Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk studi kasus lima media komunitas buku

Pic: Kombinasi.net

Masih dari kisah kasih media komunitas, buku ini adalah salah satu hasil belanjaan di Combine Research Institution. Tentu juga nangkring di daftar pustaka makalah mata kuliah Isu-Isu Komunikasi Terkini saya yang mengangkat topik media komunitas. Tapi lebih beruntung dari buku Kolaborasi Untuk Advokasi yang sudah tersia-siakan dari ingatan saya, muatan buku ini masih kecantol di kepala. Iya dong, lha saya banyak main salin-tempel (copas) isinya ke makalah itu. Bodo amat, tidak lebih dari coret-coretan yang terbujur di meja dosen kok, tak akan sampai ke mana-mana. Sebuah hak untuk curang, ketahuan dan dihukum cambuk adalah risiko.

Selangkah lebih maju, buku ini tak lagi sekadar introduksi media komunitas. Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru mengkaji laju kembang media komunitas yang berhadapan dengan perkembangan teknologi media baru. Perihal bagaimana para penggiatnya beradaptasi dengan perkembangan media baru, baik dari proses produksi maupun pengelolaan lembaganya.

Buku ini adalah hasil riset dari Idha Sarasvati, Ferdhi Fachrudin Putra, Mario Antonius Wibowo, dan Ranggabumi Nuswantoro selaku tim peneliti. Metodologi yang dipakai adalah studi kasus terhadap lima media komunitas di Indonesia, yakni Radio Komunitas Best FM, Radio Komunitas Wijaya FM, Radio Komunitas Suandri FM, Radio Komunitas Primadona FM, dan Media Komunitas Speaker Kampung. Yang terakhir ini adalah favorit saya. Bermarkas di sebuah desa di Lombok Timur, mereka sudah punya kanal video di Youtube bernama SpeakerTV. Hipwee saja kalah. Bajinguk.

Teori yang dipakai adalah Teori Difusi Inovasi besutan Everett M. Rogers. Teori ini juga acap disebut sebagai Teori Persebaran Informasi karena memang biasa digunakan untuk menganalisis bagaimana sebuah ide atau teknologi tersebar dalam suatu masyarakat. Jadi Rogers meyakini bahwa ada pola yang bisa diprediksi dari bagaimana sebuah inovasi  terdifusi ke dalam masyarakat. Selain berfungsi untuk analisa pemasaran, teori ini bisa menjelaskan tentang kenapa misalnya sebuah teknologi sudah menjadi tren di sebuah daerah tapi masih asing di daerah lain. Selisih dan gerak persebaran itu bisa ditelaah. Artinya, teori ini seharusnya bisa juga menjawab kenapa ada manusia modern yang masih percaya bisa masuk surga hanya karena ikut menyebarkan pesan berantai di BBM. Mendingan dulu nabi-nabi jualan pulsa daripada ceramah.

Saya cukup familiar dengan teori ini. Sangat berfaedah soalnya. Penerapannya mudah. Tapi bukan untuk keperluan penelitian, melainkan untuk merendahkan teman-teman saya yang berasal dari kampung. Inilah tujuan saya disekolahkan tinggi-tinggi. Menambah perbendaharaan dan kompetensi untuk merisak orang lain.  

Rogers mengidentifikasi lima unsur yang menjelaskan seberapa jauh potensi sebuah inovasi akan diterima oleh masyarakat, yakni:

a) relative advantage: seberapa besar keuntungan yang bisa didapat dari inovasi itu dibanding inovasi terdahulu

b) compatibility: seberapa cocok dan kompatibel inovasi itu dengan calon penggunanya

c) complexity: seberapa mudah inovasi itu diadopsi atau dipelajari

d) triability: seberapa mungkin inovasi itu dicoba atau dites dahulu sebelum benar-benar digunakan secara menyeluruh

e) observability: seberapa jelas kelebihan inovasi ini akan dirasakan atau terlihat

Nah, identifikasi itu kemudian digunakan untuk membaca adopsi media baru dari kelima media komunitas yang menjadi objek studi kasus Mbak Idha dan kawan-kawan. Hasilnya, unsur-unsur itu memang memengaruhi penerimaan masing-masing media. Misalnya, adopsi media baru di Radio Wijaya FM tergolong lancar karena ke lima unsur inovasinya dominan. Berbeda dari penggunaan media baru di Suandri FM yang tak terlalu optimal karena terkendala di unsur complexity-nya. Para pengelolanya merasa media baru masih sulit dijangkau dan warga belum terbiasa. Akhirnya unsur relative advantage pun tercederai karena keuntungan dari perkembangan media baru di sana tidak signifikan dibanding perkembangan sebelumnya.

Karakter unsur relative advantage yang menarik muncul di pengelolaan Primadona FM dan Speaker Kampung. Media baru memberikan keuntungan berupa eskalasi status sosial bagi para penggiatnya. Keuntungan prestise ini membuat orang-orang di balik kedua media komunitas itu menjadi populer dan murah respek dari masyarakatnya. Jago mengoperasikan internet dan gadget di tengah masyarakat gagap teknologi bisa membuat seseorang dielu-elukan. Faktanya ini menjadi faktor penting juga.

Nah, sebenarnya bukan cuma lima unsur di atas saja isi temuan teori Difusi Inovasi ini. Kendati tak digunakan untuk menganalisa media komunitas di buku Pergulatan media Komunitas di Tengah Arus Media Baru, ada juga lima kategori pengguna inovasi yang dicetuskan oleh Roger. Yang ini saya salin mentah-mentah dari wikipedia saja ya, lelah sudah kedua tangan ini. Nanti malam mau fingering soalnya.

  1. Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baruHubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
  2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovatorKategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
  3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
  4. Mayoritas akhir: Kelompok zang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
  5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

Kesimpulannya, jika Anda punya kawan yang mengira GoPro itu merek motor matic, sebut saja dia laggard. Sungguh aplikatif sekali teori ini. 

 

Advertisements