Tags

, , , , , ,

Image result for the wailing poster

Mistery, Horror

Na Hong-jin

Saya pernah mendapati sebuah senarai tonton film Korea dengan tajuk “20 Korean Films That Aren’t Oldboy”. Wuaduh, merasa tersindir nih. Soalnya memang cuma Oldboy, satu-satunya sinema Korea yang sudah saya tonton waktu itu. Di pertengahan tahun kemarin, saya akhirnya baru menonton dua film Korea lagi: The Wailing dan The Handmaiden. Dua-duanya keren, tapi kebetulan saya memang selalu kurang nyaman dan sedikit enek dengan pendalaman unsur erotis wanita semacam yang ditampilkan di The Handmaiden, mengingatkan pada film biru legendaris Asia, Sex and Zen. Masyaallah, begini susahnya jika penonton film punya standar akhlak setinggi saya.  

The Wailing sebenarnya pun mengangkat genre yang kurang klop untuk saya. Semenjak hilang kepercayaan dengan hal-hal gaib, saya praktis terhambat untuk menikmati film horor. Film horor bagi saya adalah saudara kembar film fantasi. Elemen-elemen ceritanya sulit direfleksikan pada kehidupan nyata, sebagaimana standar kunci saya dalam merasai dan menghargai sebuah sinema. Selain itu, kendati seseorang tak harus ketakutan untuk bisa diartikan menikmati film horror, tapi kemampuan membujuk bulu roma untuk berdiri seharusnya masih jadi salah satu parameter keberhasilan sebuah film horor. Sepengetahuan saya, membuat orang terhibur lewat medium rasa takut adalah ide dasar reka cipta film horor.

Anehnya, saya merinding menonton The Wailing. Film ini tidak menjual adegan-adegan mengagetkan. Tiada pula membuat saya terus berpikir sesuatu yang tidak masuk akal bakal muncul mendadak ketika saya lewat kuburan tiap pulang dari kantor Warning atau di kantor Hipwee sendiri yang dikenal berhantu oleh para tetangga. Sisi seram yang menerpa saya berasal dari pola sederhana: Siapa antagonis—dalam konteks ini adalah setan—sebenarnya? Ketidakpastian ini yang memproduksi perasaan horor. Nyawa (keluarga) tokoh utama terancam oleh sosok yang belum diketahui, bisa kawan atau lawan. Logika kerja makhluk halus yang selalu dikonstruksi berkekuatan super kian mempertegas ancaman. Ini pola regular film horor, namun misteri bekerja sangat baik di The Wailing.

Image result for the wailing

Setiap film horor supranatural pasti menceritakan omong kosong. Namun, omong kosong di The Wailing sanggup menunjukan betapa ringkih hati manusia, serentan itu dengan tipu daya. Sekali putus asa, manusia adalah makhluk yang begitu mudah terombang-ambing, berganti keberpihakan, dihasut, dan sekonyol-konyolnya adalah beralih ke kuasa klenik. Cerminan masyarakat yang lapuk. Film ini memang mengadaptasi kepercayaan rakyat dan spiritualitas tradisional di Nepal dan Korea, serta sedikit Katolik. Atmosfir wingit masyarakat pedesaan di era modern diwujudkan dengan cemerlang.

Klimaks The Wailing ada pada ending-nya yang enigmatis. Siapa sesungguhnya antagonis-protagonis di film ini belum terjawab memuaskan. Seluruh teman saya yang sudah menonton juga tampak tidak paham dengan apa yang terjadi di film ini. Namun, ambiguitas ini sukses memotivasi saya untuk mengulang-ulangnya kembali. Dan sebagaimana film misteri yang bagus, akan ada banyak orang senggang yang mencoba mendakwahkan penjelasan narasi versi mereka. Nah, ini versi yang paling saya percaya:

INI SPOILER POL, jangan ngeyel:

Korbannya jelas adalah sang karakter utama, Jong-goo dan keluarganya. Sebenarnya, pihak baik di sini adalah si perempuan misterius (Chun Woo-hee). Lalu pihak jahat sebagai sang iblis yang diburu adalah si orang Jepang (Jun Kunimura). Selain terlihat dari wujud fisiknya di bagian akhir, tidak ada juga karakter lain yang kedapatan pernah menyentuh fisiknya secara langsung sejak awal film. Nah, si Syaman (Hwang Jung-min) kemungkinan besar adalah komplotan si orang Jepang. Ada beberapa klu, seperti model busana sejenis ‘popok’ yang dikenakannya ternyata sama dengan yang dikenakan si orang Jepang, dan yang paling jelas adalah adegan terakhir, di mana ia menyimpan banyak foto para korban di desa tersebut. Menurut tafsiran saya, kemungkinan besar si Syaman mulai dikendalikan oleh iblis sejak ritualnya dihentikan paksa oleh Jong-goo. Tapi bisa juga si Syaman memang bekerjasama dengan iblis untuk mencari uang dari pekerjaannya sebagai pengusir iblis itu sendiri. Brengsek.

Best Lines:

Japanese Stranger: You’ll go without doing anything?

Priest: That’s right. I’ll go without doing anything

……

Japanese Stranger: Who says i’m going to let you go?

After Watch, I Listen: Nick Cave & The Bad Seeds – Girl In Amber  

Advertisements