Tags

, , , , ,

Seorang kawan pemabuk pernah berucap, “Andaikan kita hidup di era Sukarno, pasti kita nongkrongnya bukan sama Aidit. Tapi sama Njoto.” Yup, lagi teler aja omongan kawan saya ini kadang-kadang masuk akal lho.

Membaca buku ini, saya juga jadi bisa membayangkan kalau Njoto ini orangnya kemungkinan asyik berat, hippies, santai kayak di pantai, dan beda sama Aidit atau Lukman. Tampilannya rapi dan dandy serta punya minat besar di bidang seni dan budaya. Ia menyukai musik klasik, jazz, dan hampir bisa memainkan segala jenis instrumen, terutama biola dan saksofon. Puisi dan seni rupa juga ia geluti. Tak ayal, Njoto ialah salah satu pendiri tersohor dari Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Kalau hidup di jaman sekarang, dia pasti bakal jadi anak gigs, pakai totebag, bikin zine, nongkrongnya di Bjong, Semesta Kafe, lalu bikin band post rock dan merilis album via YesNoWave Records. Hipster sosialis. Cah artsy pol!

Anaknya memang begitu katanya. Njoto dikenal punya gaya hidup yang tak terlalu puritan seperti anggota PKI yang lain. Ia sedikit punya naluri borjuis, doyan minum bir dan sering pacaran. Pola pikirnya lebih terbuka, tak menganggap yang kapitalis harus selalu dimusuhi. Njoto juga yang bersikeras mempertahankan agar Lekra tak sepenuhnya menjadi lembaga di bawah PKI, sehingga seniman yang nonkomunis pun bisa bergabung.

Bagi Aidit, Njoto sepertinya adalah sosok sidekick yang sanggup mengimbangi dan meredam gairah dan ambisi berlebih dari PKI. Seperti karakter Benny di film City of God.

Harian Rakjat, Bintang Merah dan Lekra

Njoto lahir 17 Januari 1927 di Jember, namun lebih panjang menjalani usia sekolah di Solo. Dari awal, hasrat politik sepertinya memang tidak terlampau menggurita dan mengontrol dirinya. Ia belajar politik secara sembunyi-sembunyi dan tak terlalu terlihat seperti aktivis dan mendiskusikan gerakan politik di sekolahnya.

Di situasi serba sulit pasca apa yang umum dikenal dengan Pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948, Aidit dan Lukman nekat menerbitkan Bintang Merah pada 15 Agustus 1950. Dua pekan sekali mereka juga meluncurkan stensilan Suara Rakjat, embrio Harian Rakjat yang berkembang menjadi koran terbesar dengan oplah 55-60 ribu per hari. Njoto bergabung di harian itu pada Januari 1950. Dua tahun kemudian, tiga serangkai (Njoto, Aidit, Lukman) menjadi pemimpin PKI. Aidit menjabat Sekretaris Jenderal, Lukman menjadi Wakil Sekjen 1 dan Njoto menjabat Wakil Sekjen II. Usia mereka saat itu jauh lebih muda daripada pimpinan partai lain di Indonesia, bahkan setengah usia pemimpin partai komunis negara lain. Sebagai ketua, Aidit bertanggung jawab terhadap politik secara umum, Lukman memimpin Front Persatuan, sementara Njoto mengemban urusan agitasi dan propaganda. Di tangan mereka bertigalah PKI melejit kilat sebagai kekuatan politik yang mengaum-aum.

Lewat Harian Rakjat dan Bintang Merah ini Njoto menghajar lawan-lawan politiknya. Pendiri Harian Rakjat sebenarnya adaah Siauw Giok Tjhan, wartawan majalah Liberty dan Pemuda. Ia juga pendiri Baperki, organisasi massa keturunan Tioghoa yang kemudian dilarang pasca G30s. Harian Rakjat memiliki jargon: “Untuk rakjat hanja ada satu harian, Harian Rakjat”. Giok Tjhan memimpin Harian Rakjat di dua tahun pertama, yang lantas digantikan Njoto sampai akhir. Sesuai dengan posisi Njoto sebagai ketua departemen agitasi dan propaganda, Harian Rakjat dimanfaatkan sebagai salah satu alat propaganda dan pendukung kebijakan PKI.

Harian Rakjat lahir di tahun yang sama dengan didirikannya Lekra oleh Njoto, Aidit, A.S. Dharta, dan seorang tokoh Murba bernama M.S Ashar. “Bahwa Rakjat adalah satu-satunja pentjipta kebudajaan dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia baru hanja dapat dilakukan oleh Rakjat,” begitu etrtulis dalam mukadimah Lekra.

Konon, Njoto jauh lebih dihormati di Lekra dibanding Aidit. Njoto tahu bagaimana melayani seniman yang tak mau diatur dan dikomando. Kehadirannya di rapat-rapat Lekra begitu berpengaruh. Mungkin karena memang lebih punya jiwa seniman dibanding pemimpin yang lain, Njoto sangat hati-hati menjaga keseimbangan ideologis di kalangan seniman. Meski ia yang merumuskan prinsip “politik sebagai panglima” dari Lekra, namun Njoto tak menghendaki pemerahan seutuhnya dalam tubuh Lekra. Ini bertolak belakang dengan keinginan anggota PKI lainnya. Njoto justru merasa anggota Lekra sebaiknya tidak harus semuanya dari kalangan komunis.

Njoto pula yang menghapus nama Ernest Hemingway—yang ia kenal personal—dan film The Old Man and The Sea dari daftar film Amerika yang haram ditonton. Ia juga mengaku suka dengan karya H.B Jassin dan Hamka. Saat Pramoedya Ananta Toer menghabisi karya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dengan kritik-kritik tajamnya, Njoto adalah sosok yang menyarankan agar Lekra tak menghancurkan Hamka. Njoto membuat Lekra lebih modern, terbuka, estetis, dan universal. Terutama dalam hal sastra.

Kendati puisi-puisi karangan Njoto disebut hanya punya kualitas rata-rata, namun masih lebih baik dari kepunyaaan Aidit. Sebagian besar puisi karya Lekra memang berupa propaganda, slogan, atau yang banyak disebut sebagai sajak poster. Kebanyakan aspek ideologi dalam sajak mereka masih mentah dan asal menyerang tuan tanah, kapitalis birokratis, atau Amerika.

Saking kuatnya karisma Njoto di Lekra, dikatakan para penghuni kantor pusat Lekra akan berdiri bila Njoto datang. Sementara kalau Aidit yang datang, mereka tak mau melakukannya. Pengaruh Njoto dianggap lebih berbahaya. Banyak seniman besar yang menjadi simpatisan komunis karena sosoknya.

 

 

Perselisihan antara Njoto dan Aidit, Gara-Gara Soekarno atau Perempuan?

Njoto dan Aidit bisa dibilang merupakan motor utama dari kiprah mengagumkan PKI di masanya. Bahkan, kehancuran partai itu pun juga bisa ditarik dari mulai renggangnya hubungan keduanya.

Bogor, 6 Oktober 1965, tatkala D.N Aidit kalang kabut entah ke mana, Njoto diminta Soekarno untuk mengeluarkan pernyataan resmi terkait gerakan 30 September. Dihadapkan ke publik, Njoto menukaskan,”PKI tidak bertanggungjawab atas peristiwa G30s. Kejadian ini adalah masalah internal angkatan darat.”

Walau masih simpang siur kebenaran besar di balik peristiwa gerakan 30 September, Aidit memang jelas terlibat. Namun, sesuai dengan yang dikumandangkan oleh Njoto, PKI tidak bertanggung jawab. Bahkan, kebanyakan tokoh elit PKI tidak tahu menahu perihal pergerakan yang sebelumnya disebut pemberontakan itu. Tak terkecuali Njoto sendiri.

Oleh Aidit, Njoto sudah lama dikucilkan dan dijauhkan dari PKI. Apa sebab?

Aidit secara perlahan jengah melihat kedekatan antara Njoto dengan Soekarno. Di satu sisi, tentu relasi baik PKI dan Soekarno adalah strategi politik yang sangat menguntungkan, namun lama kelamaan Aidit justru merasa khawatir.

Njoto memang sedemikian akrab dengan Soekarno. Keduanya saling mengagumi. Bung Karno menyukai Njoto karena ia satu-satunya pentolan PKI yang liberal, pragmatis dan tak dogmatis. Jika umumnya sesama pejabat memanggil “bung”, Soekarno terbiasa memanggil Njoto dengan sapaan “dik”. Bung Karno pernah menjuluki Njoto sebagai “Marhaenis sejati”, merujuk pada ideologi kerakyatan yang dicetuskan Soekarno. Sebaliknya, Njoto adalah orang pertama yang menelurkan istilah Sukarnoisme. Bahkan, Njoto adalah penulis andalan Soekarno untuk pidato-pidatonya. Dua penulis lainnya, Soebandrio dan Ruslan Abdoelgani mulai jarang dipakai sejak 1960.

Dari sini, kubu PKI terutama D.N. Aidit mulai cemas jika Njoto telah diperalat Soekarno untuk menggembosi PKI. Njoto dianggap berkhianat dengan mencetuskan Sukarnoisme, istilah baru dalam wacana ideologi. Asas PKI adalah Marxisme-Leninisme. Sukarnoisme dianggap lema baru yang bisa merongrong komunisme. Padahal bukan tanpa alasan, Njoto melihat bahwa Marxisme terlalu asing bagi petani dan borjuis kecil yang ingin digarap PKI sebagai basis massa. “Sedangkan Suakrnoisme lebih jelas, dan orangnya juga masih hidup.” Njoto juga kala itu lebih condong pada poros komunis Uni Soviet, bertentangan dengan Aidit yang merapat pada poros Peking.

Sejak 1964, Njoto pun diberhentikan dari semua jabatan fungsionalnya di PKI. Aidit sampai menerbitkan harian Kebudajaan Baru sebagai pesaing Harian Rakjat, sebab memecat Njoto sebagai pemimpin redaksi Harian Rakjat akan membuat konflik menjadi terbuka dan sama sekali tak menguntungkan PKI. Sayangnya, Kebudajaan Baru dirilis hanya satu-dua bulan menjelang peristiwa G30S.

Akan tetapi, apakah benar seorang Bung Karno adalah penyebab putusnya relasi harmonis Aidit-Njoto? Ada asumsi lain yang mengatakan bahwa pemicu sebenarnya adalah karena Aidit jengkel akan perselingkuhan Njoto dengan seorang gadis Rusia bernama Rita.

Njoto memang sering ditugasi berkomunikasi dengan partai komunis internasional di Uni Soviet.  Kebetulan (atau tidak?), Rita adalah penerjemah yang bertugas menemaninya setiap Njoto melawat ke sana. Ini yang kemudian dipertanyakan oleh Soetarni, istri Njoto: kenapa penerjemahnya harus perempuan?

Beberapa pihak mengatakan bahwa Rita sebenarnya juga adalah agen dinas rahasia Uni Soviet. Ia digambarkan sebagai gadis jinak-jinak merpati. Tidak terlalu cantik, tapi pintar. Ia kemana-mana memakai baju batik dengan rok sehingga begitu memikat jiwa raga para mahasiswa Indonesia. Selain enak diajak ngobrol, Rita kabarnya juga tak menampik diajak ke tempat tidur. Bahkan, belakangan diketahui perempuan berambut pirang itu kerap tidur dengan banyak mahasiswa asal Indonesia lainnya. Rita jadi idola bangsa kita.

Pada akhir 1964, terbetik gosip jaman perjuangan kabar bahwa Njoto akan menikahi Rita. Sontak saja Soetarni dan Aidit tersentak. Aidit yang antipoligami dan tak pandang bulu mengeluarkan aturan untuk menerapkan skorsing bagi siapa saja yang ketahuan berselingkuh. Jabatan Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda PKI yang disandang Njoto pun dicopot. Hubungan antara Aidit dan Njoto otomatis mulai ompong. Mungkin saja ketiadaan Njoto secara normatif di samping Aidit membuat sang ketua kehilangan partner yang bisa meredam dan menjaga langkahnya, sehingga keputusan-keputusannya mulai tak terkontrol. Di antara masa-masa itu, lahirlah gerakan 30 September.

Pesan moral yang bisa diambil kemudian adalah bahwa partai raksasa beranggotakan jutaan kepala dan ideologi sekokoh beringin pada akhirnya juga bisa luluh lantak hanya gara-gara perempuan.

 

 

Advertisements