Tags

, , , , , , ,

Image result for la la land poster

Damien Chazelle

Musikal, Drama

Berkat kekuatan buah bibir dan resensi media massa yang mendegam-degam, La La Land menjadi film pertama yang sanggup membuat saya deg-degan sebelum menonton. Ekspektasi meluap-luap, bagaimana kalau ternyata film ini jelek? Bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa sebahagia orang lain ketika menonton film ini? Dengan harapan yang sudah setinggi tarif pajak STNK dan BPKB hari ini, saya tidak siap dikecewakan.

Keluar dari bioskop, saya merasa benar-benar “keluar dari bioskop”. Saya tidak ingat kapan pertama kali saya menonton langsung layar lebar, tapi baru kali ini saya merasakan pengalaman menonton sinema yang sebegitu otentik meski tanpa popcorn dan ciuman—bibir sibuk menggerutu karena ada orang brengsek di sebelah saya yang dengan bawelnya sok ikut melafalkan dialog La La Land yang sudah dihafalnya. Rasanya semua unsur visual di film ini berasas kesadaran dinikmati orang yang bayar tiket. Meski koreografi, humor, bahkan iringan musiknya bagi saya masih jauh dari Singin In the Rain, namun segala atraksi pengambilan gambar di dalam La La Land mengagungkan lagi film sebagai sinonim dari ‘gambar hidup’. Sebagai sesuatu yang ditonton, film ini juara. Sebagai sebuah karya artistik, film ini adiluhung. Saya tidak dikecewakan di pengalaman pertama.

Lalu di pengalaman kedua menontonnya kembali, dan kali ini di layar sempit sehingga indra penglihatan tidak terlalu dimanjakan, sial, saya juga tidak dikecewakan. Ternyata film ini juga punya naskah yang bagus.

Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) bertemu di momen yang tidak berpihak pada asmara yang bermasa depan, yakni di kala keduanya masih dalam tahap memperjuangkan cita-cita masing-masing. Satu sama lain harus berbagi hasrat dengan pihak ketiga, yaitu mimpi. Yang satu dengan seni musik, yang satu lagi dengan seni peran. Yang satu berkonflik dengan idealisme, yang satu lagi masih sibuk mengejar capaian karir. Mulanya keduanya saling mendukung satu sama lain, di mana ambisi itu justru menyatukan mereka. Namun, perlahan ambisi itu justru putar balik membuat mereka bergerak ke kutub berbeda. Ikatan hubungan menjelma kebutuhan-kebutuhan kompromi yang memborgol, termasuk perkara waktu, jarak, prioritas, ego, dan proyeksi-proyeksi realistis. Seni memang perlu banyak mengorbankan sesuatu, atau justru “segalanya”—jika menurut Bastian. Alhasil, Sebastian dan Mia dipisahkan oleh apa yang mempertemukan mereka: mimpi.

Dalam kasus La La Land, cita dan cinta bukan satu paket yang bisa dimiliki oleh dua sejoli. Rumusnya jelas, seseorang harus mengalah. Ini tidak bisa digeneralisir, tapi jelas terjadi di banyak orang. Ihwal ending yang menawan itu, apakah keduanya kecewa dengan pilihan akhir masing-masing? Yang pasti ini relevan dengan tesis saya dan kawan-kawan sedari dulu bahwa salah satu trik paling curang tapi umum dilakukan jika Anda ingin lebih sukses sebagai seniman adalah menikah dengan non-seniman yang kaya raya.

Related image

Tak diragukan juga jika duet akting Gosling dan Stone amat memesona, sampai saya sempat lupa jikalau keduanya memang aktor dan aktris, bukan pianis jazz dan bakal aktris. Dan lagi-lagi Gosling, memandanginya diam selama tiga detik saja sudah pasti membuat saya terpingkal, apalagi setiap adegan ekspresi melempar senyum kecut sambil mengangkat sebelah alisnya. Karakter musisi yang sibuk bernegosiasi dengan idealismenya demi mencari sesuap nasi yang ia perankan begitu menarik hati. Simak mimik berserahnya dalam kejemuan memainkan tut-tut yang tidak eksploratif, baik saat di kafe maupun kala memainkan “Take On Me” dan “ I Ran” di bandnya, sungguh lebih jenaka dibanding raut wajah kerumunan korban salah penyebutan pemenang kategori Best Picture di panggung Oscar. Ini juga menjelaskan bahwa para musisi arus utama yang memainkan musik bermutu rendah di luar sana itu belum tentu punya masalah dengan selera. Mereka sebenarnya bisa membedakan antara produk yang layak dikonsumsi dan ‘sampah’, namun apa daya adanya alasan urgensi ekonomi hingga demi mencari pengakuan keluarga atau mertua.

Dan tuduhan white saviour pada film ini juga masih perlu dipertimbangkan lagi, karena Sebastian tidak terlalu digambarkan heroik terkait upaya mengamankan musik jazz. John Legend sebagai pemeran Keith mengatakan,”Saya tidak berpikir bahwa Sebastian terlihat sebagai ‘the savior people’ seperti yang dikatakan. Ia adalah karakter yang sedikit gelap dan keras kepala, namun ia juga pria yang menyenangkan. Sebagian dari kisah ini adalah kisah cinta, dan alasan kenapa ia menjadi begitu keras kepala mungkin ia dapatkan dari perjalanannya jatuh cinta.” Memang justru sisi lugu dan kekanak-kanakan Sebastian dan Mia ini yang membuat kisah La La Land amat manis. Oh, saya justru salah satu yang curiga jika kemenangan Moonlight di Best Picture adalah tendensi sebenarnya, sebuah upaya penyelamatan wajah Oscar yang coreng moreng di hadapan khalayak kulit hitam? Apakah insiden Faye Dunway- Warren Beatty itu juga berdasar narasi perebutan trofi Oscar dari kulit putih? Kurang drama apalagi hidup kalian?

Lagipula apa benar jazz perlu diselamatkan segera? Ia justru sedang meruah-ruah di jalur sinema beberapa tahun terakhir. Selain Whiplash yang marak dua tahun sebelumnya, saya juga belum lama menonton beberapa film yang mengangkat kisah legenda jazz seperti Miles Davis (Miles Ahead) dan Chet Baker (Born To Be Blue). Siapa tahu masa depan musik jazz memang berada di rengkuhan layar lebar?

Keith: “How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future”.

Jazz mungkin memang sedang sekarat, tapi saya percaya tidak akan mati. Dalam perspektif postmodernisme, tren budaya akan selalu berputar. Produk seni terus didaur ulang sembari menanti momentumnya. Dan di antara sirkulasi itu, sesekali muncul karya anyar yang menciptakan kekaguman sentimental dan mengingatkan pada karakter yang dianggap otentik. Misalnya, munculnya album Is This It dari The Strokes yang menghidupkan musik garage rock 70-an di dekade 2000-an.

Riff simpel + sound kasar + lirik metropolitan + jaket kulit + kacamata hitam : ROCK & ROLL

Contoh lain lagi?

La La Land

Aktris dan musisi yang saling jatuh cinta + jazz + dansa di antara bintang-bintang + mimpi Hollywood + ekspresi Ryan Gosling: SINEMA

Best Lines :

Sebastian: Alright, I remember you. And I’ll admit I was a little curt that night.

Mia: “Curt?”

Sebastian: Okay, I was an asshole. I can admit that. But requesting “I Ran” from a serious musician, it’s just, it’s too far.

 

After Watch, I Listen: Norah Jones – Tragedy

Advertisements