Tags

, , , , , ,

13098850_1733916693497996_1793582236_n

Pic: http://www.imgrum.net/tag/lokasitidakditemukan

Pertama kali mengetahui nama Taufiq Rahman adalah saat Jakartabeat.net masih menjadi situs yang mendobrak kemandegan kritik seni, sebelum kini cuma jadi timbunan pers rilis—alias  contoh dari kemandegan kritik seni itu sendiri. Selain karena Taufiq Rahman adalah salah satu pendirinya, tulisannya juga lebih menonjol dari yang lain karena selalu menampilkan energi arogansi pendengar musik, atau seakan mengandung pernyataan “musik yang bagus itu seperti ini, yang kalian dengarkan itu semua basi!” Ia pernah mengaku pensiun mendengar Radiohead karena sudah overpopulis, dan membuat saya mesti berdebat dengan seorang kawan penggemar Vampire Weekend gara-gara artikelnya yang  bertajuk “Vampire Weekend: The Clash Tanpa Ideologi” Yup, Taufiq Rahman adalah seorang snob. Ia mengakuinya sendiri, lagipula snob bukanlah suatu dosa, setidaknya menurut Remy Sylado, “Justru snob bisa menuntun masyarakat kepada kemungkinan mencoba-coba mempergaulkan diri pada musik-musik seni, musik-musik standar yang tak terperi luasnya”.

Setidaknya pun ia snob yang pas untuk saya. Watak pongah tulisannya mungkin ofensif bagi sebagian orang—termasuk  penggemar karbitan Radiohead dan Vampire Weekend—tapi  tidak bagi saya. Apakah karena sepertinya saya juga penggemar musik yang seleranya nampak terkonstruksi dari preferensi konten majalah Rolling Stone? Taufiq Rahman bukan snob yang lantas mengagung-agungkan band-band antah berantah beraliran post-baroque-death-noise dengan kredo bahwa kasta selera musik diukur dari seberapa langka orang yang pernah mendengar musik kesukaanmu. Saya tersenyum lebar ketika mendapati ia masih menempatkan Nevermind di pucuk daftar artikel Album Terbaik Dekade 1990-an dan tidak mengabaikan Is This It dan Elephant di artikel Album Indie Rock Terbaik Dekade 2000-2010.

Alhasil, bagi saya, membaca Lokasi Tidak Ditemukan seperti mengobrol dengan seorang snob yang satu minat. Hampir tidak ada yang terlalu serius, sehingga testimoni unik di kover belakang dari Harlan Bin dan Philips J. Vermonte (“Sumbangan buku ini sangat kecil pada dunia tulis menulis di Indonesia”) memang kelewat jujur.

Sekadar seperti obrolan malam hari dengan kawan-kawan Warning Magazine—kalah snob tapi—ditemani iringan lagu-lagu ala pengisi Laneway Festival dan snack Coklat Pillow. Taufiq Rahman bercerita tentang seberapa dia menggilai Leonard Cohen, Nick Drake, Marque Moon atau memamerkan pengalamannya mengunjungi situs-situs keramat budaya populer New York. Kadang-kadang juga disertai analisis-analisis menarik seperti bagaimana ia membaca adanya tren statistik dalam musik pop untuk menuju ke arah narsisisme dalam wilayah lirik (semakin ke sini, semakin banyak penggunaan kata ganti ‘’I” dan “Me” dibanding “We” dan “Us”). Hampir semua artikel terasa personal. Dan namanya mendengar cerita teman obrolan, ada yang membuat kita tertarik, penasaran, bosan, bingung, atau malah membuat iri.  

Namun, salah satu sumbangsih penting Taufiq Rahman sejauh ini adalah gagasan “menulis musik adalah menulis tentang manusia” yang saya amini juga sampai saat ini. Di buku ini ia mengutip kritikus musik kawakan Alex Ross, bahwasanya tugas sebagai penulis musik adalah mencoba mendemistifikasi atau menjaga seni (musik) untuk tidak melebar ke arah mitos dan omong kosong, melainkan tetap menghormati kompleksitas manusia yang memberinya hidup. Musik tidak hadir dalam ruang kosong, sehingga ada ruang baginya untuk menjadi sebuah kritik sosial. Kian kita mampu meletakan wacana seni musik dalam kehidupan sosial, ulasan akan semakin bagus.

Dan, tatkala kemarin saya membaca artikel wawancaranya bersama Whiteboard Journal, ia menuturkan bahwa adalah Guns N’ Roses yang membuatnya pertama kali mendalami musik. Big toss!

 

 

 

 

 

 

Advertisements