Tags

, , , , ,

Citizen Kane - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Orson Welles

1941

Drama

Siapapun boleh berpendapat tentang film. Tapi malas rasanya bila dia adalah Donald Trump. Hmm.. mungkin faktanya kita malas saja mendengarnya bicara, apapun isinya…

Dalam sebuah video yang rilis di 2008, Trump mencoba menguraikan pengalamannya menonton Citizen Kane. Apapun isinya, pandangan Trump terhadap film ini sudah terlanjur ironis karena kita secara otomatis pasti menarik kesamaan-kesamaan antara dirinya dan sang karakter utama, Charles Foster Kane (Orson Welles), seorang pebisnis dan politikus yang bergelimang harta. Dalam bahasa yang agak kabur—sebagaimana ia mengomentari hal-hal lainnya—Trump mengatakan, “Citizen Kane is really about the accumulation and at the end of the accumulation you see what happens and it’s not necessarily positive.”

Kurang lebih, maksudnya adalah,”Nilai moral dari Citizen Kane adalah barang siapa sibuk menumpuk kekayaan atau kekuasaan semasa hidupnya, insyaallah ia tak akan selalu berakhir bahagia…” (dibumbui sentuhan ceramah Zainuddin MZ)

Seperti seluruh dunia tahu, Trump sendiri mendasarkan pesonanya pada kesuksesannya secara material, menyiratkan bahwa akumulasi harta itu membuktikan bahwa ia dapat mengelola pemerintahan kita dengan sukses. Dasar-dasar pesan kampanye Trump saja dulu berfokus pada pengembangan besar-besaran kasino, hotel, dan usaha lain yang terkait dengan nama Trump sebagai bukti kehidupan yang sukses dan terpenuhi.

Trump menawarkan beberapa analisis dari adegan-adegan Citizen Kane,  termasuk adegan Kane dan istrinya makan di sebuah meja. Trump menunjukkan bahwa meja makan antara Kane dan istrinya semakin memanjang, dan berjarak seiring meningkatnya kekayaan Kane, membuat kedua karakter itu semakin terpisah baik secara ruang dan emosional.

Trump pun menyebut harta benda mampu membuat pemiliknya terasingkan: “Saya percaya bahwa kekayaan sebenarnya mengisolasi Anda dari orang lain. Ini bentuk mekanisme pelindung. Anda dipaksa memiliki kewaspadaan lebih dari yang Anda bisa, dibanding jika Anda tidak memiliki kekayaan.”

Di akhir ulasannya, Trump just being Trump. Ia mengeluarkan pernyataan yang rentan bersifat seksis. Ketika diminta memberi nasihat kepada Kane, Trump santai saja mengatakan, “Cari perempuan lain.” Oke, siap.

Setidaknya kita tahu bahwa selera film Trump tidak terlalu unik. Artinya, tabiatnya yang di luar rata-rata tidak berasal dari preferensi filmnya. Ia menyukai apa yang umumnya disukai orang.

Sekarang coba saya tanya, apa film terbaik di dunia? The Godfather atau The Shawsank Redemption? Umat IMDB biasanya memperdebatkan hal ini. Namun, ada satu lagi film yang sebenarnya cukup digembar-gemborkan sebagai film terbaik sepanjang masa, yakni Citizen Kane tadi, terutama untuk yang mengikuti forum-forum film klasik.

Film garapan Orson Welles ini dianggap revolusioner dalam banyak aspek. Banyak sekali. Ia menemukan cara berkisah yang baru dari sebuah medium komunikasi modern bernama sinema.

Makanya, saya agak komplain kenapa dosen Kajian Film saya bisa menayangkan The Kiss, The Great Train Robbery, The Great Dictator, Bicycle Thief, Battleship Potemkin, tapi tidak ada Citizen Kane. Tolonglah Pak Nadiem Makarim, perlu dievaluasi ini ~

Citizen Kane adalah film kuasi biografi atau disebut juga dengan cinéma à clef, yakni film yang mendeskripsikan pembauran antara kisah nyata dan fiksi. Bedanya dengan biografi, kuasi biografi menyediakan ruang untuk lebih mengarang bebas, dan tidak terikat pada faktualitas. Kuncinya adalah konteks, sehingga nama-nama karakternya bisa disamarkan. Beberapa film sejenis yang lebih modern adalah adalah Almost Famous yang terinspirasi oleh pengalaman jurnalis musik Rolling Stone bernama Cameron Crowe, Scarface yang meriwayatkan Al Capone, atau kisah Niland bersaudara pada Saving Private Ryan. Konteks besar ceritanya nyata, tapi drama-drama di dalamnya dikarang sendiri.

Lalu mengadaptasi kehidupan siapa Citizen Kane ini? Hary Tanoe? Oh, bukan. Welles tak pernah mengonfirmasi sumber utama untuk karakter Charles Foster Kane. Namun, John Houseman, yang bekerja dengan penulis skenario Herman J. Mankiewicz mengatakan, “Kebenarannya sederhana: untuk konsep dasar Charles Foster Kane dan untuk garis utama dan peristiwa penting dalam kehidupan publiknya, Mankiewicz menggunakan sosok William Randolph Hearst sebagai modelnya, lalu ditambahkan insiden dan detail yang diciptakan atau berasal dari sumber lain.”

Jangan mengaku anak jurnalistik bila kamu nggak kenal William Randolph Hearst (nggak ada untungnya juga sih ngaku anak jurnalistik, btw~).  Ia adalah seorang penerbit surat kabar, dan politisi yang dikenal mengembangkan jaringan surat kabar dan perusahaan media terbesar di eranya. Metode jurnalisme kuning yang dikembangkannya sangat memengaruhi arah jurnalisme di Amerika Serikat, menekankan sensasi dan kisah-kisah human interest.

Sejarah jurnalisme kuning ini menyimpan kisah perseteruan antara New York Journal kepunyaan Hearts dan New York World milik Joseph Pulitzer. Hearst menjual Koran-korannya dengan mencetak tajuk berita bombastis perihal kejahatan, korupsi, seks, dan sindiran. Keduanya bisa disebut sebagai leluhur Tribunnews.

Hearst menciptakan rantai jejaring media di kota-kota besar Amerika Serikat pada puncaknya. Ia kemudian berekspansi ke majalah, menciptakan bisnis surat kabar dan majalah terbesar di dunia. Hearst mengendalikan posisi editorial dan liputan berita politik di semua surat kabar dan majalahnya, sehingga mudah untuknya menerbitkan pandangan pribadinya.

Sayangnya, sebagaimana Hary Tanoe, modal itu belum cukup membuatnya sukses di bidang politik. Ia dua kali terpilih sebagai perwakilan Demokrat di DPR AS, namun gagal mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, Walikota New York City dan Gubernur New York.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I, Hearst secara bertahap mulai mengadopsi pandangan yang lebih konservatif dan mempromosikan kebijakan luar negeri isolasionis. Ia adalah seorang nasionalis militan, anti-komunis garis keras –setelah Revolusi Rusia terjadi—dan sangat curiga terhadap Liga Bangsa-Bangsa dan Inggris, Prancis, Jepang, dan Rusia. Hearts adalah pendukung utama Franklin D. Roosevelt pada 1932-1934, tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya yang paling menonjol di sebelah kanan. Kerajaan Hearst mencapai sirkulasi puncak 20 juta pembaca sehari pada pertengahan 1930-an.

Sayangnya ia adalah manajer keuangan yang buruk dan begitu banyak berhutang selama Depresi Hebat sehingga sebagian besar asetnya harus dilikuidasi pada akhir 1930-an. Politik konservatif Hearst yang semakin berselisih dengan para pembacanya memperburuk masalah bagi rantai media Hearst. Setelah ditolak haknya untuk menjual obligasi lagi kepada investor, kerajaan yang goyah itu terhuyung.

Kurang lebih, seperti itulah Charles Foster Kane yang akan kalian temukan di Citizen Kane. Tapi tidak usah dikonfirmasi ke Hearst langsung. Selain karena sudah meninggal, doi menolak mentah-mentah penggambaran dirinya di film ini.

Anekdot yang paling merujuk pada kehidupan Hearst yang digunakan dalam film ini adalah kutipan Kane tentang perang Spayol. Pada 1897, illustrator bernama Frederic Remington dikirim ke Kuba oleh New York Journal untuk memberi ilustrasi guna mendukung reportase Richard Harding Davis tentang pemberontakan melawan pemerintah kolonial Spanyol. Remington konon mengirim pesan pada Hearst bahwa ia ingin kembali karena semuanya tenang dan tidak akan ada perang. Hearst malah menjawab, “Harap tetap di sana. Kamu melengkapi gambar-gambarnya, dan aku akan memberimu perang”. Meskipun Hearst menyangkal kebenaran dari kisah legendaris itu sekarang, Perang Spanyol-Amerika berikutnya sudah terlanjur disebut “Perang Mr. Hearst”.

Kisah itu telah diceritakan dan diceritakan kembali untuk menunjukkan bagaimana pendekatan jurnalisme kuning yang dirintis oleh Hearst dan Pulitzer adalah teladan, membuat Amerika Serikat berada di jalan menuju Perang Spanyol-Amerika, perang yang menandai awal Amerika Serikat sebagai kekuatan global dan akhir dari Kekaisaran Spanyol, yang kehilangan sisa-sisa koloni. Itu juga perang yang membawa era baru bagi jurnalisme, karena liputan yang tidak bertanggung jawab itu adalah langkah pertama untuk pengembangan liputan berita asing yang energik di Amerika.

Sirkulasi harian surat kabar milik Hearts memang secara rutin naik di atas angka 1 juta setelah Perang Spanyol-Amerika dimulai, perang yang oleh sebagian orang dijuluki, “The Journal’s War”, karena pengaruh besar koran itu dalam memprovokasi kemarahan Amerika. Banyak liputan menjelang perang, dimulai dengan pecahnya Revolusi Kuba pada tahun 1895, dinodai oleh desas-desus, propaganda, dan sensasionalisme, dengan surat kabar “kuning” dianggap sebagai pelanggar terburuk. New York Journal dan koran-koran New York lainnya begitu sepihak dan penuh dengan kesalahan dalam membuat reportase. Misalnya, berita utama di New York Journal menuduh penghancuran sabotase di Maine, tanpa berdasarkan bukti. Reportase ini memicu kemarahan terhadap Spanyol di antara para pembaca koran di New York. Aktivisme jurnalistik New York Journal untuk mendukung pemberontak Kuba dinilai lebih berpusat di sekitar ambisi politik dan bisnis Hearst.

Hearst secara pribadi mendedikasikan medianya untuk perjuangan pemberontak Kuba, dan New York Journal menciptakan beberapa pemberitaan yang paling penting dan berani tentang konflik tersebut, serta sensasional. Banyak di antara kisah-kisah mereka tentang pemberontakan Kuba dan kekejaman Spanyol di pulau itu ternyata tidak benar. Ini telah mengakibatkan kematian ratusan ribu orang Kuba yang tidak bersalah. Sementara itu, elit New York yang membaca surat kabar lain, seperti New York Times dan The Sun terbukti jauh lebih terkendali. Sebagaimana Tribunnews, memang New York Journal dan New York World berorientasi pada audiens kelas pekerja.

Pendekatan aktivis Hearst terhadap jurnalisme dapat dirangkum dengan moto, “While others Talk, the Journal Acts.” Keren.

Namun, sebenarnya kekuatannya lebih terangkum dalam salah satu dialog di Citizen Kane:

Emily Monroe Norton Kane: Really Charles, people will think-…

Charles Foster Kane: -what I tell them to think

Joseph Pulitzer pun telah mendorong batas-batas daya tarik massa untuk surat kabar melalui tajuk berita yang berani dan clickbait, pengumpulan berita yang agresif, penggunaan kartun dan ilustrasi, serta kejahatan-kejahatan yang dramatis. Surat kabar Hearst menggunakan resep yang sama untuk sukses, memaksa Pulitzer untuk menjatuhkan harga New York World dari dua sen menjadi satu sen. Segera kedua surat kabar itu terkunci dalam persaingan sengit. Kedua surat kabar itu akhirnya mengumumkan gencatan senjata pada akhir 1898, setelah keduanya kehilangan banyak uang untuk meliput Perang Spanyol-Amerika.

Apakah jurnalisme kuning masih ada sampai sekarang? Rasanya tidak perlu menunggu ada perang untuk bisa menyadari bahwa jurnalisme kuning hari ini sudah melebur dengan linimasa media sosial kita. Apalagi jika kamu tidak follow Narasi #promosi.

Citizen Kane deep depth of field - Mobile Motion

Oke, lalu apakah cuma karena bisa mengombinasikan fakta dan fiksi dalam penokohan saja Citizen Kane ini disanjung setinggi cita-cita Prabowo langit?

Para sarjana dan sejarawan film memandang Citizen Kane sebagai upaya Welles menciptakan gaya pembuatan film yang baru dengan mempelajari berbagai bentuk yang sudah pernah ada dan menggabungkannya menjadi satu. Sejarahwan film, David Bordwell menulis bahwa “cara terbaik untuk memahami Citizen Kane adalah berhenti menyembahnya sebagai kemenangan teknik.” Agak lain dengan puja-puji yang biasa disematkan kepada Citizen Kane, Bordwell berpendapat bahwa film ini tidak benar-benar berjasa mempelopori berbagai teknik terkenal seperti deep focus, temporal jump-cuts, atau pencahayaan chiaroscuro, karena faktanya itu semua pernah digunakan dalam film-film ekspresionis Jerman tahun 1920-an, seperti The Cabinet of Dr. Caligari (1920). Bordwell menegaskan bahwa jasa Citizen Kane adalah menyatukan mereka untuk pertama kalinya. Sejarawan Prancis, Georges Sadoul menulis, “Film ini adalah ensiklopedia teknik-teknik lama.” Bila memang perlu dibela, kritikus film Prancis André Bazin melakukannya dengan menulis: “Bahkan jika Welles bukan penemu perangkat sinematik yang digunakannya di Citizen Kane, orang-orang harus tetap memujinya karena penemuan maknanya.”

Percuma menguasai jutaan teknik kalau tidak tahu cara memanfaatkannya. Itulah prinsipnya untuk menyanjung Citizen Kane. Welles mampu menggunakan teknik-teknik itu untuk menemukan gaya berkisah yang baru dan efektif. Ia menolak narasi linier, kronologi tradisional, dan menceritakan kisah Kane sepenuhnya dalam kilas balik menggunakan sudut pandang berbeda. Digambarkan banyak dari karakter pemilik sudut pandang ini yang sudah tua dan pelupa, padanan sinematis dari “narator yang tidak bisa diandalkan” dalam literatur. Menggunakan multi-narator untuk menceritakan kehidupan karakter utama adalah sebuah teknik yang belum digunakan sebelumnya dalam film-film Hollywood. Setiap narator menceritakan bagian yang berbeda dari kehidupan Kane, masing-masing tumpang tindih dengan yang lain. Film ini menggambarkan Kane sebagai sebuah teka-teki, seorang lelaki rumit yang meninggalkan penonton dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai karakternya.

Film biasanya memiliki perspektif maha tahu. Namun, penonton melihat Citizen Kane melalui perspektif orang lain. Sekuens pembuka, News on The March memberi gambaran tentang seluruh kehidupan Kane dan seluruh cerita film. Ini berisiko membuat penonton kurang antusias karena sudah tahu seperti apa akhir ceritanya. Untuk ukuran era itu, langkah ini terhitung langka. Nah, secara cerdik Welles lalu menggunakan dalih mencari tahu arti “Rosebud” sebagai tujuan penonton mengikuti jalannya film. Meski, tanpa disadari, penonton sebenarnya dipandu untuk mengikuti secara lebih dalam jalannya kehidupan Kane. Saya sendiri merasa jawaban akan rosebud itu sendiri tak menarik-menarik amat. Justru perjalanan mencari jawaban itu esensi sebenarnya.

Charles Foster Kane: “Saya tidak berpikir ada satu kata yang dapat menggambarkan kehidupan seorang pria.”

Larik ini menjelaskan bahwa mungkin Citizen Kane adalah film yang pertama kali sadar perlunya menghadirkan kekayaan sudut pandang untuk mengisahkan seorang tokoh secara mendalam. Atau jika sebenarnya ada yang sudah sadar, hanya Welles yang tahu cara melakukannya.

Selama Perang Dunia II, Citizen Kane tak cukup mendapat ruang tayang di sebagian besar negara Eropa. Citizen Kane baru tayang perdana di Prancis untuk pertama kalinya pada 1946. Awalnya sebagian besar kritikus film Prancis dipengaruhi oleh ulasan negatif Jean-Paul Sartre pada 1945 dan Georges Sadoul pada tahun 1946. Pada waktu itu banyak intelektual dan pembuat film Prancis menyepakati kritik Sartre bahwa pembuat film Hollywood tidak berbudaya. Ia berkata, “keseluruhan film didasarkan pada kesalahpahaman tentang apa itu sinema. Film ini dalam bentuk lampau, sedangkan kita semua tahu bahwa sinema harus berada dalam masa kini.”

Bazin, sekali lagi, mengubah pendapat banyak orang. Kritik Bazin terhadap film dan teorinya tentang sinema itu sendiri terpusat pada keyakinan kuatnya pada mise en scène. Teori-teori ini bertentangan dengan teori montase Soviet dan kepercayaan Marxis dari sebagian besar kritikus film Prancis pada waktu itu. Bazin percaya bahwa film harus menggambarkan kenyataan tanpa pembuat film memaksakan “kehendak” mereka pada penonton. Ia menulis bahwa mise en scène dari Citizen Kane menciptakan konsepsi baru dalam pembuatan film. Kebebasan diberikan kepada penonton. Mise en scène dalam film akan memaksa penonton untuk berpartisipasi dalam makna film.

Dalam esai 1950-nya yang bertajuk “The Evolution of the Language of Cinema”, Bazin menempatkan Citizen Kane sebagai sebuah karya yang membawa periode baru di layar perak. Ialah salah satu kritikus pertama yang mempertahankan film di panggung artistik yang selevel dengan sastra atau lukisan. Bazin sering memperlakukan film sebagai bentuk kesenian, dan menulis bahwa “Welles telah memberi sinema sebuah restorasi teoretis. Ia telah memperkaya perbendaharaan filmnya dengan efek yang baru dan terlupakan, yang dalam konteks artistik hari ini menunjukan makna penting yang sebelumnya kita tidak tahu ternyata dimiliki. ”

Jadi kamu memang boleh lebih suka The Godfather atau Shawsank Redemption, tapi harus mau mengakui bahwa Citizen Kane lebih krusial bagi perkembangan sinema. Salah satu film yang paling luas dikaji secara ilmu dan teori. Secara teknik, film ini luar biasa penting. Pengaruh Citizen Kane ada di mana-mana. Wajah sinema, atau dan sejarah Hollywood akan sangat berbeda tanpanya. Kita akan kehilangan banyak film bagus jika Citizen Kane tak pernah dilahirkan.

Contohnya? Mari disusun.

Unsur sinematografi Citizen Kane memengaruhi The Maltese Falcon, The Best Years of Our Lives, Gaslight, Mildred Pierce atau Jane Eyre. Lebih tepatnya lagi, pencahayaan dan struktur yang kompleks memengaruhi perkembangan film noir yang menjamur di dekade 1940-an dan 1950-an. Ada The Ashpalt Jungle, Gun Crazy, dan silakan disebut saja satu-satu lainnya.

Struktur film memengaruhi film biografi Lawrence of Arabia, The Magnificent Ambersons,dan lain-lain. Sampai ke Asia pula, Rashomon dari Akira Kurosawa sering dibandingkan dengan Citizen Kane karena keduanya memiliki struktur plot yang rumit yang diceritakan oleh banyak karakter dalam film. Penggunaan dialog tumpang tindih dalam film juga telah memengaruhi film-film Robert Altman dan Carol Reed, sebut saja Odd Man Out, hingga The Third Man. Pada dasarnya, pendekatan yang lebih kompleks di struktur plot memang sudah jamak di sinema hari ini. Asal sebut saja, Memento tak akan eksis tanpa serpihan dampak Citizen Kane.

Secara penokohan, kita bisa membandingkan Charles Foster Kane dengan Michael Corleone di The Godfather, Jake LaMotta di Raging Bull dan Daniel Plainview di There Will Be Blood. Pokoknya semua karakter megalomaniak yang berakhir pada kejatuhannya. Jejak karakter semacam ini masih sering kita temukan di lanskap film modern.

Sudah, apa lagi? Capek ih. Bayangkan saja kita harus menonton sinetron Cinta Fitri di bioskop, nah mungkin itu bisa terjadi jika Citizen Kane dulu tak pernah ada.

Best Lines:

Susan Alexander Kane: I don’t know many people.

Charles Foster Kane: I know too many people. I guess we’re both lonely.

After Watch, I Listen:

Arcade Fire – Wake Up