Tags

, , , , , , , ,

 

img_20160107_074903

 

Demi menyambut film yang sangat sadar ceruk pasar, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1,  saya lebih dari mereka yang menerjunkan diri dalam antrian tiket mengular. Saya sampai mengagendakan “pekan Warkop”, yakni disiplin menonton film Warkop lawas di seminggu terakhir sebelum tayang perdana Warkop DKI Reborn. Setidaknya ada sepuluh film Warkop lawas yang saya tonton, mulai dari debut layar lebar yang melibatkan Elvy Sukaesih di Mana Tahaaan…  (1979) sampai film yang bisa bertahan laris di tengah era komanya perfilman nasional, Saya Duluan Dong (1994).

Lalu bagaimana jadinya Warkop DKI Reborn ini? Kalau soal itu baca saja resensi kemayu saya di Hipwee. Tapi hal yang saya sadari pasca mempertemukan impresi saya antara karya sinema Warkop yang orisinil dan versi daur ulangnya tersebut adalah bahwasanya materi komedi ala Warkop itu sebenarnya tidak “lucu-lucu amat”, apalagi untuk jaman sekarang. Mayoritas juga slapstick. Makanya sangat wajar adanya upaya peremajaan humor yang diusung oleh Warkop DKI Reborn. Selera humor masyarakat rasanya memang tak jauh berubah, tapi tetap ada bedanya kebutuhan pendekatan lawak di jaman agraria dengan jaman informatika.

Hemat saya, yang menjadi sumbu kejenakaan Warkop kemudian adalah kuatnya karakterisasi dari ketiga (sebelumnya keempat) anggotanya. Dono yang ideal jadi objek risak, Kasino yang sok tahu, dan Indro yang……..  sampai sekarang masih hidup karena kurang lucu. Perwatakan masing-masing yang sudah sangat akrab bagi kita adalah modal dahsyat dalam pembawaan materi. “Baru ngeliat Dono muncul saja kami sudah geli,” tukas kebanyakan khalayak. Kita menertawakan mereka seperti menertawakan teman sendiri. Melihat aktor film terjungkal dari gerobak tahu bulat tetap masih kalah lucu dibanding sekadar melihat seorang kawan mrongos—yang  dicemooh sehari-harinya—hampir terpeleset gara-gara meleng. Itu yang kita temukan dari Warkop, dan begitu mengerikan kala pelaku komedi sudah bisa mencapai level tersebut.

Karenanya, harapan saya kala membaca buku bertajuk Main-Main Jadi Bukan Main ini adalah akses kenal lebih dekat dengan kisah retrospeksi para personel Warkop. Sayangnya, harapan tidak cukup tercapai. Dibanding menampung semacam kumpulan mini biografi dari ketiganya, buku ini malah menampilkan bab sejenis Film Warkop dan Musik Warkop. Saya pribadi lebih memilih mengetahui masa kecil, personalitas asli, atau kisah-kisah pribadi yang berpengaruh dari Dono, Kasino, dan Indro dibanding sesepele kumpulan sinopsis film-film Warkop.

Padahal, sosok-sosok yang mengampu buku ini sudah yang terbaik dan terdekat, yakni Indro Warkop dan Rudy Badil. Siapa lagi selain mereka yang sanggup bercerita lebih sahih dan intim tentang sosok Kasino, Dono, atau Indro sendiri? Tapi kebanyakan isi buku ini justru sekadar memaparkan hal-hal kronologis atau informasi-informasi trivial yang mungkin memang komprehensif, tapi tidak cukup mendalam.

Apa yang menarik perhatian saya dari kisah grup komedian yang tumbuh bersama regulasi NKK/BKK alias Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan ini kemudian lebih sedikit dari perkiraan. Beberapa di antaranya adalah perihal Dono yang sebenarnya dosen sosiologi UI yang berjiwa intelektual dan kritis, serta juga paling serius (faktanya ia sering jengkel dicela secara fisik). Sementara Kasino yang banyak dianggap sebagai motor utama dari kejenakaan Warkop ternyata memang personel yang paling berbakat seni. Terakhir, Indro malah sangat sedikit bicara tentang dirinya sendiri.

Sebagian gaya tulisan Main-Main Jadi Bukan Main  juga tidak enak dibaca, karena bagian tulisan Rudy Badil campur aduk dengan bahasa Betawi.  Mungkin niat baiknya memang untuk menyuguhkan nuansa kampung halaman Warkop, tapi apa daya jika fungsi bahasa sebagai ekspresi malah merecoki fungsi bahasa sebagai penyampai pesan. Toh, karya-karya Warkop sendiri sejatinya sama sekali tidak terkesan mengandung primordialisme, melainkan justru banyak menawarkan wacana realitas dan problematika kehidupan antar-etnis dalam ruang-ruang urban.

“Satu nusa satu bangsa, satu bahasa jawa… tanah jawa, Jawa punya, orang Sunda menyewa..”  

 

Advertisements