Tags

, , , ,

 

Pertengahan bulan lalu. saya mengajak “calon terkuat menjadi ibu dari anak-anak saya” ke Solo untuk menonton konser Noah di halaman Stadion Manahan. Beberapa kawan menunjukan respons kaget, “Demi Noah?”

Saya selalu cuma menjawab, “mumpung Noah masih terkenal”.

Semenjak album kedua, Second Chance (2014) yang diproduseri Steve Lillywhite tapi 75 persen isinya cuma lagu daur ulang, sudah terlihat gejala sekarat kreativitas. Benar saja, album berikutnya yang bertajuk Sings Legend (2016) malah isinya sepenuhnya lagu-lagu kover musisi Indonesia lawas. Habis sudah…. Serumah dengan Sophia Latjuba memang bikin hilang fokus berkarya. 

Kendati cenderung lebih sulit untuk mencari teman yang mau diminta menemani, saya selalu doyan menyambangi konser band-band arus utama seperti Slank, Sheila On 7, Gigi, Nidji, The Changcuters, J-Rocks dan lain-lain. Agak lain dari teman-teman dekat di kancah musik sekitar, saya justru lebih semangat untuk menonton band-band berpasar luas sejenis itu di stadion dibanding konser band-band arus pinggir, meski toh nantinya sama-sama bisa menikmati.

Alasannya? Sensasi dan atmosfernya jelas lain karena kita benar-benar menonton pertunjukan di tengah kerumunan orang biasa yang memperlakukan musik dengan biasa-biasa saja. Kebanyakan dari mereka datang bukan karena tugas liputan atau keperluan kerjaan, kebutuhan komunitas, jaringan perkawanan dan fansclub, pencitraan atau pun pemenuhan passion. Mereka datang sekedar karena butuh hiburan. Mereka bisa hafal dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan sang artis karena memang lagu-lagu itu yang mereka dengar setiap hari di kantor, pasar, pabrik, warnet, atau angkutan umum. Sesuatu yang tidak didapatkan ketika menonton konser Melancholic Bitch hingga Efek Rumah Kaca sekalipun.

Dan Noah adalah salah satu band Indonesia yang paling bisa melayani keinginan saya itu. Salah satu band paling dikenal dan didengar di Tanah Air (sebalnya harus selalu pakai keterangan “salah satu”, karena kita tidak punya catatan valid tentang data penjualan dan hal-hal lain yang terukur). Ariel sebagai vokalis yang sudah di level objek mistisisme ini juga punya magnet yang tidak dimiliki siapapun. Makanya band seperti ini harus lekas dinikmati terus sebelum kekuatan-kekuatan mereka ini kian surut, mumpung masih terkenal. Belum tentu kita bakal punya yang seperti mereka lagi.

Meski hampir baku hantam dengan seorang pengendara mobil sok jagoan bergaya hip hop dengan plat K (entah ini plat Klaten, Kuala Lumpur atau Kentucky) di perjalanan menuju Solo, namun akhirnya semua lumayan terbayarkan. Apalagi konser Noah malam itu gratis. Puluhan ribu orang yang bukan Kamties atau Outsider ini berkumpul segala usia dengan busana yang nir-konsep. Di sebelah saya ada ibu-ibu dengan pakaian yang mungkin biasa dipakainya ketika menyuapi anaknya sore-sore di kompleks, begitu juga mas-mas setia dengan helmnya di depan saya yang mungkin habis kelar konser bakal langsung cabut trek-trekan.

Di momen-momen seperti ini pula saya biasa menemukan pemandangan indah yang bikin adem: pasangan pacaran bermesraan yang cowoknya tidak ganteng, dan ceweknya tidak cantik…. Adilnya semesta.

Noah akhirnya cuma unjuk sepuluh lagu dan lagu favorit saya yang dibawakan hanya “Topeng” dan “Walau Habis Terang”, tapi audiens seakan diterjang nostalgia kolektif tatkala duel riff di intro lagu “Ada Apa Denganmu” menggema. Anjenx, nomor lokal terbesar di tahun 2004 ini terasa lawas banget disertai memori yang terlempar ke video musiknya yang berkonsep backward dan hujan kuyup. Bahkan, lagu ini terdengar lebih tua dibanding “Topeng” yang sebenarnya rilis di satu album lebih dulu……

Yak, malah jadi reportase konser.

Saya memang jadi tertarik baca buku Kisah Lainnya ini sekelar menonton konser itu. Buku ini ditulis di era setelah kemunculan logo Noah bikinan Herry Sutresna, namun nama Noah sendiri belum diresmikan. Periode 2010-2012 ini adalah periode terkelam bagi band ini. Diawali dari syok awal tersebarnya video seks Ariel Universe yang menyeretnya kemudian ke balik jeruji besi, pergaulannya di sana, masuknya David menjadi personel baru grup yang kala itu tak punya nama, dan juga proses penggarapan “album instrumental yang nggak instrumental-instrumental amat karena ada dua lagu dengan vokal” bertajuk Kisah Lainnya.

Secara umum, yang bisa dipastikan setelah membaca Kisah Lainnya adalah bahwa para personel Noah memang selama ini tidak salah menempuh jalan hidup. Maksudnya……… mereka memang lebih berbakat menjadi musisi dibanding penulis.

Tulisan kelima orang ini tidak buruk, tapi juga tidak terlalu menarik untuk dibaca. Kecuali punya rasa sayang atau pemujaan yang kuat dengan sosok Ariel, mungkin kisahnya menjadi tahanan Bareskrim di bab pertama tidak terlalu membuat emosi termainkan. Saya malah jauh lebih tersentuh saat mendengarkan “Tak Ada yang Abadi” atau “Walau Habis Terang” sembari berimajinasi sendiri dengan situasi-situasi dan kondisi psikologis yang harus dihadapi Ariel kala itu.

Transisi bagian cerita antara satu personel dengan personel lainnya juga kadang kala membingungkan. Personalitas masing-masing pun tidak tersampaikan. Padahal akan menarik jika kelima personel ini menampilkan gaya bahasa atau gaya tutur yang berbeda-beda…..  atau jangan-jangan sebenarnya ini ditulis oleh orang yang sama? Suuzan adalah panglima.

Ada banyak unsur kisah yang juga terdengar pretensius. Dalam kondisi budaya Indonesia yang bertopeng moralis dan posisi Noah sebagai figur publik yang sedang terguncang di tengahnya, memang sulit untuk percaya dan larut begitu saja atas apa yang diceritakan dalam buku ini meski isinya dikemas seolah curhat dan personal. 

Karena itu paparan yang kemudian saya amini dengan hati terbuka lebih pada kisah-kisah bebas nilai. Seperti sejarah berdirinya Peterpan atau proses teknis penggarapan lagu-lagu mereka. Misalnya, kita jadi tahu kalau Ariel adalah bagian dari jutaan anak muda generasinya yang mengidolai Kurt Cobain. Ini kemudian bisa kita kaitkan dengan beberapa kali pilihan kostum manggungnya dan karakter vokal pada sejumlah lagu, termasuk nomor berirama Latin-Melayu “Menghapus Jejakmu” yang ia akui menyisipkan teknik vokal ala Kurt Cobain meski sebenarnya secara umum manuver isian Ariel lebih sering terdengar seperti Liam Gallagher. Perpaduan Oasis dan Nirvana menjadi corak album pertama Taman Langit yang masih bernuansa rock 90-an hingga belakangan mulai belok kemudi ke arah britpop semacam Coldplay dan U2. 

Memilih periode gelap dengan rupa-rupa kisah tidak enak di dalamnya untuk dibukukan sebenarnya sebuah keberanian, tapi sayangnya disajikan dengan kurang luwes. Atau saya curiga rilisnya buku ini adalah keterpaksaan dan bagian dari kompromi-kompromi kontrak Noah dengan label rekaman Musica karena kevakuman force majeur di selang waktu itu, tapi ya entahlah… Astaga, uripku kok isinya curiga melulu 😦

Advertisements