Tags

, , , , , ,

It's a Wonderful Life - Wikipedia

Frank Capra

Drama

1946

Setiap menonton It’s Wonderful Life, saya selalu teringat almarhum Bapak.

Sekaligus, teringat salah satu peristiwa paling mengharukan dalam hidup saya. Begini ceritanya, ehem ehem *siap-siap tisu* / *siap-siap pelukan perempuan*

Jam 4 sore, langit tak terlalu berawan. Cukup cerah untuk membatasi hati saya dari perasaan-perasaan gelisah. Situasi di keluarga sedang murung, namun ya, setidaknya cuaca sedang cerah. Yang dipayungi langit memang bukan keluarga saya saja.

Saya pulang, entah darimana, naik sepeda motor. Mungkin pulang dari kampus, atau tempat keluyuran lain. Itu kenapa saya masih ingat cuacanya tengah cerah.

Masuk tikungan terakhir ke jalan rumah saya, dari ujung jalan terlihat rombongan ibu-ibu. Mereka keluar dari pagar rumah saya. Kami berpapasan. Beberapa saya kenal, saya menganggukkan kepala, tradisi menyapa selazimnya. Mereka membalas senyum. Beberapa berbisik kecil, paling-paling isinya, “Itu Soni ya?”. Nama saya memang jauh lebih mahsyur daripada wajah saya. Maklum, tipe anak muda kampung yang introver.

Hmm, ngomong-omong, ada apa ini? Mereka siapa? Tetangga? Saya tak ingat orangtua saya menggelar pengajian atau arisan.

Setiba garasi, saya bergegas naik ke lantai atas, mencari tahu apa yang terjadi, jawabannya pasti ada di kamar bapak-ibu saya. Yup, saya temukan mereka. Sekelebat terlihat, Ibu agak kusut mukanya, seakan usai ribut dengan sesuatu. Sementara Bapak terduduk di ranjang dengan raut wajah memerah, ia menyeka mata. Bapak habis menangis. Ada sebuah amplop tergeletak di sebelahnya. Amplop itu lecek, terkoyak-koyak, seakan jadi bahan rebutan atau bekas perkelahian sengit.

Iya belakangan Bapak memang kerap menangis. Sudah tiga tahun terakhir ia berjibaku dengan kanker. Setiap ia bercucuran air mata, saya tak pernah yakin sebab pastinya yang mana: karena rasa sakitnya, kuliah S3-nya yang tertunda, putus asa tak segera sembuh, atau aset-tabungan yang terkuras karenanya?

Tapi saya tak pernah sepenasaran ini, kali ini untuk apa ia menangis?

Saya lupa detail percakapan berikutnya. Nuansanya agak canggung dan serba tak pasti untuk saya berani menanyakan apa yang terjadi ke mereka berdua. Sepertinya mereka tak akan menjawab juga, mereka sedang ternganga dan hanyut dalam sesuatu. Akhirnya saya menemukan jawabannya sendiri, berbekal mencuri dengar dialog antara Bapak dan Ibu yang agak tersengal.

Rombongan ibu-ibu tadi adalah beberapa warga sekitar yang sengaja datang—selain menjenguk ayah saya–untuk memberi sejumlah uang. Bukan tetangga biasa, mereka jauh dari kata berkecukupan. Sebagian bisa digolongkan kaum papa. Terdiri dari istri para pekerja kasar: tukang kunci, pedagang angkringan, tukang becak yang dulu mengantar saya saat SD, tukang bangunan yang pernah turut bangun rumah saya, tukang parkir pasar dekat rumah, penjaga malam kompleks sebelah yang sering ketiduran, tukang bakso lewat depan rumah (beneran, bukan samaran intel), tukang sol sepatu bersepeda yang entah laku atau tidak, dan mereka-mereka yang saya tak pernah tahu pekerjaannya apa. “Itu orang-orang nggak punya,” kata Bapak, agak bermonolog, menahan isak. “Aku ngerti tenan (aku tahu sekali), mereka makan sehari-hari saja susah.”

Bapak dikenal sebagai orang baik di lingkungan rumah saya. Salah satu yang terbaik. Makanya, almarhum selalu diminta menjabat, sekali Bapak menyanggupi jadi ketua RW, seterusnya menolak, kapok karena sibuk. Bukan hanya dari mulut ke mulut, saya juga merasakan dampak nama baik Bapak dari perlakuan tetangga kepada saya. Menjadi anaknya benar-benar privilese. Cara tetangga memperlakukan saya sejak kecil kadang suka berlebihan, seperti anak sultan. Tua, muda, sebaya, semua tampak segan dengan saya, selalu menyapa seramah mungkin, ada gestur-gestur menghormati yang sering membuat saya canggung sendiri. Beberapa pemuda sekitar juga selalu siap membantu apapun yang dibutuhkan Bapak, seperti jaga rumah, membenarkan genteng, saluran air, mengusir ular, mencarikan bahan obat, mengantar ke sana-sini, dan lain-lain.

Rombongan ibu-ibu tadi pernah dibantu oleh Bapak. Macam-macam. Ada yang dipinjami uang (belum tentu dikembalikan), diberi modal usaha, diberi sepeda supaya anaknya tak harus keluar duit naik bus ke sekolah, ditraktir makan berulang kali, dipekerjakan ini dan itu, dibantu pesta pernikahan anaknya, dan sebagainya.

“Amplop itu”, saya teringat. Saya langsung paham, kenapa amplopnya terkoyak-koyak. Pasti Ibu awalnya menolak keras menerima amplop itu. Pasti ada adegan cekcok dan “perkelahian”
yang panjang, saya bisa membayangkannya. Fakta bahwa amplop itu masih bertahan di kamar Bapak membuktikan Ibu telah kalah. Kami harus menerima uang itu.

Saya lalu memungut amplop berkondisi nahas itu, mengintip isinya. Seingat saya, seratus lima puluh ribu rupiah. Di momen inilah haru itu menyeruak ke dada saya. Yup, dada, saya bisa merasakannya. Jumlah uang itu menjelaskan banyak hal.

Coba saya ais-ais ingatan, rombongan ibu-ibu tadi berisi sekitar belasan. Bila seratus lima puluh ribu rupiah itu dibagi adil patungannya, rata-rata masing-masing dari mereka hanya menyumbang kurang dari sepuluh ribu. Sangat kecil, ini menjelaskan bila hanya sejumlah itu yang mereka mampu berikan. Di sisi lain, bisa jadi itu saja lebih dari kemampuan mereka.

Seratus lima puluh ribu rupiah. Bisa untuk apa? Satu pak obat telan per hari yang mesti dikonsumsi Bapak bisa menghabiskan tiga juta rupiah. Cepek belum tentu bisa menebus satu tablet sekalipun. Bapak bukan orang kaya, tapi tergolong mampu. Mereka pasti paham, jumlah yang mereka berikan tak ada artinya dalam fungsi ekonominya untuk membantu masalah Bapak.

Namun, justru selalu sentimentil bagi saya melihat orang-orang memperjuangkan sesuatu yang mereka tahu itu tak cukup berarti. Berperang meski tahu kekalahan di depan mata. Seratus lima puluh ribu? Mereka tahu itu sia-sia. Mereka berkumpul, berbondong-bondong ke rumah, bersikeras, sebatas hanya sebagai bentuk balas budi. Itu saja yang mereka perjuangkan. Mumpung masih bisa. Mumpung masih ada waktu.

Dan benar, satu bulan kemudian, Bapak meninggal.

.

.

Oh no no, sebagai pengidap toxic masculinity, saya tidak mau menangis, lanjut yuk.

Memori tadi selalu menyeruak paksa setiap saya menyaksikan bagian ending dari It’s Wonderful Life. Kisah ketika seorang tokoh masyarakat yang dianggap penting dan berjasa mengalami kejatuhan, lalu orang-orang di sekitarnya berduyun-duyun menyumbang bantuan. Kebaikan akan kembali. Budi itu ada untuk dibalas. Walaupun dalam kasus Bapak, balas budi itu tak sedramatis dan memberikan perubahan seperti yang diperoleh George (James Stewart), tapi satu persamaannya: balas budi mengingatkan bahwa kebaikan itu abadi. Diingat orang. Berarti. Menjelang akhir hayatnya, Bapak sadar bahwa hidupnya bermakna untuk banyak orang. Itu cukup rasanya.

Selain relasi dari memori peristiwa itu, saya merasa ada banyak hal lain yang membuat sosok Bapak adalah personalisasi pribadi dari It’s Wonderful Life. Bila It’s Wonderful Life adalah manusia, maka itu adalah Bapak. Agak lucu, karena ini adalah film Natal dan kolom KTP Bapak—terakhir saya cek—masih bertuliskan “Islam”. Tapi ya itu tidak terlalu penting.

Sosok Bapak bila harus diuraikan dalam beberapa kata kunci adalah: bersahaja, merakyat, karismatik, pekerja keras, temperamen. Lima kata ini saya temukan pula di sosok George, persona James Stewart, serta karakterisasi film-film Frank Capra.

Its Wonderful Life adalah karya yang dianggap ideal merepresentasikan Frank Capra dan James Stewart.

Film-film Capra sering membawa pesan tentang kebaikan dasar dalam sifat manusia, menonjolkan nilai-nilai humanis yang tidak mementingkan diri sendiri dan menggambarkan faedah pekerja keras. Capra mendefinisikan dan memperkuat nilai-nilai ideal orang Amerika, bahwa keberanian individu selalu menang atas kejahatan kolektif. Setiap konflik bisa berakhir dengan harmoni. Protagonisnya tidak tertarik pada kekayaan dan dicirikan oleh individualisme, semangat mencari pengalaman, dan rasa keadilan politik dan sosial yang tinggi. Tipe-tipe film penuh hikmah dan sarat acuan moralitas yang disepakati masyarakat. Beberapa orang yang tak berselera dengan model-model cerita “moralis” seperti ini menjuluki gayanya dengan istilah “Capra-corn”. Sebagian lagi dengan istilah “Capraesque”.

Selama zaman keemasan Hollywood, Capra menjadi salah satu sutradara paling terkenal dan sukses di dunia. Sejarawan film Ian Freer mencatat, “Ia telah menciptakan hiburan berjenis feelgood sebelum frasa ini ditemukan, dan pengaruhnya pada budaya — dari Steven Spielberg hingga David Lynch, dan dari opera sabun televisi hingga sentiment-sentimen di kartu ucapan — terlalu besar untuk dihitung.”

Pada tahun 1982, American Film Institute memberikan penghargaan kepada Capra dengan memberinya AFI Life Achievement Award. Dalam pidato penerimaannya untuk penghargaan itu, Capra menegaskan: “Seni Frank Capra sangat, sangat sederhana. Ini adalah tentang cinta manusia. Tambahkan dua harapan sederhana pada kecintaan manusia ini: kebebasan setiap individu, dan kepentingan yang sama dari setiap individu, dan Anda mendapat prinsip yang menjadi dasar saya membangun semua film saya.”

James Stewart kurang lebih punya karakter yang sama. Sebelum dekade 50-an membuat karakter-karakternya berkembang makin gelap—lewat Vertigo, Rear Window, dan lain-lain—Stewart dikenal dengan persona layar lebarnya yang mengusung moralitas tegas.

Stewart di dalam film identik dengan seorang “everyman“, pria biasa-biasa saja yang ditempatkan dalam keadaan luar biasa. Everyman adalah varian dari stok karakter yang sering dimasukkan di berbagai cerita, seperti novel, drama, dan film. Karakter yang membumi dan rendah hati, dengan “akhlak” yang baik sehingga menumbuhkan identifikasi audiens yang luas dengannya.

Meskipun punya kecerdasan dan integritas, tokoh everyman biasanya tidak memiliki hak istimewa, atau otoritas dan kemakmuran berlebih. Ia mulanya diletakkan pada kelas bawah yang merakyat. Selain menunjukkan idealisme moral, everyman akan terus berjuang untuk meraih cinta-citanya. Lewat akal dan ketabahannya, ia akan dapat memenuhi ambisinya yang sederhana, seringkali disertai upaya menebar kebaikan.

Berbeda dengan aktor terkemuka Hollywood lain seperti Cary Grant yang biasanya merepresentasikan pria keren kelas menengah, persona Stewart bisa dibandingkan dengan Tom Hanks. Stewart punya kedewasaan, tingkah laku bijak, dan kemampuan untuk memenangkan simpati penonton. Menurut cendekiawan film Dennis Bingham, kepribadian khas Stewart menyerupai, “tetangga yang ramah di kota kecil, dengan wajah dan suara yang lembut dan tubuh kurus yang sekaligus anggun dan canggung.” Stewart berhasil memerankan persona ini dengan begitu konsisten di era 1940-an.

Begitulah saya mengenal sosok Bapak.

Dan sebagaimana seorang ayah, It’s Wonderful Life mengajarkan sejumlah hal. Fakta-fakta yang hanya dimengerti oleh mereka yang lebih kenyang asam garam kehidupan.

Pertama, orang jahat tidak selalu kena batunya. Dalam banyak film, adegan terakhir menunjukkan orang jahat itu dibawa pergi dengan diborgol. Tidak demikian halnya dengan It’s A Wonderful Life. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada kapitalis pemangsa rakyat, Mr Potter (Lionel Barrymoore). Padahal konflik-konflik utama dalam film ini disebabkan oleh niatan-niatan serakahnya.

Pada tahun 1940-an, Kode Produksi Film jelas menetapkan bahwa setiap narasi film harus menekankan bahwa para penjahat dihukum karena kejahatan mereka. Ternyata, Capra sudah pernah mendapat pertanyaan itu dalam satu acara. Ia menyahut, “Ketertarikan utama saya adalah apa yang terjadi pada George Bailey. Karakter Lionel Barrymore (Mr. Potter) ini terlalu keras, terlalu tua, terlalu senang dengan apa yang dia lakukan. Jadi kami hanya membiarkannya seperti apa adanya.” Mudah saja mengubah Potter menjadi semacam Ebenezer Scrooge—dalam film natal legendaris lainnya, A Christmast Carol (1951)–yang kudu menebus dosa-dosa hidupnya. Tetapi Capra juga mengingatkan kita bahwa kadang-kadang orang jahat lolos dari sangsi moralnya.

Pelajaran kedua, hidup selalu punya tujuan. “Kehidupan setiap orang menyentuh begitu banyak kehidupan lain, dan ketika dia tidak ada, dia meninggalkan lubang yang mengerikan, bukan?” ujar malaikat Clarence (Henry Travers) kepada George Bailey. Tanpa George pernah berdiri di muka bumi, begitu banyak hal akan berbeda. Bedford Falls (kota yang dihuni George) akan dikuasai Mr Potter dan menjadi Pottersville, misalnya. Tentu saja, Zuzu dan anak-anaknya yang lain tidak akan pernah dilahirkan.

Tetapi dampaknya jauh melampaui kota kecil ini. “George menyelamatkan nyawa saudaranya hari itu,” kata sang malaikat, mengenang ketika saudara lelaki George, Harry, jatuh ke kolam es. Bertahun-tahun kemudian, Harry menjadi pahlawan perang, menyelamatkan banyak nyawa orang lain. Intinya adalah, kita tidak tahu seberapa besar kehidupan kita memengaruhi orang lain.

Eh, tapi apakah pengaruh itu selalu baik? Bila dipikir-pikir, kemungkinan George Bailey membuat dunia ini lebih baik tak pernah bisa dipastikan, karena bisa juga sebaliknya. Meski bermaksud mulia, belum tentu apa yang dipikirkannya benar. Saya pernah membaca tulisan menarik dari New York Times yang membayangkan kemungkinan bahwa Berford Falls bisa saja lebih maju dan makmur jika George tak pernah ada. Rencana Pottersville sebenarnya cukup hebat. Ada bar, teater dan semua fasilitas kegembiraan kota besar yang diimpikan George seumur hidupnya.Penulis artikel itu bahkan sempat berkonsultasi pada seorang ekonom untuk meminta argumen bahwa kota wisata seperti Pottersville akan bernasib lebih baik daripada pusat manufaktur New York seperti Bedford Falls. George pasti memutuskan bunuh diri lagi kalau membaca artikel itu 😦

Tapi saya yakin, kalau tidak ada Bapak, hidup saya tidak akan lebih baik dari ini. Loh iya, kalau tidak ada Bapak pun saya tetap ada di muka bumi ini. Tentu, karena saya sejatinya adalah anak adopsi. Dan saya baru tahu itu setelah Bapak meninggal ~

Best Lines:

George Bailey: Merry Christmas, movie house! Merry Christmas, Emporium! Merry Christmas, you wonderful old Building and Loan!

After Watch, I Listen:

The Beach Boys – God Only know