Playing For Change: Music and Musicians in The Service of Social Movement – Rob Rosenthal and Richard Flacks

Tags

, , , , ,

Faktanya, musik mengiringi perjuangan politik dalam sejarah yang terekam: selebaran protes di Eropa pada Abad Pertengahan, tradisi panjang dari penyanyi-penyanyi Amerika Latin, penyanyi kalipso di Trinidad yang muncul di dekade 1920, massa Afrika Selatan yang melawan apartheid, lagu-lagu nasionalis dari pemberontakan Irish, tradisi twoubadou di Haiti, rai di Algeria, dan masih segudang lainnya.

Salah satu tujuan utama buku ini adalah untuk menemukan sisi penting dari budaya secara umum, dan khususnya musik di pergerakan sosial.

 “A song is just a song,” ujar Seeger. “But who knows what future souls will be strengthened by tehse songs?”

Musik folk dari Almanacs dan para suksesornya yang diproduksi pada dekade 40 dan 50-an memang berhasil memelihara identitas penyelenggara dan aktivitas di era itu, namun sejujurnya tak berhasil menarik lebih banyak pengikut. Satu generasi berlalu, karya-karya mereka menjadi inspirasi dan model dari musik yang kemudian bergantung secara nasional dan menjadi salah satu bagian integral dari pergerakan massa di sejarah Amerika. Kesuksesan arus utama dari musik pop wanita di 1990-an dibentuk dari upaya pionir lesbian dan feminis 20 tahun sebelumnya. “It’s not always something that happens right away—the Big Bang,” tukas Bruce Springsteen.

Billy Bragg mengatakan bahwa pahlawan musiknya tidak mengubah dunia, namun mengubah persepsinya pada dunia. Mengubah persepsi dan definisi jelas dibutuhkan dalam proses mengubah dunia. Pembingkaian situasi memang tak cukup untuk menentukan kesuksesan pergerakan, namun itu adalah salah satu bahan penting. Kekuatan musicking dalam hal ini memang sangat kuat, membantu menciptakan, mempertahankan, dan mensirkulasikan etos umum yang mendorong, mendukung, dan bahkan memberi mandat pada aktivitas pergerakan. Banyak faktor di dalam etos ini—emosi, kepercayan moral, pencarian tujuan, kalkulasi rasional, dan keinginan untuk terlihat keren—sebuah jaringan pesan dan makna yang bersama-sama mendukung komitmen terhadap sebuah pergerakan.

Sebagai sebuah bentuk budaya, musicking memberikan sebuah kesempatan untuk mencapai orang-orang yang bisa jadi menghindari atau tidak percaya dnegan jenis komunikasi sosial politik lainnya. Sebagai sebuah deklarasi publik, musicking memberi peredaran gagasan dan perasaan, menyebarkan itu semua sesimpel dengan bernyanyi dan mempedengarkannya, dan lalu memberi mereka semacam legitimasi kolektif melalui perayaan. Sebagai sebuah aktivitas pergerakan, musicking memberikan sebuah ritual kolektif akan komitmen, di mana portabilitasnya memungkinkannya untuk terus menjadi bagian dari keseharian anggota pergerakan itu sendiri, memperkuat komitmen mereka bahkan di saat aktivitas pergerakannya sedang vakum.

Budaya dan musicking adalah krusial dalam membuat proses aktivitas menjadi atraktif dan bermakna. Tentu saja, tujuan utamanya adaaah mendapatkan perubahan ekonomi, sosial, dan politik dari motivasi untuk mengusahakannya, namun gol-gol itu faktanya adalah “eventual” atau tujuan akhir. Prosesnya sendiri harus bisa memberikan sesuatu bagi orang-orang yang terlibat sebelum jalan panjang emnuju tujuan akhir itu tercapai. Perasaan solidaritas, persatuan, keyakinan moral, dan signifikansi sejarah sendiri adalah keuntungan dari pergerakan itu, dan perasaan-perasaan ini adalah hasil dari pengalaman dan pembingkaian budaya dari pengalaman itu. Secara krusial, musicking memberikan keriaan budaya kepada urusan politik yang serius. Singkatnya, musik membuat kehidupan pergerakan menjadi lebih menyenangkan.

Tapi, budaya bukanlah kemewahan dalam pergerakan, melainkan komponen esensial. “It is our ability yo inspire that will make the difference,” ujar aktivis buruh, Joe Uehlein. Adalah kombinasi antara kekuatan musik dan sajak dalam lirik yang memberikan inspirasi, atau juga performa panggung. Inspirasi juga kerap muncul dari persona musisi. Dalam banyak medium ini, musicking memberikan jalan untuk melahirkan dan mempertahankan komitmen, tak hanya dalam momen performa publik namun dalam berbegai momen privat dari kehidupan individu.

Musicking pada akhirnya memang paling kuat jika terhubung dnegan pergerakan, mengendarai aliran energinya atau membantu untuk menciptakannya. Judy Small menjelaskan,”…without the doings the music isn’’t going to do a thing. But then again, withoit music I think the doings would be a whole lot harder.”

 

Advertisements

Catatan Najwa – Najwa Shihab

Tags

, , , ,

Sekitar seminggu lalu, peristiwa ‘gaib’ terjadi. Kamerad WARN!NG (baca: saya, Tomi Wibisono, dan Titah Asmaning) kala itu sedang melangsungkan “rapat lucu” untuk menerbitkan lagi majalah di akhir tahun ini. Tatkala sedang memikirkan nama sasaran yang bisa dijadikan narasumber untuk konten, Titah berceletuk, “Harus ada perempuannya lho…”

Ia lalu menambahi, “Najwa Shihab?”

Tidak ada dari saya atau Tomi yang merespons dengan antusias. Bukan tidak berminat, melainkan tidak ada dari kami yang punya jejaring untuk mendapatkan akses ke Najwa. Apalagi biasanya “makanan” kami adalah seniman, sementara Najwa dalam taraf tertentu adalah selebriti. Sulit sulit…

Topik segera bergeser. Najwa terabaikan.

Tak disangka, 5 menit setelahnya, ponsel saya bergetar. Ada chat masuk. Nomor asing. Sekilas dari notifikasinya ada kata “…Najwa Shihab…”. Waw, ada pers rilis soal Najwa Shihab, pikir saya, kebetulan sekali orangnya baru diomongin.

Lalu ketika saya buka chat-nya, agak hening sebentar…

“Halo mas Soni, salam kenal. Saya Najwa Shihab dari Narasi TV. Selalu suka baca tulisan2 mas soni di Hipwee”

Siap, semesta punya rencana tampaknya.

Singkat cerita, intinya Najwa mengundang saya bertemu. Dua hari kemudian saya pun menemuinya, sekalian bermaksud melangsungkan wawancara. Namun, yang terjadi justru waktu ludes untuk obrolan lain yang tidak bisa saya beberkan di sini. Intinya, ada “persekutuan” yang kami wujudkan.

Saya memang bukan penggemar Najwa Shihab–sebagaimana banyak sekali teman saya yang heboh mendengar kisah “saya dicari Najwa”. Namun, harus diakui, ia adalah satu dari segelintir sosok terbaik yang masih lalu lalang di televisi. Dan segala keputusan saya terkait undangan dan obrolan bersamanya berangkat dari apresiasi saya terhadapnya.

Oiya, dan karena pertemuan inilah saya membaca buku Catatan Najwa. Yah, ternyata isinya cuma kutipan semacam sajak-sajak yang biasa ia bacakan di tiap akhir episode Mata Najwa. Tidak buruk, karena kutipan-kutipan itu memang bisa diperlakukan sebagai catatan peristiwa politik penting di beberapa tahun terakhir. Tapi saya secara pribadi tetap mengharapkan Najwa Shihab kelak menulis buku jurnalisme yang lebih serius. 

Soalnya, jarang ada jurnalis yang setenar dia. Kesempatan untuk bicara sesuatu yang akan didengar banyak orang.

 

Udah Putusin Aja! – Felix Y. Siauw

Tags

, , , , ,

Tidak ada yang salah dengan menyebarkan imbauan anti-pacaran. Tak ada bedanya dengan buku-buku atau para aktivis yang menyuarakan anti korupsi atau anti-perang. Harus dihormati bahwa Felix Siauw memperjuangkan ide yang dipercayainya untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Toh itu adalah gagasan yang kiranya tidak akan merugikan orang lain, bahkan bisa jadi memang bisa mempersempit peluang kekerasan seksual di dunia ini.

Permasalahannya ada pada cara penyampaiannya. Masih hijau sekali. Penuh dengan asumsi cacat dan generalisasi serampangan. Misalnya,

“Pacaran 100 persen merugikan perempuan, cepat atau lambat.

100 persen menguntungkan lelaki, cepat atau lambat”.

Hidup di lingkaran pergaulan seperti apa Felix Siauw ini?

Hampir semua opini kalau berani nyebut “100 persen” biasanya memang ngawur. Felix bicara ngalor-ngidul tentang zona paling privat manusia: afeksi, cinta, seksualitas, pancaindra, dan lain sebagainya tanpa data psikologi pendukung. Pun ia memposisikan perempuan melulu sebagai objek. Seakan-akan perempuan tak punya nafsu berahi atau kehendak dominasi lain terhadap laki-laki.

Semua argumen Felix bertumpu pada satu pemikiran bahwa apa yang ditransaksikan dalam pacaran cuma tubuh dan gairah seks. Tidak menampik bahwa pacaran adalah pintu zina, tapi selain itu ada banyak interaksi lain dalam pacaran yang bisa menjadi sumber permasalahan, seperti energi, biaya, waktu, mental, dan lain-lain. Hal-hal ini turut memengaruhi keberhasilan atau kegagalan hubungan asmara, dan tak selalu perempuan yang dirugikan.

Apa yang paling tak bijak adalah cara Felix menakut-nakuti pembaca perempuannya dengan premis bahwa perempuan bakal kehilangan harganya di mata laki-laki ketika sudah tidak perawan. Iya, di mata Felix Siauw. Di mata saya sih tidak.

Malah justru “selera pribadi” Felix yang maunya cuma sama perawan ini yang melanggengkan ketidakadilan persepsi terkait makna virginitas dalam persoalan gender.

Tapi harus diakui, sebaik-baiknya Felix Siauw adalah ketika membicarakan isu pacaran ini. Soalnya selalu lebih buruk kalau dia sudah mulai kultwit tentang isu lainnya yang lebih berat.

Charlie Chaplin: My Autobiography

Tags

, , , ,

Pertama kali saya begitu menyeriusi seorang sineas, sampai sudi membeli otobiografinya yang mahal. Chaplin memang lain. Selain karyanya luar biasa bagus dan berpengaruh, ia secara sadar mengekspresikan kesadaran politiknya di dalam karya-karya itu. Chaplin tekun menggarap konteks rakyat kecil dan kemiskinan dalam kisah-kisah filmnya, yang mana kemudian berkembang menjadi kritik sadar terhadap kapitalisme, baik dalam karya maupun aktivitas di luar layarnya. Secara politis, saya menemukan sesuatu yang bisa saya sepakati akan kiprahnya. Karya-karyanya terang-terangan mengartikulasikan keberpihakan sosial politik dengan menghibur, tanpa mempersulit penontonnya. Populis tapi khas dan cerdas.

Salah satu yang paling dikenal dari My Autobiography adalah curhatannya terkait posisinya yang disudutkan oleh industri dan pemerintah Amerika karena dituding komunis. Meski tidak mengakui dirinya sebagai komunis, Chaplin memang sempat mendapat penghargaan dari Soviet, menunjukan dukungan, bahkan melakukan pertemuan dengan Nikita Khrushchev. Karya-karyanya lalu diserang, sementara kehidupan pribadinya diganggu oleh FBI, bahkan ia diusir dari negara Paman Sam. Hei, menjadi kiri di Amerika pada zaman itu tidak semudah hari ini. Tapi semua itu tak menghalanginya untuk tetap vokal.

My Autobiography memang justru tak banyak bicara soal seluk beluk kerja seninya. Buku ini adalah ruangnya untuk curhat. Banyak cerita personal. Selain kemelut politik di jenjang karier lanjutnya, kisah masa kecilnya banyak terungkap di sini. Sangat dramatis, bagaimana ia lahir di keluarga miskin, di tengah ibu yang punya kelainan psikis serta ayah seorang pemabuk. Seringkali Chaplin harus dilempar-lempar di antara asuhan keduanya. Menariknya, kedua orangtuanya ini berkiprah di bidang seni musik. Bisa kita bayangkan, kisah hidupnya adalah bahan terbaik untuk dijadikan film musikal, sedikit banyak digarapnya sendiri di Limelight (1952).

Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon – Cerpen Pilihan Kompas 2018

Tags

, , , , , ,

Ini edisi cerpen pilihan kompas favorit saya, soalnya amat banyak cerpen yang bagus sekali. Saya merasa dialog problematika sosial yang disuguhkan mayoritas cerpen di buku ini lebih eksplisit dan tanpa tedeng aling-aling dibanding biasanya. Maka di sini saya rekonstruksi menjadi Kumpulan “Cerpen Pilihan Kompas 2014” Pilihan Soni, halahlah…

Mong-omong, saya tidak memasukan cerpen jawaranya, “Di Tubuh tarra, dalam Rahim Pohon” garapan Faisal Oddang di usia ke-19-nya. Semata-mata karena sangat bercita rasa lokal, kurang urban untuk preferensi pribadi saya…

  1. Wanita dan Semut-semut di Kepalanya – Anggun Prameswari

“Otakmu yang rumit itu, suatu hari akan habis dimakan semut=semut”, ujar tokoh suami dari sang tokoh utama. Sebuah ocehan metaforis yang kemudian dikembangkan menjadi alur kisah yang mencekam sekaligus lahap diikuti. Gelap, tapi mudah kita koneksikan dengan permasalahan psikologis yang sering melanda, bahkan termasuk saya atau kamu sendiri.

  1. Travelogue – Seno Gumira Ajidarma

“Makna datang seperti titik-titik yang muncul perlahan membentuk gambar, seperti kata yang muncul satu persatu dalam waktu sebelum menjadi kalimat yang selesai..”

– Hanya empat halaman, semacam monolog kontemplatif yang sangat-sangat membuai, seakan catatan perjalanan seseorang yang tak tahu kapan akan berhenti.

  1. Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono – Sapardi Djoko Damono

Sudah sangat menarik hati sejak judul (dan pengarangnya), cerpen ini menawarkan bentuk unik: lima cerita ringkas, bermuara pada tokoh seorang wartawan. Beberapa absurd, bercita rasa jenaka, namun amat menggelitik. Seakan ditulis benar-benar oleh seseorang yang ribuan tahun menjadi wartawan. Oiya, untuk kisah pertamanya, kok saya berpikir karakter itu diadaptasi dari sosok Ahmad Wahib ya, entahlah

  1. Protes – Putu Wijaya

Tema cerpen yang paling dibutuhkan hari ini. Pembangunan dipandang sinonim dengan kemajuan, warga negara yang baik berarti wajib mendukung, dan lain-lain. Dipaparkan dalam bentuk dialog berisi argumen-argumen dari tiap-tiap tokoh. Sebagian orang mungkin malas membaca narasi yang kurang puitis dan terlalu berdegam-degam semacam ini, saya sih suka.

  1. Jalan Sunyi Kota Mati – Radhar Panca Dahana

Bermula dari sebuah kecelakaan di jalan raya yang merenggut satu nyawa dan melibatkan banyak pihak. Hampir mirip dengan “Protes”, cerpen satu ini juga memainkan elemen-elemen dialog dengan perspektif argumen tiap-tiap karakter yang melingkari peristiwa tragis itu. Namun, di satu sisi lebih sederhana secara topik, tapi lebih atraktif dalam alurnya. Sangat jakarta, sangat urban, sangat manusia, jenius.

 

  1. Matinya Seorang Demonstran – Agus Noor

Rasanya sudah lupa terakhir kali saya merinding membaca sebuah cerpen. “Matinya Seorang Demonstran” sebenarnya tidak sekontemplatif atau sekompleks “Jalan Sunyi Kota Mati”. Plotnya biasa, namun kisahnya memang mengesankan, tiap premisnya kuat, ending-nya dahsyat, dan yang paling penting adalah masuk akal. Bobot wacananya amat tajam untuk menggugat konteks-konteks yang lebih luas. Kita menangkap sisi politik, sosial, sejarah, juga asmara. Romantis sekaligus menggugat. Bahkan, secara spesifik, secuil dialog gombalan di sini pun jauh lebih menohok dari remah-remah di Dilan, meski sama sederhananya. Cerita ini jauh lebih pendek dari lamanya kesan darinya yang akan melekat di kepala dan batin saya.