Tags

, , , , , , ,

Hasil gambar untuk rocks off book the rolling stones

 

Ketika John Lennon menyebut solo gitar Keith di lagu ‘It’s All Over Now’ adalah sampah, Keith membalas dengan menyebut The Beatles memakai ‘strap’ gitarnya terlalu tinggi: ‘No wonder you can only rock, no wonder you can’t roll’”

Sejak lama saya melihat ada anomali menarik dari eksistensi The Rolling Stones di kalangan anak muda sebaya saya. Begundal-begundal asal London ini seperti memiliki popularitas semu. Rasanya semua anak muda kenal dengan nama The Rolling Stones (walau kalau disuruh menuliskan pasti ejaannya kerap tertukar dengan majalah Rolling Stone) atau Mick Jagger. Tapi nama sebatas nama. Apakah mereka tahu lagu-lagunya? Seperti halnya dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Anies Baswedan akhir-akhir ini: meragukan.

Saking curiga campur penasaran, saya sempat bikin riset kecil-kecilan. Silahkan dicoba juga. Minta saja kenalanmu yang masuk generasi Y atau Z untuk per-orangnya menyebutkan minimal lima judul lagu The Rolling Stones. Saya kok cukup yakin mereka bakal tergagap-gagap menjawabnya. Kenapa? Karena hasil riset saya menunjukan itu, Bahkan, sampel alias teman-teman yang menurut saya cukup punya jam terbang di semesta budaya populer atau menyandang status sosial “cah musik” hampir tak ada yang bisa menyebutkan lebih dari 3 lagu saja. Itu pun “Paint It Black” yang pernah kondang di video games Guitar Hero jadi yang paling sering disebut.

Semua kawula muda umumnya akrab juga dengan nama The Beatles, dan selemah-lemahnya iman seharusnya mereka cukup familiar dengan “I Wanna Hold Your Hand”, “Hey Jude”, atau “Yesterday”. Lain dengan The Rolling Stones. Sama-sama ikonik, karya-karyanya seperti tak setangguh logo meletnya dalam bertahan digerus laju zaman. Padahal, menurut banyak sumber (baca: orang-orang tua), The Rolling Stones sempat jadi band wajib yang paling banyak dikulik anak muda di era kejayaan Aktuil. Slank adalah salah satu kanal pengaruh terbesar The Rolling Stones, namun semua itu mulai bablas di masa generasi digital yang besar dengan Blink 182, Linkin Park, atau My Chemical Romance ini. Bahkan, “(I Can’t Get No) Satisfaction” yang menempati peringkat kedua di lis 500 Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone (majalah nih, tanpa ‘The’ dan ‘s’) saja tak banyak yang tahu menahu.

Yah, riset saya cuma di lingkup internal sih, jangan dianggap terlalu serius. Namun, kalau ada orang yang cukup nganggur untuk mau mengembangkan asumsi ini, bukan tidak mungkin  bisa berujung pada indikator yang membedakan keawetan karya The Beatles dan The Rolling Stones.

Yang pasti-pasti saja, gara-gara ini saya jadi bisa jemawa karena merasa menang telak referensi musik dari sejumlah lingkaran pergaulan jika sudah bicara The Rolling Stones. Sebagai oknum yang memproklamirkan “Sympathy For The Devil” sebagai lagu terbaik sepanjang masa serta masih rela membeli album fisik Beggars Banquet dan Let It Bleed, saya resmi masuk sebagai partisan #teamRollingStones.

Jangankan ditanya lima lagu, 50 lagu saja bisa saya jabani. Apalagi setelah baca buku Rocks Off: 50 Tracks That Tell The Story of The Rolling Stones ini. Nggak cuma judul, tapi saya bisa ngoceh sedikit tentang trivia-trivia atau latar belakang dari masing-masing lagu.

Mau mulai dari lagu apa? “The Last Time” yang disebut sebagai lagu pertama The Rolling Stones dengan riff khas mereka? Lantaran Mick Jagger dkk mengawali kiprah dengan repertoar blues, “The Last Time” yang dirilis pada tahun 1965 kemudian menjadi salah satu nomor rock up tempo pertama mereka. Jejak-jejak keserasian tiada tara antara duet gitar dan drum mulai terlacak di sini. The Rolling Stones adalah satu dari langkanya grup band saat itu di mana drummer benar-benar patuh pada rhythm guitar-nya.

Lantas jika ditanya apa yang membuat “(I Can’t Get No) Satisfaction” begitu dipandang bersejarah, mahakarya ini berperan penting membuka pasar lebih luas dari The Rolling Stones sekaligus meneguhkan citra mereka sebagai artis yang bicara seks lebih banyak dari artis kulit putih manapun. Bocorannya, terdapat kesalahan teknis di dalam lagu tersebut. Dan itu ada di bagian salah satu riff terpopuler di dunia. Terdengar suara klik pedal fuzz di detik 0.35 dan 1.36 yang telat masuk.

Sementara nomor “Under My Thumbmenjadi salah satu lagu mereka yang mengundang kritik dari kesadaran feminisme. Seringkali memang sisi ugal-ugalan Stones mengarah pada pengerdilan kaum perempuan, misalnya dalam lagu “Stupid Girl”, “Some Girl” dan “Bitch”. Bahkan, mereka sempat dilabeli sebutan anti-women. Apes juga sih mengingat lagu ini rilis (1966) bertepatan dengan era pertumbuhan gerakan dan ide-ide feminisme. Lagu yang populer dengan instrumen marimbanya ini mengusung baris lirik semacam “She’s the sweetest pet in the world”. Namun, Jagger berkilah bahwa lirik-lirik itu sekadar pengalaman masa muda dan refleksi kejengkelan atas hubungan yang berakhir buruk dan groupies yang posesif.

Dan saya sulit bersabar untuk menunda membuka ulasan lagu “Sympathy For The Devil”. Rocky Dijon, seorang drummer Afrika berkontribusi pada drum conga, sementara Charlie Watts memainkan tabla drum India. Beat samba mengisi seantero lagu, dan satu-satunya suara gitar adalah solo yang mengoyak-oyak di bagian pertengahan hingga akhir lagu. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan wanita di bagian intro yang kemungkinan besar adalah milik Anita Pallenberg dan Marianne Faithfull. Amatan Bill Janovitz terhadap makna yang terkandung dalam lirik lagu ini tidak jauh berbeda dari interpretasi saya sebelumnya. Perihal ambisi jahat yang bersembunyi di hati manusia. “Who killed the Kennedys?” / ”You and me”. Bayangkan lagu ini meluapkan energi carut marutnya kondisi Amerika saat itu di mana penuh kepanikan moral dan anak muda dianggap sebagai ancaman. Kekerasan dibalas kekerasan. Inspirasinya diambil dari novel satir dan alegorikal asal Rusia pemberian Faithfull bertajuk The Master and Margarita karangan Mikhail Bulgakov. Buku ini pun juga dikembangkan dari adaptasi Johann Wolfgang Goethe terhadap legenda Faust, yang bercerita tentang seorang samaran iblis. Jauh sebelum heavy metal makan kelelawar, “Sympathy For The Devil” sudah merangsang gidik ngeri para pemuka agama untuk melaknat musik rock & roll sebagai musik iblis.

Pasca-membaca Rocks Off: 50 Tracks That Tell The Story of The Rolling Stones sembari memutar satu per-satu lagu bersangkutan yang diulas tiap babnya, saya berprasangka jika karakter musik The Rolling Stones memang membuat materi mereka lebih mudah dilupakan dibanding kepunyaan The Beatles. Tidak terlalu dibutuhkan selera sound dan sensibilitas 60-an dalam menikmati The Beatles, beda dengan warna blues kering yang terdengar sangat lawas dari The Rolling Stones. Entah bagaimana logika sebab-akibatnya, namun rasanya zaman lebih mengikuti jalur musikal yang diciptakan oleh The Beatles dibanding The Rolling Stones. Wajar, jika adikarya-adikarya Mick Jagger dkk mandek di pertengahan dekade 70-an.

Biarlah, The Rolling Stones memang lahir dan mati sebagai antitesis dari The Beatles. Toh, posisi oposisi ini juga yang ambil andil membesarkan mereka. Jika mau dirunut, kontra-Beatles adalah logika jualan dari The Roling Stones yang digagas dan dirintis oleh Andrew Loog Oldham selaku manajer pertama mereka. Misalnya, dirinyalah yang membangun pondasi dasar dari citra urakan The Rolling Stones sebagai bentuk antagonisme terhadap kenecisan Beatles. Oldham juga adalah produser yang baik. Kendati tak terlalu paham tentang teknis, tapi ia bisa membaca gambaran dan arah yang tepat bagi perkembangan musik Stones. Hasilnya? “The Beatles want to hold your hand, but The Rolling Stones want to burn down your town” – Tom Wolfe

#teamRollingStones.

 

Advertisements