Tags

, , , , ,

Hasil gambar

Pic: jualbelibukuonline.blogspot.com

Bersamaan dengan Candide tergenggam di tangan ini, akhirnya lengkap sudah kepemilikan saya akan tiga novelet (karya sastra yang isinya lebih sedikit dari novel, disebut juga novella dalam bahasa Italia) terbaik Voltaire: Candide, Zadig, dan L’Ingenu (Si Lugu). Bahkan, saya mendapatkan versi cetakan pertama di Indonesia, terbitan tahun 1989 dengan harga miring. Satu lagi bukti bahwasanya Voltaire memang tidak laku di negara ini. Seakan saya tidak punya pesaing. Kian curiga pula jangan-jangan benar jika cuma ada dua pembaca Voltaire di Indonesia: satu adalah saya, sementara satu lagi adalah Ida Sundari Husein yang sepertinya merupakan penerjemah dari seluruh buku Voltaire terbitan Indonesia.

Wajar, kendati Voltaire ialah salah satu tokoh pemikir terbesar Perancis, namun karya fiksinya memang agak nyentrik. Tidak ada pendalaman karakter yang serius. Pemetaan nilai moral di dalamnya juga dibangun secara hitam-putih, namun padat ironi. Sedikit banyak menyerupai cerita tradisional atau hikayat yang terkesan murahan, tapi sebenarnya mengungkapkan lebih dari yang tampak diceritakannya. Benang merah dari tiap novelet Voltaire adalah penggambaran tokoh-tokohnya yang selalu keterlaluan polosnya, sehingga menyerupai boneka yang mudah dikontrol untuk menghidupkan dunia karikatural dan oksimoron. Ada kritik setajam sembilu di tiap absurditasnya. Terlalu malas untuk menyimpulkannya dengan istilah satir.

Candide mengisahkan Candide, seorang pemuda selugu kanvas putih dari sebuah wilayah di Jerman bernama Westphalen. Seperti kisah-kisah lainnya, tokoh utama dibimbing untuk berpetualang mencari kebaikan hidup. Dalam Candide, sebaik-baiknya hidup adalah menemui pujaan hatinya yang bernama Cunegonde.Seiring perjalanan, ia silih berganti bertemu dengan sederet tokoh lain yang kalau tidak berlaku antagonis, tolol, maka menjadi pemberi wejangan yang bijaksana. Takdir seolah mempermainkannya. Tak lupa, selalu ada tokoh pemuka gereja yang cabul.

Entah kenapa saya merasa punya hubungan romantisisme spesial dengan Voltaire. Semakin banyak mempelajari riwayatnya atau membaca karyanya, saya kian menemukan keidentikan antara bagaimana saya melihat semesta ini dengan mahzab-mahzab yang bercokol dalam cara pandangnya. Bukan sekedar terinspirasi, tapi juga afirmasi akan keresahan yang selama ini mengendap dalam batin saya. Seakan-akan sebagian besar kebencian saya terhadap dunia ini terwakili langsung oleh tiga karya besarnya ini. Oke, mungkin ini terdengar seperti ingin sok menyejajarkan diri dengan sosok idola. Yah, setidaknya saya menjaga diri agar tidak fanatis.

Dimulai dari novelet pertamanya yang saya baca, L’Ingenu (Si Lugu). Lewatnya, Voltaire mengecam fanatisme agama, doktrin bigot serta kepatuhan atas dogma, yang dibina oleh sebuah musuh besar bernama institusi gereja. Sebuah etos kritik dibalik kata mutiara favorit saya sedunia,”Ecrasez l’infame”. Bahkan, ada indikasi ia juga memproklamirkan paham deisme yang paling mendekati dari model keyakinan saya terhadap yang di atas (antena parabola). Sederhananya, tuhan itu ada, tapi… bodo amat.

Sementara pada Zadig, Voltaire mengolok-olok kepercayaan akan moralitas dan takdir yang berada di luar kontrol manusia. Sejak masih suka iseng salat lima waktu dan jago mengaji pun saya sudah mengidap cacat rukun iman. Qada dan Qadar bagi saya tak pernah masuk akal.

Bagaimana dengan Candide? Secara penceritaan, saya tetap mengunggulkan L’Ingenu (Si Lugu) yang lebih kocak dalam mengadu domba premis-premisnya. Namun, apa yang diekspresikan Candide adalah sesuatu yang tidak hanya saya yakini, namun juga tersuarakan dalam kata pengantar yang saya tulis untuk Questioning Everything serta frase “…. Dunia yang Tidak Baik-baik Saja” di judul. Semua adalah tentang betapa brengseknya dunia ini, yang mana tidak disadari oleh penghuninya.

Dalam Candide, Voltaire menjegal filsafat milik filsuf jerman bernama Gottfried Leibniz yang menyerukan bahwa manusia hidup dalam dunia yang telah disusun sebaik-baiknya oleh tuhan yang maha sempurna. Baik gundulmu!

Candide hadir mencemooh paham optimisme tersebut. Ini yang saya sebut dengan optimis dalam ketidaktahuan. Pantas saja jaman kegelapan bisa langgeng bertahun-tahun. Di jaman semi-distopia itu, orang masih menganggap semua berjalan seperti seharusnya. Semua hal dan kezaliman yang terjadi adalah kehendak tuhan dan manusia tinggal menanti happy ending yang seolah sudah tertulis. Kenyamanan yang mematikan kreativitas dan amarah perjuangan.  Tenggelam dalam omong kosong dan kepalsuan. Pasrah adalah jalan pintas menuju kebinasaan.

Candide tidak sekadar kitab pesimisme, tapi juga menawarkan harapan. Selalu ada yang salah, namun senantiasa ada cara dan asa. Jawaban atas dunia yang tidak baik-baik saja ini sebenarnya begitu simpel: bekerja. Seperti kutipan dialog ending dari Candide berikut ini:

Pangloss berkata,“Semua peristiwa saling terkait dalam dunia terbaik yang mungkin diciptakan, karena kan seandainya engkau tidak diusir dari istana yang indah dengan tendangan di pantat, gara-gara cintamu untuk Nona Cunogonde, seandainya engkau tidak dijatuhi hukuman oleh Mahkamah Agama, seandainya engkau tidak menusuk baron dengan pedang, seandainya engkau tidak kehilangan semua kambing Eldorado itu, engkau mungkin tidak akan mengalami makan selai jeruk dan kenari di sini.”

“Sungguh pengamatan yang luar biasa,” Candide berkata. “Tapi ayo kita mencangkuli kebun kita.”

 

Advertisements