Tags

, , , , ,

File:To Be or Not to Be (1942 film poster).jpg - Wikimedia Commons

Ernst Lubitsch

Black Comedy

1942

Mungkin, saya bisa memenuhi tulisan ini hanya dengan kutipan-kutipan cerdas dari dialog film nya.

Makeup Man: What’s wrong with it?

Stage Manager: I don’t know… it’s not convincing. To me, he’s just a man with a little mustache.

Makeup Man: But so is Hitler.

atau,

Joseph Tura: Oh, darling, you were right this morning. I felt so rotten after the rehearsal that I went to Dobash and told him when he advertises the new play to put your name first.

Maria Tura: Did you, darling? Oh, that’s sweet of you; but, I really don’t care.

Joseph Tura: That’s what Dobosh said, so we left it as it was.

lalu,

Greenberg: You want my opinion, Mr. Dobosh?

Dobosh, Theatrical Producer: No, Mr. Greenberg, I do *not* want your opinion.

Greenberg: All right… let me give you my reaction.

juga,

Lieutenant Stanislav Sobinski: I hope you’ll forgive me if I acted a little clumsy, but this is the first time I ever met an actress.

Maria Tura: Lieutenant, this is the first time I’ve ever met a man who could drop three tons of dynamite in two minutes.

dan,

Professor Alexander Siletsky: I wonder if you really know what Nazism really stands for?

Maria Tura: I have a slight idea.

Professor Alexander Siletsky: In the final analysis, all we’re trying to do is create a happy world.

Maria Tura: And people who don’t want to be happy have no place in this happy world. Well, that makes sense.

Ernst Lubitsch memang jagoan urusan pernaskahan. Bedanya, kali ini ia murni melawak. Lalu lebih lepas juga mencibiri Nazi. Lubitsch hampir selalu melakukannya di film-film sebelumnya, namun lebih tertahan-tahan. Kali ini ia los saja, seratus persen olok-olok kepada Nazi dan Hitler. Akhirnya total kocak pula, tak heran menjadi film komedi favorit dari seorang Slavoj Zizek selaku filsuf yang dikenal piawai melucu.

To Be or Not to Be mengisahkan satu kelompok teater yang menggunakan kemampuan teatrikal mereka untuk menyusup dan membodohi Nazi saat mengokupasi Warsaw. Tentu akhirnya Nazi beserta simbol-simbolnya diparodikan sedemikain rupa. Komedi yang dihadirkan pun tak bisa menghindar dari beberapa aspek gelap, makanya black comedy adalah genre yang tepat disematkan untuk film ini. Lagipula memang sulit untuk melucu di dekade 40-an yang penuh darah itu tanpa menjadi gelap.

Judul To Be or Not To Be diambil dari kalimat pembuka senandika yang diucapkan Pangeran Hamlet dalam “adegan biara” dari drama William Shakespeare berjudul “Hamlet, Babak 3 Adegan 1”. Dalam kalimat-kalimat serupa pidato itu, Hamlet merenungkan kematian dan bunuh diri, mengeluhkan rasa sakit dan ketidakadilan hidup seraya mengakui bahwa alternatifnya mungkin lebih buruk. Baris pembukanya, “to be or not to be”, adalah salah satu baris yang paling dikenal dan dikutip dalam bahasa Inggris modern, solilokasinya telah dirujuk dalam karya teater, sastra, dan musik yang tak terhitung banyaknya.

Hamlet berpikir tentang hidup dan mati, merenungkan keadaan menjadi versus keadaan tidak menjadi – hidup dan mati. ‘Menjadi atau tidak menjadi’ diikuti oleh ‘itulah pertanyaannya.’ Untuk mati, tindakan dalam hidup diperlukan. Kehidupan setelah mati adalah tidak diketahui, mungkin lebih buruk dari kehidupan itu sendiri. Ini adalah pertanyaan besar yang Hamlet tanyakan tentang keberadaan manusia secara umum dan keberadaannya sendiri secara khusus, sebuah refleksi tentang apakah lebih baik hidup atau mati.

Dalam film To Be or Not To Be, Joseph Tura (Jack Benny) adalah seorang aktor drama yang tampil per malamnya memainkan adegan sakral itu, membacakan baris-barisnya dengan khidmat dan segagah mungkin di atas panggung. Namun, ia dongkol, karena setiap kali ia mulai melafalkan baris “to be or not to be…”, selalu ada satu pria yang cabut dari kursi penonton lalu pergi. Joseph uring-uringan dalam hatinya terhadap pria yang tak dikenalnya itu.

Usut punya usut, ternyata pria itu adalah Letnan Sobinsky (Robert Stack), yang sedang rajin-rajinnya pedekate ke istri Joseph yang juga seorang aktris teater, Maria Tura (Caroel Lombard).  Jadi momentum Joseph membacakan “to be or not to be…” itu memang kode bagi Sobinsky bahwa Maria sedang sendirian di ruang ganti. Cukkk, sungguh metode perselingkuhan yang sangat artsy, sangat shakespeare…

LOL

Namun, tak semua tertawa.

To Be or Not To Be adalah salah satu film black comedy yang sisi “black”-nya tidak bisa diterima banyak orang.

Set film ini ada pada bulan-bulan terakhir tahun 1941, iklim politik dunia sangat suram. Pasukan Hitler menyerbu Moskow pada Oktober tahun itu, dan pertempuran berlanjut hingga Januari berikutnya ketika serangan balik Stalin mendorong mundur serangan itu. Amerika Serikat secara efektif dibawa ke dalam Perang Dunia II ketika Kekaisaran Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember, menewaskan ribuan orang.

Pada bulan Januari 1942, sudah lebih dari enam juta orang Yahudi kehilangan nyawa setelah mereka dideportasi ke kamp-kamp seperti Auschwitz di Polandia. Fasisme telah menyebar ke seluruh Eropa dan pasukan sekutu belum mengorganisir kekuatan yang jelas untuk menghentikan mereka. Namun, selama masa gelita inilah sutradara Yahudi kelahiran Berlin, Ernst Lubitsch memutuskan untuk menggarap komedi tentang sekelompok aktor yang sebagian besar adalah orang Yahudi di Warsaw yang tengah diokupasi, menyamar sebagai Gestapo untuk melindungi gerakan bawah tanah Polandia.

Nah, saya pernah mendengar sebuah teori komedi bahwa kita membutuhkan jarak untuk menertawakan sesuatu. Film ini dipandang terlalu cepat menertawakananya.

To Be or Not To Be yang sekarang dianggap sebagai salah satu film terbaik di sepanjang karier Lubitsch pada awalnya tidak diterima dengan baik oleh publik. Banyak di antara mereka yang tidak dapat memahami alasan menertawakan ancaman nyata seperti Nazi. Menurut memoar Jack Benny, ayahnya sendiri keluar dari bioskop pada awal film karena merasa jijik melihat putranya mengenakan seragam Nazi, dan bersumpah untuk tidak menginjakkan kaki lagi di bioskop. Seperti halnya publik yang lain, butuh waktu bagi Benny bisa meyakinkan ayahnya maksud dan tujuan film ini. Konon, sekarang sang ayah berubah pikiran dan sudah melihat film itu sampai lebih dari 40 kali.

Sebagian kritikus pun awalnya mencemooh Benny dan Lubitsch, berkata bahwa filmnya tidak bagus. Bosley Crowther dari The New York Times menulis bahwa “sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat memfilmkan—tanpa  mengedipkan mata—serangan  udara yang menghancurkan Warsaw tepat setelah serangkaian lelucon, atau mempertontonkan Benny bermain adegan komedi dengan jenazah Gestapu. Tn. Lubitsch memiliki selera humor yang aneh — dan naskah yang kusut — ketika dia membuat film ini.” Beberapa kritikus juga merasa lelucon dalam kalimat Kolonel Ehrhardt terlalu ofensif dan tidak sensitif:”Apa yang dia lakukan pada Shakespeare sedang kita lakukan ke Polandia. ”

Bayangkan jika sebuah film parodi tentang kasus Bom Bali 2002 dikerjakan pada tahun 2002 juga. Itu mungkin gambaran yang dianggap sepadan dengan keputusan Lubitsch menggarap To Be or Not to Be di Hollywood pada akhir 1941 untuk pemutaran perdana setahun setelahnya. Ketika dirilis, banyak yang percaya film ini menyinggung subjeknya terlalu cepat untuk dianggap sebagai komedi. Lubitsch dituduh memperlakukan bahan tabu terlalu sekenanya, lengkap dengan slapstick dan lelucon tentang kebiadaban Nazi. Lagipula, pada tahun itu, Hitler seolah-olah masih punya kans besar untuk menang. Masih butuh dilawan, bukan ditertawakan.

Bosley Crowther menulis bahwa film itu bersalah atas tiga dosa: 1) mencampurkan melodrama dengan komedi, 2) meremehkan Nazi, dan 3) menggunakan okupasi Warsaw sebagai latar untuk komedi. The Times of London dalam ulasan berjudul “An Artistic Blunder by Lubitsch,” menyatakan film tersebut sebagai, ”suatu upaya hancur untuk merekonsiliasi dua mode yang tidak dapat didamaikan. ” Demikian pula, kritikus film Philip Hartung berpendapat bahwa komedi ringan bukanlah genre yang tepat untuk mewakili trauma nasional ini.

To Be or Not to Be (1942) | Film International

 

Lalu bagaimana respons Lubitsch?

Sebagai seniman Yahudi, Lubitsch dan penulis naskah Edwin Justus Mayer tahu mereka tidak bisa mengangkat subjek ini secara naif atau tanpa refleksi. Jika ada satu hal yang dianggap serius oleh Lubitsch, itu adalah komedi. Dalam film komedi romantisnya, seperti Trouble in Paradise (1932), Lubitsch menggunakan komedi untuk menekankan kebenaran tentang hubungan, perselingkuhan, dan seks. Dalam To Be or Not to Be, ia benar-benar menekankan sikap politisnya, bahwa Nazi adalah kumpulan manusia yang benar-benar kejam, tapi rapuh dengan segala kekonyolannya.

Hari ini, untuk benar-benar memahami betapa tidak lazimnya film yang dibuat Lubitsch, film ini harus dilihat melalui prisma sejarah, khususnya dalam representasi Nazi. Lubitsch dan Mayer tahu persis apa yang sedang terjadi di Eropa, dan dengan demikian, mereka menggambarkan Nazi sebagai sosok menggelikan. Keduanya menolak mengonstruksi Nazi dalam tokoh-tokoh yang mengintimidasi. Dari filmnya, Lubitsch berkata, “Tidak ada ruang siksaan yang sebenarnya difoto, tidak ada cambukan yang ditampilkan, tidak ada close-up Nazi yang bersemangat menggunakan cambuk dan memutar mata mereka dalam nafsu. Nazi saya berbeda: mereka melewati tahap itu sejak lama. Kebrutalan, pencambukan dan penyiksaan telah menjadi rutinitas sehari-hari mereka. ”

Sutradara tidak perlu mengingatkan kita dengan menunjukan betapa keji dan berbahayanya Nazi. Orang-orang pada zamannya pun sudah tahu. Sebaliknya, Lubitsch menempatkan wajah manusia pada Nazi, mereka kejam tapi bukan monster yang tak terkalahkan. Nazi versi Lubitsch adalah orang-orang yang berpikiran lemah seperti badut yang hanya bisa berseru, “Heil Hitler!”. Lubitsch mengingatkan kita bahwa menganggap orang-orang ini sebagai monster justru akan memberi mereka kekuatan. Dengan menggambarkan mereka sebagai manusia-manusia tidak kompeten, Lubitsch melakukan pukulan yang jauh lebih parah terhadap filosofi Nazi. Itulah tujuannya.

Lihatlah Kolonel Ehrhardt (Sig Rugman) sebagai sosok berkumis yang gugup. Sebelum dia muncul di layar, referensi dan pengetahuan kita terkait sosoknya membangun potret monster yang luar biasa. Ketika kita akhirnya bertemu dengannya di dunia Lubitsch, oh ternyata ia begitu ceroboh dan bodoh. Di satu sisi, Ehrhardt menakutkan karena ia adalah orang yang berkuasa, orang bodoh yang sanggup mengirim seseorang ke ajal. Kita harus takut padanya bukan dengan cara kita akan takut dengan dalang kriminal, tetapi dengan cara orang mungkin takut pada anak kecil yang membawa pistol. Kecermelangan Lubitsch, mengubah karakter seperti itu menjadi sumber tawa.

Lubitsch sendiri sempat menerbitkan surat terbuka ke surat kabar:

“What I have satirized in this picture are the Nazis and their ridiculous ideology. I have also satirized the attitude of actors who always remain actors regardless of how dangerous the situation might be, which I believe is a true observation. It can be argued if the tragedy of Poland realistically portrayed as in To Be or Not to Be can be merged with satire. I believe it can be and so do the audience which I observed during a screening of To Be or Not to Be; but this is a matter of debate and everyone is entitled to his point of view, but it is certainly a far cry from the Berlin-born director who finds fun in the bombing of Warsaw.

Dalam To Be or Not to Be, semuanya disampaikan dalam bentuk lelucon cepat dan sindiran seksual atau politik yang terselubung. Film ini mencontohkan kekuatan komedi untuk membicarakan kekerasan negara dan kediktatoran. Bagi saya, To Be or Not to Be adalah satiris tajam yang menjungkalkan reputasi otoritas yang menindas.

Saat saya menulis ulasan ini, Bintang Emon sedang ramai-ramainya diperbincangkan. Konten lawaknya yang menyindir persidangan ra mashook penyiraman air keras Novel Baswedan itu mendapat respons yang semerbak. Sumpah, “Loh, kok ada tukang bakso?” itu punchline penutup paling kocak yang pernah kudengar, dan hanya jadi kocak karena keluar dari mulut sosok Bintang Emon yang lugu dan asing dari kisruh politik. Apalagi setelah itu rombongan buzzer serentak menyerangnya di Twitter dengan tudingan yang tidak relevan. Masa dituduh pemakai sabu-sabu? Jancuk. Apa nggak pakai riset dulu ya tim kampanye hitam ini, mencari konsep fitnah yang bisa dipercaya gitu lhooo…  Kan ada fitnah-fitnah lain, misalnya pemakai VPN untuk buka Porhub dan Xnxx. Aku yakin dia melakukannya.

Bagaimana cara komedi atau parodi mengungkap kebenaran? Perlu dipahami relasi antara “berita palsu” sebagai pengungkapan kebenaran yang menyindir dan “berita palsu” sebagai disinformasi terang-terangan. Humor sangat intersubjektif, tawa gemilang dari komedian satir jauh lebih sulit untuk diabaikan daripada logika dingin sebuah artikel berita yang gagal muncul di linimasamu.

Dalam karier Lubitsch, film ini menonjol sebagai karya yang unik. Penonton dapat merasakan gairah pembuat film dalam pesan gambar, terutama selama adegan Greenberg (Felix Bressart) berbicara kepada penonton secara langsung dalam membela hak-hak Yahudi. Adegan yang mengingatkan pidato serupa di akhir film The Great Dictator karya Charlie Chaplin, sindiran Nazi lain yang dirilis tahun sebelumnya. Kejahatan Hitler terhadap kemanusiaan telah mengilhami para pelawak bioskop untuk melawan balik dengan meriam komedi. Aneh tapi benar, humor adalah senjata, terkadang efektif.

Dengan menyiratkan Nazi hanya kumpulan aktor di panggung dunia, Lubitsch mendiskreditkan senjata mereka yang paling efektif dan mengintimidasi, yakni teror, dengan melayangkan hantaman melalui sinema. To Be or Not to Be adalah langkah berani, dan telah bertahan dalam ujian waktu untuk memvalidasi risiko Lubitsch. Apakah dilihat dalam konteks historis atau hanya untuk tertawa, Ernst Lubitsch membuat komedi yang luar biasa dan berlapis, abadi dalam anggun dan canggihnya.

Best Lines:

Joseph Tura: [disguised as Professor Siletsky – speaking about Maria Tura] Her husband is that great, great Polish actor, Josef Tura. You’ve probably heard of him.

Colonel Ehrhardt: Oh, yes. As a matter of fact I saw him on the stage when I was in Warsaw once before the war.

Joseph Tura: Really?

Colonel Ehrhardt: What he did to Shakespeare we are now doing to Poland. 

After Watch, I Listen:

Vampire Weekend – White Sky