Tags

, , , , , , ,

Teman kantor: “Lagi baca buku apa kamu Mas Soni?”

Saya: “Ini (menunjukan kover bukunya)”

Teman kantor: “Astagfirullah, judulnya Dalih Pembunuhan Massal. Mas Soni mah puasa-puasa bacaannya macam begituan. Baca Al Quran kek..”

Saya: “……”

Mujur, saya sudah jauh-jauh hari beli buku ini sebelum ormas-ormas kebanyakan kultum itu mulai getol menggrebek buku-buku dengan keyword komunis, PKI, 1965, Aidit, atau Tan Malaka (udah, itu aja. Kalau Marx, Engels, Lenin, mereka nggak kenal) di toko buku. Buku yang sebelumnya sudah terlarang ini jelas bakal kena ciduk. Dari kover dan judulnya aja udah terkesan misterius, ilegal, dan berbahaya. Tuh, cuma ditunjukin sekelebat saja teman saya langsung nyebut. Semoga ia tak terjangkit komunisto fobia (istilah bernada celaan dari Sukarno).

Tapi ngomong-omong, saya sendiri juga sempat nyebut waktu kelar menghabiskan sekitar seperlima total halaman.

 “Anjing! Kayak begini nih yang namanya buku sejarah itu seharusnya!”

Dalih Pembunuhan Massal memang dikenal sebagai karya literatur peristiwa Gerakan 30 September yang paling otoritatif atau dipandang layak jadi rujukan. Hanya Tuhan rasanya yang benar-benar bisa menilai validitas dari semua buku G 30 S yang pernah beredar, tapi John Roosa setidaknya memang paling berhasil menghasilkan ulasan yang meyakinkan. Inilah yang kemudian saya sebut bagaimana sebuah buku sejarah seharusnya dituliskan. Pemaparan fakta yang komprehensif diiringi dengan analisis yang tajam dan berani.

Sesuai tajuknya, buku ini mencoba mengusut siapa pelaku utama sebenarnya di balik G 30 S. Sebelumnya, dengan cermat Roosa sudah menjernihkan terlebih dahulu perbedaan antara peristiwa G 30 S dan tragedi pasca G 30 S. Keduanya kerap dicampur baur, padahal jelas berbeda. Untuk aksi genosida atau pembunuhan besar-besaran tak pandang bulu terhadap simpatisan maupun terduga simpatisan PKI pasca G 30 S, hampir semua sudah tahu siapa dalangnya. Namun, yang kemudian masih tanda tanya dan coba diselidiki lewat Dalih Pembunuhan Massal ini adalah sepenuhnya perihal seluk beluk G 30 S itu sendiri.

Apa yang membuat peristiwa sepenting G-30-S tak kunjung terungkap oleh sebegitu banyak peneliti dan sejarawan di dunia antara lain karena gerakan itu sudah kalah sebelum cukup banyak orang mengetahui keberadaannya. Ia tumbang begitu cepat. Skalanya juga kecil dan bersifat tertutup. Tak banyak orang yang tahu akan kejadian itu, tapi tiba-tiba saja mereka terkena dampaknya. Adalah Suharto yang menyulap peristiwa kecil itu menjadi berefek sangat besar terhadap bangsa.

Nah, hasil penelusuran dan analisis dari John Roosa ini akhirnya bisa saya jadikan sebagai pelengkap materi kisah-kisah drama G 30 S yang selama ini terdiri dari banyak versi. Saya pikir akan lebih mudah untuk dipahami dengan melihatnya satu persatu. Total dihimpun dari versi risalah yang dominan, ada lima skenario berbeda yang selama ini diperdebatkan:

  1. Pembunuhan para jenderal memang dilakukan oleh PKI dan simpatisannya.
  2. Presiden Sukarno sendiri adalah inisiatornya. Ia memberi izin atau justru menganjurkan para perwira untuk bertindak melawan Dewan Jenderal yang dikhawatirkan akan mengusik posisinya.
  3. Pembunuhan para jenderal dan percobaan kudeta sebenarnya hanya konflik internal angkatan darat yang kemudian melibatkan atau memanfaatkan beberapa petinggi PKI.
  4. Jenderal Suharto adalah dalang di balik semuanya, atau paling tidak mempengaruhi, memanipulasi, dan mengaburkan pembunuhan untuk kepentingannya sendiri.
  5. Ada operasi intelijen asing terlibat (sebut saja CIA) yang berkonspirasi membantu menghancurkan PKI untuk kepentingan Amerika Serikat.

Skenario Pertama: PKI

Skenario pertama adalah yang dipropagandakan oleh orde baru dan sampai sekarang masih banyak dipercaya oleh generasi orang tua kita. Ini bisa langsung gugur karena selama tiga puluh tahun lebih, Suharto tak pernah bisa membuktikan bahwa PKI adalah dalang sepenuhnya G 30 S. Tak dapat berdalih pula dari satu fakta bawa G 30 S dilakukan oleh para personil militer.

Pimpinan G 30 S terdiri dari lima orang: tiga orang perwira militer (Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief, Mayor Soejono) dan dua orang sipil (Sjam dan Pono).  Kekuatan G 30 S yang utama adalah perwira Angkatan Darat, bukan aktivis partai. Kecuali Sjam dan Pono, para anggota PKI lebih tampak berperan hanya di pinggiran, atau jadi anak bawang. Orde baru melegitimasi skenario ini di antaranya lewat pengakuan-pengakuan Sjam—yang padahal memang sudah biasa bekerja sebagai penipu—tapi tak banyak didukung pengakuan lain.

Dari segi motif, adalah hal konyol jika PKI benar-benar yang pertama kali menggagas G 30 S. PKI sudah berkembang pesat dan kokoh di bawah D.N Aidit salah satunya berkat konsistensi untuk tidak menuai permusuhan dan konflik dengan pemerintah. Belajar dari kesalahan era Musso yang selalu kandas gara-gara memberontak secara gegabah. Di pertengahan 1960-an, PKI sudah berada di jalan yang benar. Ibaratnya, mereka tinggal menunggu ada pemilu saja untuk dapat berkuasa. Janggal sekali andai tiba-tiba malah punya pikiran untuk memberontak.

Skenario Kedua: Sukarno

Skenario kedua ini hampir tak diulas sama sekali dalam buku ini. Maklum, saya sendiri juga meragukan jika Sukarno adalah inisiator dari sebuah pergerakan yang justru tampak sekali terlalu berisiko dan akan berakibat buruk padanya. Bahasa Rusianya sih ra masuk blas!

 

Skenario Tiga: Perwira Militer

Skenario ketiga terdiri dari kepercayaan bahwasanya G 30 S adalah gerakan yang dirancang oleh para perwira militer yang ingin menjatuhkan sejumlah elit militer lain. Dengan kata lain, ini adalah konflik internal militer. Keterlibatan segelintir pemimpin PKI hanyalah sebagai bala dukungan atau justru pihak yang dimanfaatkan.

Adalah Benedict Anderson dan Ruth McVey yang memandang G 30 S sebagai pemberontakan yang dilancarkan para perwira muda Jawa Tengah yang jijik pada gaya hidup dekaden dan orientasi pro barat para jenderal di SUAD Jakarta. Mereka menganggap staf di bawah Ahmad Yani bersalah karena tunduk pada korupsi masyarakat elit Jakarta dan terus menerus menentang serta merintangi kebijakan luar dan dalam negeri Presiden Sukarno. Dalam sudut pandang ini, PKI bukanlah dalang, melainkan korban penipuan dari perwira-perwira itu. Mereka menginginkan PKI memberikan personil tambahan dan dukungan politik. PKI hanyalah pemain kedua yang diperdaya sehingga melibatkan diri dalam sebuah aksi yang sebenarnya tidak mereka mengerti sepenuhnya.

Namun, skenario kedua ini lemah karena perwira yang tergabung cukup heterogen latar belakangnya. Diragukan mereka bisa merencanakan aksi ini dengan ikatan yang kurang dapat terjelaskan. Dan jika harapannya adalah semata mengembalikan kekuasaan pada Sukarno, G 30 S tak perlu mencanangkan pemerintahan dan kabinet baru atas nama Dewan Revolusi di pengumuman radio 1 Oktober. Cukuplah memberi kesempatan bagi Sukarno untuk mengambil tindakan lanjut.

Pun jika militer yang benar-benar ada di atas semua ini, seharusnya gerakan ini tidak berakhir dalam rancangan yang compang camping. Dalam dokumen Supardjo—dokumen analisis dari Brigadir Jenderal Supardjo terkait gerakan G 30 S PKI yang sengaja disembunyikan dan ditahan pemerintah—sang jenderal banyak mengungkap kelemahan dari kegagalan gerakan ini. G 30 S disebut sebagai sebuah pergerakan yang dibangun sangat lemah. Ada banyak cacat secara strategi. Misalnya bagaimana ketika aksi penculikan Dewan Jenderal gagal, G 30 S kesulitan dan gagal menemui presiden Sukarno. Mereka terkecoh karena ternyata malam menjelang 1 Oktober itu Sukarno tidak bermalam di istana. Bagaimana mungkin seorang perwira tinggi dalam pasukan kawal presiden (Cakrabirawa) tak mengetahui secara pasti lokasi sang presiden. Padahal pengetahuan tentang lokasi itu merupakan unsur sangat penting dalam keseluruhan rencana.

Sesudah mengambil alih stasiun radio dan menyiarkan pengumuman pertama, G 30 S juga tidak mengeluarkan pernyataan apapun selama lima jam berikutnya. Mereka bungkam justru saat perlu mengerahkan pendapat umum. Sama seperti isi yang dikumandangkan, G 30 S seperti kebingungan dan tidak konsisten. Misalnya, mereka ingin melindungi Sukarno tapi juga ingin mendongkelnya. Maksud dan arah G 30 S tidak dijelaskan secara rinci. Mereka yang mendengarkan radio kebingungan atas apa yang harus dikerjakan dan mengapa. Padahal jika para simpatisan PKI bisa digalang untuk melakukan perlawanan, tentara Suharto akan mendapat perlawanan berarti.

Secara strategi, misi gerakan G 30 S hanyalah meminta persetujuan dari Soekarno. Mereka tidak berdiri atas sebuah strategi militer murni yang dahsyat, Ketika penculikan gagal, dan Sukarno yang bingung memerintahkan G 30 S untuk menghentikan aksinya, tidak ada satu komando yang lantas keluar dari G 30 S. Apakah mereka akan mematuhi atau membangkang perintah Sukarno itu, tak ada yang disiarkan. Para pimpinan G 30 S tidak memutuskan apapun.

Kerjasama antara kelompok PKI (Sjam dan Pono) dengan kelompok militer (Untung, Latief, dan Soejono) juga tersusun sangat longgar, sehingga dua kelompok itu terus menerus berdebat tentang apa yang harus dilakukan, bahkan di saat kritis di mana keputusan harus segera diambil.

Ketika penculikan jenderal terlanjur menjadi pembunuhan dan semua tidak berjalan seperti rencana, gerakan pun panik dan amburadul. “Rencana operasinya ternyata tidak jelas. Bagaimana kemudian bila berhasil, tidak jelas, atau bagaimana kalau gagal juga tidak jelas” Ternyata bukan hanya tidak ada rencana B, tapi rencana A pun tidak sepenuhnya dipersiapkan. Apa yang digambarkan di film Pengkhianatan G 30 S/PKI tentang para organisator gerakan yang seolah kejam dan lihai seperti di film The Godfather terlalu mengglorifikasi tatkala sebenarnya pergerakan ini dilakukan oleh orang yang gelagapan, bingung, dan kalut.

Dari masalah strategi penculikan hingga konsumsi logistik untuk batalyon, semua terbengkalai. Lolosnya AH Nasution diduga juga karena bukan orang-orang terbaik yang diposisikan untuk menjadi kelompok yang melancarkan aksi di rumahnya yang notabene paling ketat pertahanannya. Mereka hanya prajurit berpangkat rendah yang belum pernah berlatih melakukan penculikan. Hasilnya malapetaka, dari tujuh tim yang dikerahkan G 30 S, hanya tiga yang berhasil menawan jenderal-jenderal itu dan membawa pergi mereka hidup-hidup. Nasution lolos, sementara Ahmad Yani dan dua jenderal lain ditembak dan ditusuk ketika melakukan perlawanan. Karena sudah merasa tak mungkin menghadapkan mayat jenderal itu kepada Sukarno, pimpinan G 30 S memutuskan menembak mati semua tawanan mereka dan menyembunyikan jenazahnya.

Keganjilan juga muncul dari struktur jabatan. Seperti bagaimana misalnya Brigadir Jenderal Supardjo dalam siaran itu disebutkan sebagai salah satu wakil komandan di bawah Letkol Untung. Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah pemberontakan ada seorang jenderal menjadi bawahan seorang kolonel.

Dakwaan Supardjo juga menukaskan walau PKI memimpin G 30 S, bukan berarti PKI bertanggung jawab sebagai satu lembaga. Sepengetahuan Supardjo, yang memimpin G 30 S dari PKI hanyalah Sjam yang bekerja sama dengan Aidit. Dugaan terbesar adalah bahwa Sjam sebagai pemimpin utama yang membuat gerakan ini berantakan. Ia adalah orang sipil yang tak punya pengalaman apapun terkait prosedur operasi militer, ditambah sifatnya yang terburu-buru.

Sjam memang dikenal pembual, agresif, dan tidak sabaran. Ini sudah diperingatkan oleh Karto, mantan ketua jaringan militer di PKI—sebelum berganti nama menjadi Biro Chusus. Sjam dikabarkan pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah di negara boneka Belanda di Jawa Barat dan ketua PSI (Partai Sosialis Indonesia) di cabang Banten. Artinya, Sjam bukan seorang nasionalis militan atau anggota PKI sejak dini. Ia sekedar orang yang bekerja atas kepatuhan pada Aidit.  Ia adalah contoh klasik dari seorang aparat partai komunis yang memahami partai sebagai sebuah organisasi yang berjuang demi kekuasaan negara. Ia mungkin memahami Machiavelli lebih baik ketimbang memahami Karl Marx. Ia tidak punya semangat ideoogi dan kolektif seperti halnya anggota PKI lainnya. Bukan atas dasar cinta pada ideologi dan cita-cita Marxisme , tapi sekedar cinta pada partai. Itulah Sjam. Poser.

Skenario Empat : Suharto

Membayangkan jika saja skenario keempat adalah skenario yang benar telah mencekik emosi saya habis-habisan. Air mata bisa saja keluar dari kelenjar yang merinding ngeri. Konspirasi kelas berat yang sekiranya hanya mungkin muncul dari kecerdasan dan kebengisan yang menggelora. Mempercayai skenario keempat berarti mempercayai ada mahkluk sejahat sekaligus selicik itu.

Dan selama 30 tahun bangsa ini mempertaruhkan hidup matinya padanya.

Kecurigaan yang mencetuskan skenario ini bisa disimak mulai dari pandangan W.F Wertheim. Di hari berlangsungnya G 30 S, Suharto bergerak dengan ”efisiensi yang ajaib di tengah-tengah keadaan yang luar biasa membingungkan.” Saat perwira besar militer lain kebingungan, Suharto seolah tahu persis apa yang akan terjadi.

Pertanyaan pertama pun jelas, kenapa Suharto tidak ikut menjadi target incaran G 30 S. Padahal kiprah dan posisinya tak kalah mengancam kelangsungan komunisme di Indonesia dibanding Ahmad Yani atau A.H Nasution. Aneh pula bahwa pasukan G 30 S tidak diperintahkan untuk memblokade markas Kostrad pimpinan Suharto yang leluasa. Padahal jika ingin menguasai Jakarta, mereka harus memastikan bahwa Suharto—orang  dalam peringkat pertama yang langsung menggantikan Yani (yang sudah terbunuh)—tidak  dapat mengerahkan pasukan balasan.

Jika skenario ini benar, berarti G 30 S PKI dirancang untuk gagal oleh Suharto. Tujuannya untuk menciptakan dalih yang dapat digunakan militer dalam menyerang PKI. Segala kelemahan strategi G 30 S jadi sangat terjelaskan.

Namun, Roosa lalu mengeluarkan asumsi-asumsi bantahan yang juga masuk akal untuk tidak gegabah membenarkan skenario mengerikan ini. Pertama, Suharto terlalu jenius dan adimanusia untuk dapat menginisiasi semua ini. Sith Lord aja belum tentu kepikiran. Apalagi, sebelumnya Suharto tidak mempunyai reputasi sebagai pengatur siasat yang pandai. Kedua, jika Suharto bekerja sama dengan jenderal-jenderal lain, tentu tidak mungkin merancang rencana yang menghendaki pembunuhan pada tujuh jenderal lainnya. Mengapa harus mengorbankan tujuh jenderal anti komunis dan mengacaukan militer? Ketiga, untuk sebuah upaya menjebak PKI dalam sebuah kudeta, G 30 S kurang terang-terangan mengakui keterkaitan PKI di depan publik. Keempat, pimpinan G 30 S tidak berpikir bahwa mereka bertindak atas nama Suharto. Melalui Supardjo, pimpinan G 30 S merekomendasikan nama-nama tiga jenderal sebagai calon pejabat sementara pimpinan Angkatan Darat untuk menggantikan Ahmad Yani: Pranoto, Basuki Rachmat, dan U.Rukmat. Suharto tidak masuk di dalamnya.

Pada akhirnya, Suharto meraih posisi yang bisa membuatnya berkuasa memerintahkan genosida itu berkat usaha, kenekatan, dan keberuntungannya sendiri. Seharusnya adalah Pranoto—selaku salah seorang anggota staf Angkatan Darat yang tidak anti komunis—yang  ditunjuk untuk menggantikan posisi Yani. Pranoto telah diangkat langsung oleh Sukarno. Namun, sang presiden tidak menyadari bahwa Pranoto dan staf Yani telah sepakat mengangkat Suharto sebagai panglima. Suharto tidak mengijinkan Pranoto meninggalkan Markas Besar Angkatan Darat dan bertemu dengan Sukarno. Suharto telah membelot dari keputusan Sukarno demi menguasai posisi dan komando Angkatan Darat. Pranoto sebagai salah satu harapan terakhir keselamatan G 30 S telah ditaklukan Suharto.

Penyelidikan akan skenario ini kemudian merujuk juga pada fakta yang vital. Suharto adalah teman dari dua orang pimpinan G 30 S: Letnan Kolonel Untung dan Kolonel Latief. Pasca komunis ditumpas, bagaimana Latief kemudian dikurung dalam sel bertahun-tahun sebelum diijinkan tampil di depan umum juga mengesankan ada dilema di pikiran Suharto: ia tak ingin Latief dieksekusi mati, tapi juga tak cukup nekat untuk membiarkannya bicara di depan publik. Pun terbukti pasca punya kesempatan bicara, Kolonel Abdul Latief mengaku memberi tahu adanya beberapa perwira Angkatan Darat yang akan mengambil tindakan pada Dewan Jenderal kepada Suharto beberapa hari sebelum G 30 S berlangsung. Dari sini cukup masuk akal jika kemudian Suharto bisa bergerak sangat taktis dalam menghadapi G 30 S. Ia tidak merancang, namun memanfaatkan.

Skenario Lima: CIA

Ini salah satu skenario konspirasi yang sudah popular juga, Dipercaya bahwa pemerintah Amerika Serikat telah mempersiapkan tentara Indonesia untuk bentrok dengan PKI dan merebut kekuasaan negara. Sudah sejak lama Amerika telah mendanai dan banyak mendukung tentara Indonesia dengan harapan mereka akan memerangi kiprah kaum komunis.

Motifnya jelas. Hal ini disokong memang dari seberapa penting kehancuran G 30 S bagi Amerika. Posisi Indonesia sebagai surganya sumber daya alam itu sangat menggiurkan. Selain jumlah penduduk, sumber daya Indonesia di minyak, timah, dan karet memang melimpah ruah. Dengan investasi lebih banyak, Indonesia akan menjadi produsen bahan mentah seperti emas, perak, dan nikel. Jatuhnya Indonesia di bawah kekuasaan komunis adalah hari kiamat bagi Amerika.

Politik luar negeri pasca Perang Dunia kedua memperlihatkan ketakutan Amerika pada pengaruh komunis. Bahkan, bisa dilihat bahwa perang Vietnam – Amerika yang tersohor itu sebenarnya hanyalah salah satu upaya untuk membentengi pengaruh komunis ke Indonesia. Gol sebenarnya yang ingin direbut adalah Indonesia. Dalam logika teori domino, negeri-negeri yang relatif tidak begitu strategis harus diamankan terlebih dahulu dari komunisme agar negara yang lebih penting dapat dipagari pengaruhnya. Indonesia adalah domino utama dan terbesar. Richard Nixon sempat membenarkan bahwa pemboman di Vietnam Utara adalah alat melindungi potensi mineral yang luar biasa di Indonesia. Artinya, Amerika juga pasti melakukan sesuatu di Indonesia, karena perang di Vietnam akan sia-sia jika Indonesia pada akhirnya dikuasai oleh PKI. Majalah Time sempat menulis bahwa naiknya Suharto adalah “Kabar terbaik bagi dunia barat selama bertahun-tahun di Asia.”

Tantangannya, Sukarno cenderung memusuhi Amerika lebih dari pemimpin negara yang sudah komunis sepenuhnya. Ia juga terlalu populer, hingga setiap serangan politik secara langsung terhadapnya pasti gagal. Agar sebuah kudeta berhasil di Indonesia, kedoknya mesti dibalik: usaha untuk menyelamatkan Presiden Sukarno. Karena PKI dan komunis kian mendapat kepercayaan nasional dan internasional, setiap serangan terhadap PKI pun harus bisa dibenarkan. Siasat yang digunakan adalah terus menerus memprovokasi PKI agar melakukan tindakan gegabah yang akan menampilkan partai tersebut sebagai antinasional.

Seorang perwira intelijen Belanda para Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memberi tahu Duta Besar Pakistan di Eropa Barat tentang gagasan ini pada Desember 2014. Ia berkata bahwa suatu kup komunis prematur yang sengaja dirancang untuk gagal akan memberi kesempatan yang sah dan memuaskan bagi Angkatan Darat untuk menghancurkan komunis. Pantas saja bahwa strategi tetap AS dari 1959 sampai 1965 adalah membantu para perwira Angkatan Darat mempersiapkan diri melakukan serangan hebat pada PKI. Angkatan Darat adalah titik penggalangan kekuatan anti komunis. Sekitar Juli 1965, Ahmad Yani pernah mengatakan, ”Kami mempunyai senjata, dan kami tidak membolehkan senjata jatuh ke tangan mereka (komunis). Karenanya, jika terjadi bentrokan, kami akan membersihkan mereka semua”.

Pun pasca G 30 S dan komunis dibasmi, Suharto dan jenderal sekawanannya tetap tak merasa bisa merebut kekuasaan Sukarno hanya dengan menebar senjata dan tank. Mereka menyadari Angkatan Darat tidak cukup punya legitimasi dan dukungan masyarakat untuk melakukan tindakan langsung pada Sukarno. Strategi Angkatan Darat adalah membangun institusinya menjadi negara dalam negara. Para perwira telah mejadi pemilik pabrik, perkebunan, serikat buruh, hingga surat kabar. Penggabungan yang lihai antara teror massa melawan musuh, kesepakatan sipil dalam aksi kekerasan anti PKI, demonstrasi anti Sukarno, perang urat syaraf melalui media massa mencerminkan pemahaman mendalam tentang bagaimana merebut kekuasaan negara. Dibanding dengan kup-kup lain di dunia, Angkatan Darat Indonesia merupakan kup yang luar biasa canggih.

Hanya dalam semalam, Indonesia berubah dari kekuatan di tengah-tengah perang dingin yang menyuarakan netralitas dan antiimperialisme menjadi rekan pendiam yang patuh pada tatanan dunia Amerika.

Analogi Petinju

Kelima skenario itu sampai saat ini memang tetap hanya skenario, mengingat waktu dan para saksi yang sudah kian jauh meninggalkan sang peristiwa. Sembari sedikit-sedikit mencari cuilan dari fakta-fakta sisa yang bisa disingkap, kita bisa terus menggugat apa yang tidak lagi samar melainkan konkret dari peristiwa tersebut, yakni dampak.

G 30 S dan Angkatan Darat bisa dilihat sebagai petinju. Koran PKI menggambarkan G 30 S sebagai tinju yang menghantam wajah Dewan Jenderal. Karena orang tidak merasa kasihan pada petinju yang terjungkal, maka tidak perlu mereka merasa kasihan pada anggota-anggota PKI yang ditahan dan dibantai oleh Angkatan Darat. Namun, pandangan dan analogi ini keliru untuk menafsirkan pembunuhan besar-besaran PKI. G 30 S diorganisir sebagai pemberontakan pada pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Agar setimpal, seharusnya mereka hanya menangkap anggota Politbiro PKI dan semua yang terlibat di G 30 S. Tapi bahwa kemudian Angkatan Darat membantai seluruh anggota PKI dan semua yang bersinggungan dengan mereka, ini memperlihatkan perbandingan yang berbeda.

Maka, kita berhadapan dengan seorang petinju yang tidak sekedar memukul knock out lawannya, tapi melakukan serangan juga pada semua penggemar petinju yang kalah di stadion, kemudian mengejar-ngejar serta menyerang semua penggemar petinju lawannya di seluruh penjuru tanah air atau bahkan mereka yang tinggal jauh dan tak pernah mendengar tentang pertandingan itu sama sekali.

Advertisements