Tags

, , , , ,

The Best Years of Our Lives - Wikipedia

William Wyler

1946

Drama

Pulang. Memang romantis kata itu, pengalaman itu. Berkali-kali saya melakukannya. Setiap saya melakukan perjalanan jauh yang menarik, di antaranya KKN, tamasya, liputan ke luar negeri, umrah (percaya kan???), dan sebagainya, momen pulang itu selalu menegangkan. Hasrat berjumpa, berbagi kisah, membagikan oleh-oleh, kepada ibu, pacar, atau kawan-kawan di tempat asal membuat pulang tak kalah berartinya dengan degup-degup keberangkatan. Apalagi jika perjalanan kita begitu panjang, lama, dan mengesankan. Keinginan untuk segera tiba di rumah kerap menggebu-gebu.

Saya sadar akhirnya, kenapa begitu banyak lagu-lagu dengan tema pulang. Kadang-kadang tanpa konteks tambahan, sekadar “pulang” itu sendiri. Bisa jadi “pulang” di sana sebatas metafora. Namun, unsur-unsur melankolia yang biasanya diterjemahkan sebagai “rindu” itu selalu melekat.  Yang paling populer, misalnya lagu jagoannya Float:

Dan lalu…

Air mata tak mungkin lagi kini

Bicara tentang rasa

Bawa aku pulang, rindu!

Segera!

Ada juga lagu Iksan Skuter, Superman Is Dead, Naff, dan banyak lainnya. Itu baru yang benar-benar bertajuk ”Pulang”. Di luar negeri, ada Michael Buble, John Denver, The Animals, sampai Kenny G dengan makna dan ekspresinya sendiri-sendiri. Tak aneh lagi. Bagi musisi, pengalaman melawat untuk bermusik atau melakukan tur panjang pasti membuat mereka sedemikian akrab dengan perasaan pulang.

Itu baru bermusik. Apalagi bila melakukan perjalanan untuk keperluan yang lebih berarti, misalnya berperang. Sifatnya hidup-mati, dilalui bertahun-tahun. Pulang bukan jaminan, melainkan harapan. Belum lagi pada eranya menjalin kontak dengan tempat pulang itu tak semudah hari ini. Makna “pulang” tak terbayang luas dan khidmatnya.

Perang Dunia menyimpan jutaan cerita. Jutaan tempur. Jutaan kehilangan. Maka dari itu Perang Dunia II menelurkan ratusan film perang. Tak luput, Perang Dunia juga menghadirkan jutaan pulang. Tak butuh selang waktu lama dari tamatnya perang terbesar di sejarah umat manusia itu, cerita ini lahir. Kesadaran bahwa para serdadu tak hanya menghadapi perang di medan tempur.. Selepas kata damai termaklumat, mereka melakukan apa yang disebut dengan “pulang”. Semua berdebar-debar. Apalagi jika mereka tahu ternyata masih ada peperangan yang harus mereka menangkan.

The Best Years of Our Lives membuka dengan “pulang”. Para prajurit Amerika Serikat boleh tampak gagah berbalut seragam dan senapan di kawasan tempur. Namun, mereka pulang untuk menemui dunia yang benar-benar lain. Sebagian bertahan, sebagian tidak. Laksana paus yang maharaja di lautan, namun menggelepar di daratan.

Samuel Goldwyn, produser kondang, berpikir menggarap kisah ini setelah membaca sebuah artikel Time edisi 7 Agustus 1944. Isinya tentang pengalaman pelik para veteran Perang Dunia II saat mencoba kembali ke kehidupan sipil. Berjudul “The Way Home,” tulisan feature itu meliput sekelompok marinir dalam kereta yang dinamai “Home Again Special”. Kereta itu mengantarkan mereka ke kota asal masing-masing setelah 27 bulan pertempuran berdarah. Para marinir ini saling bertanya-tanya apa yang akan menyambut mereka saat mereka pulang ke rumah, parade? Reuni penuh air mata? Dangdutan?

Kenyataannya adalah sesuatu yang jauh berbeda:

Mereka bangun pagi-pagi, menyemir sepatu, memoles kancing, dan turun dari kereta menyusuri stasiun yang sunyi. Tidak ada sambutan apapun. Seorang marinir berteriak, “Sampai jumpa di perang berikutnya.” Tidak ada jawaban. Ia memanggul kantung laut mereka dan berjalan pergi. Dunia baru dimulai.

Tergerak oleh penggambaran ketidakpastian yang akan dihadapi tentara yang kembali dari perang, istri Goldwyn mendesaknya untuk mempertimbangkan membuat film tentang bagaimana para veteran menyesuaikan diri dengan kehidupan pasca-perang. “Setiap keluarga di Amerika adalah bagian dari cerita ini,” ingatnya. Goldwyn lalu merekrut wartawan perang bernama MacKinlay Kantor untuk menggarap materi naskah. Total, Goldwyn menghabiskan sekitar $2,1 juta (Lebih dari 200 miliar rupiah hari ini) untuk membuat The Best Years of Our Lives.

Lalu siapa sutradaranya? Tak ada yang lebih tepat dari William Wyler. Ia tahu seperti apa perang itu. Antara 1942 dan 1945, Wyler mengajukan diri untuk menjadi mayor di Angkatan Udara dan Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menyutradarai sepasang film dokumenter: The Memphis Belle: A Story of a Flying Fortress (1944), tentang Boeing B-17 dan Thunderbolt! (1947), menyoroti skuadron pembom-tempur P-47 di Mediterania. Wyler memfilmkan The Memphis Belle dengan risiko serius, terbang di atas wilayah musuh pada misi pemboman yang sebenarnya pada tahun 1943. Dalam satu penerbangan, Wyler kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen. Rekan Wyler, sinematografer Harold J. Tannenbaum, ditembak jatuh dan tewas selama syuting. Steven Spielberg sempat menggambarkan pembuatan film Wyler tentang Memphis Belle dalam seri Netflix 2017, Five Came Back.

Untuk proses pengerjaan Thunderbolt! , Wyler terkena suara ledakan keras hingga pingsan. Ketika terbangun, ia mendapati dirinya tuli di satu telinga. Wyler kembali dari perang sebagai veteran yang cacat. Ia sempat tidak yakin bisa bekerja lagi. Akhirnya ia beralih ke subjek yang dia kenal dengan baik, The Best Years of Our Lives. Kisah kepulangan tiga veteran dari Perang Dunia II ini bisa dibilang film paling pribadi Wyler. Ia mengantungi pengalaman itu.

Ia sengaja memilih sejumlah aktor non-profesional.  Yang paling menarik tentu adalah Harold Russel, seorang veteran asli. Kisahnya di dalam film tak kalah menarik dari kisahnya di dunia sebenarnya.

Pada saat serangan 7 Desember 1941 di Pearl Harbor, Russel tinggal di Cambridge, Massachusetts, bekerja di pasar makanan. Dalam autobiografinya tahun 1949, Victory In My Hands, Russel menulis bahwa ia mendaftar di Angkatan Darat Amerika Serikat “bukan karena patriotisme tetapi karena saya menganggap diri saya gagal di manapun.” Yup, perang bagi sebagian besar orang memang kesempatan mempertaruhkan hidup yang tak lagi berarti.

Pada 1944, Russel menjadi instruktur Angkatan Darat. Sebuah sekering yang rusak meledakkan bahan peledak TNT yang sedang ia tangani. Akibatnya, Russel kehilangan dua tangannya. Dua lengan itu lalu diberi dua kait sebagai pengganti pergelangan tangan.

Wyler memberi Russel peran Homer Parrish, seorang pelaut Angkatan Laut Amerika Serikat yang kehilangan kedua tangannya selama perang. Yup, ia cukup menjadi dirinya sendiri.

Untuk peran itu, Russell lalu memenangkan Oscar di kategori Aktor Pendukung Terbaik. Sebelumnya, ia sudah dianugerahi piala kehormatan karena dianggap “membawa harapan dan keberanian kepada sesama veteran.” Penghargaan khusus itu sengaja “diada-adakan” karena dewan Oscar mulanya menganggap Russel hanya punya sedikit peluang untuk bisa memenangkan kategori Aktor Pendukung Terbaik. Eh, ternyata menang juga. Ia menjadi salah satu dari dua aktor non-profesional yang pernah memenangkan Oscar.

Mirisnya, Russel juga menjadi satu-satunya aktor yang pernah menjual penghargaan Oscar itu ke pelelangan. Pada tahun 1992, secara kontroversial Russell menyerahkan piala yang diidam-idamkan aktor seantero planet kepada seorang kolektor pribadi dengan harga $60.500 (1 milyar rupiah lebih hari ini). Katanya, ia memang sedang BU, untuk biaya pengobatan istrinya, “Saya tidak tahu mengapa ada orang yang kritis terhadap ini. Kesehatan istri saya jauh lebih penting daripada alasan sentimental. Film ini akan ada di sini, bahkan jika Oscar-nya tidak ada.”

Namun, Oscar yang keberatan dengan pialanya yang dijual itu membantah motivasi Russel itu. Pihak Oscar menuding pada kenyataannya istri Russel semata-mata butuh duit hanya untuk “naik kapal pesiar”. Jancuk.

Sejak itu, ajang penghargaan film itu mewajibkan semua penerima Oscar sejak 1950 untuk menandatangani perjanjian yang melarang mereka menjual pialanya.

World War II Museum Service on Celluloid Podcast

Oke, balik ke filmnya.

The Best Years of Our Lives benar-benar mulai digarap tujuh bulan setelah perang selesai. Seperti sudah dituturkan, film ini berfokus pada tiga veteran yang pulang perang dengan persoalannya sendiri-sendiri. Ketiga lelaki itu pulang dengan pesawat yang sama, dan hidup mereka berbaur akibat kebetulan, bertemu di pub yang sama pada malam kedatangan mereka yang sama.

Veteran yang pertama adalah Homer Parrish yang diperankan Harold Russell tadi. Ia bertugas di Angkatan Laut, lantas kehilangan kedua tangannya, sama seperti keadaan Russel yang sebenarnya. Homer diceritakan pulang ke orang tua kelas menengahnya dan pacarnya yang bernama Wilma (Cathy O’Donnell).

Karena kehilangan dua tangan itu, Homer sejak awal sudah sangat gugup. Ia khawatir Wilma tak akan menerimanya kembali. Rasa rendah dirinya justru membuatnya sensitif, temperamen, dan mudah tersinggung bila dikasihani. Padahal sebenarnya Wilma tampak sanggup menerima Homer dengan kondisinya sekarang. Sayangnya Homer sudah terlanjur dikuasai pikiran-pikiran buruk. Ia selalu berpikir Wilma hanya iba atau terjebak janji untuk tetap mau menerimanya. Faktanya, yang tak bisa menerimanya adalah dirinya sendiri.

Veteran kedua adalah Kapten Angkatan Udara, Fred Derry (Dana Andrews). Ia baru menikah beberapa bulan sebelum berangkat perang. Digambarkan bahwa Fred belum terlalu teruji keharmonisannya dengan istrinya, Marie (Virginia Mayo). Mulanya, Marie yang bekerja di klub malam menyambut kepulangan Fred dengan suka ria. Ia bangga punya suami seorang kapten. Namun, benih konflik muncul ketika Fred tak mampu mendapatkan kualitas hidup dan status sosial yang sama baiknya di dunia bebas perang. Bagi Fred, militer memberinya banyak privilese. Selepas perang, ia tak punya apa-apa.  Dari seorang kapten yang penuh kehormatan, ia hanya mampu mendapat pekerjaan sebagai pramuniaga parfum dan bartender pembuka soda. Penghasilannya turun drastis, dan ketidakpuasan kian menggelayuti Marie. Apa gunanya punya suami bekas kapten tapi tak bisa membiayai kehidupan mahalnya?

Fred sempat ditanyai tentang keterampilan yang diperolehnya dari Angkatan Darat yang mungkin bisa diterapkan pada pekerjaan general di masyarakat. Ternyata Fred memang hampir tak dilatih apapun di militer selain menjatuhkan bom. Ditambah dengan kelangkaan pekerjaan selama tahun-tahun terakhir era depresi besar-besaran, Fred harus diakui berada dalam situasi yang sulit. Di adegan-adegan akhir, Fred mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya dan Marie, lalu pergi ke sebuah bandara. Ketika menunggu penerbangannya, ia iseng berjalan-jalan dan melihat B-17, jenis pesawat yang biasa menemaninya menjatuhkan bom. Ia naik ke kokpit, duduk, dan menutup mata. Fred tahu, bahwa ia adalah paus yang mendadak harus beradaptasi di daratan.

Veteran yang terakhir adalah Sersan bernama Al Stephenson (Fredric March). Ai kembali ke apartemennya yang mewah di sebuah gedung, bersua lagi dengan istrinya, Milly (Myrna Loy) dan dua anak yang kini sudah dewasa: Peggy (Teresa Wright) dan Rob (Michael Hall) ).

Ai agaknya lebih beruntung dibanding kedua rekan veterannya tadi. Selain punya keluarga yang naga-naganya tidak banyak masalah, ia juga langsung diterima kembali di pekerjaan perbankan yang sempat ditinggalkannya untuk perang. Oh, tentu ia menemui banyak kesulitan dengan berbagai perubahan yang ada, mulai dari sebatas membuat anak laki-lakinya tertarik dengan suvenir kolot seperti samurai Jepang, hingga kebijakan yang berubah terkait industry pekerjaannya.

Masalah ketiga veteran ini tidak klise. Masalah mereka berkembang masing-masing dari lingkungan sipil yang bergerak cepat dan persepsi mereka sendiri terhadap ketertinggalan itu.

The Best Years Of Our Lives mengingatkan pada satu gagasan dalam istilah “greatest generation,” sebuah frasa yang memasuki leksikon populer setelah terbitnya sebuah buku oleh penyiar berita bernama Tom Brokaw. Menurut Brokaw, greatest generation adalah generasi yang muncul pada masa depresi besar-besaran, berjuang dalam Perang Dunia II, dan kembali untuk “membangun Amerika.” Hommer, Ai, dan Fred adalah bagian dari generasi itu.

“Membangun Amerika” adalah retorika negara yang setelah bertahun-tahun dijalani makin dipertanyakan. Tak semua punya tempat untuk melakukannya. Setelah perang, para pria bekas prajurit di generasi ini memang melakukan serangkaian pekerjaan yang tidak memuaskan. Jauh dari “membangun Amerika,” kebanyakan menjalani kehidupan mereka yang sulit di kota kecil sampai korporatisasi menghancurkan bisnis ritel-ritel milik pribadi, pertanian kecil, dan kehidupan kota kecil itu sendiri. Veteran yang kembali tidak kembali untuk “membangun Amerika.” Ini dilakukan oleh kapitalisme korporat, dengan para veteran yang terjebak dalam perkawinan tanpa cinta dan pekerjaan yang mematikan pikiran.

The Best Years Of Our Lives juga menyampaikan gagasan bahwa kehidupan militer mampu merombak struktur kelas di masyarakat sipil. Al adalah bankir makmur yang tinggal di apartemen mahal, namun ia hanya naik pangkat menjadi sersan di Angkatan Darat. Fred datang dari lumbung kemiskinan, namun mengakhiri perang sebagai kapten yang gagah. Dinas bersenjata menekankan gagasan bahwa yang penting adalah apa yang Anda lakukan, bukan siapa Anda. Tentu saya tak sepakat karena pendidikan dan posisi sosial Al pasti akan memberinya kesempatan lebih untuk promosi. Namun, cukup menarik melihat terjungkalnya nasib Fred dan Al karena perbedaan “alam” itu.

Fred mengatakan, ia berpenghasilan $400 sebulan di Angkatan Udara tetapi dipaksa untuk mengambil pekerjaan berupah $32,50 seminggu. Sepertiga dari sebelumnya. Sementara itu, kita tidak diberi tahu gaji Ai. Tapi gaji dasar sebagai seorang sersan infanteri adalah $100 sebulan. Begitu kembali menjadi bankir, ia ditawari $12.000 per tahun, lebih dari sepuluh kali gajinya di ketentaraan.

Membandingkan penghasilan relatif selama perang dan setelah perang: Fred mendapatkan empat kali lipat dari yang Al dapatkan dalam perang. Sementara penghasilan $130 per bulan di toko tampaknya menyedihkan bila dibandingkan dengan $1.000 milik Al. Tetap saja, ketika mereka keluar minum-minum, Fred bersikeras mentraktir karena jabatannya paling tinggi di medan perang.

Sekali lagi, dunia perang adalah alam lain. Seperti Reza Arap yang diminta hidup di tahun 90-an. Paling jualan martabak.

The Best Years Of Our Lives adalah salah satu film terbesar di dekade 40-an dan masih salah satu dari seratus film Amerika dengan pendapatan terbesar sejauh ini. Yup, ini contoh film yang harus menang Oscar karena punya kapasitas sebagai penanda zaman.

Benar saja, The Best Years Of Our Lives memenangi penghargaan itu untuk Sutradara Terbaik  dan Film Terbaik, serta tujuh kategori lainnya. Kemenangan ini berkontribusi pada capaian Wyler sebagai satu-satunya sutradara yang pernah memenangkan kategori prestise itu sebanyak tiga kali, plus rekor selusin nominasi Sutradara Terbaik.

The Best Years Of Our Cinemas…

Best Lines:

Milly Stephenson: What do you think of the children?

Al Stephenson: Children? I don’t recognize ’em. They’ve grown so old.

Milly Stephenson: I tried to stop them, to keep them just as they were when you left, but they got away from me. 

After Watch, I Listen:

Creedance Clearwater Revival – Fortunate Son