Tags

, , , , ,

Robert Hamer

1949

Black Comedy

Judul film ini diambil dari larik puisi “Lady Clara Vere de Vere” oleh Alfred Lord Tennyson yang berbunyi: “Kind hearts are more than coronets / And simple faith than Norman blood.”

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kira-kira artinya, “Hati yang baik lebih dari koronets, dan keyakinan sederhana dibanding darah Norman” Wagu tenan. Ah, nggak tahu sih. Menerjemahkan hatinya saja ku tak mampu ~

Pokoknya, pesan dari puisi itu adalah bahwa karakter manusia yang sesungguhnya bernilai dan patut diperhitungkan, bukan perkara kebangsawanan. Apalah arti warna biru dalam darahmu, bila kau pernah ikut kampanye PDI di jalanan Kridosono.

“Lady Clara Vere de Vere” adalah bagian dari kumpulan sajak Tennyson yang diterbitkan pada 1842. Puisi itu mengisahkan seorang perempuan arogan dari sebuah keluarga aristokrat. Makanya isi sajak ini memuat sejumlah referensi terhadap kebangsawanan.

Clara Vere de Vere adalah nama perempuan itu. Ia suka mengerjai orang-orang yang dipandangnya berada di bawah tingkat kesejahteraannya, seperti para petani kecil. Metodenya khas. Setelah pria-pria tunakaya itu kepincut padanya, ia akan mencampakkan mereka. Puisi ini disampaikan oleh narator yang pernah coba didekati dan “dimangsa” De Vere, namun tersadar sebelumnya.

Bunyi puisi itu:

Lady Clara Vere de Vere,

Of me you shall not win renown;

You thought to break a country heart

For pastime, ere you went to town.

At me you smiled, but unbeguiled

I saw the snare, and I retired;

The daughter of a hundred earls,

You are not one to be desired.

 

  • · ·   ·   ·   ·   ·   ·   ·   ·   ·   ·

 

Lady Clara Vere de Vere,

Some meeker pupil you must find,

For, were you queen of all that is,

I could not stoop to such a mind.

Lady Clara tak pernah mengatakan langsung apa yang dicarinya dari para pria-pria ini. Pokoknya ia menikmati membuat mereka tampak bodoh di hadapannya. Ia menikmati menganggap rendah mereka. Dengan atau tanpa aspek kelas sosial, sepertinya itu cukup dicari oleh pria dan wanita hari ini:

Dapatkan aku membuat orang lain tertarik padaku, tanpa aku tertarik padanya? Dapatkan aku membuat seseorang tampak tolol dan lemah di hadapanku? Kamu dapat menyebutnya flirting, namun bagi Tennyson, itu adalah penghinaan.

Banyak laki-laki terperosok oleh jeratan Lady Clara, namun narator di puisi ini beda. Ia tegas saja, menolak dan menyatakan diri tak akan tergoda oleh Lady Clara. Bahkan, ia berupaya menghentikan Lady Clara melakukan modus sok cantiknya itu.

You sought to prove how I could love,

And my disdain is my reply.

The lion on your old stone gates

Is not more cold to you than I.

Bait sajak ini mulai menyuratkan bahwa tak ada seseorang pun yang punya hak untuk dipandang superior dari lahir. Semua punya akar yang seragam, sama—sama keturunan Adam dan Hawa.

Trust me, Clara Vere de Vere,

From yon blue heavens above us bent

The gardener Adam and his wife

Smile at the claims of long descent.

I know you, Clara Vere de Vere,

You pine among your halls and towers;

The languid light of your proud eyes

Is wearied of the rolling hours.

 

Clara punya kekuasaan yang besar, namun bersifat menyakitkan. Bagi narator, kehormatan satu-satunya, kekuatan yang sejati, adalah niat yang baik. Bukan silsilah keluarga, bukan harta-tahta, bukan istana.

Howe’er it be, it seems to me,

’Tis only noble to be good.

Kind hearts are more than coronets,

And simple faith than Norman blood.

Sangat ingin diri ini rasanya membacakannya di depan Keraton.

Tennyson memang seorang artis. Baris-baris puisinya musikal. Ada keindahan pada lemah lembut sekaligus berangnya, ketajaman bahasa yang menakjubkan. Puisinya punya kejujuran tentang semesta yang luas, dalam, dan samar.

Film Kind Hearts and Coronets berangkat dari pemaknaan puitis itu. Berkisah tentang Louis D’Ascoyne Mazzini (Dennis Price) seorang anak yang lahir dari pasangan antara putri seorang duke dengan penyanyi opera miskin berkebangsaan Italia. Ternyata itu dianggap berdosa bagi family D’Ascoyne. Karena menikahi rakyat jelata, ibu Mazzini dipecat dari keluarga besarnya. Padahal si penyanyi opera ini—yang sudah membuat seorang putri bangsawan sengaja meninggalkan segala privilise demi cintanya—malah mendadak mati cepat setelah Mazzini baru lahir. Dalam kesengsaraan single parent yang diasingkan itu, ibu Mazzini pun meninggal dunia.

Mazzini tumbuh dewasa berkawan dendam. Ditambah lagi, cintanya ditolak oleh sahabat masa kecilnya yang matre dan memilih menikahi orang lain hanya karena lebih kaya. Kesumatnya terhadap orang-orang bakir dan berada makin terbentuk.

Maka kukuh sudah tekadnya, Mazzini mengejar ambisi menjadi seorang duke. Caranya? Membunuh semua suksesornya sampai gelar itu tiba sendiri ke tangannya.

Sekadar info, Dukedom adalah gelar Kerajaan Inggris tertinggi dengan posisi langsung di bawah penguasa saat itu. Duke merupakan gelar tertinggi dari lima tingkat gelar dalam kebangsawanan Inggris. Posisinya ada di atas marquess, earl atau count, viscount, dan baron.  Secara tradisional, gelar ini diberikan pada anak lelaki dan cucu lelaki penguasa saat menikah.

Duke itu kalau di Indonesia sepertinya setingkat adipati, atau bhre (gelar untuk keluarga istana yang memimpin provinsi dalam Majapahit). Tapi saya tetap menyebut duke ya di tulisan ini, biar nggak kerasa kayak film-film naga Indosiar.

Tentu Mazzini tak bisa ujug-ujug seperti John Wick yang mendobrak rumah keluarganya satu per satu lalu membantai semuanya. Perlu siasat dan skema jangka panjang untuk bisa merealisasikan misi kriminalitas besar itu.

Maka, ada rasa tergelitik melihat Mazzini sampai membuat catatan skema rencananya itu di balik lukisan yang dipajang di kamarnya. Model skemanya berbentuk grafik seperti turnamen bola. Ia perlu memetakan siapa saja yang harus dibunuh secara bertahap supaya otomatis bisa membawanya menjadi satu-satunya kandidat penerima gelar duke dari keluarga ibunya.

Sadar atau tidak, ada sembilan karakter di film ini yang ternyata diperankan satu orang. Yup, orang itu adalah Alec Guiness, aktor yang paling banyak muncul di daftar 100 Film British Terbaik Sepanjang Masa versi BFI. Dari sembilan karakter itu, delapan adalah targetnya yang akhirnya dibunuh oleh Mazzini, rinciannya: Enam dibunuh, satu kena serangan jantung, dan satu lagi adalah seorang laksamana yang tenggelam kecelakaan di lautan.

Gimmick ini cukup dikenang dan penting bagi Alec Guinness. Ia awalnya hanya ditawari ambil empat karakter dari famili D’Ascoyne, namun kemudian,”Saya membaca [naskahnya] di sebuah pantai di Perancis, terpingkal di halaman pertama, dan tak keberatan membacanya sampai akhir. Saya langsung kembali ke hotel dan mengirim sebuah telegram berbunyi, ‘Kenapa empat? Mengapa tidak delapan!?”

Ia lalu dapat Sembilan.

Kind Hearts of Coronets adalah film yang melibatkan pertentangan kelas. Mulanya sebatas cInta beda kelas, namun cakupan wacananya kemudian melebar. Kind Hearts and Coronets mengisahkannya serupa pedang bermata dua. Polanya mirip dengan film Parasite (2019) garapan Bong Joon-Ho. Mazzini tak berniat membalas dendam dengan menghancurkan keluarga D’Ascoyne yang sudah membuat ibunya menderita, namun justru masuk ke dalamnya. Menyusup lalu merombak dinasti itu dengan dirinya sebagai kepalanya. Pun seperti Parasite, saat menghajar kebodohan superfisial dari masyarakat Edwardian dan sistem kelasnya, film ini menggunakan Mazzini untuk menunjukan cara tiap tentakel dari keluarga D’Ascoye nyatanya begitu mudah untuk dipisahkan dan disusupi.

Perbedaan kelas adalah subjek yang tak pernah usang di Inggris. Edwardian adalah dekade yang ditandai dengan kesejahteraan dan kedamaian di kerajaan British. Dipimpin oleh putra Ratu Victoria, Edward VII dari 1901 hingga 1910, era itu memang disebut sebagai zaman emas, baik untuk Amerika Serikat maupun Inggris. Namun, relasi sosialnya sangat terdefinisi dan ketat. Interaksi antar kelas diatur oleh sederet peraturan kaku dan kompleks yang kemudian disebut dengan manners. Etika di era Edwardian ini sudah seperti bagian dari kehidupan kala itu, meski jadi agak menggelikan dan lebay untuk kita sekarang.

Misalnya, Edwardian tidak pernah berjabat tangan. Wanita tidak pernah melepas sarung tangan mereka di depan umum. Laki-laki melepas topi mereka di hadapan atasan, tetapi tidak untuk anggota kelas bawah. Seorang pramugari Edwardian dengan hati-hati menentukan setiap aspek dari pesta makan malam — tidak hanya pengaturan menu dan tempat duduk, tetapi bahkan topik pembicaraan selama makan.

Etiket tidak hanya disediakan untuk hubungan antara pelayan dan tuan. Seperangkat aturan unik juga mengatur hierarki di dalam kelas pelayan itu sendiri. Kepala pelayan dan pengurus rumah tangga menjadi ketua kelompok ini dalam hal wewenang, dan penghasilan, disusul juru masak, pelayan, pelayan wanita, dan bujang; yang terakhir adalah pelayan salon, pelayan binatu, pelayan dapur, dan pencuci piring. Urutan tempat duduk para pelayan di meja ruang makan mereka sendiri di lantai bawah pun mencerminkan mikrokosmos sistem kelas ini.

Tidak kebayang kan? Di Indonesia sih ilustrasi yang kita tahu cuma kalau pembantu duduk di bawah dan majikan di atas sofa.

Masih banyak lainnya.

Di era Edwardian, pria harus mengenakan mantel rok panjang dengan rompi single atau double-breasted, dipadupadankan celana panjang abu-abu, linen putih, topi sutra, sarung tangan abu-abu, dan sepatu kulit.

Seorang bujang harus menemui para tamu ketika mereka tiba di trotoar untuk membuka pintu kereta, dan yang lain harus membuka pintu depan saat seorang tamu muncul di tangga teratas. Sementara nyonya rumah harus berada tepat di pintu ruang tamu untuk menerima tamu. Jika pemilik rumah punya anak perempuan, mereka harus menerima tamu, kemudian bergaul dengan mereka. Jam acaranya dari 4 hingga 7 malam. Para tamu tidak boleh datang pada jam buka, atau tinggal sampai saat terakhir.

Bahkan di saat-saat santai atau tidak formal, termasuk dengan teman dan keluarga, penting untuk menjaga diri di bawah kendali. Inggris terkenal memiliki budaya stiff upper lips, yakni larangan untuk menunjukkan semburan kasih sayang atau kemarahan yang berlebihan. Mereka tidak dapat menepuk pundak seseorang, menawarkan pelukan, atau bahkan mengatakan “Aku mencintaimu,” tidak peduli betapa alami itu akan terlihat. Kesopanan harus terkendali, perlu mengatur setiap kata dan ekspresi. Seperti yang dikatakan William Ernest Henley dalam puisi klasik Victoria-nya, “Invictus,”: “I am the captain of my soul.” Yang diatur bukan hanya perilaku, namun juga perasaan.

Bagi para Edwardian yang berkecukupan, pernikahan adalah aturan. Alih-alih cinta, alasan untuk menikah sering kali berkaitan dengan akuisisi atau pelestarian tanah. Tanah adalah sumber kehidupan kekayaan aristokrat dan bekal mengamankan posisi tertinggi seseorang di masyarakat. Untuk alasan yang sama, pernikahan mungkin juga merupakan pasangan dari dua keluarga penting. Budaya ini yang menjadi biang perkara dari Kind Hearts of Coronets.

Era yang tampaknya membosankan ini baru berakhir ketika Perang Dunia I meletus.

Dengan kecepatan yang mengejutkan, tradisi lama dan perilaku tradisional menjadi masa lalu. Meskipun interaksi di Inggris telah diatur oleh aturan-aturan ini selama berabad-abad, gejolak sosial total yang disebabkan oleh perang dan industrialisasi menghapusnya. Ketika rumah-rumah pedesaan di Inggris jatuh ke dalam kesulitan keuangan dan dihancurkan atau ditinggalkan, cara hidup formal dan lama yang mereka wakili digantikan oleh norma-norma modern yang ditentukan oleh generasi baru yang berani.

Review: Robert Hamer's Kind Hearts and Coronets - Slant Magazine

Itu secara etika. Nah, secara mental, era Edwardian memunculkan apa yang dinamakan snob. Snob dalam konteks ini adalah orang-orang yang percaya ada korelasi antara status sosial dan nilai manusia. Kalau sekarang kan snob identik dengan mereka yang percaya ada korelasi antara kesukaan terhadap Feast. dan kekerenan manusia 🙂

Snob di era Edwardian merasa punya superioritas di atas kelas sosial, level pendidikan, dan berbagai area sosial lainnya. Istilah snobbery digunakan pertama kali di Inggris pada sekitar 1820-an dan paling kerap muncul di aristokrasi Eropa, saat pakaian, perilaku, bahasa, dan selera dari tiap kelas menjadi terkategorikan.

Snobbery ini bermunculan beriring dengan perubahan struktur masyarakat. Borjuis memiliki kemungkinan untuk mengimitasi aristokrasi. Sejumlah snob merasa mengadopsi busana dan selera mereka cukup untuk membuat seseorang menjadi bagian dari kelas atas dan aristokrasi.

Di Kind Hearts of Coronets, tergambarkan bagaimana Mazzini berusaha keras untuk mengadopsi gaya busana, bahasa, dan perilaku itu agar bisa diterima masuk ke keluarga D’Ascoyne. Menjadi snob adalah strateginya untuk bisa melancarkan misi mencuri gelar duke. Bahkan, di target pertama, ia menghabiskan tabungannya hanya untuk membeli busana dan makan di restoran yang sama dengan para bangsawan.

Lewat budaya yang ada di era itu, Kind Hearts of Coronets menunjukan bagaimana Mazzini  mencoba melarutkan perbedaan kelas dengan masuk dan merusak segalanya. Sebuah pahlawan anti-hero menarik di era film-film masih terkungkung tuntutan menyampaikan moralitas yang sesuai.

Melihat Mazzini berulang-ulang melakukan aksinya, kita kadang mengabaikan sisi jahatnya, bahkan meski ia juga membunuh sosok fotografer amatir yang digambarkan baik, yakni Henry D’Ascoyne. Kita menikmati bagaimana ia melaksanakan tekadnya memenuhi proyek yang tercantum di pohon silsilah keluarganya, kendati itu bagaimanapun adalah pembunuhan.

Sama seperti Parasite, Mazzini mencapai setiap jenis keberhasilan pembunuhannya melalui metode-metode yang superfisial, seperti busana, kepandaian bicara, dan sopan santun. Setiap anggota D’Ascoyne yang ditemuinya menerima versi Mazzini yang sudah sesuai dengan rancangan snob. Penerimaan itu bisa memudahkan aksesnya untuk melakukan pembunuhan.

Ada perjuangan dari Mazzini untuk bisa menjadi parasit masuk ke wilayah aristokrasi itu, yakni  bergaul dengan mereka. “It is so difficult to make a neat job of killing people with whom one is not on friendly terms,” ujarnya sampai akhirnya ia bisa mendapatkan akses ke target pertama, Ascoyne D’Ascoyne.

Film ini punya atmosfer lebih terang yang membuatnya kontras dengan gaya film noir kebanyakan yang mengisi dekade itu. Kind Hearts of Coronets lebih komikal dan tidak menyembunyikan apapun. Beda dengan kebanyakan film noir yang menyimpan misteri dan pengungkapan-pengungkapan penting, semua pengungkapan di Kind Hearts of Coronets dilakukan di depan. Kita semua tahu setiap niat yang ada di balik karakter.

Dalam bukunya tentang film ini, Michael Newton menulis bahwa kecintaan film ini terhadap gaya membentuk makna moral. Lewat gaya kemasannya, Robert Hamer sukses mengubah pembunuhan menjadi komedi.

Tapi utamanya, saya melihat Kind Hearts of Coronets jelas menjadi sindiran telak bagi sistem monarki. Karena premis filmnya sejak awal tidak akan berjalan andai konfliknya tidak melibatkan sistem privilese berdasarkan keturunan.

Kalau bukan berdasarkan keturunan sih yang begini sering kita lihat di politik partai atau politik kantor sekalipun.

Best Lines

Louis Mazzini: As in an old Italian proverb: revenge is the dish which people of taste prefer to eat cold

After Watch, I Listen:

Cream – Sunshine of Your Love