Tags

, , , , , ,

Hasil gambar

Pic: Olx.co.id

Herry Sutresna alias Ucok ‘Homicide’ di mata saya–dan saya kira juga mereka yang belum kenal pribadi dengannya—menyerupai mitos. Sosok idealis pelahap buku-buku kiri yang bermusik untuk menyalurkan ambisi politik revolusionernya. Hampir segala kabar angin yang berhembus perihal dirinya selalu mengerucut pada penegasan citranya sebagai ikon musik politis bawah tanah Indonesia. Seorang pegiat hip hop Bandung pernah menyebutkan bahwa Ucok sudah merapalkan lirik-lirik pembacaan Kapital sejak rapper sebayanya masih berkoar-koar tentang menghisap ganja di trotoar. Seorang Idhar Resmadi juga sempat bercerita bahwa Ucok pernah menerima pertanyaan—yang tidak lazim ditanyakan pada seorang musisi di era iPhone 7–dalam suatu diskusi terbuka yang berbunyi: “Menurut Anda, bagaimana masa depan marxis di Indonesia?” Ucok adalah radikal, anarkis, marxis, ateis, subversif, dan segala mite sekularitas lainnya.

Saya dan seorang kawan pun sempat ngakak berulang tatkala menonton video Rolling Stone tentang opini jujur Efek Rumah Kaca terhadap para pembuat lirik terkemuka di Indonesia. Ketika nama Ucok yang diajukan, muncul ekspresi kocak dari Cholil yang bereaksi lirih “wadaw, dengernya aja udah nderedek (bergetar) begini,” dengan keheningan sejenak yang menumbuhkan bulu kuduk seakan latar belakang yang cocok untuk aransemen “Rima Ababil”. Lebay ya? Ternyata kami juga jadi korban citranya.

Awalnya pun saya kira Setelah Boombox Usai Menyalak berisi dinamit. Catatan kesalahan-kesalahan neoliberal, FPI, Brimob, Freeport dan Coca-Cola, dengan disertai catatan kaki segunung, merujuk pada buku-buku intelektual yang menemui pasar Indonesia masa kini: Karl Marx, Nietsczhe, George Orwell, Subcomandante Marcos, Noam Chomsky dan lain-lain. Atau mungkin juga buku ini adalah terjemahan dari lirik-lirik Homicide yang seperti ditulis di sebuah perpustakaan penjara.

Tapi ternyata semua memang hanya dalam imajinasi saya saja.  Setelah Boombox Usai Menyalak justru mendemistifikasi sosok seorang Herry Sutresna. Kumpulan tulisan yang memanusiakannya dalam tiap persepsi orang-orang yang masih terjebak dalam romantika V for Vendetta. Ucok adalah seseorang yang berselera terhadap musik-musik punk rock dan hip hop politis. Sama saja dengan kebanyakan orang.

Tulisan “Kesunyian dan Politik: John Cage, Godspeed You Black Emperor! Dan Nietzsche” perihal adanya keberpihakan dalam kesunyian atau ketiadaan, serta salah satu artikel terbaik terkait aksi penggundulan ‘anak punk’ di Aceh pada tahun 2011 silam, “Making Punk A Threat Again” memang membuat kita bergelora. Namun, kenikmatan justru lahir dari tulisan-tulisan intim di mana Ucok berbagi pengalaman atau cita rasanya sebagai penggemar musik.

Lihat bagaimana rampaian tulisan ini dibuka dengan foto ayahnya memeluk piringan hitam album Vol 4 dari Black Sabbath. Ucok bernostalgia akan masa tumbuh besar di bawah pengayoman keajaiban dan kekuatan seni yang dibangun oleh Ayahnya. Bahkan, siapa kira Ucok yang menyebut dirinya “punya rekor payah dalam mencari pacar” pernah menyerahkan diri pada “November Rain” dan lagu-lagu balada Guns N’Roses hanya sebagai bagian dari strategi pendekatan untuk seorang wanita.

Mayoritas artikel di buku ini berceloteh tentang rilisan musik. Dalam tulisan bertajuk “Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan”, Ucok mengkritik rekomendasi musik dari majalah-majalah yang memuja-muji Watch The Trone milik Jay-Z dan memasukan album baru Gigi dalam daftar Top10. Ia sendiri tidak menawarkan analisis teoritik yang mendalam ala etnomusikolog. Tapi, lagi-lagi justru menarik tatkala ia membicarakan musik dengan memposisikan diri sekadar sebagai sesama penggemar saja, yang kadang-kadang bisa punya sentimen pribadi tanpa cukup alasan dengan aliran musik atau artis tertentu.

Rilisnya buku ini berada di momen tepat bagi saya, selaku orang yang belum ada satu tahun memulai merintis minat pada musik hip hop–akibat terlibat dalam sebuah proyek penelitian komunitas hip hop Yogyakarta.  Ucok tidak segan menyebut diri sebagai fans fanatik Public Enemy, termasuk menyanjung tak ada habisnya Fear of a Black Planet (disebutnya sebagai wujud terbaik estetika post modern) dan It Takes a Nation of Millions to Hold Us Back.  Ia juga menulis semacam obituarium yang menyerupai surat penggemar untuk Adam Yauch serta mengisahkan pengalaman sakral menonton Run DMC di Bandung pada tahun 1995. Pasca banyak tos dengan Taufiq Rahman di buku Lokasi Tidak Ditemukan, saya juga ingin bersulang dengan Ucok ketika mendapati ia tetap memasukan karya Eminem di daftar “15 Album Hip Hop Paling Penting di Dekade 2000an”.

Seorang teman S2 sempat meminjam buku ini beberapa menit. Saya kira dia akan segera jenuh mengingat nampaknya ia belum pernah mendengarkan Homicide. Tapi sampai di sekitar seperempat total isi, ia bilang ”Wih, gila! Kok orang ini bisa tahu banyak hal ya?”

*Latar belakang lagu ‘’Puritan”* ….. karena fasis yang baik adalah fasis yang mati, anak muda.

Advertisements