Tags

, , , , , , , , ,

Mahfud Ikhwan memang harus melawan dunia. Ia tumbuh dengan minat terhadap hal-hal yang memberikannya risiko dikucilkan dari pergaulan. Bukan hanya seputar kampung dan lagu dangdut, melainkan juga film India. Satu lagi produk budaya yang masih saja disikapi secara inferior di masyarakat. “Mahfud Ikhwan adalah orang yang mungkin juga dianggap inferior. Orang inferior yang mencoba memulihkan kepercayaan dirinya”, ujarnya sendiri dalam salah satu obrolan terekam dengan saya.

Apakah ia anomali? Jelas tidak. Menyukai film India bukan sebuah kelangkaan. “Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak disukai, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendiran kemudian dihinakan di depan banyak orang,” tulisnya di bagian Pendahuluan Aku dan Film India Melawan Dunia

Bedanya, Mahfud tak segan menunjukannya pada dunia. “Itu adalah metode. Saya punya inferiority complex dan sedang berusaha melawannya. Salah satu caranya adalah merasa lebih besar dari yang lain atau – paling gampang – mengecilkan yang lain. Saya mengejek musik jazz dan para penikmatnya. Nggak masalah, mungkin para penikmat jazz tak pernah mengejek dangdut, karena bahkan terpikir pun tidak (tertawa)”. Amat menarik melihat bagaimana Mahfud sedemikian gigih membela tontonan-tontonan favoritnya dengan gaya tulisan snob. Kadang ikut membuat kuping kita merah, tapi mungkin memang butuh judes untuk memperjuangkan film India di antara kepungan maniak Hollywood. Bolehkah ini kita sebut counter snob?  

Lagipula justru kemudian inferioritas itu membuat apa yang ia sampaikan di buku ini menjadi penting. Keberanian untuk membicarakannya itu sudah mencetak satu poin vital. Aku dan Film India Melawan Dunia ialah salah satu kumpulan tulisan blog yang secara topik sudah sangat menarik. Apalagi, seorang Mahfud Ikhwan selalu superior dalam menuliskan hal-ihwal inferior itu.

Kendatipun hanya ada 3 Idiot sebagai perwakilan India untuk unjuk tampil di lis 50 Film Terfavorit Sepanjang Masa milik saya (sejauh ini), sama sekali tak ada niatan memandang sebelah mata film-film India. Tapi memang akhirnya saya hanya sanggup membaca sepintas isi buku ini karena sebagian besar tulisan mengulas film India yang belum saya tonton. Atau, sebut saja saya belum banyak menonton film India. Tetap saja, meski tidak benar-benar mengerti apa yang dibicarakan secara berbusa-busa oleh Mahfud, saya akhirnya menjadi penasaran dan terundang untuk mulai menaruh perhatian pada sinema India.    

Usaha Mahfud Ikhwan cukup berhasil, setidaknya kepada saya.

 

Advertisements