Tags

, , , ,

Image result for buku teori komunikasi littlejohn

Pic : Pustakahidayah.co.id

Masih dalam rangka program kejar suapan akademis biar tidak modal mangap saja pas masuk semester dua kuliah nanti, buku ini adalah literatur dasar yang jadi favorit saya. Isi bukunya sangat teoritis, tapi tersusun rapi dan cukup enak untuk memperkaya perbendaharaan teori ilmu komunikasi. Yah, tujuannya agar tidak cuma paham teori kultivasi melulu. Ketebalannya sebanding dengan faedah yang saya dapat.

Teori Komunikasi memetakan beragam ulasan teori ilmu komunikasi berdasarkan tujuh tradisi, meliputi semiotik, fenomenologis, sibernetika, sosiopsikologis, sosiokultural, kritis, dan retorika. Dari kacamata personal, saya melihat fungsi pemetaan tujuh bidang tradisi dalam teori komunikasi sedikit banyak adalah sebagaimana adanya apa yang dikenal dengan aliran musik atau genre sinema. Dalam khazanah seni musik misalnya, bagaimana musik yang bisa dideskripsikan sebagai “nada atau suara yang tersusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan” tentu membuka ruang terciptanya karya-karya musik dengan model yang begitu luas. Sehingga untuk melihat dan mengenal kecenderungan-kecenderungan karakter olah musikal tiap karya, perlu diciptakan pengelompokan seperti yang kita kenal dengan musik rock, blues, metal, jazz, dangdut dan lain sebagainya. Fungsi praktis dengan adanya aliran musik itu adalah kemudahan dalam kritik musik, kajian akademis, atau juga kepentingan bisnis seperti segmentasi hingga branding penjualan karya. Kendati begitu, aliran musik tak pernah menjadi batasan tegas dalam kategorisasi antara satu karakter musik dengan yang lainnya. Sah-sah saja menyebut Slank sebagai band rock sekaligus blues, atau Iwan Fals sebagai musisi pop, folk, rock, atau apapun. Mudah menemukan unsur musikal yang serupa antara satu aliran musik dengan yang lain. Mereka tidak terpisah antara satu dengan yang lain. Bisa dibilang antara tiap jenis musik itu selalu punya kecenderungan yang sama, tentu selama mereka tetap berpegang pada “nada atau suara yang tersusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan.” Fungsi kategorisasi aliran musik pada akhirnya memang hanya sebagai sarana cara pandang kita saja.

Begitu juga tradisi dalam teori komunikasi yang dikenalkan oleh Profesor komunikasi Universitas Colorado, Robert Craig. Salah satu karakter ilmu komunikasi adalah sifat keilmuannya yang teramat kaya dan sensibel. Definisi perihal komunikasi yang biasa disimplifikasi menjadi “who says what in which channel to whom with what effect” atau segala proses gerak informasi terdapat dalam hampir segala sendi kehidupan manusia. Maka, tujuh tradisi dicetuskan untuk memudahkan kita melihat beragam teori ilmu komunikasi berdasarkan kecenderungan atau karakter tertentu. Namun, seperti halnya aliran musik, masing-masing tradisi juga tidak terpisahkan satu sama lain dan bisa dipertemukan karena sifatnya cair. Selain itu mesti dipahami juga bahwa tidak ada satu pun tradisi yang memberikan kontribusi pada setiap aspek komunikasi sekaligus. Meski bisa saling menolak satu sama lain, mereka juga dapat saling melengkapi. Karya Craig ini bisa disebut dengan metamodel, karena merupakan sebuah model untuk melihat sebuah model perspektif, yang dalam kerja fungsinya adalah untuk memahami gejala-gejala, permasalahan, atau realitas komunikasi yang terjadi di masyarakat.

Lalu apa saja teorinya? Wah, saking banyaknya jadi malas menulis satu pun di sini. Sementara belum ada peluang unjuk manfaat baca buku ini ke dunia perkuliahan, saya malah sudah sempat menggunakannya untuk menghasilkan tulisan artikel di Hipwee yang bertajuk “6 Alasan Kenapa Tak Cuma Anak Sains dan Bahasa, Tapi Anak Komunikasi Juga Wajib Nonton ‘Arrival’”. Di dalam artikel yang sentimen pembacanya positif namun tidak laku itu terdapat referensi tiga teori ilmu komunikasi yang saya comot dari buku ini.

Kebanyakan teori memang bisa bikin kita bermutasi jadi Anies Baswedan asyik sendiri dengan gagasan-gagasan yang bertebaran sampai terlalu jauh meninggalkan perkenalan dengan realitas yang beragam. Akan tetapi, tanpa teori juga kita bakal kesulitan membaca permasalahan secara lebih konseptual dan sistematis. Seks saja yang berbasis pada naluri terdasar umat manusia ada teorinya, apalagi mau lulus.

Advertisements