Tags

, , , , , , ,

Image result for budaya popule rkomunikasi buku

Isi buku ini lebih berakar pada ranah keilmuan kajian budaya (cultural studies), bukan ilmu komunikasi, walau kemudian jelas keduanya bagaikan saya dan rukun islam: tak terpisahkan. Tentu saja takdir budaya populer memang senantiasa bergantung pada aktivitas media dan penyebaran informasi. Produk budaya apapun mustahil menjadi populer jika tak dikomunikasikan. Terkait batasan pemaknaan budaya populer yang selalu bernegosiasi antara otoritas khalayak dan produsen, Idy sepertinya mengambil posisi yang lebih pesimis. Artinya, budaya populer di matanya cenderung adalah konstruksi atau kesengajaan dari pihak industri, terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang menurutnya belum kritis dan masih merem media. Sudut pandang ini cukup terbaca dari orientasi pemikiran tiap bab di buku ini.

Saya gagal menyelesaikan buku ini. Selain gaya layout terbitan Jalasutra yang sepertinya butuh diruwat, penyajian isi di dalamnya terasa kurang apik. Idy Sundari memang lincah memasukan kutipan-kutipan teorikus kajian budaya yang berkompeten dibalut dengan opini-opininya sendiri, tapi sayangnya itu tidak dijahit menjadi narasi yang rapi terorganisir. Hampir selalu terlalu banyak gagasan dalam satu bab hingga kerja intelektualitas kita harus berkelok-kelok mengikutinya. Misal singgung-singgungan pornografi mendadak bertemu topik migrasi simbolik yang menyeret contoh masalah tren seleb pakai jilbab di saat lebaran tiba. Bukannya tidak nyambung, tapi kurang santai perpindahan ulasannya. Entah Idy ini kebanyakan ilmu atau apa. Ramainya buah pikir yang tidak dikemas baik akhirnya malah berujung pada konklusi-konklusi kritis yang umum dan tidak lagi baru. Misalnya perihal bias pemberitaan gender dari editorial media massa, musik subkultur sebagai resistensi musik indutri arus utama, tirani kebudayaan oleh TV, bahaya konsumerisme, komodifikasi agama, hingga konstruksi standar kecantikan di televisi yang bahkan sudah dihafalkan luar kepala oleh seantero penggemar Seringai.

Agaknya buku ini cocok untuk mengoleksi detail-detail pemahaman isu-isu terkait yang didukung contoh-contoh empiris, termasuk kasus-kasus di Indonesia. Namun, Budaya Populer Sebagai Komunikasi tidak memperkenalkan gagasan besar yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Jangan sampai buku ini justru menyiratkan kemandekan laju keilmuan kajian budaya. Kasihan, sarjananya sudah terlanjur banyak.

Advertisements