Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk zootopia poster

Animasi, Komedi

Byron Howard & Rich Moore

Di tahun 2016, kita juga punya Finding Dory, Moana, dan Kubo and The Two Strings untuk mengajak keponakan berusia “bimbingan orangtua” ke bioskop. Namun, Zootopia adalah satu-satunya yang bahkan bisa membuat pemuda atau paruh baya sibuk memperbincangkannya lagi seperti kumpulan anak SD yang baru saja menonton satu episode Kamen Rider. Sangat bernas.

Padahal, di kala film animasi terkini harus berkompetisi bersenjatakan pengembangan teknologi visual, adaptasi kisah dongeng klasik, atau tema besar yang sangat unik, Zootopia menawarkan sesuatu yang standar dan tertangkap dari posternya yang tidak menarik sama sekali: fabel. Bandingkan dengan begitu inovatifnya Inside Out mengambil personifikasi atas kategorisasi emosi manusia misalnya, pilihan antropomorfisme (memasukan karakteristik manusia ke benda non manusia) dari Zootopia adalah objek hewan yang digiring untuk menggambarkan kehidupan urban manusia. Sungguh tampak usang dari luar kalau saja tidak didukung deretan trailer kreatifnya.

Namun, jangan tanyakan eksekusinya. Sebagaimana namanya, Zootopia yang hampir pasti gandengan kata zoo dan utopia adalah sebuah kota di mana relasi primitif mangsa memangsa antara kaum mamalia dan predator telah punah karena masyarakatnya digambarkan sudah modern dan berpikiran maju. Seluruh hewan hidup harmonis, namun ternyata hanya di permukaan sosial. Kendati bebas dari konflik fisik, masih ada ketimpangan secara struktural. Perbedaan tiap spesies masih meninggalkan stereotip yang berdasarkan pola standarnya berakhir menuju segregasi rasial dan marginalisasi peran serta akses sosial. Slogan “In Zootopia, anyone can be anything” adalah mitos. Tidak ada yang bisa memerdekakan identitas sosial masing-masing spesies. Babi adalah lemah, harimau pasti galak, dan serigala selalu berbulu domba. Film ini memulainya dengan bagaimana Judy Hoops, seekor kelinci ambisius, harus berjibaku menghadapi tindak diskriminasi dalam profesinya di institusi kepolisian dibanding rekan-rekannya seperti banteng, badak, harimau, gajah, yang notabene merupakan spesies yang dipandang lebih unggul dalam hirarki yang laten…. dan sampai di sini, saya bingung sedang menulis sinopsis film animasi atau membuat ikhtisar teori strukturasi Anthony Giddens….

Hasil gambar untuk zootopia

Sama seperti Animal Farm dari George Orwell, Zootopia menggunakan fabel untuk membongkar kebobrokan sosial. Zootopia berhasil memaksimalkan elemen-elemen eksklusif yang hanya dimiliki film animasi untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi, relasi kuasa kaum mayoritas, dan konflik struktur sosial. Bobot narasi ini menyatukan urgensinya terhadap segala usia. Menjahit pesan moral tentang “apa yang salah dan harusnya dilakukan” kepada penonton kanak-kanak sekaligus menunjukan realitas tentang “apa yang kenyataannya sudah terjadi” kepada khalayak dewasa.

Apa yang dialami oleh para predator di bagian konflik film ini melukiskan apa yang terjadi pada misalnya, para kaum Tionghoa atau keluarga partisan PKI di Indonesia. Stereotip dan stigmatisasi adalah peluru pertama untuk menciptakan hegemoni yang melumpuhkan posisi mereka di struktur sosial. Namun, mungkin yang paling dekat dengan situasi hari ini adalah apa yang dialami oleh orang Timur, khususnya warga Papua yang tengah merantau di Jawa. Watak mereka yang keras dikembangkan sedemikian rupa dari mulut ke mulut dan kanal ke kanal untuk membentuk prasangka subjektif bahwa mereka adalah barbarian, senggol bacok, karakter GTA (Grand Theft Auto) hingga penyakit masyarakat. Salah satu tujuannya adalah melunturkan simpati masyarakat pada warga Papua, sehingga ada keraguan dalam menyikapi perjuangan hak asasi manusia dan perebutan kembali hak kekayaan sumber daya alam di Freeport. Korban terdekat, kakak sepupu saya pernah berkata, ”Kayaknya memang sulit juga buat TNI untuk tidak melakukan kekerasan pada orang Papua di sana (Freeport), mereka memang ngawur orangnya”, seakan sumber masalah adalah sifat dasar etnisnya. Ya iyalah, kalau rumahmu dirampok, orang Jawa yang katanya alon-alon kelakon juga bisa menjelma jadi ora wedi getih, tak gajul tugel ndasmu! Ini faktor eksternal, Bung, eh Mas.

Selain narasinya, elemen paling menawan dari Zootopia adalah semesta yang dibangun di dalamnya. Representasi brilian dari problematika kehidupan urban. Bayangkan ada gajah menjual es krim tidak sesuai dengan standar kebersihan makanan, musang yang membuka lapak CD bajakan, dan cheetah yang hobi narsis di ponsel karena bekerja di departemen kepolisian yang menjemukan (ingat dengan ulah Briptu Norman?). Adegan Sloth yang pecah itu juga rasanya menggambarkan lambatnya kerja birokrasi.

Zootopia adalah bentuk karya realisme sosial dalam animasi. Takjub mengetahui bahwasanya justru adalah film animasi yang paling membantu kita memahami realitas di dunia ini, tapi sekejap saya teringat bahwa kelakuan kita akhir-akhir ini memang lebih mirip hewan daripada manusia.

 

Best Lines:

Mr Big : I trusted you Nicky. I welcomed you into my home.we broke beard together. Gram-mama made you cannoli.  And how did you repay my generiosity? With a rug made from the butt of the skunk. A skunk-butt rug. You disrespect me. You disrespect my gram-mama who i buried in that skunk Butt rug.

 

After Watch, I Listen: Animal Collective – FloriDada

Advertisements