Tags

, , , ,

Belakangan beberapa orang–baik yang saya kenal baik maupun yang tidak–datang ke saya dan mengomentari blog ini,”review-review buku di blogmu oke tuh.”

Ingin rasanya menyahut,Huehuehue, ya iyalah!” sambil berjalan angkuh ala Eko Nugroho Patrio, tapi segera saya urungkan… Ini jebakan menuju congkak yang tidak berdasar!  Saya ini mau congkak saja selektif lho.

PENGUMUMAN: Blog ini bukan kumpulan resensi! Ini cuma kubangan coretan orang yang daya ingatnya terus menurun akibat kebanyakan mengonsumsi MSG.

Terlalu adiluhung Bung, jika mau disebut resensi. Lha isinya kerap ngelantur, proses penulisannya serampangan (buku cuma dibaca sekali lalu tulis!), kadang isinya juga cuma rangkuman atau salinan ulang bagian-bagian yang saya tandai dengan stabilo. Banyak elemen standar resensi yang tak termuat. Jangan muluk-muluk berharap ada riset pendukung atau komparasi dengan literatur lain. Pokoknya apa yang ada di kepala usai membaca buku dimuntahkan di sini, termasuk hal ihwal yang tidak nyambung. Dibanding kumpulan resensi, lebih patut rasanya disebut kumpulan ”komentar seenaknya”.

Tujuan pengadaan blog ini memang cuma sebagai semacam buku harian, karena kalau pakai diary book katanya terlalu kemayu. Bahkan, memang menyerupai coretan di buku harian, beberapa tulisan di blog ini sengaja saya atur sedemikian rupa waktu unggahnya agar tidak banyak yang membaca (lha mbok ora diposting sisan, Cah!). 

Di sisi lain, saya agak merasa mubazir juga menulis resensi dengan serius jika cuma dipajang di blog ini. Seingat saya sih baru dua kali saya pernah menulis resensi buku yang sepantasnya disebut resensi, yakni resensi buku Narasi dan Lokananta. Keduanya dimuat oleh Warning MagazineLha gila apa tiap baca buku harus ditulis resensinya? Jika ada warganet yang rela urun dana (crowdsourcing) ke saya seperti jemaah umrah yang patungan menyumbang First Travel, saya rela kok bikin resensi tiap hari.

Nah, tapi karena sorotan publik mulai menganggu privasi blog saya, okelah saya pun tertarik membaca buku Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku. Setidaknya saya ingin tahu lebih jauh seperti apa sebuah resensi buku seharusnya, meski belum tentu akan saya praktikan juga.

Saya belum kenal Diana AV Sasa sebelumnya, tapi Muhidin M Dahlan sudah telanjur tersohor di kalangan kawan-kawan saya yang bergelut di dunia kepustakaan. Menurut seorang kawan, beliau adalah pengarsip literatur terbesar di Indonesia. Tulisan-tulisan Muhidin yang sempat saya baca di media massa juga memperlihatkan kekayaan referensi literaturnya yang luar biasa. Kredibel pokoknya untuk menulis buku semacam ini.

Kendati ini adalah buku panduan menulis, tapi karakternya berbeda dengan tipikal buku panduan menulis bikinan akademisi yang kaku. Salah satunya adalah cara mereka memaknai resensi itu sendiri:

“Meresensi sebetulnya adalah usaha memperpanjang ingatan akan sebuah buku lantaran ingatan manusia amatlah terbatas. Dengan meresensi, sebetulnya kita sudah menempuh jalan memperpanjang ingatan yang pendek dan mengabadikan kenangan yang fana.”

Sedikit banyak ternyata mirip dengan motif saya membuat blog ini.

Menurut Diana dan Muhidin, meresensi buku mula-mulanya adalah aktivitas membaca. Tentu saja peringatan itu muncul lantaran banyak pererensi di luar sana yang menulis resensi tanpa secara utuh membaca bukunya. Bahkan, rumusan proporsi antara kebutuhan membaca dan menulis dalam proses menulis resensi menurut buku ini adalah 90 persen membaca banding 10 persen menulis.

Pada dasarnya membaca sekadar sebagai aksi konsumsi dan membaca dengan intensi menjadikannya modal untuk menulis evaluasi dan resensi adalah berbeda. Buku ini menyebutkan bahwa mata baca seorang peresensi buku adalah gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Sepakat! Bukan hanya buku sebenarnya. Jika Anda adalah orang yang biasa menulis komentar atau kesan seusai menonton film atau mendengarkan musik, rasanya akan sama. Kita tidak pernah bisa benar-benar pasrah diterpa konten, tapi selalu punya kepekaan untuk curiga dengan bagian-bagian yang kita konsumsi.

Kelebihan buku ini adalah banyak diturutkannya contoh-contoh resensi yang bagus. Dan karena Muhidin terlibat di sini, maka saya yakin contoh resensi yang diambil pasti tidak sembarangan. Beberapa di antaranya adalah resensi yang kondang atau kontroversial, semisal resensi dari S.I Poeradisastra terhadap buku karya Prof Slamet Iman Santoso bertajuk Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang terbit di tahun 1977. Isi resensi dari S.I Poeradisastra benar-benar tanpa ampun menguliti buku tersebut. Dan efeknya tanpa tedeng aling-aling. Tak ada pembelaan dari pihak penerbit buku dan penulis, malahan buku itu pun kemudian ditarik dari peredarannya.

Sayangnya, tetap saja buku ini disusun dengan konsep “buku panduan wajib”. Buku ini memposisikan dirinya sebagai manual dengan cara memberi arahan pembaca menggunakan banyak klasifikasi-klasifikasi, termasuk jenis judul, jenis penulisan paragraf pembuka, jenis penulisan tubuh karangan, dan macam-macam. Berguru Pada Pesohor menjadi acuan yang praktis, tapi tidak mendalam.

Atau memang pada dasarnya saya yang tidak bisa menikmati buku-buku teknis semacam ini. Sebagai orang yang belajar menulis secara autodidak, tak pernah punya mentor, apalagi ikut UKM atau komunitas menulis, mungkin aliran kepenulisan saya sudah tersesat terlalu jauh. Pedoman menulis pun tak lagi bisa jadi pedoman. Tolong mz ~

 

 

Advertisements