Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk bersiap mempelajari ilmu komunikasi buku

Pic: Sibukmainbuku.blogspot 

Waktu liburan semester yang tak seberapa itu saya habiskan untuk membaca buku-buku akademis. Wuih, giat sekali pemuda millenial ini. Tidak ada pilihan lain. Soalnya kalau sudah masuk waktu kuliah, tidak ada banyak waktu tersisa untuk pegang buku selain kepentingan tugas kuliah. Pun kalau ada peluang senggang di antara ajang perkuliahan, masa bacanya juga lagi-lagi buku akademis? Aristoteles saja mungkin juga bisa muntah paku kalau dikasih bacaan teori-teori melulu. Huaah, ini memang adalah momen di mana saya sudah tak ambil peduli lagi jika dibilang sok sibuk.

Saya mulai dari buku dengan tajuk ala pemula: Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi. Sempat agak menyesal juga kenapa saya beli buku semacam ini. Takutnya, isinya definisi-definisi belaka. Namun, ternyata tak seburuk itu. Kontennya tidak terlalu ditujukan pada amatir, dengan kata lain: isi buku ini bikin pusing juga. Walaupun memang ada bagian-bagian kurang penting berupa bab-bab teknis menghadapi dunia perkuliahan seperti trik membaca buku dengan cepat, teknik menulis esai, manajemen waktu, dan lain sebagainya. Percuma, karena yang paling saya butuhkan sebenarnya adalah “metode lancar titip absen tanpa terlihat seperti seorang bajingan di kelas”

Bahasan paling mengesankan adalah bagian awal buku ini, meliputi perkenalan ilmu komunikasi. Kenapa kita perlu belajar ilmu komunikasi? Ini adalah pertanyaan yang dulu kerap saya bedah bersama para sekutu bolos kolektif di zaman S1 sambil meratapi perkembangan kiprah akademis kami yang begitu-begitu saja. Kami mengalami krisis kepercayaan terhadap keilmuan sendiri. Membandingkan dengan jurusan teknik mesin, elektro, atau pertanian yang sepertinya begitu konkret dan cerah faedah keilmuannya untuk masa depan. Sementara apa yang kami lalui dalam proses belajar ilmu komunikasi adalah selalu masuk kelas di injury time, mempelajari hal yang mengawang-awang, dan mengerjakan tugas dengan metode kolase hasil copas blog sana dan sini. Sudah kacau begitu, ketika lulus nantinya cuma ditanya,”Oh, lulusan jurusan komunikasi ya? Kerja di Telkom dong…”

Pertama, buku Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi menjawab bahwa kita harus membedakan  antara komunikasi sebagai kecakapan umum dan komunikasi sebagai objek dan sarana analisis. Perbedaan ini sudah mendasari perkembangan ilmu komunikasi sedari awal. Untuk komunikasi yang turun langsung ke industri dan teknis, pada sejarahnya masuk pada pelatihan kejuruan. Beda lagi dengan ilmu komunikasi sebagai perkakas kritis menganalisis berbagai proses sosial. Yang terakhir ini yang saya geluti, dan jelas bukan demi kerja di Telkom.

Kajian komunikasi dalam pendidikan tinggi muncul setidaknya dari dua rangkaian pemikiran dan kajian di berbagai universitas pasca-perang dunia. Dalam sosiologi ada tradisi sosiologi media, atau sosiologi komunikasi massa. Dari tradisi intelektual inilah Centre for Mass Communication Research dikembangkan di Leicester University pada 1966. Tradisi lain adalah kesusastraan Inggris, dalam bentuk yang akhirnya menjadi Cultural Studies.

Program Cultural Studies mungkin lebih berkonsentrasi pada representasi dan konstruksi identitas, bersama dengan berbagai pertimbangan tentang selera dan konsumsi budaya, dan berbagai persoalan tentang gender, etnisitas, atau disabilitas. Mata kuliah Kajian Komunikasi mungkin lebih berfokus pada berbagai teori tentang makna serta kajian tanda dan bahasa. Bagian signifikan dari waktu sebagai mahasiswa komunikasi dihabiskan dalam kerja analisis teks (foto, program televisi, iklan, film, peristiwa,) dan berita.

“Komunikasi merupakan salah satu aktivitas manusia yang dikenali semua orang tapi hanya beberapa orang bisa mendefinisikannya secara memuaskan,”

Lihat, definisinya saja belum dipastikan tapi sudah sampai punya banyak sarjana dan lulusan. Begitu konyol mata kuliah ini. Disiplin ilmu komunikasi berada dalam keadaan perubahan terus-menerus. Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang sudah terlanjur menggantungkan masa depannya di keilmuan ini adalah mencoba mengonstektualkan definisi-definisi yang ada dipandang dari segi pengaruhnya.

Sekali lagi, kenapa mesti dipelajari? Semoga saya sudah bisa menjawabnya sebelum jatuh miskin karena harus bayar UKT 9 juta per semester.

Advertisements