2. Arrival

Tags

, , , , ,

Image result for arrival poster

Denis Villeneuve

Sains Fiksi

Arrival mungkin adalah film dengan naskah paling dahsyat sekaligus paling realis yang pernah melibatkan kemunculan fisik sosok alien di dalamnya. Saya sampai mengalami post-effect (ini istilah saya sendiri, tak perlu dicari di Google), di mana saya menyadari betapa bagusnya film ini baru setelah hari berganti. Bahkan, saya masih memikirkan isi film ini berhari-hari setelahnya. Dimensi substansinya berlapis-lapis. Ada banyak sekali yang bisa ditulis dan diperbincangkan, dan akhirnya saya sempat memuntahkan sebagian di sebuah artikel Hipwee. Sebagian lainnya biarkan tetap di kepala karena tidak ada kesenggangan waktu yang mengizinkan saya untuk memproduksi tulisan baru. Maaf yang pertama karena akhirnya hanya tulisan saya di Hipwee yang dipublikasikan lagi di sini, dan maaf kedua karena gaya bahasa di dalamnya kemayu. Tukang galon saja bisa jadi banci kalau malam, masa saya tidak boleh menulis ala blogger inspirasi kecantikan untuk cari makan. Silahkan disimak, tautan aslinya ada di sini.

Judulnya: 6 Alasan Kenapa Tak Cuma Anak Sains dan Bahasa, Tapi Anak Komunikasi Juga Wajib Nonton ‘Arrival’


Bukannya Arrival adalah film sains-fiksi? Bahkan, menurut desas-desus, ini adalah film tentang alien? Tepat! Tapi jika kamu mengira film ini berisi adu tembak antara pria-wanita berbaju astronot, pesawat jet mondar-mandir, atau pria bertopeng dengan pedang bersinar ala tongkat parkir, maka hati-hati tertukar dengan Star Wars. Disutradarai oleh Denis Villeneuve, Arrival berhasil mencuri perhatian dengan pendekatan film alien yang menutup absennya adegan-adegan laga dengan kompleksitas drama.

Bicara film sebagai medium informasi dan representasi realitas, film ini tidak cuma cocok untuk kamu yang berkutat di jurusan astronomi, fisika, atau teknik bercinta mesin. Mahasiswa linguistik, komunikasi, atau siapapun yang berminat di bidang sosial dan bahasa juga harusnya bergairah menonton Arrival karena terdapat banyak rujukan penting untuk keilmuan mereka. Nah, tapi lewat artikel ini, Hipwee bakal mengajak ngobrol anak komunikasi dulu. Siapa tahu bisa jadi contoh kasus untuk tugas atau skripsimu yang nggak kelar-kelar itu.

1. Habis nonton film ini, anak komunikasi bisa bilang “Kalau kelak kita diserang alien, kalian semua bakal minta tolong ke siapa? Anak komunikasi!”

Jikalau kamu ingin tahu sekelumit Arrival itu bercerita tentang apa, begini sinopsisnya:

Ada 12 kapal alien datang ke bumi. Anehnya, mereka nggak berbuat apa-apa. Cuma diam aja kayak supir ojek online yang lagi mangkal. Tapi ‘kan rasanya nggak mungkin kalau mereka ke bumi cuma buat nongkrong? Mereka pasti punya maksud. Jadi kita harus bertanya “mau apa lo?” ke mereka. Masalahnya, jangankan bahasa anak gaul Jakarta, mereka juga nggak paham bahasa universal umat manusia . Kita juga nggak paham dengan bahasa mereka. Nah, jadi film ini sesungguhnya cuma tentang upaya manusia untuk bisa ngobrol asyik dengan mereka.

Alhasil, kita bisa bilang kalau film ini punya konflik yang muncul gara-gara masalah komunikasi, dan kemudian diselesaikan juga dengan solusi komunikasi. Menurut karakter utama film ini yang bernama Prof Louise Banks (Amy Adams), “Bahasa adalah senjata pertama yang dikeluarkan saat terjadi konflik.” Memang sih yang maju menghadapi alien-alien itu kemudian adalah pakar bahasa jebolan pendidikan linguistik atau bahasa. Namun, ilmuwan komunikasi jelas tetap ambil peran penting dalam mengambil kebijakan serta menghadapi fenomena semacam ini.

Jadi jika kamu adalah (1) anak komunikasi, (2) tidak punya rencana hidup ke depan yang jelas (3) dan berakhir punya cita-cita mulia mengusir alien dari muka bumi secara halus, maka selamat! Kamu tidak salah jurusan

2. Ada banyak teori komunikasi yang bisa kita pelajari untuk mengkaji film ini. Misalnya, pernah mendengar teori Pengurangan Ketidakpastian?

Adalah Charles Berger yang menyatakan bahwa manusia senantiasa menghindari ketidakpastian. Kita selalu ingin mendapat kepastian tentang orang lain. Pasalnya, ketika berkomunikasi, kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada informasi yang kita miliki tentang orang tersebut. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan cemas. Tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi akan menciptakan jarak, tapi ketidakpastian yang dikurangi cenderung membuat kita nyaman dengan orang lain. Inilah penjelasan logis kenapa kamu suka banget kepo orang lain. Bukan kelainan kok.

Makanya, teori ini penting dalam melihat bagaimana seseorang menjalin hubungan dengan orang asing. Karena tidak kenal dan sulit berkomunikasi, kaum manusia dalam film Arrival digambarkan diliputi kekhawatiran atas kedatangan alien tersebut. Akhirnya, mereka menggunakan apa yang disebut “strategi interaktif” untuk mengurangi ketidakpastian itu dengan mengirim penerjemah agar bisa mendapatkan informasi tentang para alien. Strategi interaktif mencakup interogasi dan pengungkapan diri. Itulah kenapa dalam menginterogasi para alien, Prof Banks juga harus memperkenalkan dirinya. Kita mengenalkan diri kita agar lawan bicara juga makin mudah untuk memperkenalkan dirinya.

3. Ada juga teori komunikasi bernama Linguistik Determinan. Kamu bisa baca teorinya biar terbantu memahami apa hubungannya waktu dan bahasa yang jadi salah satu unsur cerita penting di film ini

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mengutarakan buah pikirnya bahwasanya bahasa sebuah budaya menentukan perilaku dan kebiasaan berpikir orang-orang dalam budaya tersebut. Cara kita memandang dunia dibentuk oleh susunan tata bahasa yang kita pakai. Misalnya, secara umum manusia mempelajari bahasa dan memandang waktu sebagai sesuatu yang linear atau berjalan maju. Bagaimana kita selalu menulis kalimat dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri menunjukan itu.

Ini berbeda dengan bahasa atau aksara para alien yang berbentuk melingkar. Tulisan mereka berbentuk simbol dengan makna yang lebih luas per-simbolnya. Konsep ini juga selaras dengan cara pandang alien itu terhadap waktu. Bagi mereka, waktu tidak linear melainkan berputar. Tidak ada awal tidak ada akhir. Berkat itulah alien bisa menguasai waktu. Mereka bisa mengatur waktu untuk maju atau mundur. Nah, supaya bisa memahami pola pikir dan menguasai waktu juga, manusia pun kemudian harus menguasai bahasa mereka dulu.

4. Adegan-adegan Prof Banks mengajarkan bahasa manusia ke para alien juga sangat menarik untuk diobrolkan bareng teman-teman sekelas

Apakah mungkin memahami bahasa dari komunikan yang tidak kita ketahui sebelumnya memiliki konsep-konsep kehidupan yang sama? Teori Pengartian Semantik dari Charles Osgood menyebutkan bahwa penafsiran adalah cara untuk memahami pengalaman kita. Teori ini berhubungan dengan cara-cara mempelajari makna dan bagaimana makna tersebut berhubungan dengan pemikiran dan perilaku. Makna memang tidak harus dipelajari dari pengalaman langsung, tetapi rasanya harus dipelajari dengan asosiasi antara satu tanda dengan tanda lain. Misalnya, sebelum Louise bisa memahami simbolisasi “makan” dalam bahasa alien, bagaimana cara ia bisa tahu bahwa alien juga menganut konsep “makan” yang sama dengan manusia? Atau bahkan, apakah alien itu sendiri juga melakukan aktivitas makan?

5. Dasar peradaban itu bahasa atau sains? Jangan-jangan justru komunikasi?

Sempat terdapat adegan di mana Prof Banks sedikit adu mulut dengan seorang ilmuwan fisika bernama Ian Donnelly. Prof Banks mengatakan bahwa dasar peradaban manusia adalah bahasa. Di sisi lain, Donnelly membantahnya dengan menyebut sains merupakan dasar peradaban manusia sebenarnya. Mana yang menurutmu benar?

Mungkin kita bisa bilang dasar peradaban manusia memang bahasa, atau lebih spesifik lagi ialah aksara. Peradaban pertama yang kita kenal (mesopotomia) pun konon sama dengan aksara pertama yang kita temukan. Kita bisa kenal kehidupan beribu-ribu tahun lalu karena ada susunan aksara yang membentuk pesan-pesan yang ditinggalkan mereka. Namun, bagaimana ketika kita kini masuk ke era komunikasi visual? Kita mengabadikan pesan tidak lagi di prasasti atau buku, melainkan lewat foto, video, dan lain-lain. Apalagi jika suatu waktu nanti kemajuan teknologi (atau kedatangan alien) membuat kita memiliki kemampuan menerka masa depan, dengan kata lain membaurkan batasan waktu dan ruang? Semua jadi bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan-jangan benar juga tuh kalau dasar peradaban itu adalah sains. Tapi kalau mau lebih spesifik lagi, sains yang dimaksud itu mungkin sebatas teknologi komunikasi saja. Tapi…. tapi… tapi.. puyeng ‘kan?

6. Bukan cuma komunikasi dengan alien, Arrival juga menghadirkan konflik komunikasi antar negara

Nah, yang ini lebih menyinggung komunikasi politik dan wilayah studi Hubungan Internasional nih. Arrival menghadirkan juga permasalahan politik luar negeri. Pasalnya, 12 kapal alien itu dikisahkan turun tersebar di negara-negara berbeda. Problem menyeruak lantaran tiap negara punya kebijakan berbeda untuk merespons kedatangan alien itu. Pertanyaan buat kamu, kira-kira seperti apa bentuk komunikasi terbaik untuk mengatasi permasalahan itu jika peristiwa ini benar-benar terjadi?

Ada hal lain yang menarik terkait kebijakan politik luar negeri. Film ini menunjukan seakan Amerika Serikat adalah negara paling bijak dan humanis dalam menghadapi permasalahan, sementara negara lain seperti Cina digambarkan temperamen, haus peperangan, dan penuh tipu muslihat. Sebenarnya pencitraan semacam ini sudah sering dilakukan Amerika Serikat lewat film-film Hollywood. Tapi kali ini lebih bikin gregetan, soalnya kalau mengingat reputasi dan watak presiden mereka yang baru, bukan tidak mungkin Amerika bakal langsung kirim nuklir sembarangan tanpa banyak pertimbangan jika mereka benar-benar kedatangan alien. Sesama manusia aja diserang, apalah arti alien.


https://i0.wp.com/image-serve.hipwee.com/wp-content/uploads/2017/01/hipwee-arrival-movie-4-e1471529984165-750x394.png

Sekian artikel Hipwee tersebut. Nah, ada hal menarik terkait poin ketiga di sana. Saya memasukan teori Linguistik Determinan hanya karena analisis kecil-kecilan yang berbasis perbendaharaan teori ilmu komunikasi yang tentu masih terbatas. Sebulan setelah menulisnya, saya mendapat tugas presentasi di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dengan salah satu materinya adalah…..  teori Linguistik Determinan! Ups, ini kebetulan pertama.

Usai kemudian iseng berselancar di Google untuk mempelajari materi presentasi itu, saya menemukan sebuah artikel wawancara dengan seorang pakar linguistik mengenai film Arrival. Dijabarkanlah bahwa sebagian besar kisah Arrival ternyata memang benar-benar mengadaptasi….. teori Linguistik Determinan! Waw, mendadak saya merasa sudah pantas dipanggil tentara Amerika Serikat untuk kopi darat bersama alien.

Best Lines: 

“Language is the foundation of civilization. It is the glue that holds a people together. It is the first weapon drawn in a conflict.”

After Watch, I Listen: Radiohead – Daydreaming

3. Zootopia

Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk zootopia poster

Animasi, Komedi

Byron Howard & Rich Moore

Di tahun 2016, kita juga punya Finding Dory, Moana, dan Kubo and The Two Strings untuk mengajak keponakan berusia “bimbingan orangtua” ke bioskop. Namun, Zootopia adalah satu-satunya yang bahkan bisa membuat pemuda atau paruh baya sibuk memperbincangkannya lagi seperti kumpulan anak SD yang baru saja menonton satu episode Kamen Rider. Sangat bernas.

Padahal, di kala film animasi terkini harus berkompetisi bersenjatakan pengembangan teknologi visual, adaptasi kisah dongeng klasik, atau tema besar yang sangat unik, Zootopia menawarkan sesuatu yang standar dan tertangkap dari posternya yang tidak menarik sama sekali: fabel. Bandingkan dengan begitu inovatifnya Inside Out mengambil personifikasi atas kategorisasi emosi manusia misalnya, pilihan antropomorfisme (memasukan karakteristik manusia ke benda non manusia) dari Zootopia adalah objek hewan yang digiring untuk menggambarkan kehidupan urban manusia. Sungguh tampak usang dari luar kalau saja tidak didukung deretan trailer kreatifnya.

Namun, jangan tanyakan eksekusinya. Sebagaimana namanya, Zootopia yang hampir pasti gandengan kata zoo dan utopia adalah sebuah kota di mana relasi primitif mangsa memangsa antara kaum mamalia dan predator telah punah karena masyarakatnya digambarkan sudah modern dan berpikiran maju. Seluruh hewan hidup harmonis, namun ternyata hanya di permukaan sosial. Kendati bebas dari konflik fisik, masih ada ketimpangan secara struktural. Perbedaan tiap spesies masih meninggalkan stereotip yang berdasarkan pola standarnya berakhir menuju segregasi rasial dan marginalisasi peran serta akses sosial. Slogan “In Zootopia, anyone can be anything” adalah mitos. Tidak ada yang bisa memerdekakan identitas sosial masing-masing spesies. Babi adalah lemah, harimau pasti galak, dan serigala selalu berbulu domba. Film ini memulainya dengan bagaimana Judy Hoops, seekor kelinci ambisius, harus berjibaku menghadapi tindak diskriminasi dalam profesinya di institusi kepolisian dibanding rekan-rekannya seperti banteng, badak, harimau, gajah, yang notabene merupakan spesies yang dipandang lebih unggul dalam hirarki yang laten…. dan sampai di sini, saya bingung sedang menulis sinopsis film animasi atau membuat ikhtisar teori strukturasi Anthony Giddens….

Hasil gambar untuk zootopia

Sama seperti Animal Farm dari George Orwell, Zootopia menggunakan fabel untuk membongkar kebobrokan sosial. Zootopia berhasil memaksimalkan elemen-elemen eksklusif yang hanya dimiliki film animasi untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi, relasi kuasa kaum mayoritas, dan konflik struktur sosial. Bobot narasi ini menyatukan urgensinya terhadap segala usia. Menjahit pesan moral tentang “apa yang salah dan harusnya dilakukan” kepada penonton kanak-kanak sekaligus menunjukan realitas tentang “apa yang kenyataannya sudah terjadi” kepada khalayak dewasa.

Apa yang dialami oleh para predator di bagian konflik film ini melukiskan apa yang terjadi pada misalnya, para kaum Tionghoa atau keluarga partisan PKI di Indonesia. Stereotip dan stigmatisasi adalah peluru pertama untuk menciptakan hegemoni yang melumpuhkan posisi mereka di struktur sosial. Namun, mungkin yang paling dekat dengan situasi hari ini adalah apa yang dialami oleh orang Timur, khususnya warga Papua yang tengah merantau di Jawa. Watak mereka yang keras dikembangkan sedemikian rupa dari mulut ke mulut dan kanal ke kanal untuk membentuk prasangka subjektif bahwa mereka adalah barbarian, senggol bacok, karakter GTA (Grand Theft Auto) hingga penyakit masyarakat. Salah satu tujuannya adalah melunturkan simpati masyarakat pada warga Papua, sehingga ada keraguan dalam menyikapi perjuangan hak asasi manusia dan perebutan kembali hak kekayaan sumber daya alam di Freeport. Korban terdekat, kakak sepupu saya pernah berkata, ”Kayaknya memang sulit juga buat TNI untuk tidak melakukan kekerasan pada orang Papua di sana (Freeport), mereka memang ngawur orangnya”, seakan sumber masalah adalah sifat dasar etnisnya. Ya iyalah, kalau rumahmu dirampok, orang Jawa yang katanya alon-alon kelakon juga bisa menjelma jadi ora wedi getih, tak gajul tugel ndasmu! Ini faktor eksternal, Bung, eh Mas.

Selain narasinya, elemen paling menawan dari Zootopia adalah semesta yang dibangun di dalamnya. Representasi brilian dari problematika kehidupan urban. Bayangkan ada gajah menjual es krim tidak sesuai dengan standar kebersihan makanan, musang yang membuka lapak CD bajakan, dan cheetah yang hobi narsis di ponsel karena bekerja di departemen kepolisian yang menjemukan (ingat dengan ulah Briptu Norman?). Adegan Sloth yang pecah itu juga rasanya menggambarkan lambatnya kerja birokrasi.

Zootopia adalah bentuk karya realisme sosial dalam animasi. Takjub mengetahui bahwasanya justru adalah film animasi yang paling membantu kita memahami realitas di dunia ini, tapi sekejap saya teringat bahwa kelakuan kita akhir-akhir ini memang lebih mirip hewan daripada manusia.

 

Best Lines:

Mr Big : I trusted you Nicky. I welcomed you into my home.we broke beard together. Gram-mama made you cannoli.  And how did you repay my generiosity? With a rug made from the butt of the skunk. A skunk-butt rug. You disrespect me. You disrespect my gram-mama who i buried in that skunk Butt rug.

 

After Watch, I Listen: Animal Collective – FloriDada

4. The Wailing

Tags

, , , , , ,

Image result for the wailing poster

Mistery, Horror

Na Hong-jin

Saya pernah mendapati sebuah senarai tonton film Korea dengan tajuk “20 Korean Films That Aren’t Oldboy”. Wuaduh, merasa tersindir nih. Soalnya memang cuma Oldboy, satu-satunya sinema Korea yang sudah saya tonton waktu itu. Di pertengahan tahun kemarin, saya akhirnya baru menonton dua film Korea lagi: The Wailing dan The Handmaiden. Dua-duanya keren, tapi kebetulan saya memang selalu kurang nyaman dan sedikit enek dengan pendalaman unsur erotis wanita semacam yang ditampilkan di The Handmaiden, mengingatkan pada film biru legendaris Asia, Sex and Zen. Masyaallah, begini susahnya jika penonton film punya standar akhlak setinggi saya.  

The Wailing sebenarnya pun mengangkat genre yang kurang klop untuk saya. Semenjak hilang kepercayaan dengan hal-hal gaib, saya praktis terhambat untuk menikmati film horor. Film horor bagi saya adalah saudara kembar film fantasi. Elemen-elemen ceritanya sulit direfleksikan pada kehidupan nyata, sebagaimana standar kunci saya dalam merasai dan menghargai sebuah sinema. Selain itu, kendati seseorang tak harus ketakutan untuk bisa diartikan menikmati film horror, tapi kemampuan membujuk bulu roma untuk berdiri seharusnya masih jadi salah satu parameter keberhasilan sebuah film horor. Sepengetahuan saya, membuat orang terhibur lewat medium rasa takut adalah ide dasar reka cipta film horor.

Anehnya, saya merinding menonton The Wailing. Film ini tidak menjual adegan-adegan mengagetkan. Tiada pula membuat saya terus berpikir sesuatu yang tidak masuk akal bakal muncul mendadak ketika saya lewat kuburan tiap pulang dari kantor Warning atau di kantor Hipwee sendiri yang dikenal berhantu oleh para tetangga. Sisi seram yang menerpa saya berasal dari pola sederhana: Siapa antagonis—dalam konteks ini adalah setan—sebenarnya? Ketidakpastian ini yang memproduksi perasaan horor. Nyawa (keluarga) tokoh utama terancam oleh sosok yang belum diketahui, bisa kawan atau lawan. Logika kerja makhluk halus yang selalu dikonstruksi berkekuatan super kian mempertegas ancaman. Ini pola regular film horor, namun misteri bekerja sangat baik di The Wailing.

Image result for the wailing

Setiap film horor supranatural pasti menceritakan omong kosong. Namun, omong kosong di The Wailing sanggup menunjukan betapa ringkih hati manusia, serentan itu dengan tipu daya. Sekali putus asa, manusia adalah makhluk yang begitu mudah terombang-ambing, berganti keberpihakan, dihasut, dan sekonyol-konyolnya adalah beralih ke kuasa klenik. Cerminan masyarakat yang lapuk. Film ini memang mengadaptasi kepercayaan rakyat dan spiritualitas tradisional di Nepal dan Korea, serta sedikit Katolik. Atmosfir wingit masyarakat pedesaan di era modern diwujudkan dengan cemerlang.

Klimaks The Wailing ada pada ending-nya yang enigmatis. Siapa sesungguhnya antagonis-protagonis di film ini belum terjawab memuaskan. Seluruh teman saya yang sudah menonton juga tampak tidak paham dengan apa yang terjadi di film ini. Namun, ambiguitas ini sukses memotivasi saya untuk mengulang-ulangnya kembali. Dan sebagaimana film misteri yang bagus, akan ada banyak orang senggang yang mencoba mendakwahkan penjelasan narasi versi mereka. Nah, ini versi yang paling saya percaya:

INI SPOILER POL, jangan ngeyel:

Korbannya jelas adalah sang karakter utama, Jong-goo dan keluarganya. Sebenarnya, pihak baik di sini adalah si perempuan misterius (Chun Woo-hee). Lalu pihak jahat sebagai sang iblis yang diburu adalah si orang Jepang (Jun Kunimura). Selain terlihat dari wujud fisiknya di bagian akhir, tidak ada juga karakter lain yang kedapatan pernah menyentuh fisiknya secara langsung sejak awal film. Nah, si Syaman (Hwang Jung-min) kemungkinan besar adalah komplotan si orang Jepang. Ada beberapa klu, seperti model busana sejenis ‘popok’ yang dikenakannya ternyata sama dengan yang dikenakan si orang Jepang, dan yang paling jelas adalah adegan terakhir, di mana ia menyimpan banyak foto para korban di desa tersebut. Menurut tafsiran saya, kemungkinan besar si Syaman mulai dikendalikan oleh iblis sejak ritualnya dihentikan paksa oleh Jong-goo. Tapi bisa juga si Syaman memang bekerjasama dengan iblis untuk mencari uang dari pekerjaannya sebagai pengusir iblis itu sendiri. Brengsek.

Best Lines:

Japanese Stranger: You’ll go without doing anything?

Priest: That’s right. I’ll go without doing anything

……

Japanese Stranger: Who says i’m going to let you go?

After Watch, I Listen: Nick Cave & The Bad Seeds – Girl In Amber  

5. The Nice Guys

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk the nice guys poster

Comedy, Crime

Shane Black

The Nice Guys diawali dengan adegan yang patut untuk menjadi video musik lagu-lagu di album Appetite for Destruction milik Guns N’ Roses. Seorang anak kecil berpiyama sendirian mendapati seorang bintang porno telanjang dan terlentang di antara puing-puing kecelakaan mobil yang kemudian berbisik lirih, “How do you like my car, big boy?”. Selanjutnya? Struktur cerita yang janggal dan plot yang seperti ditulis orang yang selesai minum tujuh sloki Johnnie Walker. Saya tidak menonton dan mendengarkan produk budaya pop apapun yang lebih rock & roll dari The Nice Guys sepanjang tahun 2016 kemarin.

Set naskah “buangan” dari rancangan proyek serial TV ini masih seputar wilayah urban Los Angeles 70-an yang berjejal kriminalitas dan intrik dunia hitam. Ryan Gosling berperan sebagai Holland March, seorang detektif yang tidak punya daya penciuman dan ketenangan berpikir. Sementara Russel Crowe bermain sebagai Jack Healy, semacam tukang pukul bayaran yang awal perkenalan dengan Holland adalah dengan memukulinya. Demi mencari seorang gadis ABG bernama Amelie, keduanya diombang-ambing masuk ke skandal film porno–yang ada ceritanya–independen yang ternyata digarap dengan misi menyingkap sebuah skandal yang lebih besar.

Di antara duet keruh itu, ada Holly March (Angourie Rice), putri Holland berusia 13 tahun yang sebenarnya punya posisi tipikal di film-film action: lemah dan diremehkan, tapi kadang menciptakan peluang-peluang penyelesaian masalah yang tak terduga di saat genting. Bedanya, keberadaan Holly tidak membuat kita merasa terganggu seperti karakter-karakter sejenisnya di kebanyakan film lain. Ia berkontribusi di banyak adegan dan dialog kocak, tak mudah membangun tokoh yang seperti ini.

Hasil gambar untuk the nice guys

Alur pengisahan The Nice Guys memang tidak rapi. Merugi jika Anda dipusingkan bangunan jalan ceritanya, nikmati saja dialog-dialog jenaka dan cerdik yang dirias dengan kemasan neonoir yang sedikit komikal. Anggaplah sedang ngobrol sembari mempermainkan seorang teman yang mabuk dan mengoceh tanpa nalar. Sementara sinkronisasi antara tokoh Healy dan Holland adalah keberhasilan terbesar film ini. Keduanya tampil prima untuk melukiskan kekacauan yang muncul dari pertemuan antara detektif yang bertindak sebelum berpikir dengan tukang pukul temperamental.

Elemen caper di film ini berasal dari kasus penuh persekongkolan dan tipu daya yang mesti dihadapi Healy dan Holland. Namun, kebanyakan kejutan sebenarnya bukan dari permasalahan atau trik tokoh antagonisnya, melainkan berasal dari kebodohan tokoh protagonisnya sendiri. Kelanjutan pilihan-pilihan tindakan dari mereka bisa menukik jauh dari perkiraan hingga membuat haluan plot sukar diterka. Belum lagi humor yang menggelantangkan logika. Tentu saja tokoh March paling sering menjadi dalang utama.

Lewat The Nice Guys, saya sudah jatuh cinta pada Gosling tahun ini jauh sebelum La La Land naik layar. Bahkan, semenjak melihat adegan pertamanya di film Big Short (2015), saya sudah yakin orang ini bangsat. Gosling tidak dikenal sebagai aktor film komedi, jejak rekamnya lebih penuh dengan film-film romantis atau drama serius, tapi aura komediknya seakan meluap-luap di tiap gestur dan ekspresinya. Tak bisa dipendam lagi hasrat berandai-andai jika ia kelak bermain untuk Quentin Tarantino atau berduet dengan Samuel Jackson. Atau setidaknya, bagaimana kalau probabilitas adanya sekuel film ini ditindaklanjuti dahulu?

Best Lines:

Holly: You’re the world’s worst detective.

Holland March: I’m the worst?

Holly: Yeah!

Holland March: The “worlds” worst?  

After Watch, I Listen: Red Hot Chilli Peppers – Dark Necessities

6. Lion

Tags

, , , , , , , ,

Hasil gambar untuk lion poster movie

Drama

Garth Davis

Agaknya Lion ialah film internasional dengan tingkat kompleksitas cerita paling ringan yang saya tonton sepanjang tahun 2016 kemarin. Di luar prestasi film ini menyelundupkan enam nominasi Oscar, alasan paling kuat bagi saya mencintai film ini sesungguhnya bukan secara teknis, melainkan asas keterhubungan secara personal dengan kisahnya. Pencarian jawaban perihal riwayat diri yang baru saja saya temukan awal tahun ini. Hanya beberapa hari pasca-jawaban itu datang, saya menjumpai film ini, berempati dengan tokohnya dan sebuah resolusi yang terwakili dalam kalimat dialog berbunyi “i found her but that doesn’t change who you are”.

Sayangnya, saya bukan selebriti sehingga kisah pribadi saya tidak akan menghasilkan uang, jadi tidak ada faedahnya untuk diceritakan di sini. Mending saya memperbincangkan filmnya saja, karena justru lewat itu selama ini ada orang yang mau membayar saya. #ketahuanburuh

Lion mengadaptasi kisah kehidupan nyata yang dibukukan dengan tajuk A Long Way Home (2013) dari Saroo Brierley, seorang pebisnis asal Australia. Saroo sesungguhnya adalah kelahiran India yang terpisah dari keluarganya sejak tersesat seorang diri di sebuah stasiun. Usianya kala itu masih terlalu kecil untuk bisa berpikir dan menanggapi situasi tersasar dengan jernih, sehingga apa yang ia lakukan hanya membawanya terdampar ke sana ke mari, kian jauh dari tempat tinggal keluarganya. Di negara periferal seperti India, teknologi pendataan dan pencarian mungkin belum terlalu canggih pada tahun 1986, ditambah lagi dengan ketidakcakapan Saroo untuk menjelaskan identitas keluarga dan daerah asalnya ke pihak yang ingin membantunya. Ia resmi hilang dan lalu diadopsi oleh sepasang suami-istri di Tasmania, Australia. Selang 25 tahun, tatkala kognisinya dan kemajuan teknologi sama-sama tumbuh dan siap, ia kembali mencari keluarga aslinya.

Separuh jalan film ini dihabiskan untuk menyimak kebingungan Saroo kecil (Sunny Pawar) di lorong-lorong stasiun atau rel pinggiran. Dibalut palet warna kuning dan score melankolis, Davis berhasil menghidangkan sisi panik dan cemas dari Saroo kecil lewat gambar-gambar goyah dan penuh hiruk pikuk. Sementara di paruh akhir film, tepatnya pasca-adegan Saroo dewasa (Dev Patel) kebetulan melihat jalebis—kudapan manis khas India yang mengingatkan pada masa kecilnya, mulailah kita disuguhi babak eksplorasi kebingungan tokoh Saroo dewasa. Ia memutuskan untuk mulai mencari tahu tempat tinggalnya via Google Earth disertai sisa-sisa ingatannya yang lamat-lamat.

Kecewanya, film ini kurang mampu membabarkan metode Saroo mencari posisi rumahnya melalui peranti tersebut dengan detail dan jelas. Saya baru mulai paham tahapan prosesnya memakai Google Earth setelah membuka-buka beberapa artikel tentang kisah asli Saroo. Saya jadi sadar kembali dengan bahayanya kesaktian teknologi ini. Jika orang biasa saja bisa menemukan sebuah wilayah asing yang pasti sudah berpuluh tahun mengalami banyak perubahan, betapa mudah pengontrol utama mesin-mesin itu menguasai segala ruang untuk berbagai kepentingan. Tak ada lagi ruang di atas bumi yang tak terlihat oleh mereka.

Hasil gambar untuk lion movie 

Selain kenangan terhadap jalebis, mungkin momentum hilangnya Manthos (Divian Ladwa) juga mendorong Saroo untuk lebih berusaha keras menemukan keluarga aslinya. Manthos adalah saudara sesama adopsi yang mempunyai sejenis kelainan mental yang membuatnya suka menyakiti diri sendiri. Beda dengan Saroo yang meneruskan hidupnya diiringi kesuksesan di berbagai bidang, Manthos tumbuh dewasa dengan masalah. Tekanan dari Saroo di suatu waktu membuat Manthos ‘ngambek’ dan melarikan diri. Merasa bersalah kepada kedua orangtua adopsinya, Saroo pun mencarinya. Perasaan itu yang bisa jadi mengingatkannya pada kemungkinan rasa bersalah dan nanar yang juga dialami oleh kakak kandungnya di waktu silam ketika kehilangan dirinya di stasiun.

Hampir semua teman saya menyanjung film ini usai menontonnya di bioskop, meski sebelumnya mereka harus dibujuk nonton dengan jawaban dari pertanyaan semacam “Tidak ada joget-jogetnya ‘kan?”. Tolong perhatiannya, Lion bukan film Bollywood. Ini spesies film yang memperlakukan India hanya sebagai set dan konteks. Pun andai menurutkan sesi goyangan lokal tersohor itu, pasti semata disajikan sebagai bumbu dengan kemasan yang tetap lebih dekat dengan atmosfir Hollywood.

Memang paling mudah (atau malas?) untuk membandingkan Lion dengan Slumdog Millionaire, salah satunya karena kehadiran Dev Patel. Selain pertanyaan “Itu yang jadi bocah kampung di Slumdog Millionaire? Kok jadi keren seperti itu?” (Lha memangnya aktor yang pernah berperan jadi bocah kampung hanya punya pilihan tampilan fisik yang kompatibel dengan peran preman kampung atau narapidana ketika dewasa?), pertanyaan lain yang sering harus saya jawab adalah “Kenapa Dev Patel masuk nominasi Best Supporting Actor, bukan Best Actor?” Jawaban pakem tanpa riset dari saya adalah karena ia memang hanya muncul separuh film. Kendati Saroo adalah karakter yang benar-benar sentral di film itu, namun Dev Patel harus berbagi porsi dengan Sunny Pawar—sebagai Saroo kecil—untuk memerankannya. Ini berbeda dengan barisan nominator di Best Actor yang memang muncul dari awal sampai akhir, mengendalikan plot film masing-masing secara utuh. Yah, lagipula saya pikir acting Dev Patel tidak ada apa-apanya dibanding Casey Affleck, Denzel Washington, atau Ryan Gosling. Kansnya justru lebih besar di Best Supporting Actor, walau tidak terhindarkan juga untuk berakhir kandas. Setidaknya ia akan menang jika saja ada kategori Perubahan Wajah Paling Dipergunjingkan di Tahun 2016.

 

Best Lines:

Because we both felt as if… the world has enough people in it. Have a child, couldn’t guarantee it will make anything better. But to take a child that’s suffering like you boys were. Give you a chance in the world.

After Watch, I Listen: Coldplay – Hymn for the Weekend

7. Manchester by the Sea

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk manchester by the sea poster

Kenneth Lonergan

Drama

“If you could take one guy on an island with you and you knew you’d be safe because he was the best man, that he was going to keep you happy, if it was between me and your father who would you take?”­ – Lee

Lee Chandler (Casey Affleck), seorang tukang reparasi segala rupa harus memakan kembali kata-kata di atas yang ia ucapkan dalam nuansa bersenda-senda pada keponakan kecilnya saat tengah asyik memancing bersama. Sepuluh tahun kemudian, kakak Lee meninggal dunia, dan ia dipasrahi tanggung jawab menjadi wali dari keponakannya yang kemudian sudah menginjak usia remaja tersebut. Salah satu konsekuensinya, Lee mesti pindah ke kota bernama Manchester By The Sea. Masalah terbesarnya adalah Lee punya kenangan nahas di sana. Ia menyebabkan kebakaran rumahnya sendiri hingga tiga anaknya meninggal dunia. Istrinya pun akhirnya meminta cerai. Keluarganya hancur lebur di kota itu. Kepribadian Lee pun berubah drastis setelahnya, muram dan labil. Bisa jadi memang wasiat sang kakak untuk menariknya kembali ke kota itu bertujuan agar Lee berani menghadapi masa lalunya. Namun, tentu tak mudah. Lee memutar otak untuk tidak harus pindah ke sana tanpa meninggalkan tanggung jawabnya.

Lee bisa saja mengajak keponakannya yang bernama Patrick (Lucas Hedges) itu untuk pindah ke Boston, kota pelariannya selama ini. Namun, Patrick menolak. Jelas saja, jika Manchester by the Sea adalah kenangan lara untuk Lee, kota itu justru adalah hidup Patrick. Ia membangun jejaring eksistensi dan pergaulan yang sempurna di sana.

“All my friends are here. I’m on the hockey team, I’m on the basketball team. I got to maintain a boat now. I work on George’s boat two days a week, I got two girlfriends and I’m in a band. You’re a janitor in Queensie. What the hell do you care where you live?” – Patrick

Nalar tidak sanggup membuat Lee menjawabnya. Patrick belum cukup dewasa untuk berempati terhadap apa yang ia lewati. Kedewasaan Lee diuji. Sembari menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya, Lee melewati hari-hari bersama Patrick dengan relasi yang menarik.

Image result for manchester by the sea

Hubungan antara om dan keponakan yang kasual digali menjadi harmonisasi yang realistis. Karakter seorang ‘om’ biasanya memang cenderung lebih terbuka dan liberal menurut relasinya dengan seorang keponakan yang berstatus ABG. Terlihat bagaimana Lee lebih memosisikan diri sebagai kakak dibanding orangtua bagi Patrick kendati tetap ada kekakuan dan ketidaknyamanan pada beberapa konteks interaksi di awal yang kemudian menjadi jenaka, misalnya dialog ketika Patrick pertama kalinya meminta izin menginapkan teman wanitanya di rumah. Bahkan, untuk ukuran orang barat yang punya gaya komunikasi individualistik dan low context, masalah ini tetap ada. Kendati sama-sama melibatkan unsur konflik generasi, namun beda dengan 20th Century Woman atau Fences, “mendidik” bukan problem yang menguntai pada sekujur plot di Manchester by the Sea, melainkan upaya Lee memasukan kepentingan Patrick dalam skemanya untuk berdamai dengan masa lalunya.

Kendati sejak awal saya tahu bahwa Manchester by the Sea bukanlah kota Manchester yang kondang di Inggris itu, namun entah kenapa saya tetap merasa ada cita rasa british di film ini. Bisa karena sugesti, lebih mungkin karena atmosfir subtilnya. Salah satunya didukung oleh pembawaan karakter yang dingin sekaligus emosional dari Casey Affleck. Trofi Oscar adalah ganjaran dari kecemerlangannya menampilkan dua personalitas yang jauh berbeda dalam satu tokoh. Tampil sebagai Lee di versi perwatakan sebelum tragedi kebakaran terjadi maupun versi perwatakan pasca-kebakaran, Affleck membuat kita percaya semuanya muncul dari satu tokoh yang sama. Sebuah kinerja luar biasa dari Affleck, meski saya pikir bukan ide buruk juga jika peran sebagai Lee sebelumnya benar-benar disikat oleh Matt Damon.

Manchester By The Sea ialah contoh film yang bisa memberikan efek sentimental dari cara yang tidak bisa dibedah dan dianalisa secara selayang saja. Bukan sekadar dari naskah maupun dramatisasi di adegan-adegan tertentu. Semua aspek produksi begitu korelatif membangun emosi. Padahal, gejala konflik film ini baru menjengul di paruh tengah film berjalan, namun kita bisa terbujur kaku di depan layar sejak awal.

Best Lines:

“Who are you going to shot? You or me?”

After Watch, I Listen : Bon Iver – 33 God 

8. Fences

Tags

, , , ,

 

Image result for fences poster

Drama

Denzel Washington

Bagi saya, menonton Fences ibarat makan Big Mac. Salah satu alasan kenapa saya akan tetap terhalang beban moral-kuliner untuk menjadi Marxis—entah sebanyak apapun buku Tan Malaka yang saya baca—adalah karena saya sangat doyan hamburger di McDonald. Apalagi Big Mac. Favorit. Porsinya lebih dari memenuhi hajat indra pengecap saya, kendati saya sampai harus menguras keringat dan meluangkan banyak waktu untuk melahapnya habis. Kerepotan tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Saya juga sangat doyan dengan film yang memuat dialog-dialog cepat, intens, dan cerdas. Fences benar-benar memenuhi selera itu, sebuah film dengan dialog bertubi-tubi. Favorit. Saking rapatnya, penonton bisa tersesat hanya karena menonton disambi memotong kuku atau makan makanan yang merepotkan seperti makan bubur ayam pakai sumpit yang beda panjangnya. Saya juga sempat kewalahan dengan dialog-dialog yang memberondong di film ini, mengingat ada pertemuan antara kecakapan bahasa Inggris saya yang pas-pasan dan situasi menonton di mana saya tetap dituntut melayani penulis Hipwee yang minta approval ide artikel via whatsapp.  Kerepotan, tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Diadaptasi dari naskah sandiwara pemenang Pulitzer Prize di tahun 1987, kisah Fences berpusat pada Troy (Denzel Washington), seorang kulit hitam yang punya watak sempit hati dan penuh antipati. Ia membenci semua hal yang ada di hidupnya selain istrinya (Viola Davis). Amarahnya terhadap struktur sosial yang menyudutkan kaum kulit hitam di masa mudanya masih terus menyala-nyala kendati orang-orang di sekitarnya meyakinkannya bahwa zaman sudah mulai berubah. Ia selalu skeptis terhadap segala situasi di sekitarnya. Saya pernah bertemu beberapa orang dengan karakter seperti Troy, yang mana keras kepala, bawel, arogan, gemar menggurui–yang kadang berujung membual. Orang sejenis ini kecenderungannya pun tak merasa nyaman jika tidak dominan, terlihat dari bagaimana Troy selalu meminta dukungan dari Bono (Stephen Henderson), sahabatnya untuk melegitimasi celotehannya.

Image result for fences movie

Ada banyak problematika yang lahir dari tabiat Troy ini, tapi yang paling berkesan bagi saya adalah relasi dengan anak-anaknya. Ia punya dua putra. Yang pertama adalah Cory (Jovan Adepo) yang merupakan buah hatinya bersama Rose, serta Lyons yang berasal dari perkawinannya sebelumnya. Sebagaimana 20th Century Woman, terdapat konflik generasi orangtua-anak dalam narasi film Fences. Hanya saja, beda dengan karakter Dorothea (Annette Bening) dalam film itu yang memang berupaya memahami perbedaan konteks zaman, Troy sengaja menutup diri. Kolot garis keras. Ia memaksa Cory untuk memprioritaskan keterampilan perburuhan paruh waktunya daripada bakatnya sebagai pemain American Football. Begitu juga sindiran pedasnya pada Lyons yang kerap mengalami kesulitan finansial karena kukuh mengejar mimpinya sebagai musisi daripada mencari sesuap nasi lewat pekerjaan kasar. Tentu ini adalah tipikal orangtua yang tidak pernah kita suka, tapi bukankah kita cukup dewasa untuk memahami motif mereka? Selaiknya kita mengingat sisi cerewet orangtua kita sendiri yang dulu gemar kita bantah, namun beroncet-roncet kita makin sadar ada benarnya. Apalagi sejak kita mulai bisa memahami cerita-cerita masa kecil mereka, sama seperti bagaimana kita mengenal apa saja yang sudah dilalui Troy dalam kehidupannya.

Basil Bernstein, dalam pendekatan sosiolinguistiknya menyebut pola interaksi keluarga semacam ini tergolong dalam kategori positional relation. Kuasa, tanggung jawab, dan keleluasaan berkomunikasi dari masing-masing anggota keluarga diberikan berdasarkan posisinya di struktur keluarga. Ini ditekankan dari sebuah dialog di mana Troy mengatakan bahwa adalah semata tanggung jawabnya sebagai ayah yang membuatnya berkomitmen untuk banting tulang menghidupi keluarganya, bukan karena alasan romantisme dan lain sebagainya. Setiap posisi memiliki tanggung jawab dan peran. Sangat kaku, tapi ini lazim terjadi di dekade 50-an. Model hirarkis ini biasanya didasari ketakutan atas ragam interaksi yang tak terkendali jika setiap anggota keluarga memiliki kuasa yang sama. Ini seusai dengan pagar (fences) yang dibuat Troy untuk membatasi pekarangan rumahnya sebagai metafora upaya Troy menjaga pengaruh buruk masuk dan menginterupsi kehidupannya.

Hanya ada tujuh karakter yang ditampilkan secara fisik di film ini dan semuanya memiliki penokohan yang kuat, kendati Denzel Washington dan Viola Davis jelas mendapat kredit tersediri. Denzel tampil trengginas membawakan karakter paling cerewet sekaligus dominan yang pernah saya tahu, baik saat nuansa hati Troy sedang baik atau buruk. Sementara Viola Davis tak ada cela memerankan istri yang sederhana dan berdedikasi dalam pekerjaan domestik, serta mampu menjadi penawar alotnya kelakuan Troy. Keduanya sukses mempertanggung jawabkan peran yang sangat signifikan dalam sebuah film yang mengenyangkan dan bergizi.

Best Lines:

Troy: Like you? I go outta here every morning, I bust my butt ’cause I like you? You’re about the biggest fool I ever saw. A man is supposed to take care of his family. You live in my house, feed your belly with my food, put your behind on my bed because you’re my son. It’s my duty to take care of you, I owe a responsibility to you, I ain’t got to like you! Now, I gave everything I got to give you! I gave you your life! Me and your Mama worked out between us and liking your black ass wasn’t part of the bargain! Now don’t you go through life worrying about whether somebody like you or not! You best be makin’ sure that they’re doin’ right by you! You understand what I’m sayin’?

After Watch, I Listen: Kanye West – Ultralight Beam

 

9. Sing Street

Tags

, , , , , ,

Hasil gambar untuk sing street poster

John Carney

Drama, Musical

Sedikit buka dapur, Sing Street adalah film paling diperdebatkan di ruang redaksi Warning Magazine ketika menyusun daftar 10 Film Internasional Terbaik 2016. Mayoritas pemberi suara awalnya tidak rela menyisakan satu pun peringkat terhormat itu untuk Sing Street, lantaran merasa film tersebut tak jauh beda dengan film musikal remaja seperti School of Rock, Camp Rock, atau High School Musical. Memang ada benarnya, karena elemen plot film ini sangat tipikal: murid baru, kena bully sekolah, punya sidekick, berawal buta instrumen, mengejar wanita, dan berakhir jadi jagoan di panggung acara sekolah.

Pihak pembela Sing Street hanya saya dan seorang editor lain yang bahkan menganggap Sing Street sebagai film terfavoritnya di tahun 2016. Kendati kami tidak bertemu secara tatap muka karena editor cabang Surakarta ini hanya bisa mengikuti sidang pemilihan via LINE Chat, tapi kami berdua ternyata sepaham terkait apa yang membuat Sing Street wajib diberikan kasta yang berbeda dari film musikal sekolahan lain: emosi.

Sing Street mampu mengejawantahkan sisi emosional dari masa di mana kita harus mengejar status “anak musik” demi memikat gebetan. Tiba-tiba kita terdorong belajar kunci-kunci gitar dasar karena rasanya akan begitu keren jika bisa mengiringi wanita yang ditaksir untuk menyanyikan lagu-lagu Oasis dan Sheila On 7, atau mengiriminya rekaman lagu ciptaan dengan kualitas sound audio recorder yang sama pas-pasannya dengan kelayakan dengar vokal kita.

Hasil gambar untuk sing street

Yang harus kita akui bersama sebelumnya adalah bahwa band bernama Sing Street yang dibentuk oleh Conor (Ferdia Walsh-Peelo), karakter utama film ini memang jauh dari kata bagus. Sungguh sia-sia bagi Conor dan rekan bandnya untuk mendengarkan The Cure dan Joe Jackson jika musik yang lahir dari tangan mereka malah menyerupai Jonas Brother yang tengah mengalami krisis genre. Tapi substansi film ini memang bukan di sepak terjang karir bermusik mereka. Toh band Sing Street tidak digambarkan sebagai band yang keren dan sukses di film ini. Bahkan, ketika musik, kostum, video klip, serta pilihan proses berkarya mereka yang lain sebegitu buruk pun itu justru mewakili realitas remaja alias masa ternorak di sepanjang usia kita. Kita juga tidak tahu sebenarnya mana yang lebih penting untuk Conor: musik atau pujaan hatinya? Setulus apa ia bermain musik? Keluguan dan kepicikan ini digambarkan dengan dewasa oleh John Carney.

Ledakannya adalah di bagian penutup film ini. Lazimnya, ending film musikal remaja adalah perayaan kemenangan rock & roll yang diilustrasikan dengan kesuksesan band. Sing Street berbeda, kemenangan rock & roll dilukiskan dengan keberanian Conor melepas konformitas, meninggalkan takdir yang sudah dibentangkan oleh kakaknya untuk mulai mengawali kisahnya sendiri dari nol. Rock & roll adalah risiko. Nomor dari Adam Levine, “Go Now” yang sebenarnya biasa saja pun bisa terdengar berkali lipat lebih sentimental tatkala mengiringi ending surealis di film ini.

Semangat kebanalan ini juga cocok dihadirkan di konteks medio dekade 80-an, era ‘jahiliyah’ budaya populer dan absennya kesadaran politis kawula muda. Musik adalah sinonim hura-hura. Ada glam rock, Duran-Duran, happy sad The Cure, Phil Collins (“Trust me. No woman can truly love a man who listens to Phil Collins”) dan salah satu lagu terbesar di masanya, “Take On Me” dari A-Ha. Era di mana seluk beluk teknologi mulai menunjukan aksesnya di wilayah industri musik, baik dalam perkembangan video klip maupun varian aliran musik elektronik, sehingga preferensi Conor untuk berselera “futurist, tanpa nostalgia” sangat kontekstual. Saya hanya bertanya-tanya kenapa tidak ada apapun tentang U2 di film ini? Padahal set cerita film ini adalah Dublin, Irlandia dan karakter Eamon (Mark McKenna) sudah mirip dengan tampilan muda The Edge. Senang jika bisa mendengarkan nomor “Bad” sebagai salah satu lagu latar di film ini.

Best Lines:

….. you just moved in my jet stream. And people laugh at me, Conor. The stoner, the college dropout. And they praise you, which is fine! But once, I was a fucking jet engine!

After Watch, I Listen: The Cure – Just Like Heaven

10. Captain Fantastic

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk captain fantastic poster

Matt Ross

Drama

Sudah berulang kali saya mendengar dialog semacam ini:

Si A: “Omong kosong. Bagaimana mau menumpas kapitalisme kalau ponsel kita saja masih iPhone, kerja pakai laptop Mac.”

Si B : “Loh, persoalan kapitalisme tidak sedangkal dari barang apa yang kita pakai. Kita memang sudah tidak mungkin bisa lepas sama sekali dari produk-produk kapitalis. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkannya untuk melakukan perlawanan balik. Mau tidak mau, kompromi harus dilakukan, kecuali kamu TINGGAL DI HUTAN sana……..”

…………..dan Ben Cash (Viggo Mortensen) bersama 6 anaknya benar-benar melakukannya di Captain Fantastic.

Kita juga terbiasa melabelkan istilah “terbelakang” atau “tertinggal” pada cara pandang dan gaya hidup yang tidak selaras dengan apa yang kita kenal dengan kehidupan modern. Perkotaan dianggap lebih maju dari pedesaan. Yang trendi dianggap lebih maju dari yang tradisional. Padahal, apa benar kemajuan zaman sejalan dengan kemajuan manusianya?

Sudah tahu Jakarta macet, banjir dan sumpek, masih ada orang pindah ke sana. Apa ini pikiran orang maju?

Sudah tahu tas Hermes punya harga yang jauh melebihi nilai gunanya, masih ada orang yang beli. Apa ini pikiran orang maju?

Tentu saja tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang membuat pertanyaan itu tidak bisa dijawab secara hitam putih. Semuanya tersusun dalam apa yang dinamakan sistem masyarakat.

“Anak-anak itu butuh struktur yang stabil. Mereka harus sekolah yang sebenarnya, agar nanti bisa kerja…” – ini bukan kebutuhan akan kemajuan, melainkan kebutuhan sistem. Sekali masuk di dalamnya, apa saja kebutuhan kita mulai lepas dari kendali kita sendiri.

Apa yang dilakukan Cash kemudian adalah mengajak anak-anaknya untuk bertahan hidup di luar sistem. Merdeka dari jejaring media baru, pendidikan formal, dan candu agama. Dari metode Cash menggunakan pola didikan kedisiplinan ala militer dan satu komando pada putra-putrinya, tampak jelas pandangannya lebih ke marxisme dibanding anarkisme. Captain Fantastic adalah tentang pertanyaan “adakah kemungkinan marxisme bisa hidup berdampingan dengan era kapitalisme hari ini?”

Hasil gambar untuk captain fantastic

Namun, Captain Fantastic bukan film propaganda komunisme. Justru sebaliknya. Kendati gaya hidup Cash dan keluarganya dilukiskan ideal di sepertiga awal film, namun ketika berhadapan dengan konflik, Captain Fantastic akhirnya menjadi perayaan kemenangan kapitalisme. Hollywood masih tetap milik Amerika Serikat.

Entah bagaimana di masa depan, konsep dialektika dari Hegel (hegemoni akan selalu melahirkan hegemoni baru) masih masuk akal di kepala saya. Namun, saya juga percaya bahwa komunisme itu sangat konstektual atau bergantung pada zaman. Itulah kenapa mereka pernah bisa menjadi ideologi politik terbesar di dunia (satu milyar orang, sepertiga populasi dunia), tapi tiba-tiba langsung rontok berjamaah juga. Lingkungan memang tidak lagi mendukung. Komunisme bukan kelompok gangster atau zombie yang segampang itu muncul, mengajak perang, lalu menguasai dunia. Ada bangunan sosial budaya politik yang mesti dibangun dalam sebuah sistem masyarakat.

Apa yang saya pikir masih bisa kita pinjam dari marxisme untuk menjalani masa ini adalah tiga hal: pola pikir kritis (termasuk kritik agama), kesadaran kelas, dan semangat revolusi. Sayangnya, hanya pola pikir kritis yang ditampilkan Cash di Captain Fantastic. Revolusi apa yang bisa lahir jika ia memilih untuk melarikan diri ke hutan? Ia hanya menyelamatkan keluarganya, tapi tidak benar-benar berkonfrontasi dengan kelas penguasa. Seberapa besar peluang menghasilkan perubahan tanpa gelar akademik formal, dan hanya menguasai keterampilan senjata seakan ia hidup di jagat Hunger Games? Mereka anti-kapitalisme tapi tidak mengenal Nike? Mengira berciuman dengan wanita adalah sebuah fase krusial menuju jenjang pernikahan? Kendati Cash tampak sangat terbuka dalam “kelompoknya” dengan mengizinkan anaknya minum anggur dan tak ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan tabu masyarakat (model oriented person menurut Basil Bernstein), namun ia amat normatif di lain hal. Cash adalah  contoh ultra kiri yang punya gejala menjelma menjadi ultra kanan. 

 

Best Lines: 

Ben: The bill of rights.

Zaza: Amendment one: Congress shall make no law respecting an establishment of religion,or prohibiting the free exercise thereof; Or abridging the freedom of…

Ben: Stop. Regurgitating memorized amendments. isn’t what I’m asking for. Just tell me something about it in your own words.

Zaza: Without the bill of rights, we’d be more like China. Here, at least, we don’t have warrantless searches. We have free speech. Citizens are protected from cruel and unusual punishments…

After Watch, I Listen: Rise Against – Make It Stop

Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa – Werner J. Everin & James W. Tankard

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa – Werner J. Everin & James W. Tankard

Buku akademis terakhir yang saya baca untuk menutup liburan semu semesteran. Dibanding dua buku sebelumnya (Teori Komunikasi dan Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi), Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa paling kompleks susunan penyajiannya. Cakupan yang ingin dibahas terlalu luas sehingga—meminjam istilah kritik film—terdapat plothole-plothole dalam alur yang harus dicerna pembaca untuk memahami keseluruhan topik. Namun, keistimewaan buku ini adalah menurutkan contoh-contoh riset secara komplet dalam meningkatkan pemahaman kita terhadap teori-teori yang disuguhkan. Dan pada akhirnya Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa tetap sangat berfaedah untuk memantapkan kembali beberapa pengetahuan teori yang membanjiri dari dua buku sebelumnya yang saya baca, seperti teori difusi inovasi,teori aliran dua langkah, teori jarum suntik, dan lain sebagainya.

Salah satu gagasan yang baru dan menarik adalah bab “Analisis Propaganda”. Ada tujuh alat umum propaganda yang disebutkan oleh Alfred McClung Lee dan Elizabeth Briant Lee pada buku The Fine Art of Propaganda (1939). (1) Name Calling: Pemberian label buruk pada suatu gagasan. Misalnya, teroris atau terorisme. (2) Glittering Generality: Menghubungkan sesuatu dengan kata yang baik, di mana ini dipakai untuk membuat kita menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti, misalnya penggantian nama “perusahaan publik” untuk “perusahaan swasta”. (3) Transfer: proses asosiasi dengan tujuan komunikator menghubungkan gagasan atau produk dengan sesuatu yang dikagumi orang, misalnya menggunakan nuansa natal pada lagu “Jingle Bells”dalam iklan minuman keras. (4) Testimoni: Memberi kesempatan pada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau produk itu baik atau buruk. (5) Plain Folks: metode yang dipakai oleh pembicara dalam upaya meyakinkan audiens bahwa dia dan gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari rakyat, misalnya iklan-iklan yang menunjukan pemandangan kampung halaman. (6) Card Stacking: Pada dasarnya sama dengan slanting, teknik ini memilih argumen atau bukti yang mendukung sebuah posisi dan mengabaikan hal-hal yang tidak mendukung posisi itu, misalnya sensor berita di media massa. (7) Bandwagon: aksi meyakinkan kita bahwa semua anggota kelompok di mana kita menjadi anggotanya menerima gagasannya dan karena itu kita harus mengikuti kelompok kita, misalnya iklan deodoran yang dideskripsikan sebagai “pilihan rakyat”.

Selain itu buku ini juga memperkenalkan kepada saya apa yang disebut dengan hipotesis Kesenjangan Pengetahuan. Tesis utamanya adalah bahwasanya orang yang miskin finansial berarti juga miskin informasi. Peran media massa mestinya hadir di sini. Hipotesis ini mengambil contoh kasus acara televisi pendidikan Sesame Street sebagai upaya penggunaan komunikasi massa untuk memberikan informasi bagi orang yang miskin informasi. Acara yang pertama kali tayang pada tahun 1969 itu adalah sebuah upaya untuk melayani anak-anak usia pra sekolah yang kurang beruntung melalui televisi. Sesame Street menggandeng misi menjangkau audiensi anak-anak dalam jumlah yang sangat besar dan menarik minat mereka dengan mengombinasikan informasi dalam sebuah format baru. Namun, kendati sukses secara komersial, apakah Sesame Street berhasil pada misi sosialnya tersebut?

Sayangnya, meski komunikasi massa mempunyai keuntungan dalam menyampaikan informasi ke orang-orang yang biasanya tidak terjangkau, namun kemungkinan tidak terkehendaki juga muncul. Komunikasi massa sebenarnya mempunyai dampak meningkatkan perbedaan atau kesenjangan dalam ilmu pengetahuan antara anggota kelas-kelas sosial yang berbeda. Kemungkinan ini yang disebut sebagai hipotesis Kesenjangan Pengetahuan. Ketika pemasukan informasi media massa ke sistem sosial meningkat, segmen-segmen populasi dengan status sosial ekonomi lebih tinggi cenderung memperoleh informasi dengan tingkat lebih cepat daripada segmen-segmen populasi dengan status sosial ekonomi lebih rendah. Kesenjangan pengetahuan cenderung melebar daripada menyempit.

Dampak media massa memang adalah salah satu persoalan yang paling banyak ditangkap dalam kajian media dan ilmu komunikasi. Buku ini juga memetakan linimasa perkembangan teori-teori dampak media massa yang dimulai dari Teori Peluru, atau yang kerap disebut juga dengan Teori Jarum Suntik dan Teori Sabuk Transmisi. Pandangan naif yang populer dalam tahun-tahun sebelum Perang Dunia II karena dipengaruhi pandangan propaganda Perang Dunia I memprediksikan dampak pesan-pesan komunikasi massa yang kuat dan universal pada semua anggota audiensi yang kebetulan terekspos pada pesan-pesan tersebut. Namun, karena riset dampak komunikasi massa sejak awal tidak mendukung, bukti lebih menunjukan apa yang kemudian disebut Model Dampak Terbatas.  Banyak penelitian penting menghasilkan pendapat bahwa komunikasi massa pada umumnya mempunyai dampak kecil. Dua generalisasi yang utama dari teori bikinan Joseph Mapper ini adalah:

  1. Komunikasi massa biasanya tidak berfungsi sebagai penyebab yang perlu dan memadai dari dampak audiensi, melainkan lebih berfungsi di antara dan melalui hubungan dari faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh penengah.
  1. Faktor-faktor penengah (adalah persepsi selektif, penerimaan selektif, dan daya ingat selektif, proses kelompok, norma-norma kelompok, dan kepemimpinan kelompok) ini sedemikian luar biasa sehingga faktor-faktor ini pada umumnya membuat komunikasi massa menjadi agen kontributor, tetapi bukan satu-satunya sebab dalam proses penguatan kondisi yang ada.

Namun, pada kisaran awal dekade 60-an, riset menunjukan bahwa Model Dampak Terbatas telah pesimis berlebihan. Riset pada sejumlah topik menunjukan bahwa komunikasi massa mempunyai lebih dari dampak seadanya. Ini disebut dengan Model Dampak Moderat. Dan perlahan, sejumlah penelitian pada penghujung dekade 70-an menunjukan bahwa komunikasi massa kembali mempunyai dampak yang kuat, meski jauh lebih terbatas daripada Teori Peluru. Dampak yang kuat tidak terjadi secara universal melainkan efektif hanya jika digunakan teknik-teknik komunikasi yang sesuai dalam keadaan yang tepat. Seperti yang disebutkan Elihu Katz, dampak komunikasi tergantung pada dua variabel penting. yaitu faktor-faktor persepsi selektif dan hubungan antar pribadi.

Salah satu bagian dari riset modern dampak media yang baru pertama kali saya dengar adalah hipotesis Dampak Orang Ketiga milik W. Philips Davison (1983). Ia menyatakan bahwa orang akan cenderung menaksir terlalu tinggi pengaruh pesan-pesan yang dimiliki komunikasi massa pada sikap dan perilaku orang lain. Gagasan dasar dari Dampak Orang Ketiga adalah bahwa pesan-pesan tertentu mempunyai sedikit dampak pada orang-orang seperti Anda dan saya, tapi memiliki pengaruh cukup besar pada pembaca biasa. Dampak Orang Ketiga meliputi dua hipotesis utama: hipotesis perseptif dan hipotesis perilaku. Hipotesis perseptif menyatakan bahwa orang akan menganggap bahwa pesan media massa akan mempunyai dampak yang lebih besar pada orang lain daripada dirinya sendiri. Hipotesis perilaku menyatakan bahwa persepsi itu menyebabkan orang mungkin mengambil berbagai tindakan. Misalnya, pendukung penyensoran pornografi kadang-kadang lebih mengkhawatirkan dampaknya pada orang lain ketimbang pada diri mereka sendiri. Satu aspek dari Dampak Orang Ketiga adalah gagasan bahwa semakin jauh jarak sosial dengan individu dan kelompok perbandingan, semakin besar Dampak Orang Ketiga terbukti. Misalnya, mahasiswa mungkin memperkirakan lirik antisosial akan berdampak lebih besar pada orang muda yang tidak kuliah ketimbang pada mahasiswa. Sebuah penelitian menunjukan bahwa mungkin bukan jarak sosial yang merupakan variabel yang sangat penting melainkan kemungkinan penerimaan yang dirasakan. Di sini, saya sendiri melihat Dampak Orang Ketiga adalah hal yang cukup naluriah bagi banyak orang. Mereka cenderung mengkhawatirkan orang lain. Kemungkinan yang hadir kemudian ada dua: (1) Jika semua merasa pengaruh media hanya untuk orang lain, jangan-jangan memang tidak ada pengaruh media sebenarnya. (2) orang terlalu percaya diri padahal mereka sendiri lebih terpengaruh media massa daripada yang mereka kira.  Yang manapun, jika hipotesis ini benar, artinya kebanyakan orang salah melihat dampak media massa pada orang lain dan diri mereka sendiri.

Di bab lainnya, buku ini juga menyampaikan kritiknya pada teori Uses and Gratification yang kondang itu. Aspek mendasar dari pendekatan teori ini adalah bahwa orang bisa memanfaatkan pesan komunikasi yang sama untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Pendekatan teori Uses and Gratification memicu sejumlah kritik, terutama karena tidak bersifat teoritis dan masih kabur dalam mendefinisikan konsep-konsep utama, misalnya konsep kebutuhan. Kerap kali kebutuhan yang ingin dipenuhi orang melalui manfaat media disimpulkan dari pertanyaan-pertanyaan mengenai mengapa mereka memanfaatkan media. Padahal ini mengarah pada kecurigaan bahwa kebutuhan itu diciptakan oleh media atau merupakan sebuah rasionalisasi manfaat media. Salah satu kritik mengatakan bahwa pendekatan ini terlalu sempit fokusnya, yaitu pada individu. Pendekatan ini bersandar pada konsep-konsep psikologis seperti kebutuhan, dan mengabaikan struktur sosial maupun tempat media itu berada dalam struktur tersebut.

Temuan dari sejumlah kajian penerimaan pada komunikasi massa mungkin tidak selalu benar-benar disengaja atau bertujuan bertentangan dengan sejumlah gagasan dasar pendekatan teori Uses and Gratification. Banyak manfaat komunikasi massa mungkin melibatkan tingkat pergantian rendah sehingga sudah bisa dilabeli ritualistik atau kebiasaan. Banyak orang yang secara konsisten melaporkan pengalaman mereka menonton televisi sebagai suatu kegiatan yang pasif, santai, dan tidak membutuhkan banyak konsentrasi. Banyak konsumsi media yang dasarnya adalah kebiasaan dan bukan kebutuhan, misalnya adalah pola konsumsi penonton pada acara drama televisi.

Perkembangan terkini dari teori ini kemudian adalah pergeseran dari konseptualisasi audiens sebagai aktif atau pasif ke arah memperlakukan aktivitas sebagai suatu variabel. Artinya, kadang-kadang para pengguna media bersikap selektif dan rasional dalam memproses pesan-pesan media, namun pada saat yang lain mereka memanfaatkan media untuk bersantai atau sebagai tempat pelarian. Perbedaan jenis maupun tingkat aktivitas audiens mungkin juga merupakan akibat dari efek-efek media. Sebagai misal, efek kultivasi mungkin lebih cenderung muncul ketika para anggota audien menonton televisi untuk tujuan pengalihan atau pelarian.