Tags

, , , , , , , , ,

Terang sudah bahwasanya yang paling membuat buku kompilasi tulisan kajian budaya ini menjual adalah deretan nama-nama penulisnya yang menyilaukan. Andai ini tim bola, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan Los Galacticos. Dan andai ini sepatu, nama julukannya harus sebelas dua belas dengan north star  all star: Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Ashadi Siregar, Danarto, Umar Kayam, Khrisna Sen, Ariel Heryanto dan sebagainya.

Tapi setelah dibaca, ternyata b aja. Tulisan-tulisan nama-nama terkemuka itu tidak banyak yang merangsang cakrawala pengetahuan budaya kita. Justru yang kemudian paling menarik dari pembacaan saya terhadap isi buku ini adalah waktu terbitnya.

Buku ini rilis pertamakali di tahun 1997. Berarti tulisan-tulisan di dalamnya ditulis di beberapa tahun sebelumnya. Alhasil, kita bisa bilang Lifestyle Ecstasy adalah kumpulan amatan kebudayaan di zaman Orde Baru, era internet masih menunggu di depan pintu, generasi millenial belum menampakan pengaruhnya, Sheila On 7 dan Padi belum rilis album, Sherina dan AADC belum mengawali era baru perfilman nasional, dan saya sendiri masih belum tahu budaya pop selain Dragon Ball.

Duh, dunia macam apa ya itu? Laiya….

Mengingat adalah Kuntowijoyo sendiri yang pernah berkata–di buku lain–bahwa kebudayaan adalah tentang sesuatu yang gelisah dan mengalami perubahan terus menerus, buku ini seakan membahas dunia yang sudah berbeda dengan yang kita tinggali sekarang.

Bisa jadi justru ini daya tarik sebenarnya dari Lifestyle Ecstasy. Perbedaan periode yang signifikan ini ada plus-minusnya. Pertama, sisi plusnya adalah kita jadi paham beragam gejolak budaya di masa itu yang bisa kita refleksikan dengan keadaan sekarang.Sementara sisi minusnya adalah bagaimana cukup banyak analisa yang menurut saya tidak cukup relevan lagi dengan kondisi hari ini. Bahkan, beberapa prediksi argumentatif mereka nyatanya kedapatan sudah keliru.

Misalnya, artikel Marwah Daud Ibrahim bertajuk “Citra Perempuan dalam Media: Seksploitasi dan Sensasi Sadistik” yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab bagaimana seks menjadi komoditi gila-gilaan di pemberitaan media massa adalah karena kurangnya minat publik pada berita-berita politik tentu sangat perlu dikaji ulang di era sekarang. Berita Ahok atau kampanye-kampanye gelap pemilu terbukti bisa bersaing keras dengan reportase harian-harian ranjang manapun. Saya pikir variabel yang bermain di dalamnya kini jauh lebih kompleks. 

Beberapa artikel laln juga menurutkan perspektif moral. Sehingga membacanya justru terasa seperti mendengar budayawan tua yang tengah ceramah perihal kepanikannya terhadap generasi setelahnya.

Artikel Sarlito Wirawan Sarwono dengan judul “Gaya Hidup Kawula Muda Masa Kini” isinya seperti guru sekolah yang curhat di Kompasiana atau omelan orangtua yang bisa dirangkum menjadi ungkapan “dasar anak muda zaman sekarang”. Ia mengkritisi gaya hidup enak anak muda yang terlalu instan, suka hura-hura, dan mengalami dekadensi etos belajar. Saya tidak tahu urgensi artikel ini di eranya, tapi jika dibaca sekarang hanya menunjukan sosok Sarlito sebagai budayawan yang terkesiap dengan perubahan budaya yang kencang. Yang cukup menggelitik adalah keluhannya tentang anak muda (di masanya) yang mulai enggan menjadi pegawai negeri. Jika dulu orang-orang berlomba-lomba meraih status sosial lebih tinggi dengan memakai seragam pegawai negeri, kini yang dicari adalah pekerjaan yang berpendapatan besar sehingga mereka nantinya bisa memeroleh status itu belakangan dengan uang tersebut. Hmmm.. jadi begitu.. Tapi bagus ‘kan? Setidaknya lebih mendingan orang Indonesia banyak yang songong tapi kaya daripada cuma tinggi status sosialnya di kalangan masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya cukup mafhum jika para budayawan merasa gelagapan dengan progres peradaban. Jalaluddin Rahmat mengajukan skema pemikiran tentang laju teknologi komunikasi yang akselerasinya makin cepat. Ibaratnya, jika sejarah waktu dimulai dari awal hingga kini yang berabad-abad itu diubah skalanya menjadi 24 jam, maka nenek moyang kita baru mulai menemukan gua di pukul 8 pagi (berarti butuh 8 jam atau 22 ribu SM). Lantas 12 Jam kemudian atau 18 ribu tahun kemudian, baru orang Sumeria menemukan tulisan. Untuk 1-2 jam berikutnya, perlahan berkembanglah bahasa tulis. Sepuluh abad kemudian atau menjelang tengah malam, akhirnya ditemukan mesin cetak Gutenberg. Di sinilah kecepatan penemuan teknologi informasi makin tinggi. Telegraf, telepon, ditemukan hampir pada menit yang sama. Kemudian dalam tiga menit berikutnya ditemukan film, radio, komputer, dan lain-lain. Lalu pada 2 menit terakhir menjeang tengah malam, ditemukan banyak yang lebih canggih, yakni satelit, kamera portabel, laptop, dan sebagainya. Lewat skala itu, ketahuan bahwa kita sedang melaju dengan akselerasi tercepat.

Perkara perbedaan periode ini pun termasuk meliputi soal perkembangan keilmuan. Beberapa ulasan terlalu mentah dan ketinggalan dari laju keilmuan kita yang sekarang. Entah apakah asumsi saya benar, tapi saya pikir wacana terkait budaya massa dan budaya tinggi di artikel pertama milik Sapardi Djoko Darmono harusnya sudah tuntas di semester pertama mereka yang belajar Culture Studies. Konsep global village juga begitu sering disinggung, seakan memang sedang hangat-hangatnya sebagaimana konsep “Eta Terangkanlah” di masa tulisan saya ini sedang dibuat.

Lalu ketika mereka bicara postmodernisme, analisa-analisa bernada panik masih menyelimuti. Memerlihatkan perbedaan selang waktu dengan respons umum keilmuan era sekarang yang sudah legawa menerimanya. Contoh kentaranya adalah Yasraf Amir Piliang dalam artikel “Visual Art dan Public Art” yang sempat sinis tatkala mengulas paradoks pluralisme dalam posmodenisme yang menolak dimensi moral bak-buruk dan sebagainya.

“…dengan tidak adanya batas-batas moral yang mengikat kebebasan ekspresi tersebut, ungkapan-ungkapan artistik cenderung menjadi dangkal, permukaan, dan miskin makna”.

“Pluralisme berarti kita tidak dapat lagi berpegang pada tradisi, mitos, dan kebiasaan-kebiasaan kultural yang dapat memberi kita nilai-nilai. Kita mungkin akan menjadi buta nilai”

Awal dekade 90-an memang masa populernya postmodernisme dengan segenap perang mulut antar ilmuwan. Yah, mungkin Yasraf kala itu belum membaca buku-buku Angela McRobbie. Wuaduh, ampun Pak, saya memang kawula muda masa kini.

 

Advertisements