Tags

, , , , , , , ,

Hasil gambar

Dua bulan terakhir, buku ini menjadi gaman saya dalam menghadapi barisan mata kuliah di semester pertama perkuliahan program pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM. Cukup sering jadi perigi referensi untuk tugas presentasi atau paper. Entah itu soal ekonomi politik media, jurnalisme penyiaran, konstruksi konten, atau problematika lain yang terkait dengan praktik produksi dan konsumsi televisi. Misalnya artikel dari Azhar Irfansyah bertajuk “Rutinitas Berita dan Sinisme Terhadap Buruh” yang saya pinjam sebagai contoh kasus kebutuhan wartawan memahami teori-teori budaya seperti serba-serbi Marxis agar mampu memposisikan diri mengambil perspektif yang lebih jernih dalam menggarap berita tentang demonstrasi buruh. Biar koran-koran itu tidak melulu merilis artikel dengan judul semacam “Pasca Demo Buruh, Jalanan Penuh Sampah”, “Buruh Ini Ikut Demo Kenaikan Gaji dengan Mengendarai Motor Gede”, atau “7 Alasan Buruh Adalah Calon Imam yang Paling……. Eh ini sih judul Hipwee   😦

Namun, pada akhirnya saya memang terbesit untuk memasukan kritik pertelevisian sebagai konten di Hipwee. Selama ini saya terbuai dengan pemikiran naif bahwa banyak orang sudah meninggalkan televisi. Mungkin itu karena saya tinggal di lingkungan berpopulasi mahasiswa pseudo-modern yang memang sudah berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke dunia maya. Layar smartphone yang rata-rata cuma sebesar kartu Yu Gi Oh itu saya pikir sudah benar-benar mengokupasi eksistensi kotak ajaib yang justru kalau tidak salah pasaran harganya makin miring. Akan tetapi, saya lupa jika sinetron Anak Jalanan faktanya masih sebegitu populer—justru agaknya bukan di kalangan anak jalanan. Tak terhitung juga anak kecil yang mungkin lebih hafal lagu kampanye Perindo daripada single anyar Noah. Kala dua tahun lalu sempat tiga bulan merantau di Jakarta, saya pun tinggal dalam keluarga yang momen kebersamaanya adalah “makan malam dengan menonton televisi di ruang tengah”. Kendati ini pun masih hanya asumsi tanpa riset, tapi yakinlah prematur jika kita menganggap televisi sudah tergantikan oleh media online.

Kabar baiknya, anak muda jaman sekarang sepertinya sudah sedikit perseptif, bahkan kadang sampai sinis buta dengan tayangan televisi. Kesimpulan kali ini saya ambil dari pantauan terhadap kecenderungan komentar pembaca Hipwee terhadap isu-isu pertelevisian. Yah, walaupun kebanyakan keluhan masih sekadar kejengahan akan acara gosip ataupun sinetron, yang mungkin bukan didasari kesadaran kritis atau literasi media, melainkan hanya karena tidak mau terlihat seperti emak-emak.

Padahal, seperti diingatkan lagi dengan buku Orde Media ini, sejatinya ada banyak aspek lain yang bisa dikritisi dalam jagat pertelevisian. Termasuk aspek-aspek yang sederhana. Tidak harus selalu masalah konglomerasi media dalam konteks netralitas pemilu atau sejarah kemunculan televisi nasional-swasta dalam membentuk regulasi penyiaran hari ini. Tak perlu paham akan teori kultivasi dari George Gerbner atau konsep komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi untuk bisa melihat sesat peran televisi.

Salah satu topik paling menarik dari buku ini adalah artikel “Kotor Itu Duit: Cerita Tentang Iklan Produk Pembersih Televisi”. Di angkatan generasi Ayah-Ibu saya dulu, hanya perlu satu atau dua produk pembersih untuk menuntaskan segala permasalahan noda di keseharian. Namun, semakin ke sini, kita dihadapkan kebutuhan memiliki sabun mandi, sabun muka, pembersih wajah, sabun cuci piring, pembersih lantai, deterjen, hingga hand sanitizer. Bukan tidak mungkin di masa depan akan ada produk sabun untuk onani. Itu pun masih dibagi jadi dua: (1) sabun untuk pelicinnya, dan (2) sabun untuk cuci tangan setelah melakukannya.

Artikel besutan Maria Dovita ini lantas memaparkan bagaimana iklan sabun terus saja mengonstruksi kembali apa itu bakteri, noda, bersih, dan pembersih. Untuk mensosialisasikan standar kebersihan baru yang konsumtif itu, kita akhirnya disuguhi dengan uraian bahwa bakteri itu ada di mana-mana, tidak kelihatan, dan sangat jahat. Lewat istilah-istilah biologis “bayaran’’ dan visualisasi kuman yang didesain begitu mencekam dan narasi yang didramatisir, kita dituntun pada kesimpulan bahwa bakteri adalah biangnya penyakit membahayakan, sementara jerawat atau baju yang tidak putih cling bisa mengacaukan harimu dan membuat seret jodoh. Mungkin karena “Cuma BUKRIM yang Bisa Begini”.

Ketika bicara sinetron, ternyata pun ada segudang masalah lain yang bisa diolok selain cerita yang monoton atau acting yang bombastis. Misalnya adalah ketiadaan sense of place dalam rumah-rumah di sinetron. Seharusnya, sebuah rumah dengan ornamen-ornamen di dalamnya sebagai latar tempat bisa koheren dengan bangunan cerita. Namun, yang terjadi selama ini, rumah hanya seperti set simbolik yang mentah, hingga perannya semata menyerupai dekor. Coba simak bagaimana ruang keluarga Haji Muhidin dalam Tukang Bubur Naik Haji tidak mengalami perubahan berarti dari episode satu sampai lima ratus. Nihil adanya adegan yang membuat penghuni rumah dalam cerita memiliki emosi khusus dan kesan kedekatan terhadap rumahnya. Kerja sinematografi selama ini juga tidak mendukung karena mayoritas pengambilan gambar sangat kaku.

Selain rumah, sinetron juga menyandang cacat dalam segi representasi profesi. Muhammad Heychael dalam artikel “Sinetron, Rasionalitas dan Pengabdian” bicara tentang dimensi kerja yang tidak cukup digambarkan secara layak dalam sebagian besar sinetron. Sebut saja pekerjaan domestik yang hampir selalu ada dalam sinetron, yakni satpam dan pembantu rumah tangga. Selain frekuensi kemunculannya yang minor, peran satpam dalam sinetron hampir pasti sekadar membukakan gerbang bagi majikannya atau menyambut karakter yang hendak mengunjungi rumah majikannya. Satpam hampir tak pernah diposisikan sebagai subjek, melainkan hanya objek. Sementara itu Pembantu Rumah Tangga juga tak jauh berbeda. Pembantu yang baik dan buruk biasanya hanya dinilai dari apakah ia berpihak pada pemerean utama atau tidak, bukan pada kualitas kerjanya dalam melaksanakan kewajiban sebagai pembantu itu sendiri. Bahkan, dalam beberapa sinetron yang menceritakan tokoh utama sebagai pembantu pun dimensi kerja dari profesi pembantu itu tak cukup ditampilkan dengan penalaran yang baik. Mengingat film yang baik adalah yang bisa menyuguhkan pemahaman lebih jernih terhadap realitas, absennya kompleksitas kerja dalam sinetron layak dipandang sebagai masalah.

Adalah Remotivi yang sanggup menangkap isu-isu tersebut. Sebagai sebuah lembaga pemantau media, memang sudah tugas dari Remotivi untuk menghasilkan produk semacam artikel-artikel ini. Pantas, mereka dimusuhi banyak perusahaan televisi. Dalam artikel “Panggil Aku Wartawan” dari Indah Wulandari, diceritakan saat Remotivi menghubungi Wakil PemimpIn Redaksi RCTI, Eddy Supraptountuk mengonfirmasi kebenaran adanya aturan internal perusahaan RCTI perihal perbandingan 80-20 persen (Prabowo Hatta – Jokowi Kalla) untuk frekuensi pemberitaan cawapres Pemilu 2014 lalu. Eddy hanya menyahut,”Maaf, Remotivi kan membenci RCTI dan MNC. Kalian lebih hebat daripada kami. Meski kami kerja dan praktik 25 tahun, tapi Seputar Indonesia di mata kalian tidak ada apa-apanya. Terimakasih.”

Sensi amat. Kebanyakan dengar mars Perindo nih.

Advertisements