Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk manchester by the sea poster

Kenneth Lonergan

Drama

“If you could take one guy on an island with you and you knew you’d be safe because he was the best man, that he was going to keep you happy, if it was between me and your father who would you take?”­ – Lee

Lee Chandler (Casey Affleck), seorang tukang reparasi segala rupa harus memakan kembali kata-kata di atas yang ia ucapkan dalam nuansa bersenda-senda pada keponakan kecilnya saat tengah asyik memancing bersama. Sepuluh tahun kemudian, kakak Lee meninggal dunia, dan ia dipasrahi tanggung jawab menjadi wali dari keponakannya yang kemudian sudah menginjak usia remaja tersebut. Salah satu konsekuensinya, Lee mesti pindah ke kota bernama Manchester By The Sea. Masalah terbesarnya adalah Lee punya kenangan nahas di sana. Ia menyebabkan kebakaran rumahnya sendiri hingga tiga anaknya meninggal dunia. Istrinya pun akhirnya meminta cerai. Keluarganya hancur lebur di kota itu. Kepribadian Lee pun berubah drastis setelahnya, muram dan labil. Bisa jadi memang wasiat sang kakak untuk menariknya kembali ke kota itu bertujuan agar Lee berani menghadapi masa lalunya. Namun, tentu tak mudah. Lee memutar otak untuk tidak harus pindah ke sana tanpa meninggalkan tanggung jawabnya.

Lee bisa saja mengajak keponakannya yang bernama Patrick (Lucas Hedges) itu untuk pindah ke Boston, kota pelariannya selama ini. Namun, Patrick menolak. Jelas saja, jika Manchester by the Sea adalah kenangan lara untuk Lee, kota itu justru adalah hidup Patrick. Ia membangun jejaring eksistensi dan pergaulan yang sempurna di sana.

“All my friends are here. I’m on the hockey team, I’m on the basketball team. I got to maintain a boat now. I work on George’s boat two days a week, I got two girlfriends and I’m in a band. You’re a janitor in Queensie. What the hell do you care where you live?” – Patrick

Nalar tidak sanggup membuat Lee menjawabnya. Patrick belum cukup dewasa untuk berempati terhadap apa yang ia lewati. Kedewasaan Lee diuji. Sembari menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya, Lee melewati hari-hari bersama Patrick dengan relasi yang menarik.

Image result for manchester by the sea

Hubungan antara om dan keponakan yang kasual digali menjadi harmonisasi yang realistis. Karakter seorang ‘om’ biasanya memang cenderung lebih terbuka dan liberal menurut relasinya dengan seorang keponakan yang berstatus ABG. Terlihat bagaimana Lee lebih memosisikan diri sebagai kakak dibanding orangtua bagi Patrick kendati tetap ada kekakuan dan ketidaknyamanan pada beberapa konteks interaksi di awal yang kemudian menjadi jenaka, misalnya dialog ketika Patrick pertama kalinya meminta izin menginapkan teman wanitanya di rumah. Bahkan, untuk ukuran orang barat yang punya gaya komunikasi individualistik dan low context, masalah ini tetap ada. Kendati sama-sama melibatkan unsur konflik generasi, namun beda dengan 20th Century Woman atau Fences, “mendidik” bukan problem yang menguntai pada sekujur plot di Manchester by the Sea, melainkan upaya Lee memasukan kepentingan Patrick dalam skemanya untuk berdamai dengan masa lalunya.

Kendati sejak awal saya tahu bahwa Manchester by the Sea bukanlah kota Manchester yang kondang di Inggris itu, namun entah kenapa saya tetap merasa ada cita rasa british di film ini. Bisa karena sugesti, lebih mungkin karena atmosfir subtilnya. Salah satunya didukung oleh pembawaan karakter yang dingin sekaligus emosional dari Casey Affleck. Trofi Oscar adalah ganjaran dari kecemerlangannya menampilkan dua personalitas yang jauh berbeda dalam satu tokoh. Tampil sebagai Lee di versi perwatakan sebelum tragedi kebakaran terjadi maupun versi perwatakan pasca-kebakaran, Affleck membuat kita percaya semuanya muncul dari satu tokoh yang sama. Sebuah kinerja luar biasa dari Affleck, meski saya pikir bukan ide buruk juga jika peran sebagai Lee sebelumnya benar-benar disikat oleh Matt Damon.

Manchester By The Sea ialah contoh film yang bisa memberikan efek sentimental dari cara yang tidak bisa dibedah dan dianalisa secara selayang saja. Bukan sekadar dari naskah maupun dramatisasi di adegan-adegan tertentu. Semua aspek produksi begitu korelatif membangun emosi. Padahal, gejala konflik film ini baru menjengul di paruh tengah film berjalan, namun kita bisa terbujur kaku di depan layar sejak awal.

Best Lines:

“Who are you going to shot? You or me?”

After Watch, I Listen : Bon Iver – 33 God 

Advertisements