brian Eno, tapi juga tak rajin mengulik karena tak punya lawan dengar untuk bertukar cakap tentang mereka. Dan uh, saya terkekeh seketika tempo menemukan judul tulisan “Bandempo dan Hal-Hal yang Telah Usai”. Ternyata Taufiq Rahman belum menyerah dengan band mati muda itu. Semangat, Bung! Saya termasuk yang jatuh cinta dengan teriakan peregang nyawa di “Kereta Lewat”, dan ini gara-gara promosinya di tulisan terdahulu. Jadi siapa tahu Anda juga akan mendapatkan idola baru di buku ini.

Toh apapun yang ditulisnya di Pop Kosong Berbunyi Nyaring, Taufiq selalu menulis dengan meyakinkan dan kerap bersifat intertekstualitas. Capaian dasar yang langka dimiliki penulis musik lokal, bahkan yang cenderung ternama. Karenanya, mungkin Anda memang tidak perlu tahu isi buku ini. Tapi jika benar-benar ingin tahu, seharusnya Anda tidak menyesal.

 

 

 

Nice Boys Don’t Write Rock N Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik 2007 -2017 – Nuran Wibisono

Tags

, , , , , , , ,

Awal bulan ini saya diajak menjadi pembicara di helatan Kampung Buku 2017 untuk tema penulisan musik. Diapit duet Tomi Wibisono dan Nuran Wibisono yang entah punya hubungan darah sejauh mana, saya kira akan diminta untuk banyak ngobrol soal buku ini, dan artinya punya banyak kesempatan untuk mengoceh soal Guns N’ Roses. Walah, ini sih sudah di luar kepala. Harusnya.

Sialnya, saya lupa jika Tomi selaku moderator memang anti-GNR–sebagai balasan atas sentimen saya terhadap punk rock pujaannya–sehingga ia malah menjauhkan dialog dari hal-hal berbau hair rock ke arah perbincangan penulisan musik secara umum. Diam-diam saya ingin memaki-makinya pakai lirik “Get In The Ring”.

Yah, daripada mengendap jadi penyakit, kesan-kesan saya ke buku Nice Boys Don’t Write Rock N’ Roll dimuntahkan saja jadi resensi serusuhnya. Bisa disimak di warningmagz!

Penulis: Nuran Wibisono

Penerbit: EA Books (2017)

“Sebentar lagi orang ini pasti akan merilis buku,” tukas saya ke beberapa sejawat dengan merujuk pada sosok Nuran Wibisono, jauh-jauh hari sebelum buku berjudul Nice Boys Don’t Write Rock N Roll ini rilis. Dari produktivitas dan rengkuhan sebaran karyanya, Nuran memang layak dilabeli salah satu penulis musik lokal dengan kiprah paling benderang setidaknya setahun terakhir. Ini tidak lepas juga dari wadah-wadah kepenulisannya yang memang merandai masa keemasan masing-masing. Sebut saja tahun 2017 adalah tahunnya Nuran. Tapi saya tidak akan merendahkan preferensi bacaan musik Anda yang tak tahu menahu tentangnya, karena tentu yang terpenting bagi saya adalah Anda membaca situs ini dan tulisan saya.

Saya pertama kali mengenal karya Nuran tatkala masih berstatus mahasiswa baru. Kala itu saya membaca artikelnya di situs Jakartabeat–yang juga tertampung di buku ini—bertajuk “Hair Metal vs Grunge: Perdebatan yang Tak Akan Pernah Usai.” Ia mengomparasikan Nevermind dan Appetite For Destructiondengan simpulan bahwa album yang disebut terakhir lebih unggul karena di antaranya digarap secara lebih kolektif dan punya kualitas materi yang lebih merata. Artikel tersebut adalah salah satu tulisan musik yang paling berkesan bagi saya selama ini. Alasan pertama, pahlawan musik seumur hidup saya adalah Guns N’ Roses dan Nirvana. Praktis, saya sudah takluk sejak dalam topik.

Kedua, kala itu saya belum punya pengalaman menulis musik sama sekali, dan serapan informasi musik saya sebatas dari majalah Rolling Stone dan segelintir media musik berpakem sama. Saya sejatinya tidak seia sekata dengan opini Nuran di artikel tersebut, tapi toh isinya memang bukan analisis yang berupaya keras tampak objektif dan rasional, melainkan sekadar kebawelan pemuja musik dengan wanti-wanti berbunyi “Anda setuju, ya alhamdulillah, kalau Anda tidak setuju,apa peduli saya?” Justru ini kemudian yang menyadarkan saya bahwa menulis musik ternyata bisa seseru dan semerdeka ini. Impresinya mungkin lain jika membacanya hari ini, tapi bagi saya yang masa itu masih tersandera film Realita Cinta dan Rock N’ Rolldan butuh pamer selera musik sebagai penandasan identitas diri, artikel itu menjadi penting. Aku ki cah GNR bro, you’re gonna die!!!

Ketiga, nama Nuran Wibisono sebagai penulis musik yang jatuh cinta pada Guns N’Roses dan hair metal telah terpatri di ingatan saya. Ini wajib dirayakan lantaran mencari penulis musik yang secara terbuka mengaku mengabdi pada Guns N’ Roses dan serumpunnya lebih sulit dibanding mencari penulis musik yang menyanjung-nyanjung Joy Division, My Bloody Valentine, Velvet Underground, atau bahkan nama-nama asing terpencil yang Tuhan saja belum tentu tahu. Kendati berstatus legenda, namun reputasi Guns N’ Roses tidak cukup terhormat di kalangan snob. Potret Guns N’ Roses memang berjarak dengan intelektualisme, terutama menilik liriknya yang misoginis dan melumangkan nilai-nilai emansipasi. Waduh, jangan lagi sebut Poison, Skidrow, Twisted Sister, atau kawanannya yang punya citra lebih tercela dan berbondong-bondong mencorakkan dekade 80-an sebagai periode yang diyakini paling norak di budaya populer, termasuk dari wilayah sinema dan busana.

Syahdan, kesan nostalgia saya terhadap artikel “Hair Metal vs Grunge, Perdebatan yang Tak Pernah Usai” ini sedikit banyak menjadi gambaran buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll.

Salah satunya, buku ini menjadi ajang bagi saya—yang menghabiskan waktu di SMP-SMU dengan padupadan fesyen berandal dan atribut feminin, lalu (entah ada relasinya atau tidak) berakhir benar-benar menjalin persahabatan hangat dengan beberapa gay—untuk mendapatkan afirmasi selera musik. Membaca buku ini seperti lepas dari alienasi karena jarang adanya tulisan lokal mengenai band-band hair metal yang bermutu. Bahkan, wawasan saya juga diperluas, karena Nuran mengulik lebih dalam dengan menulis soal Cinderella, Quiet Riot, dan bahkan Great White yang saya baru dengar namanya. Namun, selera saya juga sedikit meronta-ronta ketika mendapati Nuran tidak menyinggung nama Aerosmith, band kesayangan saya lainnya yang sebenarnya punya relasi dekat dengan Guns N’ Roses di penghujung dekade 80-an. Sementaraitu ia malahan menggaungkan nama Bon Jovi yang selama tiga dekade hanya pernah menghasilkan satu karya bagus, yakni intro “Livin On Prayer”. Aduduh, selera musik memang kadang bisa sama sensitifnya dengan selera bertuhan.

Jika menulis musik punya genre, maka kita bisa memetakan beberapa penulis musik lokal berdasarkan spesifikasi tulisannya. Ada Taufiq Rahman dengan ketajaman cakrawala politiknya, Idhar Resmadi yang andal menaruh konteks sosial dalam tiap amatan, Rudolf Dethu yang amat punk rock dan provokatif, Rio Tantomo yang sukses membawakan gonzo journalism dengan keterlibatan emosi disertai berjubel referensi miras plus narkoba di tulisan-tulisannya, atau Aris Setyawan dengan pendekatan etnomusikolog dan kajian budaya. Dalam petaan itu, Nuran mengisi posnya sebagai sosok pengisah. Ia melayani pembacanya dengan tuturan sejarah, sisi lain, atau trivia-trivia yang mengiringi objek tulisannya. Seperti isi kata pengantar dari Philips Vermonte, ”Mungkin karena dia (Nuran) lulusan Sastra Inggris, maka ia tak perlu tergopoh-gopoh untuk mengakses literatur, karya sastra, dan bacaan berbahasa Inggris“. Memang sebagian besar apa yang disampaikan Nuran ialah daur ulang dari konsumsi sumber-sumber literatur barat. Kendati terkesan kurang orisinil, namun hasilnya belum tentu sebaik ini jika tak diimbangi dengan kemampuan berbahasa dan pemerian yang mumpuni.

Membaca buku Nice Boys Don’t Write Rock N Roll juga menunjukan kecintaan sedalam jurang dari Nuran terhadap objek-objek tulisannya. Bergairah dan tanpa tedeng aling-aling, seperti jumlah halaman bukunya sendiri yang tak kenal kata “tanggung”. Bagai anak kecil yang berapi-api unjuk omong dan berlabun-labun dengan temannya perihal cerita serial animasi yang ditontonnya kemarin sore. Bahkan sisipan humornya pun punya watak tersendiri, yakni cenderung mengakar rumput, lantam, dan kadang membuat kita tersedak, seperti ketika ia menyinggung soal ukuran penis Tommy Lee. Mengutip Nuran di buku ini, musik yang hebat bisa melahirkan penggemar yang mencintaimu dengan keras kepala dan tanpa lelah. Aih, kepala Nuran pasti keras sekali.

Minat dan karakter tulisannya membuat Nuran seakan berjodoh menulis Sangkakala. Tiga liputan konser band glam rock sarat gimmick heboh ini begitu menarik. Parameter reportase konser yang baik menurut saya ada dua. Satu, membuat pembaca yang tidak hadir di acara bisa berempati dan seolah-olah datang ke acara itu. Dua, membuat pembaca yang sebenarnya hadir di acara kemudian mendapat sudut pandang berbeda terhadap pengalamannya menonton. Karena saya tidak datang di ketiga konser Sangkakala yang ditulis oleh Nuran, maka saya berada di posisi pembaca yang pertama, dan tulisan Nuran akhirnya membuat saya merasa benar-benar hadir di acara-acara tersebut. Ia cakap membangun atmosfer konser lewat teks narasi, serta mendeskripsikan kehuru-haraan yang diciptakan Sangkakala. Sisi gempar, jenaka, dan fiil gondes yang mewarnai jalannya acara kuat terpancarkan.

Tak hanya ulasan tentang Sangkakala yang membuktikan bahwasanya Nuran juga piawai mengeksekusi konten di luar khazanah hair metal dan musisi internasional legendaris. Saya juga akhirnya baru tahu kalau ia sempat menulis tentang Slank. Terdapat empat artikel yang awalnya digarap untuk proyek biografi Slank, namun kandas. Mungkin ini harta karun dari Nice Boys Don’t Write Rock N Roll. Keempat artikel itu berangkat dari wawancara dengan tokoh-tokoh penting yang bukan personel tetap Slank, yakni Bunda Iffet, Reynold Rizal (gitaris pengganti Pay yang mengisi album Lagi Sedih), Massto (adik Bimbim), dan  bahkan Bob selaku pemilik kios kecil di bibir gang Potlot. Keempatnya menunjukan kecakapan Nuran untuk melakukan kerja jurnalistik berbasis wawancara sebagai bagian penggalian informasi turun lapangan.

Menilik daya produksi Nuran sebagai penulis yang terhitung subur, pastinya sulit bukan main memilih karya-karyanya yang terkorbankan untuk tidak disertakan dalam buku ini. Padahal, mungkin cuma almarhum Denny Sakrie yang paling bisa mendapat pemakluman untuk menerbitkan buku kumpulan tulisan lebih dari 500 halaman. Namun, masalah utamanya memang bukan semata di ketebalan, melainkan terdapat beberapa artikel dalam Nice Boys Don’t Write Rock N Roll yang sebenarnya bisa dilebur atau dipadatkan. Toh, tidak ada ayat kitab yang melarang suntingan terhadap konten-konten dalam buku kumpulan tulisan, kecuali jika konsepnya memang ingin setransparan mungkin dengan tujuan menunjukan perkembangan kualitas kepenulisan sang penulis. Tapi target ini pun tak tercapai karena Nuran tidak mencantumkan tanggal perilisan masing-masing tulisan. Absennya informasi set waktu penulisan ini bahkan juga menciptakan kebingungan konteks di beberapa artikel, terutama untuk artikel yang mengangkat musisi lokal baru seperti Silampukau, Gribs, dan Sangkakala. Patut disayangkan, karena ini seperti menampikkan dinamika yang terjadi dalam satu dasawarsa (2007-2017) selaku rentang waktu penggarapan seluruh tulisan di buku ini.

Ibarat musisi, buku kumpulan tulisan bisa ditakhtakan selaiknya album pertama. Nuran lantas berhasil mengintroduksikan dirinya sebagai penulis musik lokal yang berkarakter dan memiliki ceruk konten sendiri. Di bukunya, Nuran berujar bahwa album bagus adalah album yang masih didengar meski sudah lewat puluhan tahun. Tidak bisa untuk tidak setuju, tapi media berperan besar untuk itu. Maka Nuran sendiri punya akses dan kapasitas untuk menentukan karya mana yang bisa didengar puluhan tahun lagi. Jalannya memperjuangkan minat-minat musiknya di satu sisi memang rentan terjerembab dalam kubang glorifikasi atau mistifikasi kejayaan rock & roll, sebuah tantangan runyam bagi kabanyakan penulis musik. Tapi jika ia memang seteguh besi mengejar obsesinya bersenang-senang, maka mudah-mudahan ia bernasib sama dengan Nicki Sixx yang bernyali dan tak mati-mati, tapi jangan seperti Bon Jovi: berumur panjang, tapi membosankan.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia – Weda Sasmita Atmanegara

Tags

, , , , ,

Kenapa buku ini perlu dibaca? Atau pertanyaan besarnya adalah….

Kenapa kita harus menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Ribet, bukankah yang penting dari tulisan adalah bobot isinya dan bisa dibaca?

Maka, ini jawaban saya:

  1. Fungsi Sosial dan Budaya

  • Pasti kamu pernah salah paham atau tersedat-sendat dalam berkomunikasi karena lawan bicara menggunakan kata-kata dari bahasa yang tidak kita kenal? Pada dasarnya bahasa bisa berfungsi sebagaimana bahasa hanya jika dipahami penutur dan penerimanya secara serupa. Perlu ada kesepakatan bersama yang terstandarisasi dalam pemaknaan dan penggunaan bahasa. Karena itulah bahasa Indonesia berhasil mempersatukan rakyat. Indonesia belum tentu bisa membangun pergerakan nasional untuk meraih kemerdekaan jika tidak ditemukan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dapat dipahami bersama oleh beragam suku dan kelompok di Nusantara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan telah berfungsi secara efektif sebagai alat komunikasi antarkelompok, antarsuku, dan antardaerah. Bahkan, salah satu cara umat islam menyatukan Arab di zaman kekhalifahan adalah dengan memproklamirkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Maka bayangkan masa depan ketika semua orang lebih suka memakai bahasa daerah, bahasa asing, atau bahasa slang-nya sendiri-sendiri. Lama kelamaan kita akan kehilangan standar komunikasi yang menyebabkan kendala dalam terhambatnya proses sosialisasi, belajar mengajar, serta pengiriman informasi dan ilmu pengetahuan, termasuk kesalahpahaman yang berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa. Itulah kenapa ketahanan bangsa diawali dari penjagaan bahasa.
  • Media massa pantas disebut sebagai institusi bahasa. Kita memiliki peran untuk memasyarakatkan bahasa Indonesia yang merupakan salah satu bahasa paling kaya di dunia. Kita memiliki akses dan kuasa yang sangat besar untuk dapat memperkenalkan istilah-istilah atau diksi-diksi bahasa Indonesia ke masyarakat. Ini bukan demi romantisisme idealis semata. Contoh konkret keuntungannya adalah bagaimana bahasa Indonesia berpeluang diresmikan sebagai bahasa utama ASEAN dalam sistem Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) lantaran memiliki banyak sekali penutur. Semakin luas penggunaan bahasa Indonesia, kita sebagai insan yang lebih dulu menguasainya akan mendapatkan banyak keuntungan di tatanan internasional.
  1. Fungsi Praktis

  • Pada umumnya, setiap tim redaksi media massa selalu memiliki bahasa redaksional sendiri, yakni standar penggunaan bahasa yang diterapkan dalam produksi konten-kontennya. Selain menghindarkan konten-konten untuk tampak buruk di mata pembaca karena tidak memiliki konsistensi penulisan, standar bahasa redaksional juga akan mempermudah kinerja editing. Pun EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dipilih karena merupakan standar universal yang bisa dicari dan dipelajari dengan mudah di internet dan berbagai sumber.
  • Penerapan bahasa yang baik dan benar sangatlah penting untuk membangun branding dan value media! Bagaimanapun, akan tampak lebih berkelas jika penulis tampak punya kapasitas berbahasa yang mumpuni. Selain dampaknya tidak tanggung-tanggung untuk kualitas konten di mata pembaca, hal ini juga menunjukan kualitas SDM di belakang media terkait. Apalagi tak sedikit orang, terutama mereka yang berpengaruh di ranah industri media dan jurnalisme yang amat kritis terhadap penggunaan bahasa sebuah media. Citra dan impresi atas Hipwee menjadi sangat dipertaruhkan.
  • Pada dasarnya penulisan sesuai EBI memang otomatis mampu memperlancar penyampaian isi tulisan dari penulis ke pembaca. Dalam diri penulis harus tertanam kalau mereka menulis sesuatu untuk dibaca orang lain. Setiap gagasan dalam tulisan harus jernih pengutaraannya, karena itu penulis dituntut menggunakan bahasa baku.
  • Ini juga terkait dengan pengembangan kualitas penulis Hipwee. Terdapat banyak media atau ruang kepenulisan lain yang sangat ketat menerapkan EBI. Demi kepentingan karier penulis Hipwee sendiri, agaknya perlu dibiasakan untuk menguasai penulisan EBI agar tidak kesulitan ketika nantinya diminta menulis untuk ruang-ruang di luar Hipwee.
  • Sama seperti games atau permainan, bukankah selalu lebih menyenangkan jika ada aturannya? Kemerdekaan menulis memang tetap menjadi milik penulis. Namun, mengutak-atik penggunaan EBI sendiri dengan dalih kreativitas patut dipertanyakan. Penulis yang andal biasanya cenderung tidak kesulitan dan malah menikmati prinsip kerja untuk berusaha kreatif tanpa menyimpang dari aturan main.

* By the way, tulisan ini adalah rancangan halaman pertama dari buku putih yang saya garap untuk tim redaksi Hipwee.

Nick Drake: Sebuah Biografi – Patrick Humphries

Tags

, ,

Bulan lalu saya sempat diminta menjadi pembicara di tur buku biografi Nick Drake rilisan penerbit JungkirBalik Pustaka asal Bandung. Tapi saya memutuskan mundur teratur. Kendati nama Nick Drake tidak asing di kuping, namun karyanya sendiri baru pernah saya dengarkan sekelebat saja. Alhasil, saya memilih jadi penonton, dan ternyata obrolan yang akhirnya dipandu oleh Titah Asmaning, Deugalih, dan Aris Setyawan di acara tersebut menarik sekali. Tepat sekali saya tidak jadi terlibat lebih jauh, xixixixi.

Yah, tapi agar tetap menyumbang kontribusi untuk kawan-kawan penerbit baru yang menjanjikan akan terus merilis buku-buku budaya pop yang keren ini, saya tukar  dengan sebuah ulasan menggemaskan ini yak~

Bisa disimak juga di warningmagz.com

Penulis: Patrick Humphries

Penerjemah : Muhammad Al Mukhlishiddin         

Penerbit: Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia

“Kematian memang melejitkan karier Jim Morrison, Jimi Hendrix, dst. tapi mereka sebelumnya sudah menjadi seorang bintang. Mereka terlalu jalang untuk terus hidup. Drake kebalikannya: Drake terlalu rapuh untuk terus hidup”. – Brian Pendreigh, Scotsman 1995

Kisah Nick Drake adalah noktah pada riwayat kesenian diperadaban kita. Main hakim sendiri jikalau menuding industri musik sebagai satu-satunya oknum, tapi terlampau naif jika memandangnya berhenti pada kasus idiosinkrasi individu. Patrick Humphries, Al Mukhlishiddin, dan kenekatan penerbit Jungkir Balik menyuguhkan dualitas persoalan ini ke hadapan kita.

Sebelum membaca buku ini, saya hanya pernah mendengar lagu-lagu Nick Drake selayang lewat dan tidak seketika mendapatkan kesan tertentu. Modal wawasan yang saya punya kala itu sebatas ia adalah musisi mati muda dengan musik yang melampaui zamannya. Terbukti, ketiga—yang berarti seluruh—album penuhnya masuk senarai 500 Album Terbaik Sepanjang Masa Versi Rolling Stone. Jangan berkecil hati atau merasa primitif bila Anda malah lebih tidak tahu menahu tentangnya. Youtube yang maha tahu saja tidak punya video penampilannya.Jadi itu bukan salah Anda, tapi salah Nick Drake.

Jangankan di Indonesia, bahkan di negeri asalnya pun Nick Drake disebut tak punya pangsa pasar yang cukup luas. Meski set masa kiprahnya adalah 70-an, namun ia benar-benar baru didengar mulai akhir dekade 80-an berkat keistimewaan intrinsik musiknya yang didukung kolaborasi antara angan-angan media dan fantasi pendengarnya. Mereka yang punya atensi terhadap Nick Drake kemungkinan besar memang hanya penikmat musik yang giat mengonsumsi informasi-informasi musik populer.

Saya sendiri mungkin di suatu waktu bakal termakan mitos yang menyelubungi riwayat hidup Nick Drake jika Patrick Humphries tidak memilih menunaikan tugasnya sebagai penulis musik sesuai cita-cita Alex Ross, yakni mendemistifikasi atau menjaga seni musik agar tidak melebar ke arah omong kosong, melainkan tetap meletakkannya dalam kompleksitas manusia. Ia menyibak kabut glorifikasi yang terlalu tebal dengan turun ke lapangan untuk memperjernih sisi dramatis antara kegagalan karier dan heroisme musik Nick Drake. Dalam Nick Drake: Sebuah Biografi, kita bisa menemukan banyak pernyataan yang mengungkap atau mengomparasikan apa yang dipercaya publik selama ini dengan rasionalisasi temuan-temuannya. Semua dalam rangka mengembalikan sisi kemanusiaan pada sosok Nick Drake yang sudah mengalami penokohan berulang. Dan mungkin ini bacaan biografi musisi pertama saya yang tidak menampilkan bahasan perihal groupies, petualangan asmara, atau kemelaratan sekaligus keglamoran. Bahkan buku biografi Andika Kangen Band dapat dipastikan akan lebih rock & roll dari ini.

Alih-alih memaku amatan pada sosok Nick Drake, Humphries terkadang sengaja melepas fokus terhadapnya dan mencari ruang untuk menggelar pemahaman konteks yang lebih luas, di antaranya latar sosial politik Myanmar, Marlborough, hingga lingkungan kampus Cambridge. Walau tak selalu lancar dan kadang kendor terlalu jauh, namun Humphries secara umum masih mampu menjelaskan relasi antara konteks yang ia paparkan dengan progres internal maupun eksternal dari Nick Drake. Toh membaca Nick Drake tak sekadar mempelajari Nick Drake, melainkan juga mengenal bangunan konteks untuk kisah musisi-musisi lain di eranya. Contohnya, bagaimana pemakaian narkotik yang mulai dilazimkan tepat di tahun 1967 menjelaskan perubahan mendadak tren musik yang menahbiskan tahun tersebut sebagai tahun paling adiluhung bagi semesta musik populer.

Bagi Jungkir Balik sendiri, mungkin tak ada lagi momen yang lebih tepat untuk menerbitkan terjemahan buku ini. Toh tren musik folk di belantika tidak juga mampu memasarkan sosok Nick Drake di kalangan adik-adik penggemar Payung Teduh. Seingat saya tim Jungkir Balik bukan cenayang, tapi buku ini memang kebetulan rilis masih dalam masa berkabung atas kehilangan dua vokalis kenamaan, Chris Cornell dan Chester Bennington. Nick Drake punya relevansi tak terduga untuk membawa diskursus terkait musisi depresif.

Opini paling konvensional dari saya adalah depresi disebabkan ketidakcocokan antara kondisi batin seseorang dan lingkungannya. Sudah cukup rasanya untuk mereka-reka Nick Drake sebagai sosok yang pesakitan dan ditakdirkan menjadi tragedi tanpa alasan sedari awal, terutama lewat beberapa lirik sakit yang dianggap sebagai isyaratnya untuk bunuh diri. Dalam pengakuan beberapa kenalan Nick Drake yang dirangkum di buku ini, saya bisa membayangkan sosoknya di usia remaja sebagai teman introver yang sok nyeni tapi tetap bergaul. Sebuah potret yang tidak terlalu spesial, karena faktanya kita biasa punya teman-teman semacam itu. Perkaranya adalah setelahnya. Bagaimana dunia memperlakukannya dan bagaimana ia meresponsnya.

Musiknya kandas untuk bersinar di eranya, tapi kegagalan terbesar adalah kegagalannya menerima kegagalan itu. Ia terlalu berharap dunia akan senang hati melayani visi-misi idealnya. Nick Drake adalah perfeksionisme tulen—jika ngeyel tidak lebih tepat—yang patah pucuk melakukan internalisasi diri. Dan ingat, ia hidup di era modernisme yang optimis masih mengalami transisi menuju semangat pascamodernism yang lebih legawa.

Menurut kuping saya, sebenarnya musik Nick Drake tidak terlalu futuristik dalam artian masih sesuai dan punya potensi besar untuk diterima di eranya jika saja ia mau melakukan apa yang sewajarnya dilakukan oleh musisi lainnya. Apa yang dimainkan Drake merupakan inovasi yang akarnya masih serumpun dengan aliran folk dan blues angkatannya. Kebaruan yang ia berikan adalah kelihaian membangun aransemen bercorak akustik dan klasik dibalut atmosfer yang gersang di Five Leaves Left dan Bryter Layter. Ia mengambil ceruk estetika yang luar biasa, namun memang tidak ada yang peduli. Akhirnya di Pink Moon yang sudah peduli setan mau laku atau tidak, ia bertumpu pada permainan gitarnya yang teramat canggih untuk standar musisi folk, bahkan sebenarnya untuk ukuran musisi blues sekalipun. Tetap saja, tidak ada yang peduli.

Karya-karya Nick Drake sejatinya mudah terbaca sebagai potret bagaimana musik dan sastra digeluti kelas menengah. Liriknya tidak punya kepekaan terhadap lingkungan sosial-politik yang kala itu sebenarnya sangat seksi. Lagu-lagunya tergolong egois dengan mengedepankan simbol-simbol refleksi diri yang metaforis, termasuk pesimisme jalan ketenaran dalam “Fruit Tree” (“Fame is but a fruit tree / So very unsound / It can never flourish / till its stalk is in the ground”) atau konflik idealisme pada “Road” (“You can take the road that takes you to the stars now / I can take the road that’ll see me through”). Keduanya menunjukan kesulitan Nick Drake mendamaikan diri dengan kehidupan. Sesuai falsafah Jawa, orang-orang berada pun pasti punya problemnya sendiri.

Padahal infrastruktur dan sumber daya manusia yang mendukung karier Nick Drake sudah teramat siap. Talenta besarnya dibuktikan dengan sikap suportif dari nama-nama penting seperti Joe Boyd, John Cale, dan label Island Records yang menelurkan Jethro Tull, Free, dan King Crimson. Tapi apa hendak dikata jika musisi tegar tengkuk yang tidak pernah punya single ini malas menggelar tur, dan hanya sudi manggung di konser-konser besar. Padahal kecuali kamu adalah Bob Dylan, meniti karier dari klub-klub folk kecil adalah metode standar yang lazim diikuti. Alhasil, Nick Drake hanya pernah tampil beberapa puluh kali sepanjang usianya, dan itu pun meninggalkan kesan tak terlalu baik. Performa musiknya sempurna, tapi ia melempem sebagai penghibur visual. Kebiasaan tampilnya duduk membungkuk di kursi seraya memandangi gitar sepanjang lagu mungkin sempat dipercaya sebagai aksi panggung yang karismatik, padahal faktanya justru ini adalah wujud kepayahannya. Ada banyak versi ihwal apakah Nick bisa menyenangkan penontonnya atau tidak, tapi yang jelas semua satu suara bahwa Nick tampak tidak nyaman di depan audiens.

Inilah kenapa kita tidak bias mempersalahkan industri begitu saja dalam kasus Nick Drake. Bayangkan, dengan etos penyebaran karya yang serendah itu, ia harus berkompetisi di luar sana dengan Elton John, James Taylor, Leonard Cohen, Bruce Springsteen. Neil Young, Van Morrisson, Tim Buckley, dan Cat Steven. Bahkan, andai kata era itu sudah ada video klip atau pun Youtube, belum tentu Nick Drake mudah diarahkan untuk mengikuti kebutuhan-kebutuhan ini.

Syahdan, akhirnya justru tangan-tangan yang tak pernah dikenalnya yang berhasil menjual karya-karyanya. Para jurnalis musik yang terlambat menyadari kualitas musiknya dimanfaatkan eksploitasi industri yang berhasrat terus merilis karyanya. Lagunya dibajak, karya unreleased-nya terus dicari dan dijual, dibarengi dongeng-dongeng terkait sosoknya. Tinggal tunggu waktu sampai muncul album senista Montage of Heck: The Home Recordings versi Nick Drake.

Berandai-andai jika Nick Drake adalah kepentingan publik, dan desas-desus terkaitnya memang sengaja dikarang oleh aktor-aktor kapitalis, maka buku Nick Drake sudah memenuhi syarat sebagai jurnalisme investigasi. Menyibak realitas Nick Drake berarti membuka wacana tentang urgensi kesadaran aktif bergerak dalam karier bermusik, psikologi seniman, pemitosan dalam kerja kapitalisme, tabiat jurnalisme musik, dan lain sebagainya. Buku ini membuktikan bahwa ternyata menelanjangi kisah drama rock & roll dengan data dan rasionalisasi tak senantiasa berujung anti-klimaks, melainkan sama menariknya dengan mitos-mitos itu sendiri.

Maka saya tutup ceracau ini dengan menjawab pertanyaan “untuk siapa buku ini?”

Paradoksal bahwasanya buku biografi musisi dengan popularitas semenjana ini justru relevan untuk dibaca lebih banyak kalangan daripada biografi Bon Jovi, The Rolling Stones, atau Jimi Hendrix. Penggemar Nick Drake memang hanya segelintir di indonesia, tapi tak harus menyukai Nick Drake untuk mendapatkan banyak asupan berharga dari buku ini. Nick Drake: Sebuah Biografi juga teruntuk mereka para seniman, jurnalis musik, atau—yang lebih kontekstual—adalah siapapun yang pernah berhadapan dengan isu depresi.

Saya sudah membuktikannya, padahal saya bukan seniman, bukan fans Nick Drake, bukan jurnalis musik, sementara duit punya, pacar ada, dan bahagia duniawi.[WARN!NG/Soni Triantoro]

200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan – Bambang Trim

Tags

, , , ,

 

Ada yang menarik dari foto buku di atas. Coba lihat dengan saksama. Hmmm… Masih belum menemukan sesuatu yang berbeda? Coba lagi! Ubah cara pandangmu, mungkin bukan di bukunya, buktikan pola pikir kritismu. Masa belum sadar kalau ada sesuatu yang lain dibanding foto-foto sebelumnya? Hmmm… Megapikselnya mungkin?

Yoi bro, handphone saya baru.

Next

Buku ini tepat guna. Poin-poin teknis editing yang baik dan benar di dalamnya terbilang lengkap. Banyak problem-problem teknis yang sering ditemui dalam proses menulis dan editing tapi tak termaktub dalam buku EYD/EBI, sehingga kita harus repot-repot ulik-ulik Google. Mulai dari penggunaan dan dan serta, pemakaian tanda sempang yang masih sering disalahpahami banyak penulis, kosakata serapan dari istilah komputer yang semakin bikin pusing, sementara kata-kata arkais atau kata lama yang jarang digunakan juga sebenarnya terlalu kaya untuk ditelantarkan begitu saja.

Ejaan dan tata bahasa dasar yang sederhana juga dipaparkan dengan cukup rinci. Kian meyakinkan kita kalau berbahasa dengan perfek itu sulit.

Berikut ini sih contoh ekstrem dari manusia yang saat kecilnya mungkin belajar bahasa Indonesia dengan berang-berang:

“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya. Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga” – Vicky Prasetyo

Sama seperti buku Edit-Linguistik yang mengecewakan, sebenarnya buku ini lebih direkomendasikan untuk editor naskah buku, tapi isinya memang jauh lebih komprehensif dan relevan untuk kerja penyuntingan secara umum. Dalam seluk beluk ulasan dunia penerbitan pun informasi-informasinya juga lebih komplet, seperti tarif editor, waktu rata-rata kerja editor, atau besaran standar royalti penulis. Perkara hak cipta juga dipaparkan dengan apik. Terlhat upaya untuk menjelaskan “mana yang melanggar” dan “mana yang legal” dalam berbagai sudut kemungkinan. Mengingat media saya beberapa waktu lalu sempat bersitegang dalam konflik hak cipta terkait penggunaan sebuah foto di akun media sosial, maka saya menjadi punya perhatian lebih terhadap hal ini. Dan setelah membaca buku ini, saya berkesimpulan bahwa perkara hak cipta memang sangat pelik. Cek saja kalimat-kalimat di berbagai pasal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, terlihat para pembuatnya juga tidak yakin benar dengan apa yang mereka maksudkan sendiri. Banyak celah abu-abu di sana, terutama terkait penggunaan ciptaan orang lain untuk kepentingan media massa dan informasi publik.

Seolah jurnalis/penulis belum cukup direpotkan dengan masalah tanda baca dan menentukan -pun itu dipisah atau disambung.

 

Berguru Pada Pesohor : Panduan Wajib Menulis Resensi Buku – Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan

Tags

, , , ,

Belakangan beberapa orang–baik yang saya kenal baik maupun yang tidak–datang ke saya dan mengomentari blog ini,”review-review buku di blogmu oke tuh.”

Ingin rasanya menyahut,Huehuehue, ya iyalah!” sambil berjalan angkuh ala Eko Nugroho Patrio, tapi segera saya urungkan… Ini jebakan menuju congkak yang tidak berdasar!  Saya ini mau congkak saja selektif lho.

PENGUMUMAN: Blog ini bukan kumpulan resensi! Ini cuma kubangan coretan orang yang daya ingatnya terus menurun akibat kebanyakan mengonsumsi MSG.

Terlalu adiluhung Bung, jika mau disebut resensi. Lha isinya kerap ngelantur, proses penulisannya serampangan (buku cuma dibaca sekali lalu tulis!), kadang isinya juga cuma rangkuman atau salinan ulang bagian-bagian yang saya tandai dengan stabilo. Banyak elemen standar resensi yang tak termuat. Jangan muluk-muluk berharap ada riset pendukung atau komparasi dengan literatur lain. Pokoknya apa yang ada di kepala usai membaca buku dimuntahkan di sini, termasuk hal ihwal yang tidak nyambung. Dibanding kumpulan resensi, lebih patut rasanya disebut kumpulan ”komentar seenaknya”.

Tujuan pengadaan blog ini memang cuma sebagai semacam buku harian, karena kalau pakai diary book katanya terlalu kemayu. Bahkan, memang menyerupai coretan di buku harian, beberapa tulisan di blog ini sengaja saya atur sedemikian rupa waktu unggahnya agar tidak banyak yang membaca (lha mbok ora diposting sisan, Cah!). 

Di sisi lain, saya agak merasa mubazir juga menulis resensi dengan serius jika cuma dipajang di blog ini. Seingat saya sih baru dua kali saya pernah menulis resensi buku yang sepantasnya disebut resensi, yakni resensi buku Narasi dan Lokananta. Keduanya dimuat oleh Warning MagazineLha gila apa tiap baca buku harus ditulis resensinya? Jika ada warganet yang rela urun dana (crowdsourcing) ke saya seperti jemaah umrah yang patungan menyumbang First Travel, saya rela kok bikin resensi tiap hari.

Nah, tapi karena sorotan publik mulai menganggu privasi blog saya, okelah saya pun tertarik membaca buku Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku. Setidaknya saya ingin tahu lebih jauh seperti apa sebuah resensi buku seharusnya, meski belum tentu akan saya praktikan juga.

Saya belum kenal Diana AV Sasa sebelumnya, tapi Muhidin M Dahlan sudah telanjur tersohor di kalangan kawan-kawan saya yang bergelut di dunia kepustakaan. Menurut seorang kawan, beliau adalah pengarsip literatur terbesar di Indonesia. Tulisan-tulisan Muhidin yang sempat saya baca di media massa juga memperlihatkan kekayaan referensi literaturnya yang luar biasa. Kredibel pokoknya untuk menulis buku semacam ini.

Kendati ini adalah buku panduan menulis, tapi karakternya berbeda dengan tipikal buku panduan menulis bikinan akademisi yang kaku. Salah satunya adalah cara mereka memaknai resensi itu sendiri:

“Meresensi sebetulnya adalah usaha memperpanjang ingatan akan sebuah buku lantaran ingatan manusia amatlah terbatas. Dengan meresensi, sebetulnya kita sudah menempuh jalan memperpanjang ingatan yang pendek dan mengabadikan kenangan yang fana.”

Sedikit banyak ternyata mirip dengan motif saya membuat blog ini.

Menurut Diana dan Muhidin, meresensi buku mula-mulanya adalah aktivitas membaca. Tentu saja peringatan itu muncul lantaran banyak pererensi di luar sana yang menulis resensi tanpa secara utuh membaca bukunya. Bahkan, rumusan proporsi antara kebutuhan membaca dan menulis dalam proses menulis resensi menurut buku ini adalah 90 persen membaca banding 10 persen menulis.

Pada dasarnya membaca sekadar sebagai aksi konsumsi dan membaca dengan intensi menjadikannya modal untuk menulis evaluasi dan resensi adalah berbeda. Buku ini menyebutkan bahwa mata baca seorang peresensi buku adalah gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Sepakat! Bukan hanya buku sebenarnya. Jika Anda adalah orang yang biasa menulis komentar atau kesan seusai menonton film atau mendengarkan musik, rasanya akan sama. Kita tidak pernah bisa benar-benar pasrah diterpa konten, tapi selalu punya kepekaan untuk curiga dengan bagian-bagian yang kita konsumsi.

Kelebihan buku ini adalah banyak diturutkannya contoh-contoh resensi yang bagus. Dan karena Muhidin terlibat di sini, maka saya yakin contoh resensi yang diambil pasti tidak sembarangan. Beberapa di antaranya adalah resensi yang kondang atau kontroversial, semisal resensi dari S.I Poeradisastra terhadap buku karya Prof Slamet Iman Santoso bertajuk Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang terbit di tahun 1977. Isi resensi dari S.I Poeradisastra benar-benar tanpa ampun menguliti buku tersebut. Dan efeknya tanpa tedeng aling-aling. Tak ada pembelaan dari pihak penerbit buku dan penulis, malahan buku itu pun kemudian ditarik dari peredarannya.

Sayangnya, tetap saja buku ini disusun dengan konsep “buku panduan wajib”. Buku ini memposisikan dirinya sebagai manual dengan cara memberi arahan pembaca menggunakan banyak klasifikasi-klasifikasi, termasuk jenis judul, jenis penulisan paragraf pembuka, jenis penulisan tubuh karangan, dan macam-macam. Berguru Pada Pesohor menjadi acuan yang praktis, tapi tidak mendalam.

Atau memang pada dasarnya saya yang tidak bisa menikmati buku-buku teknis semacam ini. Sebagai orang yang belajar menulis secara autodidak, tak pernah punya mentor, apalagi ikut UKM atau komunitas menulis, mungkin aliran kepenulisan saya sudah tersesat terlalu jauh. Pedoman menulis pun tak lagi bisa jadi pedoman. Tolong mz ~

 

 

Edit-Linguistik – Eli Syarifah Aeni

Tags

, , ,

 

Buku ini dibeli dengan maksud memperkuat kepandaian berbahasa dan teknis editing, soalnya saya sedang  dibebani tugas dalam proyek menyusun buku putih atau buku panduan teknis penulisan untuk dua media: 1) Hipwee dan 2) Affantoer, majalah sastra yang baru akan terbit perdana akhir tahun ini. Lucu ‘kan kalau buku panduan penulisan keduanya sama?

Dan malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Saya salah beli. Pelajaran editing di buku ini lebih banyak merujuk pada persoalan editing naskah buku. Di dalamnya dijelaskan perihal sejarah perbukuan, anatomi buku, tips menyunting tulisan dari penulis buku yang sok tahu, dan sebagainya. Tapi saya tidak terlalu menyesal sih walau adanya memang mutlak sebuah kesalahan. Setidaknya saya jadi mengenal beberapa hal baru terkait proses produksi naskah buku. Toh saya juga belum lama ini menerima proyek menerjemahkan sebuah buku biografi musisi legendaris 90-an (you know who~). Ya owloh, proyak – proyek -proyak -proyek, penulis apa kontraktor?

Lewat buku ini, saya jadi tahu lebih detail tentang beberapa profesi dalam sistem kerja produksi naskah buku, seperti proofreader, copyeditor, hingga yang sebelumnya tak pernah saya dengar sama sekali, yakni editor akuisisi, pictorial editor, dan right editor. Sekiranya kurang ilmu jika masih mengira peran editor hanya sebatas menyunting. Editor bisa juga turun tangan untuk memburu naskah-naskah potensial yang layak terbit, mencarikan penggarap visual, hingga mengurus hak cipta. Selama ini memang tak semua penerbit, apalagi penerbit independen Jogja yang saya kenal, menggunakan sistem kerja dengan ketersediaan posisi editor yang sedemikian komplet. 

Tapi cukup ironis bahwa buku Edit-Linguistik ternyata belum selesai dengan dirinya sendiri. Saya tetap saja spontan beberapa kali menemukan kesalahan-kesalahan typo, padahal buku teknis editing ini banyak berkoar-koar menekankan pentingnya keilmuan praktis editing di masyarakat dan industri