Tags

, , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. Elephant Kind – True Love

Sentuhan elektronik yang berkilat membuat sisi modern dan mewah dalam aransemen City J membuntang, namun kocokan gitar indie rock di “True Love” adalah babak terbaiknya. Cinta sejati akan Elephant Kind bisa ditemukan dari bagaimana Ezra Koenig tengah jamming di malam kelabu dengan Arcade Fire.

9. Shaggydog feat Sujiwo tejo  – Pion

Lagu Shaggydog yang paling politis sekaligus apolitis. “Pion” adalah luapan apati dan mobilisasi untuk memilih bergoyang menghadapi kejemuan kondisi sosial politik. Ada ekspresi kebobrokan zaman pada isian saksofon bernada Minang dan lantunan suluk berupa tembang macapat Asmaradhana serta Maskumambang dari Sujiwo Tejo. Dalam koor “na na na na” yang semarak itu, ribuan kaki rakyat ska menggetarkan daratan.

8. Young Lex feat Gamaliel – Slow

Komentar terbanyak untuk lagu ini adalah “Yang bikin bagus itu Gamaliel-nya”, dan “Bakal lebih bagus kalau nggak ada Young Lex”. Entah siapa menguntungkan siapa, tapi “Slow” punya level berbeda di antara lagu rap asal-asalan keluaran jejaring Youtubers kelas menengah yang berlomba-lomba panjat sosial. Bukan hanya signifikan untuk musik rap lokal, pamor lagu ini di radio menunjukan ada potensi kemunculan corong baru di strategi bisnis industri musik kita. Lagipula, mengingat reputasi Young Lex, mana mungkin lagu ini tidak spesial jika melihat jumlah like-nya di Youtube bisa berlipat kali lebih besar dari dislike-nya.

7. Bars of Death – Tak Ada Garuda di Dadaku

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu,” ujar John F. Kennedy yang lantas diadaptasi Bung Karno untuk memantik semangat militansi terhadap Tanah Air. Militansi dungu selayaknya mereka yang terpesona oleh Nara Rakhmatia, sosok yang tahun ini dianggap menyelamatkan martabat kita dengan menyembunyikan kejahatan HAM negara di hadapan global. Apalah arti citra atau nama baik kalau hanya untuk melanggengkan imperialisme atau penjajahan? Apalah arti jargon “garuda di dadaku” dalam pertandingan timnas yang mau menang berapa kosong pun tetap tidak akan membuat tanah-tanah kita kembali? Nasionalisme kian membutakan, maka lagu ini memaksamu memuntahkan sang garuda yang sudah tercabik menjadi darah dan nanah. Merah dan putih!

6. Tulus – Ruang Sendiri

Tulus kembali sanggup menangkap sudut pandang problematika asmara sama tajamnya dengan yang ia tulis di “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” dari album Gajah (2014). Menurut hematnya, frekuensi bertemu atau berinteraksi yang terlalu intens dalam sebuah hubungan percintaan justru berujung tidak sehat. Tulus membangun argumen-argumen lewat liriknya yang hangat. “Bila kita ingin tahu / Seberapa besar rasa yang kita punya / Kita butuh ruang, lantunnya sebegitu petah lidah, dan dialog ditutup dengan pengutaraan yang bestari,“Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin / Hingga aku lupa rasanya sepi / Tak lagi sepi bisa kuhargai.” Lewat empuknya melodi dan jelajah putarnya di radio, bukan tidak mungkin ada banyak konflik terpendam yang terwakilkan dari pasangan-pasangan di luar sana selain melulu soal komitmen.

5. Rich Chigga – Dat $tick

Awalnya kami sendiri butuh melakukan verifikasi berulang terkait viralitas “Dat $tick”. Kami sangsi apakah sang remaja dengan polo merah jambu dan tas pinggang Reebok yang menyanyikannya benar-benar orang Indonesia, bukan penduduk Chinatown yang baru saja pindah ke pinggiran New York. Selain wajah peranakan Tionghoa membuat kewarganegaraannya tak teridentifikasi dari segi fisik, ia juga melancarkan bahasa inggris secara amat fasih dalam lirik berdiksi kompleks perihal friksi gangster yang tentu tidak terbayang muncul dari kepala ABG Indonesia. Belum lagi kita bicara teknis flow dan delivery di dalamnya yang amatlah canggih. Ada Jogja Hip Hop Foundation yang berhasil mendunia dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh barat. Rich Chigga justru menawarkan sesuatu yang semirip mungkin dengan yang dimiliki oleh barat, sialnya ia tetap saja berhasil.

4. Tika & The Dissidents – Tubuhku Otoritasku

Kartika Jahja sudah dikenal luas akan kiprahnya mendukung emansipasi gender. Namun, “Tubuhku Otoritasku” adalah ekspresi terkuat di jalan juangnya sebagai musisi. Feminisme atau kesetaraan gender memang adicita besar non hitam-putih yang sampai berabad pun masih membawa pertentangan, seringkali hanya karena keliru dipahami. Bahkan, tak sedikit yang melihatnya sebagai upaya muluk sebagian kaum wanita untuk menundukkan kaum laki-laki. Perhatikan, “Tubuhku Otoritasku” menyuguhkan lirik yang berupaya menjawabnya tanpa berbelit-belit. Lewat irama rock & roll, jawaban itu dilontarkan dengan simpatik namun juga tegas, “Ini untukmu, sahabatku, laki-laki. Tanpa izinku, kau tak masuk ke wilayahku”. Jika masih saja bingung, “Hormatku lahir dari hormatmu” semestinya cukup menjelaskan esensi semuanya.

3. Dialita – Ujian

Ibu Siti Jus Djubariah ialah seorang guru yang menjadi tahanan politik 1965 di Bukit Duri, Jakarta. Beliau menggubah lagu bertajuk “Ujian” demi menyemangati ratusan wanita lain dalam bui untuk menghadapi ketidakpastian akan masa kini dan masa depan. “Dari balik jeruji besi hatiku diuji / apa aku emas sejati atau imitasi”,bunyi lirik paling membekas di album Dunia Milik Kita dari Dialita. Vokal paduan suara yang berlapis-lapis itu laksana ketegaran yang tiada habis walau tiap hari dikikis. Lebih-lebih, Frau menunaikan tugasnya lebih dari yang diharapkan, solo piano yang melantun di pertengahan lagu adalah salah satu performa terbaik yang pernah kita dengar darinya. Tak terbayang lagi betapa emosional proses rekaman lagu ini.

2. Libertaria – Orang Miskin Dilarang Mabuk

Saya mengidap kelainan berupa ketidakmampuan untuk bergoyang mengikuti irama dangdut. “Orang Miskin Dilarang Mabuk” kemudian adalah lagu dangdut pertama yang sanggup membuat saya bergoyang, hingga akhirnya saya sadar alasannya. Ternyata irama lagu ini memang bukan dangdut, melainkan beat elektronik yang justru sedikit berkarakter hip hop. Di luar keterlibatan vokal dari Farid Stevy Asta, melodi kibor yang mbeling itu rasanya juga akan relevan untuk terselip dalam lagu FSTVLST. Selain inovatif di sisi aransemen, konten lirik dari tembang ini pun sangat kontekstual di momen rilisnya wacana RUU larangan minuman beralkohol sebagai tindak lanjut beragam Perda larangan miras sebelumnya. Padahal mandam untuk kaum papa bukan lagi perkara moral, agama, atau dampak kesehatan yang didramatisir. Ini soal kesenjangan kelas, “Bagi orang kaya mabuk itu gampang / Buka botol import Karena banyak uang / Miras nenek moyang malah dilarang”. Dangdut bicara ciu? Kemelaratan? Mangkel pada pemerintah? Bukan sesuatu yang baru. Justru ini yang menunjukan kejelian Marzuki menghidangkan problem sosial yang sudah akrab dengan akar rumput, seraya memobilisasikannya ke isu yang lebih substansial. Mulus, tanpa terasa memaksakan intelektualisme elite. “Stres itu adalah hak asasi / Orang miskin juga butuh kanalisasi.” Dangdut dan alkohol adalah kanalisasi rakyat. Libertaria mengoplos keduanya dengan takaran yang cespleng. Jika benar dangdut adalah darah rakyat Indonesia, lagu-lagu seperti “Orang Miskin Dilarang Mabuk” diharapkan menjadi bakal leukimia stadium 4.

1.Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Tahun 2016 adalah tahun yang berat untuk Ananda Badudu. Kakeknya yang merupakan pakar bahasa Indonesia termahsyur, J.S Badudu tutup usia di bulan Maret. Lantas, kebetulan selang beberapa menit setelah saya menulis draf awal ulasan ini, Banda Neira resmi memublikasikan pembubarannya. Dari beberapa sumber media, Nanda terlihat begitu emosional melakoni hari-hari pertama dari tamat kiprahnya bersama Rara Sekar yang sebenarnya tengah dalam kondisi terbaik secara pengaryaan. Banda Neira adalah contoh artis dengan progres musikalitas yang layak disebut bermetamorfosis karena amat signifikan tumbuh kembangnya. Di era album Berjalan Lebih Jauh (2013), saya pribadi melabeli mereka sebagai salah satu musisi paling overrated. Hanya sepasang muda-mudi yang menyanyikan lagu-lagu puitis dengan kocokan gitar, kapasitas vokal, dan tata rekam seadanya. Kesederhanaan yang berdasar pada ketidakcakapan. Namun, mereka tiba-tiba menemukan apa yang seharusnya lahir dari kesederhanaan itu dengan sound yang lebih pantas, aransemen yang berisi, dan vokal yang lebih merdu di album kedua. Semua segi meningkat mencapai titik kelayakan. Dan sudah konsensus khalayak rasanya jika nomor bungsu “Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti” adalah mahakarya mereka. Harmonisasi yang apik (siapa bisa menafikan suara dua dari Rara itu?) melagukan lirik yang akan susah dicabut dari kepala dan lubuk. “Patah tumbuh, hilang berganti” ialah aforisme perihal bahwasanya apapun akan menemui masa gugurnya, namun niscaya juga akan silih sambut oleh yang baru. Patah hati, patah semangat, patah arang, apapun akan terganti. Nanda sendiri menyebut “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” sebagai lagunya yang paling berkesan sekaligus melukiskan situasinya yang masih dirundung duka perpisahan. Banda Neira meninggalkan kita di saat terbaiknya, tatkala “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” siap menjadi anthem generasi melankolia yang senantiasa digilir oleh asa dan pupus. Karena di negara dunia ketiga seperti kita, harapan adalah satu-satunya yang bisa diperjuangkan.

Advertisements