Tags

, , ,

Andai saja perkembangan teknologi maju lebih cepat, mungkin Soeharto tidak hanya akan memesan film Pengkhianatan G-30-S PKI. Ia juga akan memerintahkan Dinas Kebudayaan untuk menggarap video games anti-PKI. Jikalau itu sampai kejadian—dengan titel Soeharto—maka sudah pasti yang akan jadi villain boss-nya adalah D.N Aidit. Hampir semua seluk beluk personalitasnya memang mendukung penokohan semacam itu.

Nama lengkapnya adalah Dipa Nusantara Aidit. Keren gilak! Kawan-kawan saya iseng menduga-duga penyebutan akronim “D.N” itu disengaja akibat nama itu terlalu keren, sehingga ditakutkan bisa menimbulkan impresi positif untuk masyarakat. Terdengar lebay sih, tapi bukannya negara ini memang sudah terbiasa berlebihan dan norak tiap menghadapi  serba-serbi komunisme?

Yah, nama aslinya sih Achmad Aidit. Ia lahir dari keluarga terpandang di Belitung, Sumatera Selatan, pada 30 Juli 1923. Sejak kecil, Aidit terkenal bukan orang yang mudah didekati, dingin, dan tak ramah. “Saya tak pernah merasa nyaman bila bersamanya,”ujar seorang bekas wartawan Harian Rakjat.

Ia bersekolah di Batavia, tepatnya di sebuah sekolah dagang bernama Middestand Handel School (MHS). Di sana, bakat kepemimpinan dan idealismenya yang berkobar-kobar mulai nampak. Bahkan, karena terlalu aktif di luar sekolah, ia tak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya. Praktis, Aidit adalah tamatan sekolah dasar.

Aidit mengawali karir politiknya dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai sarang pemuda garis keras bersama di antaranya Adam Malik dan Sayuti Melik. Ia terlibat di pemberontakan Madiun pada usia 25 tahun. Bahkan ia ditugasi mengoordinasi seksi perburuhan partai, padahal banyak yang lebih senior kala itu. Kalah di sana, ia sempat tertangkap di Yogyakarta, namun segera lepas kembali karena tak dikenali dengan samaran sebagai pedagang Cina. Sebagian pihak mengatakan Aidit  kabur ke Vietnam Utara dan Cina, sedangkan yang lain menukaskan ia bolak balik Jakarta Medan.

Dua tahun kemudian, ia muncul kembali lalu memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Namun, Aidit sendiri tinggal di Yogyakarta, lalu bersama Lukman menghidupkan lagi majalah dwibulanan Bintang Merah. Dua pekan sekali, mereka juga meluncurkan stensilan Suara Rakjat, embrio Harian Rakjat yang menjadi koran terbesar dengan oplah 55 ribu per hari. Belakangan, Aidit menjadi sosok yang banyak menggugat Mohammad Hatta sebagai dalang di balik penjebakan PKI di Madiun.

Bagai Three Musketeers, PKI bangkit kembali ditempa oleh tiga anak muda: Aidit, Njoto dan Lukman. Di bawah kepemimpinan ketiganya, PKI tumbuh lebih besar daripada sebelumnya. Ia mengambil alih partai itu dari komunis tua seperti Alimin dan Tang Ling Djie pada 1954. Lantas, Aidit meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul “Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi”. Ia juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia dengan manfaat menggaet Soekarno yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan politik. Strategi ini sukses menyandera Soekarno. Terkesan Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra bahwa PKI adalah pendukung Bung Karno dan pancasila.

Cuma butuh setahun, PKI sudah masuk empat partai terbesar di tahun 1955. PKI mengklaim beranggota 3,5 juta orang. Pada 1957, Aidit melaporkan jumlah perempuan anggota partai sudah mencapai 100 ribu kepala. Inilah partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Artinya, PKI di bawah kepemimpinan Aidit dalam usia ke 31 tahun adalah partai komunis terbesar di negara nonkomunis. Sangat mungkin Indonesia menjadi negara komunis jika keadaan selanjutnya berjalan normal. Aidit optimis partainya bisa meraih posisi nomor satu sebelum pemilu 1975. Sayang seribu sayang.

Aidit punya teori bahwa sebuah revolusi bisa dimulai dengan kudeta asalkan kup disokong 30 persen tentara. Kabarnya, gagasan ini sempat dipersoalkan oleh sesama aktivis komunis negara lain karena tak pernah ada dalam ajaran Marxisme.

Aidit juga mendirikan Biro Chusus bersama Sjam Kamaruzaman, tokoh misterius yang tak banyak dikenal petinggi PKI lain di tahun 1964. Biro Chusus menjadi bahan gunjingan karena didirikan tanpa konsultasi dengan anggota Comite Central lain, sehingga sering disebut sebagai PKI ilegal. Tugasnya adalah merebut kekuasaan dan infiltrasi ke tubuh PNI.

D.N Aidit, Penanggung Jawab Gerakan 30 September?

Sudah tentu ada banyak versi perihal peristiwa G30S. Jadi, ini yang terulas dalam buku Aidit : Dua Wajah Dipa Nusantara:

Dalam Buku Putih G30S/PKI yang diterbitkan sekretariat negara, disebutkan bahwa Aidit menyatakan bahwa gerakan merebut kekuasaan harus dimulai jika tak ingin didahului Dewan Jenderal. Gerakan G30S dipimpin oleh Aidit dengan Sjam sebagai pemimpin pelaksana.

Mulanya, Sjam diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno wafat. Ini membuat panik Aidit. Menurut Kolonel A. Latief, Gerakan 30 September dirancang untuk menggagalkan upaya kup Dewan Jenderal. Namun, kemudian aksi itu diselewengkan oleh Sjam yang mengarahkan aksi itu menjadi penangkapan jenderal, hidup atau mati.

Aidit ditangkap di Desa Ambreng, Solo pada 22 November malam untuk ditembak mati pada esoknya. Sebelum ditangkap, Aidit dikabarkan memberi pengakuan sebanyak 50 lebmbar yang kini jatuh pada Riuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo. Menurutnya, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi dari gerakan G30S. Dan, memang hanya segelintir dari pihak PKI yang mengetahui aksi tersebut.

Menurut Victor Miroslav Fic, penulis buku Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi, Aidit melakukan cek terakhir G30S di rumah Sjam. Rencananya, Aidit bertemu Sukarno di Halim Perdanakusuma, lalu memaksanya membersihkan Dewan Jenderal dan mengundurkan diri sebagai presiden. Namun, pertemuan dengan Sukarno gagal. Sebagai gantinya, Aidit mengutus Brigadir Jenderal Soepardjo menemui Soekarno, yang juga berada di Halim, namun di tempat terpisah.

Pada 2 Oktober, Aidit pergi ke Yogyakarta. Selain untuk konsolidasi, lawatan itu juga untuk menyelamatkan diri mengingat Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan basis PKI. Pertemuan beberapa jam dengan Ketua Comite Daerah Besar PKI Yogyakarta, Soetrisno memutuskan bahwa PKI setempat akan melancarkan aksi massa membela Bung Karno. Pertemuan berlangsung beberapa jam. Setelah itu, Aidit bertolak ke Semarang yang menghasilkan sikap politik PKI yang menyatakan G30S adalah masalah internal angkatan darat dan partai tak ada sangkut pautnya dengan gerakan itu. Tugas utama partai kini melakukan konsolidasi kekuatan untuk menangkal serangan dari kawan lawan politik partai dan presiden.

Usai pertemuan, petang itu juga Aidit dilaporkan meluncur ke Boyolali dan Solo. Namun, bertolak belakang dari hasil perundingan di Semarang, pertemuan di Solo justru mendukung operasi G30S beserta tujuan-tujuannya. Partai harus melancarkan perjuangan bersenjata untuk mendukung gerakan yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Perbedaan keputusan Semarang dan Solo inilah yang menyebabkan pendukung partai terbelah: golongan radikal dan moderat. Yang juga belum jelas adalah bagaimana Aidit bisa melakukan rapat di Yogyakarta, Semarang, dan Solo sekaligus dalam waktu sehari.

Versi lain tertulis dalam surat Aidit ke Sukarno, tertanggal 6 Oktober 1965. Malam 30 September, ia dijemput tentara berpakaian pengawal presiden Cakrabirawa untuk rapat darurat kabinet di istana negara. Tapi dia malah dibawa ke Jatinegara dan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Di Halim, Aidit ditempatkan di rumah kecil, dan diberi tahu akan ada penangkapan terhadap anggota Dewan Jenderal. Esok harinya, Aidit mendapat kabar bahwa Sukarno memberi restu terhadap penyingkiran Dewan Jenderal. Aidit lalu diminta ke Yogyakarta dengan pesawat untuk mengatur kemungkinan evakuasi Sukarno. Kota itu diaggap tempat yang tepat untuk markas pemerintahan sementara.

Aidit lalu mengirim surat minta maaf tak bisa datang ke rapat kabinet di Bogor karena pesawat AURI yang akan mengantarnya rusak. Surat itu diakhiri dengan enam usul untuk menyelesaikan krisis politik akibat penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat tersebut. Aidit mengaku tak tahu sebelumnya soal gerakan tersebut. Kepada Presiden, Aidit mengusulkan agar peristiwa itu diselesaikan secara politik.

Dalam sidang terakhir Kabinet Dwikora, 6 Oktober, Sukarno bisa meyakinkan kabinet untuk menerima usul Aidit. Tapi perkembangan yang terjadi kemudian berujung pada kekalahan PKI. Selang beberapa hari, Aidit ditangkap anak buah Komandan Brigade Infantreri 4 Kodam Diponegoro Kolonel Yasir Hadibroto. Itulah akhir karir dan hidupnya.

Rahasia Naik Turun PKI

Prestasi Aidit membesarkan PKI jelas tak tertandingi. Apa rahasianya? Aidit membangun struktur organisasi yang ketat dengan seleksi dan perekrutan anggota yang rapi. Pendidikan politik juga mendapat perhatian khusus. Inilah yang membuat PKI mempesona banyak orang. Di tengah sistem pendidikan nasional yang belum berkembang serta jumlah sekolah dan guru terbatas, kegiatan pendidikan yang diselenggarakan PKI di berbagai tingkat seperti menjadi jalan menuju modernitas. Analisis Marxis, studi ekonomi politik, sejarah masyarakat yang diajarkan di sekolah dan kursus politik milik partai tidak hanya menawarkan isi tapi juga cara berilmu baru.

Namun, elemen paling penting adalah tumbuhnya komunitas yang berpusat pada organisasi partai. Kantor partai adalah tempat yang hidup, dan para pengurusnya adalah orang yang aktif dalam komunitas. Organisasi secara konkret membantu anggota menghadapi masalah, mulai dari tekanan politik pihak lawan sampai urusan sehari-hari seperti melahirkan dan kematian. PKI berhasil membangun komunitas berbasis solidaritas dalam masyarakat yang penuh ketegangan dan pertentangan.

Sepanjang 1950-an, PKI juga bermain sesuai jalur dan tidak terlibat aksi pemberontakan di daerah atau usaha menyingkirkan pemimpin. Tak heran, Soekarno melihatnya sebagai sekutu penting mengimbangi tekanan pihak militer.

Semua berubah pada awal 1960-an. Angkatan darat dan anti komunis melihat PKI sebagai ancaman nyata. Apalagi ketegangan sosial dan perekonomian sedang memburuk. Masuk ke gelanggang politik baru, tekanan berbagai pihak dalam keputusan penting pun semakin terpusat di tangan segelintir pimpinan. Jarak dengan massa mulai terasa sekalipun jumlah anggotanya bertambah. Komunitas yang tumbuh di sekeliling partai kini terpusat pada mobilisasi dan semakin banyak pertimbangan survival yang melandasi kebijakan partai. Buruh dilarang mogok, petani dminta menahan diri agar tidak mengambil alih lahan, jika sasarannya adalah sekutu dalam front nasional.

Anggota yang kian bertambah tak hanya melibatkan rakyat kecil, tapi juga pejabat kapitalis birokrat yang memandang PKI sebagai jalan mengamankan posisi dalam birokrasi dan membangun perlindungan menghadapi pergulatan sosial yang penuh konflik. Meminjam istilah sejarawan Jacques Leclerc, PKI seperti “raksasa berkaki lempung”.

Di tengah keadaan ini Aidit mendengar berita tentang Dewan Jenderal yang berencana menggulingkan pemerintahan Soekarno. PKI sebagai partai sudah terlalu lamban untuk mengikuti dinamika yang berlangsung cepat, sementara keadaan menuntut ketangkasan politik. Keputusan menentukan harus diambil dalam hitungan jam dan hari.

Menjelang peristiwa itu, kekuasaan terpusat pada tiga pihak, yakni Soekarno, PKI dan Angkatan Darat. AD menguasai senjata, sedangkan PKI menguasai massa. Kalau saat itu diadakan pemilu, niscaya PKI yang menang. Sebab itu kekuatan antikomunis mengupayakan Soekarno menjadi presiden seumur hidup agar status quo tetap terjaga. Ini berkat kemampuan Soekarno dalam menjaga perimbangan politik. Ia tak pernah memberikan kesempatan pada elit komunis untuk memimpin departemen selain menjadi menteri negara. Ia juga selalu menolak usulan pembubaran Himpunan Mahasiswa Islam oleh mahasiswa kiri.

AD dapat mengkudeta Sukarno namun tidak akan didukung rakyat dan dunia internasional. Sementara PKI tidak punya senjata. Namun, pada akhirnya, yang panik terlebih dahulu adalah PKI yang takut AD mencuri start. Aidit percaya keberadaan manuver Dewan Jenderal. Biro Chusus PKI lantas berencana menculik para jenderal dan dihadapkan pada Bung Karno. Bila mereka dipecat, ancaman kudeta tidak akan terjadi lagi dan posisi PKI akan semakin kuat.

Ternyata penculikan terhadap tujuh orang itu gagal, karena hanya tiga orang yang masih hidup ketika dibawa ke Lubang Buaya. Ketika dilapori peristiwa ini, Sukarno di pangkalan AU Halim Perdanakusuma memerintahkan agar gerakan diberhentikan. Namun, terjadi kekalutan karena ternyata dalam gerakan itu tidak ada satu komando yang dapat mengambil keputusan tunggal. Sjam hanya koordinator antara Biro Chusus dan perwira militer.  Andai perintah Sukarno itu segera dipatuhi, mungkin korban jatuh tak akan banyak. Kalau saja Soeharto yang membangkang perintah presiden untuk datang menuju Halim Perdanakusuma langsung dipecat oleh Sukarno, tentu sejarah akan berbeda. Kekurangan utama Sukarno adalah ia menganggap enteng seorang Soeharto.

 

Antagonisme Buruk Aidit di Media

Berpuluh tahun sebelumnya, sumber visualisasi dan informasi tentang sosok D.N Aidit hanya diketahui dari film kolosal Pengkhianatan G-30-S PKI (1982). Sosok Aidit diperankan oleh Syu’bah Asa (budayawan dan wartawan Tempo)dengan asap rokok dan pribadi yang penuh muslihat.  Padahal, belakangan terkuak bahwa Aidit bukan perokok.

Untuk penokohan Aidit yang tidak tepat, Syubah sendiri menukaskan bahwa bahan riset yang minim dan ketiadaan akses ke keluarga almarhum jadi momok. Gambaran tentang Aidit hanya didapatkan dari diskusi intens dengan Amarzan Ismail Hamid, penyair yang mengenal Aidit secara pribadi, termasuk posisinya sebagai redaktur Harian Rakjat. Namun, Amarzan sendiri pada akhirnya menyebut akting Syu’bah itu “buruk.”

Film Pengkhianatan G-30-S PKI menghabiskan bujet 800 juta rupiah, menjadikannya film termahal pada awal dekade 80-an.  Arifin C. Noer yang sejatinya merupakan sutradara berkelas pun sempat mengaku merasa bersalah terhadap segelintir orang, di antaranya adalah Goenawan Mohamad.

 

Maunya Menulis Puisi, Tapi..

Aidit menulis puisi, tapi sajak-sajaknya miskin imajinasi. Puisi-puisinya pernah ditolak dimuat di Harian Rakjat, koran yang sebenarnya berada di bawah kendalinya sendiri. Amarzan sendiri selaku redaktur yang menyatakan puisi itu tidak layak dimuat, langsung kepada Aidit via sambungan telpon. Brak, telpon pun dibanting.

Menurut Amarzan, ia menolak puisi Aidit justru karena ingin menyelamatkan martabat sang Ketua. “Puisinya sejenis puisi poster,”ujarnya.

Tak hanya Amarzan. Owy Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI juga berpendapat sama. Ia dulunya sering dikirimi sajak oleh Aidit untuk dimintai pendapat. Namun, sosok yang juga penulis prosa dengan nama samaran Ira Iramanto atau Samandjaja itu tak pernah menggubrisnya. “Buat apa? Jelek.”

Aidit banyak menulis puisi dari 1946 sampai 1965. Sajaknya hampir seluruhnya berisi puji-pujian pada partai atau anjuran revolusi. Ia menggunakan puisi sebagai media untuk berkomentar atas peristiwa aktual yang ia lihat dan dengar dengan gaya menyeru dan berpetuah. Pada tahun 1964, ia menulis bahwa sastra harus bertanggung jawab, berkepribadian nasional, dan mengabdi pada buruh dan rakyat. Kredo ini menjadi semacam tren yang dianut para penulis berhaluan kiri.

Namun, ada dugaan semua minatnya hanya dalam rangka mencontoh para pembesar komunis di Asia yang juga pandai menulis puisi. Misalnya, Mao Zedong. Bahkan, Mao menuliskan sebuah sajak belasungkawa tatkala mendapati kabar tewasnya Aidit. Konon, Aidit juga pernah berenang di sepotong sungai Jakarta karena tahu Mao pernah juga menyeberangi sungai Yang-Tse di Cina.

 

Dramatis.

Baru kali pertama saya sebegitu emosional membaca buku tokoh sejarah Indonesia. Kisah yang mengiringi sendi-sendi riwayat D.N Aidit sedemikian tragis, dramatis dan mencekam.

Kabarnya, Aidit bersembunyi di dalam lemari waktu tertangkap militer pasca 30 September. Malam itu juga Kolonel Yasir Hadibroto menginterogasi Aidit. Sang ketua PKI lalu membuat pengakuan tertulis setebal 50 halaman. Isinya, antara lain, hanya dia yang bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Sayang, menurut Yasir, Pangdam Diponegoro kemudian membakar dokumen itu.

Menjelang dini hari, Yasir kebingungan. Selanjutnya harus bagaimana. Aidit berkali-kali minta bertemu dengan Soekarno, namun Yasir menolak karena yakin persoalan akan jadi lain lagi jika keduanya dipertemukan. Akhirnya, pagi buta, Yasir membawa Aidit dari Solo ke arah Boyolali. Mereka menggunakan tiga buah jip di mana Yasir berada bersama Aidit di jip terakhir.  Tanpa sepengetahuan dua jip pertama, Yasir belok masuk ke Markas Batalion 444. Ia dibawa ke sebuah sumur tua di belakang rumah seorang komandan Batalion. Di tepi sumur, Yasir mempersilahkan Aidit mengucapkan pesan terakhir, tapi ia malah berapi-api pidato. Ini membuat Yasir geram. Maka, dor!

Tepat 24 November, Yasir bertemu Soeharto di Yogyakarta. Pasca melaporkan pekerjaannya, termasuk keputusan membunuh Aidit, sang kolonel memberanikan diri bertanya, “Äpakah yang Bapak maksudkan dengan bereskan itu seperti sekarang ini, Pak?”Soeharto tersenyum.

Waktu menyusul Aidit ke Boyolali, Soetanti selaku istri Aidit bertemu Bupati Boyolali yang juga tokoh PKI. Tak lama, ia kembali ke Jakarta dengan cara menyamar. Tanti dan Pak Bupati pura-pura menjadi suami-istri. Agar aksi penyamaran ini sukses, dua orang bocah kemudian diambil sebagai anak angkat. Suami istri darurat itu kemudian mengontrak sebuah rumah di Cirendeu, Jakarta. Setelah sukses berbulan-bulan, sandiwara itu terbongkar karena kecurigaan tetangga melihat Pak Bupati selalu bilang ïnjih-injih kepada istrinya. Sikap dua anak yang tak pernah manja itu juga mencurigakan. Tanti pun lalu tertangkap dan dipenjarakan secara berpindah-pindah.

Asal tahu, Soetanti bukan wanita biasa. Selain cucu Bupati Tuban pertama, ia adalah keturunan ningrat (ada hubungan darah dengan R.A Kartini) dan teman sekolah Sutan Sjahrir. Ia lalu masuk sekolah kedokteran di Semarang dan menjadi dokter ahli akupunktur pertama di Indonesia.

Aidit sangat anti poligami. Ia pernah memarahi Njoto yang hendak menikah lagi dengan seorang penerjemah asal Rusia. Seluruh posisi Njoto bahkan dipreteli. “Tidak etis”, kata Aidit, untuk memiliki pacar di luar pernikahan. Semasa kepemimpinannya, sikap anti poligami dan anti selingkuh bahkan hampir menjadi garis partai. Banyak anggota PKI yang diskors karena ketahuan memacari istri orang.

Sementara itu, kelima anak Aidit terbagi menjadi dua pasca tragedi tersebut. Dua putrinya (Ibarruri Putri Alam dan Ilya Aidit) berkelana ke Cina, Birma, hingga Perancis. Sementara tiga putranya (Iwan Aidit dan si kembar Ilham dan Irfan) dijaga kakeknya untuk kemudian pindah ke Bandung dengan pamannya. Ilham sendiri punya ingatan yang dramatis. Ketika usianya 9 tahun, empat orang petugas datang dan menanyakan apakah ada anak-anak Aidit yang bersembunyi. Ilham dan Irfan tengah bermain kelereng di halaman kala itu. Mengetahui dua anak itu masih kecil, dua petugas itu lalu menyarungkan pistol dan pergi.

“Äku betul-betul gemetar”, kenangnya. “Kami selamat karena umur.” Beruntung, Iwan yang sudah agak besar tidak di tempat.

Beranjak dewasa, ketika sekolah di SMA Kanisius, Ilham kerap berkelahi karena sering diejek anak D.N. Aidit. Ketika lulus sebagai arsitek pada 1987 pun—persis ketika pemerintah gencar melakukan screening terhadap anak-anak mantan anggota PKI—kehidupannya  menjadi sulit. Ia selalu pindah kerja, begitu pun sang kakak, Iwan, yang dikeluarkan dari perusahaan ternama pasca diketahui anak PKI. “Begitu mereka tahu aku anak Aidit, mereka membuat aku tidak betah supaya keluar.”

Ilham juga gemar mendaki gunung dan menjadi anggota kelompok pecinta alam Wanadri. Di sana, ia mengenal Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, komandan pasukan khusus yang membasmi PKI pasca-G30S. Menurut Ilham, ia bertemu pertama kali dengan Sarwo Edhie pada 1981, sewaktu dilantik menjadi anggota Wanadri. “Aku didekap sama dia. Tidak lama, hanya belasan detik,”kata Ilham.

Pertemuan kedua berlangsung pada 1983 dalam sebuah acara pelantikan anggota baru Wanadri di Kawah Upas, Tangkuban Perahu. Sekitar pukul 6.30 pagi, Sarwo Edhie mendatanginya. “Kamu sekarang jadi apa nih?”tanya Sarwo. Ilham memberitahukan bahwa dia sudah jadi kepala operasi. “Bagus,”sahut Sarwo Edhie.

Sarwo lalu berkisah tentang peristiwa 30 September itu. “Kamu bisa menerima ini kan?”kata Sarwo. “Ia tidak meminta maaf, tapi saya lega. Ini bentuk rekonsiliasi yang lengkap,” tukasnya.

 

Advertisements