Tags

, , , ,

Buku-Lokananta-600×600

Pic: Warning Magazine

* Tulisan ini dimuat di warningmagz.com

Ada beberapa kiriman surat yang meyakinkan bahwa media yang sedang Anda baca ini tidak kuper-kuper amat. Misalnya, surat teguran dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) pada terbitan edisi cetak keenam WARN!NGyang mengulas perdebatan musik haram di agama islam. Cukup dibalas dengan senyuman, ormas itu pun bubar. Kapok.

Ada juga surat dari Library of Congress, perpustakaan kelas dunia yang hendak mengarsipkan majalah dan buku terbitan WARN!NG. Kali ini WARN!NG membalas dengan senyuman yang tidak ofensif. Kapan lagi ada institusi serius yang berinisiatif mengabadikan kiprah media yang tak pernah bayar pajak? Menunggu perpustakaan nasional atau kementerian yang melakukannya? Keburu imsak.

Kerja pengarsipan adalah pekerjaan rumah negara ini sejak dahulu kala, terutama di wilayah kebudayaan. Itu kenapa kita jadi bangsa yang pelupa. Lupa sejarah, lupa budaya, kadang juga lupa diri. Andai kita punya sistem kearsipan yang baik, mungkin kita tidak perlu mengenal falsafah rakyat “lali rupane eling rasane”. Kita terbiasa cuma doyan mengonsumsi “rasa” sebagai kenikmatan abstrak yang sesaat, lalu mengabaikan “rupa” yang berwujud dan bisa diabadikan. One Night Standminded. Bajingan.

Itulah salah satu alasan buku Lokananta ini penting. Sebuah prakarsa emas dari kolektif bernama Lokananta Project. Pertama, buku ini menjadi contoh upaya pendokumentasian komponen kebudayaan nasional via literatur. Kesadaran bahwa kerja pengarsipan adalah bagian penting dari industri layak mulai ditanamkan. Kedua, Lokananta sebagai objek ulasannya sendiri adalah salah satu pusat penyimpanan karya-karya musik lawas Indonesia. Memang sedikit aneh karena Lokananta sesungguhnya bukan lembaga pengarsipan, melainkan studio rekaman dan pabrik, namun begitulah yang terjadi.

Seperti ditulis di dalam buku Lokananta ini sendiri, satu-satunya rujukan tertulis perihal arsip Lokananta hanyalah disertasi peneliti luar negeri bertajuk Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957 -1985. Maka saya mafhum akan kebutuhan putar otak bagi ketiga penulis: Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi, dan Syaura Qotrunada untuk mencari data. Tapi pada akhirnya mereka berhasil. Tiga bab yang ditulis oleh Fakhri Zakaria memuat komentar orang-orang di belakang Lokananta, baik teknisi maupun petingginya, dikombinasikan dengan pendapat penggiat media massa, musisi, hingga para pejuang arsip di ranah seni musik. Sementara itu Syaura Qotrunada mengulas perkembangan visual kemasan pada rilisan fisik yang terarsip di Lokananta. Lalu Dzulfikri Putra Malawi melengkapi dengan ulasan Gerakan Malang Bernyanyi, lika-liku rekaman Daur Baur oleh Pandai Besi, dan upaya-upaya konkret penggerak Lokananta untuk bertahan hidup ke tahun-tahun mendatang.

Ragam sisi kupasan ini yang membuat isi buku Lokananta tidak hanya mandek pada sejarah atau nostalgia melainkan juga perihal urgensi eksistensi Lokananta hari ini. Saya pikir mengkaji belantika lewat objek spesifik seperti ini lebih apik dan terbukti mendalam dibanding merilis buku-buku sejarah musik Indonesia yang serakah ingin menulis segalanya namun cuma berakhir menjadi kumpulan profil band.

Apalagi menelaah Lokananta pada akhirnya juga bukan sekadar soal industri. Lokananta adalah saksi dinamika belantika yang tidak lepas dari pengaruh sosial politik. Ini termasuk bagaimana Lokananta didirikan oleh Sukarno sebagai salah satu perangkat penyebaran budaya lokal untuk membentengi Bumi Pertiwi dari imperialisme budaya asing di era orde lama. Terpuruknya Lokananta di era 80-an juga bisa menjadi poin kasus dari analisa keputusan politik Indonesia untuk keluar dari Konvensi Berne. Hal-hal ini bisa Anda dapatkan inspirasinya dari buku Lokananta.

Akhirnya saya perlu memberikan batasan sejauh mana kapasitas amatan saya terhadap buku ini. Informasi tentang Lokananta sebelum rilisnya Lokananta memang sangat minim, sehingga saya mengaku tidak cukup punya modal pemahaman untuk memperdebatkan isi buku ini. Saya hanya sanggup urun pendapat tentang pengemasan dan penyuguhan laporan-laporan menarik itu. Alhasil, komplain-komplain saya berikutnya semata berdasar pada modal pengalaman pria dewasa yang suka membaca buku dan kebetulan ganteng.

Saya mulai dengan harapan alur bacaan yang lebih membuat nyaman. Mengintroduksikan insan-insan yang cari makan di balik jatuh bangunnya Lokananta adalah ide yang cemerlang, tapi menurut saya kurang asyik disajikan di bab terdepan setelah Pengantar. Pun banyak informasi berulang di tiap-tiap bab, sehingga naga-naganya bakal terlihat lebih matang jika konsep buku ini mengintegrasikan tiap ulasan babnya menjadi lebih pampat dan terpadu. Bukan tampak seperti artikel-artikel yang terpisah, melainkan utuh sealur dari Pengantar hingga akhir.

Selain itu kerja penyuntingan teks juga tidak memuaskan. Mulai dari perkara pisah sambungnya imbuhan di-, hingga ada yang membingungkan dari visi sang editor (jika punya) dalam memutuskan mana kata yang perlu dimiringkan dan mana yang tidak. Kata baku seperti respons, takhayul, transfer, atau digital pun dihajar miring. Sementara itu tiap kata yang dimaksudkan sebagai kata asing tiba-tiba tegak berdiri dalam bagian kalimat kutipan langsung yang seluruhnya miring. Bukan kesalahan substansial tapi sungguh bukan pemandangan indah.

Bidang layout juga punya level keluhan yang sama. Berikut adalah rincian analisa dari sobat layouter andalan saya: “Penggunaan white space-nya tidak bijak. Font terlalu besar dan jarak antar kata terlampau renggang. Selain itu ditemukan beberapa kali kekeliruan tipografi yang dikenal di jagat layout dengan istilah ‘sungai’ dan ‘widow’”. Entah apa maksud istilah-istilah itu, sobat saya ini memang sok-sokan. Dikibuli pun saya tidak akan mengerti. Tapi saya sepakat bahwa ada yang tidak enak dari tata letak teks buku ini.

Terakhir adalah soal harga. Ada kerisauan terkait kenapa buku Lokananta mesti dirilis dengan model ‘premium’, yakni dibungkus hard cover dan cetakan berwarna dengan bandrol senilai tarif kos sebulan di Jogja? Kenapa tidak dirilis dengan kemasan ekonomis dan harga yang terjangkau untuk musisi kampus yang bandnya masih bisa bubar hanya karena ada satu personel suka menunggak patungan bayar studio latihan?

Jika segmennya memang hanya untuk kolektor atau institusi, tebersit kekhawatiran akan peneguhan eksotisme Lokananta dari reputasinya sebagai studio legendaris dan bersejarah yang membangun citra ‘mahal’. Jika terlalu kuat, label-label itu bisa menjadi bumerang, termasuk menghambat Lokananta bergeliat sebagai unit budaya populer dan terjebak pada kecenderungan budaya tinggi. Mungkin cukup penting untuk membuat Lokananta terlihat lebih populis sehingga band-band muda tak perlu banyak bermimpi untuk bisa rekaman di sana. Jangan sampai Lokananta hanya selalu menjadi objek studi tur sekolah dan mahasiswa-mahasiswa yang tidak bergairah.

Terbitnya buku Lokananta sebenarnya langkah strategis untuk itu. Karena persoalan sebenarnya hanya pada kemasan dan penyajian—jika tidak merepotkan—mungkin rilis ulang bisa dipertimbangkan.

Dan jarang-jarang ‘kan ulasan buku begitu rempong soal harga? Mudah-mudahan ini bukan pandangan egois saya  karena sedang miskin.

Advertisements