Tags

, , ,

Di sela-sela maraton bacaan komunisme, saya kembali membaca buku kumpulan Cerpen Kompas Pilihan. Memang lagi perlu ada sentuhan-sentuhan literasi romantisme, biar nggak terlalu los ke kiri kayak jalan tol.

Ada cukup banyak karya yang berkesan di Cerpen Pilihan Kompas 2013. Utamanya, karena ramai eksperimen-eksperimen dari para penulis. Misalnya “Trilogi” dari A. Muttaqin yang membelah keutuhan cerpen menjadi tiga kisah berbeda atas benang merah tanda kebesaran tuhan. Ada juga “Laki-laki Tanpa Celana” yang berinkarnasi dari puisi, hingga sang jawara, “Klub Solidaritas Suami Hilang” yang mengusung plot wara-wiri.

Akan tetapi, wujud eksperimentasi paling signifikan adalah “Aku, Pembunuh Munir” karya Seno Gumira Ajidharma. Judul cerpen ini sudah beberapa kali saya dengar sebelumnya, dan gaya tuturnya memang sangat mencolok dibanding cerpen lain. Isinya adalah oceh pengakuan dari sudut pandang pembunuh Munir. Melibatkan fakta-fakta asli yang dirangkai dengan asumsi dan analisis dalam bahasa fiksi sarkastik. Membaca “Aku Pembunuh Munir” seakan seperti menyimak opini dan pendapat Seno perihal kasus tersebut. Mau tak mau ini merujuk pada pengalaman sang penulis sebagai wartawan. Bisa jadi inilah realisasi konkret dari pernyataan tersohor Seno,”Jika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.

Namun, bukan juga “Aku Pembunuh Munir”—di  luar temanya—yang paling mengesankan untuk saya. Melainkan justru salah satu cerpen dengan struktur narasi paling sederhana, yakni “Alesia” dari lagi-lagi Sungging Raga. Ia merupakan penulis di balik cerpen favorit saya bertajuk “Senja di Taman Ewood” dari buku Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2009.

Karakter penuturan Sungging Raga pada “Senja di Taman Ewood” terbaca juga di “Alesia”.  Sekali lagi kisah dengan drama yang minim kompleksitas namun mengantongi ledakan emosi di akhir. Premisnya simpel, seorang anak yang mengorbankan nyawa untuk kesembuhan Ibunya. Entah juga, mungkin gara-gara saya membacanya dengan iringan lagu-lagu dari album Mirror-nya Sarasvati. Elemen tragis dalam ruang khayal yang dibangun menjadi sedemikian hidup.

“Se… Sekarang, kau tak punya pilihan lain, bukan? Kau terpaksa harus mengambil nyawaku terlebih dahulu sebelum bertemu Ibuku.”

Advertisements