Tidak ada tokoh sejarah Indonesia yang lebih misterius sekaligus berpengaruh secara maujud selain Sjam Kamaruzaman. Siapa dia? Maunya apa? Kenapa dia begitu? Lagi apa? Mitos hidupnya mirip seperti karakter intel dan double agent di film-film kriminal Hollywood. Ia punya lima nama alias: Dimin, Sjamsudin, Ali Mochtar, Ali Sastra, dan Karman. Dari seseorang yang hampir tak pernah tersebut namanya dalam perjalanan PKI, tiba-tiba ia menjadi aktor penting di balik momentum perubahan sosial politik terbesar dari bangsa ini.

Berasal dari Tuban, Jawa Timur, ia lahir pada 30 April 1924. Sjam sudah kenal dengan D.N Aidit sejak 1949, ketika ia aktif di Serikat Buruh Kapal Pelabuhan di Tanjung Priok, Jakarta. Sjam adalah salah satu orang yang menyelamatkan Aidit di masa pelariannya pasca peristiwa Madiun 1948. Aidit pula yang secara langsung menawari Sjam kemudian untuk masuk PKI.

Kepada anak-anaknya, ia mengaku sebagai pengusaha dan komisaris PT Suseno, perusahaan penjual genteng di Pintu Air, Jakarta Pusat. Mereka tidak tahu kalau Sjam orang partai. Istrinya, Enok Jutianah bahkan meninggal karena sakit di 1964 yang konon disebabkan gara-gara tidak kuat dengan tuntutan untuk keluar dari aktivisme buruh dan pengurus Barisan Tani Indonesia. Enok diminta meninggalkan semuanya demi menunjang penyamaran Sjam sebaga intel PKI.

Biro Chusus, Tempat Kita Mengenal Sjam.

Kisah tentang Sjam tak bisa dipisahkan dari Biro Chusus, sebuah badan rahasia dari PKI yang  bertugas mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia secara ilegal. Pada masa itu, adanya organisasi khusus untuk memelihara kontak dengan tentara adalah hal yang lazim di beberapa partai.

Lembaga eksekutif PKI, Politbiro, dan Comite Central bahkan dibiarkan tak mendapat informasi apa pun soal gerakan bawah tanah ini. Kendali hanya ada di tangan ketua PKI, yakni Aidit. Biro Chusus terdiri atas lima orang agen inti di tingkat pusat dan tiga anggota di setiap daerah. Aidit menunjuk Sjam menjadi kepala Biro Chusus pasca meninggalnya Karto alias Hadi Bengkring. Karto, yang sangat dihormati, sempat mengatakan sebelumnya bahwa jangan sampai ia nantinya digantikan oleh Sjam. Karto sudah melihat ada tabiat-tabiat yang tidak beres dalam diri Sjam.

Sjam mengatakan bahwa Biro Chusus PKI dibentuk pada akhir 1964. PKI melihat bahwa banyak tentara masuk PKI sejak 1950, namun umumnya diorganisasi dengan peran yang tak maksimal oleh komite partai daerah. Ia lalu mendapat tugas dari Aidit untuk mempelajari dan mengorganisasi tentara itu secara tepat. Bersama Pono dan Bono, dua orang inti Biro Chusus lain, Sjam kemudian “menggarap” tentara. Kehebatan ketiganya dalam menembus militer ditandai dengan peran mereka sebagai intel tentara. Posisi ini membuat mereka leluasa keluar-masuk markas militer. Mereka punya kontak jenderal, kolonel, kapten, hingga prajurit lapis bawah. Keterlibatan Brigadir Jenderal Soepardjo dalam G30S PKI adalah salah satu contoh sukses Sjam.

Hubungan antara Sjam dan militer ini pun saling menguntungkan. Misalnya, saat menjadi komandan tentara untuk memberantas pemberontakan Darul Islam, Supardjo mendapat bantuan kader-kader PKI militan untuk menggunakan taktik pagar betis pada awal 1960an. Sjam bertugas memasok informasi seputar Darul Islam dan jaringannya. Keberhasilan Supardjo ini lantas membantunya naik pangkat dari kolonel menjadi brigadir jenderal. Di mata Supardjo, Sjam adalah orang yang punya banyak koneksi dan informasi tentang politik dan militer. Begitu juga dengan di antaranya Kolonel Latief, Kolonel Untung, dan Mayor Sujono. Semua adalah militer anggota PKI hasil binaan Pono.

Sosok Pemimpin yang Takut Mati?

Sjam, yang semula mengesankan dirinya sebagai pejuang komunisme yang kukuh, seketika menjadi cemen sejak di penjara pasca tertangkap oleh pemberantasan gerakan G30S. Ia dimusuhi bahkan oleh tahanan politik PKI sendiri karena dinilai terlalu mudah membocorkan informasi kepada penyidik.

Pertama kali Sjam muncul di depan publik adalah Juli 1967 di pengadilan. Kesaksiannya sungguh mengejutkan.  Sjam membenarkan semua tudingan. Ia mengaku memimpin Biro Chusus dan merencanakan aksi rahasia G30S. Ia menahbiskan diri sebagai pusat gerakan dan satu-satunya orang PKI yang berhubungan langsung dengan Aidit. Ini pertama kalinya orang-orang mendengar soal Biro Chusus, yang mana kemudian merupakan kelompok yang melangsungkan aksi G30S PKI tanpa diketahui hampir seluruh anggota PKI sendiri.

Sjam menekankan bahwa Biro Chusus adalah aparat ketua partai dan sama sekali tak punya hubungan dengan Politbiro atau Comite Central PKI. Ia bicara panjang lebar, termasuk menjelaskan bagaimana Biro Chusus diorganisasikan, cara mendapat informasi tentang perwira militer yang pro PKI, hingga cara meminta bantuan dan membujuk dukungan mereka. Perusahaan genteng yang ia pimpin hanyalah alat untuk mencari uang untuk Biro Chusus dan sarana menyamarkan hubungannya dengan perwira militer.

Namun, beberapa pengamat ragu dengan kesaksian ini. Jika Sjam berada dalam posisi yang begitu tinggi,  terhormat, dan terpercaya oleh Aidit, mengapa ia begitu saja membuka rahasia PKI? Untuk menjadi anggota PKI seseorang harus disumpah menyimpan rahasia partai. Dengan posisinya, ia harusnya menghormati aturan itu lebih dari yang lain. Kesaksiannya tidak mengindikasikan keloyalannya.

Pengamat yang skeptis seperti Benedict Anderson—yang hadir langsung dalam persidangan—curiga bahwa Sjam adalah agen tentara yang menyusup ke PKI dalam G30S. Soalnya, kesaksian Sjam telah membenarkan sebagian dari propaganda tentara perihal kepemimpinan PKI dalam G30S. Sarjana Belanda, W.F Wertheim mencatat bahwa dalam berbagai pengadilan selama bertahun-tahun kemudian, Sjam terus memberikan kesaksian yang memberatkan orang lain. Banyak tahanan politik yang percaya bahwa Sjam dalah intel tentara, bukan anggota PKI.

Akan tetapi, John Roosa dalam penelitiannya menemukan ada banyak kesaksian Sjam yang benar. Biro Chusus benar-benar ada, beroperasi di bawah Aidit secara pribadi (bukan Politbiro atau Comite Central) dan menempatkan Sjam sebaga kepalanya. Namun, Roosa beranggapan bahwa Sjam terlalu ingin menimpakan kesalahan pada Aidit (yang sudah dieksekusi) dengan menunjukan bahwa ia hanya pelaksana Aidit. Ia tidak menggambarkan seberapa berpengaruh dirinya pada keputusan-keputusan Aidit dan G30S. Padahal, Aidit sendiri mempercayai Sjam untuk menyuplai informasi tentang apa saja yang terjadi dnegan perwira militer dan seberapa siap para perwira itu melancarkan aksi tersebut. Ia menjadi penghubung dari kedua pihak—kalangan militer dan PKI—dalam gerakan itu.

Memang cukup tersedia argumen untuk mengatakan bahwa Sjam sendiri adalah sosok yang paling bertanggung jawab akan kegagalan G30S. Banyak yang percaya Laporan Sjam kerap keliru. Ia pun kelewat arogan dan yakin dalam menyiapkan G30S yang ternyata amburadul sejak dari dalam.

Sjam, kisah nyata 1001 Malam.

Di dalam penjara, sementara tahanan politik lain bergidik setiap kali sesi pemeriksaan datang, Sjam menghadapinya dengan senyuman. Sjam dilihat sebagai godfather atau penguasa yang disegani dan ditakuti para tahanan. Ia diperlakukan istimewa.

Ia bagaikan kisah 1001 malam. Konon, wanita yang ditiduri oleh sang raja akan segera dibunuh kemudian. Sehingga putri Syahrezad lalu senantiasa membacakan dongeng bagi sang raja tiap malamnya untuk menunda persenggamaan itu sampai bertahan 1001 malam. Sjam bahkan lebih hebat dari kisah dongeng tersebut. Sjam ditangkap pada 1967 tapi baru dieksekusi pada 1986, lebih dari 6000 malam. Sembilan belas tahun dipelihara sebagai pembocor, riwayat Sjam tamat di ujung bedil.

Sifat Sjam disebut pula menyebalkan. Ia dikenal suka omong besar. “Omongannya nggak pernah sesuai. Dulu dia bilang ‘Masuk Biro Chusus itu konsekuensinya penjara atau mati.’ Saya jawab,’Untuk partai sih apa saja saya lakukan’.Tapi setelah itu, saat menghadapi hukuman mati, ia gentar” – Hamim, satu-satunya anggota Biro Chusus yang tersisa (sebelum meninggal dunia di tahun 2009) “Bung Sjam suka membesar-besarkan garapannya terhadap militer. Sifatnya bombastis, sombong, dan omong besar”.

Apakah Sjam memang hanya seorang pejuang semu yang bernaluri oportunis di akhir? Atau jangan-jangan ia justru seseorang yang teramat cerdas dengan tugas yang berhasil ia selesaikan dalam wujud pembantaian satu setengah juta orang PKI?

Terakhir, beberapa orang percaya Sjam masih hidup. “Saya dengar dia dibuang ke Amerika. Ada juga yang bilang dikirim ke Arab Saudi. Kabarnya, anaknya pernah bertemu dia di Sumatera,” tukas Suryoputro, eks tahanan politik PKI dan sahabat karib SJam.

 

Advertisements