Tags

, , , ,

Salah satu buku paling menawarkan kegelisahan-kegelisahan baru bagi saya dalam beberapa waktu terakhir. Provokasi-provokasinya sukses besar. Jadi saya rangkumkan panjang lebar ya di sini.

Dalam buku ini, Heath dan Potter berargumen bahwa pemberontakan budaya-tanding (counter culture) telah gagal mengubah apa-apa karena teori tentang masyarakat tempat ide budaya-tanding itu berpijak adalah keliru. Bukan cuma mubazir, tapi kontraproduktif. Bukan saja mengalihkan tenaga dan ikhtiar dari inisiatif-inisiatif yang membuahkan perbaikan-perbaikan konkret dalam kehidupan rakyat banyak, namun juga mendorong peremehan telak terhadap perbaikan-perbaikan macam itu.

Dalam analisa budaya tanding, cuma bersenang-senang saja bisa dipandang sebagai aksi yang sungguh-sungguh subversif. Akhirnya pemberontakan budaya tanding macam ini justru telah memacu kapitalisme konsumtif. Meluasnya hedonisme menjadikan gerakan-gerakan sosial jadi kian sulit diorganisir, dan jauh lebih sulit lagi membujuk orang agar mau berkorban demi keadilan sosial.

Kuncinya, harus dibedakan antara budaya tanding dan perjuangan sosial. Dari sudut pandang keadilan sosial, pembaruan terarah dalam sistem diperlukan. Baik gerakan antirasisme maupun feminisme mencapai hasil-hasil nyata demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat yang tersisihkan. Ini dilakukan lewat kerja keras aksi politik demokratis: melalui orang-orang berdebat, menggelar kajian, merakit koalisi, dan melegislasi perubahan.

  1. Lahirnya Budaya Tanding

Keyakinan bahwa seniman harus berseberangan dengan masyarakat umum berawal dari romantisisme abad ke-19, sebuah gerakan yang mendominasi imajinasi artistik sepanjang abad ke-19. Kuncinya adalah memahami dampak dari penemuan Dunia Baru, khususnya Kepulauan Pasifik, terhadap keadaran orang Eropa. Sebelum penemuan ini, orang Eropa berasumsi bahwa manusia sepanjang sejarahnya hidup dalam masyarakat yang hirarkis. Aristokrasi dan dominasi kelas adalah bagian dari tatanan alam yang alamiah.

Ratusan tahun berlalu, Jean Jacques Rousseau yang sadar bahwa ada orang-orang yang hidup sejahtera tanpa hirarki di dunia baru menyatakan bahwa monarki dan kelas adalah kemelencengan dari tatanan alamiah sosial. Ini kemudian diikuti Voltaire dan para intelektual lainnya yang menolak penindasan aristokrat.

Namun, sebenarnya niat Rousseau bukan mengutuk umat manusia atau merekomendasikan kembali pada gaya hidup primitif. Ia tidak menentang hukum atau tatanan sosial. Ia hanya memusuhi hirarki dan kelas yang spesifik, yakni kaum aristokrat. Masyarakat umum justru sekutu alami dalam pertarungan ini. Logika inilah yang mendasari Revolusi Perancis.

Begitu juga kaum anarkis abad ke-19. Mereka tidak menentang tatanan sosial atau menjadi individualis. Dalam banyak kasus, mereka bahkan tidak ingin merobohkan negara. Mereka cuma menentang pemaksaan koersif tatanan sosial dan militerisme. Bahkan, Mikhail Bakunin adalah orang pertama yang menyerukan pembentukan Eropa Serikat.

Sasaran kaum aktivis politik dan pemikir radikal abad ke-18 dan ke-19 bukan untuk mengenyahkan masyarakat atau tatanan sosial, melainkan menyetarakannya. Keadilan yang dikejar. Alhasil, politik radikal sepanjang periode modern awal punya karakter populis dengan tujuan menggerakan rakyat penguasa.

Begitu masuk di paruh kedua abad ke-20, politik radikal mulai melenceng. Rakyat kian lama kian dipandang sebagai sasaran kecurigaan. Masyarakat mainstream mulai dipandang sebagai masalah. Budaya tanding nyaris menggantikan sepenuhnya sosialisme sebagai dasar pemikiran politik radikal. Maka bila budaya-tanding adalah sebuah mitos, inilah mitos yang telah menyesatkan sejumlah besar orang dengan konsekuensi-konsekuensi politik yang tak terbilang.

Menurut Theodore Roszak (bukunya di tahun 1969 adalah The Making of a Counter Culture yang mempopulerkan istilah “budaya tanding”), masyarakat secara keseluruhan telah menjadi sistem manipulasi penuh, sebuah teknokrasi. Semua segi kehidupan adalah manipulasi. Di bawah kondisi ini, tak ada lagi yang bisa mencukupi selain penolakan total terhadap kebudayaan dan masyarakat. Dalam pandangannya, partai-partai kiri tradisional telah menjadi badut-badut teknokrasi.

Keprihatinan-keprihatinan kaum kiri tradisional, seperti kemiskinan, standar hidup, dan akses sarana kesehatan, kini jadi dipandang semu, karena cuma bertujuan mereformasi kelembagaan. Sebaliknya, budaya tanding tertarik pada apa yang disebut sebagai “pembebasan psikis kaum tertindas.” Ini dianggap lebih penting daripada aktivis hak sipil yang bekerja untuk mendaftar pemilih atau politisi feminis yang berkampanye untuk mengamandemen undang-undang dasar.

 2. Freud Ngepop

Dalam banyak hal, ide budaya tanding nyaris merupakan terusan langsung dari teori psikologi Freud. Ia berargumen bahwa pikiran terbagi dalam tiga komponen: id, ego, dan superego. Id atau bawah sadar adalah lokasi dari dorongan-dorongan dan impulsi instingtif kita yang dikendalikan oleh prinsip kenikmatan. Id semata merupakan kumpulan hasrat-hasrat liar yang tak terkontrol. Tugas untuk memaksakan semacam aturan dan batasan atas id jatuh kepada ego, atau benak sadar kita. Ego harus membujuk id agar lebih realistis dalam tuntutan-tuntutannya. Akan tetapi ego sendirian tak punya kekuatan atau sumber daya yang dibutuhkan untuk menundukkan id. Maka dari itu ada struktur psikis lain, yakni superego yang juga ada di bawah sadar kita. Ia bisa bertindak sebagai sekutu ego dalam mengontrol id. Superego menyensor hasrat-hasrat kita dan mengaitkan perasaan malu dan salah dnegan pemuasan insting-instiing kita yang paling dasar.

Ide pokok dalam teori Freud adalah bahwa dengan berkembangnya superego ini, tak satupun konflik instingtif yang habis tertuntaskan. Mereka cuma direpresi. Hal ini menimbulkan frustasi, kegalauan, dan ketidakbahagiaan. Alternatifnya adalah mencari saluran pengeluaran dorongan-dorongan ini yang bisa diterima secara sosial, sebuah pemuasan pengganti. Dalam istilah Freud, kita bisa belajar mensublimasi hasrat-hasrat kita. Namun, ketika hasrat itu tak tersalurkan sama sekali dan menjadi frustasi berkelanjutan, ia bisa meledak.

Maka, komedi misalnya, terutama yang gelap, adalah perkara menyelinap mengelabui superego.  Itu sebabnya kita suka tertawa, termasuk ada hal-hal sensitif dan tabu. Pengaturan waktu atau timing menjadi penting dalam komedi. Begitu juga kenapa orang suka memaki meski makiannya kada tak sesuai konteks. Itu adalah momen ketika id diizinkan keluar melewati kontrol superego.

Syahdan, yang membuat teori represi ini begitu menggundahkan pada tataran analisa kita adalah bahwa ia menganggap kendali diri individual pada hakikatnya yang beda dengan kontrol koersif eksternal di masyarakat. Keduanya membatasi kebebasan kita.

Padahal, bermasyarakat pada dasarnya memang sama dengan berkompromi. Kita merelakan sebagian kebebasan kita sebagai ganti kemaslahatan-kemaslahatan lainnya, seperti keamanan. Dan sistem yang harus mengompromikan hasrat-hasrat instingtif kita ini makin berkembang seiring kemajuan zaman. Watak represif peradaban kita memang makin menurun, tak ada lagi hukum-hukum pancung dan sebagainya, namun sebenarnya ini hanyalah internalisasi bertahap dari aparatus represif dalam masyarakat. Kontrol diri kita secara individu yang kian ketat makin tinggi. Kita semakin sulit berbahagia. Ketidakbahagiaan disebabkan oleh kondisi-kondisi internal, bukan eksternal. Dalam film Fight Club, Tyler Durden berkata,”Kita dirancang sebagai pemburu dan kita hidup dalam masyarakat pembelanja. Tak ada lagi yang bisa dibunuh, diperangi, ditundukkan, dan dijelajahi”

Beberapa karya kritik budaya tanding, seperti Pleasantville atau American Beauty seakan mentah-mentah menghadirkan wacana perlawanan terhadap represi-represi akan hasrat-hasrat masyarakat. Berbeda dengan pemikiran Marx, kritik budaya tanding begitu luas cakupannya sampai sulit membayangkan apa yang dimaksud membenahi keadaan. Musuhnya bukan institusi tertentu, melainkan keberadaan institusi secara umum. Pemberontakan budaya tanding terus diromantisir, padahal pemikir mereka –termasuk Foucault—kesulitan untuk menggambarkan dengan meyakinkan seperti apa jadinya masyarakat tanpa aturan dan pranata.

Belum lagi lahirnya konsep opresi. Kelompok teropresi itu seperti kelas, namun bukan dijalankan melalui mekanisme institusional yang anonim (seperti sistem hak milik) melainkan melalui sebentuk dominasi psikologis. Kaum teropresi ini contohnya seperti kaum perempuan, kulit hitam, atau homoseksual.

Politik opresi menganggap akar ketidakadilan bersifat psikologis, bukan sosial. Maka tekanan pertamanya bukan mengubah institusi, melainkan kesadaran kaum teropresi. Charles Reich dalam The Greening of America menulis,”Revolusi harus kultural. Karena budayalah yang mengontrol mesin ekonomi-politik, bukan sebaliknya”. Maka The Beatles pun dalam lagu “Revolution” mengklaim bahwa lebih baik membebaskan pikiranmu daripada mengubah konstitusi atau institusi. Mengubah kesadaran diri dinilai lebih penting daripada mengubah sistem ekonomi-politik.

Bahkan, jika diselidiki lagi, “Revolusi Psikedelik” dengan ide bahwa menenggak obat itu revolusioner, ganja bisa memerdekakan pikiran, dan lain sebagainya adalah perpanjangan dari gagasan untuk mengubah modus kesadaran agar bisa melakukan perubahan sosial. Apakah benar orang teler bisa melakukan itu?

3) Berlaku Normal

Analisa budaya tanding yang muncul di tahun 1960-an bertitik tolak dari sebuah pertanyaan maha penting: mengapa kita butuh aturan? Satu-satunya justifikasi bagi koersi adalah ketika ia diperlukan untuk mencegah orang menimbulkan kemudaratan yang lebih besar pada orang lain. “Dari pokok kayu kemanusiaan yang bengkok, tak bisa dihasilkan apapun yang lurus,” ujar Immanuel Kant. Orang jahat akan selalu melakukan hal-hal buruk.

Para teoretikaus budaya tanding menyangkal realitas ini. Mereka semua simpatik dan berjiwa sosial. Mereka percaya bahwa kebejatan disebabkan oleh masalah di masa lampau dan sebagainya.

Yang lalai dipertimbangkan oleh kedua pihak dalam perdebatan ini adalah bahwa koersi bisa jadi tetap dibutuhkan, sekalipun yang jahat itu tidak ada. Individu yang bebas dan setara toh kerap membuat aturan sendiri dalam interaksi antar mereka. Keberadaan koersi dalam masyarakat tidak selalu pertanda dominasi.

Kesalahan utama adalah berasumsi bahwa karena sekelompok orang tertentu punya kepentingan kolektif demi memperoleh hasil tertentu, masing-masing individu dalam kelompok itu juga akan memiliki kepentingan individual untuk berbuat sesuatu yang berguna demi memperoleh hasil tersebut. Inisiatif individu kerap tak sejalan sedemikian rupa untuk mendorong kemasalahatan bersama. Manusia punya kecenderungan malas, ada tendensi menunda sejenak dengan berharap orang lain akan melakukannya. Situasi macam ini dikenal sebagai “problematika aksi kolektif”, semua orang ingin mendapatkan hasil tertentu namun tak seorang pun yang punya inisiatif melakukan apa yang diperlukan untuk mencapainya.

Contoh penting di buku ini adalah situasi “prisoner’s dilemma”. Nama ini merujuk pada sebuah cerita yang dipakai untuk menggambarkan situasi saat Anda dan teman Anda merampok bank. Polisi tahu kalianlah pelakunya, tapi belum ada cukup bukti. Mereka lalu sengaja merazia apartemen kalian, dan mendapatkan cukup bukti untuk tuduhan yang lebih ringan berupa kepemilikan narkoba. Mereka memasukan kalian ke ruang interogasi terpisah. Polisi masuk, lalu berkata,”Anda menghadapi satu tahun penjara dengan dakwaan kepemilikan narkoba. Namun, kami tahu diri. Kalau Anda mau bersaksi memberatkan rekan Anda dalam perampokan bank, akan kami batalkan dakwaan tadi.”

Tentu saja anda tahu rekan anda juga mendapat tawaran yang sama. Jadi, Anda punya empat opsi:

  1. Anda bersaksi, ia tidak bersaksi. Waktu tahanan: nol
  2. Anda tidak bersaksi, ia tidak bersaksi. Waktu tahanan: satu tahun
  3. Anda bersaksi, ia juga bersaksi. Waktu tahanan: lima tahun
  4. Anda tidak bersaksi, ia bersaksi. Waktu tahanan: enam tahun

Dari logika untung-ruginya, tentu saja peluang keuntungan terbesar adalah anda memilih bersaksi memberatkan rekan Anda. Ini pengambilan keputusan yang alamiah, kecuali jika geng atau organisasi anda sejak awal sudah punya aturan untuk menghadapi situasi seperti ini. Misalnya, menetapkan bahwa Anda dan rekan Anda harus bungkam, sehingga masing-masing tak perlu harus khawatir dengan pengambilan keputusan rekannya.

Situasi “prisonner’s dilemma” ini bisa ditemukan juga di budaya antri, atau larangan informal untuk mengobrol di bioskop dan lain sebagainya. Sedikit mengalah agar semua bisa mendapatkan keuntungan yang sama. Alih-alih  merepresi kebutuhan dan hasrat kita, aturan-aturan ini justru memungkinkan kita memuaskannya.Penting kiranya menarik garis beda antara pemberontakan yang menentang konvensi ketinggalan zaman yang tak masuk akal dengan aksi yang melanggar norma-norma sosial yang absah. Harus dibedakan antara pembangkangan dan kenyelenehan. Pembangkangan adalah apabila orang pada dasarnya mau ikut aturan, namun memendam keberatan pada rumusan tertentu dari aturan yang ada. Sementara kenyelenehan timbul ketika seseorang melanggar aturan demi maksud-maksud dirinya sendiri. Budaya tanding punya kecenderungan meruntuhkan perbedaan ini. Ada satu tes sederhana untuk membedakan keduanya, yakni pertanyaan,”Bagaimana bila semua orang berbuat demikian? Akankah dunia jadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali?”

Perdebatan menarik muncul di antara analisa Sigmund Freud mengenai kondisi alamiah manusia dengan pandangan Thomas Hobbes. Freud beranggapan bahwa ada kondisi alami untuk merasa tidak aman dengan betapa kuatnya insting manusia untuk berperilaku jahat. Manusia punya kecenderungan alamiah menjadi antisosial dan menzalimi orang lain. Sikap saling memusuhi dalam diri manusia ini mengancam rusaknya relasi-relasi manusia beradab. Freud masih percaya bahwa nalar meminta kita untuk bekerjasama, namun ada unsur-unsur psikologis lain yang melanggarnya.

Beda lagi dengan pandangan Hobbes. Ia beranggapan bahwa nalar sejak awal tidak mengarahkan manusia untuk menghasilkan inisiatif membantu sesamanya. Justru sebaliknya, manusia cenderung punya rasa curiga satu sama lain. Dalam suatu kondisi tanpa aturan, seseorang tak punya jaminan bahwa yang lain akan menaati kesepakatan. Manusia terdorong untuk bersikap ofensif terhadap lainnya hanya demi mencari rasa aman. Hobbes menilai bahwa rasa curiga adalah alamiah. Kita mengobjektifikasi orang lain tidak selalu karena kita butuh mengobjektifikasi orang lain, melainkan itu cara kita melidungi diri dari aksi objektifikasi orang lain. Joseph Heath dan Andrew Potter lalu percaya bahwa ini bukannya membuktikan adanya insting keji yang melampaui perangkat rasional kita, melainkan respons rasional atas situasi yang tidak saling percaya. Krisis kepercayaan ini bisa menjelaskan adu belanja militer dan pembangunan nuklir yang dilakukan banyak negara. Mereka tidak bisa percaya satu sama lain.

Kita selalu berharap orang berlaku normal untuk mengurangi ketegangan kognitif. Itu sebanyak gegar budaya terjadi ketika menghadapi lingkungan baru.  Gegar budaya adalah efek frustasi atas hilangnya rambu-rambu yang kita akrabi. Ketegangan ini berasal dari ketidaktahuan tentang apa yang “normal” dan “abnormal”.

d) Aku Benci Diriku dan Ingin Belanja

Kritik atas masyarakat massa justru telah menjadi salah satu kekuatan utama yang mendorong konsumerisme selama lebih dari 40 tahun terakhir. Orang-orang mengidentikkan konsumerisme dengan kepatuhan dan keseragaman. Alhasil, mereka pun gagal melihat bahwa pemberontakanlah yang selama sekian dekade ini justru menjadi tenaga penggerak pasar.

Kedua penulis ini menyalahkan ide bahwa konsumerisme didorong oleh hasrat untuk sama. Kebanyakan orang menghabiskan sejumlah besar uang bukan karena “yang lain punya”, melainkan justru untuk mendapatkan barang-barang yang memungkinkan mereka menonjol sendirian dari kerumunan. Mereka habiskan uang untuk barang-barang yang memberikan rasa jadi beda dan khas. Konsumerisme merupakan akibat dari persaingan antara konsumen yang berusaha mengungguli satu sama lain. Bukan kepatuhan dan keseragaman. Bila konsumen ini orang-orang konformis, maka mereka semua akan membeli barang yang sama persis dan semuanya akan senang-senang saja. Tak ada gunanya membeli yang baru. Dengan kata lain, orang-orang non-konformis yang mendorong belanja konsumsi. Identitas merk adalah persoalan diferensiasi produk.

Konsumerisme pada dasarnya adalah problematika aksi kolektif, sebuah prisoner’s dilemma. Perilaku konsumsi kian lama kian menyerupai struktur perlombaan senjata. Yang satu membeli agar unggul dari sebagian yang lain. Namun, kompetisi ini tak terbatas pada para pencari status dan pendaki strata sosial. Orang-orang yang tidak tertarik melebih tetangganya akhirnya toh harus membelanjakan uang demi menjaga standar hidup yang pantas. Mereka tak mau kalah dengan yang lain. Itulah kenapa selama lebih dari 30 tahun ilmuwan sosial melacak apa anggapan orang soal “kebutuhan minimum” yang diperlukan untuk menjalani hidup yang layak. Jumlahnya menanjak terus dengan pasti seiring waktu. Maka kelompok masyarakat yang paling miskin pun sebenarnya sedang mengejar target yang terus bergerak.

Pandangan populer atas penilaian estetik didominasi oleh apa yang disebut sosiolog Pierre Bourdieau sebagai “ideologi selera alamiah”. Menurut pandangan ini, beda antara yang indah dan yang jelek , yang keren dan yang norak, beremayam dalam objeknya. Karya seni yang buruk ya memang buruk, hanya saja orang-orang dengan latar belakang dan pendidikan tertentu saja yang bisa menyadari keburukannya. Namun, kemampuan mendeteksi karya seni yang buruk ini nyaris secara ajaib tersebar hanya dalam kelas tertentu, kebanyakan kelas atas.

Bourdieu berpendapat bahwa penilaian estetik senantiasa merupakan persoalan pembedaan. Adanya pemisahan antara yang superior dengan yang inferior. Maka, sebagian besar selera tinggi itu dirumuskan secara negatif, dalam kaidah apa yang bukan. “Selera,” ujar Bourdieu, “barangkali pertama dan utamanya merupakan rasa tidak suka, kejijikan yang disulut oleh kengerian atau intoleransi mendalam atas selera orang lain.” Untuk selera musik, apa yang anda dengarkan dalam banyak hal kurang begitu penting dibanding apa yang tidak anda dengarkan. Selera bukan cuma melibatkan penghargaan akan apa yang bagus, namun juga perendahan atas apa yang kampungan. Inilah alasan utama mengapa orang-orang dari kelas-kelas sosial yang berbeda tidak bebas bergaul satu sama lain. Karena itu tidak mungkin semua orang bisa punya selera tinggi. Ini kemustahilan konseptual. Seseorang bia memiliki selera tinggi jika banyak orang tidak memilikinya. Satu-satunya cara untuk memilih keluar dari budaya ini adalah dengan menahan agar jangan sampai penilaian macam itu memengaruhi keputusan membeli.

Maka pemberontakan budaya jadi berfungsi. Dalam masyarakat yang menjunjung individualisme dan membenci keeragaman, jadi pemberontak kini dianggap sebagai kategori aspirasi baru. Kita terus menerus diminta “berani beda”. Bila semua orang ikut budaya-tanding, maka budaya tanding itu berubah jadi budaya mainstream. Gaya budaya tanding berawal sebagai sesuatu yang eksklusif. Simbol-simbol tertentu—manik-manik, peniti, tindik, tato berfungsi sebagai poin-poin komunikasi di kalangan mereka yang tahu. Namun, seraya waktu berlalu, lingkaran orang-orang yang tahu ini melebar, dan simbol itu menjadi umum. Alhasil, sang pemberontak harus pindah ke sesuatu yang baru. Budaya-tanding harus menerus menciptakan diri kembali. Dengan cara ini, pemberontakan budaya tanding menjadi salah atu kekuatan utama untuk menggerakan konsumsi kompetitif.

5) Pemberontakan Ekstrem

Karena kebudayaan secara keseluruhan dianggap sebagai suatu sistem represi, maka siapa saja yang melanggar aturan atas alasan apa saja bisa mengklaim diri sedang melakukan “perlawanan”.  Sementara siapa yang mengkritik klaim macam itu otomatis akan dicerca sebagai boneka “sistem”, fasis satu lagi yang berusaha memaksakan aturan serta regulasi atas diri individu pemberontak. Atas alasan inilah budaya tanding selalu punya kecenderungan meromantisir kriminalitas.

Sekalipun bila perilaku kriminal tidak diperlakukan sebagai bentuk protes, perilaku itu kerap dipolitisir oelh orang-orang yang  mengklaim bahwa hal itu merupakan reaksi atas kondisi sosial yang represif kendati para perusuh itu mungkin tidak sedang memprotes kemiskinan dan rasisme. Inilah teori kriminal “penyebab-pokok” yang termahsyur itu. Tak sepenuhnya salah, akan tetapi masalah timbul bila teori diperlakukan terlalu jauh, apabila dibayangkan bahwa seluruh kejahatan bisa dituntaskan lewat langkah-langkah politik yang bertujuan membenahi ketimpangan sosial.

Kritik budaya tanding membuat kita jadi sama sekali tak mungkin membedakan mana represi yang “baik” (pemberlakuan aturan yang memungkinkan terjadinya kerjasama saling menguntungkan) dan mana represi yang jahat. Dan bila teori penyebab-pokok masuk, hasilnya bisa kacau secara intelektual. Kesalahan atas segala hal buruk ujung-ujungnya ditimpakan pada sistem, tak pernah pada individu-individu yang melakukannya.

Kita bisa lihat tendensi meradikalisir diri sangat khas dari gerakan-gerakan budaya tanding. Masalah mendasarnya adalah pemberontakan terhadap estetika dan gaya dandanan itu tidaklah benar-benar subversif. Apakah orang ditindik atau ditato, musik apa yang mereka dengar, pakaian macam apa yang mereka kenakan, sama sekali bukan masalah dari sudut pandang sistem kapitalis. Tak peduli apapun gayanya, akan selalu ada pedagang yang berbaris menjualnya. Setiap perbedaan yang menonjol akan melahirkan peniru. Apapun yang alternatif atau keren akan menjadi mainstream. Bila kita semua berpaling dari lagu-lagu top 40 dan mulai mendengarkan musik alternatif, maka band-band alternatif akan menjadi top 40 baru. Ini menimbulkan dilema bagi pemberontak. Gaya dan dandanan yang pernah berfungsi seabgai sumber pembeda mengalami erosi makna. Ini memberi kaum pemberontak dua pilihan: menerima hal yang tak terhindarkan ini dan diambil alih oleh massa, atau menolak lagi lebih jauh dengan mencari gaya-gaya baru yang lebih ekstrem.

Barangkali lebih mudah untuk melihat bagaimana seseorang pada akhirnya bisa tinggal di gubuk dalam hutan tanpa aliran listrik. Sebagian besar langkah-langkah yang populer dipromosikan sebagai antikonsumerisme itu tak ada faedahnya. Kerapkali dampaknya berkelabalikan dan malah mendorong konsumsi kompetitif. Tahun 60-an, banyak orang mulai memanggang roti mereka sendiri sebagai reaksi menentang keseragaman menjemukan Wonder Bread. Namun, ada alasan mengapa sepanjang sejarah orang pergi ke bakeri untuk membeli roti. Menyiapkan dan memasak roti dalam adonan kecil-kecil itu sangat tidak efisien, mahal dan menyita waktu. Dengan kata lain, memasak roti rumahan itu aktivitas yang hanya diperuntukkan buat segelintir orang yang punya privilese tertentu. Merosotnya penjualan roti tawar lalu terjkait dengan lonjakan apa yang disebut “artisan bakery” seiring dengan pertumbuhan waralaba-waralaba kuat seperti great harvest Bread Company. Dan  karena bakery-bakery ini tak menggunakan teknik-teknik produksi massal, roti mereka harganya jadi jauh lebih mahal dibanding wonder bread. Tapi tak sedikit konsumen yang rela membayar harga premium ini agar tak sampai jadi korban konsumerisme. Ironis.

6) Seragam dan Keseragaman

Apabila pembatasan perkataan atau pendengaran kerap dipandang sebagai pembatasan pikiran, maka pembatasan pakaian juga bisa menjadi pembatasan jati diri. Anggapan inilah yang menyebarkan kebencian mayarakat terhadap seragam. Mengenakan eragam sama dengan menyerahkan hak diri sebagai seorang individu.

Di antara semua jenis seragam, yang mendapat kritik paling tajam dan terus menerus adalah seragam sekolah. Namun, sampai sekarang pun sekolah (bahkan yang swasta) masih mengenakan seragam. Perubahan tidak terjadi. Ternyata efek buruk dari dihapuskannya seragam sekolah bukan terletak pada berkurangnya disiplin, melainkan pada makin merajalelanya konsumerisme. Seperti kata Clinton, ”Jika seragam dapat membuat kaum remaja berhenti saling bunuh hanya karena jaket bermerek, maka sekolah negeri sepatutnya mewajibkan seragam kepada siswanya.”

Heath dan Potter bahkan terjun langsung ek sekolah-sekolah untuk mencari tahu soal budaya pengguanan seragam. Hasilnya, semua siswi setuju bahwa memakai seragam sekolah mengurangi stres keseharian mereka. Ada satu masalah pengambilan keputusan yang tak perlu dipikirkan setiap paginya. Toh, mereka tetap bisa memodifikasi seragam itu. Ada yang lengannya digulung atau dimasukkan, dasi diikat longgar atau kencang, panjang rok juga berbeda-beda. Belum lagi ada jutaan opsi untuk perhiasan dan tas. Jangan lupakan juga gaya rambut.

Pada intinya, semua setuju bahwa seragam tidak menghapus individualitas, namun membatasi cara-cara individualitas tersebut bisa diekspresikan. Pada gilirannya, ini meredam konsumsi kompetitif. Kompetisinya tetap ada, hanya terbatasi. Seragam ibarat pakta penghentian perang nuklir. Negara-negara masih tetap membangun bala tentara, hanya saja terbatasi kemampuannya untuk melancarkan perang total.

Dalam buku uniform, Paul Fussel mencoba membedakan seragam dengan kostum. Menurut Fussel, seragam berarti harus dikenakan banyak orang secara serupa. Nah, jika kita menerima definisi ini, berarti celana jins sekalipun dapat digolongkan sebagai seragam. Kecuali orang gila dan kaum eksentrik, semua orang itu berseragam, termasuk para penganut budaya tanding. Bedanya, mereka tunduk pada aturan yang berbeda.

Namun, jika mengikuti definisi umum yang kurang lebih sudah dipahami masyarakat, sebenarnya seragam punya fungsi ganda. Pertama, seragam membedakan anggota sebuah kelompok dengan anggota kelompok lain dan masyarakat luar secara keseluruhan. Kedua, seragam memberikan kepatuhan kelompok dengan mengeliminasi pemakaian lambang-lambang eksternal tentang bibit, bobot, dan bebet. Secara paradoksal, seragam bersifat demokratis sekaligus elitis, sebab ia secara berbarengan menampakkan dan menyembunyikan status: seragam menunjukan status pemakainya sebagai anggota kelompok tertentu kepada orang luar, sekaligus menghapuskan seluruh indikator eksternal mengenai status atau asal-usul dalam kelompok itu sendiri.

Cara pria berpakaian pada era 50-an menunjukan kejumudan masyarakat teknokratis. Polos dan serba seragam. Namun, alasan utamanya adalah karena saat itu kaum pria tak punya banyak baju. Lumrah untuk mengenakan jas yang sama setiap hari selama satu minggu kerja. Mereka bahkan memakai kemeja yang sama selama beberapa hari. Kebiasaan ini sungguh membuat gregetan produsen dan pengiklan pakaian pria. Poin pentingnya, keseragaman pakaian tidak disebabkan oleh teknokrasi, malah sebaliknya, yakni gejala ketiadaan konsumerisme di kalangan pria. Pemberontakan budaya-tanding, alih-alih subversif terhadap sistem, justru berperan penting dalam menciptakan “Revolusi Merak” di tahun 60-an yang membuat kaum pria mengenakan segala macam dandanan. Sejak awal, gaya pemberontakanlah yang mendorong kaum pria mengeluarkan lebih banyak uang untuk busana. Pada intinya, konsumerisme berakar dari keyakinan bahwa barang bisa mengekspresikan dan merumuskan identitas kita sebagai individu. Pemberontakan bukan ancaman bagi sistem, melainkan sistem itu sendiri.

g) Mencari Status Sampai Berburu Keren

Keren adalah salah satu faktor utama yang mendorong perekonomian modern. Keren telah menjadi ideologi pokok kapitalisme konsumen. Masalahnya, sebagian orang menjadi keren hanya karena orang-orang lain—sebagian besar orang lain—tidak.  Dan itu terbentuk dari pencarian tak kenal lelah akan sikap non-kompromi. Keren punya sifat biner hingga kita bisa membagi segala sesuatu dalam masyarakat menjadi keren atau basi. Keren hanyalah istilah dominan bagi pendirian kultural yang kerap disebut nyeleneh, alternatif, dan trendi.

Setiap orang bisa setuju bahwa dalam rentang 20 tahun mulai akhir 60-an sampai awal 90-an, telah terjadi pergeseran budaya besar-besaran dalam masyarakat Barat, utamanya di tahun 70-an. Namun, nilai-nilai budaya tanding tak benar-benar menang. Potensi revolusioner apapun yang muncul di era 60-an terus menerus dikuras energi subversifnya oleh sistem yang dengan tegas menentang perubahan fundamental.

Susunan kekuasaan Protestan kuno runtuh ketika generasi Baby Boomer lulus dari universitas dan mulai naik ke posisi-posisi pemegang kekuasaan, membawa serta nilai-nilai hippies mereka. Mereka membuahkan formasi kelompok elite baru yang didasarkan pada nilai-nilai kebaikan dan pendidikan. Mereka sadar tak harus memilih antara masa lalu yang penuh pemberontakan dan masa depan yang konformis. Mereka akan mencari cara memiliki keduanya dengan menciptakan gaya hidup yang memungkinkan mereka jadi pemberontak sambil mengantongi opsi saham. Ini bukan melacurkan diri karena realitasnya para bohemian dan borjuis ini saling mengkooptasi satu sama lain. Kaum bobo (bohemian borjuis) generasi boomer ini sering disebut sebagai “kelas kreatif” dan mereka berkuasa untuk menetapkan norma-norma padu bagi masyatakat. Tidak seperti manusia kantoran yang kita kenal, orang-orang kraetif ini menghargai individualitas, ekspresi diri, dan perbedaan. Namun, tentu saja, kapitalisme tetap baik-baik saja.

Salah satu temuan akademis mengagumkan yang berhasil masuk ke kesadaran publik belakangan ini berasal dari riset difusi, yang menunjukan betapa banyak fenomena sosial yang tampaknya berbeda-beda dan tidak terkait satu sama lain timbul dan menjalari suatu kelompok masyarakat dengan cara yang konsisten dan bisa ditebak. Difusi kekerenan pun begitu. Dimulai dengan sekelompok kecil “inovator”, yakni orang-orang berpembawaaan nonkonformis yang selalu mencari hal-hal yang tak dilakukan, dibicarakan, dipakai, atau digunakan oleh orang lain. Kemudian inovator itu segera diikuti oleh kelompok yang sedikit lebih besar bernama “penganut perdana”. Mereka inilah yang bisa kita sebut sebagai makelar kekerenan. Mereka memantau para inovator, mengevaluasi apa yang mereka lakukan, dan memutuskan akan mencontohnya atau tidak. Jika mau, maka sebuah tren akan mulai berkembang pesat, seiring pada penganut perdana itu dicontoh oleh “mayoritas awal” lantas “mayoritas akhir”, golongan main aman yang tak pernah berani menjadi pelopor. Namun, faktanya, kebanyakan dari kita tergolong dalam mayoritas awal dan akhir. Inovator dan penganut perdana cuma ada sedikit. Yang keren di antara kita paling banter berada di mayoritas awal.

Satu hal menarik mengenai difusi tren kekeenan ini adalah betapa kecilnya peranan iklan. Para inovator, kaum non-konformis garis keras justru tidak akan membeli apapun yang dipasarkan secara massal.

8) Kolonisasi Ala Coca-Cola

Kapitalisme dalam teorinya perlu keseragaman konsumen guna mengatur surplus barang-barang identik yang dihasilkan oleh sistem produksi massal. Tapi jika produksi massal tidak lagi mensyaratkan produksi barang-barang yang identik, maka sama sekali tidak ada alasan untuk menganggap bahwa kapitalisme membutuhkan keseragaman.

Keseragaman hanya menjadi masalah apabila dihasilkan dari paksaan dan bukan pilihan. Ada banyak alasan mengapa orang-orang ingin mengkonsumsi barang yang sama. Misalnya, banyak barang menghasilkan apa yang disebut oleh ekonomi sebagai “eksternalisasi jaringan”. Contohnya mesin faks. Tidak mungkin mengirim faks kecuali bila orang yang ingin anda kirimi faks juga mempunyai mesin faks untuk menerimanya. Jadi tiap individu yang membeli mesin faks memberi sedikit manfaat positif bagi seluruh pengguna faks lainnya dnegan menaikkan jumlah orang yang bisa mereka kirimi faks. Atau karena tampilan kibor distandarisasi, kita bisa duduk di depan komputer mana saja dan langsung mengetik. Karena sekrup dan baut punya ukuran standar, kita cuma perlu punya satu obeng.

Selain barang material, banyak juga produk kultural jadi bernilai akibat manfaat yang didapat individu dengan menjadi bagian dari pemirsa yang lebih luas. Sebagian besar porsi kenikmatan dari menonton film, mendengarkan musik, atau membaca buku berasal dari obrolan kita tentangnya dengan teman. Bahkan sekalipun mereka sadar yang mereka konsumsi itu jelek.

Inilah kenapa ketika Microsoft mendominasi pasar karena keuntungan standarisasinya, Apple Computer lalu muncul dengan promosi yang menyiratkan bajwa mereka yang tunduk pada standar adalah kaum konformis.

Adanya standar dalam industri komputer adalah hasil konsekuensi pilihan yang telah diambil dan kesepakatan sukarela. Tidak semua keseragaman itu buruk dan koersif. Tidak semua orang, apabila diperbolehkan akan bersikap dalam gaya yang murni individualistis. Ada manfaatnya bersikap laiknya orang kebanyakan. Mengekspresikan individualitas Anda dengan memakai dasi lucu ke tempat kerja tidaklah sama dnegan mengekspresikan individualitas dengan memakai format data komputer yang tak cocok dengan rekan-rekan kerja Anda.

Pasar memang tak selalu benar dan sering gagal mencerminkan preferensi pasar. Tapi bukan berarti juga pasar selalu salah dan patut selalu diremehkan seleranya.

Kecenderungan ke arah homogenisasi adalah hasil dari seperangkat kekuatan yang sangat kompleks. Sebagian darinya merupakan cerminan dari pilihan konsumen, sebagian lagi akibat pencapaian skala ekonomi, sebagian lagi disebabkan oleh tendensi universal manusia. Tidak ada sistem tunggal yang bekerja menghasilkan dampak ini.

Namun, kritik budaya tanding turut mengembangkan ide akan adanya satu kekuatan homogenisasi tersentral yang bekerja dalam semua perkembangan yang berbeda-beda itu. Menurut pandangan ini, sebuah sistem represi dan kepatuhan adalah prasyarat fungsional perekonomian pasar. Keseragaman budaya harus dipaksakan.

Analisa ini telah membuat banyak aktivis kiri membuat kesalahan politrik berbahaya dengan menggeser kepedulian mereka akan efek kultural globalisasi menjadi penentangan terhadap perdagangan antara negara maju dan negara tertinggal. Mereka kira, bila pasar yang memproduksi dampak-dampak ini, maka cara terbaik untuk membatasinya adalah dengan membatasi perluasan pasar. Maka aktivis antiglobalisasi pun memprotes setiap pertemuan besar WTO dan kepala negara. Banyak perwakilan negara berkembang bingung melihat aktivis antiglobalisasi memprotes perdagangan. Walau mereka setuju sepenuhnya dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang diajukan soal kebijakan lingkungan, standar perburuhan, spekulasi mata uang, kebijakan penyesuaian struktural IMF, banyak yang tak mengerti bagaimana kekhawatiran-kekhawatiran itu bisa diperbaiki dengan membatasi perdagangan itu sendiri (atau menentang WTO selaku forum yang didalamnya perwakilan-perwakilan yang dipilih sceara demokratis dari smeua negara membahas isu-isu ini). Lagi-lagi masalahnya terletak pada ciri kritik budaya tanding yang main pukul rata.

9) Terimakasih India

Selama sekian dasawarsa orang-orang Barat telah menggunakan negara-negara Dunia Ketiga sebagai latar bagi perjalanan penemuan diri mereka. Apabila budaya kita sendiri adalah sistem manipulasi dan kontrol total, mungkin cara terbaik untuk bebas adalah menenggelamkan diri dalam budaya lain. Maka kritik budaya tanding selalu tergoda oleh eksotisisme.

Godaan eksotisisme bukan fenomena baru. Di negara-negara besar Eropa, Rousseau merasa manusia telah terasing dari dirinya yang otentik dan terbebani kebutuhan-kebutuhan semu seperti basa-basi munafik yang menopengi kekejaman kehidupan borjuis. Rousseau merasa Jenewa mengandung kemurnian tertentu dan rasa akan adanya suatu komunitas otentik yang bisa dilindungi dari kerusakan yang lebih jauh. Tapi ia tidak sedang mengkritik adat istiadat dan nilai-nilai rakyat kebanyakan, ia hanya ingin lari dari keteraturan hidup yang kolot dan munafik di Eropa.

Ini berlawanan dengan pandangan budaya tanding yang merasa bahwa budaya dan cara berpikir Barat perlu diganti total. Eksostisisme yang muncul bukan lagi keinginan untuk kembali ke asal muasal primitif, melainkan murni keinginan berbeda semata demi tampil beda itu sendiri. Banyak pemberontak budaya mewujudkan itu melalui sastra fantasi dan fiksi ilmiah, seperti Conan the Barbarian atau Lord of The Ring.

Sekalipun romantisasi budaya non-barat mencapai puncaknya pada dekade 60-an, pengaruhnya tetaplah kuat bagi para pengkritik masyarakat massa. Ambilah contoh gerakan voluntary simplicity (VS), gerakan kembali ke-dasar yang dipelopori terbitnya buku Duane Elgin berjudul sama pada 1981. Buku itu adalah rangkuman dari seperangkat keyakinan dan praktik yang tumbuh dari budaya tanding 60-an. VS bertolak daio ausnya energi utopia 60-an setelah kaum hippies merasa bahwa usaha mengubah institusi-institusi dominan dalam masyarakat melalui pengembangan kesadaran baru tidak membuahkan hasil. Agendanya lalu bergeser menjadi eksplorasi cara-cara baru untuk hidup di tingkat akar rumput dari masyarakat. Agenda politis yang muncul dari termuat dalam slogan “berpikir global, bertindak lokal”, walaupun jelas dalam buku Elgin bahwa politik telah mundur digantikan pengembangan spiritual. Padahal tujuan VS sendiri bukan menampik semua kenyamanan hidup modern atau ebrpaling dari kemajuan, melainkan menggunakan kenyamanan itu demi mencapai eksistensi hidup yang lebih langsung dan menghadirkan keteraturan dan kejelasan dalam hidup. Pandangan dunia VS meyakini bahwa keseimbangan dan harmoni antara kebutuhan material dan harmoni antara kebutuhan material dan spiritual merupakan tujuan utama hidup. Maka aneh kiranya apabila sebagian besar penyokong gigih gerakan VS menolak agama-agama yang disebut agama barat, dan kebanyakan berpaling pada agama-agama Timur seperti Buddha dan Tao.

Salah satu keyakinan tak tergoyahkan budaya tanding adalah bahwa orang Asia lebih spiritual dibanding orang Barat, dan cara terbaik menuju pembebasan terletak pada sejenis sintesa antara cara berpikir Timur dan Barat.

Padahal, kita tahu Hong Kong misalnya, mempertahankan sistem kapitalis selama berpuluh-puluh tahun. Ide bahwa konsumerisme adalah fenomena barat yang diimpor ke Hong Kong adalah anggapan konyol. Budaya konsumen lebih merajalela di Singapura, Taipei, Shanghai, dan Tokyo daripada Los Angeles, London, atau Toronto, dan konsumerisme Asia memang berasal dari Asia sendiri. Kebanyakan masyarakat Asia bukan hanya mempunyai apresiasi tinggi terhadap nilai benda fisik, melainkan juga tahu betuk barang-barang yang mengandung kode gengsi kultural. Kebanyakan orang barat tak punya pengetahuan untuk mengenali kode-kode itu, sehingga mereka gagal memahami betapa kompetitifnya konsumsi di Asia.

Istilah yang sering digunakan oleh pemberontak budaya tanding sebagai gambaran singkat kehidupan modern adalah “tidak otentik”. Namun, apa artinya otentisitas? Otentisitas bermula sebagai istilah dalam kurasi museum, yakni merujuk pada obyek yang memang seperti apa yang terlihat dan karenanya layak dipuji. Salah satu hal penting untuk menguji otentisitas adalah tiadanya komodifikasi. Produksi massal dalam kehidupan modern niscaya tidak otentik dan mengasingkan. Otentisitas diasosiasikan dengan kesatuan antara diri, masyarakat, dan orang lain yang menghadirkan perasaan keutuhan atau realitas dalam hidup kita. Dan karena seluruh aparatus kapitalisme konsumen dibaktikan dengan menyemai ketidakotentikan, kita harus mencari otentisitas di tempat lain dalam hubungan yang kurang modern dan lebih murni, primitif, serta alamiah. Dengan kata lain, yang eksotis.

Dari perspektif ini, yang membuat melancong menjadi otentik adalah perbedaan. Makin berbeda tempatnya, makin baik. Karenanya, melancong menjadi konsumsi kompetitif. Ia memberikan apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai “modal budaya” yang nilainya berkurang apabila semakin banyak orang bisa memperolehnya. Keberadaan pelancong lain mengurangi rasa keunikan, mengingatkan akan fakta menyebalkan bahwa sebenarnya anda belum berkelanan jauh.

Persaingan memperebutkan tempat melancong ini punya struktur yang sama seperti konsumerisme trendi. Barang bergengsi yang diburu adalah yang eksotis. Pola umumnya bermula dari kontak awal antara para pencari eksotisme dengan penduduk wilayah belum berkembang. Pertemuan awal ini masih belum diikuti fasilitas-fasilitas modern ditambah kendala bahasa dan budaya. Namun, ketika penduduk lokal beradaptasi denagn kedatangan pendatang baru ini, mereka belajar menyediakan infrastruktur untuk mendatangkan lebih banyak turis, penginapan, bar, dan lain-lain. Wilayah tersebut akhirnya menjadi lebih turistik dan kurang eksotis. Mereka kemudian pergi mencari wilayah-wilayah lain yang belum terjamah, membuat penduduk lokal kurang eksotis, tapi siap memenuhi kebutuhan pasar turisme global. Para pemberontak budaya tanding ini berperan sebagai pasukan perintis turisme massal.

Dalam bukunya The Tourist, Dean MacCannell menggali perbedaan antara apa yang disebut sebagai “sisi depan” dan “sisi belakang” tatanan sosial seperti restoran dan teater. Bagian depan adalah tempat bagi pelanggan, tuan rumah, klien, staf pelayanan, sedangkan belakang kita dapat menemukan dapur, toilet, ruang ganti dst. Pelanggan hanya mempunyai akses ke sisi depan, sedangkan para penghibur dan staf mempunya akses baik ke sisi depan maupun sisi belakang. Keberadaan sisi belakang ini mengandaikan mistifikasi tertentu, suatu tempat di mana ada rahasia, perlengkapan, atau aktivitas yang dapat mengurangi nilai realitas dari apa yang berlangsung di sisi depan. Tetapi, Jean Baudrillard mengklaim bahwa budaya kita kini praktis semuanya merupakan sisi depan. Tak ada lagi ruang belakang.

Motivasi utama pelancong ke negeri asing adalah menembus simulakra sisi depan menuju realitas sisi belakang. Masyarakat non-barat menarik karena mereka sepertinya serba belakang karena mereka hidup terang-terangan. Padahal penduduk lokal tidaklah selugu kelihatannya. Mereka tahu bahwa kebanyakan turis berusaha keluar jalur untuk merasakan Kuba, Thailand, atau India yang sesungguhnya. Maka dengan bayaran tertentu, mereka akan menyuguhkan pengalaman itu, seperti trek perjalanan Nepal, menginap di rumah panjang Kalimantan, dan sebagainya. Lalu apakah ini benar-benar sisi belakang itu?

Sangat menarik ketika kedua penulis ini justru menyebut perjalanan bisnis sebagai satu-satunya bentuk perjalanan yang otentik dan non-eksploitatif. Tak seperti pelancong eksotik, perjalanan bisnis menghadirkan peralihan dari yang simbolik ke material. Ia tidak pergi untuk melihat-lihat pemandangan atau mencari arti spiritual, tetapi mencari perdagangan—yang pada dasarnya tidak harus eksploitatif atau voyeuristik. Ini justri malah sejenis kompetisi yang mneguntungkan penduduk lokal, karena mereka akan dapat bernegoisasi demi kesepakatan yang lebih baik. Pada akhirnya, satu-satunya bentuk perjalanan yang otentik adalah perjalanan bisnis, lainnya cuma turis.

10) Spaceship Earth

Sikap permusuhan terhadap teknologi selalu merebak dalam gerakan-gerakan budaya tanding. Walaupun begitu, banyak kritikus percaya bahwa jika teknologi biang masalahnya, ia juga bisa menjadi bagian penting dari solusi. Salah satunya, pada tahun 1973, ekonom Ernst Schumacher menerbitkan buku Small is Beautiful. Ia percaya bahwa teknologi bisa disesuaikan dnegan kebutuhan umat. Yang kita butuhkan adalah teknologi alternatif sebagai dasar peradaban alternatif. Jika teknologi massal itu kompleks,sentralistis, padat modal, dan membutuhkan kepakaran, maka teknologi alternatif adalah murah, ramah pengguna, sederhana, desentralistis, dan mudah diperbaiki. Aneka macam aktivis lalu bersatu di bawah panji teknologi tepat guna.

Penganut teknologi tepat guna menolak pandangan teknologi sebagai kekuatan yang otonom, deterministik, dan menyeluruh. Mereka yakin masalahnya bukan melulu pada teknologi per se, tapi pada sifat-sifat alat tertentu yang kita pilih.

Dalam buku tahun 1989, The Real World of Technology, Ursula Franklin membedakan dua tipe utama: teknologi holistik dan preskreptif. Teknologi holistik adalah ciri produksi berbasis kriya, di mana seorang pengrajin mengontrol tiap aspek produksi dari awal hingga akhir. Spesialisasi, jika ada, berada dalam lingkup produk umum, seperti tembikar atau tekstil. Di lain pihak, teknologi preskriptif mendorong spesialisasi berdasarkan tugas, bukan berdasarkan produk (contohnya pabrik mobil). Dalam teknologi preskriptif, produksi adalah fungsi dari sistem secara keseluruhan, bukan dari pekerja individual, sehingga kontrol dan tanggung jawab pun ditempatkan ke tangan koordinator serta manajer.

Masyarakat kita, menurut Franklin, dicirikan oleh dominasi teknologi preskriptif. Kita terikat pada imperatif teknologi serta rasionalitas birokratisnya yang mengalienasi. Ia berpendapat bahwa kita harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan agar teknologi kita sebisa mungkin manusiawi dan holistik.

Namun, holistik atau preskriptif, tak jelas penandaan tipe alamiah teknologi yang masuk dalam lingkup baik dan buruk. Misalnya, banyak teknologi yang dibilang desentralistis itu bisa dengan lekas dipakai untuk maksud-maksud sentralistis. Mesin jahit contohnya. Disanjung sebagai perkakas revolusioner ketika pertama muncul, mesin jahit kemudian dipaaki di pabrik-pabrik berburuh murah di dunia ketiga. Umumnya, cara orang menggunakan teknologi tidak ditentukan oleh sifat bawaan teknologi itu sendiri.

Masalah lain adalah bahwa ketepatgunaan banyak teknologi bergantung pada seberapa banyak orang yang memakainya. Kompor kayu tergolong tepat guna karena tidak emmakai bahan bakar fosil dan mandiri dari produksi energi skala besar dan sistem transportasi. Namun, bagaimana jika semua orang memakainya? Nama yang pas untuk teknologi yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang saja bukanlah tepat guna, melainkan sedikit guna.

Terakhir, teknologi tepat guna tidak niscaya mendorong keragaman, kemerdekaan, dan demokrasi. Yang terjadi cenderung sebaliknya. Teknologi skala besar memaksa orang bekerja sama, sementara teknologi skala kecil menumbuhkan sikap individualisme dan antisosial. Jika Anda punya generator sendiri, apa gunanya bayar pajak?

Bergeser pada isu lingkungan, pendukung budaya tanding selalu percaya bahwa tiap konsumen individual punya tanggungjawab terhadap masalah lingkungan global. Kesadaran baru konsumen ini diringkas dalam slogan “Berpikir Global, Bertindak Lokal”. Dasarnya adalah keyakinan bahwa hampir semua masalah lingkungan disebabkan oleh perilaku konsumen. Solusi yang dipilih lalu adalah pendidikan moral, atau gaya hidup mencerahkan seperti tanam pohon, naik sepeda, atau bikin sampah dapur jadi kompos.

Gerakan lingkungan yang lebih radikal lagi adalah deep ecology yang dimulai pada 1972 oleh Arne Naess. Deep Ecology didirikan berdasarkan prinsip ekosentrisme, bahwa semua bentuk kehidupan punya nilai intrinsik yang terbebas dari manfaat atau nilainya bagi manusia. Manusia tidak lebih penting dari spesies lain. Maka manusia tak berhak mengurangi kekayaan dan keragaman kehidupan di muka bumi kecuali untuk memenuhi kebutuhan vital mereka. Mereka menolak ide bahwa masalah lingkungan timbul karena teknologi yang dipakai manusia mendominasi manusia lain. Penganut deep ecology tak terlalu peduli masalah sosial, karena ini adalah bagian dari aliran reformis enviromentalisme. Masalah sebenarnya bukan manusia mendominasi manusia, melainkan manusia mendominasi alam. Kita tidak berhak meleyakkan kesejahteraan kita di atas kehidupan non-manusia. Beberapa kelompoknya yang paling kontroversial bahkan merusak jalan dan kendaraan-kendaraan berat, serta membakar fasilitas riset bioteknologi.

Heath dan Potter lalu mengajukan solusi institusional, yakni memberlakukan prinsip “pencemar harus membayar”. Tentu saja soulusi ini diogahi oleh kebanyakan aktivis lingkungan, apalagi penganut deep ecology. Para aktivis itu menentang dengan dalih bahwa langkah reformasi institusional ini terjebak dalam logika sistem dan karenanya mewakili sebuah usaha kooptasi.

Kedua penulis ini juga mengajukan argumen bahwa masalah polusi bisa diatasi dengan izin polusi yang diberjualbelikan. Fakta bahwa kita harus diingatkan untuk menghemat energi adalah bukti bahwa harganya kelewat rendah. Ketika tingkat harganya benar, orang tak perlu didorong untuk berhemat.

Visi yang jadi landasan di sini bisa disebut sebagai masyarakat “yang pakai bayar”. Anda bisa berbuat apapun yang anda mau asal siap memberi kompensasi kepada siapa saja yang merasa tidak nyaman dengan pilihan anda.

Bagaimana dengan kaum miskin yang tak sanggup membayar? Heath dan Potter sadar bahwa ini masalah serius tapi bagi mereka ini salah tempat dalam konteks ini. Memberi semua orang energi murah hanya untuk menjamin bahwa orang miskin tidak terputus alat pemanasnya pada pertengahan musim dingin adalah pemborosan besar-besaran. Memberi semua orang harga murah untuk menjamin tak ada yang menjadi gelandangan adalah cara yang amat tak efisien dalam membantu kaum miskin. Cara yang benar untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan bantuan pendapatan, kebijakan pasar tenaga kerja, dan tunjangan tepat sasaran.

11) Simpulan

Salah satu pokok paling penting adalah bahwa kita harus belajar hidup dengan apa yang disebut oleh filsuf politik John Rawls seabagai “fakta akan pluralisme”. Masyarakat modern telah menjadi sedemikian besar dan kompleks sehingga kita tak bisa lagi berharap setiap orang akan menjunjung satu setel nilai-nilai yang sama.

Tantangan politik paling serius yang kita hadapi pada dasarnya adalah problem aksi kolektif. Pemanasan global contohnya. Tak satupun korporasi punya minat mengurangi buangan gas-gas rumah kacanya karena biaya pemanasan global tersebar ke setiap orang di planet ini. Tak satupun juga negara secara sendiri-sendiri punya intensif untuk meregulasi industri energinya bila tak ada jaminan bahwa negara-negara lain akan berbuat serupa. Pemanasan global hanya bisa ditanggulangi lewat kesepakatan umum yang mengikat setiap penghasilan gas-gas rumahkaca di muka bumi ini. Yang kita butuhkan bukan kebijakan luar negeri lokal, melainkan kebijakan domestik global.

Sementara itu gerakan-gerakan antiglobal akhirnya memperlemah solusi ini dengan pesimisnya terhadap pemerintah nasional. Bagaimana para aktivis ogah berpartisipasi dalam politik nasional akhirnya justru merampas legitimasinya dari segmen-segemn penting dalam masyarakat. Gerakan antiglobal justru memperlemah instrumen yang bisa dipakai untuk mengoreksi masalah ini.

Sejarah negara-kesejahteraan abad ke-20 bisa ditafsirkan bukan sebagai pertempuran melawan logika pasar, melainkan kemenangan terhadap kegagalan pasar. Kita perlu menyempurnakan pasar, bukan menghapuskannya. Ciptakan pasar yang ideal, yakni tanpa monopoli, tanpa hambatan masuk, tanpa iklan, kompetisi akan dipijakkan semata pada harga dan kualitas barang yang ditawarkan. Tak bakal ada asimetri informasi, konsumen mendapat informasi penuh terhadap apa yang mereka beli. Perusahaan harus memperhitungkan biaya sosial aktivitas mereka dalam setiap keputusan yang diambil. Salah satu contohnya adalah penjualan izin polusi dan penyesuaian pajak lingkungan.

Artinya, dalam perekonomian yang kian menggloba, kita perlu lebih banyak peran pemerintah, bukan lebihs edikit. Negara akan selalu menjadi pemain terpenting karena inilah badan yang merumuskan dan memberlakukan perangkat dasar hak-hak milik yang menciptakan pasar pada awalnya.

Semua ini akan semakin memberi pengetatan pada kebebasan individu. Namun, selama individu sudi merelakan kebebasan mereka sendiri dengan imbalan jaminan bahwa semua orang lain akan berbuat serupa, tak ada yang salah dengan ini.

12) Pascawacana

Untuk buku dengan gagasan seradikal ini, tak heran jika mereka sampai harus menyertakan bagian klarifikasi atau respons balik terhadap respons pembaca. Ada bembelaan-pembelaan yang dilakukan.

Pertama, mereka terperanjat karena menemukan banyak orang menganggap Radikal Itu Menjual menentang konsumsi etis atau konsumsi sadar nilai. Mereka menegaskan bahwa konsumsi etis yang sejati itu bagus karena konsumen memangkas konsumsi barang-barang yang menimbulkan eksternalitas negatif dan meningkatkan konsumsi barang-barang yang menimbulkan eksternalitas positif. Membeli kendaraan hibrid itu etis karena konsumen secara sukarela setuju menanggung porsi yang lebih besar dari biaya sosialnya berkendaraan, melebihi apa yang diwajibkan undang-undang

Tapi konsumsi etis bukan solusi riil atas masalah sosial. Dalam dunia yang ideal tak diperlukan konsumsi etis. Fakta bahwa membeli mobil hibrid bersifat etis atau altruis menunjukan bahwa harga BBM terlalu rendah. Problemati konsumsi etis terletak pada sifatnya yang sukarela.

Heath dan Potter juga percaya bahwa membeli makanan organik juga bukan konsumsi etis.  Membidik konsumsi semacam ini untuk meredam praktik-praktik buruk pada para buruh dan menghentikan kucuran laba kepada orang-orang yang trelibat adalah ide bagus. Masalahnya, gerakan organik tak menyasar praktik-praktik buruh itu. Ada banyak jenis praktik yang bagus dalam pertanian konvensional yang mesti didukung namun tak tergolong pertanian organik, dan ada banyak jenis praktik buruk terkait budidaya organik yang semestinya dilarang (terutama jumlah gagal panen yang disebabkan ketidakmauan memakai pestisida jenis tertentu yang tak berbahaya sama sekali). Pangan organik adalah makanana kelas atas larema biaya lebihnya yak dipakai untuk membayar apapun selain rasa jadi beda dan perasaan superioritas moral yang tak berdasar.

Memberi dari perusahaan kecil juga lebih etis daripada membeli dari perusahaan besar. Namun, jika semua orang melakukannya, maka perusahaan kecil itu akan jadi besar. Selain itu, tak ada yang secara instrinsik keliru dengan perusahaan bear. Sekali lagi, isunya adalah apakah perusahaan itu terlibat praktik kotor, dan ini tak ada kaitannya dengan besaran perusahaannya. Starbuck bisa jadi lebih baik memperlakukan karyawannya dibanding kafe-kafe milik orang lokal.

Heath dan Potter sengaja tak mengajukan solusi apapun tentang masalah konsumerisme. Ini adalah cerminan ketidakpercayaan mereka bahwa ada solusi sederhana untuk masalah ini. Justru ilusi adanya solusi itu yang menyesatkan masyarakat. Buku ini menganggap persoalan mendasar masyarakat konsumen adalah pengejawantahan langsung dari persaingan kehidupan manusia. Maka dari itu, paling banter yang bisa dilakukan adalah mengurangi ekses-ekses paling gawat dari persaingan ini dengan misalnya memangkas pembebasan pajak atas biaya iklan. Heath dan Potter juga melakukan pembelaan pada pajak penghasilan progresif dengan harapan turunnya harga barang-barang konsumsi kompetitif kelas atas. Jika ini membuat turun dorongan bekerja, maka itu akhirnya juga sesuai dengan persepsi mereka bahwa mengurangi kerja masyarakat adalah pilihan bagus untuk menurunkan konsumsi. Hanya saja agar tidak memunculkan kompetisi tak berimbang, maka perubahan ini harus dilakukan secara kolektif dan tentu saja via legislatif.

Pada intinya, kritik utama Radikal Itu Menjual adalah bahwa pemikiran budaya tanding justru mengeruhkan persoalan karena membuat kaum kiri menolak segala jenis solusi pragmatis pada masalah sosial dengan alasan program-program itu kurang dalam atau kurang radikal.  Kebiasaan politik budaya tanding yang mempersamakan kebebasan dengan pelanggaran norma osial pun menjadi cacat politik bagi kaum kiri. Namun, mereka berusaha menerangkan bahwa fokus utama kritiknya bukanlah gerakan sosial yang bernama “budaya tanding” melainkan sebuah teori (“gagasan budaya-tanding”) serta pengaruh yang ditimbulkannya pada pemikiran kiri.

Resensi Singkat:

Buku ini sendiri sangat radikal menjadikan dirinya sebagai karya kritik budaya populer. Bisa mendadak membuat pesimis akan segala gerakan-gerakan kebudayaan kekinian. Sebuah karya penting yang menyulut lagi perdebatan klasik anarkisme melawan komunisme.

Namun, selain penggunaan kata “insentif” yang saya pikir semuanya maksudnya adalah “intensif”, kelemahan fatal buku ini adalah optimismenya terhadap negara. Agak kurang adil tatkala Heath dan Potter dengan lihai dan menggebu-gebu menganalisa cacat-cacat pada pribadi individu manusia, seakan kita tak bisa membenahi dunia ini tanpa bantuan negara. Pasalnya, Radikal Itu Menjual tak banyak mengulas kecenderungan psikologi pemerintah atau “pihak elit” ketika memegang kuasa. Jangan senaif itulah.

Advertisements