Nick Drake: Sebuah Biografi – Patrick Humphries

Tags

, ,

Bulan lalu saya sempat diminta menjadi pembicara di tur buku biografi Nick Drake rilisan penerbit JungkirBalik Pustaka asal Bandung. Tapi saya memutuskan mundur teratur. Kendati nama Nick Drake tidak asing di kuping, namun karyanya sendiri baru pernah saya dengarkan sekelebat saja. Alhasil, saya memilih jadi penonton, dan ternyata obrolan yang akhirnya dipandu oleh Titah Asmaning, Deugalih, dan Aris Setyawan di acara tersebut menarik sekali. Tepat sekali saya tidak jadi terlibat lebih jauh, xixixixi.

Yah, tapi agar tetap menyumbang kontribusi untuk kawan-kawan penerbit baru yang menjanjikan akan terus merilis buku-buku budaya pop yang keren ini, saya tukar  dengan sebuah ulasan menggemaskan ini yak~

Bisa disimak juga di warningmagz.com

Penulis: Patrick Humphries

Penerjemah : Muhammad Al Mukhlishiddin         

Penerbit: Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia

“Kematian memang melejitkan karier Jim Morrison, Jimi Hendrix, dst. tapi mereka sebelumnya sudah menjadi seorang bintang. Mereka terlalu jalang untuk terus hidup. Drake kebalikannya: Drake terlalu rapuh untuk terus hidup”. – Brian Pendreigh, Scotsman 1995

Kisah Nick Drake adalah noktah pada riwayat kesenian diperadaban kita. Main hakim sendiri jikalau menuding industri musik sebagai satu-satunya oknum, tapi terlampau naif jika memandangnya berhenti pada kasus idiosinkrasi individu. Patrick Humphries, Al Mukhlishiddin, dan kenekatan penerbit Jungkir Balik menyuguhkan dualitas persoalan ini ke hadapan kita.

Sebelum membaca buku ini, saya hanya pernah mendengar lagu-lagu Nick Drake selayang lewat dan tidak seketika mendapatkan kesan tertentu. Modal wawasan yang saya punya kala itu sebatas ia adalah musisi mati muda dengan musik yang melampaui zamannya. Terbukti, ketiga—yang berarti seluruh—album penuhnya masuk senarai 500 Album Terbaik Sepanjang Masa Versi Rolling Stone. Jangan berkecil hati atau merasa primitif bila Anda malah lebih tidak tahu menahu tentangnya. Youtube yang maha tahu saja tidak punya video penampilannya.Jadi itu bukan salah Anda, tapi salah Nick Drake.

Jangankan di Indonesia, bahkan di negeri asalnya pun Nick Drake disebut tak punya pangsa pasar yang cukup luas. Meski set masa kiprahnya adalah 70-an, namun ia benar-benar baru didengar mulai akhir dekade 80-an berkat keistimewaan intrinsik musiknya yang didukung kolaborasi antara angan-angan media dan fantasi pendengarnya. Mereka yang punya atensi terhadap Nick Drake kemungkinan besar memang hanya penikmat musik yang giat mengonsumsi informasi-informasi musik populer.

Saya sendiri mungkin di suatu waktu bakal termakan mitos yang menyelubungi riwayat hidup Nick Drake jika Patrick Humphries tidak memilih menunaikan tugasnya sebagai penulis musik sesuai cita-cita Alex Ross, yakni mendemistifikasi atau menjaga seni musik agar tidak melebar ke arah omong kosong, melainkan tetap meletakkannya dalam kompleksitas manusia. Ia menyibak kabut glorifikasi yang terlalu tebal dengan turun ke lapangan untuk memperjernih sisi dramatis antara kegagalan karier dan heroisme musik Nick Drake. Dalam Nick Drake: Sebuah Biografi, kita bisa menemukan banyak pernyataan yang mengungkap atau mengomparasikan apa yang dipercaya publik selama ini dengan rasionalisasi temuan-temuannya. Semua dalam rangka mengembalikan sisi kemanusiaan pada sosok Nick Drake yang sudah mengalami penokohan berulang. Dan mungkin ini bacaan biografi musisi pertama saya yang tidak menampilkan bahasan perihal groupies, petualangan asmara, atau kemelaratan sekaligus keglamoran. Bahkan buku biografi Andika Kangen Band dapat dipastikan akan lebih rock & roll dari ini.

Alih-alih memaku amatan pada sosok Nick Drake, Humphries terkadang sengaja melepas fokus terhadapnya dan mencari ruang untuk menggelar pemahaman konteks yang lebih luas, di antaranya latar sosial politik Myanmar, Marlborough, hingga lingkungan kampus Cambridge. Walau tak selalu lancar dan kadang kendor terlalu jauh, namun Humphries secara umum masih mampu menjelaskan relasi antara konteks yang ia paparkan dengan progres internal maupun eksternal dari Nick Drake. Toh membaca Nick Drake tak sekadar mempelajari Nick Drake, melainkan juga mengenal bangunan konteks untuk kisah musisi-musisi lain di eranya. Contohnya, bagaimana pemakaian narkotik yang mulai dilazimkan tepat di tahun 1967 menjelaskan perubahan mendadak tren musik yang menahbiskan tahun tersebut sebagai tahun paling adiluhung bagi semesta musik populer.

Bagi Jungkir Balik sendiri, mungkin tak ada lagi momen yang lebih tepat untuk menerbitkan terjemahan buku ini. Toh tren musik folk di belantika tidak juga mampu memasarkan sosok Nick Drake di kalangan adik-adik penggemar Payung Teduh. Seingat saya tim Jungkir Balik bukan cenayang, tapi buku ini memang kebetulan rilis masih dalam masa berkabung atas kehilangan dua vokalis kenamaan, Chris Cornell dan Chester Bennington. Nick Drake punya relevansi tak terduga untuk membawa diskursus terkait musisi depresif.

Opini paling konvensional dari saya adalah depresi disebabkan ketidakcocokan antara kondisi batin seseorang dan lingkungannya. Sudah cukup rasanya untuk mereka-reka Nick Drake sebagai sosok yang pesakitan dan ditakdirkan menjadi tragedi tanpa alasan sedari awal, terutama lewat beberapa lirik sakit yang dianggap sebagai isyaratnya untuk bunuh diri. Dalam pengakuan beberapa kenalan Nick Drake yang dirangkum di buku ini, saya bisa membayangkan sosoknya di usia remaja sebagai teman introver yang sok nyeni tapi tetap bergaul. Sebuah potret yang tidak terlalu spesial, karena faktanya kita biasa punya teman-teman semacam itu. Perkaranya adalah setelahnya. Bagaimana dunia memperlakukannya dan bagaimana ia meresponsnya.

Musiknya kandas untuk bersinar di eranya, tapi kegagalan terbesar adalah kegagalannya menerima kegagalan itu. Ia terlalu berharap dunia akan senang hati melayani visi-misi idealnya. Nick Drake adalah perfeksionisme tulen—jika ngeyel tidak lebih tepat—yang patah pucuk melakukan internalisasi diri. Dan ingat, ia hidup di era modernisme yang optimis masih mengalami transisi menuju semangat pascamodernism yang lebih legawa.

Menurut kuping saya, sebenarnya musik Nick Drake tidak terlalu futuristik dalam artian masih sesuai dan punya potensi besar untuk diterima di eranya jika saja ia mau melakukan apa yang sewajarnya dilakukan oleh musisi lainnya. Apa yang dimainkan Drake merupakan inovasi yang akarnya masih serumpun dengan aliran folk dan blues angkatannya. Kebaruan yang ia berikan adalah kelihaian membangun aransemen bercorak akustik dan klasik dibalut atmosfer yang gersang di Five Leaves Left dan Bryter Layter. Ia mengambil ceruk estetika yang luar biasa, namun memang tidak ada yang peduli. Akhirnya di Pink Moon yang sudah peduli setan mau laku atau tidak, ia bertumpu pada permainan gitarnya yang teramat canggih untuk standar musisi folk, bahkan sebenarnya untuk ukuran musisi blues sekalipun. Tetap saja, tidak ada yang peduli.

Karya-karya Nick Drake sejatinya mudah terbaca sebagai potret bagaimana musik dan sastra digeluti kelas menengah. Liriknya tidak punya kepekaan terhadap lingkungan sosial-politik yang kala itu sebenarnya sangat seksi. Lagu-lagunya tergolong egois dengan mengedepankan simbol-simbol refleksi diri yang metaforis, termasuk pesimisme jalan ketenaran dalam “Fruit Tree” (“Fame is but a fruit tree / So very unsound / It can never flourish / till its stalk is in the ground”) atau konflik idealisme pada “Road” (“You can take the road that takes you to the stars now / I can take the road that’ll see me through”). Keduanya menunjukan kesulitan Nick Drake mendamaikan diri dengan kehidupan. Sesuai falsafah Jawa, orang-orang berada pun pasti punya problemnya sendiri.

Padahal infrastruktur dan sumber daya manusia yang mendukung karier Nick Drake sudah teramat siap. Talenta besarnya dibuktikan dengan sikap suportif dari nama-nama penting seperti Joe Boyd, John Cale, dan label Island Records yang menelurkan Jethro Tull, Free, dan King Crimson. Tapi apa hendak dikata jika musisi tegar tengkuk yang tidak pernah punya single ini malas menggelar tur, dan hanya sudi manggung di konser-konser besar. Padahal kecuali kamu adalah Bob Dylan, meniti karier dari klub-klub folk kecil adalah metode standar yang lazim diikuti. Alhasil, Nick Drake hanya pernah tampil beberapa puluh kali sepanjang usianya, dan itu pun meninggalkan kesan tak terlalu baik. Performa musiknya sempurna, tapi ia melempem sebagai penghibur visual. Kebiasaan tampilnya duduk membungkuk di kursi seraya memandangi gitar sepanjang lagu mungkin sempat dipercaya sebagai aksi panggung yang karismatik, padahal faktanya justru ini adalah wujud kepayahannya. Ada banyak versi ihwal apakah Nick bisa menyenangkan penontonnya atau tidak, tapi yang jelas semua satu suara bahwa Nick tampak tidak nyaman di depan audiens.

Inilah kenapa kita tidak bias mempersalahkan industri begitu saja dalam kasus Nick Drake. Bayangkan, dengan etos penyebaran karya yang serendah itu, ia harus berkompetisi di luar sana dengan Elton John, James Taylor, Leonard Cohen, Bruce Springsteen. Neil Young, Van Morrisson, Tim Buckley, dan Cat Steven. Bahkan, andai kata era itu sudah ada video klip atau pun Youtube, belum tentu Nick Drake mudah diarahkan untuk mengikuti kebutuhan-kebutuhan ini.

Syahdan, akhirnya justru tangan-tangan yang tak pernah dikenalnya yang berhasil menjual karya-karyanya. Para jurnalis musik yang terlambat menyadari kualitas musiknya dimanfaatkan eksploitasi industri yang berhasrat terus merilis karyanya. Lagunya dibajak, karya unreleased-nya terus dicari dan dijual, dibarengi dongeng-dongeng terkait sosoknya. Tinggal tunggu waktu sampai muncul album senista Montage of Heck: The Home Recordings versi Nick Drake.

Berandai-andai jika Nick Drake adalah kepentingan publik, dan desas-desus terkaitnya memang sengaja dikarang oleh aktor-aktor kapitalis, maka buku Nick Drake sudah memenuhi syarat sebagai jurnalisme investigasi. Menyibak realitas Nick Drake berarti membuka wacana tentang urgensi kesadaran aktif bergerak dalam karier bermusik, psikologi seniman, pemitosan dalam kerja kapitalisme, tabiat jurnalisme musik, dan lain sebagainya. Buku ini membuktikan bahwa ternyata menelanjangi kisah drama rock & roll dengan data dan rasionalisasi tak senantiasa berujung anti-klimaks, melainkan sama menariknya dengan mitos-mitos itu sendiri.

Maka saya tutup ceracau ini dengan menjawab pertanyaan “untuk siapa buku ini?”

Paradoksal bahwasanya buku biografi musisi dengan popularitas semenjana ini justru relevan untuk dibaca lebih banyak kalangan daripada biografi Bon Jovi, The Rolling Stones, atau Jimi Hendrix. Penggemar Nick Drake memang hanya segelintir di indonesia, tapi tak harus menyukai Nick Drake untuk mendapatkan banyak asupan berharga dari buku ini. Nick Drake: Sebuah Biografi juga teruntuk mereka para seniman, jurnalis musik, atau—yang lebih kontekstual—adalah siapapun yang pernah berhadapan dengan isu depresi.

Saya sudah membuktikannya, padahal saya bukan seniman, bukan fans Nick Drake, bukan jurnalis musik, sementara duit punya, pacar ada, dan bahagia duniawi.[WARN!NG/Soni Triantoro]

Advertisements

200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan – Bambang Trim

Tags

, , , ,

 

Ada yang menarik dari foto buku di atas. Coba lihat dengan saksama. Hmmm… Masih belum menemukan sesuatu yang berbeda? Coba lagi! Ubah cara pandangmu, mungkin bukan di bukunya, buktikan pola pikir kritismu. Masa belum sadar kalau ada sesuatu yang lain dibanding foto-foto sebelumnya? Hmmm… Megapikselnya mungkin?

Yoi bro, handphone saya baru.

Next

Buku ini tepat guna. Poin-poin teknis editing yang baik dan benar di dalamnya terbilang lengkap. Banyak problem-problem teknis yang sering ditemui dalam proses menulis dan editing tapi tak termaktub dalam buku EYD/EBI, sehingga kita harus repot-repot ulik-ulik Google. Mulai dari penggunaan dan dan serta, pemakaian tanda sempang yang masih sering disalahpahami banyak penulis, kosakata serapan dari istilah komputer yang semakin bikin pusing, sementara kata-kata arkais atau kata lama yang jarang digunakan juga sebenarnya terlalu kaya untuk ditelantarkan begitu saja.

Ejaan dan tata bahasa dasar yang sederhana juga dipaparkan dengan cukup rinci. Kian meyakinkan kita kalau berbahasa dengan perfek itu sulit.

Berikut ini sih contoh ekstrem dari manusia yang saat kecilnya mungkin belajar bahasa Indonesia dengan berang-berang:

“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya. Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga” – Vicky Prasetyo

Sama seperti buku Edit-Linguistik yang mengecewakan, sebenarnya buku ini lebih direkomendasikan untuk editor naskah buku, tapi isinya memang jauh lebih komprehensif dan relevan untuk kerja penyuntingan secara umum. Dalam seluk beluk ulasan dunia penerbitan pun informasi-informasinya juga lebih komplet, seperti tarif editor, waktu rata-rata kerja editor, atau besaran standar royalti penulis. Perkara hak cipta juga dipaparkan dengan apik. Terlhat upaya untuk menjelaskan “mana yang melanggar” dan “mana yang legal” dalam berbagai sudut kemungkinan. Mengingat media saya beberapa waktu lalu sempat bersitegang dalam konflik hak cipta terkait penggunaan sebuah foto di akun media sosial, maka saya menjadi punya perhatian lebih terhadap hal ini. Dan setelah membaca buku ini, saya berkesimpulan bahwa perkara hak cipta memang sangat pelik. Cek saja kalimat-kalimat di berbagai pasal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, terlihat para pembuatnya juga tidak yakin benar dengan apa yang mereka maksudkan sendiri. Banyak celah abu-abu di sana, terutama terkait penggunaan ciptaan orang lain untuk kepentingan media massa dan informasi publik.

Seolah jurnalis/penulis belum cukup direpotkan dengan masalah tanda baca dan menentukan -pun itu dipisah atau disambung.

 

Berguru Pada Pesohor : Panduan Wajib Menulis Resensi Buku – Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan

Tags

, , , ,

Belakangan beberapa orang–baik yang saya kenal baik maupun yang tidak–datang ke saya dan mengomentari blog ini,”review-review buku di blogmu oke tuh.”

Ingin rasanya menyahut,Huehuehue, ya iyalah!” sambil berjalan angkuh ala Eko Nugroho Patrio, tapi segera saya urungkan… Ini jebakan menuju congkak yang tidak berdasar!  Saya ini mau congkak saja selektif lho.

PENGUMUMAN: Blog ini bukan kumpulan resensi! Ini cuma kubangan coretan orang yang daya ingatnya terus menurun akibat kebanyakan mengonsumsi MSG.

Terlalu adiluhung Bung, jika mau disebut resensi. Lha isinya kerap ngelantur, proses penulisannya serampangan (buku cuma dibaca sekali lalu tulis!), kadang isinya juga cuma rangkuman atau salinan ulang bagian-bagian yang saya tandai dengan stabilo. Banyak elemen standar resensi yang tak termuat. Jangan muluk-muluk berharap ada riset pendukung atau komparasi dengan literatur lain. Pokoknya apa yang ada di kepala usai membaca buku dimuntahkan di sini, termasuk hal ihwal yang tidak nyambung. Dibanding kumpulan resensi, lebih patut rasanya disebut kumpulan ”komentar seenaknya”.

Tujuan pengadaan blog ini memang cuma sebagai semacam buku harian, karena kalau pakai diary book katanya terlalu kemayu. Bahkan, memang menyerupai coretan di buku harian, beberapa tulisan di blog ini sengaja saya atur sedemikian rupa waktu unggahnya agar tidak banyak yang membaca (lha mbok ora diposting sisan, Cah!). 

Di sisi lain, saya agak merasa mubazir juga menulis resensi dengan serius jika cuma dipajang di blog ini. Seingat saya sih baru dua kali saya pernah menulis resensi buku yang sepantasnya disebut resensi, yakni resensi buku Narasi dan Lokananta. Keduanya dimuat oleh Warning MagazineLha gila apa tiap baca buku harus ditulis resensinya? Jika ada warganet yang rela urun dana (crowdsourcing) ke saya seperti jemaah umrah yang patungan menyumbang First Travel, saya rela kok bikin resensi tiap hari.

Nah, tapi karena sorotan publik mulai menganggu privasi blog saya, okelah saya pun tertarik membaca buku Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku. Setidaknya saya ingin tahu lebih jauh seperti apa sebuah resensi buku seharusnya, meski belum tentu akan saya praktikan juga.

Saya belum kenal Diana AV Sasa sebelumnya, tapi Muhidin M Dahlan sudah telanjur tersohor di kalangan kawan-kawan saya yang bergelut di dunia kepustakaan. Menurut seorang kawan, beliau adalah pengarsip literatur terbesar di Indonesia. Tulisan-tulisan Muhidin yang sempat saya baca di media massa juga memperlihatkan kekayaan referensi literaturnya yang luar biasa. Kredibel pokoknya untuk menulis buku semacam ini.

Kendati ini adalah buku panduan menulis, tapi karakternya berbeda dengan tipikal buku panduan menulis bikinan akademisi yang kaku. Salah satunya adalah cara mereka memaknai resensi itu sendiri:

“Meresensi sebetulnya adalah usaha memperpanjang ingatan akan sebuah buku lantaran ingatan manusia amatlah terbatas. Dengan meresensi, sebetulnya kita sudah menempuh jalan memperpanjang ingatan yang pendek dan mengabadikan kenangan yang fana.”

Sedikit banyak ternyata mirip dengan motif saya membuat blog ini.

Menurut Diana dan Muhidin, meresensi buku mula-mulanya adalah aktivitas membaca. Tentu saja peringatan itu muncul lantaran banyak pererensi di luar sana yang menulis resensi tanpa secara utuh membaca bukunya. Bahkan, rumusan proporsi antara kebutuhan membaca dan menulis dalam proses menulis resensi menurut buku ini adalah 90 persen membaca banding 10 persen menulis.

Pada dasarnya membaca sekadar sebagai aksi konsumsi dan membaca dengan intensi menjadikannya modal untuk menulis evaluasi dan resensi adalah berbeda. Buku ini menyebutkan bahwa mata baca seorang peresensi buku adalah gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Sepakat! Bukan hanya buku sebenarnya. Jika Anda adalah orang yang biasa menulis komentar atau kesan seusai menonton film atau mendengarkan musik, rasanya akan sama. Kita tidak pernah bisa benar-benar pasrah diterpa konten, tapi selalu punya kepekaan untuk curiga dengan bagian-bagian yang kita konsumsi.

Kelebihan buku ini adalah banyak diturutkannya contoh-contoh resensi yang bagus. Dan karena Muhidin terlibat di sini, maka saya yakin contoh resensi yang diambil pasti tidak sembarangan. Beberapa di antaranya adalah resensi yang kondang atau kontroversial, semisal resensi dari S.I Poeradisastra terhadap buku karya Prof Slamet Iman Santoso bertajuk Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang terbit di tahun 1977. Isi resensi dari S.I Poeradisastra benar-benar tanpa ampun menguliti buku tersebut. Dan efeknya tanpa tedeng aling-aling. Tak ada pembelaan dari pihak penerbit buku dan penulis, malahan buku itu pun kemudian ditarik dari peredarannya.

Sayangnya, tetap saja buku ini disusun dengan konsep “buku panduan wajib”. Buku ini memposisikan dirinya sebagai manual dengan cara memberi arahan pembaca menggunakan banyak klasifikasi-klasifikasi, termasuk jenis judul, jenis penulisan paragraf pembuka, jenis penulisan tubuh karangan, dan macam-macam. Berguru Pada Pesohor menjadi acuan yang praktis, tapi tidak mendalam.

Atau memang pada dasarnya saya yang tidak bisa menikmati buku-buku teknis semacam ini. Sebagai orang yang belajar menulis secara autodidak, tak pernah punya mentor, apalagi ikut UKM atau komunitas menulis, mungkin aliran kepenulisan saya sudah tersesat terlalu jauh. Pedoman menulis pun tak lagi bisa jadi pedoman. Tolong mz ~

 

 

Edit-Linguistik – Eli Syarifah Aeni

Tags

, , ,

 

Buku ini dibeli dengan maksud memperkuat kepandaian berbahasa dan teknis editing, soalnya saya sedang  dibebani tugas dalam proyek menyusun buku putih atau buku panduan teknis penulisan untuk dua media: 1) Hipwee dan 2) Affantoer, majalah sastra yang baru akan terbit perdana akhir tahun ini. Lucu ‘kan kalau buku panduan penulisan keduanya sama?

Dan malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Saya salah beli. Pelajaran editing di buku ini lebih banyak merujuk pada persoalan editing naskah buku. Di dalamnya dijelaskan perihal sejarah perbukuan, anatomi buku, tips menyunting tulisan dari penulis buku yang sok tahu, dan sebagainya. Tapi saya tidak terlalu menyesal sih walau adanya memang mutlak sebuah kesalahan. Setidaknya saya jadi mengenal beberapa hal baru terkait proses produksi naskah buku. Toh saya juga belum lama ini menerima proyek menerjemahkan sebuah buku biografi musisi legendaris 90-an (you know who~). Ya owloh, proyak – proyek -proyak -proyek, penulis apa kontraktor?

Lewat buku ini, saya jadi tahu lebih detail tentang beberapa profesi dalam sistem kerja produksi naskah buku, seperti proofreader, copyeditor, hingga yang sebelumnya tak pernah saya dengar sama sekali, yakni editor akuisisi, pictorial editor, dan right editor. Sekiranya kurang ilmu jika masih mengira peran editor hanya sebatas menyunting. Editor bisa juga turun tangan untuk memburu naskah-naskah potensial yang layak terbit, mencarikan penggarap visual, hingga mengurus hak cipta. Selama ini memang tak semua penerbit, apalagi penerbit independen Jogja yang saya kenal, menggunakan sistem kerja dengan ketersediaan posisi editor yang sedemikian komplet. 

Tapi cukup ironis bahwa buku Edit-Linguistik ternyata belum selesai dengan dirinya sendiri. Saya tetap saja spontan beberapa kali menemukan kesalahan-kesalahan typo, padahal buku teknis editing ini banyak berkoar-koar menekankan pentingnya keilmuan praktis editing di masyarakat dan industri

History of the Arabs – Philip K. Hitti

Tags

, , , , , , , , ,

Dalam rangka pengembangan konten supaya lebih adiluhung–setidaknya di kalangan mbak-mbak berjilbab baperan yang gusar kalau ada yang menyenggol Tere Liye–kini Hipwee punya ‘mainan’ baru lho, namanya #HipweeJurnal. Konten ini dijadikan ruang untuk curhat rese para personel editorial Hipwee. Di sana para penulis dan editor Hipwee akan bergantian menulis opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 🙂 (Slogan template nih)

Nah, di putaran pertama, saya menulis pengalaman umrah awal tahun lalu dengan judul “Hal-Hal yang Tak Pernah Diceritakan Teman dan Saudara Kita ketika Pulang Umrah”. Isi artikel pertama saya yang dipublikasikan dengan nama asli di Hipwee itu adalah amatan dan kritik sederhana perihal kelakuan manusia tatkala menjalani ibadah umrah. Setelah rilis, ternyata sentimen komentar-komentar pembaca di artikel itu bagus. Bahkan, artikel itu entah bagaimana sampai disebar juga di grup keluarga saya! Bajingan, untung saya tidak terlalu blak-blakan di dalamnya. Masih banyak menahan diri dan tak jarang menjilat.  Eh, ternyata nggak susah ya nyenengin orang islam… 

Hal lain yang tidak saya tulis di sana adalah pengalaman 10 hari tanpa berurusan dengan komputer atau laptop. Waduh, enak juga rasanya. Apalagi energi dan waktu untuk itu diganti dengan iktikaf dan berakrab-akrab ria bersama Alquran. Masyaallah, rasanya ingin pulang  jiwa dan kalbu ini terasa sesejuk Relaxa yang disimpan di kulkas LG dua pintu.

Sejujurnya sih kesempatan tidak membawa laptop sungguh-sungguh saya manfaatkan untuk membaca buku-buku tebal. Dan hasilnya adalah kisah kasih bareng buku terbesar yang pernah saya khatamkan, yakni History of The Arabs ini. Buku ini sengaja dipilih karena 1) ukuran dan ketebalannya cukup ideal untuk dihabiskan selama sepuluh hari dan 2) biar dapat nuansa dan atmosfernya ketika dibaca langsung di tanah Arab, sehingga imajinasi tak terlalu mengawang-awang saat mencoba memahami isinya.

Sebelumnya saya sempat membaca sepintas buku ini ketika mencari konteks untuk menulis sebuah artikel perihal kontroversi musik haram di majalah WARN!NG edisi 6. Buku-buku sejarah berskala besar seperti ini memang biasanya sekadar dibaca untuk melengkapi sebuah analisa atau ulasan. Makanya, lumayan menantang di kepala tatkala harus membacanya secara penuh. Kalau ditulis rangkumannya pun bakal makan waktu ibadah yang terlalu surgawi jika dilewatkan, terlebih cuma untuk mengurusi perkara sejarah yang teramat sekuler.

Karena itu akhirnya saya hanya menulis sekenanya perihal konteks awal bangsa Arab secara geografis dan sosiologisnya. Ini menarik untuk kita memahami kondisi lingkungan yang tergelar tatkala sosok Nabi Muhammad SAW tiba mengubah segalanya. Jika ingin tahu lebih tentang riwayat kelahiran dan perkembangan islam, termasuk kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, Turki Ustmani, atau histori sunni-syiah, mending baca bukunya langsung saja. Tentu setelah kamu merasa jumlah pahalamu membaca Alquran sudah memenuhi batas minimal ke surga.

Jadi siapa yang layak disebut sebagai orang Arab? Di antara dua keturunan bangsa Semit yang masih bertahan, orang-orang keturunan Arab–yang jumlahnya lebih banyak ketimbang keturunan Yahudi—telah melestarikan ciri khas dan sikap mental rumpun bangsa ini. Bahasa arab merupakan kunci penting memelajari bahasa Semit lainnya. Agama islam juga merupakan penyempurnaan dari agama-agama Semit. Di Eropa dan Amerika, kata Semit memiliki konotasi Yahudi. Karakteristik Semit yang sering kali dirujuk, termasuk bentuk hidung yang khas, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Semit. Karakteristik itu merupakan karakteristik yang membedakan orang Yahudi dari rumpun Semit lainnya.

Alasan-alasan kenapa bangsa berbahasa Arab, terutama suku-suku Nomad dianggap sebagai representasi terbaik dari rumpun Semit, baik dari sisi biologis, psikologis, sosial, msupun bahasa bisa ditelusuri dari keterasingan mereka secara geografis dari keseragaman kehidupan padang pasir yang monoton. Karakteristik etnis mereka dibentuk oleh lingkungan yang keras dan terisolasi. Jika ada sejumlah migrasi penduduk di kawasan lain yang memunculkan gelombang pemukim yang datang saling menggantikan seperti di India, Yunani, Italia, Inggris, dan Amerika, maka sejarah tidak meninggalkan catatan apapun tentang migrasi di wilayah ini. Bangsa Arab tak pernah berubah sepanjang sejarah.

Sementara itu orang mesir yang berhasil meletakan berbagai unsur peradaban yang paling fundamental adalah bangsa campuran. Begitu juga bangsa Babilonia yang merupakan campuran ras bangsa Semit dan Sumeria.

Ada dua atribut penting bagi orang Arab: kurma dan unta. Kurma merupakan jenis tumbuhan primadona pertanian di Semenanjung Arab. Buah kurma biasa dimakan bersama susu, dan merupakan makanan utama orang-orang Badui di samping daging unta. Biji buah kurma yang ditumbuk pun dapat dibuat menjadi makanan unta. Maka dari itu memiliki dua benda hitam, yaitu air dan kurma merupakan impian setiap orang badui. Kendati juga sebagian orang arab menganggap kuda sebagai simbol kemewahan, namun bagi orang Nomad, unta merupakan hewan paling berguna. Unta merupakan sumber penghidupan, kendaraan, dan alat tukar. Orang badui meminum susunya, memakan dagingnya, menutupi tubuh dengan kulitnya dan membuat tenda dari bulunya. Kotorannya dijadikan bahan bakar dan air seninya dijadikan tonik rambut dan obat. Umar Bin Khattab pernah berkata,”Kemakmuran Orang Arab bergantung pada kesehatan unta-untanya.” Pada masa lalu, pencarian mutiara di Oman dan kawasan Teluk Persia, penambangan garam, dan peternakan unta merupakan sumber pendapatan utama. Baru sejak dimulainya eksplorasi ladang minyak pada 1933, aktivitas industri perminyakan menjadi sumber pendapatan terbesar.

Berdasarkan karakteristik daratannya, penduduk Semenanjung Arab terbagi ke dalam dua kelompok utama: orang-orang desa (badui) yang nomad dan masyarakat perkotaan. Walau begitu tidak ada garis tegas antara keduanya. Selalu ada tahapan seminomaden dan semi urban. Orang-orang perkotaan selalu menyangkal pengalaman nomaden mereka. Orang-orang badui ini mewakili bentuk adaptasi terbaik kondisi manusia terhadap gurun.

Orang nomad saat ini masih sama dengan masa lalu. Pola budayanya selalu sama. Mereka enggan mengikuti pengaruh dan cara hidup asing, memilih bertahan tinggal di tenda bulu domba atau unta dan menggembalakan kambing atau domba. Pembiakan domba dan unta serta berburu dianggap sebagai pekerjaan terhormat bagi laki-laki. Pertanian atau perdagangan justru dipandang menurunkan derajat mereka.

Sumber air yang langka, panas yang terik, jejak yang mudah terhapus, kurangnya persediaan makanan adalah sekutu utama penghuni gurun pasir untuk menghadapi situasi bahaya dari pihak asing. Karena itulah orang Arab sangat enggan menundukan kepala pada kendali bangsa asing.

Kehidupan monoton dan kegersangan gurun tercermin dari karakteristik fisik dan mental mereka. Secara anatomis, mereka merupakan kumpulan tulang, otot, dan jaringan syaraf. Bagi mereka, bersikap pasif dalam menanggung beban hidup lebih penting daripada berupaya mengubah kondisi yang ada. Individualisme adalah karakteristik lain orang badui, dan ini sangat berakar kuat sehingga mereka tak pernah bisa mengangkat dirinya sejajar dengan masyarakat sosial menurut standar internasional. Mereka enggan mengikuti gagasan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingannya sendiri. Disiplin atau bentuk penghormatan terhadap otoritas  bukan nilai yang populer di masyarakat.

Salah satu fenomena penting dari pola relasi antara suku di Semenanjung Arab adalah maraknya peristiwa pembegalan atau perompakan terhadap khafilah atau suku lain. Ghazw namanya, dibentuk berdasarkan kondisi sosial-ekonomi kehidupan gurun hingga menjadi semacam institusi sosial. Razia dan perompakan merupakan fondasi struktur ekonomi masyarakat badui penggembala. Menurut aturan main yang berlaku di mana Ghazw merupakan sejenis olahraga kebangsaan, tidak boleh ada pertumpahan darah, kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Sebuah suku yang lemah atau pemukiman di perkotaan yang terletak di perbatasan akan membeli perlindungan dengan memberikan sejumlah barang pada suku yang lebih kuat. Gagasan tentang Ghazw ini diadopsi oleh orang-oang Arab untuk melangsungkan penaklukan silam.

Meski demikian, prinsip keramahtamahan hingga taraf tertentu mampu meredam kebengisan praktik Ghazw. Dalam tata pergaulan sosial, meski dikenal sebagai orang yang keras dan kejam pada musuhnya, orang badui merupakan sahabat yang setia dan pemurah. Persaingan mendapatkan air dan padang rumput yang membelah masyarakat gurun menjadi beragam suku yang berperang diiringi kesadaran bersama untuk saling membantu dalam menghadapi kondisi alam yang keras dan tidak bersahabat. Dan ini menumbuhkan kepentingan untuk menjalankan satu tugas suci: bersikap ramah dalam menerima tamu. Melanggar itu sama dengan penghinaan kepada Tuhan.

Kondisi alam dan pola hubungan antar masyarakat di kawasan ini sangat memengaruhi pemikiran dan gagasan tentang Tuhan. Dasar-dasar agama Semit berkembang di oasis-oasis, bukan di daratan berpasir. Bagi orang badui, agama hanya terlintas di benak mereka. Menurut Alquran (Q.S. 9:98),”Orang-orang badui ini lebih condong pada kekafiran dan kemunafikan”

Darah menurut hukum primitif gurun harus dibayar darah. Tidak ada hukum yang harus diterapkan selain pembalasan yang setimpal. Keluarga yang terdekat dipandang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Pembalasan darah ini bisa berlangsung selama puluhan tahun.

Kuatnya semangat dan ikatan kesukuan mengisyaratkan loyalitas suka rela bagi orang Arab terhadap sesama anggota satu klannya, hingga secara umum mirip dengan patriotisme yang bersifat fanatik dan chauvinistik. Partikularisme yang kokoh tumbuh dalam klan ini, ketika sikap individualisme setiap anggota klan diagungkan, memandang bahwa klan atau suku merupakan unit yang berdiri sendiri, swasembada, dan absolut, serta memandang klan atau suku lainnya sebagai mangsa dan sasaran yang sah untuk dihina dan dibunuh. Islam memanfaatkan sistem kesukuan ini untuk tujuan militer. Islam membagi prajurtinya ke dalam sejumlah unit yang didasarkan atas garis kesukuan, membentuk koloni di wilayah taklukan dan memerlakukan anggota baru dari taklukannya sebagai karib. Watak antisosial dan individualisme ini masih tetap menjadi ciri khas bangsa Arab hingga saat mereka berkembang setelah kelahiran islam, dan malah merupakan satu faktor yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran total berbagai kerajaan islam.

Orang-orang Arab juga berwatak aristokrat. Mereka memandang diri sebagai perwujudan penciptaan unggulan. Bagi mereka, bangsa Arab adalah bangsa terbaik. Manusia berperadaban bagi orang badui adalah manusia kurang bahagia dan rendah tingkatannya. Kemurnian darah, kefasihan bahasa, keindahan puisi, kekuatan pedang dan kudanya serta kemuliaan keturunannya merupakan kebanggaan utama seorang Arab. Mereka menyombongkan garis keturunannya hingga Adam. Tak ada bangsa lain yang memandang geneologi begitu setara dengan ilmu pengetahuan.

Seorang wanita badui, pada masa islam atau pra-islam menikmati kebebasan yang lebih daripada sesamanya yang tinggal di perkotaan. Ia hidup dalam keluarga yang mempraktikan poligami dan sistem perkawinan patriarki, tapi tetap bebas memilih calon suami dan meninggalkannya jika tidak patut.

Secara umum, sejarah Arab terbagi ke dalam tiga periode utama:

  1. Periode Saba-himyar yang berakhir pada awal abad keenam Masehi
  2. Periode Jahiliyah, yang dalam satu segi dimulai dari penciptaan Adam hingga kedatangan Muhammad, tetapi secara ilmiah adalah satu abad menjelang kelahiran islam
  3. Periode islam, sejak kelahiran islam hingga masa sekarang,

Hanya ada sedikit informasi tentang periode Jahiliyah karena orang-orang Arab Utara tak punya budaya tulisan, hanya riwayat, syair, legenda, peribahasa yang tersisa. Berbeda dengan Arab Selatan yang berbudaya dan bisa baca tulis, orang Arab Utara baru mengembangkan budaya tulis menjelang masa Muhammad.

Istilah orang Arab sebenarnya meliputi semua masyarakat di Semenanjung Arab. Namun, kadang dimaknai dalam pengertian sempit sebatas orang-orang Arab Utara yang tidak menonjol bagi internasional. Sama halnya yang disebut bahasa Arab adalah bahasa Himyar-Saba, juga dialek Hijaz sebelah utara, tetapi karena yang terakhir menjadi bahasa agama islam dan sepenuhnya menggantikan dialek Yaman bagian selatan, maka ia menjadi bahasa Arab par excellence.

Hijaz sendiri adalah sebuah daratan tandus yang berfungsi seperti penghambat antara daratan tinggi Nejed dan daerah pesisir yang rendah hanya memiliki tiga kota: Taif, dan dua kota bertetangga: Mekah dan Madinah.

Kota Taif yang ditumbuhi pepohonan lebat merupakan penginapan musim panas bagi kalangan aristokrat Mekah hingga saat ini. Kota ini digambarkan punya pemandangan dan rute perjalanan yang paling memberikan inspirasi. Buminya subur menghasilkan sejumlah komoditas seperti semangka, pisang, ara, anggur, kenari, persik, dan madu. Dibanding semua tempat di Semenanjung Arab, Taif adalah tempat yang paling mendekati gambaran Alquran tentang surga, seperti terdapat dalam Q.S. 47: 15

Sementara itu nama Mekah yang berarti tempat suci mengisyaratakan bahwa kota itu sejak jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad memang menjadi pusat keagamaan. Kota itu terletak di sebelah selatan Hijaz, di sebuah lembah gersang dan berbukit dan digambarkan Alquran sebagai tanah yang tak bisa ditanami. Panasnya suhu udara Mekah hampir tak tertahankan. Karena menjadi tempat persinggahan, orang-orang mekah yang progresif dan memiliki naluri dagang berhasil mengubah kota itu menjadi pusat kemakmuran.

Lalu kakbah pra islam adalah bangunan berbentuk sederhana yang awalnya tidak beratap, yang menjadi tempat penyimpanan batu meteor hitam yang diagungkan sebagai sesuatu yang sakral. Tradisi islam menyebutkan bahwa kakbah awalnya dibangun oleh Adam meniru bentuk aslinya di surga, dan setelah banjir besar, Kakbah dibangun kembali oleh Ibrahim dan Ismail. Setelah masa keduanya, pemeliharaan kakbah tetap berada di tangan keturunan Ismail hingga akhirnya Banu Jurhum dan kemudian Banu Khuzaáh yang memperkenalkan penyembahan berhala malah menguasainya. Lalu datang suku Quraisy yang melanjutkan jalur keturunan Ismail. Ketika sedang melalukan renovasi, ismail diberi batu hitam oleh Jibril yang kini masih ditempatkan di sudut sebelah tenggara kakbah yang masih termasuk dalam rangkaian ibadah haji.

Kota penting lainnya adalah Madinah. Dulu dikenal dengan nama Yastrib, kota ini terletak sekitar 510 kilometer di sebelah utara Mekah dan secara geografis jauh lebih baik. Kota itu adalah oasis dan sangat cocok ditanami kurma. Madinah adalah pusat pertanian yang terkemuka. Makin lama memasuki hari-hari pasca-islam, Madinah menjadi salah satu pusat intelektual dan seni di Semenanjung Arab.

Tidak ada satu pun bangsa di dunia ini yang menunjukan apresiasi yang sedemikian besar terhadap ungkapan bernuansa puitis dan sangat tersentuh oleh kata-kata, baik lisan maupun tulisan selain bangsa Arab. Kita sulit menemukan bahasa yang mampu memengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab.

Seperti yang telah menjadi ciri khas rumpun Semit, orang Arab tidak menciptakan dan mengembangkan sendiri sebuah bentuk kesenian besar. Watak seni mereka dituangkan dalam satu media: ungkapan. Berdasarkan struktur bahasa yang unik, bahasa Arab memiliki ungkapan kalimat yang padat, efektif, dan singkat. Islam memanfaatkan secara maksimal karakteristik bahasa itu dan watak psikologis para penuturnya. Dari sanalah muncul kemukjizatan gaya dan susunan kalimat Alquran. Kemenangan islam hingga batas tertentu merupakan kemenangan bahasa. Dari periode masa Jahiliyah hingga masa antara tahun 525 dan 622, kita mewarisi peribahasa, legenda, dan sejumlah besar puisi—yang semuanya baru dihimpun dan disunting pada masa islam. Selain ungkapan-ungkapan magis, meteorologis dan pengobatan, kita tidak menemukan satu pun literatur ilmiah. Peribahasa menjadi indikator penting untuk memahami mentalitas dan pengalaman masyarakat Arab. Satu-satunya keunggulan artistik masyarakat Arab pra islam memang adalah bidang puisi.

Literatur arab, seperti kebanyakan literatur lainnya muncul dalam bentuk puisi. Para penyair islam terdahulu masih menganggap karya para penyair kuno tak tertandingi. Namun, penilaian modern membuktikan bahwa beragam perbaikan, penyuntingan, dan modifikasi telah dilakukan untuk menyesuaikan puisi-puisi itu dengan semangat islam.

Prosa bersajak yang digunakan para dukun dan peramal dipandang sebagai tahap awal perkembangan bentuk puitis. Alquran memerlihatkan pola semacam itu. Nyanyian para penunggang unta adalah tahap perkembangan kedua. Bahkan, jenis penyusunan puisi bernama Qashidah (puisi liris) di sekitar tahun 531 disebut lebih unggul dari Illiad dan Odyssey dari segi kerumitan dan detail sajaknya.

Seorang penyair memainkan berbagai peran sosial. Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu. Puisinya sama seperti kampanye di era modern. Penyair adalah pembentuk opini publik. Penyair juga merupakan ilmuwan dan sejarawan. Seorang penyair akan memahami geneologi dan dongeng-dongeng rakyat, pretasi, dan pencapaian sukunya di masa lalu. Orang-orang badui mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan puisinya.

Cukup bisa jadi bahan rasionalisasi ya? Sebenarnya mau komentar banyak tapi takut dibaca orang.

 

 

Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia – Kuntowijoyo, Ashadi Siregar, Danarto, dkk.

Tags

, , , , , , , , ,

Terang sudah bahwasanya yang paling membuat buku kompilasi tulisan kajian budaya ini menjual adalah deretan nama-nama penulisnya yang menyilaukan. Andai ini tim bola, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan Los Galacticos. Dan andai ini sepatu, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan north star  all star: Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Ashadi Siregar, Danarto, Umar Kayam, Khrisna Sen, Ariel Heryanto dan sebagainya.

Tapi setelah dibaca, ternyata b aja. Tulisan-tulisan nama-nama terkemuka itu tidak banyak yang merangsang cakrawala pengetahuan budaya kita. Justru yang kemudian paling menarik dari pembacaan saya terhadap isi buku ini adalah waktu terbitnya.

Buku ini rilis pertamakali di tahun 1997. Berarti tulisan-tulisan di dalamnya ditulis di beberapa tahun sebelumnya. Alhasil, kita bisa bilang Lifestyle Ecstasy adalah kumpulan amatan kebudayaan di zaman Orde Baru, era internet masih menunggu di depan pintu, generasi millenial belum menampakan pengaruhnya, Sheila On 7 dan Padi belum rilis album, Sherina dan AADC belum mengawali era baru perfilman nasional, dan saya sendiri masih belum tahu budaya pop selain Dragon Ball.

Duh, dunia macam apa ya itu? Laiya….

Mengingat adalah Kuntowijoyo sendiri yang pernah berkata–di buku lain–bahwa kebudayaan adalah tentang sesuatu yang gelisah dan mengalami perubahan terus menerus, buku ini seakan membahas dunia yang sudah berbeda dengan yang kita tinggali sekarang.

Bisa jadi justru ini daya tarik sebenarnya dari Lifestyle Ecstasy. Perbedaan periode yang signifikan ini ada plus-minusnya. Pertama, sisi plusnya adalah kita jadi paham beragam gejolak budaya di masa itu yang bisa kita refleksikan dengan keadaan sekarang.Sementara sisi minusnya adalah bagaimana cukup banyak analisa yang menurut saya tidak cukup relevan lagi dengan kondisi hari ini. Bahkan, beberapa prediksi argumentatif mereka nyatanya kedapatan sudah keliru.

Misalnya, artikel Marwah Daud Ibrahim bertajuk “Citra Perempuan dalam Media: Seksploitasi dan Sensasi Sadistik” yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab bagaimana seks menjadi komoditi gila-gilaan di pemberitaan media massa adalah karena kurangnya minat publik pada berita-berita politik tentu sangat perlu dikaji ulang di era sekarang. Berita Ahok atau kampanye-kampanye gelap pemilu terbukti bisa bersaing keras dengan reportase harian-harian ranjang manapun. Saya pikir variabel yang bermain di dalamnya kini jauh lebih kompleks. 

Beberapa artikel laln juga menurutkan perspektif moral. Sehingga membacanya justru terasa seperti mendengar budayawan tua yang tengah ceramah perihal kepanikannya terhadap generasi setelahnya.

Artikel Sarlito Wirawan Sarwono dengan judul “Gaya Hidup Kawula Muda Masa Kini” isinya seperti guru sekolah yang curhat di Kompasiana atau omelan orangtua yang bisa dirangkum menjadi ungkapan “dasar anak muda zaman sekarang”. Ia mengkritisi gaya hidup enak anak muda yang terlalu instan, suka hura-hura, dan mengalami dekadensi etos belajar. Saya tidak tahu urgensi artikel ini di eranya, tapi jika dibaca sekarang hanya menunjukan sosok Sarlito sebagai budayawan yang terkesiap dengan perubahan budaya yang kencang. Yang cukup menggelitik adalah keluhannya tentang anak muda (di masanya) yang mulai enggan menjadi pegawai negeri. Jika dulu orang-orang berlomba-lomba meraih status sosial lebih tinggi dengan memakai seragam pegawai negeri, kini yang dicari adalah pekerjaan yang berpendapatan besar sehingga mereka nantinya bisa memeroleh status itu belakangan dengan uang tersebut. Hmmm.. jadi begitu.. Tapi bagus ‘kan? Setidaknya lebih mendingan orang Indonesia banyak yang songong tapi kaya daripada cuma tinggi status sosialnya di kalangan masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya cukup mafhum jika para budayawan merasa gelagapan dengan progres peradaban. Jalaluddin Rahmat mengajukan skema pemikiran tentang laju teknologi komunikasi yang akselerasinya makin cepat. Ibaratnya, jika sejarah waktu dimulai dari awal hingga kini yang berabad-abad itu diubah skalanya menjadi 24 jam, maka nenek moyang kita baru mulai menemukan gua di pukul 8 pagi (berarti butuh 8 jam atau 22 ribu SM). Lantas 12 Jam kemudian atau 18 ribu tahun kemudian, baru orang Sumeria menemukan tulisan. Untuk 1-2 jam berikutnya, perlahan berkembanglah bahasa tulis. Sepuluh abad kemudian atau menjelang tengah malam, akhirnya ditemukan mesin cetak Gutenberg. Di sinilah kecepatan penemuan teknologi informasi makin tinggi. Telegraf, telepon, ditemukan hampir pada menit yang sama. Kemudian dalam tiga menit berikutnya ditemukan film, radio, komputer, dan lain-lain. Lalu pada 2 menit terakhir menjeang tengah malam, ditemukan banyak yang lebih canggih, yakni satelit, kamera portabel, laptop, dan sebagainya. Lewat skala itu, ketahuan bahwa kita sedang melaju dengan akselerasi tercepat.

Perkara perbedaan periode ini pun termasuk meliputi soal perkembangan keilmuan. Beberapa ulasan terlalu mentah dan ketinggalan dari laju keilmuan kita yang sekarang. Entah apakah asumsi saya benar, tapi saya pikir wacana terkait budaya massa dan budaya tinggi di artikel pertama milik Sapardi Djoko Darmono harusnya sudah tuntas di semester pertama mereka yang belajar Culture Studies. Konsep global village juga begitu sering disinggung, seakan memang sedang hangat-hangatnya sebagaimana konsep “Eta Terangkanlah” di masa tulisan saya ini sedang dibuat.

Lalu ketika mereka bicara postmodernisme, analisa-analisa bernada panik masih menyelimuti. Memerlihatkan perbedaan selang waktu dengan respons umum keilmuan era sekarang yang sudah legawa menerimanya. Contoh kentaranya adalah Yasraf Amir Piliang dalam artikel “Visual Art dan Public Art” yang sempat sinis tatkala mengulas paradoks pluralisme dalam posmodenisme yang menolak dimensi moral bak-buruk dan sebagainya.

“…dengan tidak adanya batas-batas moral yang mengikat kebebasan ekspresi tersebut, ungkapan-ungkapan artistik cenderung menjadi dangkal, permukaan, dan miskin makna”.

“Pluralisme berarti kita tidak dapat lagi berpegang pada tradisi, mitos, dan kebiasaan-kebiasaan kultural yang dapat memberi kita nilai-nilai. Kita mungkin akan menjadi buta nilai”

Awal dekade 90-an memang masa populernya postmodernisme dengan segenap perang mulut antar ilmuwan. Yah, mungkin Yasraf kala itu belum membaca buku-buku Angela McRobbie. Wuaduh, ampun Pak, saya memang kawula muda masa kini.

 

Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012 – Ariel Uki Lukman Reza David

Tags

, , , ,

 

Pertengahan bulan lalu. saya mengajak “calon terkuat menjadi ibu dari anak-anak saya” ke Solo untuk menonton konser Noah di halaman Stadion Manahan. Beberapa kawan menunjukan respons kaget, “Demi Noah?”

Saya selalu cuma menjawab, “mumpung Noah masih terkenal”.

Semenjak album kedua, Second Chance (2014) yang diproduseri Steve Lillywhite tapi 75 persen isinya cuma lagu daur ulang, sudah terlihat gejala sekarat kreativitas. Benar saja, album berikutnya yang bertajuk Sings Legend (2016) malah isinya sepenuhnya lagu-lagu kover musisi Indonesia lawas. Habis sudah…. Serumah dengan Sophia Latjuba memang bikin hilang fokus berkarya. 

Kendati cenderung lebih sulit untuk mencari teman yang mau diminta menemani, saya selalu doyan menyambangi konser band-band arus utama seperti Slank, Sheila On 7, Gigi, Nidji, The Changcuters, J-Rocks dan lain-lain. Agak lain dari teman-teman dekat di kancah musik sekitar, saya justru lebih semangat untuk menonton band-band berpasar luas sejenis itu di stadion dibanding konser band-band arus pinggir, meski toh nantinya sama-sama bisa menikmati.

Alasannya? Sensasi dan atmosfernya jelas lain karena kita benar-benar menonton pertunjukan di tengah kerumunan orang biasa yang memperlakukan musik dengan biasa-biasa saja. Kebanyakan dari mereka datang bukan karena tugas liputan atau keperluan kerjaan, kebutuhan komunitas, jaringan perkawanan dan fansclub, pencitraan atau pun pemenuhan passion. Mereka datang sekedar karena butuh hiburan. Mereka bisa hafal dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan sang artis karena memang lagu-lagu itu yang mereka dengar setiap hari di kantor, pasar, pabrik, warnet, atau angkutan umum. Sesuatu yang tidak didapatkan ketika menonton konser Melancholic Bitch hingga Efek Rumah Kaca sekalipun.

Dan Noah adalah salah satu band Indonesia yang paling bisa melayani keinginan saya itu. Salah satu band paling dikenal dan didengar di Tanah Air (sebalnya harus selalu pakai keterangan “salah satu”, karena kita tidak punya catatan valid tentang data penjualan dan hal-hal lain yang terukur). Ariel sebagai vokalis yang sudah di level objek mistisisme ini juga punya magnet yang tidak dimiliki siapapun. Makanya band seperti ini harus lekas dinikmati terus sebelum kekuatan-kekuatan mereka ini kian surut, mumpung masih terkenal. Belum tentu kita bakal punya yang seperti mereka lagi.

Meski hampir baku hantam dengan seorang pengendara mobil sok jagoan bergaya hip hop dengan plat K (entah ini plat Klaten, Kuala Lumpur atau Kentucky) di perjalanan menuju Solo, namun akhirnya semua lumayan terbayarkan. Apalagi konser Noah malam itu gratis. Puluhan ribu orang yang bukan Kamties atau Outsider ini berkumpul segala usia dengan busana yang nir-konsep. Di sebelah saya ada ibu-ibu dengan pakaian yang mungkin biasa dipakainya ketika menyuapi anaknya sore-sore di kompleks, begitu juga mas-mas setia dengan helmnya di depan saya yang mungkin habis kelar konser bakal langsung cabut trek-trekan.

Di momen-momen seperti ini pula saya biasa menemukan pemandangan indah yang bikin adem: pasangan pacaran bermesraan yang cowoknya tidak ganteng, dan ceweknya tidak cantik…. Adilnya semesta.

Noah akhirnya cuma unjuk sepuluh lagu dan lagu favorit saya yang dibawakan hanya “Topeng” dan “Walau Habis Terang”, tapi audiens seakan diterjang nostalgia kolektif tatkala duel riff di intro lagu “Ada Apa Denganmu” menggema. Anjenx, nomor lokal terbesar di tahun 2004 ini terasa lawas banget disertai memori yang terlempar ke video musiknya yang berkonsep backward dan hujan kuyup. Bahkan, lagu ini terdengar lebih tua dibanding “Topeng” yang sebenarnya rilis di satu album lebih dulu……

Yak, malah jadi reportase konser.

Saya memang jadi tertarik baca buku Kisah Lainnya ini sekelar menonton konser itu. Buku ini ditulis di era setelah kemunculan logo Noah bikinan Herry Sutresna, namun nama Noah sendiri belum diresmikan. Periode 2010-2012 ini adalah periode terkelam bagi band ini. Diawali dari syok awal tersebarnya video seks Ariel Universe yang menyeretnya kemudian ke balik jeruji besi, pergaulannya di sana, masuknya David menjadi personel baru grup yang kala itu tak punya nama, dan juga proses penggarapan “album instrumental yang nggak instrumental-instrumental amat karena ada dua lagu dengan vokal” bertajuk Kisah Lainnya.

Secara umum, yang bisa dipastikan setelah membaca Kisah Lainnya adalah bahwa para personel Noah memang selama ini tidak salah menempuh jalan hidup. Maksudnya……… mereka memang lebih berbakat menjadi musisi dibanding penulis.

Tulisan kelima orang ini tidak buruk, tapi juga tidak terlalu menarik untuk dibaca. Kecuali punya rasa sayang atau pemujaan yang kuat dengan sosok Ariel, mungkin kisahnya menjadi tahanan Bareskrim di bab pertama tidak terlalu membuat emosi termainkan. Saya malah jauh lebih tersentuh saat mendengarkan “Tak Ada yang Abadi” atau “Walau Habis Terang” sembari berimajinasi sendiri dengan situasi-situasi dan kondisi psikologis yang harus dihadapi Ariel kala itu.

Transisi bagian cerita antara satu personel dengan personel lainnya juga kadang kala membingungkan. Personalitas masing-masing pun tidak tersampaikan. Padahal akan menarik jika kelima personel ini menampilkan gaya bahasa atau gaya tutur yang berbeda-beda…..  atau jangan-jangan sebenarnya ini ditulis oleh orang yang sama? Suuzan adalah panglima.

Ada banyak unsur kisah yang juga terdengar pretensius. Dalam kondisi budaya Indonesia yang bertopeng moralis dan posisi Noah sebagai figur publik yang sedang terguncang di tengahnya, memang sulit untuk percaya dan larut begitu saja atas apa yang diceritakan dalam buku ini meski isinya dikemas seolah curhat dan personal. 

Karena itu paparan yang kemudian saya amini dengan hati terbuka lebih pada kisah-kisah bebas nilai. Seperti sejarah berdirinya Peterpan atau proses teknis penggarapan lagu-lagu mereka. Misalnya, kita jadi tahu kalau Ariel adalah bagian dari jutaan anak muda generasinya yang mengidolai Kurt Cobain. Ini kemudian bisa kita kaitkan dengan beberapa kali pilihan kostum manggungnya dan karakter vokal pada sejumlah lagu, termasuk nomor berirama Latin-Melayu “Menghapus Jejakmu” yang ia akui menyisipkan teknik vokal ala Kurt Cobain meski sebenarnya secara umum manuver isian Ariel lebih sering terdengar seperti Liam Gallagher. Perpaduan Oasis dan Nirvana menjadi corak album pertama Taman Langit yang masih bernuansa rock 90-an hingga belakangan mulai belok kemudi ke arah britpop semacam Coldplay dan U2. 

Memilih periode gelap dengan rupa-rupa kisah tidak enak di dalamnya untuk dibukukan sebenarnya sebuah keberanian, tapi sayangnya disajikan dengan kurang luwes. Atau saya curiga rilisnya buku ini adalah keterpaksaan dan bagian dari kompromi-kompromi kontrak Noah dengan label rekaman Musica karena kevakuman force majeur di selang waktu itu, tapi ya entahlah… Astaga, uripku kok isinya curiga melulu 😦

Lokananta – Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi & Syaura Qotrunadha

Tags

, , , ,

Buku-Lokananta-600×600

Pic: Warning Magazine

* Tulisan ini dimuat di warningmagz.com

Ada beberapa kiriman surat yang meyakinkan bahwa media yang sedang Anda baca ini tidak kuper-kuper amat. Misalnya, surat teguran dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) pada terbitan edisi cetak keenam WARN!NGyang mengulas perdebatan musik haram di agama islam. Cukup dibalas dengan senyuman, ormas itu pun bubar. Kapok.

Ada juga surat dari Library of Congress, perpustakaan kelas dunia yang hendak mengarsipkan majalah dan buku terbitan WARN!NG. Kali ini WARN!NG membalas dengan senyuman yang tidak ofensif. Kapan lagi ada institusi serius yang berinisiatif mengabadikan kiprah media yang tak pernah bayar pajak? Menunggu perpustakaan nasional atau kementerian yang melakukannya? Keburu imsak.

Kerja pengarsipan adalah pekerjaan rumah negara ini sejak dahulu kala, terutama di wilayah kebudayaan. Itu kenapa kita jadi bangsa yang pelupa. Lupa sejarah, lupa budaya, kadang juga lupa diri. Andai kita punya sistem kearsipan yang baik, mungkin kita tidak perlu mengenal falsafah rakyat “lali rupane eling rasane”. Kita terbiasa cuma doyan mengonsumsi “rasa” sebagai kenikmatan abstrak yang sesaat, lalu mengabaikan “rupa” yang berwujud dan bisa diabadikan. One Night Standminded. Bajingan.

Itulah salah satu alasan buku Lokananta ini penting. Sebuah prakarsa emas dari kolektif bernama Lokananta Project. Pertama, buku ini menjadi contoh upaya pendokumentasian komponen kebudayaan nasional via literatur. Kesadaran bahwa kerja pengarsipan adalah bagian penting dari industri layak mulai ditanamkan. Kedua, Lokananta sebagai objek ulasannya sendiri adalah salah satu pusat penyimpanan karya-karya musik lawas Indonesia. Memang sedikit aneh karena Lokananta sesungguhnya bukan lembaga pengarsipan, melainkan studio rekaman dan pabrik, namun begitulah yang terjadi.

Seperti ditulis di dalam buku Lokananta ini sendiri, satu-satunya rujukan tertulis perihal arsip Lokananta hanyalah disertasi peneliti luar negeri bertajuk Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957 -1985. Maka saya mafhum akan kebutuhan putar otak bagi ketiga penulis: Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi, dan Syaura Qotrunada untuk mencari data. Tapi pada akhirnya mereka berhasil. Tiga bab yang ditulis oleh Fakhri Zakaria memuat komentar orang-orang di belakang Lokananta, baik teknisi maupun petingginya, dikombinasikan dengan pendapat penggiat media massa, musisi, hingga para pejuang arsip di ranah seni musik. Sementara itu Syaura Qotrunada mengulas perkembangan visual kemasan pada rilisan fisik yang terarsip di Lokananta. Lalu Dzulfikri Putra Malawi melengkapi dengan ulasan Gerakan Malang Bernyanyi, lika-liku rekaman Daur Baur oleh Pandai Besi, dan upaya-upaya konkret penggerak Lokananta untuk bertahan hidup ke tahun-tahun mendatang.

Ragam sisi kupasan ini yang membuat isi buku Lokananta tidak hanya mandek pada sejarah atau nostalgia melainkan juga perihal urgensi eksistensi Lokananta hari ini. Saya pikir mengkaji belantika lewat objek spesifik seperti ini lebih apik dan terbukti mendalam dibanding merilis buku-buku sejarah musik Indonesia yang serakah ingin menulis segalanya namun cuma berakhir menjadi kumpulan profil band.

Apalagi menelaah Lokananta pada akhirnya juga bukan sekadar soal industri. Lokananta adalah saksi dinamika belantika yang tidak lepas dari pengaruh sosial politik. Ini termasuk bagaimana Lokananta didirikan oleh Sukarno sebagai salah satu perangkat penyebaran budaya lokal untuk membentengi Bumi Pertiwi dari imperialisme budaya asing di era orde lama. Terpuruknya Lokananta di era 80-an juga bisa menjadi poin kasus dari analisa keputusan politik Indonesia untuk keluar dari Konvensi Berne. Hal-hal ini bisa Anda dapatkan inspirasinya dari buku Lokananta.

Akhirnya saya perlu memberikan batasan sejauh mana kapasitas amatan saya terhadap buku ini. Informasi tentang Lokananta sebelum rilisnya Lokananta memang sangat minim, sehingga saya mengaku tidak cukup punya modal pemahaman untuk memperdebatkan isi buku ini. Saya hanya sanggup urun pendapat tentang pengemasan dan penyuguhan laporan-laporan menarik itu. Alhasil, komplain-komplain saya berikutnya semata berdasar pada modal pengalaman pria dewasa yang suka membaca buku dan kebetulan ganteng.

Saya mulai dengan harapan alur bacaan yang lebih membuat nyaman. Mengintroduksikan insan-insan yang cari makan di balik jatuh bangunnya Lokananta adalah ide yang cemerlang, tapi menurut saya kurang asyik disajikan di bab terdepan setelah Pengantar. Pun banyak informasi berulang di tiap-tiap bab, sehingga naga-naganya bakal terlihat lebih matang jika konsep buku ini mengintegrasikan tiap ulasan babnya menjadi lebih pampat dan terpadu. Bukan tampak seperti artikel-artikel yang terpisah, melainkan utuh sealur dari Pengantar hingga akhir.

Selain itu kerja penyuntingan teks juga tidak memuaskan. Mulai dari perkara pisah sambungnya imbuhan di-, hingga ada yang membingungkan dari visi sang editor (jika punya) dalam memutuskan mana kata yang perlu dimiringkan dan mana yang tidak. Kata baku seperti respons, takhayul, transfer, atau digital pun dihajar miring. Sementara itu tiap kata yang dimaksudkan sebagai kata asing tiba-tiba tegak berdiri dalam bagian kalimat kutipan langsung yang seluruhnya miring. Bukan kesalahan substansial tapi sungguh bukan pemandangan indah.

Bidang layout juga punya level keluhan yang sama. Berikut adalah rincian analisa dari sobat layouter andalan saya: “Penggunaan white space-nya tidak bijak. Font terlalu besar dan jarak antar kata terlampau renggang. Selain itu ditemukan beberapa kali kekeliruan tipografi yang dikenal di jagat layout dengan istilah ‘sungai’ dan ‘widow’”. Entah apa maksud istilah-istilah itu, sobat saya ini memang sok-sokan. Dikibuli pun saya tidak akan mengerti. Tapi saya sepakat bahwa ada yang tidak enak dari tata letak teks buku ini.

Terakhir adalah soal harga. Ada kerisauan terkait kenapa buku Lokananta mesti dirilis dengan model ‘premium’, yakni dibungkus hard cover dan cetakan berwarna dengan bandrol senilai tarif kos sebulan di Jogja? Kenapa tidak dirilis dengan kemasan ekonomis dan harga yang terjangkau untuk musisi kampus yang bandnya masih bisa bubar hanya karena ada satu personel suka menunggak patungan bayar studio latihan?

Jika segmennya memang hanya untuk kolektor atau institusi, tebersit kekhawatiran akan peneguhan eksotisme Lokananta dari reputasinya sebagai studio legendaris dan bersejarah yang membangun citra ‘mahal’. Jika terlalu kuat, label-label itu bisa menjadi bumerang, termasuk menghambat Lokananta bergeliat sebagai unit budaya populer dan terjebak pada kecenderungan budaya tinggi. Mungkin cukup penting untuk membuat Lokananta terlihat lebih populis sehingga band-band muda tak perlu banyak bermimpi untuk bisa rekaman di sana. Jangan sampai Lokananta hanya selalu menjadi objek studi tur sekolah dan mahasiswa-mahasiswa yang tidak bergairah.

Terbitnya buku Lokananta sebenarnya langkah strategis untuk itu. Karena persoalan sebenarnya hanya pada kemasan dan penyajian—jika tidak merepotkan—mungkin rilis ulang bisa dipertimbangkan.

Dan jarang-jarang ‘kan ulasan buku begitu rempong soal harga? Mudah-mudahan ini bukan pandangan egois saya  karena sedang miskin.

Pergulatan Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru – Idha Saraswati dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk studi kasus lima media komunitas buku

Pic: Kombinasi.net

Masih dari kisah kasih media komunitas, buku ini adalah salah satu hasil belanjaan di Combine Research Institution. Tentu juga nangkring di daftar pustaka makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini saya yang mengangkat topik media komunitas. Tapi lebih beruntung dari buku Kolaborasi Untuk Advokasi yang sudah tersia-siakan dari ingatan saya, muatan buku ini masih kecantol di kepala. Iya dong, lha saya banyak main salin-tempel (copas) isinya ke makalah itu. Bodo amat, tidak lebih dari coret-coretan yang terbujur di meja dosen kok, tak akan sampai ke mana-mana. Sebuah hak untuk curang, ketahuan dan dihukum cambuk adalah risiko.

Selangkah lebih maju, buku ini tak lagi sekadar introduksi media komunitas. Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru mengkaji laju kembang media komunitas yang berhadapan dengan perkembangan teknologi media baru. Perihal bagaimana para penggiatnya beradaptasi dengan perkembangan media baru, baik dari proses produksi maupun pengelolaan lembaganya.

Buku ini adalah hasil riset dari Idha Sarasvati, Ferdhi Fachrudin Putra, Mario Antonius Wibowo, dan Ranggabumi Nuswantoro selaku tim peneliti. Metodologi yang dipakai adalah studi kasus terhadap lima media komunitas di Indonesia, yakni Radio Komunitas Best FM, Radio Komunitas Wijaya FM, Radio Komunitas Suandri FM, Radio Komunitas Primadona FM, dan Media Komunitas Speaker Kampung. Yang terakhir ini adalah favorit saya. Bermarkas di sebuah desa di Lombok Timur, mereka sudah punya kanal video di Youtube bernama SpeakerTV. Hipwee saja kalah. Bajinguk.

Teori yang dipakai adalah Teori Difusi Inovasi besutan Everett M. Rogers. Teori ini juga acap disebut sebagai Teori Persebaran Informasi karena memang biasa digunakan untuk menganalisis bagaimana sebuah ide atau teknologi tersebar dalam suatu masyarakat. Jadi Rogers meyakini bahwa ada pola yang bisa diprediksi dari bagaimana sebuah inovasi  terdifusi ke dalam masyarakat. Selain berfungsi untuk analisa pemasaran, teori ini bisa menjelaskan tentang kenapa misalnya sebuah teknologi sudah menjadi tren di sebuah daerah tapi masih asing di daerah lain. Selisih dan gerak persebaran itu bisa ditelaah. Artinya, teori ini seharusnya bisa juga menjawab kenapa ada manusia modern yang masih percaya bisa masuk surga hanya karena ikut menyebarkan pesan berantai di BBM. Mendingan dulu nabi-nabi jualan pulsa daripada ceramah.

Saya cukup familiar dengan teori ini. Sangat berfaedah soalnya. Penerapannya mudah. Tapi bukan untuk keperluan penelitian, melainkan untuk merendahkan teman-teman saya yang berasal dari kampung. Inilah tujuan saya disekolahkan tinggi-tinggi. Menambah perbendaharaan dan kompetensi untuk merisak orang lain.  

Rogers mengidentifikasi lima unsur yang menjelaskan seberapa jauh potensi sebuah inovasi akan diterima oleh masyarakat, yakni:

a) relative advantage: seberapa besar keuntungan yang bisa didapat dari inovasi itu dibanding inovasi terdahulu

b) compatibility: seberapa cocok dan kompatibel inovasi itu dengan calon penggunanya

c) complexity: seberapa mudah inovasi itu diadopsi atau dipelajari

d) triability: seberapa mungkin inovasi itu dicoba atau dites dahulu sebelum benar-benar digunakan secara menyeluruh

e) observability: seberapa jelas kelebihan inovasi ini akan dirasakan atau terlihat

Nah, identifikasi itu kemudian digunakan untuk membaca adopsi media baru dari kelima media komunitas yang menjadi objek studi kasus Mbak Idha dan kawan-kawan. Hasilnya, unsur-unsur itu memang memengaruhi penerimaan masing-masing media. Misalnya, adopsi media baru di Radio Wijaya FM tergolong lancar karena ke lima unsur inovasinya dominan. Berbeda dari penggunaan media baru di Suandri FM yang tak terlalu optimal karena terkendala di unsur complexity-nya. Para pengelolanya merasa media baru masih sulit dijangkau dan warga belum terbiasa. Akhirnya unsur relative advantage pun tercederai karena keuntungan dari perkembangan media baru di sana tidak signifikan dibanding perkembangan sebelumnya.

Karakter unsur relative advantage yang menarik muncul di pengelolaan Primadona FM dan Speaker Kampung. Media baru memberikan keuntungan berupa eskalasi status sosial bagi para penggiatnya. Keuntungan prestise ini membuat orang-orang di balik kedua media komunitas itu menjadi populer dan murah respek dari masyarakatnya. Jago mengoperasikan internet dan gadget di tengah masyarakat gagap teknologi bisa membuat seseorang dielu-elukan. Faktanya ini menjadi faktor penting juga.

Nah, sebenarnya bukan cuma lima unsur di atas saja isi temuan teori Difusi Inovasi ini. Kendati tak digunakan untuk menganalisa media komunitas di buku Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru, ada juga lima kategori pengguna inovasi yang dicetuskan oleh Roger. Yang ini saya salin mentah-mentah dari wikipedia saja ya, lelah sudah kedua tangan ini. Nanti malam mau fingering soalnya.

  1. Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baruHubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
  2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovatorKategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
  3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
  4. Mayoritas akhir: Kelompok zang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
  5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

Kesimpulannya, jika Anda punya kawan yang mengira GoPro itu merek motor matic, sebut saja dia laggard. Sungguh aplikatif sekali teori ini. 

 

Kolaborasi Untuk Advokasi: Pengalaman Media Komunitas Memperjuangkan Hak Warga – Aris Haryanto, dkk.

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk buku kolaborasi untuk advokasi

Media komunitas adalah salah satu bahan perbincangan yang paling banyak menarik perhatian saya dalam setidaknya satu semester belakangan. Utamanya sejak ini menjadi pilihan topik saya untuk presentasi dan tugas makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini. Saya kebetulan mendapat jatah tema besar Jurnalisme Warga, dan saya memutuskan mengambil media komunitas sebagai fokus analisisnya.

Saking niatnya berprestasi di kelas biar siapa tahu diizinkan nyokap buat sesekali bersanggama sama pacar di kamar makan, saya sampai bayar SPP dua kali lipat jauh-jauh ke Jalan Parangtritis (10 kilometer untuk orang Jogja itu terkategorikan ‘jauh’, sungguh perlu dipamerkan) ke kantor Combine Resource Institution untuk mewawancarai teman saya yang menjabat sebagai editor suarakomunitas.net, sebuah portal online yang mewadahi tulisan-tulisan dari media komunitas. Selain itu saya juga membeli beberapa buku terbitan LSM yang turut aktif mendorong munculnya media komunitas di berbagai wilayah di Indonesia sejak awal tahun 2000-an itu. Untung buku-bukunya juga murah, termasuk buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Tempat dagang buku mana di zaman sekarang di mana selembar seratus ribu bisa menebus tiga buku baru plus bonus satu buku tipis?

Nah, makalah saya sendiri berangkat dari pertanyaan besar:

Apakah Jurnalisme Warga sanggup memenuhi kebutuhan demokratisasi informasi jika masih terbelenggu oleh kepentingan bisnis media?

Dalam penelitiannya yang bertajuk Memetakan Kebijakan Media di Indonesia (2012), Yanuar Nugroho menyebutkan sebuah benteng terakhir untuk menciptakan demokratisasi ruang publik di Indonesia, yakni media komunitas. Opini Yanuar Nugroho ini sejalan dengan pertanyaan besar ihwal apakah jurnalisme warga akan tetap bisa menjalankan fungsi vitalnya andai beroperasi dalam ruang-ruang bisnis media? Segala rubrik dengan retorika “suara milik warga dan pembaca” itu tetap bersandar pada kontrol pemilik media besar yang tentu punya kuasa untuk menyaring konten yang akan dirilis. Belenggu ini yang sejauh ini belum merambah pada media komunitas.

“Menurut saya, media komunitas mempunyai peran yang sangat penting. Tetapi ini tidak dilihat oleh pengambil keputusan dan bahkan juga tidak dilihat oleh media-media besar. Media besar itu punya kecenderungan untuk merendahkan keberadaan media komunitas. Padahal sebetulnya kalo mau yang genuine, yang genuine itu adalah media komunitas” – Bimo Nugraha mantan komisioner KPI

Seperti dipaparkan oleh Jurgen Habermas, konsep media dalam perjuangan demokratisasi adalah sebagai ruang di mana publik dapat melakukan diskusi hingga pengawasan terhadap pemerintah. Semua diharapkan muncul dalam praktik media komunitas yang memfasilitasi para warga untuk bertemu di ruang publik dan mendiskusikan permasalahan kepentingan bersama tanpa paksaan, kekerasan, dan interupsi kepentingan ekonomi. Media komunitas memberikan ruang bagi peran serta warga dalam pengelolaan informasi. Keterlibatan warga dalam dunia jurnalistik membuktikan adanya hubungan dinamis antara pelaku media dan pembacanya. Selain itu, media komunitas mampu memberikan ruang bagi warga untuk menegakkan hak-hak informasinya, termasuk yang berpihak kepada warga.

Secara umum, media komunitas didefinisikan sebagai media yang menyediakan akses dan partisipasi. Istilah komunitas bisa merujuk pada sekelompok orang yang tinggal dalam suatu teritori, atau bisa juga merujuk pada sekelompok orang yang berkumpul dengan minat dan tujuan yang sama. Media komunitas beroperasi secara nonprofit dan menyediakan ruang yang terbuka bagi para anggota komunitas untuk berpartisipasi. Media komunitas berpotensi mengisi kesenjangan dalam sistem media yang ada saat ini lantaran kerap menyajikan berita atau informasi yang selama ini tidak tersentuh, bahkan tidak terpikirkan oleh media arus utama.

Lalu apa saja tantangan media komunitas?

Banyak. Mulai dari akses internet untuk media komunitas di lokasi-lokasi terpelosok, kekurangan perangkat teknologi, biaya, sampai keterampilan jurnalistik pada pewarta warga yang masih haus pelatihan-pelatihan.

Namun, jika permasalahan teknis praktik kerja dapat diupayakan secara mandiri, maka permasalahan lainnya memang masih sangat bergantung pada peran negara, yakni regulasi. UU ITE misalnya, tidak relevan karena mengandung undang-undang pencemaran nama baik disertai banyak definisi yang samar. Ini memang batu sandungan yang juga dihadapi oleh jurnalis media komersial sekalipun, namun risiko lebih besar berada di depan para jurnalis warga yang memiliki perlindungan yuridis yang lebih minim.

Apalagi kebijakan sertifikasi media telah ditetapkan oleh Dewan Pers di awal tahun 2017. Langkah ini dilakukan guna menertibkan media daring abal-abal yang tidak terdaftar,melanggar kaidah jurnalistik, dan memerangi hoax yang tersebar. Media yang lolos verifikasi akan mendapat logo khusus. Verifikasi itu berwujud barcode yang akan ditempelkan pada media yang terverifikasi dan dapat dipindai dengan telepon pintar yang akan terhubung dengan data Dewan Pers.

Kebijakan sertifikasi Dewan Pers tersebut sejauh ini dianggap ancaman oleh penggiat media komunitas . Kebijakan ini bisa menjadi langkah legitimasi bagi media-media arus utama yang lebih mudah mendapat sertifikasi kendati sebenarnya sama-sama berpeluang melakukan pelanggaran jurnalistik. Sementara itu media komunitas kemungkinan akan terkendala untuk memenuhi syarat sertifikasi tersebut. Salah satu syarat yang ditetapkan Dewan Pers misalnya adalah perusahaan pers harus memiliki modal dasar sekurang-kurangnya sebesar 50 juta rupiah atau ditentukan oleh Peraturan Dewan Pers. Syarat lain, perusahaan pers wajib memberi upah kepada wartawan dan karyawannya sekurang-kurangnya sesuai dengan upah minimum provinsi minimal 13 kali setahun. Jika merujuk pada syarat-syarat penertiban media dari Dewan Pers, sebagian besar media komunitas tidak akan mampu memenuhinya, khususnya terkait syarat berbadan hukum, modal, dan kemampuan menggaji wartawan. Media komunitas tidak menjalankan kegiatannya dengan logika industri sehingga pemahaman bahwa media yang benar adalah media yang mampu menggaji karyawannya dan harus berbentuk badan hukum tidak mungkin diterapkan oleh media komunitas. Jika wartawan dibayar, statusnya akan tertukar dengan jurnalis profesional. Standar verifikasi media yang bekerja untuk perusahaan dan komunitas seharusnya disesuaikan. Perlu juga adanya pembahasan antara asosiasi media komunitas Dewan Pers untuk mengakui keberadaan pemain-pemain di luar media arus utama.

Oke, saya malah membahas isi makalah saya. Lha jujur saja saya lupa isi buku Kolaborasi Untuk Advokasi ini. Pokoknya tiba-tiba saja ada di daftar pustaka makalah tadi. Berarti kemungkinan besar itu buku bagus, soalnya saya orangnya pemilih.

Sekian~