Tags

, , , , ,

Hasil gambar

Pic: Mojok Store

Berkubang di ranah media massa, baik dalam lingkup akademis maupun pencarian nafkah, membuat saya beberapa kali mendengar nama Wisnu Prasetya Utomo. Ia kerap terlibat dalam penulisan atau proyek-proyek literatur yang berkaitan dengan wacana pers dan jurnalisme, termasuk sebagai penyunting buku Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca Orde Baru yang saya khatamkan bulan lalu serta salah satu buku favorit saya tahun ini, Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme.

Gara-gara eksistensinya yang familiar, saya mengira ia adalah seorang wartawan veteran yang mungkin mencicipi pengalaman sebagai anggota Persma meliput peristiwa 1998. Agak kaget kemudian ketika membaca bagian profil penulis di kumpulan esai bertajuk Suara Pers, Suara Siapa? ini. Sial, kelahiran 1989. Pasca saya mengonfirmasi ke seorang teman kuliah, ternyata Wisnu adalah senior saya di kampus Ilmu Komunikasi UGM. Ia adalah angkatan 2007. Wiuw, masih satu generasi. Satu lagi pendukung asumsi saya bahwa jagoan-jagoan sebenarnya di kampus itu justru mereka yang tidak banyak kelihatan atau mengumbar eksistensi di kalangan adik angkatan.

Lanjut ke bukunya. Memang sebagian besar isu yang diangkat di Suara Pers, Suara Siapa? tidak terdengar baru atau mengejutkan. Saya rata-rata sebelumnya juga sudah menangkap adanya permasalahan dari fenomena-fenomena yang dibicarakan Wisnu, semisal terdapatnya praktik komodifikasi di kematian Olga Syahputra, perbedaan elektabilitas dan popularitas yang kadang tidak dipahami oleh para kandidat, atau pembingkaian kasus Sitok Srengenge yang tentu jadi bahan teman-teman menggunjingkan Goenawan Mohamad dan Tempo. Namun, analisis dari Wisnu sedikit banyak tetap menawarkan lensa yang baru untuk memindai kembali isu-isu tersebut.

Artikel favorit saya adalah “Media dan Terorisme” dan “Terorisme, Media Sosial, dan Kita”. Keduanya mengingatkan saya bahwa senjata utama teroris sejatinya bukanlah dinamit atau senjata api, melainkan media massa. Teror adalah suatu kondisi yang menyebabkan ketakutan akan sesuatu yang akan (dan berarti belum) terjadi. Teror adalah pesan yang butuh disampaikan melalui medium. Ledakan-ledakan itu hanya akan menjadi kriminalitas, bukan teror, andai saja wartawan tidak berbondong-bondong mengerubungi seperti semut dan gula. Media massa dimanfaatkan. Apalagi jika wartawannya tidak akurat dan terburu-buru dalam melakukan pemberitaan, atau malah melakukan dramatisasi.

Masalah lain lagi muncul ketika media mereduksi aksi terorisme hanya sebagai aksi kelompok fundamentalis agama. Ia lepas dari konteks besar bahwa teror yang diasosiasikan dengan gerakan-gerakan asal Timur Tengah ini sebenarnya adalah perang melawan agresi Amerika Serikat. Noam Chomsky menyebut istilah terorisme dalam media mengalami pembusukan—bahwa aksi itu hanya berarti apa yang dilakukan terhadap kita (Amerika Serikat dan negara koalisinya), tapi tidak berlaku untuk aksi teror yang kita lakukan kepada mereka. Koar-koar “perang melawan teror” dari pemerintahan George Bush seyogianya dikaji ulang menjadi “teror melawan teror”.

Dibanding kumpulan esai di Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca Orde Baru, wacana yang diangkat di Suara Pers, Suara Siapa? memang cenderung lebih sewarna. Mereka yang tak sungguh berminat dengan wilayah pemberitaan media dan jurnalisme saya pikir bisa segera bosan sejak bagian sepertiga awal. Mungkin Wisnu semestinya bisa lebih mengembangkan gaya membangun dan merajut paparannya dengan lebih menarik dan merangsang kesan. Yang saya sadari adalah jarangnya Wisnu memberikan contoh kasus pasca melempar asumsi yang seringkali teoritis. Sebelum kita benar-benar mencerna argumennya—yang tentu ditimbang berdasarkan apa yang kita lihat di dunia nyata—sudah keburu disusul dengan argumen lain, dan lainnya lagi.

Yah, tapi mengingat beliau hanya terpaut 3 tahun di atas saya, ia tetap teladan. Muda dan berbahaya bergerilya.

 

 

Advertisements