Tags

, , , , , ,

Maklum ya kalau sebagian sama dengan daftar Warning Magazine

10. Hellcrust – Kalamaut

Hasil gambar untuk hellcrust kalamaut

“Terserah orang mau ngomong apa, ada empat orang bekas Siksakubur, mau dibilang Siksakubur ‘perjuangan’ atau semacamnya, tetap saja musiknya beda sama Siksakubur,” tukas Japra, sang vokalis kepada Rolling Stone. Berlilit pengaruh melodik dan thrash, jejak Siksakubur yang paling terasa hanyalah naluri destruktifnya. Andyan Gorust begitu sadis membantai drumkit, sementara masuknya Japra di akhir pembentukan formasi Hellcrust berimpak langsung pada penulisan lirik bahasa Indonesia yang bagus tanpa kehilangan brutalitas. “Mantra Pariwara” dan “Pancung Suara” menunjukan gegap gempita metal tak menghalanginya mengenal permasalahan kemanusiaan yang lebih luas. Terakhir, kualitas produksi suara yang mantap membuat semua kelebihan-kelebihan itu bisa dipresentasikan secara maksimal.

9. Mustache and Beard – Manusiaku, Manusiamu, Manusianya

Hasil gambar untuk mustache and beard manusiaku

Di tahun kelima tren musik folk di Indonesia berjalan, ternyata masih ada karakter berbeda yang bisa disuguhkan. Suara seruling dan vokal melayu dalam gema reverb yang gersang di Manusiaku Manusiamu Manusianya menciptakan imajinasi seakan ada padang pasir di Kota Bandung. Liriknya yang kontemplatif juga menyumbang keutuhan nuansa. Kendati pemuisian seperti “Pada siapa kau bertanya / Harap bumi yang terlupa / Sinar surya yang menua / Takkan lagi peluk kita” membuka ruang tafsir yang begitu luas, namun kita percaya ada amanat religius di sana. Coba dengarkan sekitar azan subuh, Anda akan bergegas ambil air wudhu  berharap surya tak pernah terburu-buru.

 

 

8. Mondo Gascaro – Rajakelana

https://i1.wp.com/www.rollingstone.co.id/image/2016/12/30/e7fd94a3_Mondo-Gascaro-Raja-Kelana-650.jpg

Dua tahun meninggalkan salah satu band paling berbakat di negeri ini, Mondo Gascaro menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Sebebas angin menerbangkan dirinya pada terpaan ombak selaba yang dirayakan oleh harmonisasi vokal yang elok dan silir semilir suara sesi strings. Selain pengaruh The Beach Boys, warna musik Sore sendiri (seperti yang diharapkan) terpatri secara sah di Rajakelana. Hanya saja jika Sore merengkuh eksotisme urban, maka Rajakelana menawarkan atmosfer pesisir yang diejawantahkan di antaranya melalui penggunaan instrumen-instrumen tropikal seperti alat petik asal wilayah kepulauan di Jepang pada “Butiran Angin”. Hikmah dari perpisahannya, hari ini kita jadi punya dua sumber musik sebagus ini.

7. Rajasinga – III

Hasil gambar untuk rajasinga iii

Dalam cengkeraman Rajasinga, grindcore tak hanya ngebut sampai tujuan. Kita akan diseret melewati rute penuh pengkolan, jalan berlubang, atau apapun yang bisa kita nikmati tiap kegilaannya. III punya lagu berdurasi sekuku ala Napalm Death, atraksi gitar slide bluesy, atau colongan riff “Smell Like Teen Spirit”. Walau sangat eksploratif, tapi substansi pesan yang mereka bawa justru konkret, misalnya lewat lirik “Orang pintar, tapi tak berpijar / Masalah kami di negri ini!” atau “Rumah sakit, untuk yang berduit / gele-gele belum legal, sakit masih mahal”. Bahkan sebuah nomor plesetan pancasila berbunyi “Kemanusiaan yang suram dan tiada!” dan “Kerakyatan yang dipimpin oleh entah siapa / dalam persekongkolan dan keragu-raguan” pun terasa bukan sekadar intermezzo. Rajasinga masih (izinkan tetap meminjam tajuk album kedua mereka) kurang ajar!

 

6. Raisa – Handmade

Hasil gambar untuk raisa handmade

Satu bukti lagi bahwa independensi adalah kebutuhan progresivitas untuk musisi hari ini, termasuk mereka yang berkiprah di tataran industri arus utama. Handmade yang digarap mandiri melalui label Juni Records (sama dengan album perdana Barasuara) adalah album terbaik Raisa sejauh ini. “Jatuh Hati” lebih dulu menaklukan tahun 2015, sementara “Kali Kedua” kian meningkatkan kecurigaan bahwa Dewi “Dee” Lestari punya bakat seperti Eross Candra dalam menggarap lirik pop yang mandraguna. Puas juga mendengar Raisa bernyanyi dengan didukung produksi aransemen yang modern dalam “Sang Rembulan” dan “Nyawa dan Harapan”. Handmade tahun ini sukses menyunggi Raisa untuk mengimbangi Tulus sebagai agen tembang radio paling kompeten.

5. Elephant Kind – City J

Hasil gambar untuk elephant kind city j

Bersama kontribusi dari seorang Lee Buddle, kualitas produksi suara City J memang mumpuni. Namun, jika hanya itu, Elephant Kind tidak akan lebih dari barisan kolektif pop urban electronic hambar yang hanya bermodal keluaran sound jernih, punya synthesizer, dan vokalis bersuara bagus. Elephant Kind menyandang materi yang memang solid dan impresif, itu persoalannya. Mereka gemerlap seperti Phoenix atau Two Door Cinema Club dalam “Beat The Ordinary” dan “Keep It Running”, rancak menyerupai Vampire Weekend (“Love Ain’t Rockies”), dan mengerucut pada beat-beat R&B di “Montage”. Harga rilisan fisiknya kemahalan? Selalu ada cara untuk setiap album yang bagus.

4. Tulus – Monokrom

Hasil gambar untuk tulus monokrom

Monokrom adalah kepastian dari karakter Tulus di album sebelumnya yang fenomenal, Gajah (2014). “Pamit” bahkan menunjukan perkembangan aransemen yang mencolok lewat alunan orkestra megah yang sanggup tetap terdengar bersahaja. Sisanya, tetap lagu-lagu yang melenakan, merayu bibir untuk bersenandung. Selain “Ruang Sendiri”, “Tukar Jiwa” adalah contoh kejelian Tulus memilih perspektif lirik asmara: “Aku kehabisan cara tuk gambarkan padamu / Kau di mata dan pandanganku / Seandainya satu hari bertukar jiwa / Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya” Terasa santun dan sewajarnya, alih-alih mendramatisir nestapa. Hampir selalu ada kebijaksanaan dalam konflik yang ia sampaikan. Selama Tulus masih menatap ke depan, langkah raksasanya akan sulit dirobohkan.

3.The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

Hasil gambar untuk the trees & the wild zaman zaman

Salah satu kegagalan musikal paling fatal di tahun kemarin adalah Mumford and Sons yang gantung banjo demi menggarap album rock alternatif yang membosankan. Ada gejala yang sama pada The Trees And The Wild, nekat menanggalkan akar musik yang sudah persisten demi menjajaki teritori yang baru. Mujur, masih ada akal sehat dan kebijaksanaan dalam langkah radikal kuintet ini. Siratan kesejukan folkish di antara sampling dan belantara noise adalah determinan yang meloloskan mereka dari lubang jarum. Itu adalah satu dari beberapa elemen lama dari Rasuk (2009) yang tidak terjelaskan secara teknis, namun dapat dinikmati dalam atmosfer noise dan shoegaze yang meruang. Zaman, Zaman selaiknya suara-suara hutan yang riuh dan mistis dalam Princess Mononoke. Kian sering didengar, album ini sejatinya tak lebih berat dicerna daripada Rasuk. Detail aransemen mereka menyimpan hook, dan selalu datang dan pergi di saat yang tepat (coba dengar “Saija”). “Tuah/Sebak” ialah selayang salam untuk Iga Massardi, bagai versi extended cut dari “Api dan Lentera” milik Barasuara. Kita pun diantar di zaman banyak orang Indonesia mengaku bisa menikmati sebuah lagu berdurasi lebih dari dua digit dengan lirik implisit yang semata diulang-ulang. Magis. Belajar dari Mumford And Sons, berani memang bukan pangkal baik. Namun, begitu menyenangkan untuk tahu bahwa salah satu album terbaik tahun ini sekaligus adalah album paling berani.

2. Dialita – Dunia Milik Kita

Hasil gambar untuk dialita dunia milik kita

Mengais ingatan gejolak 1965 ialah sesuatu yang amat menggairahkan dalam setidaknya empat tahun terakhir. Tak terhitung karya seni yang meminjam sejarah itu untuk memperkuat nilai artistik atau modal pemasarannya, maupun sebagai wacana yang disampaikan. Namun, Dialita tidak pernah meminjam, 1965 adalah milik mereka. Partitur-partitur lampau dan kelompok paduan suara beranggotakan keluarga atau mereka yang pernah ditahan atas tragedi itu adalah saksi hidup. Suara-suara sintas yang belum terlambat dijemput oleh Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud dan beberapa pengampu aransemen terindah lainnya di negeri ini. Arman Dhani butuh 2311 kata untuk menceritakannya. Dengan tetap merasa bersalah, saya rangkum sebisanya: Mendengar Dunia Milik Kita laksana mendengar dongeng Sangkuriang dari Dayang Sumbi. Kita menangis karena tahu suara inilah yang mengarungi segala yang terucap, hanya demi akhirnya sungguh sampai kepada kita.

1. Libertaria – Kewer – Kewer

Hasil gambar untuk libertaria album

Marzuki Mohamad alias Kill The DJ adalah figur yang gemar menggunakan musik sebagai medium untuk bicara dengan masyarakat. Mulai dari “Jogja Istimewa”, “Jogja Ora Didol”, sampai segala ikhtiarnya mengantarkan Jokowi ke Istana. Jelas perlu putar otak untuk melakukannya seefektif mungkin. Jika dulu harus melarutkan bahasa Jawa ke musik hip hop, kali ini ia menciptakan aliran musik sendiri yang terdengar hantam kromo, yakni post dangdut elektronika. Begitu juga kolaboratornya: mulai dari Riris Arista yang memang biduan dangdut tulen, Farid Stevy Asta sebagai kesayangan remaja artsy, sampai Glenn Fredly. Satu lagi upaya memperantarai kelas, dan hasilnya ternyata tak sewagu konsepsinya. Tanpa mengurangi apresiasi terhadap aransemen garapan Balance yang berhasil memperbaiki pandangan saya terhadap dangdut elektronik (oh, musik koplo itu sampah hanya karena selalu digarap sembarangan), kepekaan lirik adalah aset pokok Libertaria. Ada wacana besar yang ditawarkan di tiap goyangan “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, “Interupsi” dan “Citra Itu Luka”. “Citra itu mahal cantik itu luka / Hidup sibuk untuk mengejar yang fana” bisa diselundupkan ke lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Sementara “Rakyat sedang sibuk  repot dan tak punya waktu / maka ngurus negara kami wakilkan kepadamu / kami ingatkan bahwa rakyat itu majikan / anggota dewan statusnya hanyalah pembantu” seharusnya didendangkan Rhoma Irama di rezimnya. Pertanyaan terbesar saya tahun ini selain apa yang ada di balik kepala Habib Rizieq dinding Benua Antartika adalah mengapa Marzuki tidak melakukan apapun pasca-konser rilisnya album ini. Dilahirkan, lalu ditinggalkan begitu saja. Alhasil, mungkin tidak banyak media yang ngeh dengan eksistensi album ini. Kalau sudah begini ‘kan blog ini jadi seperti punya selera yang aneh. Saya juga yang kena.

Advertisements