9. Sing Street

Tags

, , , , , ,

Hasil gambar untuk sing street poster

John Carney

Drama, Musical

Sedikit buka dapur, Sing Street adalah film paling diperdebatkan di ruang redaksi Warning Magazine ketika menyusun daftar 10 Film Internasional Terbaik 2016. Mayoritas pemberi suara awalnya tidak rela menyisakan satu pun peringkat terhormat itu untuk Sing Street, lantaran merasa film tersebut tak jauh beda dengan film musikal remaja seperti School of Rock, Camp Rock, atau High School Musical. Memang ada benarnya, karena elemen plot film ini sangat tipikal: murid baru, kena bully sekolah, punya sidekick, berawal buta instrumen, mengejar wanita, dan berakhir jadi jagoan di panggung acara sekolah.

Pihak pembela Sing Street hanya saya dan seorang editor lain yang bahkan menganggap Sing Street sebagai film terfavoritnya di tahun 2016. Kendati kami tidak bertemu secara tatap muka karena editor cabang Surakarta ini hanya bisa mengikuti sidang pemilihan via LINE Chat, tapi kami berdua ternyata sepaham terkait apa yang membuat Sing Street wajib diberikan kasta yang berbeda dari film musikal sekolahan lain: emosi.

Sing Street mampu mengejawantahkan sisi emosional dari masa di mana kita harus mengejar status “anak musik” demi memikat gebetan. Tiba-tiba kita terdorong belajar kunci-kunci gitar dasar karena rasanya akan begitu keren jika bisa mengiringi wanita yang ditaksir untuk menyanyikan lagu-lagu Oasis dan Sheila On 7, atau mengiriminya rekaman lagu ciptaan dengan kualitas sound audio recorder yang sama pas-pasannya dengan kelayakan dengar vokal kita.

Hasil gambar untuk sing street

Yang harus kita akui bersama sebelumnya adalah bahwa band bernama Sing Street yang dibentuk oleh Conor (Ferdia Walsh-Peelo), karakter utama film ini memang jauh dari kata bagus. Sungguh sia-sia bagi Conor dan rekan bandnya untuk mendengarkan The Cure dan Joe Jackson jika musik yang lahir dari tangan mereka malah menyerupai Jonas Brother yang tengah mengalami krisis genre. Tapi substansi film ini memang bukan di sepak terjang karir bermusik mereka. Toh band Sing Street tidak digambarkan sebagai band yang keren dan sukses di film ini. Bahkan, ketika musik, kostum, video klip, serta pilihan proses berkarya mereka yang lain sebegitu buruk pun itu justru mewakili realitas remaja alias masa ternorak di sepanjang usia kita. Kita juga tidak tahu sebenarnya mana yang lebih penting untuk Conor: musik atau pujaan hatinya? Setulus apa ia bermain musik? Keluguan dan kepicikan ini digambarkan dengan dewasa oleh John Carney.

Ledakannya adalah di bagian penutup film ini. Lazimnya, ending film musikal remaja adalah perayaan kemenangan rock & roll yang diilustrasikan dengan kesuksesan band. Sing Street berbeda, kemenangan rock & roll dilukiskan dengan keberanian Conor melepas konformitas, meninggalkan takdir yang sudah dibentangkan oleh kakaknya untuk mulai mengawali kisahnya sendiri dari nol. Rock & roll adalah risiko. Nomor dari Adam Levine, “Go Now” yang sebenarnya biasa saja pun bisa terdengar berkali lipat lebih sentimental tatkala mengiringi ending surealis di film ini.

Semangat kebanalan ini juga cocok dihadirkan di konteks medio dekade 80-an, era ‘jahiliyah’ budaya populer dan absennya kesadaran politis kawula muda. Musik adalah sinonim hura-hura. Ada glam rock, Duran-Duran, happy sad The Cure, Phil Collins (“Trust me. No woman can truly love a man who listens to Phil Collins”) dan salah satu lagu terbesar di masanya, “Take On Me” dari A-Ha. Era di mana seluk beluk teknologi mulai menunjukan aksesnya di wilayah industri musik, baik dalam perkembangan video klip maupun varian aliran musik elektronik, sehingga preferensi Conor untuk berselera “futurist, tanpa nostalgia” sangat kontekstual. Saya hanya bertanya-tanya kenapa tidak ada apapun tentang U2 di film ini? Padahal set cerita film ini adalah Dublin, Irlandia dan karakter Eamon (Mark McKenna) sudah mirip dengan tampilan muda The Edge. Senang jika bisa mendengarkan nomor “Bad” sebagai salah satu lagu latar di film ini.

Best Lines:

….. you just moved in my jet stream. And people laugh at me, Conor. The stoner, the college dropout. And they praise you, which is fine! But once, I was a fucking jet engine!

After Watch, I Listen: The Cure – Just Like Heaven

10. Captain Fantastic

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk captain fantastic poster

Matt Ross

Drama

Sudah berulang kali saya mendengar dialog semacam ini:

Si A: “Omong kosong. Bagaimana mau menumpas kapitalisme kalau ponsel kita saja masih iPhone, kerja pakai laptop Mac.”

Si B : “Loh, persoalan kapitalisme tidak sedangkal dari barang apa yang kita pakai. Kita memang sudah tidak mungkin bisa lepas sama sekali dari produk-produk kapitalis. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkannya untuk melakukan perlawanan balik. Mau tidak mau, kompromi harus dilakukan, kecuali kamu TINGGAL DI HUTAN sana……..”

…………..dan Ben Cash (Viggo Mortensen) bersama 6 anaknya benar-benar melakukannya di Captain Fantastic.

Kita juga terbiasa melabelkan istilah “terbelakang” atau “tertinggal” pada cara pandang dan gaya hidup yang tidak selaras dengan apa yang kita kenal dengan kehidupan modern. Perkotaan dianggap lebih maju dari pedesaan. Yang trendi dianggap lebih maju dari yang tradisional. Padahal, apa benar kemajuan zaman sejalan dengan kemajuan manusianya?

Sudah tahu Jakarta macet, banjir dan sumpek, masih ada orang pindah ke sana. Apa ini pikiran orang maju?

Sudah tahu tas Hermes punya harga yang jauh melebihi nilai gunanya, masih ada orang yang beli. Apa ini pikiran orang maju?

Tentu saja tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang membuat pertanyaan itu tidak bisa dijawab secara hitam putih. Semuanya tersusun dalam apa yang dinamakan sistem masyarakat.

“Anak-anak itu butuh struktur yang stabil. Mereka harus sekolah yang sebenarnya, agar nanti bisa kerja…” – ini bukan kebutuhan akan kemajuan, melainkan kebutuhan sistem. Sekali masuk di dalamnya, apa saja kebutuhan kita mulai lepas dari kendali kita sendiri.

Apa yang dilakukan Cash kemudian adalah mengajak anak-anaknya untuk bertahan hidup di luar sistem. Merdeka dari jejaring media baru, pendidikan formal, dan candu agama. Dari metode Cash menggunakan pola didikan kedisiplinan ala militer dan satu komando pada putra-putrinya, tampak jelas pandangannya lebih ke marxisme dibanding anarkisme. Captain Fantastic adalah tentang pertanyaan “adakah kemungkinan marxisme bisa hidup berdampingan dengan era kapitalisme hari ini?”

Hasil gambar untuk captain fantastic

Namun, Captain Fantastic bukan film propaganda komunisme. Justru sebaliknya. Kendati gaya hidup Cash dan keluarganya dilukiskan ideal di sepertiga awal film, namun ketika berhadapan dengan konflik, Captain Fantastic akhirnya menjadi perayaan kemenangan kapitalisme. Hollywood masih tetap milik Amerika Serikat.

Entah bagaimana di masa depan, konsep dialektika dari Hegel (hegemoni akan selalu melahirkan hegemoni baru) masih masuk akal di kepala saya. Namun, saya juga percaya bahwa komunisme itu sangat konstektual atau bergantung pada zaman. Itulah kenapa mereka pernah bisa menjadi ideologi politik terbesar di dunia (satu milyar orang, sepertiga populasi dunia), tapi tiba-tiba langsung rontok berjamaah juga. Lingkungan memang tidak lagi mendukung. Komunisme bukan kelompok gangster atau zombie yang segampang itu muncul, mengajak perang, lalu menguasai dunia. Ada bangunan sosial budaya politik yang mesti dibangun dalam sebuah sistem masyarakat.

Apa yang saya pikir masih bisa kita pinjam dari marxisme untuk menjalani masa ini adalah tiga hal: pola pikir kritis (termasuk kritik agama), kesadaran kelas, dan semangat revolusi. Sayangnya, hanya pola pikir kritis yang ditampilkan Cash di Captain Fantastic. Revolusi apa yang bisa lahir jika ia memilih untuk melarikan diri ke hutan? Ia hanya menyelamatkan keluarganya, tapi tidak benar-benar berkonfrontasi dengan kelas penguasa. Seberapa besar peluang menghasilkan perubahan tanpa gelar akademik formal, dan hanya menguasai keterampilan senjata seakan ia hidup di jagat Hunger Games? Mereka anti-kapitalisme tapi tidak mengenal Nike? Mengira berciuman dengan wanita adalah sebuah fase krusial menuju jenjang pernikahan? Kendati Cash tampak sangat terbuka dalam “kelompoknya” dengan mengizinkan anaknya minum anggur dan tak ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan tabu masyarakat (model oriented person menurut Basil Bernstein), namun ia amat normatif di lain hal. Cash adalah  contoh ultra kiri yang punya gejala menjelma menjadi ultra kanan. 

 

Best Lines: 

Ben: The bill of rights.

Zaza: Amendment one: Congress shall make no law respecting an establishment of religion,or prohibiting the free exercise thereof; Or abridging the freedom of…

Ben: Stop. Regurgitating memorized amendments. isn’t what I’m asking for. Just tell me something about it in your own words.

Zaza: Without the bill of rights, we’d be more like China. Here, at least, we don’t have warrantless searches. We have free speech. Citizens are protected from cruel and unusual punishments…

After Watch, I Listen: Rise Against – Make It Stop

Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa – Werner J. Everin & James W. Tankard

Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa – Werner J. Everin & James W. Tankard

Buku akademis terakhir yang saya baca untuk menutup liburan semu semesteran. Dibanding dua buku sebelumnya (Teori Komunikasi dan Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi), Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa paling kompleks susunan penyajiannya. Cakupan yang ingin dibahas terlalu luas sehingga—meminjam istilah kritik film—terdapat plothole-plothole dalam alur yang harus dicerna pembaca untuk memahami keseluruhan topik. Namun, keistimewaan buku ini adalah menurutkan contoh-contoh riset secara komplet dalam meningkatkan pemahaman kita terhadap teori-teori yang disuguhkan. Dan pada akhirnya Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa tetap sangat berfaedah untuk memantapkan kembali beberapa pengetahuan teori yang membanjiri dari dua buku sebelumnya yang saya baca, seperti teori difusi inovasi,teori aliran dua langkah, teori jarum suntik, dan lain sebagainya.

Salah satu gagasan yang baru dan menarik adalah bab “Analisis Propaganda”. Ada tujuh alat umum propaganda yang disebutkan oleh Alfred McClung Lee dan Elizabeth Briant Lee pada buku The Fine Art of Propaganda (1939). (1) Name Calling: Pemberian label buruk pada suatu gagasan. Misalnya, teroris atau terorisme. (2) Glittering Generality: Menghubungkan sesuatu dengan kata yang baik, di mana ini dipakai untuk membuat kita menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti, misalnya penggantian nama “perusahaan publik” untuk “perusahaan swasta”. (3) Transfer: proses asosiasi dengan tujuan komunikator menghubungkan gagasan atau produk dengan sesuatu yang dikagumi orang, misalnya menggunakan nuansa natal pada lagu “Jingle Bells”dalam iklan minuman keras. (4) Testimoni: Memberi kesempatan pada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau produk itu baik atau buruk. (5) Plain Folks: metode yang dipakai oleh pembicara dalam upaya meyakinkan audiens bahwa dia dan gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari rakyat, misalnya iklan-iklan yang menunjukan pemandangan kampung halaman. (6) Card Stacking: Pada dasarnya sama dengan slanting, teknik ini memilih argumen atau bukti yang mendukung sebuah posisi dan mengabaikan hal-hal yang tidak mendukung posisi itu, misalnya sensor berita di media massa. (7) Bandwagon: aksi meyakinkan kita bahwa semua anggota kelompok di mana kita menjadi anggotanya menerima gagasannya dan karena itu kita harus mengikuti kelompok kita, misalnya iklan deodoran yang dideskripsikan sebagai “pilihan rakyat”.

Selain itu buku ini juga memperkenalkan kepada saya apa yang disebut dengan hipotesis Kesenjangan Pengetahuan. Tesis utamanya adalah bahwasanya orang yang miskin finansial berarti juga miskin informasi. Peran media massa mestinya hadir di sini. Hipotesis ini mengambil contoh kasus acara televisi pendidikan Sesame Street sebagai upaya penggunaan komunikasi massa untuk memberikan informasi bagi orang yang miskin informasi. Acara yang pertama kali tayang pada tahun 1969 itu adalah sebuah upaya untuk melayani anak-anak usia pra sekolah yang kurang beruntung melalui televisi. Sesame Street menggandeng misi menjangkau audiensi anak-anak dalam jumlah yang sangat besar dan menarik minat mereka dengan mengombinasikan informasi dalam sebuah format baru. Namun, kendati sukses secara komersial, apakah Sesame Street berhasil pada misi sosialnya tersebut?

Sayangnya, meski komunikasi massa mempunyai keuntungan dalam menyampaikan informasi ke orang-orang yang biasanya tidak terjangkau, namun kemungkinan tidak terkehendaki juga muncul. Komunikasi massa sebenarnya mempunyai dampak meningkatkan perbedaan atau kesenjangan dalam ilmu pengetahuan antara anggota kelas-kelas sosial yang berbeda. Kemungkinan ini yang disebut sebagai hipotesis Kesenjangan Pengetahuan. Ketika pemasukan informasi media massa ke sistem sosial meningkat, segmen-segmen populasi dengan status sosial ekonomi lebih tinggi cenderung memperoleh informasi dengan tingkat lebih cepat daripada segmen-segmen populasi dengan status sosial ekonomi lebih rendah. Kesenjangan pengetahuan cenderung melebar daripada menyempit.

Dampak media massa memang adalah salah satu persoalan yang paling banyak ditangkap dalam kajian media dan ilmu komunikasi. Buku ini juga memetakan linimasa perkembangan teori-teori dampak media massa yang dimulai dari Teori Peluru, atau yang kerap disebut juga dengan Teori Jarum Suntik dan Teori Sabuk Transmisi. Pandangan naif yang populer dalam tahun-tahun sebelum Perang Dunia II karena dipengaruhi pandangan propaganda Perang Dunia I memprediksikan dampak pesan-pesan komunikasi massa yang kuat dan universal pada semua anggota audiensi yang kebetulan terekspos pada pesan-pesan tersebut. Namun, karena riset dampak komunikasi massa sejak awal tidak mendukung, bukti lebih menunjukan apa yang kemudian disebut Model Dampak Terbatas.  Banyak penelitian penting menghasilkan pendapat bahwa komunikasi massa pada umumnya mempunyai dampak kecil. Dua generalisasi yang utama dari teori bikinan Joseph Mapper ini adalah:

  1. Komunikasi massa biasanya tidak berfungsi sebagai penyebab yang perlu dan memadai dari dampak audiensi, melainkan lebih berfungsi di antara dan melalui hubungan dari faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh penengah.
  1. Faktor-faktor penengah (adalah persepsi selektif, penerimaan selektif, dan daya ingat selektif, proses kelompok, norma-norma kelompok, dan kepemimpinan kelompok) ini sedemikian luar biasa sehingga faktor-faktor ini pada umumnya membuat komunikasi massa menjadi agen kontributor, tetapi bukan satu-satunya sebab dalam proses penguatan kondisi yang ada.

Namun, pada kisaran awal dekade 60-an, riset menunjukan bahwa Model Dampak Terbatas telah pesimis berlebihan. Riset pada sejumlah topik menunjukan bahwa komunikasi massa mempunyai lebih dari dampak seadanya. Ini disebut dengan Model Dampak Moderat. Dan perlahan, sejumlah penelitian pada penghujung dekade 70-an menunjukan bahwa komunikasi massa kembali mempunyai dampak yang kuat, meski jauh lebih terbatas daripada Teori Peluru. Dampak yang kuat tidak terjadi secara universal melainkan efektif hanya jika digunakan teknik-teknik komunikasi yang sesuai dalam keadaan yang tepat. Seperti yang disebutkan Elihu Katz, dampak komunikasi tergantung pada dua variabel penting. yaitu faktor-faktor persepsi selektif dan hubungan antar pribadi.

Salah satu bagian dari riset modern dampak media yang baru pertama kali saya dengar adalah hipotesis Dampak Orang Ketiga milik W. Philips Davison (1983). Ia menyatakan bahwa orang akan cenderung menaksir terlalu tinggi pengaruh pesan-pesan yang dimiliki komunikasi massa pada sikap dan perilaku orang lain. Gagasan dasar dari Dampak Orang Ketiga adalah bahwa pesan-pesan tertentu mempunyai sedikit dampak pada orang-orang seperti Anda dan saya, tapi memiliki pengaruh cukup besar pada pembaca biasa. Dampak Orang Ketiga meliputi dua hipotesis utama: hipotesis perseptif dan hipotesis perilaku. Hipotesis perseptif menyatakan bahwa orang akan menganggap bahwa pesan media massa akan mempunyai dampak yang lebih besar pada orang lain daripada dirinya sendiri. Hipotesis perilaku menyatakan bahwa persepsi itu menyebabkan orang mungkin mengambil berbagai tindakan. Misalnya, pendukung penyensoran pornografi kadang-kadang lebih mengkhawatirkan dampaknya pada orang lain ketimbang pada diri mereka sendiri. Satu aspek dari Dampak Orang Ketiga adalah gagasan bahwa semakin jauh jarak sosial dengan individu dan kelompok perbandingan, semakin besar Dampak Orang Ketiga terbukti. Misalnya, mahasiswa mungkin memperkirakan lirik antisosial akan berdampak lebih besar pada orang muda yang tidak kuliah ketimbang pada mahasiswa. Sebuah penelitian menunjukan bahwa mungkin bukan jarak sosial yang merupakan variabel yang sangat penting melainkan kemungkinan penerimaan yang dirasakan. Di sini, saya sendiri melihat Dampak Orang Ketiga adalah hal yang cukup naluriah bagi banyak orang. Mereka cenderung mengkhawatirkan orang lain. Kemungkinan yang hadir kemudian ada dua: (1) Jika semua merasa pengaruh media hanya untuk orang lain, jangan-jangan memang tidak ada pengaruh media sebenarnya. (2) orang terlalu percaya diri padahal mereka sendiri lebih terpengaruh media massa daripada yang mereka kira.  Yang manapun, jika hipotesis ini benar, artinya kebanyakan orang salah melihat dampak media massa pada orang lain dan diri mereka sendiri.

Di bab lainnya, buku ini juga menyampaikan kritiknya pada teori Uses and Gratification yang kondang itu. Aspek mendasar dari pendekatan teori ini adalah bahwa orang bisa memanfaatkan pesan komunikasi yang sama untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Pendekatan teori Uses and Gratification memicu sejumlah kritik, terutama karena tidak bersifat teoritis dan masih kabur dalam mendefinisikan konsep-konsep utama, misalnya konsep kebutuhan. Kerap kali kebutuhan yang ingin dipenuhi orang melalui manfaat media disimpulkan dari pertanyaan-pertanyaan mengenai mengapa mereka memanfaatkan media. Padahal ini mengarah pada kecurigaan bahwa kebutuhan itu diciptakan oleh media atau merupakan sebuah rasionalisasi manfaat media. Salah satu kritik mengatakan bahwa pendekatan ini terlalu sempit fokusnya, yaitu pada individu. Pendekatan ini bersandar pada konsep-konsep psikologis seperti kebutuhan, dan mengabaikan struktur sosial maupun tempat media itu berada dalam struktur tersebut.

Temuan dari sejumlah kajian penerimaan pada komunikasi massa mungkin tidak selalu benar-benar disengaja atau bertujuan bertentangan dengan sejumlah gagasan dasar pendekatan teori Uses and Gratification. Banyak manfaat komunikasi massa mungkin melibatkan tingkat pergantian rendah sehingga sudah bisa dilabeli ritualistik atau kebiasaan. Banyak orang yang secara konsisten melaporkan pengalaman mereka menonton televisi sebagai suatu kegiatan yang pasif, santai, dan tidak membutuhkan banyak konsentrasi. Banyak konsumsi media yang dasarnya adalah kebiasaan dan bukan kebutuhan, misalnya adalah pola konsumsi penonton pada acara drama televisi.

Perkembangan terkini dari teori ini kemudian adalah pergeseran dari konseptualisasi audiens sebagai aktif atau pasif ke arah memperlakukan aktivitas sebagai suatu variabel. Artinya, kadang-kadang para pengguna media bersikap selektif dan rasional dalam memproses pesan-pesan media, namun pada saat yang lain mereka memanfaatkan media untuk bersantai atau sebagai tempat pelarian. Perbedaan jenis maupun tingkat aktivitas audiens mungkin juga merupakan akibat dari efek-efek media. Sebagai misal, efek kultivasi mungkin lebih cenderung muncul ketika para anggota audien menonton televisi untuk tujuan pengalihan atau pelarian.

Teori Komunikasi – Stephen W. Littlejohn & Karen A. Foss

Tags

, , , ,

Image result for buku teori komunikasi littlejohn

Pic : Pustakahidayah.co.id

Masih dalam rangka program kejar suapan akademis biar tidak modal mangap saja pas masuk semester dua kuliah nanti, buku ini adalah literatur dasar yang jadi favorit saya. Isi bukunya sangat teoritis, tapi tersusun rapi dan cukup enak untuk memperkaya perbendaharaan teori ilmu komunikasi. Yah, tujuannya agar tidak cuma paham teori kultivasi melulu. Ketebalannya sebanding dengan faedah yang saya dapat.

Teori Komunikasi memetakan beragam ulasan teori ilmu komunikasi berdasarkan tujuh tradisi, meliputi semiotik, fenomenologis, sibernetika, sosiopsikologis, sosiokultural, kritis, dan retorika. Dari kacamata personal, saya melihat fungsi pemetaan tujuh bidang tradisi dalam teori komunikasi sedikit banyak adalah sebagaimana adanya apa yang dikenal dengan aliran musik atau genre sinema. Dalam khazanah seni musik misalnya, bagaimana musik yang bisa dideskripsikan sebagai “nada atau suara yang tersusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan” tentu membuka ruang terciptanya karya-karya musik dengan model yang begitu luas. Sehingga untuk melihat dan mengenal kecenderungan-kecenderungan karakter olah musikal tiap karya, perlu diciptakan pengelompokan seperti yang kita kenal dengan musik rock, blues, metal, jazz, dangdut dan lain sebagainya. Fungsi praktis dengan adanya aliran musik itu adalah kemudahan dalam kritik musik, kajian akademis, atau juga kepentingan bisnis seperti segmentasi hingga branding penjualan karya. Kendati begitu, aliran musik tak pernah menjadi batasan tegas dalam kategorisasi antara satu karakter musik dengan yang lainnya. Sah-sah saja menyebut Slank sebagai band rock sekaligus blues, atau Iwan Fals sebagai musisi pop, folk, rock, atau apapun. Mudah menemukan unsur musikal yang serupa antara satu aliran musik dengan yang lain. Mereka tidak terpisah antara satu dengan yang lain. Bisa dibilang antara tiap jenis musik itu selalu punya kecenderungan yang sama, tentu selama mereka tetap berpegang pada “nada atau suara yang tersusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan.” Fungsi kategorisasi aliran musik pada akhirnya memang hanya sebagai sarana cara pandang kita saja.

Begitu juga tradisi dalam teori komunikasi yang dikenalkan oleh Profesor komunikasi Universitas Colorado, Robert Craig. Salah satu karakter ilmu komunikasi adalah sifat keilmuannya yang teramat kaya dan sensibel. Definisi perihal komunikasi yang biasa disimplifikasi menjadi “who says what in which channel to whom with what effect” atau segala proses gerak informasi terdapat dalam hampir segala sendi kehidupan manusia. Maka, tujuh tradisi dicetuskan untuk memudahkan kita melihat beragam teori ilmu komunikasi berdasarkan kecenderungan atau karakter tertentu. Namun, seperti halnya aliran musik, masing-masing tradisi juga tidak terpisahkan satu sama lain dan bisa dipertemukan karena sifatnya cair. Selain itu mesti dipahami juga bahwa tidak ada satu pun tradisi yang memberikan kontribusi pada setiap aspek komunikasi sekaligus. Meski bisa saling menolak satu sama lain, mereka juga dapat saling melengkapi. Karya Craig ini bisa disebut dengan metamodel, karena merupakan sebuah model untuk melihat sebuah model perspektif, yang dalam kerja fungsinya adalah untuk memahami gejala-gejala, permasalahan, atau realitas komunikasi yang terjadi di masyarakat.

Lalu apa saja teorinya? Wah, saking banyaknya jadi malas menulis satu pun di sini. Sementara belum ada peluang unjuk manfaat baca buku ini ke dunia perkuliahan, saya malah sudah sempat menggunakannya untuk menghasilkan tulisan artikel di Hipwee yang bertajuk “6 Alasan Kenapa Tak Cuma Anak Sains dan Bahasa, Tapi Anak Komunikasi Juga Wajib Nonton ‘Arrival’”. Di dalam artikel yang sentimen pembacanya positif namun tidak laku itu terdapat referensi tiga teori ilmu komunikasi yang saya comot dari buku ini.

Kebanyakan teori memang bisa bikin kita bermutasi jadi Anies Baswedan asyik sendiri dengan gagasan-gagasan yang bertebaran sampai terlalu jauh meninggalkan perkenalan dengan realitas yang beragam. Akan tetapi, tanpa teori juga kita bakal kesulitan membaca permasalahan secara lebih konseptual dan sistematis. Seks saja yang berbasis pada naluri terdasar umat manusia ada teorinya, apalagi mau lulus.

Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi – Will Barton & Andrew Beck

Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk bersiap mempelajari ilmu komunikasi buku

Pic: Sibukmainbuku.blogspot 

Waktu liburan semester yang tak seberapa itu saya habiskan untuk membaca buku-buku akademis. Wuih, giat sekali pemuda millenial ini. Tidak ada pilihan lain. Soalnya kalau sudah masuk waktu kuliah, tidak ada banyak waktu tersisa untuk pegang buku selain kepentingan tugas kuliah. Pun kalau ada peluang senggang di antara ajang perkuliahan, masa bacanya juga lagi-lagi buku akademis? Aristoteles saja mungkin juga bisa muntah paku kalau dikasih bacaan teori-teori melulu. Huaah, ini memang adalah momen di mana saya sudah tak ambil peduli lagi jika dibilang sok sibuk.

Saya mulai dari buku dengan tajuk ala pemula: Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi. Sempat agak menyesal juga kenapa saya beli buku semacam ini. Takutnya, isinya definisi-definisi belaka. Namun, ternyata tak seburuk itu. Kontennya tidak terlalu ditujukan pada amatir, dengan kata lain: isi buku ini bikin pusing juga. Walaupun memang ada bagian-bagian kurang penting berupa bab-bab teknis menghadapi dunia perkuliahan seperti trik membaca buku dengan cepat, teknik menulis esai, manajemen waktu, dan lain sebagainya. Percuma, karena yang paling saya butuhkan sebenarnya adalah “metode lancar titip absen tanpa terlihat seperti seorang bajingan di kelas”

Bahasan paling mengesankan adalah bagian awal buku ini, meliputi perkenalan ilmu komunikasi. Kenapa kita perlu belajar ilmu komunikasi? Ini adalah pertanyaan yang dulu kerap saya bedah bersama para sekutu bolos kolektif di zaman S1 sambil meratapi perkembangan kiprah akademis kami yang begitu-begitu saja. Kami mengalami krisis kepercayaan terhadap keilmuan sendiri. Membandingkan dengan jurusan teknik mesin, elektro, atau pertanian yang sepertinya begitu konkret dan cerah faedah keilmuannya untuk masa depan. Sementara apa yang kami lalui dalam proses belajar ilmu komunikasi adalah selalu masuk kelas di injury time, mempelajari hal yang mengawang-awang, dan mengerjakan tugas dengan metode kolase hasil copas blog sana dan sini. Sudah kacau begitu, ketika lulus nantinya cuma ditanya,”Oh, lulusan jurusan komunikasi ya? Kerja di Telkom dong…”

Pertama, buku Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi menjawab bahwa kita harus membedakan  antara komunikasi sebagai kecakapan umum dan komunikasi sebagai objek dan sarana analisis. Perbedaan ini sudah mendasari perkembangan ilmu komunikasi sedari awal. Untuk komunikasi yang turun langsung ke industri dan teknis, pada sejarahnya masuk pada pelatihan kejuruan. Beda lagi dengan ilmu komunikasi sebagai perkakas kritis menganalisis berbagai proses sosial. Yang terakhir ini yang saya geluti, dan jelas bukan demi kerja di Telkom.

Kajian komunikasi dalam pendidikan tinggi muncul setidaknya dari dua rangkaian pemikiran dan kajian di berbagai universitas pasca-perang dunia. Dalam sosiologi ada tradisi sosiologi media, atau sosiologi komunikasi massa. Dari tradisi intelektual inilah Centre for Mass Communication Research dikembangkan di Leicester University pada 1966. Tradisi lain adalah kesusastraan Inggris, dalam bentuk yang akhirnya menjadi Cultural Studies.

Program Cultural Studies mungkin lebih berkonsentrasi pada representasi dan konstruksi identitas, bersama dengan berbagai pertimbangan tentang selera dan konsumsi budaya, dan berbagai persoalan tentang gender, etnisitas, atau disabilitas. Mata kuliah Kajian Komunikasi mungkin lebih berfokus pada berbagai teori tentang makna serta kajian tanda dan bahasa. Bagian signifikan dari waktu sebagai mahasiswa komunikasi dihabiskan dalam kerja analisis teks (foto, program televisi, iklan, film, peristiwa,) dan berita.

“Komunikasi merupakan salah satu aktivitas manusia yang dikenali semua orang tapi hanya beberapa orang bisa mendefinisikannya secara memuaskan,”

Lihat, definisinya saja belum dipastikan tapi sudah sampai punya banyak sarjana dan lulusan. Begitu konyol mata kuliah ini. Disiplin ilmu komunikasi berada dalam keadaan perubahan terus-menerus. Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang sudah terlanjur menggantungkan masa depannya di keilmuan ini adalah mencoba mengonstektualkan definisi-definisi yang ada dipandang dari segi pengaruhnya.

Sekali lagi, kenapa mesti dipelajari? Semoga saya sudah bisa menjawabnya sebelum jatuh miskin karena harus bayar UKT 9 juta per semester.

Rocks Off : 50 Tracks That Tell The Story of The Rolling Stones – Bill Janovitz

Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk rocks off book the rolling stones

 

Ketika John Lennon menyebut solo gitar Keith di lagu ‘It’s All Over Now’ adalah sampah, Keith membalas dengan menyebut The Beatles memakai ‘strap’ gitarnya terlalu tinggi: ‘No wonder you can only rock, no wonder you can’t roll’”

Sejak lama saya melihat ada anomali menarik dari eksistensi The Rolling Stones di kalangan anak muda sebaya saya. Begundal-begundal asal London ini seperti memiliki popularitas semu. Rasanya semua anak muda kenal dengan nama The Rolling Stones (walau kalau disuruh menuliskan pasti ejaannya kerap tertukar dengan majalah Rolling Stone) atau Mick Jagger. Tapi nama sebatas nama. Apakah mereka tahu lagu-lagunya? Seperti halnya dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Anies Baswedan akhir-akhir ini: meragukan.

Saking curiga campur penasaran, saya sempat bikin riset kecil-kecilan. Silahkan dicoba juga. Minta saja kenalanmu yang masuk generasi Y atau Z untuk per-orangnya menyebutkan minimal lima judul lagu The Rolling Stones. Saya kok cukup yakin mereka bakal tergagap-gagap menjawabnya. Kenapa? Karena hasil riset saya menunjukan itu, Bahkan, sampel alias teman-teman yang menurut saya cukup punya jam terbang di semesta budaya populer atau menyandang status sosial “cah musik” hampir tak ada yang bisa menyebutkan lebih dari 3 lagu saja. Itu pun “Paint It Black” yang pernah kondang di video games Guitar Hero jadi yang paling sering disebut.

Semua kawula muda umumnya akrab juga dengan nama The Beatles, dan selemah-lemahnya iman seharusnya mereka cukup familiar dengan “I Wanna Hold Your Hand”, “Hey Jude”, atau “Yesterday”. Lain dengan The Rolling Stones. Sama-sama ikonik, karya-karyanya seperti tak setangguh logo meletnya dalam bertahan digerus laju zaman. Padahal, menurut banyak sumber (baca: orang-orang tua), The Rolling Stones sempat jadi band wajib yang paling banyak dikulik anak muda di era kejayaan Aktuil. Slank adalah salah satu kanal pengaruh terbesar The Rolling Stones, namun semua itu mulai bablas di masa generasi digital yang besar dengan Blink 182, Linkin Park, atau My Chemical Romance ini. Bahkan, “(I Can’t Get No) Satisfaction” yang menempati peringkat kedua di lis 500 Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone (majalah nih, tanpa ‘The’ dan ‘s’) saja tak banyak yang tahu menahu.

Yah, riset saya cuma di lingkup internal sih, jangan dianggap terlalu serius. Namun, kalau ada orang yang cukup nganggur untuk mau mengembangkan asumsi ini, bukan tidak mungkin  bisa berujung pada indikator yang membedakan keawetan karya The Beatles dan The Rolling Stones.

Yang pasti-pasti saja, gara-gara ini saya jadi bisa jemawa karena merasa menang telak referensi musik dari sejumlah lingkaran pergaulan jika sudah bicara The Rolling Stones. Sebagai oknum yang memproklamirkan “Sympathy For The Devil” sebagai lagu terbaik sepanjang masa serta masih rela membeli album fisik Beggars Banquet dan Let It Bleed, saya resmi masuk sebagai partisan #teamRollingStones.

Jangankan ditanya lima lagu, 50 lagu saja bisa saya jabani. Apalagi setelah baca buku Rocks Off: 50 Tracks That Tell The Story of The Rolling Stones ini. Nggak cuma judul, tapi saya bisa ngoceh sedikit tentang trivia-trivia atau latar belakang dari masing-masing lagu.

Mau mulai dari lagu apa? “The Last Time” yang disebut sebagai lagu pertama The Rolling Stones dengan riff khas mereka? Lantaran Mick Jagger dkk mengawali kiprah dengan repertoar blues, “The Last Time” yang dirilis pada tahun 1965 kemudian menjadi salah satu nomor rock up tempo pertama mereka. Jejak-jejak keserasian tiada tara antara duet gitar dan drum mulai terlacak di sini. The Rolling Stones adalah satu dari langkanya grup band saat itu di mana drummer benar-benar patuh pada rhythm guitar-nya.

Lantas jika ditanya apa yang membuat “(I Can’t Get No) Satisfaction” begitu dipandang bersejarah, mahakarya ini berperan penting membuka pasar lebih luas dari The Rolling Stones sekaligus meneguhkan citra mereka sebagai artis yang bicara seks lebih banyak dari artis kulit putih manapun. Bocorannya, terdapat kesalahan teknis di dalam lagu tersebut. Dan itu ada di bagian salah satu riff terpopuler di dunia. Terdengar suara klik pedal fuzz di detik 0.35 dan 1.36 yang telat masuk.

Sementara nomor “Under My Thumbmenjadi salah satu lagu mereka yang mengundang kritik dari kesadaran feminisme. Seringkali memang sisi ugal-ugalan Stones mengarah pada pengerdilan kaum perempuan, misalnya dalam lagu “Stupid Girl”, “Some Girl” dan “Bitch”. Bahkan, mereka sempat dilabeli sebutan anti-women. Apes juga sih mengingat lagu ini rilis (1966) bertepatan dengan era pertumbuhan gerakan dan ide-ide feminisme. Lagu yang populer dengan instrumen marimbanya ini mengusung baris lirik semacam “She’s the sweetest pet in the world”. Namun, Jagger berkilah bahwa lirik-lirik itu sekadar pengalaman masa muda dan refleksi kejengkelan atas hubungan yang berakhir buruk dan groupies yang posesif.

Dan saya sulit bersabar untuk menunda membuka ulasan lagu “Sympathy For The Devil”. Rocky Dijon, seorang drummer Afrika berkontribusi pada drum conga, sementara Charlie Watts memainkan tabla drum India. Beat samba mengisi seantero lagu, dan satu-satunya suara gitar adalah solo yang mengoyak-oyak di bagian pertengahan hingga akhir lagu. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan wanita di bagian intro yang kemungkinan besar adalah milik Anita Pallenberg dan Marianne Faithfull. Amatan Bill Janovitz terhadap makna yang terkandung dalam lirik lagu ini tidak jauh berbeda dari interpretasi saya sebelumnya. Perihal ambisi jahat yang bersembunyi di hati manusia. “Who killed the Kennedys?” / ”You and me”. Bayangkan lagu ini meluapkan energi carut marutnya kondisi Amerika saat itu di mana penuh kepanikan moral dan anak muda dianggap sebagai ancaman. Kekerasan dibalas kekerasan. Inspirasinya diambil dari novel satir dan alegorikal asal Rusia pemberian Faithfull bertajuk The Master and Margarita karangan Mikhail Bulgakov. Buku ini pun juga dikembangkan dari adaptasi Johann Wolfgang Goethe terhadap legenda Faust, yang bercerita tentang seorang samaran iblis. Jauh sebelum heavy metal makan kelelawar, “Sympathy For The Devil” sudah merangsang gidik ngeri para pemuka agama untuk melaknat musik rock & roll sebagai musik iblis.

Pasca-membaca Rocks Off: 50 Tracks That Tell The Story of The Rolling Stones sembari memutar satu per-satu lagu bersangkutan yang diulas tiap babnya, saya berprasangka jika karakter musik The Rolling Stones memang membuat materi mereka lebih mudah dilupakan dibanding kepunyaan The Beatles. Tidak terlalu dibutuhkan selera sound dan sensibilitas 60-an dalam menikmati The Beatles, beda dengan warna blues kering yang terdengar sangat lawas dari The Rolling Stones. Entah bagaimana logika sebab-akibatnya, namun rasanya zaman lebih mengikuti jalur musikal yang diciptakan oleh The Beatles dibanding The Rolling Stones. Wajar, jika adikarya-adikarya Mick Jagger dkk mandek di pertengahan dekade 70-an.

Biarlah, The Rolling Stones memang lahir dan mati sebagai antitesis dari The Beatles. Toh, posisi oposisi ini juga yang ambil andil membesarkan mereka. Jika mau dirunut, kontra-Beatles adalah logika jualan dari The Roling Stones yang digagas dan dirintis oleh Andrew Loog Oldham selaku manajer pertama mereka. Misalnya, dirinyalah yang membangun pondasi dasar dari citra urakan The Rolling Stones sebagai bentuk antagonisme terhadap kenecisan Beatles. Oldham juga adalah produser yang baik. Kendati tak terlalu paham tentang teknis, tapi ia bisa membaca gambaran dan arah yang tepat bagi perkembangan musik Stones. Hasilnya? “The Beatles want to hold your hand, but The Rolling Stones want to burn down your town” – Tom Wolfe

#teamRollingStones.

 

10 Album Terbaik di Tahun 2016

Tags

, , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

 

10. Jamie T – Tricks

Trick cover.jpeg

Mendapat julukan dilematis “One Man Arctic Monkeys”, Jamie T memang bernyanyi dan meramu komposisi menyerupai apa yang sudah dilakukan oleh Alex Turner—dan yang baru akan dilakukan jika kelak ego Turner menendang tiga rekannya. (Sedikit info pendukung cocoklogi, Jamie T lahir hanya selisih dua hari setelah Turner) Arahkan sorotan terbaik ke tiga lagu pertama di Tricks: “Tinfoil Boy” yang menghadirkan chorus gilang-gemilang, rap ngebut ala Outkast pada ”Drone Strike”, serta ”Power Over Men” yang juga bisa dipertanggungjawabkan oleh Kasabian. Dan karena Arctic Monkeys pun tak selalu merilis album bagus, agaknya tak ada yang dirugikan jika kita bilang Tricks adalah Suck It And See (2011) yang lebih berwarna dan berdaya tarik.

9. Deftones – Gore

Gore - Deftones.png

Apa yang diperjuangkan Deftones akhirnya membuahkan sesuatu yang bisa dipetik. “The Radiohead of metal” ini sukses mengulur-ulur usia pesona mereka di saat band-band alternative metal angkatannya kian tak jelas juntrungannya. Perjuangan yang dimaksud adalah dedikasi terhadap upaya eksperimentasi dan progresivitas dalam tiap materi rilisannya. Gore adalah salah satu yang terbaik dengan senyawa cadas yang melayang dalam layer-layer shoegaze. “Phantom Bride” merupakan jagoan sekaligus mungkin lagu metal paling aksesibel di tahun ini. Peletakannya di bagian menjelang akhir tracklist juga menciptakan alur mood album yang sempurna. Konon, penggarapan album ini sedikit tergopoh-gapah diiringi friksi antar personil. Mungkin justru itu salah satu faktor yang membuat gejolak emosi musik Deftones bisa mencapai level serisau ini.

8. Drive-By Truckers – Gore

DriveByTruckersAmericanBandAlbumCover.jpg

Selain mengusung titel album yang cocok sebagai label musisi pengiring kampanye Donald Trump, unit country rock ini juga berasal dari Alabama, teritori militan dari pendukung Partai Republik, superioritas kulit putih, dan presiden anyar Amerika Serikat tersebut. Namun, Drive-By Truckers datang membelot bermodal hipotesis bahwa menjadi miskin itu bencana, namun menjadi kulit hitam berarti sedikit lebih buruk. Patterson Hood (vokal) bicara, “Kami sebagai kulit putih ragu untuk bicara tentang perbudakan dan isu rasial karena kami pihak antagonis, maka kami berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sampai sesuatu terjadi tepat di depan wajah. Saya merasa jika memulai sebuah dialog akan lebih baik daripada tidak sama sekali, walau dialog itu sedikit panas dan tidak akan mengenakkan.” Persis, American Band memanaskan dan menciptakan hawa tidak enak lewat lirik-lirik lugas anti-segregasi (yang berarti anti-Trump… dan anti Alabama?). Mereka mengutuk bendera konfederasi sebagai simbol rasisme pada “Darkened Flags On The Cusp of Dawn”, dan berlagu “If you say it wasn’t racial / When they shot him in his tracks / Well I guess that means that you ain’t black” pada “What It Means”. Kendati gugur secara politis, namun American Band terbukti lebih nyaring daripada sejumlah musik kampanye Hillary Clinton.

7. Kanye West – The Life of Pablo

The life of pablo alternate.jpg

Sampai di album ketujuhnya, Kanye West belum sempat merilis album dengan mutu biasa-biasa saja, (oke, kecuali kepicikan lirik-lirik Watch The Trone. Pengaruh buruk Jay-Z!). Apalagi untuk album yang memang tidak digarap dengan biasa ini. The Life of Pablo diproduksi dengan sistem “rilis dan revisi” (jika istilah ini pernah ada) dengan 18 lagu yang tidak terdengar kohesif satu sama lain. Bahkan kita mungkin bisa mengatur ulang sendiri urutan track-nya agar terdengar lebih rapi. Namun, tema besar The Life of Pablo memang perihal proses serta instabilitas. Dan di antara kekacau-balauannya, reputasi West sebagai rapper dengan kemampuan meramu aransemen yang belum ada bandingannya makin menonjol. Tiap lagu punya ornamentasi menawan yang memungkinkannya untuk berdiri sendiri, termasuk melankolia apik: “Real Friends” dan “Wolves”. Dan tepat di tengah kekacau-balauannya lagi, terselip satu nomor freestyle bertajuk “I Love Kanye”: “See, I invented Kanye, it wasn’t any Kanyes / And now I look and look around and there’s so many Kanyes / ….. / And I love you like Kanye loves Kanye” Kejemawaannya masih berstatus sah. Apapun yang ia buat, sulit untuk tidak mencintainya.

6. Car Seat Headrest – Teens Of Denial

Teens of Denial Car Seat Headrest.jpg

Sejatinya tak ada yang baru dari karakter musik yang dibawakan Teens of Denial. Kita belum terlalu lama kehilangan gaung indie rock merisaukan semacam The Libertines, The Strokes, atau juga intro “Vincent” yang mengingatkan pada “Marque Moon” dari Television. Tapi musik seperti ini memang rasanya tak boleh sekalipun absen, dan tahun ini Car Seat Headrest mewakilinya dengan sangat baik. Lirik-lirik resah besutan Will Toledo (vokal) merangkum optimisme dan pesimisme yang saling berunding dalam gaya tutur sempoyongan dan penuh metafora cerdas, seperti racaunya: “And then I saw Jesus/ And he said ‘Who are you to go against the word of my father? And Who are you?  the scum of the earth’” dalam “(Joe Gets Kicked Out Of School For Using) Drugs With Friends (But Says This Isn’t A Problem)”. Jika sesuatu yang memabukkan belum mampu menjawab kebutuhan remaja gelisah, Teens of Denial bisa jadi pelarian kedua.

5. Nick Cave and the Bad Seeds – Skeleton Tree

An image of a black background. In the bottom-left centre, monospace-style green text reads "Nick Cave & the Bad Seeds" in uppercase and "Skeleton Tree" in normal-case. Underneath is a static text cursor.

Nick Cave biasa bicara tentang ajal. Namun, kali ini bukan imajinasinya yang memancingnya bicara, melainkan emosi. Lirik di album ini diubah dalam sesi rekaman pasca putranya tewas jatuh dari tebing. “All the things we love, we lose,” ucapnya dalam dengung noise yang getir di “Anthrocene”. Alasan Skeleton Tree menjadi album duka yang luar biasa adalah karena gelegak nestapa yang siap tertumpah tidak membengkalaikan sisi artistiknya, tapi justru berkelindan. Sejak “With my voice / I am calling you” melantun dari “Jesus Alone”, suara Cave yang menggigil terus muncul dalam ruang minimalis berlatarkan disonansi dan ambience yang garau, seakan ia melagukannya di hadapan makam yang berlumpur. Bahkan beberapa melodi vokal sengaja tidak selaras dengan time signature-nya. Kendati juga Cave memilih menggunakan alegori dibanding narasi dalam mengisahkan elegi-elegi itu, kita tetap mahfum benar seberapa berkabung suasana hatinya.

4. David Bowie – Blackstar

A white background with a large black star and smaller parts of a five-pointed star that spell out "BOWIE"

Blackstar mengangkasa di tangga lagu Inggris sebelum kabar duka Bowie diumumkan. Artinya, bukan semata momentum kehilangan yang membuat album ini begitu dirayakan tahun ini. Seakan mendamba keabadian, ada unsur klasik sekaligus futuristik di dalamnya. Komposisi art rock yang dipengaruhi oleh album terbaik tahun lalu, To Pimp a Butterfly dari Kendrick Lamar. Beberapa legenda hidup mengalami demistifikasi sosok dan karya yang dilucuti usia (sebut saja Robert Plant), tapi Bowie adalah lain. Dahulu, ia menguasai dunia dengan undangan memasuki dimensi-dimensi terasingnya, dan kini ia meninggalkan kita semua dengan tinggalan yang tetap mirakel. Bahkan di tiap ketukan drum di Blackstar, terdapat atmosfer elusif yang membuat kita merasa makin tersesat. Kian kemari tanpa ujung, lagi cahaya.

3. Bon Iver – 22, A Million

22, A Million cover.jpg

Suara-suara itu menyerupai nyala api yang bergelayut di atas lilin, berjuang melawan angin untuk tetap hidup. Meredup, menerang, Kadang terasa menjauh, mendekat. Bon Iver bukan menggunakan mesin untuk menghidupkan musiknya, melainkan malah menggunakan musiknya untuk memberikan kehidupan pada mesin. Dalam 22, A Million, kita seakan bisa mendengar robot yang bernafas, bahkan mungkin menangis di “29 # Strafford APTS” atau menggeligis di “21 M♢♢N WATER”. Ternyata kita bisa seintim itu dengan sampling, loops, autotune atau manipulasi-manipulasi lain. Seperti rapalan lirik Justin Vernon (vokal) yang acap mengarungi ketidaktahuan atas apa yang akan datang, perkawinan folk yang organik dengan perangkat keras-perangkat lunak ini pun adalah pertanyaan untuk masa depan. Seberapa jauh lagi telusur artistik bisa memanusiakan musik elektronik?

2. Beyonce – Lemonade

Beyonce - Lemonade (Official Album Cover).png

Beyonce tidak lagi hanya melibatkan setimbun elemen musik, namun juga kehidupan pribadinya dalam pendekatan eksperimen di album teranyarnya. “You can taste the dishonesty, it’s all over your breath”, lantunnya pilu membuka Lemonade. Jay-Z selingkuh dengan oknum yang disebut dengan nama samaran “Becky with the good hair“, dan Beyonce menyanyikan semuanya secara cukup detail sebagai reportase maupun curahan emosi. Nomor “Hold Up” sukses menggunakan interpolasi chorus Yeah Yeah Yeahs, “They don’t love you like i love you” untuk membahasakan perasaan di fase ternaifnya. Tak ada ampun bagi Jay-Z, “Who the fuck do you think I am? / You ain’t married to no average bitch boy…… And keep your money, I’ve got my own” dari “Don’t Hurt yourself” berkembang hingga “Me and my baby we gone be alright / We gon’ live a good life / Big homie better grow up”  dari “Sorry” sebagai puncak paruh awal album ini yang jika dilakukan oleh musisi Indonesia mungkin akan jadi makanan empuk Kapanlagi.com atau akun Lambeturah. Memang tidak ada single yang terbilang sukses besar, “Formation” mentok hanya bercokol di 10 besar Billboard 100. Lemonade adalah terobosan, sebuah album pop arus utama yang tidak cocok didengar terpisah per lagu (kecuali “Formation” itu sendiri). “All Night” misalnya, hanya akan membuat hati berderai-derai jika didengarkan tepat setelah 10 lagu sebelumnya. Selebritas Beyonce (dan Jay-Z) adalah sebuah trofi kemenangan industri, dan Lemonade berhasil mereproduksinya menjadi karya yang juga menang secara artistik. Baik dalam perpektif seni paling adiluhung atau komodifikasi paling jahat, Lemonade adalah inovasi yang cemerlang.

1. White Lung – Paradise

Paradise (White Lung album).jpg

Cuma butuh 13 detik pertama untuk menumbuhkan prasangka bahwa Paradise akan jadi album terhebat tahun ini. “Dead Weight” menubruk gendang telinga dengan dahsyat, sebuah peringatan bahwa melakukan aktivitas lain pada 28 menit ke depan hanya akan berakhir dengan kacau balau. Hampir seluruh lagu di Paradise seperti rudal yang melesat dari jet-jet pembunuh massal. Unsur melodik menjadi pembeda utama dibanding tiga album pertama unit punk rock asal Kanada ini. Jelas, melodik yang ini tak terasosiasi dengan istilah lemah apapun. Laksana membungkus tornado dengan angin pusar. Punk rock megah tanpa perlu didukung iringan opera ala American Idiot atau 21st Century Breakdown. Jika Anda masih bebal, silahkan hadapi Mish-Way Barber (vokal): “Ada sikap sangat bodoh yang hanya dimiliki oleh para penganut punk, karena entah bagaimana menjadi seorang penulis lagu yang lebih baik malah dianggap tidak keren.” Sikap alotnya juga terukur dari lirik-lirik yang sengit namun genial. Feminis juga perlu cinta! “Kiss Me When I Bleed” berkisah tentang wanita kaya yang jatuh cinta dengan tukang sampah, pahit tapi mencecar (“I will give birth in a trailer / Huffing the gas in the air / Baby is born in molasses / Like I would even care”). Bersamaan dengan semangat feminisme yang makin dirayakan, suara-suara perempuan telah banyak mengokupasi ranah music rock hari ini seperti Warpaint, St. Vincent, atau Courtney Barnett. Dan Paradise membuat fenomena itu berdengung lebih ribut dari sebelumnya. Valid, 13 detik yang paling bisa dipercaya tahun ini.

10 Album Indonesia Terbaik di Tahun 2016

Tags

, , , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. Hellcrust – Kalamaut

Hasil gambar untuk hellcrust kalamaut

“Terserah orang mau ngomong apa, ada empat orang bekas Siksakubur, mau dibilang Siksakubur ‘perjuangan’ atau semacamnya, tetap saja musiknya beda sama Siksakubur,” tukas Japra, sang vokalis kepada Rolling Stone. Berlilit pengaruh melodik dan thrash, jejak Siksakubur yang paling terasa hanyalah naluri destruktifnya. Andyan Gorust begitu sadis membantai drumkit, sementara masuknya Japra di akhir pembentukan formasi Hellcrust berimpak langsung pada penulisan lirik bahasa Indonesia yang bagus tanpa kehilangan brutalitas. “Mantra Pariwara” dan “Pancung Suara” menunjukan gegap gempita metal tak menghalanginya mengenal permasalahan kemanusiaan yang lebih luas. Terakhir, kualitas produksi suara yang mantap membuat semua kelebihan-kelebihan itu bisa dipresentasikan secara maksimal.

9. Mustache and Beard – Manusiaku, Manusiamu, Manusianya

Hasil gambar untuk mustache and beard manusiaku

Di tahun kelima tren musik folk di Indonesia berjalan, ternyata masih ada karakter berbeda yang bisa disuguhkan. Suara seruling dan vokal melayu dalam gema reverb yang gersang di Manusiaku Manusiamu Manusianya menciptakan imajinasi seakan ada padang pasir di Kota Bandung. Liriknya yang kontemplatif juga menyumbang keutuhan nuansa. Kendati pemuisian seperti “Pada siapa kau bertanya / Harap bumi yang terlupa / Sinar surya yang menua / Takkan lagi peluk kita” membuka ruang tafsir yang begitu luas, namun kita percaya ada amanat religius di sana. Coba dengarkan sekitar azan subuh, Anda akan bergegas ambil air wudhu  berharap surya tak pernah terburu-buru.

 

 

8. Mondo Gascaro – Rajakelana

https://i1.wp.com/www.rollingstone.co.id/image/2016/12/30/e7fd94a3_Mondo-Gascaro-Raja-Kelana-650.jpg

Dua tahun meninggalkan salah satu band paling berbakat di negeri ini, Mondo Gascaro menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Sebebas angin menerbangkan dirinya pada terpaan ombak selaba yang dirayakan oleh harmonisasi vokal yang elok dan silir semilir suara sesi strings. Selain pengaruh The Beach Boys, warna musik Sore sendiri (seperti yang diharapkan) terpatri secara sah di Rajakelana. Hanya saja jika Sore merengkuh eksotisme urban, maka Rajakelana menawarkan atmosfer pesisir yang diejawantahkan di antaranya melalui penggunaan instrumen-instrumen tropikal seperti alat petik asal wilayah kepulauan di Jepang pada “Butiran Angin”. Hikmah dari perpisahannya, hari ini kita jadi punya dua sumber musik sebagus ini.

7. Rajasinga – III

Hasil gambar untuk rajasinga iii

Dalam cengkeraman Rajasinga, grindcore tak hanya ngebut sampai tujuan. Kita akan diseret melewati rute penuh pengkolan, jalan berlubang, atau apapun yang bisa kita nikmati tiap kegilaannya. III punya lagu berdurasi sekuku ala Napalm Death, atraksi gitar slide bluesy, atau colongan riff “Smell Like Teen Spirit”. Walau sangat eksploratif, tapi substansi pesan yang mereka bawa justru konkret, misalnya lewat lirik “Orang pintar, tapi tak berpijar / Masalah kami di negri ini!” atau “Rumah sakit, untuk yang berduit / gele-gele belum legal, sakit masih mahal”. Bahkan sebuah nomor plesetan pancasila berbunyi “Kemanusiaan yang suram dan tiada!” dan “Kerakyatan yang dipimpin oleh entah siapa / dalam persekongkolan dan keragu-raguan” pun terasa bukan sekadar intermezzo. Rajasinga masih (izinkan tetap meminjam tajuk album kedua mereka) kurang ajar!

 

6. Raisa – Handmade

Hasil gambar untuk raisa handmade

Satu bukti lagi bahwa independensi adalah kebutuhan progresivitas untuk musisi hari ini, termasuk mereka yang berkiprah di tataran industri arus utama. Handmade yang digarap mandiri melalui label Juni Records (sama dengan album perdana Barasuara) adalah album terbaik Raisa sejauh ini. “Jatuh Hati” lebih dulu menaklukan tahun 2015, sementara “Kali Kedua” kian meningkatkan kecurigaan bahwa Dewi “Dee” Lestari punya bakat seperti Eross Candra dalam menggarap lirik pop yang mandraguna. Puas juga mendengar Raisa bernyanyi dengan didukung produksi aransemen yang modern dalam “Sang Rembulan” dan “Nyawa dan Harapan”. Handmade tahun ini sukses menyunggi Raisa untuk mengimbangi Tulus sebagai agen tembang radio paling kompeten.

5. Elephant Kind – City J

Hasil gambar untuk elephant kind city j

Bersama kontribusi dari seorang Lee Buddle, kualitas produksi suara City J memang mumpuni. Namun, jika hanya itu, Elephant Kind tidak akan lebih dari barisan kolektif pop urban electronic hambar yang hanya bermodal keluaran sound jernih, punya synthesizer, dan vokalis bersuara bagus. Elephant Kind menyandang materi yang memang solid dan impresif, itu persoalannya. Mereka gemerlap seperti Phoenix atau Two Door Cinema Club dalam “Beat The Ordinary” dan “Keep It Running”, rancak menyerupai Vampire Weekend (“Love Ain’t Rockies”), dan mengerucut pada beat-beat R&B di “Montage”. Harga rilisan fisiknya kemahalan? Selalu ada cara untuk setiap album yang bagus.

4. Tulus – Monokrom

Hasil gambar untuk tulus monokrom

Monokrom adalah kepastian dari karakter Tulus di album sebelumnya yang fenomenal, Gajah (2014). “Pamit” bahkan menunjukan perkembangan aransemen yang mencolok lewat alunan orkestra megah yang sanggup tetap terdengar bersahaja. Sisanya, tetap lagu-lagu yang melenakan, merayu bibir untuk bersenandung. Selain “Ruang Sendiri”, “Tukar Jiwa” adalah contoh kejelian Tulus memilih perspektif lirik asmara: “Aku kehabisan cara tuk gambarkan padamu / Kau di mata dan pandanganku / Seandainya satu hari bertukar jiwa / Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya” Terasa santun dan sewajarnya, alih-alih mendramatisir nestapa. Hampir selalu ada kebijaksanaan dalam konflik yang ia sampaikan. Selama Tulus masih menatap ke depan, langkah raksasanya akan sulit dirobohkan.

3.The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

Hasil gambar untuk the trees & the wild zaman zaman

Salah satu kegagalan musikal paling fatal di tahun kemarin adalah Mumford and Sons yang gantung banjo demi menggarap album rock alternatif yang membosankan. Ada gejala yang sama pada The Trees And The Wild, nekat menanggalkan akar musik yang sudah persisten demi menjajaki teritori yang baru. Mujur, masih ada akal sehat dan kebijaksanaan dalam langkah radikal kuintet ini. Siratan kesejukan folkish di antara sampling dan belantara noise adalah determinan yang meloloskan mereka dari lubang jarum. Itu adalah satu dari beberapa elemen lama dari Rasuk (2009) yang tidak terjelaskan secara teknis, namun dapat dinikmati dalam atmosfer noise dan shoegaze yang meruang. Zaman, Zaman selaiknya suara-suara hutan yang riuh dan mistis dalam Princess Mononoke. Kian sering didengar, album ini sejatinya tak lebih berat dicerna daripada Rasuk. Detail aransemen mereka menyimpan hook, dan selalu datang dan pergi di saat yang tepat (coba dengar “Saija”). “Tuah/Sebak” ialah selayang salam untuk Iga Massardi, bagai versi extended cut dari “Api dan Lentera” milik Barasuara. Kita pun diantar di zaman banyak orang Indonesia mengaku bisa menikmati sebuah lagu berdurasi lebih dari dua digit dengan lirik implisit yang semata diulang-ulang. Magis. Belajar dari Mumford And Sons, berani memang bukan pangkal baik. Namun, begitu menyenangkan untuk tahu bahwa salah satu album terbaik tahun ini sekaligus adalah album paling berani.

2. Dialita – Dunia Milik Kita

Hasil gambar untuk dialita dunia milik kita

Mengais ingatan gejolak 1965 ialah sesuatu yang amat menggairahkan dalam setidaknya empat tahun terakhir. Tak terhitung karya seni yang meminjam sejarah itu untuk memperkuat nilai artistik atau modal pemasarannya, maupun sebagai wacana yang disampaikan. Namun, Dialita tidak pernah meminjam, 1965 adalah milik mereka. Partitur-partitur lampau dan kelompok paduan suara beranggotakan keluarga atau mereka yang pernah ditahan atas tragedi itu adalah saksi hidup. Suara-suara sintas yang belum terlambat dijemput oleh Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud dan beberapa pengampu aransemen terindah lainnya di negeri ini. Arman Dhani butuh 2311 kata untuk menceritakannya. Dengan tetap merasa bersalah, saya rangkum sebisanya: Mendengar Dunia Milik Kita laksana mendengar dongeng Sangkuriang dari Dayang Sumbi. Kita menangis karena tahu suara inilah yang mengarungi segala yang terucap, hanya demi akhirnya sungguh sampai kepada kita.

1. Libertaria – Kewer – Kewer

Hasil gambar untuk libertaria album

Marzuki Mohamad alias Kill The DJ adalah figur yang gemar menggunakan musik sebagai medium untuk bicara dengan masyarakat. Mulai dari “Jogja Istimewa”, “Jogja Ora Didol”, sampai segala ikhtiarnya mengantarkan Jokowi ke Istana. Jelas perlu putar otak untuk melakukannya seefektif mungkin. Jika dulu harus melarutkan bahasa Jawa ke musik hip hop, kali ini ia menciptakan aliran musik sendiri yang terdengar hantam kromo, yakni post dangdut elektronika. Begitu juga kolaboratornya: mulai dari Riris Arista yang memang biduan dangdut tulen, Farid Stevy Asta sebagai kesayangan remaja artsy, sampai Glenn Fredly. Satu lagi upaya memperantarai kelas, dan hasilnya ternyata tak sewagu konsepsinya. Tanpa mengurangi apresiasi terhadap aransemen garapan Balance yang berhasil memperbaiki pandangan saya terhadap dangdut elektronik (oh, musik koplo itu sampah hanya karena selalu digarap sembarangan), kepekaan lirik adalah aset pokok Libertaria. Ada wacana besar yang ditawarkan di tiap goyangan “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, “Interupsi” dan “Citra Itu Luka”. “Citra itu mahal cantik itu luka / Hidup sibuk untuk mengejar yang fana” bisa diselundupkan ke lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Sementara “Rakyat sedang sibuk  repot dan tak punya waktu / maka ngurus negara kami wakilkan kepadamu / kami ingatkan bahwa rakyat itu majikan / anggota dewan statusnya hanyalah pembantu” seharusnya didendangkan Rhoma Irama di rezimnya. Pertanyaan terbesar saya tahun ini selain apa yang ada di balik kepala Habib Rizieq dinding Benua Antartika adalah mengapa Marzuki tidak melakukan apapun pasca-konser rilisnya album ini. Dilahirkan, lalu ditinggalkan begitu saja. Alhasil, mungkin tidak banyak media yang ngeh dengan eksistensi album ini. Kalau sudah begini ‘kan blog ini jadi seperti punya selera yang aneh. Saya juga yang kena.

10 Lagu Terbaik di Tahun 2016

Tags

, , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. A Tribe Called Quest – We The People

“We don’t believe you ’cause we the people “ Sebuah nomor rap ganas berjebah kata kunci anti-Trump di dalam liriknya. Intoleransi, kulit hitam, LGBT, imigran, islam, dan rakyat! “All you Black folks, you must go / All you Mexicans, you must go / And all you poor folks, you must go / Muslims and gays, boy, we hate your ways” Rilis sepekan pasca-hasil perhitungan suara keluar, memang lebih baik membentuk barisan daripada menyesali mimpi buruk.

9. Kanye West – Famous

“Famous” menghasilkan video musik dan lirik paling kontroversial tahun ini: I feel like me and Taylor might still have sex / Why? I made that bitch famous (Goddamn) / I made that bitch famous Kenapa orang ini suka sekali mencari sensasi? Mungkin alasan belum ada yang berinisiatif membuang Kanye West ke dasar lautan adalah karena kombinasi lantunan Rihanna, kord Nina Simmone, serta sample “Bam-Bam” dari Sister Nancy itu nyata, dan belum bisa ditemukan selain dari otaknya.

8. Hamilton Leithauser + Rostam – A 1000 Times

Kolaborasi mantan vokalis The Walkmen dan bekas multi-instrumentalis Vampire Weekend ini menampilkan pendekatan pop lawas yang anehnya justru terdengar  baru. Termasuk juga lirik asmara kompulsif yang sederhana tapi begitu kuat. Leithauser bernyanyi dengan aksentuasi yang berkobar-kobar pada chorus repetitif, seakan baru akan berhenti usai kerongkongannya berdarah. Siap didengar seribu kali.

7.Car Seat Headrest – Drunk Driver / Killer Whales

Car Seat Headrest menganalogikan seorang pengendara mabuk dengan paus pembunuh (orca). Sama-sama membahayakan sekitarnya, padahal sesungguhnya keduanya hanya ingin pulang ke rumah. “We are not a proud race / It’s not a race at all / We’re just trying / I’m only trying to get home. Toledo memang bersenandung seperti alkoholik yang didera sejuta masalah dan angin malam. Lagu ini tentang penyesalan dan renungan. Kabar buruknya, akan ada banyak remaja yang merasa mendapat anthem untuk berkendara sambil mabuk.

6. Nick Cave and The Bad Seeds – Girl In Amber 

Just step away and let the world spin / And now in turn, you turn / You kneel, lace up his shoes, your little blue-eyed boy ” Cave melibatkan sang istri, Susie Bick dalam salah satu kepingan kontemplatif dari bagaimana ia menghadapi tragedi yang baru saja menewaskan putranya. Ada ketegaran yang syahdu dalam pilihan kalimatnya, “I used to think that when you died you kind of wandered the world  / In a slumber till you crumbled, were absorbed into the earth / Well, I don’t think that any more.” Akhirnya, dengarkan bagaimana setiap getaran suara di lagu ini turut berbelasungkawa.

5. White Lung – Dead Weight

Tidak ada kata pemanasan untuk album Paradise, “Dead Weight” langsung membuka paksa dengan banyak tanda seru, “A pound of flesh lays between my legs and eyes”. Apakah ingar bingar melodi gitar yang menggeliang-geliut menyerupai synthetizer itu sedikit terdengar seperti metalcore? Tunggu dulu, lagu ini tentang konformitas gender, “So spare your good seed, I’m getting bored and old.” Hanya punk rock yang bisa membuat lirik setajam itu.

4. Rae Sremmurd feat Gucci Mane – Black Beatles

“Love those Black Beatles #MannequinChallenge,” tulis penggawa Beatles, Paul McCartney yang turut berkontribusi pada viralitas meme tersebut. Meski tak disengaja, namun “Black Beatles” memang punya kedalaman komposisi yang membuat kita tersedot dan mematung di dalamnya. Yang pasti lagu ini sukses menjadi artefak kultur digital yang lebih luas. John Janick, kepala label Interscope berucap, “Tanpa Mannequin Challenge, lagu ini tetap akan menjadi hit. Tapi dengan Mannequin Challenge, ini menjadi dahsyat.”

3. David Bowie – Lazarus

Salah satu swan song terbaik yang pernah dirilis. Look up here, I’m in heaven / I’ve got scars that can’t be seen” kanker livernya yang tak terjamah media massa menjemput nyawanya pada 13 hari setelah lagu ini dirilis sebagai single. Jika Kurt Cobain memilih “to burn than fade away”, David Bowie memilih menjadi kekal. Seperti dalam kepercayaan nasrani, Lazarus dibangkitkan lagi oleh Yesus. Sebuah atraksi kekuatan tuhan untuk menangkal akhiran. I’ve got drama, can’t be stolen / Everybody knows me now,” Bowie pun menegaskan bahwa tak ada yang mampu mengakhirinya. Kemegahan ”Lazarus” membuat dunia tidak akan melupakannya, baik saat hidup maupun momen kematiannya.

2. Bon Iver – 22 (OVER S∞∞N)

22, A Million diawali dengan latar loop merinding yang disambut suara-suara asing bertutur “two, two”. Justin Vernon memang terobsesi dengan angka 22, dan kita tak harus tahu alasannya. Sejak kapan kita memahami apa yang dilakukan dan diciptakan olehnya? Fundamen yang memperantarai unsur digital lain seperti sample “How I Got Over” dari Mahalia Jackson dengan unsur organik berupa saksofon, kocokan gitar dan vokal teduh Vernon? Atau lirik, “There isn’t ceiling in our garden / And then I draw an ear on you / So I can speak into the silence?  Semua yang ada di lagu ini terdengar nyaman tanpa harus terdengar padu. Upaya artistik yang mempreteli keserasian demi membangun pesona yang lebih kokoh.

1.Radiohead – Daydreaming

Sama seperti In Rainbow (2007) dengan “Reckoner”, A Moon Shaped of Pools menyimpan sebuah single yang dahsyat. Saya kian curiga kita selama ini sudah dikendalikan oleh mereka. Di saat kompleksitas sudah menjadi natural bagi komposisi-komposisi Radiohead, kita tak pernah bisa lari jika tiba-tiba mereka dengan sengaja memberikan sensibilitas pop di salah satu lagunya. Satu lagi bukti konspirasi kontemporer ini adalah “Daydreaming”, karya mereka yang bahkan lebih sinematik dari ”Exit Music (For A Film)”. Meruang dan membius bak musik latar film-film kolosal ataupun adegan-adegan klimaks psychological thriller. Semua partikel aransemen sangat presisi. Efek pitch-warping di intro, permainan piano yang memandu imaji mengelilingi sekujur lagu, hingga biola orkestra yang menggeram dan mengambil alih nuansa. Teruntuk yang bersedia menyelami lebih jauh, telisik juga manipulasi vokal dari pesan lirik tersembunyi di bagian akhiran, “half of my life“, “I’ve found my love“, dan “Every minute, half of my love“. Lagu ini memang tentang rentang masa yang berlalu dan hilang dari kehidupan Thom Yorke (vokal). Yah, setidaknya kita tak akan pernah kehilangan dirinya. Bagaimana bisa jika sampai di dekade ketiganya pun Radiohead masih menciptakan karya terbaik?

10 Lagu Indonesia Terbaik di Tahun 2016

Tags

, , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. Elephant Kind – True Love

Sentuhan elektronik yang berkilat membuat sisi modern dan mewah dalam aransemen City J membuntang, namun kocokan gitar indie rock di “True Love” adalah babak terbaiknya. Cinta sejati akan Elephant Kind bisa ditemukan dari bagaimana Ezra Koenig tengah jamming di malam kelabu dengan Arcade Fire.

9. Shaggydog feat Sujiwo tejo  – Pion

Lagu Shaggydog yang paling politis sekaligus apolitis. “Pion” adalah luapan apati dan mobilisasi untuk memilih bergoyang menghadapi kejemuan kondisi sosial politik. Ada ekspresi kebobrokan zaman pada isian saksofon bernada Minang dan lantunan suluk berupa tembang macapat Asmaradhana serta Maskumambang dari Sujiwo Tejo. Dalam koor “na na na na” yang semarak itu, ribuan kaki rakyat ska menggetarkan daratan.

8. Young Lex feat Gamaliel – Slow

Komentar terbanyak untuk lagu ini adalah “Yang bikin bagus itu Gamaliel-nya”, dan “Bakal lebih bagus kalau nggak ada Young Lex”. Entah siapa menguntungkan siapa, tapi “Slow” punya level berbeda di antara lagu rap asal-asalan keluaran jejaring Youtubers kelas menengah yang berlomba-lomba panjat sosial. Bukan hanya signifikan untuk musik rap lokal, pamor lagu ini di radio menunjukan ada potensi kemunculan corong baru di strategi bisnis industri musik kita. Lagipula, mengingat reputasi Young Lex, mana mungkin lagu ini tidak spesial jika melihat jumlah like-nya di Youtube bisa berlipat kali lebih besar dari dislike-nya.

7. Bars of Death – Tak Ada Garuda di Dadaku

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu,” ujar John F. Kennedy yang lantas diadaptasi Bung Karno untuk memantik semangat militansi terhadap Tanah Air. Militansi dungu selayaknya mereka yang terpesona oleh Nara Rakhmatia, sosok yang tahun ini dianggap menyelamatkan martabat kita dengan menyembunyikan kejahatan HAM negara di hadapan global. Apalah arti citra atau nama baik kalau hanya untuk melanggengkan imperialisme atau penjajahan? Apalah arti jargon “garuda di dadaku” dalam pertandingan timnas yang mau menang berapa kosong pun tetap tidak akan membuat tanah-tanah kita kembali? Nasionalisme kian membutakan, maka lagu ini memaksamu memuntahkan sang garuda yang sudah tercabik menjadi darah dan nanah. Merah dan putih!

6. Tulus – Ruang Sendiri

Tulus kembali sanggup menangkap sudut pandang problematika asmara sama tajamnya dengan yang ia tulis di “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” dari album Gajah (2014). Menurut hematnya, frekuensi bertemu atau berinteraksi yang terlalu intens dalam sebuah hubungan percintaan justru berujung tidak sehat. Tulus membangun argumen-argumen lewat liriknya yang hangat. “Bila kita ingin tahu / Seberapa besar rasa yang kita punya / Kita butuh ruang, lantunnya sebegitu petah lidah, dan dialog ditutup dengan pengutaraan yang bestari,“Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin / Hingga aku lupa rasanya sepi / Tak lagi sepi bisa kuhargai.” Lewat empuknya melodi dan jelajah putarnya di radio, bukan tidak mungkin ada banyak konflik terpendam yang terwakilkan dari pasangan-pasangan di luar sana selain melulu soal komitmen.

5. Rich Chigga – Dat $tick

Awalnya kami sendiri butuh melakukan verifikasi berulang terkait viralitas “Dat $tick”. Kami sangsi apakah sang remaja dengan polo merah jambu dan tas pinggang Reebok yang menyanyikannya benar-benar orang Indonesia, bukan penduduk Chinatown yang baru saja pindah ke pinggiran New York. Selain wajah peranakan Tionghoa membuat kewarganegaraannya tak teridentifikasi dari segi fisik, ia juga melancarkan bahasa inggris secara amat fasih dalam lirik berdiksi kompleks perihal friksi gangster yang tentu tidak terbayang muncul dari kepala ABG Indonesia. Belum lagi kita bicara teknis flow dan delivery di dalamnya yang amatlah canggih. Ada Jogja Hip Hop Foundation yang berhasil mendunia dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh barat. Rich Chigga justru menawarkan sesuatu yang semirip mungkin dengan yang dimiliki oleh barat, sialnya ia tetap saja berhasil.

4. Tika & The Dissidents – Tubuhku Otoritasku

Kartika Jahja sudah dikenal luas akan kiprahnya mendukung emansipasi gender. Namun, “Tubuhku Otoritasku” adalah ekspresi terkuat di jalan juangnya sebagai musisi. Feminisme atau kesetaraan gender memang adicita besar non hitam-putih yang sampai berabad pun masih membawa pertentangan, seringkali hanya karena keliru dipahami. Bahkan, tak sedikit yang melihatnya sebagai upaya muluk sebagian kaum wanita untuk menundukkan kaum laki-laki. Perhatikan, “Tubuhku Otoritasku” menyuguhkan lirik yang berupaya menjawabnya tanpa berbelit-belit. Lewat irama rock & roll, jawaban itu dilontarkan dengan simpatik namun juga tegas, “Ini untukmu, sahabatku, laki-laki. Tanpa izinku, kau tak masuk ke wilayahku”. Jika masih saja bingung, “Hormatku lahir dari hormatmu” semestinya cukup menjelaskan esensi semuanya.

3. Dialita – Ujian

Ibu Siti Jus Djubariah ialah seorang guru yang menjadi tahanan politik 1965 di Bukit Duri, Jakarta. Beliau menggubah lagu bertajuk “Ujian” demi menyemangati ratusan wanita lain dalam bui untuk menghadapi ketidakpastian akan masa kini dan masa depan. “Dari balik jeruji besi hatiku diuji / apa aku emas sejati atau imitasi”,bunyi lirik paling membekas di album Dunia Milik Kita dari Dialita. Vokal paduan suara yang berlapis-lapis itu laksana ketegaran yang tiada habis walau tiap hari dikikis. Lebih-lebih, Frau menunaikan tugasnya lebih dari yang diharapkan, solo piano yang melantun di pertengahan lagu adalah salah satu performa terbaik yang pernah kita dengar darinya. Tak terbayang lagi betapa emosional proses rekaman lagu ini.

2. Libertaria – Orang Miskin Dilarang Mabuk

Saya mengidap kelainan berupa ketidakmampuan untuk bergoyang mengikuti irama dangdut. “Orang Miskin Dilarang Mabuk” kemudian adalah lagu dangdut pertama yang sanggup membuat saya bergoyang, hingga akhirnya saya sadar alasannya. Ternyata irama lagu ini memang bukan dangdut, melainkan beat elektronik yang justru sedikit berkarakter hip hop. Di luar keterlibatan vokal dari Farid Stevy Asta, melodi kibor yang mbeling itu rasanya juga akan relevan untuk terselip dalam lagu FSTVLST. Selain inovatif di sisi aransemen, konten lirik dari tembang ini pun sangat kontekstual di momen rilisnya wacana RUU larangan minuman beralkohol sebagai tindak lanjut beragam Perda larangan miras sebelumnya. Padahal mandam untuk kaum papa bukan lagi perkara moral, agama, atau dampak kesehatan yang didramatisir. Ini soal kesenjangan kelas, “Bagi orang kaya mabuk itu gampang / Buka botol import Karena banyak uang / Miras nenek moyang malah dilarang”. Dangdut bicara ciu? Kemelaratan? Mangkel pada pemerintah? Bukan sesuatu yang baru. Justru ini yang menunjukan kejelian Marzuki menghidangkan problem sosial yang sudah akrab dengan akar rumput, seraya memobilisasikannya ke isu yang lebih substansial. Mulus, tanpa terasa memaksakan intelektualisme elite. “Stres itu adalah hak asasi / Orang miskin juga butuh kanalisasi.” Dangdut dan alkohol adalah kanalisasi rakyat. Libertaria mengoplos keduanya dengan takaran yang cespleng. Jika benar dangdut adalah darah rakyat Indonesia, lagu-lagu seperti “Orang Miskin Dilarang Mabuk” diharapkan menjadi bakal leukimia stadium 4.

1.Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Tahun 2016 adalah tahun yang berat untuk Ananda Badudu. Kakeknya yang merupakan pakar bahasa Indonesia termahsyur, J.S Badudu tutup usia di bulan Maret. Lantas, kebetulan selang beberapa menit setelah saya menulis draf awal ulasan ini, Banda Neira resmi memublikasikan pembubarannya. Dari beberapa sumber media, Nanda terlihat begitu emosional melakoni hari-hari pertama dari tamat kiprahnya bersama Rara Sekar yang sebenarnya tengah dalam kondisi terbaik secara pengaryaan. Banda Neira adalah contoh artis dengan progres musikalitas yang layak disebut bermetamorfosis karena amat signifikan tumbuh kembangnya. Di era album Berjalan Lebih Jauh (2013), saya pribadi melabeli mereka sebagai salah satu musisi paling overrated. Hanya sepasang muda-mudi yang menyanyikan lagu-lagu puitis dengan kocokan gitar, kapasitas vokal, dan tata rekam seadanya. Kesederhanaan yang berdasar pada ketidakcakapan. Namun, mereka tiba-tiba menemukan apa yang seharusnya lahir dari kesederhanaan itu dengan sound yang lebih pantas, aransemen yang berisi, dan vokal yang lebih merdu di album kedua. Semua segi meningkat mencapai titik kelayakan. Dan sudah konsensus khalayak rasanya jika nomor bungsu “Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti” adalah mahakarya mereka. Harmonisasi yang apik (siapa bisa menafikan suara dua dari Rara itu?) melagukan lirik yang akan susah dicabut dari kepala dan lubuk. “Patah tumbuh, hilang berganti” ialah aforisme perihal bahwasanya apapun akan menemui masa gugurnya, namun niscaya juga akan silih sambut oleh yang baru. Patah hati, patah semangat, patah arang, apapun akan terganti. Nanda sendiri menyebut “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” sebagai lagunya yang paling berkesan sekaligus melukiskan situasinya yang masih dirundung duka perpisahan. Banda Neira meninggalkan kita di saat terbaiknya, tatkala “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” siap menjadi anthem generasi melankolia yang senantiasa digilir oleh asa dan pupus. Karena di negara dunia ketiga seperti kita, harapan adalah satu-satunya yang bisa diperjuangkan.