Tags

, , , , , , ,

Hamparan sejarah dalam delapan ratus halaman di buku babon ini bisa terwakilkan singkat dalam satu kata: konflik.

Diperebutkan dan digilir sepanjang sejarah, Yerusalem pernah menjadi milik Yahudi secara eksklusif selama 1000 tahun, sepanjang 400 tahun pernah berada di bawah Kristen, lalu dipertahankan kekuasaan Islam selama 1300 tahun setelahnya. Persamaan ketiganya adalah tak ada yang pernah memilikinya tanpa pertumpahan darah.

Buku paling tebal yang pernah saya baca ini memang mengulas luas dari sisi belantara historisnya. Namun, membaca buku sejarah panjang lebar seperti ini seringkali justru  membuat kesulitan untuk memetakan secara garis besar tahapan peristiwa-peristiwanya sendiri secara lebih ringkas. Saya mesti melakukan pelarian ke Wikipedia untuk melakukannya. 

Kota satu tuhan, tiga agama, dan sejuta pertikaian. Begitu publik secara puitis mengenal Yerusalem. Di antara ketiga agama raksasa tersebut, sejujurnya kaum Yahudi memang yang paling tidak bisa dipisahkan dari Yerusalem. Riwayat suku Israel atau Bani Israel yang merujuk pada keturunan dua belas anak Yakub, cucu dari Ibrahim berkaitan langsung dengan sejarah Yerusalem.

Setelah Bani Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir dan menduduki tanah Kanaan (sekarang meliputi Palestina, Lebanon, serta sebagian Yordania, Suriah, dan sebagian kecil Mesir timur laut) pada sekitar tahun 1500 SM, masing-masing dari mereka mendapat bagian tanah yang diwariskan turun-temurun. Pada sekitar 1025 SM, di bawah ancaman dari orang-orang asing, suku-suku tersebut bersatu membentuk Kerajaan Israel Bersatu. Ketika menjadi rajanya, Daud menetapkan Yerusalem sebagai ibukota. Selanjutnya, kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya pada pemerintahan putranya, yakni raja Salomo pada abad ke-10 SM. Baru setelah kematian Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yakni Kerajaan Israel Utara (yang disebut Kerajaan Samaria), dan Kerajaan Israel Selatan (yang disebut Kerajaan Yehuda atau Yudea). Kerajaan Israel beribukota di Samaria dan Kerajaan Yehuda tetap beribukota di Yerusalem. Kata “Yahudi” kemudian muncul dan dipakai untuk menyebut keturunan dari kerajaan selatan ini.

Yerusalem tepatnya terletak di sebuah dataran tinggi di Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Teritori paling penting dari Yerusalem adalah Kota Lama yang merupakan kota lawas dikelilingi oleh tembok yang berada dalam kawasan Yerusalem Timur. Kota Lama Yerusalem disebut juga Baitul Maqdis atau Al-Quds. Di dalamnya terdapat banyak situs-situs suci umat Muslim, Nasrani, dan Yahudi.

Kendati tak sesakral Mekkah, namun Yerusalem tetap dianggap sebagai tempat suci bagi kaum Islam Sunni. Sebelum secara permanen dipindahkan ke Kakbah di Mekkah, kiblat untuk Muslim adalah Yerusalem. Dan meski kini tidak lagi berpengaruh dalam ibadah umat Muslim, tetapi Kota Lama juga disucikan karena peristiwa Isra Mi’raj (620). Umat Muslim percaya bahwa Nabi Muhammad secara ajaib dipindahkan dalam satu malam dari Mekkah ke Kuil Gunung di Kota Lama Yerusalem. Beliau naik ke Surga, bertemu dengan para Rasul dan Nabi sebelumnya, serta menerima perintah Salat lima waktu dari Allah. Jangan lupa, ada Masjid Al-Aqsa yang memang dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam.

Sementara Kristen memuliakan Yerusalem karena sejarahnya dalam Perjanjian Lama sekaligus sebagai tempat hidupnya Yesus. Gereja Makam Kudus di Kota Lama Yerusalem merupakan tempat yang amat penting bagi kaum Nasrani. Di dalamnya terdapat bukit Golgota yang dipercaya merupakan tempat Yesus disalibkan. Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus.

Kembali ke Yahudi, Kota Lama Yerusalem disucikan oleh Yahudi sejak Daud memproklamirkannya sebagai ibukota. Tembok Ratapan, sebuah bangunan dekat Kuil Kedua menjadi situs tersuci kedua umat Yahudi setelah Kuil Gunung itu sendiri. Sinagog-sinagog di seluruh dunia dibangun dengan altar menghadap ke Yerusalem. Salomo mulai mendirikan Bait Allah atau rumah tuhan di Yerusalem (tepatnya gunung Moria). Tuhan konon menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang terletak di sebelah utara Kota Daud itu. Bait ini digunakan untuk pemujaan dan pengorbanan yang disebut korbanot dalam Yahudi kuno. Kuil ini diselesaikan pada abad ke-10 SM dan dihancurkan oleh bangsa Babilonia pada tahun 586 SM. Rekonstruksi kuil di Yerusalem, yang terlaksana selama tahun 516 SM sampai 70 M, adalah Bait Kedua. Sementara Kota Daud sendiri adalah nama yang diberikan oleh orang Israel untuk daerah pemukiman tertua di Yerusalem dan situs arkeologi utama di kota itu. Menurut tradisi, Kota Daud adalah lokasi bagi raja Daud mendirikan istananya dan membangun ibukotanya.

Berabad-abad lewat, status Yerusalem kini tetap menjadi sengketa Israel (berdiri sebagai negara Yahudi di tahun 1948 atas mandat Britania dan PBB) dan Palestina. Selama Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem Barat termasuk salah satu daerah yang direbut dan kemudian dicaplok oleh Israel. Sedangkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Lama, direbut dan kemudian didudukii oleh Yordania. Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania pada Perang Enam Hari tahun 1967 dan setelah itu mengklaimnya kembali sebagai bagian dari Yerusalem, bersama dengan tambahan wilayah di sekitarnya. Salah satu Hukum Dasar Israel, yaitu Hukum Yerusalem tahun 1980, menyebut Yerusalem sebagai ibu kota yang tak terbagi dari negara tesebut. Semua bidang pemerintahan Israel berada di Yerusalem, termasuk parlemen Israel, kediaman Perdana Menteri dan Presiden, juga Mahkamah Agung. Kendati masyarakat internasional menolak aneksasi tersebut dengan menyebutnya ilegal dan memperlakukan Yerusalem Timur sebagai teritori Palestina yang terjajah, Israel memiliki suatu klaim yang lebih kuat untuk kedaulatannya atas Yerusalem Barat. Masyarakat internasional hingga kini masih tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Menilik sejarahnya, bisa dibilang Yahudi memang pihak paling merana dan berdarah-darah dalam perjuangannya mendiami Yerusalem. Kaum Yahudi yang nekat tinggal di Yerusalem menjadi objek intoleransi yang tak main-main, baik di era kepemimpinan Babilonia, Romawi, Kekristenan, ataupun sebagian pemerintahan Islam. Di bawah kekuasaan Kristen, Yahudi dilarang untuk mendekati kota itu. Agak lebih baik kemudian di bawah kekuasaan Islam, karena Kristen dan Yahudi cukup ditoleransi tapi tetap saja sering ditindas. Yahudi, yang tak punya perlindungan dari  kekuatan-kekuatan Eropa sebagaimana Kristen sering diperlakukan buruk. Yahudi bisa dibunuh semata karena mendekati tempat-tempat suci Islam dan Kristen.

Hebatnya, tetap saja makin membludak populasi Yahudi di Yerusalem. Bahkan, pada 2010, Yerusalem menjadi teritori yang sangat Yahudi. Untuk pertama kalinya Yahudi bisa beribadah bebas di sana sejak 70 Masehi. Bahkan, Yerusalem bisa dibilang menjadi paling toleran di bawah kendali demokrasi Israel. Yahudi, Kristen, dan Islam dapat bebas beribadah di tempat suci masing-masing, tentu dengan beberapa catatan kasus kekerasan. 

Ketika ketiga kaum itu sedang tidak berkonflik, Yahudi, Muslim, dan Kristen kembali ke tradisi Yerusalem kuno. Mereka pura-pura tidak tahu laksana burung onta yang terbiasa menenggelamkan kepala di pasir. Pada September 2008, Hari Raya Suci Yahudi kebetulan bertepatan dengan Ramadhan sehingga menciptakan kemacetan lalu lintas saat Yahudi dan kaum Arab datang untuk berdoa. Untungnya tidak ada bentrokan sama sekali karena memang tidak ada pertukaran kata di antara umat yang berlainan itu meski saling berpapasan.

Yerusalem di era modern adalah benar-benar kota global. Kota ini adalah kokpit Timur Tengah, medan pertarungan sekularisme barat melawan fundamentalisme islam dan pertarungan antara Israel dan Palestina. Bagi Islam sendiri, Yerusalem adalah sebuah perjuangan yang menyatukan Syiah Iran dan Sunni Arab yang skeptis pada ambisi-ambisi Republik Islam. Entah itu Hizbullah Syiah di Lebanon atau Hams Sunni di Gaza, kota itu menjadi penggerak semangat anti-zionisme, anti-amerikanisme, dan kepemimpinan Iran.

Negosiasi tak pernah menemukan titik temu dan berakhir selalu dengan darah. Pada abad ke-20, ada lebih dari 40 rencana untuk Yerusalem yang semuanya gagal, dan kini ada sedikitnya tiga belas model yang berbeda hanya untuk pembagian Bukit Kuil.

“Yerusalem lebih merupakan sebuah api ketimbang sebuah kota dan tidak ada orang yang bisa membagi sebuah api,” ujar Shimon Peres selaku Presiden Israel ke-9.

Memang tak seenteng membalikkan telapak tangan untuk sok adil membagi rata kota itu pada Israel dan Palestina. Gendalanya adalah kota tua. Kedaulatan dan agama harus dibedakan. Setiap orang dapat mengontrol tempat suci masing-masing, tapi hampir mustahil mengiris Kota Tua menjadi dua bagian. Kedaulatan politik bisa dituntaskan dengan perjanjian legal, tapi akan menjadi sia-sia dan tak bermakna tanpa sesuatu yang historis, mistis, dan emosional. Kondisi riil untuk perdamaian bukan hanya soal apa milik siapa, melainkan sikap saling percaya dan saling menghormati. Masalahnya, ada kondisi-kondisi dari masing-masing pihak yang membantah sejarah pihak lain.

Sejak awal membaca buku ini, saya menyadari bahwa akar konflik sepanjang masa ini adalah ketidakmauan mengakui kebenaran sejarah kubu agama lain. Pengingkaran Arafat atas sejarah Yahudi di Yerusalem misalnya, sebenarnya sangat absurd bagi para sejarawannya sendiri. Pada 2010, hanya filsuf Sari Nuseeibeh yang memiliki keberanian untuk mengakui bahwa Haramal-Syaif adalah situs kuil Yahudi. Pembangunan permukiman Israel melemahkan kepercayaan Arab dan praktikalitas sebuah negara Palestina. Namun, pengingkaran Palestina atas klaim kuno yahudi adalah sama bahayanya bagi penciptaan perdamaian. Masing-masing memang harus mengakui narasi modern sakral pihak lain. Menjadi pelik karena kedua kubu dalam cerita-cerita ini selalu saja memandang pihak lain sebagai musuh bebuyutan.

Potensi bahaya tak pernah surut di Yerusalem. Kaum ekstremis bisa sewaktu-waktu muncul dengan propaganda Hari Kiamat yang sudah dekat. Apalagi Amerika Serikat sebagai pihak yang punya posisi cukup strategis dalam rivalitas ini punya presiden yang baru saja menuangkan minyak tanah dalam api. 

Amoz Oz, penulis warga Yerusalem punya solusi menarik,”Kita harus menyingkirkan setiap batu tempat-tempat suci dan mengangkutnya ke Skandinavia selama seratus tahun dan tidak mengembalikannya sampai setiap orang belajar unuk hidup bersama di Yerusalem”.

 

Advertisements