Tags

, , , ,

Kalau biasanya saya ngomongin buku di blog ini cuma haha-hihi ngaco, ini resensi buku (sok) serius pertama saya. Dimuat di situs Warningmagz.com:

 

Narasi

Ada satu momen keramat yang selalu saya temui di beberapa media yang pernah saya bekerja di dalamnya, yakni terdengarnya bisikan. Entah bisikan dari mereka yang mengaku pemerhati media, atau sekadar dari hati yang rapuh. Seperti turunnya wahyu. Kadang lembut, kadang tegas. Tapi selalu sama, mengguncang iman. Bisikan itu berbunyi kurang lebih “Jika ingin mediamu berkembang, hari ini konten harus pendek.”

Singkat, ringkas, dan praktis. Itu yang diinginkan masyarakat hari ini. Lucunya, tak satupun media tempat saya bekerja yang lalu mengiyakan bisikan itu. Kami memilih ngeyel, dan hasilnya mungkin media kami jadi benar-benar sulit berkembang. Otomatis gaji saya pun ikut ngeyel ogah cepat-cepat naik. Begitulah, namanya wahyu seharusnya memang jangan pernah diabaikan.

Mau dikata apa, trennya jelas mengarah ke sana. Adu kecepatan dan jurnalisme 300 kata. Media massa dan publik berlomba-lomba menjadi yang pertama memproduksi dan mengakses informasi. Bukan tidak mungkin, suatu kala media massa tidak lagi merilis berita, tapi merilis judul berita. Siapa tahu?

Pindai lantas menelurkan buku ini, #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme. Ada 18 narasi liputan panjang, total sekitar 80 ribu kata. Mereka bukan ngeyel, tapi agaknya memang sengaja meluangkan energi dan waktu untuk memecut perubahan. Memperkenalkan prosa jurnalisme ke wilayah daring. Beragam istilah tersemat untuk jurnalisme yang lebih dalam dari in-depth reporting dan ditunjang oleh penulisan sastrawi ini. Di tahun 2005, Pantau merilis Jurnalisme Sastrawi dengan konsep kurang lebih sama. Satu dekade berlalu, kita masih tetap saja terlalu sering menyebut karya Bondan Winarno, Bre-X: Sebongkah Emas di Kaki Pelangi sebagai contoh terbaiknya. Akhirnya #Narasi coba menggugah lagi geliat itu.

Barang tentu buku ini juga melihat bahwa memang ada publik yang menginginkan bentuk berita yang komprehensif dan mendetail. Kesadaran kebutuhan informasi dari mereka tak puas dengan gambaran peristiwa yang beku. Orang-orang itu mendambakan yang lebih hidup. Semua diupayakan oleh 18 orang tekun, gigih, dan jauh dari ketergesaan dalam buku ini. Mereka adalah orang-orang yang memenangkan waktu dan ruang untuk menyampaikan sebuah cerita.

Saya melihat upaya ini adalah jawaban untuk salah satu elemen jurnalisme oleh Bill Kovach dan  Tom Rosenstiel: “Wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan”. Alih-alih memperdebatkan menarik versus relevan.  jurnalisme adalah mendongeng dengan sebuah tujuan. Karena itu teknik dan seni bercerita menjadi hal yang sangat bernilai bagi saya dalam menikmati kedelapan belas artikel di sini.

Alhasil, saya kurang tertarik dengan tulisan dari Jogi Sirait dan Anugerah Perkasa dalam #Narasi yang kurang mampu menyulap persoalan berat serta nominal-nominal menjadi kisah yang renyah. Membaca kedua artikel itu tak ubahnya seperti liputan majalah Tempo. Masih di tahap relevan, belum terlalu menarik. Mungkin memang agak tidak adil untuk dikomparasikan, karena kendala mereka ada di jenis wilayah pemberitaan: Jogi Sirait (“Dalam Selimut Konflik”) dengan istilah-istilah hukum dalam konflik agrarian di Jambi, sementara Anugerah Perkasa (“Hibah Panas Hamba Allah”) mesti bergelut dengan uraian angka-angka ekonomi sebagai alat penelusuran dugaan korupsi.

Akan tetapi, dalam kesempatan menuangkan sastra di dalamnya, ada banyak manuver yang bisa diusahakan. Penggunaan metafor, pengembangan karakter, hingga penentuan sudut pandang. Untuk yang terakhir ini, kita bisa melihat perbedaan antara tulisan Nody Arizona  dan Puthut EA. Keduanya terjun dalam pemberitaan usaha tembakau lokal yang unggul menyumbang kekayaan negara dan perekonomian rakyat. Namun, jika Nody Arizona (“Mengejar Kere Minggat”) memperbincangkan kesulitan pengusaha tembakau rumahan yang lahan kerjanya semakin dikeruk, Puthut (“Hikayat Negeri Tembakau”) justru mengampanyekan pelestarian tembakau dengan cara sebaliknya, yakni menunjukan petani beli helikopter. Jika mereka bisa sejahtera dengan itu, lalu apa masalah sebenarnya?.

Yang terbaik dari introduksi genre jurnalisme naratif oleh #Narasi adalah memperlihatkan bahwa jurnalisme sama sekali tidak kaku. Mereka bisa mencapai bentuk-bentuk yang bebas dan menolak formula. Semisal Budi Setiyono (“Luka dari Saudara Tua”) yang menyajikan bauran antara resensi buku dan reportase. Sementara sosok yang vokal dalam jurnalisme bersangkutan, Andreas Harsono (“Hoakiao dari Jember”), memberikan kejutan ngehe dalam tulisannya. Sebuah twist yang membuat kita menjerit kesal di akhir selayaknya nonton film Usual Suspect.

Ada juga Yusi Avianto Pareanom (“Dua Dunia Indian Amerika”) yang menyumbang “dongeng” paling menghibur. Ia mengisahkan pengalamannya berbagi hari-hari dengan suku Indian modern. Semacam laporan etnografis yang mengesankan. Benar-benar kita diberi ruang terlibat lebih dalam dengan sejumlah fakta mencengangkan perihal suku etnis yang terlalu dirias menjadi simbol peradaban tertinggal oleh Hollywood itu. Hampir serupa dengan “Hikayat Negeri Tembakau”, jurnalisme yang mengesankan tidak harus berupa berita buruk. Kita juga bisa geli sendiri dengan apa yang dikisahkan Yusi yang sebenarnya tidak berniat melucu. Tapi begitu dia sepenuhnya masuk mode lawak di curhatannya tentang kasino, kita akhirnya tergelak.

Gaya bahasa yang khas dari penulis juga bisa jadi cara untuk berkelit dari pembentukan formula jurnalisme yang kaku. Latar belakang kepenulisan dari beberapa penulis bisa terlacak. Semisal Makhfud Ikhwan (“Catatan dari Atas Truk”) yang menuturkan pengalamannya terkait sebuah tim sepakbola lokal. Observatif, membumi, dan amat naratif. Hampir tanpa kutipan sama sekali, sehingga kita bagai menyimak cerita panjang tetangga di pos ronda diselangi seruputan kopi hitam dan sorak sorai pertandingan Liga Italia dari televisi. Di sisi lain, Coen Husain Pontoh (“Jurnalisme Pedagang Asongan”) yang menggawangi Indoprogress jelas enggan membungkuk dalam tulisannya. Ia menghujani Rakyat Merdeka dengan opini-opini agresif yang meroketkan tensi.

Membaca artikel-artikel ini memang hampir serupa menonton film atau sebuah narasi drama. Plot dan alur menjadi penting untuk dapat memaku pembaca dari awal sampai akhir. Raka Ibrahim (“Terekam Tak Pernah Mati”) misalnya, yang menulis dengan kuantitas kata paling banyak di antara artikel lainnya secara umum mencoba memotret dan merangkum riwayat kancah musik independen Jakarta. Dari apa yang akan ia tulis saja jelas akan panjang. Apalagi dengan gaya yang deskriptif. Namun, ia seolah lepas kontrol dalam menjaga alur di tengah. Sehingga di bagian akhir seperti mengerem dengan tergesa.

Sementara itu, tulisan Rusdi Mathari (“Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam”) saya pikir adalah yang paling sanggup membangun nuansa tegang, gemas, marah, sekaligus mempermainkan alur sedemikian rupa. Ia mampu menangkap fenomena Syiah secara luas, sekaligus membongkar dan menelisik permasalahan keluarga yang menjadi dalangnya. Kesulitan proses adalah jelas, dan ia pun menjelaskannya di bagian introduksi. Kita jelas percaya. Ada langkah-langkah investigasi yang dibutuhkan. Liputan berimbang secara proses pun ia dapatkan, yang lantas disuguhkan dengan unik. Ketika satu pihak memberi pernyataan, langsung disandingkan dan diadu dengan pernyataan dari pihak lawannya. Mudah membayangkan gaya head to head ini dalam sebuah adegan layar lebar. Namun, pada sebuah reportase tertulis, saya harus geleng-geleng kepala.

Penuturan fiksi yang baik adalah bukan memberi tahu, tapi menunjukan. Begitu pula jurnalisme. Bukan memberi tahu kebenaran, tapi menuntun pembaca pada kebenaran.  Jurnalisme narasi lewat buku ini mempersilahkan kita menyusuri jalan paling menyenangkan untuk tiba pada kebenaran. Jalan yang belum banyak dibangun oleh media-media massa lokal hari ini. #Narasi terbit dalam upaya menjadi teladan akan jurnalisme bermutu. Entah apakah banyak yang peduli. Namun, saya kira bagi mereka yang pernah bekerja di media massa, #Narasi lebih dari itu. Membaca buku ini mengingatkan kita pada alasan untuk menjadi wartawan. Dan rasanya kita mulai butuh banyak-banyak diingatkan.

Advertisements