Tags

, , , , , , , ,

Hasil gambar untuk lion poster movie

Drama

Garth Davis

Agaknya Lion ialah film internasional dengan tingkat kompleksitas cerita paling ringan yang saya tonton sepanjang tahun 2016 kemarin. Di luar prestasi film ini menyelundupkan enam nominasi Oscar, alasan paling kuat bagi saya mencintai film ini sesungguhnya bukan secara teknis, melainkan asas keterhubungan secara personal dengan kisahnya. Pencarian jawaban perihal riwayat diri yang baru saja saya temukan awal tahun ini. Hanya beberapa hari pasca-jawaban itu datang, saya menjumpai film ini, berempati dengan tokohnya dan sebuah resolusi yang terwakili dalam kalimat dialog berbunyi “i found her but that doesn’t change who you are”.

Sayangnya, saya bukan selebriti sehingga kisah pribadi saya tidak akan menghasilkan uang, jadi tidak ada faedahnya untuk diceritakan di sini. Mending saya memperbincangkan filmnya saja, karena justru lewat itu selama ini ada orang yang mau membayar saya. #ketahuanburuh

Lion mengadaptasi kisah kehidupan nyata yang dibukukan dengan tajuk A Long Way Home (2013) dari Saroo Brierley, seorang pebisnis asal Australia. Saroo sesungguhnya adalah kelahiran India yang terpisah dari keluarganya sejak tersesat seorang diri di sebuah stasiun. Usianya kala itu masih terlalu kecil untuk bisa berpikir dan menanggapi situasi tersasar dengan jernih, sehingga apa yang ia lakukan hanya membawanya terdampar ke sana ke mari, kian jauh dari tempat tinggal keluarganya. Di negara periferal seperti India, teknologi pendataan dan pencarian mungkin belum terlalu canggih pada tahun 1986, ditambah lagi dengan ketidakcakapan Saroo untuk menjelaskan identitas keluarga dan daerah asalnya ke pihak yang ingin membantunya. Ia resmi hilang dan lalu diadopsi oleh sepasang suami-istri di Tasmania, Australia. Selang 25 tahun, tatkala kognisinya dan kemajuan teknologi sama-sama tumbuh dan siap, ia kembali mencari keluarga aslinya.

Separuh jalan film ini dihabiskan untuk menyimak kebingungan Saroo kecil (Sunny Pawar) di lorong-lorong stasiun atau rel pinggiran. Dibalut palet warna kuning dan score melankolis, Davis berhasil menghidangkan sisi panik dan cemas dari Saroo kecil lewat gambar-gambar goyah dan penuh hiruk pikuk. Sementara di paruh akhir film, tepatnya pasca-adegan Saroo dewasa (Dev Patel) kebetulan melihat jalebis—kudapan manis khas India yang mengingatkan pada masa kecilnya, mulailah kita disuguhi babak eksplorasi kebingungan tokoh Saroo dewasa. Ia memutuskan untuk mulai mencari tahu tempat tinggalnya via Google Earth disertai sisa-sisa ingatannya yang lamat-lamat.

Kecewanya, film ini kurang mampu membabarkan metode Saroo mencari posisi rumahnya melalui peranti tersebut dengan detail dan jelas. Saya baru mulai paham tahapan prosesnya memakai Google Earth setelah membuka-buka beberapa artikel tentang kisah asli Saroo. Saya jadi sadar kembali dengan bahayanya kesaktian teknologi ini. Jika orang biasa saja bisa menemukan sebuah wilayah asing yang pasti sudah berpuluh tahun mengalami banyak perubahan, betapa mudah pengontrol utama mesin-mesin itu menguasai segala ruang untuk berbagai kepentingan. Tak ada lagi ruang di atas bumi yang tak terlihat oleh mereka.

Hasil gambar untuk lion movie 

Selain kenangan terhadap jalebis, mungkin momentum hilangnya Manthos (Divian Ladwa) juga mendorong Saroo untuk lebih berusaha keras menemukan keluarga aslinya. Manthos adalah saudara sesama adopsi yang mempunyai sejenis kelainan mental yang membuatnya suka menyakiti diri sendiri. Beda dengan Saroo yang meneruskan hidupnya diiringi kesuksesan di berbagai bidang, Manthos tumbuh dewasa dengan masalah. Tekanan dari Saroo di suatu waktu membuat Manthos ‘ngambek’ dan melarikan diri. Merasa bersalah kepada kedua orangtua adopsinya, Saroo pun mencarinya. Perasaan itu yang bisa jadi mengingatkannya pada kemungkinan rasa bersalah dan nanar yang juga dialami oleh kakak kandungnya di waktu silam ketika kehilangan dirinya di stasiun.

Hampir semua teman saya menyanjung film ini usai menontonnya di bioskop, meski sebelumnya mereka harus dibujuk nonton dengan jawaban dari pertanyaan semacam “Tidak ada joget-jogetnya ‘kan?”. Tolong perhatiannya, Lion bukan film Bollywood. Ini spesies film yang memperlakukan India hanya sebagai set dan konteks. Pun andai menurutkan sesi goyangan lokal tersohor itu, pasti semata disajikan sebagai bumbu dengan kemasan yang tetap lebih dekat dengan atmosfir Hollywood.

Memang paling mudah (atau malas?) untuk membandingkan Lion dengan Slumdog Millionaire, salah satunya karena kehadiran Dev Patel. Selain pertanyaan “Itu yang jadi bocah kampung di Slumdog Millionaire? Kok jadi keren seperti itu?” (Lha memangnya aktor yang pernah berperan jadi bocah kampung hanya punya pilihan tampilan fisik yang kompatibel dengan peran preman kampung atau narapidana ketika dewasa?), pertanyaan lain yang sering harus saya jawab adalah “Kenapa Dev Patel masuk nominasi Best Supporting Actor, bukan Best Actor?” Jawaban pakem tanpa riset dari saya adalah karena ia memang hanya muncul separuh film. Kendati Saroo adalah karakter yang benar-benar sentral di film itu, namun Dev Patel harus berbagi porsi dengan Sunny Pawar—sebagai Saroo kecil—untuk memerankannya. Ini berbeda dengan barisan nominator di Best Actor yang memang muncul dari awal sampai akhir, mengendalikan plot film masing-masing secara utuh. Yah, lagipula saya pikir acting Dev Patel tidak ada apa-apanya dibanding Casey Affleck, Denzel Washington, atau Ryan Gosling. Kansnya justru lebih besar di Best Supporting Actor, walau tidak terhindarkan juga untuk berakhir kandas. Setidaknya ia akan menang jika saja ada kategori Perubahan Wajah Paling Dipergunjingkan di Tahun 2016.

 

Best Lines:

Because we both felt as if… the world has enough people in it. Have a child, couldn’t guarantee it will make anything better. But to take a child that’s suffering like you boys were. Give you a chance in the world.

After Watch, I Listen: Coldplay – Hymn for the Weekend

Advertisements