Tags

, , ,

Pertanyaannya, kenapa penghancuran buku identik dengan pembakaran?  “Api tidak hanya menandai akhir dari suatu era lama namun juga menerangi era yang baru.”  Api mereduksi suatu karya menjadi materialnya. Dalam artian, api mengubah warisan gagasan menjadi abu kertas. Api adalah lambang yang kuat untuk melukiskan penghancuran menuju kemurnian. Dalam tradisi agama alama, api adalah jembatan antara dunia atau materi kini yang perlu disucikan dengan dunia sesudahnya. Api mengonfirmasi cita-cita suatu masyarakat higienis, yakni masyarakat yang bersih dari unsur-unsur tidak dikehendaki.

Dari sini, bisa disebutkan bahwa bibliosida adalah salah satu bagian dari proses homogenisasi masyarakat. Jika meragamkan isi sumber pengetahuan (baca: buku) tidak bisa menciptakan keragaman manusia,  maka pakai cara pamungkas: singkirkan manusia-manusia yang berbeda itu.

“Di manapun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia”- Heinrich Heine.

Kutipan itu bukan sekadar dramatisasi atau buah puitik ria. Ada keterkaitan nyata antara bibliosida (penghancuran buku besar-besaran) dan genosida. Misalnya, sebelum Nazi membantai jutaan orang Yahudi, ide berdarah dingin mereka lebih dahulu dialirkan melalui aksi-aksi bibliosida (atau bibliocaust, istilah dari majalah Times). Jutaan buku dihancurkan. Penghancuran buku sepanjang 1933 adalah awal dari pembantaian manusia di tahun-tahun berikutnya. Pada 10 Mei, Nazi menggelar apa yang disebut Bucherverbrennung atau acara pembakaran buku-besar-besaran resmi serentak yang juga diiringi dengan musik dan pidato layaknya acara. Sebelumnya pun mereka sudah sibuk menangkap para penulis keturunan Yahudi atau simpatisan komunis.

Dan karena pembantaian nyawa manusia sudah langgeng terjadi di sejarah umat manusia, pun begitu pembantaian buku.

Sesuai premis tajuk “dari masa ke masa”, buku ini memang mengulas historiografi dari praktik pemusnahan buku-buku di dunia. Yang menarik (dan membuat miris), usia penemuan penghancuran buku bisa dikatakan sama dengan usia penemuan kemunculan buku itu sendiri. Seakan-akan ada siklus wajar yang terjadi antara melahirkan ilmu pengetahuan dan melenyapkannya.  Artinya, bibliosida sudah ada sejak awal peradaban aksara, tepatnya pada era Sumeria Kuno (4100-3300 SM).

Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa membabat seantero riwayat kepustakaan sejak ujung jaman kuno, mulai yang disebut buku ada dalam bentuk kepingan tablet, papyrus, hingga potongan bambu. Mulai dari perpustakaan pertama di Mesopotamia, perpustakaan terbesar di jaman kuno—Alexandria, jagat perbukuan Cina di bawah kpemimpinan Shih Huang Ti, Holocaust, hingga protes komunitas keagamaan pada Harry Potter. Bahkan tenggelamnya kapal Titanic juga disinggung sekilas dari perhatian pada pustakalokanya yang turut karam di lautan.

Menurut Kata Pengantar yang ditulis oleh Robertus Robert, konteks pembunuhan buku dapat dibagi menjadi lima kategori:

Pertama, perang. Ini paling rentan dan lazim terjadi sedari jaman kuno.

Kedua, penanda gerak kemunculan sebuah rezim baru. Bibliosida seakan adalah momentum transisi atas tiap pergantian kekuasaan. Sebuah rezim dimulai dengan penghapusan rezim lama sejak dari sejarahnya.

Ketiga, penghancuran dan kebencian terhadap buku selama masa Revolusi. Revolusi Perancis dan Voltaire menjadi contoh terbesar dari konteks ini.

Keempat, kebencian atau penghancuran buku yang secara resmi disponsori oleh negara atau pemerintah dalam situasi normal. Ini cenderung terjadi oleh argumen ortodoks yang menuduh suatu buku memuat ide-ide yang menyalahi norma atau hukum di masyarakaat. Yang ini terdengar familiar bukan?

Dalam paham hak asasi, pelarangan buku bisa dilakukan sejauh tidak melanggar prinsip-prinsip demokrasi dan melanggar konvensi hak-hak sipil dan politik. Dengan kata lain demi melindungi hak asasi dan dilakukan dalam kerangka negara hukum demokratis. Artinya, pertama, setiap pelarangan buku mesti diuji dengan pertanyaan apakah buku yang dimaksud memang berisi ancaman pada hak asasi. Kedua, pelarangan tidak dapat dilakukan secara sewenang-wenang, melainkan harus diputuskan di pengadilan. Ketiga, penulis harus diberi hak jawab di pengadilan.

Anehnya, yang terjadi di Indonesia justru terbalik. Kebanyakan buku yang dilarang malahan adalah buku yang mempersoalkan praktik pelanggaran hak asasi di Indonesia. Sementara buku-buku yang menyebarkan kebencian dan intoleransi justru bebas beredar.

Padahal buku pada dasarnya adalah kumpulan teks, sementara teks selalu terikat pada konteks. Buku memang abadi, tapI pemaknaan masyarakat pada isinya senantiasa bergeser dan berubah-ubah. Membaca Manifesto Komunis di awal abad ke-20 tentu berbeda dengan hari ini membaca buku yang sama di Starbuck. Tidak lagi kita membacanya sebagai referensi akan praktik langsung dari gagasan radikal di dalamnya, melainkan hanya sebagai pemahaman teks dan konteks dari pemikiran sang penulis.

Berarti apakah hanya orang kurang terdidik yang punya inisiatif merepotkan untuk melancarkan aksi penyitaan dan memusnahkan buku? Tidak juga.

Seorang Rene Descartes pernah meminta pembacanya membakar buku-buku lama sementara filsuf Skotlandia bernama David Hume meminta agar semua buku metafisika diberangus. Adolf Hitler, dan bahkan ada kemungkinan Plato juga membakar buku. Secara umum, mereka adalah cendekiawan, berbudaya, perfeksionis, dan punya bakat intelektualitas, namun tak mampu menolerir kritik, egois, fanatik berlebihan dan cenderung punya kuasa.

Justru adalah keliru mengaitkan penghancuran buku dengan orang-orang tidak berpengetahuan yang sekedar terbakar amarah. Orang tidak berpengetahuan tidak membaca buku. Mereka kekurangan motivasi untuk memperdulikan buku. Merunut sejarah, orang yang membakar buku malah kebanyakan adalah pembaca buku itu sendiri. Mereka orang-orang yang tahu kekuatan buku.

 

 

Advertisements