Tags

, , , ,

Akhirnya buku ini terbeli dan terbaca juga. Harus melalui banyak pertimbangan sebelum sungguh menuntaskan transaksi pembeliannya.

Hampir tidak ada satu pun lingkaran pergaulan saya yang menerima dan mengaku menikmati Raditya Dika sebagai penulis. Sebagian mengapresiasi Malam Minggu Miko dan bersedia menonton film-filmnya, tapi tidak untuk buku. Agak ironis ya mengingat awalnya justru bidang kepenulisan yang melambungkan namanya. Mungkin bagi sejawat-sejawat saya, status profesi “penulis” terlalu mulia dan intelek untuk disandang seorang pegiat curhat asmara yang gemar mengolok-olok dirinya sendiri.

Pun ketika ada satu kawan yang memperlihatkan minatnya pada Raditya Dika, ia melakukan sesuatu hal yang ekstrem. Tanpa bermaksud bercanda, seorang teman ini memanjatkan sebuah doa pasca meminta tanda tangan saya di Questioning Everything, “Semoga segera bikin buku lagi ya Son! Cepat sukses! Biar bisa kayak Raditya Dika…”

Bisa diprediksikan andai saya benar menjadi seperti Raditya Dika, cuma dia teman saya yang tersisa.

Menariknya, dua pekan lalu saya menyunting sebuah artikel Hipwee dengan tajuk “Lucu Atau Nggak Lucu, Inilah Sebabnya Kenapa Banyak yang Udah Mulai bosan Sama Raditya Dika” (Oke, itu memang judul. Nggak usah protes njing! Kamu aja yang nggak pernah baca Hipwee!) Artikel itu cukup viral, di mana kami melemparkan pertanyaan perihal apakah memang ada batas usia tertentu untuk mentok tak lagi bisa menikmati karyanya. Saya pernah dengar jika kebanyakan penggemar setia Raditya Dika memang dari kalangan remaja sekolah.

Saya sendiri juga mengikuti Raditya Dika di usia sekolah. Dibilang pembaca setia pun saya tak akan menampik, mengingat saya punya lengkap 7 bukunya dari Kambing Jantan sampai Koala Kumal ini. Maka dari itu membeli Koala Kumal bagi saya memang kebutuhan bernostalgia dan sindrom “terlanjur koleksi”. Apalagi saya tengah menginginkan bacaan ringan setelah lelah dihajar buku berbahasa surealis, Sejarah Dunia Yang Disembunyikan.

Akan tetapi, saya tidak sepenuhnya merasa membaca karya Raditya Dika sebagai sebuah guilty pleasure. Selain karena saya memang menggemarinya di usia yang “termaafkan”, hingga kini pun saya respek terhadap kiprahnya di dalam maupun luar bidang kepenulisan. Siapa orang yang lebih berpengaruh dari dirinya di industri komedi Indonesia dalam setidaknya setengah dasawarsa terakhir?

Raditya Dika membangkitkan lawakan tunggal (stand up comedy) di Indonesia, merajai vlog komedi, mengukuhkan benchmark kesukesan film komedi komika, dan masih banyak sebagainya. Sebagai penulis pun ia adalah pelopor sekaligus yang terbaik di genre-nya. Saya ingat di era Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus, tiba-tiba Gramedia penuh buku kisah humor bergaya diary. Dan tetap tak ada yang sekocak Raditya Dika.

Tapi kebenaran asumsi di artikel Hipwee itu akhirnya saya buktikan sendiri. Saya sudah tidak tertawa sama sekali membaca Koala Kumal. Paling pol hanya senyum simpul. Apakah kedewasaan membunuh selera humor? Tidak juga. Saya masih bisa terpingkal-pingkal ketika diberi tahu bahwa kader PKS itu hobi membaca.

Mungkin untuk buku Raditya Dika selanjutnya, saya benar-benar akan menjadi pembeli saja, bukan pembaca.

Advertisements