Tags

, , ,

Hasil gambar

Pic: bukusosial.blogspot.com

Erie Setiawan ialah pemimpin Lembaga Pusat Informasi Musik “Ärt Music Today” yang berlokasi di Yogyakarta. Ia banyak menulis dan menggarap proyek-proyek kerjasama antar musisi serta program-program multi disiplin. Cukup kentara bahwasanya seorang Erie ini memang punya ambisi untuk mengintroduksikan korelasi antara seni musik dan kehidupan sosial manusia dalam kegiatan-kegiatannya. Judul buku ini pun terang benderang: Musik Untuk Kehidupan.

Tentu saya satu suara jika bicara perihal peran musik dalam seluk beluk kehidupan umat. Sayang, jika menilik buku Musik Untuk Kehidupan, bahasan yang ada rata-rata sudah sering saya temukan di berbagai literatur atau diskusi-diskusi sekitar. Seperti perihal pentingnya idealisme bermusik di era transisi bisnis industri hari ini, potensi lokalitas yang kurang digarap dengan baik oleh pemerintah, atau pun musik anak yang lambat alun menuju kepunahan. Yang cukup segar adalah artikel “Lapis ‘Kasta’ Bernama MP3” yang ditulis untuk Indonesia Netlabel Union dalam peringatan hari kelahiran MP3. Tapi seperti kecenderungan anti-klimaks di artikel-artikel lainnya, ulasan sudah tamat justru ketika saya mulai bisa meraba kedalaman substansinya.

Di buku ini, Erie juga mengindikasikan harapannya untuk lahirnya banyak penulis dan tulisan-tulisan tentang musik. Terutama tulisan musik yang berbasis ilmu pengetahuan, agar tidak semata dimonopoli oleh akademisi. Art Music Today sendiri memiliki sub-usaha berbentuk penerbitan yang coba ia manfaatkan sebagai fasilitas untuk mereka yang berminat terjun ke dunia kepenulisan. Dalam upaya ini, Musik Untuk Kehidupan  sudah layak dijadikan contoh dan pemantik.

Atas etos-etosnya, tak berlebihan jika Erie dianggap sebagai aktivis musik. Namun, dengan segala kerendahan hati, bolehlah saya memberi saran agar ia juga lebih memperhatikan teknis kepenulisan dasar, terkait tatanan EYD atau gramatikal  🙂

 

 

Advertisements