Tags

, , ,

10. Hailey Williams – Petals for Armor

Fakta industri musik arus utama: sekarang sudah bukan eranya band, tapi penyanyi wanita. Sebuah kesia-siaan bila seorang Hailey Williams tidak mangkir sejenak dari bandnya untuk membuat album solo. Demikian, walaupun garapannya tidak terlalu beda dengan dua album terakhir Paramore, sekilas seperti hanya mengganti porsi distorsi gitar dan gemuruh drum dengan synth. Yang untungnya tidak terganti: vokal manis yang rapuh, emosional, terkadang bertenaga.

Nomor yang paling menonjol adalah “Simmer” dan “Dead Horse”, tapi semua lagu di Petals for Armor terdengar bersahabat, perasaan yang sama seperti ketika kita mendengarkan lagu-lagu Paramore semasa putih abu.

9.Perfume Genius – Set My Hearts On Fire Immediately

Michael Hadreas, nama asli Perfume Genius, merupakan salah satu artis paling lugas mengaryakan kehidupan homoseksualnya (dengan cara yang saya lebih suka dibanding Sam Smith). Set My Hearts On Fire Immediately selaku karya terbaiknya, berhasil menarik keluar pesona dari keterusterangan itu lewat musik klasik rock, art-pop, baroque, dan segala aliran musik yang lazim terdengar megah sekaligus lembut. Kita bisa membayangkan bunyi-bunyi itu menyatu dengan raga Hadreas, karena ada banyak penekanan pada aspek “tubuh” dalam narasi dan olah musikalnya. Baik secara sensual dalam “Jason” yang gemulai,  atau malah “Your Body Changes Everything” yang maskulin (“Give me your weight, I’m solid/Hold me up, I’m falling down”). Bahkan, lewat pula dalam “Describe” yang menyuguhkan paduan shoegaze dan rock 90-an: “Just my stomach rumbling / Can you describe them for me?”.

Saking menyatunya dengan jasad, album ini mungkin bisa memberi rasa sakit.

8. Rina Sawayama – SAWAYAMA

Gadis kelahiran Jepang yang tumbuh di London lalu kuliah psikologi, sosiologi, dan filsafat, meniti karier sebagai model, seraya belajar metode vokal Lady Gaga. Kita bisa menerka-nerka kompleksitas persoalan identitas dan kecamuk intelektual dalam dirinya. “I’m a dynasty / The pain in my vein is hereditary”, ujarnya di nomor pembuka SAWAYAMA.

Memori yang diekspresikannya termasuk perihal referensi musik. SAWAYAMA terdengar seperti Beyonce, Britney Spears, Christina Aguilera, dan…. yak, Korn serta Evanescence. Siapa sangka dua aliran musik penguasa radio di awal millennium, R&B dan nu metal bisa bermain mata? Membuatnya terdengar agresif dan melankolis sekaligus. “STFU!” selaku single utama adalah contoh yang paling dekat dengan materi nu metal, lengkap dengan tradisi larik “shut the fuck up!”. Uniknya meski dua aliran musik itu adalah masa lalu, perpaduannya terdengar seperti masa depan.

7. Haim – Women In Music Pt.III

Album pertama yang saya suka dari Haim. Bukan hanya bersenang-senang, tapi juga berisi. Mereka mulai tahu caranya main-main dengan nuansa, serius terhadap detail aransemen. Ketukan garage UK yang khas diisi manuver-manuver melodi yang lebih bergaya. Mereka juga mampu mengaktualisasikan narasi dalam lirik dengan lebih baik.

Namun, apa yang paling disyukuri dari progres di album Women In Music Pt. III? Akhirnya tiap lagu punya personalitas, tak lagi berkembar-kembar seperti dua album Haim sebelumnya. Beberapa mencoba lebih dreamy, contoh terbaiknya “Gasoline”. Ada juga “Now I’m In It” yang berorientasi dance. Keragaman ini sepertinya turut membantu “The Steps”—yang membawakan karakter musik ala Haim biasanya—lebih menonjol, dan sukses jadi andalan.

Singkatnya, ini kemajuan dalam segala segi. Haim akhirnya sahih masuk dalam radar band bagus.

6. The Weeknd – After Hours

Setiap mendengar lagu-lagu The Weeknd, rasanya selalu seperti malam hari, sepulang pesta. Tapi mendengar After Hours bisa lebih spesifik lagi: malam hari, sepulang pesta, menyetir di jalanan basah selepas disiram hujan sembari mengenang langkah-langkah asmara yang disesalkan.

Sentuhan dream pop dan new wave dalam After Hours tampak sangat menyatu dengan produksi sound ala The Weeknd yang mengkilap. Sebuah karya psychedelic pop romantis yang memuaskan, termasuk secara komersial.

Makanya saya termasuk yang terkejut After Hours tidak masuk nominasi Grammy sama sekali, bahkan tidak untuk lagu “Blinding Light”. Salah satu alasan paling teknis (dan agak konyol) yang sempat mencuat adalah sengketa kategorisasi album ini di kategori Pop dan R&B (Komite kategori Pop mengira dia masuk kategori R&B, begitu juga sebaliknya). Ndak apa-apa deh, ini tidak mengurangi kehadiran dominan The Weeknd di industri tahun ini.

5. Soccer Mommy – Color Theory

Sophia Allison, nama asli Soccer Mommy, mengatakan album ini menggambarkan tiga kondisi yang direpresentasikan oleh tiga warna (yang muncul di kovernya): biru untuk depresi, kuning untuk serangan fisik dan mental, serta abu-abu untuk keabadian.

Saya tidak terlalu paham konsep warna itu. Diiyakan saja deh, seperti ketika mendengar arti pilihan warna logo baru PKS. Justru yang saya dapatkan dari album ini adalah konsistensi nuansa.  Color Theory menyuguhkan aransemen shoegaze ala Slowdive yang sedikit beririsan dengan The Bends dari Radiohead. Palet warna musik yang lebih tebal dibanding Clean (2018) terasa menyesaki ruang, membentuk atmosfer depresi yang kuat. Sekali lagi, komposisi ini begitu konsisten menjaga nuansa sepanjang album, seperti menjalani keresahan usia awal 20-an yang tak mau terburu-buru. Perjalanan berat yang kadang ingin kita arungi kembali.

4. Grimes – Miss Anthropochene

Seumpamanya, krisis iklim adalah seorang dewi, telanjang, memancarkan panas tak terhingga dari kulitnya sembari bersenda-gurau dengan cuaca. Seumpamanya, ia bernyanyi, seperti apa bunyinya?

Miss Anthropochene mencoba menawarkan karya personalisasi dari hari-hari musnahnya semesta karena kerusakan iklim. Di album ini, Grimes banyak meracau, tak jelas dalam berlafal, serta bermain-main dengan mimik. Liriknya pun samar, isian vokalnya lebih berfungsi sebagai kekayaan sonik. Ibarat kepunahan peradaban, kita kehilangan kata-kata. Tentu pendekatan artistik ini didukung dengan kemampuan Grimes mengutak-atik tekstur, looping, layering, menggunakan bunyi-bunyi industrial untuk membentuk atmosfer.

“Idioteque” dari Radiohead adalah mahakarya konsep akhir zaman semacam ini. Sensasinya mirip. Setelah mendengar album ini secara khidmat, ajaib ketika sadar bahwa kita belum punah.

3. Run The Jewels – RTJ 4

“Saya tidak bisa bernapas….”

Itu adalah kata-kata terakhir dari George Floyd, seorang kulit hitam yang tewas akibat brutalitas polisi yang menindih lehernya dengan lutut. Ternyata, kalimat nahas itu sama dengan yang keluar dari mulut Eric Garner, seorang kulit hitam lain, menjelang ajalnya pada 2014 atas sebab yang mirip: leher tercekik polisi (bedanya ini pakai tangan). Pada nomor “walking in the snow” di album RTJ14, Run The Jewels menulis sebuah lirik untuk Garner yang ternyata relevansinya berulang pada Floyd itu: “You so numb you watch the cops choke out a man like me/Until my voice goes from a shriek to whisper—‘I can’t breathe’.

Tragedi telah kembali, berlipat ganda, menjadi pola yang maut. Album itu lalu dirilis dua hari lebih cepat dari rencana, tepatnya pada 5 Juni 2020 karena tak ingin kehilangan momen, saat demonstrasi semi-rusuh akan peristiwa Floyd memanaskan Amerika Serikat.

RTJ4 akhirnya menjadi musik latar bagi kegusaran itu, peristiwa yang sempat menyaingi pemberitaan pandemi Covid-19. Menariknya, karena album ini sudah jadi terlebih dahulu, maka relevansi isinya menunjukan ketepatan gagasan dan amatan dari duo El-P dan Killer Mike ini. Adalah realitas yang kemudian datang menjemput.

Musik Run The Jewels memang selalu terdengar serupa peperangan, seakan ramai suara-suara tembakan, letusan, artileri, leher yang patah, napas yang putus, dan negara yang runtuh. Seperti gerilyawan yang menemukan medan tempurnya, anthem ini sudah di level lapangan, bukan lagi angan-angan.

2. Fiona Apple – Fetch The Bolt Cutters

Album yang revolusioner secara artistik, plus berjumpa dengan momentum. Fetch The Bolt Cutters bisa disebut sebagai “orkestra perkusi”, atau “album perkusi dengan piano dan vokal”. Aransemennya disusun dari rangkaian bunyi ketukan, baik drum maupun objek-objek tidak biasa seperti tulang anjing, perabotan besi, atau dinding yang dipalu.

Rasanya kita semua bisa membuat album dengan konsep seperti ini dari perkakas asal-asalan. Dan faktanya album ini memang diproduksi dari rumah dengan aplikasi studio digital GarageBand (semacam aplikasi di laptop). Ada sensasi domestik dari pilihan bunyi-bunyian itu, definisi sejati dari karya rumahan: “Aku merasa rumah menjadi instrumen itu sendiri, menjadi mikrofon, menjadi anggota band,” ujar Apple.

Maka ketika kampanye “di rumah aja” menyebar, album ini amat mampu menggambarkan perasaan terkurung, sebuah simfoni karantina. Kondisi yang tidak pernah dibayangkan umat manusia yang semakin merasa punya akses terhadap segala ruang.

Cara memainkan perkusi dalam Fetch The Bolt Cutters juga seperti balita yang merengek-rengek, seakan ingin segera lari ke rumah tetangga berbaur dengan dunia. Menolak dibungkam, malas disangkar, membuang muntahan, melepas sakit kepala.

Selama pandemi Covid-19 ini, ada begitu banyak orang yang tiba-tiba bermusik dari rumah, baik cuma genjrengan 15 detik, bikin kover amatiran, atau betul-betul rekaman album profesional. Namun, cuma Fetch The Bolt Cutters yang menawarkan lebih dari sekadar perkara ruang rekam itu, melainkan sanggup mengekspresikan batin dalam jeritan: aku ingin ini segera berakhir, bangsat!

1. Taylor Swift – Folklore

Ada banyak kata kecewa untuk mewakili pengalaman kita terhadap tahun 2020.

Bila Fetch The Bolt Cutters dari Fiona Apple menggambarkan amarah dan kemuakan itu pada (kira-kira) 3 bulan pertama pandemi, maka Folklore adalah apa yang kita rasakan sekarang: tabah dan sentimental.

Dan bila Fetch The Bolt Cutters lahir tak sengaja menjajari masa pandemi, maka Folklore diciptakan untuk merangkul momentum ini. Swift merekamnya saat pandemi, dalam situasi yang seharusnya sama dengan yang kita semua hadapi: rencana tur album Lover (2019) kandas, mungkin bisnisnya jatuh, mungkin ada kerabatnya yang meninggal, atau apapun yang menuntutnya mengikhlaskan satu demi satu rencana yang sudah mantap dirancang.

Folklore kemudian hadir membawa musik chamber pop dan indie folk yang atmosferik. Penuh balada yang sayu, mengingatkan kita pada semua yang tertunda, terkendala, dan terbuyarkan.

Selain musik, perubahan mendasar ada pada penulisan lirik Swift yang kini makin puitis dan tak lagi bersifat autobiografi. Ia mengolah berbagai pendekatan naratif dan teknik sudut pandang orang ketiga untuk menciptakan karakter-karakter menarik di tiap lagu. Dari sosok hantu yang memandang pembunuhnya di pemakaman (“My Tears Ricochet”), sampai kisah cinta segitiga antara tiga tokoh—Betty, James, dan perempuan tanpa nama—dalam konteks waktu berlainan pada tiga lagu (“Cardigan”, “Betty”, “August”).

“The Last Great American Dynasty” adalah contoh terbaik Swift dalam bermain fiksi. Sebuah anekdot dari kisah nyata sosialita Amerika bernama Rebekah Harkness yang menikah dengan hartawan tenar lalu diterpa gunjingan sana-sini. Swift menulisnya dengan detail dan seakan menceritakan dirinya sendiri.

Namun, Folklore lebih dari tentang Swift sendiri. Album itu menjadi tonggak penting bagi perayaan cottagecore, sebuah bentuk seni baru dari generasi muda yang jenuh dengan modernitas, stress perkotaan, dan kisah-kisah futuristik. Mereka berhasrat untuk kembali pada yang lampau, alam yang raya, dan damainya kehidupan pedusunan yang sederhana dan lamban. Kepercayaan diri akan capaian dan kecanggihan manusia terhadap ilmu sains yang surut karena kelabakan melawan wabah, ditambah lagi tuntutan karantina, perlahan membuat kesepian menjadi hal yang biasa dan memungkinkan untuk dinikmati. Tumbuhnya generasi yang berlomba-lomba mengasingkan diri, sambil mencari makanan organik dan berburu tanaman hias.

Dalam bahasa Amerika, Folklore mengaktualisasikan itu dengan foto Swift memakai gaun di tengah alas belantara abad-18 berselam kabut tipis dalam monokrom, dibumbuhi font ala novel fantasi Chronicle of Narnia dari C.S Lewis. Ia seolah bisa bicara dengan burung-burung dan dahan yang berembun. Didukung pula oleh musik dan penulisan liriknya tadi yang punya kualitas sinematik ala film Summer With Monika (1952) hingga Midsommar (2019).

“Korban pandemi COVID-19” bukanlah segmentasi, melainkan seantero dunia. Folklore lalu mencetak banyak rekor, termasuk album terlaris di tahun 2020. Artinya, Folklore adalah salah satu karya paling banyak diinginkan orang ketika menghadapi titik balik dan perubahan situasi yang sebelumnya tak pernah dihadapi insan manusia ini. Ketika renungan-renungan, karut spiritual, dan pergeseran kultur membutuhkan musik, lirik, visual, dan estetika yang baru.