Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk the nice guys poster

Comedy, Crime

Shane Black

The Nice Guys diawali dengan adegan yang patut untuk menjadi video musik lagu-lagu di album Appetite for Destruction milik Guns N’ Roses. Seorang anak kecil berpiyama sendirian mendapati seorang bintang porno telanjang dan terlentang di antara puing-puing kecelakaan mobil yang kemudian berbisik lirih, “How do you like my car, big boy?”. Selanjutnya? Struktur cerita yang janggal dan plot yang seperti ditulis orang yang selesai minum tujuh sloki Johnnie Walker. Saya tidak menonton dan mendengarkan produk budaya pop apapun yang lebih rock & roll dari The Nice Guys sepanjang tahun 2016 kemarin.

Set naskah “buangan” dari rancangan proyek serial TV ini masih seputar wilayah urban Los Angeles 70-an yang berjejal kriminalitas dan intrik dunia hitam. Ryan Gosling berperan sebagai Holland March, seorang detektif yang tidak punya daya penciuman dan ketenangan berpikir. Sementara Russel Crowe bermain sebagai Jack Healy, semacam tukang pukul bayaran yang awal perkenalan dengan Holland adalah dengan memukulinya. Demi mencari seorang gadis ABG bernama Amelie, keduanya diombang-ambing masuk ke skandal film porno–yang ada ceritanya–independen yang ternyata digarap dengan misi menyingkap sebuah skandal yang lebih besar.

Di antara duet keruh itu, ada Holly March (Angourie Rice), putri Holland berusia 13 tahun yang sebenarnya punya posisi tipikal di film-film action: lemah dan diremehkan, tapi kadang menciptakan peluang-peluang penyelesaian masalah yang tak terduga di saat genting. Bedanya, keberadaan Holly tidak membuat kita merasa terganggu seperti karakter-karakter sejenisnya di kebanyakan film lain. Ia berkontribusi di banyak adegan dan dialog kocak, tak mudah membangun tokoh yang seperti ini.

Hasil gambar untuk the nice guys

Alur pengisahan The Nice Guys memang tidak rapi. Merugi jika Anda dipusingkan bangunan jalan ceritanya, nikmati saja dialog-dialog jenaka dan cerdik yang dirias dengan kemasan neonoir yang sedikit komikal. Anggaplah sedang ngobrol sembari mempermainkan seorang teman yang mabuk dan mengoceh tanpa nalar. Sementara sinkronisasi antara tokoh Healy dan Holland adalah keberhasilan terbesar film ini. Keduanya tampil prima untuk melukiskan kekacauan yang muncul dari pertemuan antara detektif yang bertindak sebelum berpikir dengan tukang pukul temperamental.

Elemen caper di film ini berasal dari kasus penuh persekongkolan dan tipu daya yang mesti dihadapi Healy dan Holland. Namun, kebanyakan kejutan sebenarnya bukan dari permasalahan atau trik tokoh antagonisnya, melainkan berasal dari kebodohan tokoh protagonisnya sendiri. Kelanjutan pilihan-pilihan tindakan dari mereka bisa menukik jauh dari perkiraan hingga membuat haluan plot sukar diterka. Belum lagi humor yang menggelantangkan logika. Tentu saja tokoh March paling sering menjadi dalang utama.

Lewat The Nice Guys, saya sudah jatuh cinta pada Gosling tahun ini jauh sebelum La La Land naik layar. Bahkan, semenjak melihat adegan pertamanya di film Big Short (2015), saya sudah yakin orang ini bangsat. Gosling tidak dikenal sebagai aktor film komedi, jejak rekamnya lebih penuh dengan film-film romantis atau drama serius, tapi aura komediknya seakan meluap-luap di tiap gestur dan ekspresinya. Tak bisa dipendam lagi hasrat berandai-andai jika ia kelak bermain untuk Quentin Tarantino atau berduet dengan Samuel Jackson. Atau setidaknya, bagaimana kalau probabilitas adanya sekuel film ini ditindaklanjuti dahulu?

Best Lines:

Holly: You’re the world’s worst detective.

Holland March: I’m the worst?

Holly: Yeah!

Holland March: The “worlds” worst?  

After Watch, I Listen: Red Hot Chilli Peppers – Dark Necessities

Advertisements