Tags

, , , ,

 

Image result for fences poster

Drama

Denzel Washington

Bagi saya, menonton Fences ibarat makan Big Mac. Salah satu alasan kenapa saya akan tetap terhalang beban moral-kuliner untuk menjadi Marxis—entah sebanyak apapun buku Tan Malaka yang saya baca—adalah karena saya sangat doyan hamburger di McDonald. Apalagi Big Mac. Favorit. Porsinya lebih dari memenuhi hajat indra pengecap saya, kendati saya sampai harus menguras keringat dan meluangkan banyak waktu untuk melahapnya habis. Kerepotan tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Saya juga sangat doyan dengan film yang memuat dialog-dialog cepat, intens, dan cerdas. Fences benar-benar memenuhi selera itu, sebuah film dengan dialog bertubi-tubi. Favorit. Saking rapatnya, penonton bisa tersesat hanya karena menonton disambi memotong kuku atau makan makanan yang merepotkan seperti makan bubur ayam pakai sumpit yang beda panjangnya. Saya juga sempat kewalahan dengan dialog-dialog yang memberondong di film ini, mengingat ada pertemuan antara kecakapan bahasa Inggris saya yang pas-pasan dan situasi menonton di mana saya tetap dituntut melayani penulis Hipwee yang minta approval ide artikel via whatsapp.  Kerepotan, tapi enak. Berlebih, tapi nikmat.

Diadaptasi dari naskah sandiwara pemenang Pulitzer Prize di tahun 1987, kisah Fences berpusat pada Troy (Denzel Washington), seorang kulit hitam yang punya watak sempit hati dan penuh antipati. Ia membenci semua hal yang ada di hidupnya selain istrinya (Viola Davis). Amarahnya terhadap struktur sosial yang menyudutkan kaum kulit hitam di masa mudanya masih terus menyala-nyala kendati orang-orang di sekitarnya meyakinkannya bahwa zaman sudah mulai berubah. Ia selalu skeptis terhadap segala situasi di sekitarnya. Saya pernah bertemu beberapa orang dengan karakter seperti Troy, yang mana keras kepala, bawel, arogan, gemar menggurui–yang kadang berujung membual. Orang sejenis ini kecenderungannya pun tak merasa nyaman jika tidak dominan, terlihat dari bagaimana Troy selalu meminta dukungan dari Bono (Stephen Henderson), sahabatnya untuk melegitimasi celotehannya.

Image result for fences movie

Ada banyak problematika yang lahir dari tabiat Troy ini, tapi yang paling berkesan bagi saya adalah relasi dengan anak-anaknya. Ia punya dua putra. Yang pertama adalah Cory (Jovan Adepo) yang merupakan buah hatinya bersama Rose, serta Lyons yang berasal dari perkawinannya sebelumnya. Sebagaimana 20th Century Woman, terdapat konflik generasi orangtua-anak dalam narasi film Fences. Hanya saja, beda dengan karakter Dorothea (Annette Bening) dalam film itu yang memang berupaya memahami perbedaan konteks zaman, Troy sengaja menutup diri. Kolot garis keras. Ia memaksa Cory untuk memprioritaskan keterampilan perburuhan paruh waktunya daripada bakatnya sebagai pemain American Football. Begitu juga sindiran pedasnya pada Lyons yang kerap mengalami kesulitan finansial karena kukuh mengejar mimpinya sebagai musisi daripada mencari sesuap nasi lewat pekerjaan kasar. Tentu ini adalah tipikal orangtua yang tidak pernah kita suka, tapi bukankah kita cukup dewasa untuk memahami motif mereka? Selaiknya kita mengingat sisi cerewet orangtua kita sendiri yang dulu gemar kita bantah, namun beroncet-roncet kita makin sadar ada benarnya. Apalagi sejak kita mulai bisa memahami cerita-cerita masa kecil mereka, sama seperti bagaimana kita mengenal apa saja yang sudah dilalui Troy dalam kehidupannya.

Basil Bernstein, dalam pendekatan sosiolinguistiknya menyebut pola interaksi keluarga semacam ini tergolong dalam kategori positional relation. Kuasa, tanggung jawab, dan keleluasaan berkomunikasi dari masing-masing anggota keluarga diberikan berdasarkan posisinya di struktur keluarga. Ini ditekankan dari sebuah dialog di mana Troy mengatakan bahwa adalah semata tanggung jawabnya sebagai ayah yang membuatnya berkomitmen untuk banting tulang menghidupi keluarganya, bukan karena alasan romantisme dan lain sebagainya. Setiap posisi memiliki tanggung jawab dan peran. Sangat kaku, tapi ini lazim terjadi di dekade 50-an. Model hirarkis ini biasanya didasari ketakutan atas ragam interaksi yang tak terkendali jika setiap anggota keluarga memiliki kuasa yang sama. Ini seusai dengan pagar (fences) yang dibuat Troy untuk membatasi pekarangan rumahnya sebagai metafora upaya Troy menjaga pengaruh buruk masuk dan menginterupsi kehidupannya.

Hanya ada tujuh karakter yang ditampilkan secara fisik di film ini dan semuanya memiliki penokohan yang kuat, kendati Denzel Washington dan Viola Davis jelas mendapat kredit tersediri. Denzel tampil trengginas membawakan karakter paling cerewet sekaligus dominan yang pernah saya tahu, baik saat nuansa hati Troy sedang baik atau buruk. Sementara Viola Davis tak ada cela memerankan istri yang sederhana dan berdedikasi dalam pekerjaan domestik, serta mampu menjadi penawar alotnya kelakuan Troy. Keduanya sukses mempertanggung jawabkan peran yang sangat signifikan dalam sebuah film yang mengenyangkan dan bergizi.

Best Lines:

Troy: Like you? I go outta here every morning, I bust my butt ’cause I like you? You’re about the biggest fool I ever saw. A man is supposed to take care of his family. You live in my house, feed your belly with my food, put your behind on my bed because you’re my son. It’s my duty to take care of you, I owe a responsibility to you, I ain’t got to like you! Now, I gave everything I got to give you! I gave you your life! Me and your Mama worked out between us and liking your black ass wasn’t part of the bargain! Now don’t you go through life worrying about whether somebody like you or not! You best be makin’ sure that they’re doin’ right by you! You understand what I’m sayin’?

After Watch, I Listen: Kanye West – Ultralight Beam

 

Advertisements