Bersaksi Untuk Pembaruan Agraria – Noer Fauzi Rachman

Tags

, , , ,

Malam tahun baru kemarin, tatkala orang-orang pongah di luar sana bersenang-senang dan mabuk-mabukan, saya dan kawan-kawan WARN!NG justru… bersenang-senang dan mabuk-mabukan juga sih, tapi kita pun sempat menggelar diskusi internal yang serius soal posisi intelektualitas masing-masing. Utamanya terkait isu konflik perampasan tanah untuk pembangunan bandara NYIA di Kulon Progo. 

Sayangnya, obrolan baru menyentuh topik ini pada jam 4 pagi di bawah pengaruh alkohol dan azan subuh. Ealah, menyusun rundown saja tidak becus, bagaimana mau menyusun rencana untuk kudeta Sultan.

Salah satu pertanyaan pokok sekaligus jawabannya yang terlontar pada diskusi setengah sadar itu adalah “apakah perlawanan untuk Kulon Progo terlambat?” Bahwasanya seharusnya sosialisasi dan edukasi adalah hal utama, lha petani sebagai aktor utamanya sendiri kini mulai kehilangan kesadaran akan seberapa penting lahannya. “Petani ki cen mung ngerti duit,” ujar teman saya yang lahir di keluarga petani (kalau tidak salah lho, bisa saya yang salah dengar, atau dia yang salah ngomong). Di zaman serba mahal ini, iming-iming ratusan juta mudah saja memengaruhi mereka untuk sukarela melepas tanah. Tentu tak bisa disalahkan.

Nah, perjuangan agraria memang seharusnya muncul di segala lini. Apa yang dilakukan oleh para aktivis sekarang ini adalah bentuk “pemadaman kebakaran”. Pun ini tidak salah. Namun, seharusnya sejak awal inisiatif-inisiatif politik agraria bukan hanya sekadar dari petani, aktivis akar rumput, mahasiswa yang turun ke jalan, dan sebagainya.

Peran kelas menengah, termasuk akademisi dan pemerintah sebagai pemegang otoritas hukum juga diperlukan. Harus ada orang-orang sadar politik agraria yang diselundupkan ke kampus, sekolah, media massa, perusahaan korporat, NU, Muhammadiyah, partai politik, kementerian, lembaga hukum, dan sebagainya. Bila perlu, masuklah ke Saracen.

Nah, sebagian isi buku Bersaksi Untuk Pembaruan Agraria sebenarnya sama dengan Petani dan Penguasa versi terbitan tahun 2017 yang sudah saya baca sebelumnya. Akan tetapi, ada fokus tertentu yang ingin disampaikan oleh Noer Fauzi di buku ini, yakni bahwa pembaruan agraria harus dilakukan melalui jalan tengah, yakni oleh petani sendiri sebagai kaum bawah, dan negara. Sepakat.

Noer Fauzi mengatakan bahwa peran negara tidak bisa ditampik dalam upaya agraria. Itulah kenapa ia menyodorkan konsep pembaruan agraria, yakni proses perombakan susunan penguasaan tanah yang diiukti oleh perbaikan sistem produksi melalui penyediaan fasilitas teknis dan kredit pertanian, perbaikan metode bertani, hingga infrastruktur sosial yang dibutuhkan. Pembaruan agraria mengarah pada pembangunan kembali struktur sosial masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan sehingga tercipta dasar pertanian modern yang sehat, terjaminnya kepastian pemilikan tanah bagi rakyat sebagai sumber daya kehidupan mereka, terciptanya sistem kesejahteraan sosial dan jaminan sosial bagi rakyat pedesaan, serta penggunaan kekayaan alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Apa yang perlu diupayakan, salah satunya adalah pembaruan watak dan kinerja parlemen. Parlemen mesti diberdayakan dengan kejelasan dan tanggung jawab serta ikatan jelas dengan pemiliknya. Selain itu, pembaruan relasi eksekutif dan legislatif, dari pola hubungan atas-bawah menjadi mitra atau kerja sama setara.

Lalu bagaimana dengan perjuangan agraria dari jalan bawah? Cek saja tulisan pengantar saya untuk “Lagu Hidup” di proyek 37Suara dari Leilani Hermiasih dan kawan-kawan berikut. Dukung!

https://37suara.net/post/169578512393/sisirtanah-laguhidup

 

Advertisements

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 – Pidi Baiq

Tags

, , , , , ,

Sedang mencoba memahami pasar.

Saya sudah berusaha maksimal untuk berpikir permisif bahwa novel ini mungkin memang disesuaikan sedemikian rupa untuk remaja. Tetap saja, saya pikir Dilan bahkan tidak cukup bagus untuk serendah-rendahnya sekadar membangkitkan minat baca remaja. 

Bunyi salah satu testimoni: “Keren, buku ini harus dijadikan paduan hidup Anak SMA sekarang. Menteri pendidikan juga harus baca.” @faisEl_farizi

Seakan sudah lunas tuntas persoalan pendidikan Indonesia sampai menteri pendidikannya perlu melakukan kajian mutu gombalan siswa SMU era 90-an.

 

Film, Ideologi, dan Militer – Budi Irawanto

Tags

, , , , , , , , ,

Film, Ideologi & Militer ini adalah skripsi yang berhasil dibukukan dan memang berakhir menjadi kajian penting di bidangnya. Sungguh membuat iri dengki. Skripsi yang memenuhi fungsinya sebagai sumbangsih pada keilmuan. Bukan cuma sebagai dokumen syarat lulus atau pendukung ekosistem jasa print, sebagaimana salah satunya skripsi saya yang konyol itu.

Penulis karya ini adalah Budi Irawanto selaku dosen favorit, pembimbing tesis, sekaligus penulis Kata Pengantar di buku saya. Tipe dosen sayap kiri yang tidak akan memarahimu karena memasang nama pacar di atas ucapan terimakasih untuk Tuhan dalam laman persembahan di skripsi atau tesis. Karenanya, bagaimana buku ini menjadi terbitan ketiga dari WARN!NG Books adalah wujud respek anak-anak WARN!NG–yang biasanya susah menghormati orang–pada sosok Mas Budi.

Dan karena masa depan tesis saya masih di bawah bimbingannya–jika Mas Budi membaca ini–saya harap beliau paham bahwa tidak ada maksud menjilat.

Tapi ini Nomor Induk Mahasiswa saya: 16/404132/PSP/05805

Film Sejarah dan Ideologi Militer

Salah satu pokok argumen dari buku Film, Ideologi dan Militer adalah bagaimana militer–khususnya angkatan darat–mempublikasikan glorifikasi aksi bersenjata dalam proses meraih dan mempertahankan kemerdekaan dibanding jalur diplomasi atau keterlibatan sipil.

Objek penelitian ini adalah tiga buah film kelahiran era perfilman nasional yang sedang gencar melahirkan film-film yang menampilkan heroisme angkatan bersenjata. Tiga judul film yang dipilih ialah Enam Djam di Jogja (1951), Janur Kuning (1979), dan Serangan Fajar (1981). Saya sudah nonton ketiganya, tapi saya tak terlalu ingat detail ceritanya karena memang tidak terlalu terkesan kecuali bahwa ada tokoh anak kecil bernama Temon di film Serangan Fajar dan suharto selalu menjadi ganteng di film yang mana saja.

Ketiga film itu juga mengambil latar kisah utama seputar Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Berbagai sumber menyebutkan bahwa peristiwa bersejarah itu pada dasarnya salah satu kebanggaan militer Indonesia karena dipercaya memberikan pengaruh pada penentuan nasib Republik Indonesia. Serangan itu menunjukan watak juang dari angkatan bersenjata Tanah Air dan dinilai sukses memantik keberanian masyarakat untuk menentang pendudukan asing.

Dari tiga film itu, diperlihatkan bahwa militer tak hanya sosok yang piawai menggunakan senjata, melainkan juga membaca peta politik. Sementara para politisi sipil dikonstruksikan sebagai sosok yang belum selesai dengan dirinya sendiri untuk menentukan sikap. Plin-plan dan imbas-imbis. Kelompok militer digambarkan jauh lebih cekatan dan patriotik.

Ada dua alasan kenapa film propaganda militer dari suharto baru dibuat saat itu. Pertama, tahun 1978-1979 memang saat di mana pemerintah banjir pendapatan minyak, sehingga berpeluang membiayai hal-hal yang cenderung dinilainya kurang penting. Kedua, rezim menganggap perlu ada upaya-upaya baru untuk mencari pembenaran lebih pada kontrol suharto yang kuat.

Secara kategori, ketiga film itu sering disebut juga sebagai “film sejarah”. Film sejarah menurut buku ini adalah sebuah genre khas dalam sinema Indonesia yang sulit ditemukan dalam sinema negara lain. Isinya kebanyakan bertemakan pertempuran melawan pemerintah pendudukan Belanda. Setting dalam film sejarah lazimnya adalah ketika bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.

Yang pasti, mendengar embel-embel “sejarah” di Orde Baru sama seperti mendengar “kondisi kesehatan” di kasus Setya Novanto. Penuh tipu muslihat. Khrisna Sen menegaskan bahwa film sejarah pada Orde Baru tidak bisa dijadikan cara untuk mengerti atau berbicara tentang masa lalu. Diperlukan pemahaman lain terhadap relasi antara penonton dan pihak-pihak yang memiliki kontrol, baik pada filmnya maupun struktur sosial politik. Karena jika kita runut mulai dari produksi hingga seluruh institusi perfilman, nyaris tak ada ruang yang bebas dari intervensi militer. Ringkasnya, militer menentukan konteks dan produksi teks sinema Indonesia, apalagi yang berkaitan dengan sejarah.

 

Pretorianisme

Pengetahuan paling baru yang saya dapat dari buku ini adalah adanya terminologi “pretorianisme” yang dikenalkan oleh Nordlinger (1977), yakni sebuah sistem di mana perwira militer merupakan aktor-aktor politik yang terpenting dan terbesar dengan kebajikan yang ada pada diri mereka, atau ancaman menggunakan kekuatan. Pretorianisme terjadi dalam berbagai situasi-situasi kup, terutama ketika para perwira mengontrol pemerintah. Bahkan, beberapa kasus menunjukan rezim sipil digantikan oleh rezim militer

Menurut Nodlinger, ada tiga tipe perwira dalam pemerintahan pretorian, yaitu penengah, pengawal, dan penguasa. Pretorian tipe penengah melaksanakan hak veto atas berbagai keputusan pemerintah tanpa melakukan kontrol sendiri pada pemerintah. Pretorian tipe pengawal adalah mereka yang menggulingkan pemerintah sipil dan mempertahankan kekuasaan pemerintah di tangannya, lazimnya selama dua sampai empat tahun. Sementara pretorian tipe penguasa tidak hanya mengontrol pemerintah tapi juga mendominasi rezim. David Jenkin menyatakan Indonesia di Orde Baru menunjukan karakteristik tipe penguasa, apalagi pada diri suharto dan beberapa anggota kunci dari lingkarannya.

Untuk lebih mempermudah pemetaan antara ketiga kategori itu:

Pada tipe pretorian penengah, militer hanya memengaruhi keputusan strategis yang dibuat pemrintah sipil tanpa menguasai pemerintah. Tingkat kekuasaannya hanya sejauh hak veto. Karena itu, relasi sipil-militer masih setara. Meski pihak sipil memerintah, kekuasaan tetap dikontrol militer yang tidak menerima supremasi penuh pihak sipil. Dalam relasinya dengan pemimpin sipil, kelompok militer kadang mengancam melakukan kudeta.

Sementara dalam pretorian tipe pengawal, relasi sipil militer terjadi dengan militer sebagai pihak dominan. Sebab, rezim militer yang menggulingkan pemerintah sipil membuat perubahan baru dalam kebijakan ekonomi politik. Namun, mereka mengklaim akan melakukan pengalihan kekuasaan dalam tiga atau empat tahun.

Sedangkan para pretorian tipe penguasa militer berkuasa penuh dan mendominasi pemerintahan. Mereka melakukan perubahan mendasar pada kebijakan serta distribusi kekuasaan yang berbeda dari kebijakan pemerintah sipil. Dengan kata lain, terjadi supremasi militer atas sipil dalam pemerintah.

Crouch membagi empat kategori pengaruh militer di negara-negara Asia Tenggara. Kategori pertama adalah Indonesia dan Birma, di mana perwira-perwira militer amat jelas dominan. Kategori kedua adalah Thailand dan Filipina di mana militer merupakan kekuatan politik utama, tetapi mengontrol pemerintah tak secara langsung. Kategori ketiga adalah Singapura, Malaysia dan Brunei di mana pengaruh militer terbatas pada wilayah keamanan, dan perwira-perwira miiter tak mempunyai sumbangan yang menentukan dalam pembuatan kebijakan. Kategori terakhir terdapat dalam kasus khusus dari rezim komunis pasca Revolusi Indonesia, di mana otonomi militer dibatasi secara ekstrem dari kontrol partai.

Keterlibatan militer dalam politik memang acapkali dianggap jaminan bagi terciptanya stabilitas politik. Para perwira militer dinilai memiliki etos yang berbeda dengan para politisi sipil. Beberapa orang percaya latihan profesional memberikan para perwira etos yang berbeda. Namun, itu hanya mitos karena beberapa negara tanpa dominasi militer juga memiliki kemajuan ekonomi pesat. Tidak ada relasi antara keterlibatan militer dan perekonomian suatu negara

Meurut Mangunwijaya, salah satunya kita bisa melihat kesejajaran sistem rekayasa sosial Orde baru melalui dwifungsi ABRI dengan strategi khusus bangsa Jepang mencampuri pemerintah dan sipil. Warisan dari pemerintah Jepang yang diwarisi oleh Orde Baru bagi Mangunwijaya adalah sistem Tonari-Kumi, yakni sistem kerukunan tetangga yang digunakan untuk mengawasi setiap aspek kehidupan dan memperlemah kelompok subversif. Sistem ini dikonsolidasikan lebih efisien dengan RT (Rukun Tetangga) dan RW (Rukun Warga) yang merupakan unit terkecil masyarakat. Ini instrumen hebat untuk mengontrol masyarakat, ditambah adaya siskamling dan hansip.

Jadi kalau kamu suka jengkel dengan tetangga yang hobi sekali menggunjing, atau bawel ikut mengurusi kebiasaanmu pulang malam dan bawa cewek ke rumah, maka lagi-lagi itu salah suharto.

 

10 Album Terbaik di Tahun 2017

Tags

, , , , , , ,

 

10. Charlotte Gainsbourg – Rest

Hasil gambar untuk charlotte gainsbourg rest album

Pucatnya hitam-putih adalah wajah yang tepat untuk Rest. Muram dan murung. Musikus cum aktris asal Perancis ini tengah merapah duka. Ia menulis lagu-lagu soal kematian, termasuk yang lebih spesifik tentang kecanduan alkohol yang menjemput nyawa ayah dan saudara tirinya. Beginilah Gainsbourg bernyanyi, lirih seperti setengah berbisik dan menganyam hawa kelimut dengan bahasa Inggris dan Perancis. Aransemen yang dramatik dibangun menjadi panggung melankolia, seperti dalam “Kate” atau “Ring-A-Ring O’Roses”. Contoh terbaik dari semua upaya estetika ini adalah “Deadly Valentine”, ketika Gainsbourg melafalkan sumpah perkawinan diiringi irama backbeat berulang-ulang.

 

9. Aimee Mann – Mental Ilness

Hasil gambar untuk aimee mann mental illness

Sentuhan folky tersyahdu tahun ini dimenangkan justru oleh seseorang yang baru mencoba-coba lebih serius dengan gitar akustik dan perkusi. Mental Illness dibuka dengan “Goose Snow Cone” yang menghembuskan hawa sejuk ke sekujur batin. Ide lagu itu muncul tatkala Aimee Mann sedang menonton foto seekor kucing putih bernama Goose milik kawannya di Instagram. Semua memang terdengar enteng di album ini, bahkan termasuk saat ia berkisah soal pengidap bipolar dalam “Lies of Summer”. “Saya menulis secara lebih lembut, sejumlah lagu-lagu melankolia yang mana merupakan karya yang paling mudah dibuat dan menyenangkan untuk saya. Materi ini bukan sesuatu yang digarap dengan hati-hati. Lebih seperti melakukan apa yang kamu ingin lakukan saja,” tukasnya kepada Stereogum. Impaknya sama ke pendengar. Mental Illness menjadi salah satu album yang begitu gampang membuat larut hingga kadang kita lupa sampai sejauh mana.

 

8. The War On Drugs – A Deeper Understanding

Hasil gambar untuk the war on drugs deeper understanding

The War On Drugs melanjutkan pengembaraannya dengan bekal pengembangan formula musikal yang tepat dari Lost In The Dream (2014). Soundscapes dengan tekstur yang khas, terang dan lapang untuk upaya pencarian spiritualnya. Ada dua unsur yang akan menemani perjalanan mendengarkan aransemen A Deeper Understanding yang menghanyutkan ini. Pertama, lirik-lirik kontemplatif seperti “I remember walking against the darkness of the beach / Love is like a ghost in the distance, ever-reached / Travel through the night because there is no fear / Alone but right behind until I watched you disappear“. Kedua, gemerincing gitar yang seakan muncul dari keterasingan. Album ini diganjar nominasi dari Grammy, penghargaan yang selalu terlambat itu. Terkutuklah para juri jika masih saja tuli.

 

7. Courtney Barnett – Lotta Sea Lice (ft Kurt Vile)

Hasil gambar untuk courtney barnett Lotta sea lice

Sejak masing-masing membuat karya indie rock hebat di tahun 2015 plus sama-sama punya gejala berwatak slackers, banyak hal yang membuat Barnett dan Vile rasanya wajar saja punya relasi. Akan tetapi, siapa kira sampai bakal membuat sebuah album kolaborasi? Hasilnya, sudah diduga akan berakhir tidak terduga. Album ini seperti rekaman obrolan tidak terencana dalam studio di sela-sela jamming. Kiranya diawali dengan basa-basi saling memuji, hingga akhirnya buka-bukaan proses kreatif pengaryaan satu sama lain, termasuk rasa bosan memainkan lagu yang berulang-ulang di atas panggung (“On Script”), curhatan kendala writer’s block (“Let It Go”), dan momen kesepian yang kerap memotivasi penciptaan lagu (“Over Everything”). Memang secara karakter musik akan lebih cocok jika atribut album ini adalah “Kurt Vile ft Courtney Barnett” dibanding sebaliknya. Oh, tapi yakinlah mereka lebih suka berdebat soal mana yang lebih enak antara membuat verse atau chorus duluan daripada ambil pusing dengan itu.

 

6. Blanck Mass – World Eater

Hasil gambar untuk blanck mass world eater

Sebagai sebuah karya musik elektronik-eksperimental, World Eater memang layak mendapat atensi lebih. Kontennya variatif dan liar, tidak terpelihara pada satu nuansa, bahkan pada bentuk sekalipun, namun anehnya tak terdengar tercerai berai pula. Benjamin John Power sebagai orang di belakang Blanck Mass berhasil menyusun rangkaian bebunyian yang kuat untuk mengenyangkan adrenalin.“Rhesus Negative” menjejalkan gempuran kick-drum techno yang nikmat di kepala.“The Rat” seperti musik latar untuk game simulator pesawat tempur di momen-momen tersengitnya. Segala detail suara yang muncul tersaji rapi dalam kacau. Bahkan, deras suara hujan dalam “Minnessota/ Eas Fors/ Naked” saja begitu meneror. Tapi jelas World Eater bukan karya dekonstruktif, melainkan konstruktif karena masih bisa dinikmati sebagaimana musik-musik reguler. Sebuah album niche yang sayang jika tak diperdengarkan lebih luas.

 

5. Lorde – Melodrama

Hasil gambar untuk lorde melodrama

Jika Pure Heroine (2013) adalah pesta dansa remang-remang, maka Melodrama adalah pesta dansa gemerlap bertabur warna. Persamaannya? Keduanya tidak mengundang siapapun, melainkan dihelat privat untuk dirinya seorang. Ia menghibur, menangisi, menasihati, dan berusaha memahami pribadinya sendiri. Memenuhi hasrat Melodrama lebih sulit, karena ini tentang bagaimana aransemen meriah tidak menyembunyikan rasa kesepiannya. “Green Light”, “Supercut”, dan “Perfect Place” berhasil melakukannya. Ah, bisa jadi sebenarnya Lorde tidak benar-benar teralienasi, ini hanya perasaan alamiah ala remaja. Fase perkembangan emosi yang natural dan indah untuk usianya. Sama seperti suaranya yang memancarkan kedewasaan sekaligus keluguan, talentanya di usia belia masih tak tertandingi tanpa harus membuat kita merasa umurnya terkhianati.

 

4. Slowdive – Slowdive

Hasil gambar untuk slowdive album

Asal dikerjakan dengan baik, tren musik lama bisa diandalkan lagi sampai saat ini dengan menarik, bahkan tanpa harus melibatkan banyak kebaruan. Slowdive sempat menjadi pelaku dalam kancah yang disebut the scene that celebrates itself lalu menjadi salah satu eksponen esensial gelombang shoegaze di dekade 90-an. Persis seperti MBV dari My Bloody Valentinemereka kemudian meloncati 22 tahun dan hadir kembali. Sementara shoegaze belakangan tengah seret akan keluaran progresif yang meroket, Slowdive menawarkan daya tarik dengan formula-formula lama. “Slomo” yang membuai hingga dream pop dalam “Falling Ashes” terdengar familier. Materi-materi ini mungkin dulunya punya peluang dirilis akhir dekade 90-an, namun musik bagus ternyata memang tidak mengenal masa.

 

 

3. Run The Jewels – Run The Jewels 3

Hasil gambar untuk run the jewels 3

Setelah dua album pertamanya direspons dengan baik oleh kritikus dan penggemar hip hop politis, ada semangat perayaan dalam Run The Jewels 3. El-P dan Killer Mike membuka album dengan “Down” yang memamerkan optimisme empat tahun karier mereka. Mereka juga punya braggadocio sangar dalam “Legend Has It”: “Hear what I say, we are the business today / Fuck shit is finished today (what) / RT & J, we the new PB & J / We dropped a classic today (what)”. Di seberang materi hura-hura itu, album ini memuat energi ketegangan yang paling dekat dengan idola mereka, Public Enemy. Simak “Talk To Me” yang ambisius: “You think baby Jesus killed Hitler just so I’d whisper? / And you’re safe and sound and these crooks tapped your phone to not have a file on you?”. Run The Jewels tak hanya menggasak simpatisan Trump atau terdeteksi fasis, melainkan juga liberal moderat dan orang-orang yang tak mencoba melakukan perubahan. Mengutip El-P, mereka “tetap gegabah di hadapan petaka.”

 

2. St Vincent – Masseduction

Hasil gambar untuk st vincent masseduction

Kian yakin bahwa St Vincent adalah figur paling jenius dari gelombang suara wanita dalam musik rock di abad ke-21 ini. Kepiawaiannya menghasilkan melodi yang kuat dalam celah-celah sempit aransemen yang kompleks, eksperimental, dan terkadang kaku memang istimewa. Masseduction lebih dari berhasil untuk mengulanginya lagi sejak diawali dengan dua lagu yang menghantui:“Hang On Me” yang mengambang seperti suara dalam telepon, dan chorus berakses robotik namun catchy dalam “Pills” yang repetitif: “Pills to wake, pills to sleep / Pills, pills, pills every day of the week / Pills to walk, pills to think”. Sepasang lagu terbaik di album ini mencatut nama kota besar, yakni “New York” dan “Los Ageless”. Kita akan tahu seberapa berarti kedua lingkungan itu untuknya. “Jika Anda ingin tahu kehidupan saya, dengarkan album ini,” ucapnya di rilis resmi album ini. Terlalu berisiko, semakin dekat dengan kehidupannya, semakin mabuk kepayang kita dibuatnya.

 

1. Kendrick Lamar – DAMN

Hasil gambar untuk kendrick lamar damn

Tahun 2017, tak terhitung adanya bermacam aliran hip hop. Semua berlomba-lomba mencuri perhatian dengan eksperimen dan pengembangannya masing-masing. Namun, DAMN menjadi jawara justru hanya karena fokus pada dua pilar dasar: Beat yang hebat dan lirik yang kuat. Oldschool, tradisional, dan galak.

Tahun 2017, berbondong-bondong musisi dari latar belakang estetika apapun menulis lirik bertemakan sosial politik, rasisme, feminisme, nuklir, kiamat kemanusiaan, dan sebagainya. Tentu semuanya dalam rangka duka cita atas tindak tanduk Trump. Namun, DAMN menjadi jawara karena enteng saja menunjukan perbedaan kualitas untuk seseorang yang sudah terbiasa melakukannya sejak dulu.

Tahun 2017, Jay Z merilis album dengan persandingan consciousness rap dan curhat perkara rumah tangga selebritasnya, begitu juga album anyar Eminem yang menitikberatkan teknik rap yang ambisius. Namun, DAMN menjadi jawara karena kesempatan mereka sudah habis.

Hari ini adalah era Kendrick Lamar.

 

10 Lagu Terbaik di Tahun 2017

Tags

, , , , , ,

10. Japandroid – Near To The Wild Heart of Life

Judul dan narasi lagu ini diadaptasi dari novel perdana penulis legendaris Irlandia, James Joyce yang bertajuk A Portrait Of The Artist As A Young Man (1916). Brian King (vokal/gitar) menuturkan pertempuran hatinya untuk nekat angkat kaki dari Vancouver ke Toronto, sama seperti tokoh Daedalus (alter ego James Joyce) yang meninggalkan kampung halamannya yang sarat kekangan Katolik untuk mencapai apa yang disebut “kebebasan artistik”. Didukung efek overdub dan synthesizer, lagu ini kian berkobar-kobar siap mendobrak apapun yang mengekang.

 

 

9. Drake – Passionfruit

Bagaimana jika kamu tiba-tiba terjerembab dalam hubungan LDR? Padahal selama ini mengusung gaya pacaran dengan frekuensi bertemu yang lebih taat dibanding shalat 5 waktu? (“Listen / Seein’ you got ritualistic / Cleansin’ my soul of addiction for now /’Cause I’m fallin’ apart, yeah”). Entah ujungnya indah atau tidak, bumbu-bumbu konflik dalam pacaran jarak jauh selalu menghasilkan ombang-ambing antara situasi pesimistis dan optimistis.”Passionfruit” adalah nomor yang cocok untuk menikmati itu, merenungi kepercayaan yang runtuh sedikit demi sedikit bersama iringan dance pop bernuansa tropis.

 

 

8. Courtney Barnett ft Kurt Vile – Continental Breakfast

Ini yang akan membuat mbak-mbak indie pemuja totebag rupa-rupa dan musik-musik aneh itu bersorak artsy. Dua figur publiknya, Kurt Vile dan Courtney Barnett berkolaborasi menyanyikan sebuah lagu enak yang memenuhi syarat absurditas untuk dijagokan menjadi cult. Mendengar “Continental Breakfast” membuat kita seakan diajak sarapan bagel, waffle, sereal, atau muffin, beriring gitar akustik dan clean yang rileks bersawala, plus bercandaan internal yang kadang-kadang membuat kita tertawa kecil meski tidak tahu lucunya di mana.

 

7. The XX – On Hold

Jamie XX (DJ) mengatakan bahwa album solonya yang bertajuk In Colour (2015) bisa dilihat sebagai sketsa dari konsep album The XX selanjutnya. Salah satu pemenuhan janjinya adalah inisiatif penggunaan sample vokal pertama kalinya oleh band tersebut. Dan memilih lagu “I Can’t Go For That (No Can Do)” dari Hall and Oates adalah keputusan musikal yang brilian. Potongan lagu itu dialih bentuk dari nada R&B yang semi-funky menjadi kejutan lantai dansa yang bertimba karang.

 

 6. Future – Mask Off

Intro lagu perjuangan hak sipil dari Tommy Butler dan Carlton Willams, “Prison Songs” menemani Future melafalkan nama “percocets” dan “molly” berulang-ulang. Dua-duanya merupakan nama narkotik. Dari dua barang itulah Future tumbuh besar, lebih bernafsu mengejar uang daripada wanita, lalu kini menciptakan lagu yang paling laku sejauh kariernya.

 

5. Dua Lipa – New Rules

“Satu, jangan angkat teleponnya. Kau tahu ia hanya menelepon karena mabuk atau kesepian. Dua, jangan menerimanya lagi karena kelak kau harus mengusirnya kembali. Tiga, jangan pula menjadikannya teman. Kau tahu itu bisa membuatmu tiba-tiba terbangun di kamarnya di suatu pagi.”

– Aturan terbaru dari solidaritas kaum wanita untuk para bajingan di luar sana.

 

4. St Vincent – Los Ageless 

In Los Ageless / the mothers milk their young,” larik menarik dari St Vincent tentang Los Angeles sebagai kota pusat dunia hiburan, eksploitasi remaja, orangtua yang mengharap anaknya menjadi bintang televisi, L.A Sunset Trips, gadis-gadis penjual tampang bakat. Eksistensi berarti gol, nihil karya berarti terlupakan, membangun sesuatu untuk kemudian kehilangan kontrol atasnya. Tempat di mana kita bisa meraih sesuatu namun harus siap kehilangan sesuatu juga, termasuk kewarasan. Yang terakhir tadi terdengar sangat St Vincent bukan? Apalagi melodi gitar nyentrik yang menggelincir itu. Cuma ia yang tahu caranya.

 

3. Slowdive – Star Roving

Setelah turut berjasa memperkenalkan musik shoegaze di generasi X, Slowdive seketika menghilang lalu sekonyong-konyong datang lagi menjangkah dua dekade bagai penumpang mesin waktu dan membawa sebuah single yang bisa membuat generasi baru jatuh hati. Mereka bahkan belum pernah punya riff dreamy segagah ini. “Star Roving” benar-benar dikemas sebagai produk ideal yang sanggup menjerat hati pendengar yang bahkan asing dengan My Bloody Valentine atau entah dengan asal-usul nama shoegaze.

 

2. Lorde – Liability

Tentang ia yang baru saja tercampakkan dalam asmara karena dianggap sebagai beban, racun, borok pelanggar privasi, atau kanker yang terlampau jauh merongrong hidup orang lain. “So I guess I’ll go home, into the arms of the girl that I love/ The only love I haven’t screwed up/ She’s so hard to please, but she’s a forest fire.” Siapa gadis yang dimaksud? Ada jawaban menghunjam di belakang, “We slow dance in the living room, but all that a stranger would see/ Is one girl, swaying alone, stroking the cheek.” Menggetarkan, seakan ia akan lebur perlahan dengan kesepian. Sebuah lagu yang sanggup membuat kita ingin menolong dan mengulurkan tangan untuk sang naratornya. Dan bagi saya yang kadung jatuh cinta dengan warna suara Lorde, mendengarkannya bernyanyi hanya dengan iringan denting piano adalah karunia.

1. Kendrick Lamar – DNA

“Inilah kenapa saya mengatakan bahwa hip hop memberikan dampak lebih banyak ke anak muda African-American dibanding ke rasisme sendiri dalam beberapa tahun terakhir,” ucap reporter kawakan bernama Geraldo Rivera di Fox News, sebagai kritik untuk lirik lagu “Alright” dari Kendrick Lamar.

Apa yang dilakukan Lamar untuk membalasnya? Membuat lagu, sudah pasti. Namun, isinya bukan kumpulan kata “fuck“, sumpah serapah, atau slogan-slogan anti-rasisme. Lamar justru memberikan apa yang ingin didengar semua orang, termasuk apa yang ingin didengar Rivera. Ia menulis lagu yang menghadirkan banyak perspektif sekaligus, baik dari pribadi Lamar sendiri maupun orang-orang yang berseberangan dengannya. Ada glorifikasi, curhat, introspeksi, kritik. Ia mencaci bigot, industri musik, pemerintah, sesama kulit hitam, juga dirinya sendiri, Semua memberondong hingga kita tak lagi bisa ikut menyumbang komentar. Seperti diminta berdebat dengan senapan mesin. 

Meski tiap lariknya seakan saling bersisalak satu sama lain, namun kita tahu ada amarah terpendam dengan sasaran yang jelas. Semua tersampaikan lewat teknik rap yang memukau dengan flow presisi dan susunan rima yang sangat catchy. “DNA” ialah lagu hip hop yang lebih membuatmu berhasrat menyanyikan bagian verse-nya dibanding chorus-chorus Katy Perry.

“I got, I got, I got, I got— / Loyalty, got royalty inside my DNA / Cocaine quarter piece, got war and peace inside my DNA / I got power, poison, pain and joy inside my DNA / I got hustle though, ambition flow inside my DNA”

Marah, cerdas, terkontrol.

Perihal takdir, identitas, dan komunitas terbayang. Lamar selalu selangkah lebih kritis–baik secara gagasan maupun estetika–untuk membicarakan wacana rasisme yang tak pernah sampai garis final ini. Biarlah berdedai-dedai musisi mencecar Trump, Lamar tetap fokus. Musuhnya adalah sistem .  

10 Album Indonesia Terbaik 2017

Tags

, , , , , , , , , , ,

10. Mooner – Tabiat

Kita tahu bahwa band-band lokal terbaik yang membawakan musik ala Black Sabbath semuanya ada di Bandung. Ya beginilah pengaruh tongkrongan. Lantas, bagaimana jika masing-masing dari band itu mengirimkan perwakilannya untuk membentuk supergrup? Untungnya Tabiat lebih dari sekadar campuran musik Sigmun, The Slave, dan The S.I.G.I.T (sayang, kurang satu lagi biar komplet, Komunal!). Variasi paling eksplisit adalah penggunaan vokal wanita (Marshella Safira) dan instrumen musik Melayu. Terdengar sepele saja, namun faktanya itu cukup memberikan perbedaan yang tetap bisa memuaskan pendengar loyal band lama dari tiap personel. Oiya, album ini juga menuntaskan rasa penasaran akan sisi lain Rekti Yoewono yang selama ini terlanjur superior dengan lirik berbahasa Inggris dan musik rock yang amat berkiblat ke barat.

 

 

9. Rand Slam – Rimajinasi

Apa yang ironis dari enaknya kita mempergunjingkan kelakuan Young Lex dan lagu-lagu hip hop jelek dari konco-konco Youtuber-nya adalah bahwa faktanya memang tak banyak–jika bisa disebut tak ada–rapper lokal yang benar-benar punya rilisan bagus kala itu. Akhirnya banyak orang yang malah menarik kesimpulan bahwa musik hip hop memang tidak cocok dibawakan dengan bahasa Indonesia. Oke, sembari memantau lebih jauh lagi Joe Million, Rand Slam bisa kita jadikan pegangan tahun ini. Materi dalam Rimajinasi memeragakan teknik rangkai rima dan flow yang canggih. Selain itu, tiap aksi kolaborasi di album ini juga tak pernah sia-sia karena selalu menghasilkan kesan kuat, terutama “Tak Terpenjara (feat Matter Mos)” yang mencuri komposisi “Hey Hey, My My (Into The Black)” dari Neil Young dan dayaguna sample lagu Gerap Gurita dalam “Malam Minggu (ft Senartogok)”.

 

 

8. Maliq & d’Essentials – Senandung Senandika

Hasil gambar untuk maliq d essentials senandung

Sejak memandang artwork kover beraliran ekspresionisme dan mendengar bunyi synth plus qin–instrumen musik khas Tiongkok, menyerupai kecapi–berkumandang di intro “Sayap”, kita tahu Maliq & d’Éssential siap melanjutkan petualangan musikalnya di Setapak Sriwedari (2013) dan Musik Pop (2014). Bahkan, kini cenderung lebih eksploratif lagi, terutama pada nomor “Maya” yang didampingi iringan kasidahan dan selipan dendangan “magadiiir”. Beberapa lagu lainnya, dengan komposisi yang bisa dikatakan berada di zona wajar Maliq & d’Essentials pun tetap punya detail-detail aransemen yang serius. Sungguh, musik pop Indonesia akan lebih membuat antusias jika pegiat-pegiatnya punya ikhtiar serupa dengan Senandung Senandika.

 

 

7. Adrian Yunan – Sintas

Bagi pendengar setia Efek Rumah Kaca, Sintas penuh dengan melodi-melodi yang familier, namun dibungkus dengan gaya musikal yang hampir tidak pernah disentuh oleh trio itu sebelumnya. Adrian juga sengaja memungut tema-tema personal di luar ranah kritik sosial yang sudah menjadi makanan pokok Efek Rumah Kaca, meski wajib digarisbawahi bahwa ‘personal’ di sini jauh lebih bergizi dari sekadar curahan hati. Absennya satu indra membuat Adrian justru mampu memahami lebih jauh hal-hal di sekitarnya sampai di tataran filosofi, contohnya bagaimana ia memaknai peran mainan bagi anaknya: “menghidupkan karakternya / menyematkan jiwa / dan menitipkan rindu”. Latar belakang dan proses kreatif di balik Sintas memang pilu, namun tak lantas diekspresikan secara gelap. Justru Sintas menghadirkan emosi seseorang yang lapang bertekun mengarungi kehidupan bersama apapun muskil yang mengepung. Kita tidak diajak meratapi, melainkan wawas dan lebih perseptif.

 

 

6. Bottlesmoker – Parakosmos

“Sebenarnya enggak ada tradisi sama sekali dari segi sound. Cuma kalau teman-teman musik tahu, mungkin ada pola-pola tertentu seperti beat-nya yang diambil dari beat kendang. Kami percaya kalau budaya aural atau audio itu punya psikologi yang sangat dekat dengan manusia,” sahut Angkuy kepada WARN!NG, perihal sejauh mana adaptasi musik ritual etnis-etnis Nusantara itu dilakukan di Parakosmos. Sebuah langkah eksplorasi menarik yang didukung kerjasama dengan proyek rekaman non studio (field recording) bernama Aural Archipelago. Kita yang kebanyakan tidak kenal mendalam musik etnik memang akhirnya tidak punya bekal untuk mengidentifikasi adaptasi beat-beat yang dimaksud. Sehingga beberapa bagian akhirnya masih terdengar tempelan belaka. Namun, ini adalah satu dari sedikit album musik elektronik lokal yang enak didengar sekaligus punya nilai lebih dari sekadar coba-coba instrumen.

 

 

5. Scaller – Senses

Dirilis tepat 1 Januari, Senses akhirnya tidak terkalahkan sepanjang tahun 2017 sebagai rilisan paling keren di belantara musik rock lokal. Mereka berhasil bertahan tanpa perlu sanjungan semacam “bla bla bla yang mengundang sing-a-long“, karena yang terjadi justru sebaliknya. Scaller lebih keranjingan memasukkan komposisi-komposisi yang ganjil. Jika kita amati, ada gelagat-gelagat melodi di lagu-lagu mereka yang hampir menjadi generik jika ‘asal sikat’ begitu saja, tetapi terhindar karena dikawal pola irama yang dinamis dan gemar berubah warna. Tidak selalu berhasil memang, tapi manuver-manuver ingar bingar di “Move In Silence” atau “The Youth” yang perkasa itu jempolan. Senses agaknya digarap penuh dengan keseriusan dan kehati-hatian. Belum siap menjadi klasik, namun menjanjikan untuk menjaga gairah musik rock kita yang mulai loyo ini.

 

 

4. Danilla – Lintasan Waktu

Urusan vokal, Danilla sudah tercentang biru karena punya ciri bas dan vibrasi yang mudah dikenal pendengar. Aset itu kemudian menemukan tempat yang lebih baik di Lintasan Waktu, dibanding pada Telisik (2014). Jika di album perdananya tersebut ia terdengar sebatas penyanyi pub atau lounge bintang lima yang kesepian, maka Lintasan Waktu memberikan ruang imajiner lebih luas. Produksi tata suara di album ini memang terbaik. Bening, mahal, dan menggetarkan. Sukses mengakomodir aransemen yang lebih apik, bebunyian synthetizer yang lebih dominan, dan olah ambience dengan resonansi pas. Merintis atmosfir berawang-awang, senapas dengan rasa buncah dalam lirik-liriknya. Gawat, para lelaki akan lebih sering termengung, dan ada Danilla di sana.

 

 

3. Melancholic Bitch – NKKBS Bagian Pertama

Dasar sial! Jika harus ada album yang tidak beres mixing-nya, kenapa itu harus album Melbi? Sound terlalu benderang, terkadang garing, dan tidak impresif, jauh dari kesan sinematik di Balada Joni dan Susi (2009). Awalnya problematis untuk menempatkan NKKBS Bagian Pertama di daftar ini. Ingin tetap mengagungkannya, sama saja mengerdilkan pentingnya perfeksi proses rekaman. Tapi jika mengabaikan substansi konten lirikal di dalamnya yang sedemikian bernas hanya gara-gara faktor teknis, berhenti saja menjadi manusia. Kenikmatan utama dari album ini justru pada ruang interpretasi atas barisan lirik di dalamnya, bagai memecahkan teka-teki. Lebih kompleks dari materi di dua album sebelumnya, sepuluh dari sebelas lagu di NKKBS Bagian Pertama mengelaborasikan masing-masing dua isu berbeda yang berujung pada satu inti konflik yang ternyata serupa. Semuanya adalah pembacaan terhadap propaganda dan hegemoni suharto yang merangsek sampai di unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Di era Orde Baru, keluarga kita sesungguhnya adalah negara, dan suharto berperan sebagai kepala keluarga. Beliau bapak kita semua! Dari urusan ranjang, kepemimpinan itu menjalar hingga konstruksi televisi, apa yang dianggap ilmiah di sekolah, pola pikir mahasiswa, pilihan benih yang harus ditanam petani, rujukan moral, kehidupan bertetangga, jam bertamu, relasi dengan Tuhan, balik lagi ke hasrat ngentot, dan…   sisanya, mari kita tafsirkan sama-sama. Album ini akan tetap penting justru selama pemaknaan kita akan teks di dalamnya belum memuaskan.

 

 

2. Jason Ranti – Akibat Pergaulan Blues

Gitar kopong + harmonika + vokal slengean + lirik storytelling: rumus paling mudah untuk menjadi waris Bob Dylan. Tentu, yang paling membutuhkan talenta lebih adalah syarat yang terakhir, dan ternyata Jason Ranti punya. Meski lagu-lagu di Akibat Pergaulan Blues seakan eksentrik asal-asalan tapi sejatinya ada keseriusan dalam membangun logika bercerita yang baik di baliknya. Misalkan, bagaimana bait pertama hampir selalu punya daya sentak lebih kuat dari bait lain. Begitu juga penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam beberapa lagu yang bengal tapi rapi, seperti dalam “Stephanie Anak Seni”: “Stephanie coba jadi artis / Begitu banyak cat dipunggungnya / Satu dirambut, satu dikuku, satu dialis, satu dibetis, satu di tangan yang lain di punggung / Ia seperti pameran berjalan”. Jason Ranti tidak sekadar menyanyikan lirik. Liriknya sendiri berkembang bersama dengan nyanyian dan lisannya. Ada presisi dalam struktur kalimat yang ia susun untuk menghasilkan kesan resepsi tertentu di tiap bagian yang dilafalkan. Misalnya, “Sungguh tak  penting, aku tak ingin, rasa strowberry, lipstick warna pink / Sungguh tak penting, aku tak ingin, yang aku ingin, ia telanjang”. Itu tadi kita baru bicara bentuk, belum sampai ke isi. Kita mudah terkekeh akan larik-lariknya yang kocak, padahal ada banyak amatan sekitar yang patut kita respons secara serius di dalamnya. Jangan terlena, siapa tahu diam-diam kita dibuat menertawakan diri kita sendiri.

 

 

1. Sisir Tanah – Woh

Ada yang lain dari musik Sisir Tanah dibanding musik-musik pengiring pergerakan sosial lainnya.

Mayoritas musik politis memang digarap sebagai persuasi, atau setidaknya upaya meningkatkan kesadaran akan isu atau gagasan tertentu. Dalam relasinya dengan pendengar, lirik-lirik itu dihidupkan untuk memberitakan, menyindir, mengedukasi, berbagi pengalaman, hingga melayangkan teguran. Ini yang umumnya dilakukan oleh Homicide, Melancholic Bitch, hingga Efek Rumah Kaca.     

Karya Sisir Tanah mengambil fungsi lain. Lagu-lagunya tidak dengan gamblang mengajak pendengar untuk peduli terhadap persoalan tertentu. Lagu-lagunya tidak cukup mandiri mengemban misi mengundang para mahasiswa bertarget lulus lima tahun untuk turun membuat pagar hidup melindungi rumah warga dari alat berat. Bukan itu jalan yang ditempuh. Lagu-lagu Sisir Tanah adalah suara yang seakan lebih ditujukan untuk petani dan aktivis yang berjuang langsung.

Hampir semua lagu dalam Woh menyinggung kata “tanah”, “alam”, dan “air”, namun tidak pernah memberikan konteks isu yang jelas. Pun hanya ada satu kata “petani” terucap di materi Woh, tepatnya di nomor “Konservasi Konflik” yang punya pendekatan lirik paling berbedaPendengar seakan memang diposisikan sebagai petani itu sendiri. Relasi antara narator lagu dengan korban penindasan adalah “aku”, “kamu”, dan “kita”. Intim dan personal. Itulah kenapa puitisasi liriknya tidak melibatkan referensi yang muluk. Mulai dari “Lagu Hidup” yang lugas,”Dan harus berani, harus berani / jika orang-orang serakah datang/ harus dihadang“. Sisir Tanah  menyatakan simpati, melipur, atau mengingatkan para pejuang ini untuk tidak menyerah. Woh bukan karya yang kuat untuk melakukan penyebaran isu, melainkan adalah semangat baik bagi mereka yang sudah terlibat di dalam isu tersebut. Memperingatkan bahwa dunia tidak baik-baik saja, namun senantiasa tersisa harapan di antaranya. Contoh terbaik lainnya adalah “Lagu Baik”. “Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia. Dan jangan ada: benar tak akan pernah ada tempat yang sungguh merdeka,” intimidasi tiada henti, teman seperjuangan semakin sedikit, asa datang dan pergi, namun nyali tak boleh mati, “Panjang umur keberanian, mati kau kecemasan dan ketakutan.”

Tidak berarti peran yang diambil Woh ini lebih baik dari peran yang lain. Namun, menjadi penting karena tak banyak yang menyusuri setapak yang sama. Tak banyak album bagus yang mengambil perspektif dari internal perjuangan yang disuarakannya. Woh mengisi kekosongan. Dan mungkin ini bisa terjadi hanya karena Bagus Dwi Danto, sosok di balik Sisir Tanah juga tidak jauh berjarak dengan isu terkait. Ia adalah saksi kebengisan konflik agraria yang aktif bergerak dari satu panggung ke panggung lain, aktivisme, konser amal, konser solidaritas, hingga panggung seni biasa. Perlahan-lahan, lagu-lagunya ikut tumbuh menjadi materi yang memang terbentuk kukuh sebagai pengawal pergerakan sosial. Dan bukankah setiap pergerakan butuh keberanian, literasi, jejaring, dan kadang-kadang musik bagus?

 

10 Lagu Indonesia Terbaik 2017

Tags

, , , , , , , , , ,

10. Fourtwnty – Zona Nyaman

Kondangnya lagu ini mencerminkan generasi Y dan Z yang katanya lebih sadar pentingnya passion dalam memilih profesi. Generasi yang berharap mampu bekerja “bersama hati”, dibanding terjebak rutinitas kerja yang monoton. Berarti, apakah “zona nyaman” yang mesti ditinggalkan itu cocok memakai kata “nyaman”, atau sejatinya hanya situasi yang dipaksakan oleh sistem masyarakat modern yang tiada ampun? Senangnya melihat teman sekantormu setiap hari mendendangkan lagu ini tiap dimulainya jam kerja setelah makan siang. Pada akhirnya, ia tetap masuk-pulang kantor di jam yang sama dengan beban deadline yang sama. Yah, mudah-mudahan ranjangnya nyaman.

 

9. Bam Mastro – Idols

Salah satu daya tarik utama musik Elephant Kind adalah unsur vokalnya yang terdengar punya sensibilitas R&B. Penanggung jawabnya, Bam Mastro tahun ini menelurkan karya solo dengan label genre Jurban – Jakarta’s Urban. Dan “Idols” sebagai single-nya nyatanya malah punya sesuatu yang sama atraktifnya dengan vokalnya sendiri, yakni efek suara chipmunk yang menggeliang membentuk irama groovy. Unik. Kendati pula sangat berwarna pop, namun lagu ini tidak formulaik, bahkan berdurasi hampir delapan menit dengan komposisi berbeda di paruh akhirnya.  Jika itu belum cukup janggal untuk Anda, tambah dosis dengan video musiknya yang eksentrik.

 

 

8. Zeke Khaseli & Yudhi Arfani Feat Cholil Mahmud – Lazuardi

Bertugas mengisi musik untuk film yang punya kerja sinematografi mengagumkan di lanskap alam, kolaborasi sejumlah musisi andal ini tahu apa yang dibutuhkan. Kata “lazuardi” sendiri secara harfiah berarti warna biru muda yang biasanya merujuk pada warna langit. Adalah hamparan langit Sumba yang menjadi saksi perjalanan Marlina menjinjing kepala pemerkosanya bak pendekar. Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani lalu menambahkan unsur komposisi western tanpa berlebihan. “Lazuardi” telah mewakili, baik panorama sabana Sumba maupun kompleksitas batin Marlina.

 

7. Adrian Yunan- Komedi Situasi

Berkat Adrian Yunan kita mampu mendengar suara unik Elda Suryani menyanyikan melodi yang lebih unik lagi dari biasanya. Terlebih, yang dibawakan pun adalah lirik kontemplatif yang seolah ruang bermain petak umpet antara rasa kesepian dan nuansa hati yang riang, “Waktu si A bertanya ‘Kenapa orang tertawa dan menangis terkadang wajahnya sama lucunya?’ Lalu si B menjawab ‘Mungkin tawa dan tangis lahir dari kesenangan dan kesedihan yang sama'”

 

 

6. Scaller – The Youth

Intro panjang menjulur memberi ruang bagi tiap instrumen bersarang satu per satu, termasuk riff yang bersalin bentuk, tanpa tergesa, sebelum akhirnya suara Stella (vokal) tiba, “My world is dying!“. Drum bersipongang, distorsi menggebu-gebu, vokal meregang. Sebuah nomor anthemic yang tidak terjebak dalam klise-klise anthemic. Sambut “The Youth”, lagu rock paling impresif tahun ini.

 

5. Deugalih – Tanahku Tidak Dijual

Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mencatat setidaknya telah terjadi 450 kasus konflik agraria sepanjang tahun 2016, dengan total luas wilayah 1.265.027 hektar dan melibatkan 86.745 keluarga. Jumlah ini menandakan lonjakan yang sangat signifikan dan hampir dua kali lipat. Dalam perhitungan rata-rata, maka setiap harinya terjadi satu konflik agraria dan 7.756 hektar lahan terlibat dalam konflik. Setara dengan kehilangan sekitar sembilan belas kali luas provinsi DKI Jakarta. Tak ayal jika sampai bulan Maret 2017, sebanyak 17,10 juta penduduk miskin hidup di pedesaan dan ditandai dengan terus naiknya indeks keparahan kemiskinan.

Sepenting itu lagu ini. Sekadar info, data lain yang kami himpun mengatakan jika versi live-nya lebih mantap.

 

4. Jason Ranti – Bahaya Komunis

Phobia masyarakat kita akan ancaman komunisme sering kali berujung jadi lelucon. Kaos Pecinta Kopi Indonesia, logo Kreator, tugu tani, ikan louhan, apalagi setelah ini? “Ya udah gua respons aja, imajinasi lu gua tambahin deh. Sesederhana itu. Kalau lu bisa lebay gua juga bisa,” ujar Jason Ranti dalam wawancara dengan Medium. Bias sejarah yang dijaga sebagai pengawetan ketakutan sebenarnya memang persoalan yang lebih serius dari kelihatannya. Dampaknya mulai dari melanggengkan aksi pemberangusan literatur, politisasi untuk kepentingan elit, atau aksi kriminalisasi ke aktivis buruh dan petani. Sementara adalah kewajiban akademisi untuk memulangkan sejarah menjadi ilmu pengetahuan, satire adalah salah satu bahasa seniman yang bisa jadi partisipasi untuk mengikis ketakutan-ketakutan delusional ini. “Bahaya Komunis” juga rasanya lebih mudah dipertanggungjawabkan dibanding karya “Ikan Louhan” dari Agan Harahap. Dan di luar semua itu, harus diakui lagu ini memang lucu.

 

3. Danilla – Aaa

Single perdana dari album Lintasan Waktu ini menunjukan bagaimana jika talenta dan suara Danilla didukung secara maksimal hampir dalam segala hal. Tata suara yang top, olah instrumen yang optimum, dan bangunan atmosfer psychedelic yang ciamik. Ada ornamen khas Mac DeMarco yang memberi ciri, bas yang melenakan, gema-gema vokal, bahkan erangan solo distorsi. Riah, namun semuanya tetap terjaga di pesona karakter sirep Danilla. Terarah sampai ke detailnya. Sebuah produk musikalitas prima dengan visi.

 

2. Melancholic Bitch – Bioskop, Pisau Lipat

“Penderitaan itu pedih, Jenderal. Pedih. Coba sekarang rasakan silet ini. Juga pedih. Akan tetapi lebih pedih lagi penderitaan kami. Rasakan ini!,” seru tokoh Gerwani bernama Triani dalam novel Pengkhianatan G30S PKI yang diadaptasi dari film berjudul sama. Tak terhitung kajian kritis tentang film Pengkhianatan G30S PKI (1984), baik sebagai manipulator sejarah maupun perannya melegitimasi kepemimpinan suharto. Namun, “Bioskop, Pisau Lipat” menawarkan perspektif yang lain ihwal film itu, yakni dampaknya terhadap pelanggengan patriarki. Adegan Gerwani yang berpesta pora seraya menyilet muka para jenderal di lubang buaya dalam film ini mengkonstruksi stigma perempuan sebagai kaum yang liar. Petaka, jika diberi kuasa lebih. Lagi-lagi karya dari Melancholic Bitch mengejewantah sebagai “pengetahuan”,  bukan hanya nada dan irama. Sebuah lagu–hanya 3 bait–yang mampu menjadi studi akan medium pesan lain dengan pendekatan kritis, naratif, sekaligus afektif. Kendati topiknya kelam, namun ada haru dan indah dalam musiknya.  

Dan kebetulan sungguh kebetulan, single ini terbit menjelang kontroversi pemutaran film epik tersebut digulirkan lagi tahun ini oleh pihak militer. Maka Melancholic Bitch laksana Terminator, tiba-tiba turun entah dari mana, lalu membawa peringatan tentang durjana yang akan tiba.

 

1. Sisir Tanah – Konservasi Konflik

Kamu dengar apa hari ini?

Aku memilih bunyi perutmu

Sebelas menit tiga puluh enam detik

Sitar tanpura mengganti rugi suara angin

Gitar kopong mencampakkan suara sumbang

Antar nonton distorsi dan konser tunggalnya  

Puisi melaju tanpa lampu merah dan pengkolan 

Sajak demi sajak bekerja serabutan

Mozaik sengsara dan pusat belanja Jakarta 

Memekik tak lebih kasar dari azan asar

Bertemu akrab dengan suara buldoser

Tanah-tanah diratakan seperti hujan

Pesawat terbang bersendawa di atasnya

Tentara melaparkan diri

Buku sejarah menghamburkan diri

Sebuah lagu menginap di Kulon Progo

Sampai kemanusiaan ikut habis kontrak rumahnya

Oh, semoga semua sudah donlot

 

 

 

 

 

Raden Mandasia – Yusi Avianto Pareanom

Tags

, , ,

Suatu hari nanti, ketika punya anak, saya akan meminta ibunya mendongengkan Raden Mandasia untuknya. Kenapa harus ibunya? Bukannya mau seksis dengan menegaskan pranata bahwa selalu kewajiban perempuan untuk menidurkan atau mendongengi anak, melainkan ini memang sudah bagian dari skema pembagian tugas bakal rumah tangga saya. Istri saya akan bertugas mendongengi anak dengan fiksi, sementara saya yang non-fiksi. Saya siap sedia mendongengkan Madilog dan Dalih Pembunuhan Massal kepada anak saya di tiap Senin dan Kamis malam.

Lalu kenapa harus Raden Mandasia? Soalnya novel garapan Yusi Avianto Pareanom ini berhasil merangkai saripati narasi-narasi cerita rakyat untuk disuguhkan ulang dengan jempolan. Karya jawara Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2016 ini mengandung kebaruan dan kematangan dari segi konsep sekaligus eksekusi yang sakti.

Sesuai lakon-lakon saga, narasi di dalam Raden Mandasia simpel namun merangsang imajinasi. Dimulai sejak nama-nama tokoh yang memang bercirikan nama-nama tokoh kisahan prosa lama seperti Sungu Lembu, Watugunung, atau Nyai Manggis. Konflik paling abadi sepanjang zaman, yakni balas dendam pun dipilih untuk merajut plot. Gaya tuturnya juga kerap mengandung mistifikasi ala tambo dan legenda. Misalnya untuk melukiskan kecantikan dari seorang tokoh bernama Putri Tabassum, Yusi menulis tentang desas desus adanya ratu dengan keelokan paras yang membuat lingkungan kerajaan kosong dari cermin-cermin, “sebab cermin-cermin itu bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya”. 

Ditemukan berjuntai rujukan terhadap kisah Nabi Yunus, Mahabharata, Sangkuriang, bahkan (jika saya tidak salah berasumsi) tragedi pembunuhan John Lennon. Tak sembarang mengepaknya, semua teranyam rapi dan dihidupkan dengan dialog-dialog kontemporer, sebagian jenaka, sebagian sumpah serapah, sebagian erotis. Tak terasa lawas dan jemu. Ada karakter postmodernisme dalam pendekatan daur ulang narasi-narasi intertekstual dalam Raden Mandasia. Lagipula manalagi cerita rakyat yang tersertifikasi orisinal di Indonesia? Jika Anda percaya kisah Jaka Tarub itu adalah seutuhnya terlisan dari Jawa Tengah, maka Anda mesti belum tamat sastra epik Seribu Satu Malam, atau setidaknya menonton film animasi paling tua di dunia yang masih terarsip berajuk The Adventure of Prince Ahmed (1926).

Imajinasi hanya akan berakhir omong kosong dalam narasi Raden Mandasia jika saja tidak didukung riset dan kemampuan deskriptif yang andal dari Yusi. Di bab pertama, kita sudah lahap dipuaskan dari bagaimana Yusi piawai memaparkan bagian-bagian daging sapi untuk beragam jenis masakan. Selanjutnya, kesaktian tokoh Sungu Lembu dalam mengecap rasa masakan membuat Yusi mampu memamerkan pengetahuan kuliner yang lebih detail dari uring-uringan Chef Juna. Membaca Raden Mandasia berefek membuat lapar pikir.

Jika dongeng fungsinya memang menidurkan bak obat bius, terus saja bacakan Malin Kundang. Saya memilih Raden Mandasia untuk anak saya kelak, seakan-akan saya lupa ada banyak dialog dewasa di dalamnya. Tak apa, siapa bilang cuma televisi yang bisa main sensor.

Anggap saja Raden Mandasia adalah dongeng berlabel Bimbingan Orangtua.

 

Korporasi & Politik Perampasan Tanah – Laksmi A. Savitri

Tags

, , , ,

Jika ada politik yang lebih keparat daripada pencatutan tuhan maka itu adalah perampasan tanah.

Laksmi A. Savitri adalah seorang pengajar dan peneliti antropologi dari Universitas Gajah Mada. Melalui buku Korporasi & Politik Perampasan Tanah, ia menceritakan satu lagi kelihaian negaramu tercinta dalam merenggut penghidupan rakyatnya secara perlahan tapi pasti.

Pada tahun 2007, terjadi pelonjakan harga BBM di dunia yang berujung meroketnya harga pangan dunia. Negara-negara yang punya banyak uang tapi tak punya banyak tanah lama-lama bakal gulung tikar juga, eh tapi mereka punya solusi brilian. Tengok keluar, dan mulai belanja tanah atau tanam modal di negera lain.

Alih-alih mempertahankan diri, pemerintah Indonesia–yang punya banyak tanah tapi tak punya banyak uang–melihat ini sebagai peluang pasar. Sayangnya juga tidak dengan mendayagunakan petani, melainkan korporasi. “Yang penting adalah tanahnya..” Dibentuklah cara produksi terkonsentrasi dalam skala luas berbasis korporasi dan diikat dalam program nasional bernama MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate)

Sesuai namanya, program itu mengambil Merauke sebagai korbannya. Sungguh jenaka mengingat wilayah yang dipilih bukanlah daerah dengan pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakatnya, melainkan berburu dan menangkap ikan. Sekali lagi, “Yang penting adalah tanahnya..”

Padahal tanah adalah dasar dari segala sistem kehidupan masyarakat Marind, termasuk sistem sosialnya. Siapa pemilik tanahnya? Bagi orang Merauke, itu adalah milik Marind. Tapi jika ditanyakan ke pemerintah, tentu mereka bilang itu milik negara.

Banyak sekali pemikiran-pemikiran dalam buku Noer Fauzi Rachman berjudul Petani Dan Penguasa yang jitu untuk mendedah kelakuan negara terhadap orang-orang Marind ini.

Pertama, sempat dikatakan Noer Fauzi Rachman bahwasanya kapitalisme akan melestarikan bangunan lama yang berguna untuk pemenuhan akumulasi modal dan mengawetkan hubungan eksploitasi yang menjadi ciri produksinya. Kapitalisme di Indonesia seringkali melestarikan kolonialisme, bukannya mengaplusnya. Memang, program food estate seperti MIFEE bisa dikatakan merupakan perpanjangan dari program revolusi hijau buatan soeharto, namun lebih jauh dari itu, program MIFEE sebenarnya berangkat dari bagaimana pemerintah Belanda dulu memberikan konsesi pada perusahaan swasta asing untuk membuka areal 10 ribu hektar untuk penanaman padi. Dasar-dasar proyek lawas ini dibangkitkan kembali oleh Bupati Merauke, Frederikus Gebze–yang sampai tahun ini terlibat banyak kasus, mulai dari korupsi, perselingkuhan, kinerja buruk, melindungi investor, dll–dalam wujud konsep megaproyek MIFEE.

Selain itu, pembangunanisme yang berorientasi ekonomi memang cepat atau lambat akan menindas hak-hak ulayat. “Keberhasilan pembangunan” punya banyak ukuran, tapi pemahaman yang hegemonik kemudian adalah tentang fasilitas gaya hidup modern yang instan dan “barat”. Jalan beraspal, hotal berbintang, pabrik-pabrik, lalu kian banyak orang-orang Jawa berstatus pegawai yang hilir mudik di sana menjadi indikator bahwa Merauke semakin maju. Sementara orang-orang lokal di sana bertebaran tetap miskin dan bahkan ada yang menjadi pengemis. Ini potret paling gamblang dari istilah “tercerabut dari tanahnya sendiri”. Mengemis di Tanah Airnya sendiri. Orang-orang Marind menjadi terasing karena terdistraksi oleh proses pembangunan dan progres ekonomi yang mengabaikan budaya dan mentalitas mereka.

Lagipula, seakan-akan modernisasi begitu dibutuhkan. Padahal ketertinggalan atau kemajuan adalah konstruksi. Merauke dibayangkan tak bisa hidup tanpa pariwisata atau industri. Padahal sudah beratus atau beribu tahun mereka hidup damai dengan pola subsisten dalam keluarga dan komunitasnya.

“Kami tidak menjual, menyewakan, atau melepaskan tanah kepada investor, biar kami hidup sederhana. ketiga, tanah kami hanya untuk diolah dan dimanfaatkan oleh anak, cucu, cece kami sampai akhir zaman.”