Tags

, , , , , ,

Identitas bisa berarti penawaran citra, sementara kenikmatan sanggup ditafsirkan sebagai daya hibur. Buku Identitas dan Kenikmatan mencoba membedah keduanya yang terkemas cantik di balik layar kaca. Dalam buku ini, keduanya terurai pada kajian perihal tren eskalasi gaya hidup islam, represi terhadap ideologi komunisme, rasisme terhadap etnis Tionghoa, gelombang K-Pop, dan manipulasi politik besar-besaran di balik budaya kampanye pemilu Indonesia.

Melihat menu di atas—yang saya tengok sebelumnya dalam Daftar Isi—saya sudah memendam kecurigaan bahwa isinya akan sedikit banyak sama dengan buku Mau Dibawa Ke Mana Sinema Kita? : Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. Topik kontennya memang serupa semua kecuali bagian K-Pop dan kampanye. Dari buku itu pula Ariel Heryanto banyak mengambil kutipan dan menjadikannya sebagai sumber kajian.

Namun, tentu saja seiring laju pemikirannya, isinya juga memuat informasi berbeda. Kurang lebih titik tolak permasalahan dan arah perspektifnya serupa, tapi dikembangkan sedemikian rupa. Seperti misalnya ia menempatkan konsep post-islamisasi untuk menangkap gejala bertemunya kebutuhan menjadi religius dan modern, serta beridentitas islam dan memuja kapitalisme dari masyarakat Indonesia pasca dekade 90-an. Ada juga tilikan terhadap film Jagal (Act of Killing) sebagai salah satu produk budaya yang melahirkan gejala akhir propaganda resmi sejarah G30S.

Oke, lalu bagaimana dengan dua topik yang baru: K-Pop dan kampanye? Saya agak kurang terkesan dengan kupasan di bab kampanye, tapi cukup antusias dalam perbincangan K-Pop. Mungkin memang karena saya belum pernah sama sekali membaca  bahasan tentang gelombang K-Pop sebelumnya.

Di hari pertama saya masuk perkuliahan S2, ada kawan yang mengajukan ide penelitian dengan topik permasalahan “K-Pop sebagai alat untuk menyebarkan ideologi ke audiens di belahan dunia lain”. Sepakat langsung dengan tanggapan Mas Dodi Ambardi (dosen paling dianggap kredibel di jurusan Ilmu Komunikasi UGM), saya tidak melihat ada ideologi apa pun yang dimuat oleh invasi K-Pop ini. Sesuatu disebut ideologi tatkala ada visi tentang sesuatu yang besar yang dicita-citakan lewat keterlibatan mobilisasi masyarakat. Ideologi seperti apa yang ditawarkan oleh lima orang model operasi plastik yang menari-nari manja? Sebuah pandangan politis bahwa kemakmuran hanya bisa diraih lewat disiplin maraton menonton drama Korea didukung air mata rakyat?

Dalam buku ini, ada pernyataan bahwa bahkan banyak orang Korea yang merasa Korean Wave sendiri tidak benar-benar mewakili kebudayaan mereka. Tentu saja kita bisa melihat bahwa apa yang ada di K-Pop atau drama Korea sebenarnya adalah budaya barat. Hampir semuanya, termasuk busana, musik, kesadaran operasi plastik, boyband, kisah asmara dalam drama, semua adalah hasil hibrida dari budaya populer barat. Korean Wave adalah budaya blasteran, dan itu disengaja untuk memudahkan proses pemasaran ke luar negeri.

Di sisi lain, popularitas Korean Wave paling kuat ditemui di bagian wilayah Asia. Di sinilah peran Keasiaan asli Korea hadir. Selain faktor “Asianisasi Asia” yang disebut sebagai gejala yang mengacu pada tumbuhnya minat di kalangan orang yang lahir atau besar di Asia pada sebagian dari kehidupan sosial di wilayah Asia lain, memang rasanya ada banyak unsur-unsur tertentu yang mendorong Korean Wave lebih diterima di Asia, khususnya Indonesia. Pertama, mungkin untuk dramanya, mereka (ini asumsi saya sendiri) punya gaya penceritaan yang lebih “anteng”, ringan, subtil, dan sesuai dengan gaya resepsi orang Indonesia. Selain itu, dibanding film Hollywood, drama-drama Korea tak banyak mengeksploitasi adegan seksual, sehingga terasa lebih santun untuk Indonesia. Tentu di luar itu kita tidak perlu lagi bicara tentang pesona fisik aktor-aktrisnya, di mana dalam konteks historis (yang bisa dijelaskan panjang lebar) pria Asia lebih menarik bagi perempuan sesama Asia daripada perempuan Eropa atau Amerika Serikat.

Terkait dengan gaya penceritaan tadi, Ariel Noah juga mengaitkannya dengan tren post-islamisasi yang diulas di bab sebelumnya. Korean Wave lahir di era kebangkitan post-islamisasi. Korean Wave adalah bentuk budaya pop yang sangat cocok dengan post-islamisasi dimana ada kompromi yang terjadi antara modernisme dengan liberalisme, atau gaya hidup barat dengan gambaran ideal budaya timur. Itu kenapa mungkin Game of Thrones yang fenomenal itu masih saja kalah memikat bagi orang Indonesia dibanding Descendant of The Sun.

Menarik juga ketika Ariel Heryanto menyodorkan Meteor Garden, serial Taiwan yang sedap itu sebagai salah satu gerbang arus masuknya Korean Wave di Indonesia. Salah satu corak khas dari ksiah drama Asia—yang mungkin sebenarnya juga diadaptasi dari Hollywood—adalah tokoh utama wanita yang digambarkan mandiri, dan mengejar karir untuk bertahan di tengah tekanan sosial masyarakat kapitalis Asia yang tengah mengalami industrialisasi pesat. Dalam Meteor Garden, corak itu direpresentasikan melalui tokoh Shan Cai yang lebih memilih banting tulang menghidupi keluarganya dibanding menyerahkan diri begitu saja ke pelukan Dao Ming Tse yang borjuis. Pengaruhnya bisa kita lihat di kecenderungan wanita bangsa kita di masa kini. Smith-Hefner pada tahun 2007 mencatat adanya kecenderungan yang mencolok di Indonesia: 95 persen memprioritaskan keamanan perkerjaan dan kemandirian keuangan ketimbang pernikahan.

Selain itu, yang tak kalah menggelitik adalah perubahan persepsi perempuan terhadap paras pria oriental di Indonesia. Gadis-gadis Indonesia tak biasa sebelumnya melihat ada cowok ganteng di film Mandarin. Sosok Dao Ming Tse melahirkan persepsi baru. Ini menjadi salah satu momentum meredupnya diskriminasi ras Tionghoa yang sudah bertahun-tahun di Indonesia, setelah sebelumnya seorang Riri RIza masih bersikeras memilih Nicholas Saputra yang berwajah pribumi untuk memerankan sosok Tionghoa, Soe Hok Gie dalam film Gie.

“Kekaguman terhadap figur Dao Ming Tse tidak sekedar mengubah selera dalam memilih film, tetapi juga dalam memilih laki-laki. Beberapa waktu lalu kita akan menemui kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat pribumi memiliki kecenderungan untuk berjarak dengan warga etnis Cina, apalagi untuk urusan memilih pacar.” – G.M.M. Pravitta

Advertisements