Tags

, , , , , ,

Hasil gambar untuk pias aris setyawan

Pic: Bukuakik 

Rasa-rasanya kok ingin mengundang rombongan ibu-ibu majelis taklim ke rumah untuk menggelar pengajian dan bersama-sama menugasi mereka mendoakan buku ini. Terbitan kedua Warning Books ini punya masalah besar dengan peruntungannya. Ketiban sial. Benar-benar ketiban. Saking keras jatuhnya, sampai sering ada suaranya, “Jancuk! Kok iso ngene to?” Begitu.

Lantaran penerbitnya sudah seperti keluarga sendiri, saya jelas mengikuti kiprah buku ini. Cukup kaget tatkala menemui beberapa resensi serius terhadap Pias cukup sadis dalam melempar kritikan:

“Kalau boleh jujur, esai-esai Aris justru lebih banyak kelirunya daripada benarnya” – Erie Setyawan (Ruang)

“Buku ini lebih mirip curhat seorang mahasiswa dalam melihat situasi zaman, terutama dalam konteks seni (musik) dan kebudayaan di negeri ini. Beberapa pandangan di dalamnya masih perlu dikaji ulang” – Aris Setiawan (Kedaulatan Rakyat)

Kesimpulan paling ilmiah: Aris Setyawan kurang shalat.

Kesimpulan paling rasional: Ada konspirasi antara Erie Setyawan dan Aris Setiawan untuk menjatuhkan nama Aris Setyawan. Selain punya nama yang cuma selisih satu-dua abjad, ketiganya pun sama-sama berkutat di bidang etnomusikolog. Ini menjadi motif sangat kuat bagi mereka untuk bersaing dan saling menjatuhkan. Begitu.

Kritik dalam karya memang biasa dan bahkan diperlukan, tapi dampak terhadap sepak terjang atau penjualan pastinya tidak bisa diabaikan. Celakanya, bahkan buku ini sudah apes sejak dalam dirinya sendiri. Kata Pengantar dari Erie Setyawan (Iya, beliau lagi. Namanya juga persaingan) dan Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca) di dalamnya tak kalah tebal hati dalam mengkritisi. Dibunuh dari dalam, bahkan sebelum halaman satu.

Cholil mengeluhkan pemetaan tema dalam artikel-artikel Aris yang menurutnya seharusnya bisa dipadatkan menjadi satu-dua topik yang sama agar pembahasan lebih bisa mendalam. Sebenarnya saya agak bingung dengan saran Cholil karena Pias pada dasarnya memang kumpulan tulisan yang tidak tematik. Selain itu sang vokalis  sesungguhnya juga luput tatkala memilih istilah “dualitas” dalam komentarnya untuk merujuk pada kecenderungan Aris dalam melihat segala sesuatunya dengan dikotomi hitam dan putih. Yang benar adalah “dualisme” jika maksudnya memang ingin bicara ihwal dua hal yang bertentangan.

….begitu hebatnya (atau konyolnya?) saya malah mengkritisi Kata Pengantar.

Di sisi lain, Erie Setyawan dalam Kata Pengantar desertir itu juga sampai hati menulis bahwa Pias akan bisa menemui kegagalan karena menggunakan logika yang tak tersusun untuk membaca persoalan atau “melalaikan fakta empiris etnografis”. Ia mengaku belum bisa menemukan benang merah penghubung pengalaman empirisnya dengan peristiwa yang disampaikan dalam Pias.

Tentu saja saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memahami isi kritik-kritik mereka jika wilayah perdebatannya sudah pada tataran ilmu etnomusikologi. Awam dari etnomusikologi membuat saya sejujur-jujurnya tidak engah dengan hal-hal yang diperkelirukan oleh Erie Setiawan dan Aris Setiawan (jangan tertukar, fokus please ah!). Sebelumnya saya biasanya ya cuma manggut-manggut membaca tulisan Aris. Halah, apalagi kamu yang literasi wacana seni musiknya sebatas situs kord gitar. 

Sesama doyan menulis artikel tentang musik, Aris Setyawan akrab dengan kacamata kajian budaya dan etnomusikologi, sementara saya sekadar menulis musik dengan pendekatan gaib jurnalisme hiburan yang lebih pop. Maka setidaknya beberapa gagasan menarik pada Pias, seperti isi artikel “Makna Musik Mana yang Kita Bela” tetap terdengar baru untuk saya. Ia menulis tentang masa di mana penikmat musik sering menilai konser musik berdasarkan seberapa mirip performa panggungnya dengan hasil rekaman materi rilisannya. Ini menarik karena bagi saya justru yang lebih sejati adalah musik live. Rekaman seharusnya justru semata upaya imitasi dari konser live

Sambatan saya tentang buku ini kemudian memang lebih pada konsep penyajiannya. Kumpulan tulisan ini tidak punya benang merah sama sekali selain bahwasanya ini tulisan Aris dan garis besar topiknya adalah seni dan budaya. Yup, seni dan budaya!!! Sungguh tidak membantu.

Maka 38 artikel di dalamnya seakan berhamburan begitu saja tanpa kategorisasi lebih jauh. Urutannya pun justru terbalik, yakni dari artikel paling terkini dirilis menuju artikel paling lawas dirilis. Padahal jika iktikadnya ingin menjelaskan proses kembang intelektualitas Aris, sebaiknya disusun sebaliknya.

Selain itu, saya juga mengambil hikmah bahwa terlalu berisiko untuk menerbitkan kumpulan tulisan jika Anda tidak lebih terkenal daripada Felix Siauw. Buku semacam Pias ini seharusnya memang menjual sosok penulisnya. Tentu sulit bagi Aris yang belum pernah kedapatan masuk berita Line TODAY. Apalagi kover buku dengan ilustrasi memesona ini hanya menampilkan tulisan “PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya”. Hampir tidak ada alasan orang tertarik membelinya kecuali sudah kenal lebih dulu dengan Aris (yang sialnya juga, nama beliau ini kok ya sungguh pasaran). 

Itulah kenapa saya cuma selalu senyum basa-basi saja ketika beberapa orang meminta saya menerbitkan kumpulan tulisan. Pertama, saya belum punya fans clubKedua, teman saya lebih banyak yang penjual buku daripada pembaca buku. 

Pada dasarnya saya juga mulai merindukan buku-buku yang konsepnya bukan kumpulan tulisan. Bukan hal buruk, tapi saya lebih menyukai buku yang memang isinya tumpah ruah gagasan yang fokus terhadap objek spesifik secara utuh dan terpadu. Karena kedalaman yang berasal dari ruang kuantitas kata tak terbatas dari format buku inilah sebenarnya faktor utama yang membedakannya dengan artikel-artikel daring.

Sebagai rekan penulis satu penerbit, selamat Aris, saya tetap sering pakai Pias untuk bahan tugas kuliah. Untung dosen saya bukan etnomusikolog dan namanya tidak menyerempet aris atau setyawan.

Advertisements