Tags

, , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. A Tribe Called Quest – We The People

“We don’t believe you ’cause we the people “ Sebuah nomor rap ganas berjebah kata kunci anti-Trump di dalam liriknya. Intoleransi, kulit hitam, LGBT, imigran, islam, dan rakyat! “All you Black folks, you must go / All you Mexicans, you must go / And all you poor folks, you must go / Muslims and gays, boy, we hate your ways” Rilis sepekan pasca-hasil perhitungan suara keluar, memang lebih baik membentuk barisan daripada menyesali mimpi buruk.

9. Kanye West – Famous

“Famous” menghasilkan video musik dan lirik paling kontroversial tahun ini: I feel like me and Taylor might still have sex / Why? I made that bitch famous (Goddamn) / I made that bitch famous Kenapa orang ini suka sekali mencari sensasi? Mungkin alasan belum ada yang berinisiatif membuang Kanye West ke dasar lautan adalah karena kombinasi lantunan Rihanna, kord Nina Simmone, serta sample “Bam-Bam” dari Sister Nancy itu nyata, dan belum bisa ditemukan selain dari otaknya.

8. Hamilton Leithauser + Rostam – A 1000 Times

Kolaborasi mantan vokalis The Walkmen dan bekas multi-instrumentalis Vampire Weekend ini menampilkan pendekatan pop lawas yang anehnya justru terdengar  baru. Termasuk juga lirik asmara kompulsif yang sederhana tapi begitu kuat. Leithauser bernyanyi dengan aksentuasi yang berkobar-kobar pada chorus repetitif, seakan baru akan berhenti usai kerongkongannya berdarah. Siap didengar seribu kali.

7.Car Seat Headrest – Drunk Driver / Killer Whales

Car Seat Headrest menganalogikan seorang pengendara mabuk dengan paus pembunuh (orca). Sama-sama membahayakan sekitarnya, padahal sesungguhnya keduanya hanya ingin pulang ke rumah. “We are not a proud race / It’s not a race at all / We’re just trying / I’m only trying to get home. Toledo memang bersenandung seperti alkoholik yang didera sejuta masalah dan angin malam. Lagu ini tentang penyesalan dan renungan. Kabar buruknya, akan ada banyak remaja yang merasa mendapat anthem untuk berkendara sambil mabuk.

6. Nick Cave and The Bad Seeds – Girl In Amber 

Just step away and let the world spin / And now in turn, you turn / You kneel, lace up his shoes, your little blue-eyed boy ” Cave melibatkan sang istri, Susie Bick dalam salah satu kepingan kontemplatif dari bagaimana ia menghadapi tragedi yang baru saja menewaskan putranya. Ada ketegaran yang syahdu dalam pilihan kalimatnya, “I used to think that when you died you kind of wandered the world  / In a slumber till you crumbled, were absorbed into the earth / Well, I don’t think that any more.” Akhirnya, dengarkan bagaimana setiap getaran suara di lagu ini turut berbelasungkawa.

5. White Lung – Dead Weight

Tidak ada kata pemanasan untuk album Paradise, “Dead Weight” langsung membuka paksa dengan banyak tanda seru, “A pound of flesh lays between my legs and eyes”. Apakah ingar bingar melodi gitar yang menggeliang-geliut menyerupai synthetizer itu sedikit terdengar seperti metalcore? Tunggu dulu, lagu ini tentang konformitas gender, “So spare your good seed, I’m getting bored and old.” Hanya punk rock yang bisa membuat lirik setajam itu.

4. Rae Sremmurd feat Gucci Mane – Black Beatles

“Love those Black Beatles #MannequinChallenge,” tulis penggawa Beatles, Paul McCartney yang turut berkontribusi pada viralitas meme tersebut. Meski tak disengaja, namun “Black Beatles” memang punya kedalaman komposisi yang membuat kita tersedot dan mematung di dalamnya. Yang pasti lagu ini sukses menjadi artefak kultur digital yang lebih luas. John Janick, kepala label Interscope berucap, “Tanpa Mannequin Challenge, lagu ini tetap akan menjadi hit. Tapi dengan Mannequin Challenge, ini menjadi dahsyat.”

3. David Bowie – Lazarus

Salah satu swan song terbaik yang pernah dirilis. Look up here, I’m in heaven / I’ve got scars that can’t be seen” kanker livernya yang tak terjamah media massa menjemput nyawanya pada 13 hari setelah lagu ini dirilis sebagai single. Jika Kurt Cobain memilih “to burn than fade away”, David Bowie memilih menjadi kekal. Seperti dalam kepercayaan nasrani, Lazarus dibangkitkan lagi oleh Yesus. Sebuah atraksi kekuatan tuhan untuk menangkal akhiran. I’ve got drama, can’t be stolen / Everybody knows me now,” Bowie pun menegaskan bahwa tak ada yang mampu mengakhirinya. Kemegahan ”Lazarus” membuat dunia tidak akan melupakannya, baik saat hidup maupun momen kematiannya.

2. Bon Iver – 22 (OVER S∞∞N)

22, A Million diawali dengan latar loop merinding yang disambut suara-suara asing bertutur “two, two”. Justin Vernon memang terobsesi dengan angka 22, dan kita tak harus tahu alasannya. Sejak kapan kita memahami apa yang dilakukan dan diciptakan olehnya? Fundamen yang memperantarai unsur digital lain seperti sample “How I Got Over” dari Mahalia Jackson dengan unsur organik berupa saksofon, kocokan gitar dan vokal teduh Vernon? Atau lirik, “There isn’t ceiling in our garden / And then I draw an ear on you / So I can speak into the silence?  Semua yang ada di lagu ini terdengar nyaman tanpa harus terdengar padu. Upaya artistik yang mempreteli keserasian demi membangun pesona yang lebih kokoh.

1.Radiohead – Daydreaming

Sama seperti In Rainbow (2007) dengan “Reckoner”, A Moon Shaped of Pools menyimpan sebuah single yang dahsyat. Saya kian curiga kita selama ini sudah dikendalikan oleh mereka. Di saat kompleksitas sudah menjadi natural bagi komposisi-komposisi Radiohead, kita tak pernah bisa lari jika tiba-tiba mereka dengan sengaja memberikan sensibilitas pop di salah satu lagunya. Satu lagi bukti konspirasi kontemporer ini adalah “Daydreaming”, karya mereka yang bahkan lebih sinematik dari ”Exit Music (For A Film)”. Meruang dan membius bak musik latar film-film kolosal ataupun adegan-adegan klimaks psychological thriller. Semua partikel aransemen sangat presisi. Efek pitch-warping di intro, permainan piano yang memandu imaji mengelilingi sekujur lagu, hingga biola orkestra yang menggeram dan mengambil alih nuansa. Teruntuk yang bersedia menyelami lebih jauh, telisik juga manipulasi vokal dari pesan lirik tersembunyi di bagian akhiran, “half of my life“, “I’ve found my love“, dan “Every minute, half of my love“. Lagu ini memang tentang rentang masa yang berlalu dan hilang dari kehidupan Thom Yorke (vokal). Yah, setidaknya kita tak akan pernah kehilangan dirinya. Bagaimana bisa jika sampai di dekade ketiganya pun Radiohead masih menciptakan karya terbaik?

Advertisements